Anda di halaman 1dari 42

Tanggal Revisi Nilai

Paraf Asisten
Tanggal Terima
Paraf Asisten

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR I


PESAWAT ATWOOD

Disusun Oleh:

Co-Asisten Lab. Fisika Dasar 2017

Anggota:
Adam Andi Nugroho Fuji Dwi Putri
Ahmad Fauzi M. Rifqi Hafizh
Chintya Nur Ramdhani Nindy Carolin C.S
Danur Eka Riyanto Siti Aisah
Fitri Viviyana

LABORATORIUM FISIKA DASAR FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
CILEGON – BANTEN
2017
Jl. Jenderal Sudirman KM. 03 Cilegon 42435 Telp. (0254) 385502, 376712
Fax. (0254) 395540 Website: http://fisdas.ft-untirta.ac.id Email: fisdas@ft-
untirta.ac.id
ABSTRAK

Pesawat atwood adalah alat yang digunakan untuk yang menjelaskan hubugan
antara tegangan, energi potensial dan energi kinetik dengan menggunakan dua
pemberat yang dihubungkan dengan tali pada sebuah katrol.selain itu , pesawat
atwood dapat digunakan untuk mengamati GLB, GLBB, dan Hukum Newton I,
Hukum Newton II, dan Hukum Newton III. Tujuan dari percobaan ini untuk
mengenal besaran fisis momen inersia, mengenal Hukum Newton melalui sistem
katrol (Pesawat Atwood), mengamati gerak dipercepat dan gerak dengan kecepatan
tetap pada Pesawat Atwood, memeriksa apakah Hukum Newton berlaku baik
terhadap sistem katrol ini, menghitung harga momen inersia katrol bila kecepatan
gravitasi diketahui, dan menghitung percepatan di suatu tempat bila momen inersia
katrol diketahui. Adapun metode yang digunakan dengan cara mengukur waktu yang
dibutuhkan untuk menempuh jarak tertentu. Pengaplikasian dari percobaan ini yaitu
penggunaan timba air dari dalam sumur dan penggunaan lift atau elevator. Prosedur
dari percobaan ini yaitu dengan menggantungkan beban M1 dan M2 serta beban
tambahan. Lalu tarik beban M1 sehingga M2 ikut tertarik sampai ketinggian tertentu.
Kemudian lepaskan tarikan beban M1 dan biarkan M2 meluncur. Berikutnya
mengukur mengamati dan mencatat waktu yang dibutuhkan untuk jarak AB dan AC.
Ulangi percobaan dengan menggunakan beban tambahan yang berbeda. Dari
percobaan ini didapatkan nilai momen inersia percobaan 1 sebesar - 35,54 X 10−4
kg/𝑚2 dan nilai momen inersia dari percobaan 2 sebesar -309,34 X 10−3 kg/𝑚2 . Serta
didapat nilai percepatan dari percobaan 1 dan 2 secara berturut-turut sebesar - 9,74 X
10−4 m/𝑠 2 dan - 7,91 X 10−4 m/𝑠 2

Kata kunci : GLB, GLBB, Hukum Newton I, Hukum Newton II, dan Hukum Newton
II

ii
DAFTAR ISI
halaman

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………… i


ABSTRAK ……………………………………………………………………... ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………... iii
DAFTAR TABEL ……………………………………………………………… v
DAFTAR GAMBAR …………………………………….…………………….. vi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang …………………………………….……………….. 1
1.2 Tujuan Percobaan …………………………………….…………….. 1
1.3 Batasan Masalah …………………………………….……………… 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pesawat Atwood …………………………………….……………… 3
2.2 Besaran Fisis dan Momen Inersia ………………………………….. 3
2.3 Hukum Newton I…………………………………….……………… 4
2.4 Hukum Newton II ………………………………………………….. 5
2.5 Hukum Newton III …………………………………….…………… 6
2.6 Gerak Translasi …………………………………….………………... 6
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Diagram Alir …………………………………….………………….. .8
3.2 Alat-alat …………………………………….……………………….. 10
3.3 Prosedur Percobaan …………………………………….…………… 10
3.4 Gambar Alat …………………………………….…………………... 10
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Percobaan …………………………………….………………. 14
4.1.1Ralat Langsung…………………………………….…………... 15
4.1.2 Ralat Tidak Langsung …………………………………….…... 24
4.2 Pembahasan …………………………………….…………………... 25

