Anda di halaman 1dari 15

PENGKAJIAN INDEKS MASA TUBUH (IMT) DAN NUTRISI

PADA LANSIA

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gerontik

Dosen Pengampu: Puji Purwaningsih

Disusun Oleh

Kelompok 7

1. Argatama A.D. P 010117A010


2. Finanaila Sya Adah 010117A031
3. Laeli Maghfiroh 010117A044
4. Liyan Andiyani 010117A050

PROGDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini, sebagai
salah satu tugas pada Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan
Universitas Ngudi Waluyo.

Makalah ini berjudul “Pengkajian Indeks Masa Tubuh dan Nutrisi Pada
Lansia” Dalam penyelesaian makalah ini, kami menyadari bahwa makalah ini jauh
dari sempurna. Untuk itu, kami mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang
membangun demi kesempurnaan penulisan. Semoga makalah ini berguna bagi kita
semua.

Ungaran, Oktober 2019


DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Lansia
B. Kebutuhan Gizi Lansia
C. Masalah Gizi Pada Lansia
D. Penentuan Gizi Lansia
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2004, lanjut usia
adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas. Komposisi
penduduk tua bertambah dengan pesat baik di negara maju maupun negara berkembang,
hal ini disebabkan oleh penurunan angka fertilitas (kelahiran) dan mortalitas (kematian),
serta peningkatan angka harapan hidup (life expectancy), yang mengubah struktur
penduduk secara keseluruhan. Proses terjadinya penuaan penduduk dipengaruhi oleh
beberapa faktor, misalnya: peningkatan gizi, sanitasi, pelayanan kesehatan, hingga
kemajuan tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang semakin baik. Secara global, Asia
dan Indonesia dari tahun 2015 sudah memasuki era penduduk menua (ageing population)
karena jumlah penduduknya yang berusia 60 tahun ke atas (penduduk lansia) melebihi
angka 7 persen.
Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Menua
bukanlahsuatu penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-angsur
mengakibatkanperubahan kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh
dalammenghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh, seperti didalam Undang-Undang
No13 tahun 1998 yang isinya menyatakan bahwa pelaksanaan pembangunan nasional
yangbertujuan mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945, telah menghasilkan kondisi sosial masyarakat yang makin
membaik danusia harapan hidup makin meningkat, sehingga jumlah lanjut usia makin
bertambah. Banyakdiantara lanjut usia yang masih produktif dan mampu berperan aktif
dalam kehidupanbermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Upaya peningkatan
kesejahteraan sosial lanjutusia pada hakikatnya merupakan pelestarian nilai-nilai
keagamaan dan budaya bangsa.
Upaya lansia agar menjaga kesehatan serta kebugaran tidak akan menjadi beban bagi
orang lain merupakan hal penting karena yang dikhawatirkan aktivitas fisik yang sudah
menurun pada lansia dapat menimbulkan permasalahan tidak hanya pada kesegaran
jasmani pada lansia, namun juga pada status gizi lansia, yakni kekurangan gizi
dikarenakan menurunnya nafsu makan akibat penyakit yang dideritanya, kesulitan
menelan karena berkurangnya air liur, cara makan yang lambat karena penyakit pada gigi,
gigi yang berkurang, dan mual karena masalah depresi.
Masalah lain yang dapat dialami lansia bukan hanya kekurangan gizi, namun juga
masalah obesitas (kegemukan) dapat sering dialami oleh kelompok lanjut usia akibat
aktivitas fisik yang telah berkurang sementara asupan makanan yang tidak dikurangi atau
bahkan berlebihan. Obesitas pada lansia berdampak pada peningkatan risiko penyakit
kardiovaskuler, diabetes melitus, hipertensi, dan penurunan fungsi tubuh.
B. Rumusan
C. Tujuan
BAB II

