Anda di halaman 1dari 7

TUGAS

PERBANKAN DASAR

Disusun Oleh :

RANI INDRIYANI

X PKM

PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU


DINAS PENDIDIKAN

SMK NEGERI 1 SINGKEP

TAHUN AJARAN 2019/2020


Sejarah Uang

Pengertian uang
Dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:

Dalam ekonomi tradisional, pengertian uang didefinisikan sebagai alat tukar. Tidak hanya uang
seperti sekarang ini, benda lain seperti emas, perak, bahkan garam pun bisa dijadikan uang
barang. Syaratnya ialah benda itu diterima secara umum oleh seluruh masyarakat setempat.

Ilmu ekonomi modern mendefinisikan pengertian uang lebih luas lagi. Bukan hanya sebagai alat
pembayaran jual beli barang, jasa, dan kekayaan lain, melainkan juga pembayaran utang.
Beberapa ahli menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran.

1. Uang masa Kerajaan Mataram Kuno

Sejarah dan perkembangan mata uang di Indonesia sudah dimulai sejak masa jaya Kerajaan
Mataram Kuno, yakni sekitar tahun 850 M. Kerajaan ini menggunakan koin-koin emas dan perak
berbentuk kotak sebagai alat tukarnya.
Koin-koin Kerajaan Mataram memiliki tiga satuan berbeda, yang nominalnya paling besar yakni
Masa atau Ma dengan berat 2,4 gram; satu langkah di bawah Ma adalah Atak dengan berat 1,2
gram, 1 Atak setara dengan ½ Ma; dan Kupang atau Ku dengan berat 0,6 gram, 1 Ku setara
dengan ½ Atak.

2. Uang masa Kerajaan Jenggala

Kerajaan Jenggala yang berkuasa di wilayah timur Pulau Jawa juga turut menorehkan sejarah
uang Indonesia. Pada masa jayanya, yakni tahun 1042 – 1130 M, koin-koin emas dan perak tetap
digunakan meski terdapat perubahan pada desain dan bentuk.
Selain koin-koin emas dan perak, kerajaan ini juga menggunakan uang kepeng dari Cina sebagai
alat pembayaran resmi (bahkan lebih sering digunakan daripada koin emas dan perak). Ini adalah
bukti pengaruh hubungan dagang dengan bangsa Cina.
3. Uang masa Kerajaan Majapahit

Keberadaan uang di Indonesia pun tidak terlepas dari sebuah kerajaan digdaya di nusantara,
Kerajaan Majapahit.
Berdiri pada 1293 – 1500 M, Kerajaan Majapahit kembali menggunakan mata uang Ma, seperti
Kerajaan Mataram Kuno. Tidak hanya Ma, kerajaan ini juga memiliki satuan mata uang Tahil,
yang juga berupa koin emas.
Selain itu, Kerajaan Majapahit juga menggunakan uang-uang dari emas dan perak dalam
berbagai bentuk: segiempat, setengah atau seperempat lingkaran, segitiga, trapesium, bahkan
bentuk yang tidak jelas.
Ini menunjukkan bahwa rupa uang tersebut tidak penting. Selama ada cap bergambar teratai atau
jambangan di permukaannya, uang tersebut bisa digunakan.
Ada juga Gobog Wayang, sebuah keeping uang dengan lubang di tengahnya. Gobog Wayang
merupakan bentuk satuan mata uang yang ada dalam pengaruh budaya Cina.

4. Uang masa Kerajaan Samudra Pasai

Setelah lenyapnya Kerajaan Hindu di Indonesia, zaman berganti menjadi Kerajaan Islam. Salah
satunya adalah Kerajaan Samudera Pasai. Kerajaan yang terletak di ujung Pulau Sumatera ini
mempunyai mata uang yang dinamakan Dirham.

Uang Dirham di Samudra Pasai dikeluarkan oleh Sultan Malik Al Zahir tahun 1297 hingga 1326
dan didominasi oleh tulisan arab dengan nama Malik al Zahir dan Sultan al Adul di sisi yang
lain.

Malik al Zahir adalah petinggi teladan. Uang yang dikeluarkan setiap periode selalu
mencantumkan nama Malik Al Zahir. Nilai 16 Dirham sama nilainya dengan 1 Real Spanyol
atau nilai 5 Dirham sama dengan 1 Silling Inggris.