iii
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan …………………………………….………………… 30
5.2 Saran…………………………………….………………………... 30
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
A. Perhitungan
B. Jawaban Pertanyaan dan Tugas Khusus
C. Blanko percobaan

iv
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
Tabel 4.1 Percobaan A ( M2 + m1 ) …………………………………….…… 14
Tabel 4.2 Percobaan B ( M2 + m2 ) …………………………………….…… 14
Tabel 4.3 Massa keeping M1 (kg) …………………………………….……… 15
Tabel 4.4 Massa keeping M2 (kg) …………………………………….……... 15
Tabel 4.5 Massa keeping m1 (kg) …………………………………….……... 15
Tabel 4.6 Massa keeping m2 (kg) …………………………………….……… 16
Tabel 4.7 Waktu CA 0.1 m (s) …………………………………….………… 16
Tabel 4.8 Waktu AB 0,1 m (s) …………………………………….………… 17
Tabel 4.9 Untuk waktu CA = 0,1 m (s) ……………………………………... 17
Table 4.10 waktu untuk AB = 0,12 m (s) ………………………………….... 18
Table 4.11 waktu untuk CA = 0,1 m (s) …………………………………….. 18
Table 4.12 untuk waktu AB = 0,14 m (s) …………………………………… 19
Table 4.13 waktu CA 0,1 m (s) …………………………………….……….. 19
Table 4.14 waktu AB 0,16 m (s) …………………………………….…….... 20
Table 4.15 waktu CA 0,1 m (s) …………………………………….……..… 20
Table 4.16 waktu AB 0,1 m (s) …………………………………….……..… 21
Table 4.17 waktu CA 0,12 m (s) …………………………………….…...…. 21
Table 4.18 waktu AB 0,1 m (s) …………………………………….……..… 22
Table 4.19 waktu CA 0,14 m (s) …………………………………….……… 22
Table 4.20 waktu AB 0,1 m (s) …………………………………….……….. 23
Table 4.21 waktu CA 0,16 m (s) …………………………………….……… 23
Table 4.22 waktu AB 0,1 m (s) …………………………………….……….. 24

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
Gambar 2.1 Pesawat Atwood ………………………………………………… 3
Gambar 2.2 Penerapan Hukum Newton I …………………………………… 5
Gambar 2.3 Penerapan Hukum Newton II ………………………………….. 5
Gambar 3.1 Diagram alir percobaan Pesawat Atwood ……………………… 8
Gambar 3.2 Tiang Berskala …………………….…………………….……… 11
Gambar 3.3 Katrol …………………….…………………….………………. 11
Gambar 3.4 Tali penggantung …………………………….………………… 11
Gambar 3.5 Massa berbentuk silinder M1 dan M2 …………………….…….. 12
Gambar 3.6 Beban masa m1 dan m2 …………………….…………………... 12
Gambar 3.7 Stopwatch …………………….…………………….………….. 12
Gambar 3.8 Neraca teknis …………………….…………………………….. 13
Gambar 4.1 Grafik hubungan antara X ab dan t ab ………………………… 27
Gambar 4.2 Grafik hubungan antara V ca dengan t ca ……………………... 28
Gambar 4.3 Grafik hubungan antara X ab dengan t ab …………………….. 28
Gambar 4.4 hubungan antara V ab dengan t ab …………………………….. 29