PEMBAHASAN

A. Lanjut Usia (Lansia)


Lansia adalah fenomena biologis yang tidak dapat dihindari oleh setiapindividu.
Menurut UU No.IV Tahun 1965 Pasal 1, menyatakan bahwa seseorangdapat
dikatakan lanjut usia setelah mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyaiatau tidak
berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari,dan menerima
nafkah dari orang lain. Sedangkan menurut UU No. 13 Tahun 1998tentang
kesejahteraan lanjut usia, lansia adalah seseorang yang telah mencapaiusia di atas
60tahun. (Kharisma Ayu, 2015).
Dari pengertian yang sudah disebutkan dapat disimpulkan bahwa lansiaadalah
seseorang yang telah berusia di atas 60 tahun dan tidak berdaya mencarinafkah sendiri
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
B. Kebutuhan Zat Gizi Pada Lanjut Usia
Penuaan tak hanya berhubungan dengan usia fisiologis, tetapi jugamerupakan
pengaruh dari asupan makanan dan gangguan pengaturan nafsu makan. Pola makan
yang baikdan seimbang sesuaidengan ukuran kebutuhan tubuh, dapat membantu
seoranglanjut usia tetap dalam kondisi fit dan segar meski usia sudah senja. Besaran
zatgizi yang dibutuhkanseorang lanjut usia dipaparkan sebagai berikut (Qurniawati,
2018).
1. Energi
Kebutuhan energi pada masa menua akan menurun. Hal ini karena jumlahsel-sel
otot menurun dan sel-sel lemak meningkat karena aktivitas yangberkurangSumber
energi yang diperlukan dapat diperoleh dari karbohidrat, protein,dan lemak.
Bagi lanjut usia laki-laki, kecukupan gizi yang disarankan adalah 2050kalori,
berbeda pada wanita sedikit di bawah laki-laki, yaitu 1600 kalori. Jikaseseorang
sudah mencapai usia kepala empat, demi keseimbangan gizi disarankanuntuk
menurunkan konsumsi energi sebanyak 5% dari konsumsi gizi sebelumnya.Angka
tersebut kemudian ditambah 5% lagi pada 10 tahun kemudian, yaitu
ketikaseseorang telah mencapai usia 50 tahun. Pada lanjut usia, pengurangan
asupan giziditambah 10%, yaitu pada usia 60 tahun ke atas. Dan jika seseeorang
lanjut usiamencapai 70 tahun, maka dikurangi lagi 10%.
2. Karbohidrat
Dalam karbohidrat terdapat senyawa dari molekul hydrogen, karbo, danoksigen.
Sebagai salah satu zat gizi, fungsi utama karbohidrat adalah penghasilenergi di
dalam tubuh. Sumber karbohidrat yang dimaksud biasa terdapat padanasi, roti, mie,
bihun, kentang, macaroni dan gula. Seorang lanjut usia harusmembatasi
mengkonsumsi makanan tersebut, apalagi jika menunjukkan
tandatandapeningkatan kadar gula sebagai gejala awal kencing manis.
Mengenai kebutuhan karbohidrat, berbeda-beda pada setiap usia dan jeniskelamin.
Laki-laki usia 55-64 tahun membutuhkan karbohidrat sebanyak 400gram, lanjut
usia lebih dari 65 tahun menurun menjadi 350 gram. Sementara dariperempuan, di
usia 55-64 tahun membutuhkan asupan karbohidrat sebanyak 285gram dan
menurun di usia 65 tahun ke atas menjadi 248 gram.
3. Protein
Pemilihan protein yang baik untuk lansia sangat penting mengingat sintesisprotein
di dalam tubuh tidak sebaik saat masih muda, dan banyak terjadikerusakan sel yang
harus segera diganti. Kebutuhan protein untuk usia 40 tahunmasih tetap sama