Dirham Samudra Pasai berkadar emas 70% dan 22 karat. Kemudian dalam perkembangannya
kandungan emas terus diturunkan. Nilai mata uang Dirham dibuat dengan nilai 1 Dirham dan 1/2
Dirham.
5. Uang masa Kerajaan Buton

Berbeda dengan kerajaan-kerajaan lain di nusantara yang menggunakan koin emas dan perak
sebagai alat tukar, Kerajaan Buton memberi warna sendiri pada sejarah Indonesia.
Mereka menggunakan uang berbahan kain tenun sebagai alat tukar. Uang Kerajaan Buton ini
disebut Kampua, terbuat dari sehelai tenunan persegi panjang yang ditenun oleh puteri-puteri
istana. Corak dan desain Kampua dibuat berbeda setiap tahun untuk mengantisipasi pemalsuan.

Sistem barter
Sistem barter digunakan cukup lama, hingga berabad-abad. Sampai akhirnya manusia mendapati
kendala pada sistem tersebut karena kehidupan lebih kompleks lagi.

Kendala pada sistem barter misalnya sulit ketemunya dua orang pemilik barang yang saling
membutuhkan satu sama lain. Misal, Si A punya buah dan butuh ikan, ketemunya dengan B yang
punya ikan tetapi butuhnya bukan buah, melainkan pakaian.

Uang barang
Menghadapi masalah seperti di atas, manusia memikirkan lagi hingga menemukan solusi baru.
Yaitu menggunakan benda-benda tertentu sebagai alat tukar. Benda yang ditetapkan biasanya
yang dapat diterima secara umum. Contohnya pada orang Romawi zaman dulu menggunakan
garam.

Kalau diilustrasikan pada si A dan B di atas, maka seperti ini. A menemui penghasil garam dan
menukarnya dengan buah. Setelah garam dimiliki, barulah menemui B yang memiliki ikan.
Meskipun butuhnya pakaian, B menerima garam karena sudah ditetapkan sebagai uang barang.
Sehingga B pun akan lebih mudah lagi menukarnya dengan orang lain yang memiliki pakaian.

Meski lebih mudah dari sistem barter, seiring perkembangan kehidupan manusia yang lebih
kompleks, sistem uang barang memiliki kelemahan juga. Hal ini karena uang barang tidak
mempunyai pecahan kecil sehingga kesulitan menentukan nilai, penyimpan dan pengangkutan
yang susah, dan mudah hancur atau tidak tahan lama.

Akhirnya dicarilah benda yang mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:

 Diterima secara umum


 Lebih mudah dibawa, dan tahan lama
Pada waktu itu pemilik uang logam berhak penuh atas uang tersebut. Ia bebas menimbun
sebanyak-banyaknya bahkan menempa untuk dijadikan perhiasan pun tak ada larangan. Hingga
muncul ketakutan pedagangan makin maju tidak bisa dilayani oleh uang logam. Hal ini
mengingat jumlah emas dan perak yang terbatas.
Fungsi uang
Sudah dijelaskan di atas, fungsi uang sebagai perantara pertukaran barang dengan barang,
menghindari sistem barter yang banyak menemui kendala, sehingga diharapkan transaksi
perdagangan menjadi lebih mudah. Namun, secara lebih rinci dibedakan menjadi dua. Yaitu
fungsi asli dan fungsi turunan.

Fungsi asli dibagi menjadi tiga:


1. Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat mempermudah
pertukaran
2. Uang juga berfungsi sebagai satuan hitung (unit of account) : Menunjukan nilai barang/
jasa (alat penunjuk harga), dan sebagai satuan hitung yang mempermudah pertukaran.
3. Selain itu, uang berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (valuta).
Fungsi turunan dibagi menjadi:
1. Uang sebagai alat pembayaran yang sah.
2. Uang sebagai alat pembayaran utang.
3. Uang sebagai alat penimbun kekayaan.
4. Uang sebagai alat pemindah kekayaan.
5. Uang sebagai alat pendorong kegiatan ekonomi
Syarat-syarat uang
Suatu benda dapat dijadikan sebagai uang jika memenuhi syarat-syarat berikut:

1. Benda itu harus diterima secara umum (acceptability)


2. Untuk memenuhi kriteria poin 1, benda tersebut harus bernilai tinggi atau setidaknya
dijamin oleh pemerintah
3. Terbuat dari bahan yang bisa tahan lama (durability)
4. Kualitasnya sama (uniformity)
5. Jumlahnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan uang tersebut
6. Tidak mudah dipalsukan (scarcity)
7. Mudah dibawa (portable)
8. Mudah dibagi tanpa mengurangi nilai (divisibility)
9. Memiliki cenderung stabil dari waktu ke waktu (stability of value).
Jenis uang
Berdasarkan jenisnya, uang dibagi menjadi dua. Yaitu uang kartal dan uang giral.