vi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Bealakang


Bangsa Yunani, sejak zaman dahulu telah yakin bahwa tarikan atau dorongan,
yang disebut gaya adalah yang menyebabkan sebuah benda bergerak dan tanpa
adanya gaya sebuah benda yang sedang bergerak akan segera berhenti. Namun
ternyata pedapat tersebut tidak tepat. Menurut prinsip ‘momen inersia’ yang
diusulkan Galileo, sebuah benda yang sedang bergerak akan tetap terus bergerak .
berdasarkan pendapat Galileo, pada tahun 1678 Isaac Newton menyatakan
Hukum tentang gerak, yaitu Hukum Newton I, Hukum Newton II, dan Hukum
Newton III.
Pesawat atwood adalah alat yang digunakan untuk yang menjelaskan hubugan
antara tegangan, energi potensial dan energi kinetik dengan menggunakan dua
pemberat yang dihubungkan dengan tali pada sebuah katrol. Selain itu, pesawat
atwood dapat digunakan untuk mengamati Hukum Newton 1, Hukum Newton II,
dan Hukum Newton III pada sistem katrol dan juga dapat digunakan untuk
mengamati Gerak Lurus Beraturan dan Gerak Lurus Berubah Beraturan. Selain
itu, dari pesawat atwood kita juga dapat memahai sistem katrol dan momen
inersia.
Pengaplikasian pesawat atwood dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak,
seperti penggunaan elevator atau lift dan penimbaan air dari dalam sumur. Untuk
lebih memahami sistem pesawat atwood, maka dilakukanlah percobaan ini.

1.2 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
a. Mengenal besaran fisis momen inersia
b. Mengenal Hukum Newton melalui sistem katrol (Pesawat Atwood)
2

c. Mengamati gerak dipercepat dan gerak dengan kecepatan tetap pada Pesawat
Atwood
d. Memeriksa apakah Hukum Newton berlaku baik terhadap sistem katrol ini
e. Menghitung harga momen inersia katrol, bila kecepatan gravitasi diketahui
f. Menghitung percepatan di suatu tempat bila momen inersia katrol diketahui

1.3 Batasan Masalah


Pada percobaan ini, variabel independen atau bebasnya adalah perubahan
jarak AB dan CA. Variabel dependen atau terikatnya adalah waktu yang
dibutuhkan untuk menempuh jarak CA dan AB. Adapun variabel control dari
percobaan ini adalah hambatan pada katrol.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pesawat Atwood


Pesawat atwood adalah alat yang digunakan untuk menggambarkan pnerapan
hukum Newton tentang gerak, gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah
beraturan. Pesawat atwood merupakan sebuah katrol yang dihubungkan dengan
tali, dimana pada kedua ujung tali digantugkan beban yang sama.

Gambar 2.1 Pesawat Atwood

2.2 Besaran Fisis dan Momen Inersia


Besaran Fisis adalah besaran yang dapat diukur secara langsung dan dapat
dinyatakan dengan angka dan besaran, seperti massa, panjang, suhu dan lain lain.
Momen Inersia adalah ukuran kelembaman/kecenderungan suatu benda untuk
berotasi terhadap porosnya. Momen inersia dapat dilihat pada kehidupan sehari-
hari, seperti pada kipas angin.
Besarnya momen inersia (I) suatu benda bermassa yang memiliki titik putar
pada sumbu yang diketahui, dirumuskan sebagai berikut :
4

I = mR2 …………………………………. (1)


Dimana m adalah massa partikel atau benda (kg) dan R adalah jarak antara
partikel atau elemen massa benda terhadap sumbu putar (m). momen inersia
memiiki besaran dalam standar international adalah kgm2.
Dari rumus diatas dapat disimpulkan bahwa momen inersia berbanding lurus
dengan jarak partikel terhadap sumbu putar (R). Semakin besar jarak partikel
terhadap sumbu putar maka semakin besar pula momen inersianya, begitupun
sebaliknya.