seperti usia sebelumnya. Pakar gizi menganjurkan kebutuhanprotein lansia
dipenuhi dari yang bernilai biologis tinggi seperti telur, ikan, danprotein hewani
lainnya karena kebutuhan asam amino esensial meningkat padausia lanjut. Akan
tetapi harus diingat bahwa konsumsi protein yang berlebihanakan memberatkan
kerja ginjal dan hati (Fatmah, 2010).
Untuk kebutuhan detail protein, laki-laki di usia 55-64 tahun membutuhkan60
gram, dan relatif tetap meski usianya semakin tua. Begitu pula denganperempuan,
dimulai pada usia 55 tahun, protein yang dibutuhkan akan tetap samahingga lanjut
usia, yaitu 50 gram.
4. Lemak
Lemak terbagi menjadi dua, lemak jenuh dan lemak tak jenuh. MenurutFatmah
(2010), di dalam lemak jenuh terdapat struktur kimia yang mengandungasam
lemak jenuh. Konsumsi lemak jenis ini sebaiknya secukupnya saja. Jikadikonsumsi
dalam jumlah yang berlebihan akan berakibat pada tingginya kolestroldalam darah.
Kolestrol dan trigliserida yang merupakan komponen-komponenlemak di dalam
darah yang dapat membahayakan kesehatan. Sementara untuklemak tak jenuh
yakni lemak ini memiliki ikatan rangkap yang terdapat di dalamminyak (lemak
cair) dan dapat berada dalam 2 bentuk, yaitu isomer cis dan trans.
Lemak dibutuhkan oleh laki-laki berusia 55-64 tahun berkisar pada angka50 gram,
dan sedikit menurun pada usia lanjut 65 tahun ke atas, yaitu pada angka45,5 gram.
Sementara pada perempuan berusia 55-64 tahun membutuhkan asupangizi
sebanyakn 39 gram dan menurun menjasi 36 gram pada usia lanjut.
5. Gizi seimbang
Dengan bertambahnya usia, khususnya usia di atas 60 tahun, terjadiberbagai
perubahan dalam tubuh yaitu mulai menurunnya fungsi berbagai organdan jaringan
tubuh, oleh karenanya berbagai permasalahan gizi dan kesehatanlebih sering
muncul pada kelompok usia ini. Perubahan tersebut meliputi antaralain organ
pengindra termasuk fungsi penciuman sehingga dapat menurunkannafsu makan,
melemahnya sistem organ pencernaan sehingga saluran pencernaanmenjadi lebih
sensitif terhadap makanan tertentu dan mengalami sembelit,gangguan pada gigi
sehingga mengganggu fungsi mengunyah, melemahnya kerjaotot jantung, pada
wanita memasuki masa menopause dengan berbagai akibatnya,dan lain-lain. Hal
tersebut menyebabkan kelompok usia lanjut lebih rentanterhadap berbagai
penyakit, termasuk terlalu gemuk, terlalu kurus, penyakithipertensi, penyakit
jantung, diabetes mellitus, osteoporosis, osteoartritis. Olehkarena itu kebutuhan zat
gizi pada kelompok usia lanjut agak berbeda padakelompok dewasa, sehingga pola
konsumsi agak berbeda, misalnya membatasikonsumsi gula, garam dan minyak,
makanan berlemak dan tinggi purin.Mengonsumsi sayuran dan buah-buahan dalam
jumlah yang cukup. (Kemenkes RI, 2014).
C. Masalah Gizi Lansia
Masalah gizi pada lansia merupakan rangkaian proses masalah gizi sejak usia muda
yang manifestasinya timbul setelah tua. Masalah terkait gizi yang sering terjadi pada
lansia adalah obesitas dan malnutrisi.
1. Obestitas
Obesitas pada lansia biasanya disebabkan karena pola konsumsiyang berlebihan,
banyak mengandung lemak, protein, dan karbohidrat yang tidak sesuai kebutuhan