 Uang kartal adalah alat bayar yang sah dan wajib digunakan oleh masyarakat dalam
melakukan transaksi jual beli sehari-hari (common money).
 Uang giral adalah uang yang dimiliki masyarakat dalam bentuk simpanan (deposito) yang
dapat ditarik sesuai kebutuhan, contoh cek.
Uang menurut bahan pembuatannya
 Uang logam
Adalah uang yang terbuat dari logam. Dipilih menggunakan logam karena bisa tahan lama. Pada
awal kemunculannya dibuat dengan bahan emas atau perak. Semakin tinggi kadarnya semakin
tinggi pula daya tukarnya. Dengan begitu uang seperti ini memiliki tiga nilai: Nilai intrinsik,
yaitu nilai bahannya. Nilai nominal, yaitu nilai yang tercetak/tercantum pada uang tersebut. Nilai
tukar, yaitu nilai daya tukarnya. Misal Rp500.00 nilai tukarnya dapat permen, Rp10.000.00 nilai
tukarnya bisa dapat sepiring nasi.
 Uang kertas
Yaitu uang yang terbuat dari bahan kertas. Uang jenis ini hanya memiliki nilai nominal dan nilai
tukar yang tinggi, sedangkan nilai intrinsiknya tidak. Begitu juga pada zaman sekarang, uang
logam dibuat dengan logam biasa sehingga nilai intrinsiknya tidak sebanding dengan nilai
nominal.
Menurut nilainya uang dibedakan menjadi dua:
 Uang penuh (full bodied money). Nilai uang dikatakan sebagai uang penuh apabila nilai
yang tertera di atas uang tersebut sama nilainya dengan bahan yang digunakan. Dengan
kata lain, nilai nominal yang tercantum sama dengan nilai intrinsik yang terkandung
dalam uang tersebut.
 Uang tanda (token money). Uang tanda adalah apabila nilai yang tertera pada uang lebih
tinggi daripada nilai bahan yang digunakan untuk membuatnya. Dengan kata lain nilai
nominal lebih besar daripada nilai intrinsik. Misal, untuk membuat uang Rp1.000,00
pemerintah mengeluarkan biaya Rp750,00.
Teori nilai uang
Teori nilai uang dibagi menjadi dua. Yaitu teori uang statis dan teori uang dinamis.

 Teori uang statis


Teori ini disebut statis karena tidak mempersoalkan perubahan nilai uang yang diakibatkan
perkembangan ekonomi. Teori ini dibuat dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan seperti:
apakah sebenarnya uang? Mengapa uang itu ada harganya? Mengapa uang itu sampai beredar?

Teori ini meliputi:

1. Teori metalisme. Teori yang hampir sama dengan pengertian nilai intrinsik.
2. Teori konvensi. Teori yang menyatakan uang bisa diterima secara umum di masyarakat
karena atas dasar perjanjian/mufakat.
3. Teori nominalisme. Teori ini menyatakan diterimanya uang berdasarkan nilai daya
belinya.
4. Teori negara. Teori ini menyatakan bahwa uang adalah benda yang ditetapkan oleh
negara yang berfungsi sebagai alat tukar dan alat bayar. Jadi nilainya pun ditetapkan oleh
pemerintah yang diatur oleh undang-undang.
 Teori uang dinamis
Kalau teori diatas tidak mempersoalkan perubahan nilai uang, maka teori uang dinamis ini
adalah sebaliknya.

Teori ini meliputi:

1. Teori kuantitas. Pada teori ini David Ricardo menyatakan kuat atau lemahnya nilai uang
sangat tergantung pada jumlah uang yang beredar. Kemudian Irving Fisher
menyempurnakan teori diatas dengan menyatakan tidak hanya tergantung pada jumlah
saja, melainkan juga pada kecepatan peredaran uang, barang dan jasa sebagai faktor yang
memengaruhi nilai uang.
2. Teori persediaan kas. Teori ini menyatakan bahwa perubahan nilai uang tergantung dari
jumlah uang yang tidak dibelikan barang-barang.
3. Teori ongkos produksi. Teori ini menyatakan nilai uang dalam peredaran yang berasal
dari logam dan uang itu dapat dipandang sebagai barang.