2.3 Hukum Newton I


Hukum Newton I merupakan Hkum Newton pertama tentang gerak, yang
berbunyi : “ Jika suatu resultan gaya yang bekerja pada benda sama dengan nol
atau tidak ada gaya yang bekerja, maka benda yang mula mula diam akan tetap
diam dan benda yang mula mula bergerak akan tetap bergerak lurus beraturan.
Dari hukum Newton I dapat disimpulkan bahwa benda yang diam akan tetap
diam dan tidak akan bergerak sampa ada gaya (dorongan atau tarikan yang
kemudian membuatnya bergerak dan benda bergerak akan terus bergerak dan
akan diam apabila ada gaya yang memengaruhinya untuk diam.
∑F = 0 ……………………………………… (2)
Hukum Neewton I biasa disebut juga hukum kemalasan atau kelembaman
suatu benda., dimana benda memiliki kemampuan untuk mempertahankan
keadaaan awal benda tersebut.
Hukum Newton I sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti Koin
diatas kertas di atas meja akan tetap diam jika kertas ditarik dengan cepat, ketika
mobil bergerak cepat dan di rem mendadak maka penumpang akan merasa
terdorong ke depan, dan masih banyak lagi.
5

Gambar 2.2 Penerapan Hukum Newton I

2.4 Hukum Newton II


Hukum Newton II berbunyi :”Percepatan dari suatu benda akan berbanding
lurus dengan resultan gayan yang bekerja pada benda tersebut dan berbanding
terbalik dengan massa benda”.
∑F = m.a …………………………………… (2)
Dimana m adalah massa dari benda tersebut dan a adalah percepatan dari
benda. Jadi benda akan semakin besar percepatannya ketika gaya yang
diberikannya pun semakin besar.

Gambar 2.3 Penerapan Hukum Newton II


Dari gambar diatas, mobil kiri akan lebih cepat melaju daripada mobil yang
sebelah kanan, karena mobil sebelah kiri massanya lebih kecil, sehingga besarnya
kemalasan mobil tersebut juga lebih kecil.
6

2.5 Hukum Newton III


Hukum Newton III berbunyi :”Setiap aksi akan menimbulkan reaksi, jika
suatu benda memberikan gaya pada benda lain maka benda yang terkena gaya
akan memberikan gaya yang besarnya sama dnegan gaya yang diterima dari
benda pertama, tetapi arahnya berlawanan”.
Maksud dari hukum Neewton III yaitu suatu benda baru akan berinteraksi
apabila ada yang memberinya gaya, bentuk interaksi tersebut dengan membalas
gaya yang telah diberikan kepada benda tersebut kearah yang sebaliknya.
Faksi = -Freaksi .................................................. (3)
Penerapan Hukum Newton III terjadi pada saat kita mendayung diperahu. Kita
menggerakan dayung kearah belakang, namun perahu mealju kearah depan.
Suatu pasangan gaya disebut aksi-reaksi apabila memenuhi syarat sebagai
berikut :

a. Sama besar
b. Berlawanan arah
c. Bekerja pada satu garis kerja gaya yang sama
d. Tidak saling meniadakan
e. Bekerja pada benda yang berbeda

2.6 Gerak Translasi


Gerak lurus adalah gerak suatu obyek yang lintasannya berupa garis lurus.
Dapat pula jenis gerak ini disebut sebagai suatu translasi beraturan. Pada rentang
waktu yang sama terjadi perpindahan yang besarnya sama. Gerak lurus dapat
dikelompokkan menjadi gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah beraturan
yang dibedakan dengan ada dan tidaknya percepatan.

a. Gerak Lurus Beraturan (GLB)

Gerak lurus beraturan (GLB) adalah gerak lurus suatu obyek, dimana dalam
gerak ini kecepatannya tetap atau tanpa percepatan, sehingga jarak yang
ditempuh dalam gerak lurus beraturan adalah kelajuan kali waktu.

s = v t ………………………...…………….. (4)
7

Keterangan :

s = jarak tempuh (m)


v = kecepatan (m/s)
t = waktu (s)

b. Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB)

Gerak lurus berubah beraturan (GLBB) adalah gerak lurus suatu obyek, di
mana kecepatannya berubah terhadap waktu akibat adanya percepatan yang
tetap. Akibat adanya percepatan rumus jarak yang ditempuh tidak lagi linier
melainkan kuadratik. Dengan kata lain benda yang melakukan gerak dari
keadaan diam atau mulai dengan kecepatan awal akan berubah kecepatannya
karena ada percepatan ( a = + ) atau perlambatan ( a = - ) Pada umumnya
GLBB didasari oleh Hukum Newton II (Σ F = m a)
Vt = V0 + at ………………………………… (5)