tubuh. Selain itu proses metabolism menurun pada lansia dapat menyebabkan
kalori yang berlebihan akan diubah menjadi lemak sehingga mengakibatkan
kegemukan jika tidak diimbangi dengan peningktan aktivitas fisik atau penurunan
jumlah makan (Depkes RI, 2003). Obesitas merupakan suatu kondisi kelebihan
berat badan yang menempatkan lansia dalam peningktan resiko kronis, seperti
hipertensi, penyakit arteri coroner, diabetes dan stroke. Kondisi ini menyebabkan
kelemahan sendi dan pembatasan mobilisasi dan kemandirian pada lansia
(Oktariyani, 2012).
Obesitas merupakan suatu kondisi kelebihan berat badan yang menempatkan lansia
dalam peningkatan risiko mengalami kondisi kronis. Kondisi ini menyebabkan
kelemahan sendi dan pembatasan mobilitasi dan kemandirian sendi dalam
kemandirian pada lansia. Obesitas disebabkan karena pola konsumsi yang
berlebihan sedangkan aktifitas jasmaniah semakin menurun (Zelvya, 2014).
2. Malnutrisi
Malnutrisi adalah keadaan patologi akibat kelebihan atau kekurangan secara relatif
maupun absolut satu atau lebih zat gizi yang dapat disebabkan banyak faktor. Pada
kondisi lain, malnutrisi dapat diartikan dengan kurangnya energi kronis. Kurang
energi kronis pada lansia ini biasanya disebabkan oleh makan tidak enak karena
berkurangnya fungsi alat perasa dan penciuman, banyaj gigi yang tanggal sehingga
terasa sakit jika untuk makan dan nafsu makan berkurang karena kurang aktivitas,
kesepian, depresi, penyakit kronis serta efek samping obat (Zelvya, 2014).
Selain itu, kehilangan selera makan berkepanjangan pada lansia dapat
menyebabkan penurunan berat badan yang drastic, sehingga kondisi ini dapat
menyebabkan lansia mengalami kekurangan gizi yang dimanifestasikan dengan
pemeriksaan secara klinis lansia terlihat kurus(Oktariyani, 2012).
Malnurtisi dihubungkan dengan kurangnya vitamin dan mineral dalam beberapa
kasus terjadi pula kekurangan protein kalori. Malnutri protein kalori didefinisikan
sebagai hilang dan rendahnya tingkat albumin, sehingga lansia disarankan untuk
diberikan intake protein yang adekuat (Oktariyani, 2012).
D. Penentuan Status Gizi
1. Indeks Masa Tubuh
Indeks Massa Tubuh (IMT) atau biasa dikenal dengan Body Mass Index merupakan
alat ukur yang sering digunakan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan berat
badan seseorang. Di Indonesia istilah ini diterjemahkan menjadi Indeks Massa
Tubuh (IMT). Dimana IMT ini merupakan alat yang sederhana untuk memantau
status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan
kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan
seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih Panjang (Zelvya, 2014).
Pengukuran tentang status gizi pada lansia, dengan menggunakan kategori status
gizi lansia berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) yaitu mengukur tinggi badan dan
berat badan. Adapun kategori status gizi lansia menurut Depkes RI tahun 2005
(Nurhidayati, 2012).
IMT : BB (kg)
TB² (m)
Kategori IMT Ambang Batas IMT (kg/m2)
Berat Badan Kurus <18,5
Berat Badan Normal >18,5 - <24,9
Berat Badan Lebih >25,0 - <27,0
Obesitas >27,0
Sumber: Riskesdas, 2013

Lanjut usia akan berpotensi mengalami kegemukan, terutama karena


ketidakseimbangan antara masukan makanan (energi) dan pengeluaran (aktivitas).
Oleh karenanya, setiap lansia dianjurkan untuk mengendalikan berat badan dengan
menimbang secara teratur, mengatur pola makan bergizi seimbang dan cukup
melakukan aktivitas fisik (Putu & Febianingsih, 2017).
Pemantauan Berat Badan (BB) secara teratur minimal 2 minggu sekali
bertujuan untuk mendeteksi jika terjadi penambahan atau penurunan BB. Waspadai
peningkatan atau penurunan BB lebih dari 0,5 kg per minggu dari BB normal.
Sementara tinggi badan lansia bisa jadi semakin pendek dibandingkan dengan
tinggi badan usia dewasa karena penurunan kepadatan tulang.
2. Nutrisi
Masalah kurang gizi pada lansia dapatdilihat dengan mudah melalui
penampilan umum seperti badan terlihat kurus, gemuk dan ideal. Penampilan
umum seperti itu, dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang asupan
makanan yang baik dan adanya faktor psikologi seperti depresi, perubahan pada
lingkungan dan sebagainya. Kecukupan zat gizi merupakan persyaratan yang
penting untuk melakukan aktifitas.
Perubahan pada lansia dapat disebabkan banyak faktor. Berikut merupakan
faktor-faktor yang berpengaruh. Fatmah menjelaskan seiring bertambahnya usia,
kebutuhan zat gizi karbohidrat dan lemak menurun, sedangkan kebutuhan protein,
vitamin dan mineral meningkat.
Khusus untuk lansia dalam menentukan status malnutrisi dapat ditentukan
dengan form skrining yang disebut dengan The Mini Nutrional Assessment
(MNA).Mini Nutritional Assessment (MNA) merupakan alat skining yang telah
divalidasi secara khusus untuk lansia, memiliki sensififitas, dapat diandalkan,
secara luas dapat digunakan sebagai metode skrining dan telah direkomendasikan
oleh organisasi ilmiah dan klinis baik nasional maupun internasional. MNA juga
mudah dan cepat digunakan, tidak memerlukan waktu lama untuk menjawab
pertanyaan yang ada dan tidak membutuhkan pelatihan khusus, tidak
membutuhkan pemeriksaan laboratorium (MNA, Mini Nutrional Assessment,
2011) (Oktariyani, 2012).
Mini Nutritional Assessment (MNA) memiliki dua bentuk yaitu full MNA dan
short form MNA. Full MNA mencakup 18 item yang dikelompokkan ke dalam 4
bagian, yaitu pengkajian antropometri (IMT yang dihitung dari berat dan tinggi
badan, kehilangan berat badan, lingkar lengan atas dan lingkar betis), pengkajian
umum (gaya hidup, obat-obatan, mobilisasi dan adanya tanda dari depresi),
pengkajian pola makan atau diet (jumlah makanan, asupan makanan dan cairan
serta kemandirian dalam makan) dan pengkajian subyektif (persepsi individu dari
kesehatan dan status gizi). Full MNA dapat dilengkapi dalam waktu kurang dari 15
menit dan masing-masing jawaban memiliki nilai maksimum akhir adalah 30.
Batas nilai ambang dari full MNA adalah nilai < 24 mengindikasi nutrisi baik, nilai
17-23,5 mengindikasikan risiko malnutrisi dan < 17 mengindikasikan malnutrisi.
Bentuk kedua dari The Mini Nutritional Assesment adalah short form MNA.
Short form MNA telah dikembangkan dan divalidasi untuk memungkinkan 2
proses skrining pada populasi beresiko rendah yang mempertahankan validitas dan
akurasi full MNA. Short form MNA dikembangkan pada tahun 2001 oleh
Rubenstein, dkk untuk menghemat waktu dalam skrining. Short form MNA dapat
mengidentifikasi seseorang dengan malnutrisi dalam dua tahap proses, saat