Vt2 = V02 + 2aS ………………………..……. (6)

S = V0t + a t2 ………………………………. (7)

Keterangan:
V0= kecepatan awal (m⁄s)
Vt= kecepatan akhir (m⁄s)
a = percepatan (m⁄ s2)
t = waktu (s)
S = jarak yang ditempuh (s)

GLBB dibagi menjadi 2 macam, yaitu GLBB dipercepat dan GLBB


diperlambat. GLBB dipercepat adalah GLBB yang kecepatannya makin lama
makin cepat, contoh GLBB dipercepat adalah gerak buah dari pohonnya.
GLBB diperlambat adalah GLBB yang kecepatannya makin lama makin kecil
(lambat). Contoh GLBB diperlambat adalah gerak benda dilempar keatas.
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Diagram Alir
Diagram alir yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:

Persiapan Bahan

Memasang tali pada katrol dengan benar, massa M1


dan M2 digantungkan kemudian selidiki apakah benar
hanya dengan M1 dan M2 tidak ada gerak dipercepat

Memasang G,A dan B dimana cara kerja Pesawat


Atwood

Memasang M1 pada pegangan G dengan klem S dan


menambahkan beban m pada M2

Menekan S dimana M1 akan terlepas dan naik,


sedangkan M2+m akan turun, saat sampai di A beban m
akan tersangkut di titik A dan M2 akan lolos sampai di
titik B

Mencatat jarak dari AC (AC) dan AB (AB)

Mengamati dan mencatat besarnya t1 yakni waktu yang


diperlukan oleh M2+m1 dari titik CA
9

Mengamati dan mencatat besarnya t2 yakni waktu yang


diperlukan oleh M2 dari titik AB, dimana jarak CA
tetap pada proses sebelumnya, bila mungkin lakukan
pengamatan t1 dan t2 bersama-sama

Mengulangi pengamatan t1 dan t2 sesuai jarak yang


ditentukan

Mengganti m1 dengan m2 dan melakukan pengamatan


seperti proses sebelumnya

Mengulangi metode pengamatan dengan jarak AB yang


berbeda-beda sedangkan jarak CA tetap

Mengulangi metode pengamatan dengan jarak AC yang


berbeda-beda sedangkan jarak AB tetap

Menimbang M1, M2, m1, dan m2 sebanyak 3 kali untuk


setiap beban

Pembahasan

Kesimpulan

Gambar 3.1 Diagram alir percobaan Pesawat Atwood


10

3.2 Alat-alat
Adapun alat yang digunakan selama percobaan, sebagai berikut :
a. Tiang berskala
b. Katrol
c. Tali penggantung
d. Massa berbentuk silinder M1 dan M2
e. Beban masa m1 dan m2
f. Stopwatch
g. Neraca teknis

3.3 Prosedur Percobaan


Untuk memulai percobaan ini, pertama-tama memasang tali pada katrol
dengan benar, lalu menggantungkan massa M1 dan M2. Kemudian memasangkan
beban tambahan pada M2. Setelah itu, menarik beban M1 sampai beban M2 ikut
tertarik keatas dan mencapai jarak yang telah ditentukan. Selanjutnya mencatat
jarak AC dan AB pada skala. Lalu, mengamati dan mencatat besarnya t1 yakni
waktu yang diperlukan oleh M2 + m1 dari titik C ke A dan mengamati dan
mencatat besarnya t2 yakni waktu yang diperlukan oleh M2 dari titik A ke B,
dimana jarak CA tetap. Kemudian mengulangi pengamatan t1 dan t2 (perubahan
jarak AB ditentukan asisten). Selanjutya, mengganti m1 dengan m2, dan
melakukan pengamatan terhadap t1 dan t2. Kemudian mengulangi percobaan
sesuai dengan yang telah ditentukan asisten. Yang terakhir adalah menimbang
M1, M2, m1 dan m2 sebanyak tiga kali.