seseorang diidentifikasi beresiko menggunakan Short form MNA, maka diberikan
pengkajian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi diagnosis dan penetapan rencana
intervensi selanjutnya.
Short form MNA terdiri dari 6 pertanyaan berupa skrining dimana masing-
masing pertanyaan memiliki nilai yang berbeda-beda untuk setiap jawabannya.
Setelah mendapatkan nilai dari setiap pertanyaan maka nilai tersebut dijumlahkan.
Nilai maksimal dari short form MNA adalah 14. Jika total nilai yang didapat ≥12
menunjukkan bahwa status gizi orang tersebut normal atau tidak beresiko dan tidak
membutuhkan pengkajian lebih lanjut. Namun, jika nilai yang diperoleh ≤11
menunjukkan bahwa kondisi orang tersebut mungkin malnutrisi sehingga
membutuhkan pengkajian lebih lanjut dengan melengkapi full form MNA.
Bentuk kuisioner dari The Mini Nutritional Assesment ini terdiri dari 2 bagian,
yaitu skrining dan pengkajian. Enam pertanyaan di awal merupakan skrining atau
short form MNA terdiri dari : apakah lansia mengalami penurunan asupan
makanan selama tiga bulan terakhir dikarenakan hilangnya selera makan, masalah
pencernaan, kesulitan mengunyah atau menelan? Jika lansia menjawabb
mengalami penurunan asupan makan yang parah maka nilainya 0, jika sedang
nilainya 1 dan jika tidak mengalami penurunan asupan makanan maka nilainya 2;
selanjutnya ditanyakan tentang kehilangan berat badan selama tiga bulan terakhir,
jika lansia mengalami kehilangan berat badan lebih dari 3 kg maka nilainya 0, jika
tidak tahu diberi nilai 1, jika hanya kehilangan berat badan antara 1-3 kg nilainya 2
dan jika tidak mengalami kehilangan berat badan diberi nilai 3; kemudian
ditayakan tentang mobilisasi pada lansia, jika hanya di tempat tidur atau kursi roda
maka nilainya 0, jika dapat turun dari tempat tidur namun tidak mampu untuk
beraktivitas lainnya diberi nilai 1 dan jika lansia masih mampu untuk pergi keluar
atau beraktivitas nilainya 2.
Pertanyaan selanjutnya : apakah lansia menderita stress psikologi atau
penyakit akut selama 3 bulan terakhir, jika iya nilainya 0 dan jika tidak nilainya 2;
apakah lansia mengalami masalah neuropsikologi, jika lansia mengalami dimensia
atau depresi yang parah nilainya 0, jika dimensia ringan nilainya 1 dan jika tidak
mengalami masalah neuropsikologi nilainya 2. Setelah semua pertanyaan dijawab
maka pertanyaan yang harus diisi terakhir adalah hasil dari perhitungan IMT
lansia. Jika hasil IMT kurang dari 19 diberi nilai 0, jika 19-21 diberi nilai 1, jika
21-23 diberi nilai 2 sementara jika 23 atau lebih diberi nilai 3. Jika tidak ada hasil
BMI maka dapat ditentukan dengan mengukur lingkar betis, jika hasilnya kurang
dari 31 diberi nilai 0 namun jika 31 atau lebih diberi nilai 3
Setelah mendapatkan hasil skrining maka total nilai dijumlahkan, jika lansia
diidentifikasi memungkinkan malnutrisi maka pengkajian kepada lansia
dilanjutkan dengan menanyakan 12 pertanyaan pengkajian kepada lansia.
Pertanyaan pengkajian ini terdiri dari: apakah lansia hidup secara mandiri (tidak
dirumah perawatan, panti atau rumah sakit), jika tidak diberi nilai 0 dan jika iya
diberi nilai 1; apakah lansia mengkonsumsi obat lebih dari 3 jenis obat perhari, jika
iya diberi nilai 0 dan jika tidak diberi nilai 1; apakah lansia memiliki luka tekan/
ulserasi kulit, jika iya maka diberi nilai 0 dan jika tidak diberi nilai 1.
Pertanyyan selanjutnya adalah berapa kali lansia makan dalam sehari, jika
lansia makan 1 kali dalam sehari maka diberi nilai 0, jika 2 kali sehari diberi nilai 1
dan jika 3 kali sehari diberi nilai 2. Kemudian ditanyakan tentang asupan protein
yang biasa lansia konsumsi. Pada pertanyaan ini ada 3 jenis pilihan, pilihan
pertama yaitu protein yang dikonsumsi setidaknya salah satu produk dari susu
(susu, keju, yoghurt perhari), pilihan kedua adalah dua porsi atau lebih kacang-
kacangan/ telur perminggu dan pilihan ketiga adalah daging, ikan, unggas setiap
hari. Dari pilihan ini jika lansia tidak ada atau hanya 1 jawaban diatas maka diberi
niai 0, jika terdapat 2 jawaban dari pilihan tersebut diberi nilai 1 dan jika semua
pilihan dijawab iya maka diberi nilai 2. Selanjutnya ditayakan apakah lansia
mengkonsumsi sayur atau buah 2 porsi atau lebih setiap hari, jika tidak maka diberi
nilai 0 dan jika iya diberi nilai 1.
Asupan cairan yang lansia minum per hari seperti air putih, jus, kopi, the, susu
dsb juga ditanyakan, jika lansia minum kurang dari 3 gelas maka diberi nilai 0, jika
3-5 maka diberi nilai 1 dan jika lebih dari 5 gelas diberi nilai 2. Selanjutnya
ditanyakan tentang bagaimana cara lansia makan, jika lansia dapat makan tanpa
dibantu maka diberi nilai 0, jika dapat makan sendiri namun mengalami kesulitan
diberi nilai 1 dan jika dapat makan sendiri tanpa ada masalah diberi nilai 2.
Lansia jua ditanyakan tentang persepsinya tentang status gizi lansia, jika lansia
melihat ada masalah gizi pada dirinya diberi nilai 1 dan jika lansia melihat tidak
ada masalah terhadap status gizi diberi nilai 2. Selain persepsi tentang status gizi
dirinya, lansia juga diminta memandang tidak lebih baik dari orang lain diberi nilai
0, jika lansia tidak tahu diberi nilai 1, jika lansia memandang dirinya sama baiknya
dengan orang lain maka diberi nilai 2 dan jika lansia memandang dirinya lebih baik
dari orang lain maka diberi nilai 3.
Pertanyaan selanjutnya yaitu pengukuran Lingkar Lengan Atas (LLA) dan
pengukuran lingkar betis. Jika hasil LLA kurang dari 21 cm diberi nilai 0, jika hasil
LLA antara 21-22 cm diberi nilai 0,5 dan jika hasilnya lebih dari 22 cm diberi nilai
1. Kemudian jika hasil lingkar betis kurang dari 31 cm diberi nilai 0 dan jika
hasilnya lebiih dari 31 cm diberi nilai 1. Selanutnya menjumlahkan nilai hasil
pengkajian dan di total dengan nilai skrining. Hal terakhir yang dilakukan dari
pemerikasaan ini adalah menentukan status gizi lansia, apakah lansia berada dalam
kondisi nutrisi baik, dalam resiko malnutrisi atau mengalami malnutrisi.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
Diharapkan setelah membaca makalah ini, pembaca dapat mengetahui dan
memahami bagaimana pengkajian IMT dan nutrisi pada lansia. Khususnya bagi
perawat dan calon perawat agar dapat menerapkannya lebih adekuat di kemudian
hari.
DAFTAR PUSTAKA

Nurhidayati. (2012). Tresna Werdha Desa Cot Bada Tunong Kabupaten Bireuen Aceh.
14(April), 96–100.

Oktariyani. (2012). Gambaran Status Gizi Pada Lanjut Usia Di Panti Sosial Trena Wredha
(PTSW) Budi Mulya 01 Dan 03 Jakarta Timur.

Putu, I. G. Y., & Febianingsih, N. P. E. (2017). Gambaran Status Gizi Pada Lanjut Usia Di
Panti Wredha Wana Sraya Denpasar. 01.

Qurniawati, D. (2018). Hubungan Perilaku Makan Dan Status Gizi Pada Lansia Di
Kecamatan Wates Kabupaten Kulon Progo.

Zelvya, P. (2014). Hubungan Status Gizi Terhadap Kebugaran Lansia Di Paguyuban Senam
Karang Weda Jambangan Surabaya. 02, 1–8.