3.4 Gambar Alat


Berikut ini gambar dan cara kerja alat yang dipakai selama percobaan :
11

a. Tiang berskala
Tiang berskala merupakan alat yang
digunakan untuk menggantungkan katrol.

Gambar 3.2 Tiang berskala


b. Katrol
Katrol merupakan alat yang
digunakan untuk menggantungkan tali
pada percobaan.

Gambar 3.3 Katrol


c. Tali penggantung
Tali penggantung merupakan alat
yang digunakann untuk menggantungkan
beban M1, M2, m1, dan m2.

Gambar 3.4 Tali Penggantung


12

d. Massa berbentuk silinder M1 dan M2

Beban silinder digunakan


sebagai beban utama yang akan
digantungkan pada kedua ujung
tali.

Gambar 3.5 Massa berbentuk silinder


e. Beban massa m1 dan m2

Beban m1 dan m2 merupakan beban


tambahan yang akan digantungkan pada
beban M2

Gambar 3.6 Beban m1 dan m2


f. Stopwatch
stopwatch adalah alat yang
digunakan untuk mengukur waktu.
Stopwatch memiliki keetelitian 0.01 s.
Cara penggunaannya dengan menekan
tombol start dan stop.

Gambar 3.7 Stopwatch


13

g. Neraca teknis
Neraca teknis adalah alat yang
digunakan untuk mengukur massa suatu
benda. Pada percobaan ini neraca yang
digunakan memiliki ketelitian 0.25 gram.
Cara penggunannya dengan menaruh
benda diatas neraca kemudian taruh
silinder massa pada neraca, sampai neraca
seimbang.
Gambar 3.8 Neraca teknis
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Hasil yang di peroleh dari percobaan pesawat atwood yaitu :

Tabel 4.1 Percobaan A ( M2 + m1 )

AB ( cm ) 10
t1(s) 1,51 1,30 1,37 1,44
CA ( cm ) 10 12 14 16
t2(s) 0,45 0,44 0,40 0,52
I -309,34 X 10−3 kg/𝑚2
a system - 7,91 X 10−4 m/𝑠 2

Table 4.2 percobaan B ( M2 + m2 )

CA ( cm ) 10
t1(s) 0,73 0,75 0,74 0,75
AB ( cm ) 10 12 14 16
t2(s) 0,44 0,44 0,55 0,49
I - 35,54 X 10−4 kg/𝑚2
a system - 9,74 X 10−4 m/𝑠 2
15

4.1.1 Ralat Langsung

Tabel 4.3 massa keeping M1 (kg)

n Mn ̅̅̅̅
𝑀𝑛 |𝜕𝑀| |𝜕𝑀|2 𝛼 SM SR ̅̅̅̅ + SP
𝑀𝑛
1. 0,0812 0,0812 0 0 0 0 0 0,0812±0
2. 0,0812 0 0
3. 0,0812 0 0

∑ 0,2436 0 0

Table 4.4 massa keeping M2 (kg)

n Mn ̅̅̅̅
𝑀𝑛 |𝜕𝑀| |𝜕𝑀|2 𝛼 SM SR ̅̅̅̅ + SP
𝑀𝑛
1. 0,0092 0,0092 0 0 0 0 0 0,0092±0
2. 0,0092 0 0
3. 0,0092 0 0

∑ 0,0276 0 0

Table 4.5 massa keeping m1 (kg)

n Mn ̅̅̅̅
𝑀𝑛 |𝜕𝑀| |𝜕𝑀|2 𝛼 SM SR ̅̅̅̅ + SP
𝑀𝑛
1. 0,0814 0,0814 0 0 0 0 0 0,0814±0
2. 0,0814 0 0
3. 0,0814 0 0

∑ 0,2442 0 0
16

Tabel 4.6 massa keeping m2 (kg)

n Mn ̅̅̅̅
𝑀𝑛 |𝜕𝑀| |𝜕𝑀|2 𝛼 SM SR ̅̅̅̅
𝑀𝑛 + SP
1. 0,0065 0,0065 0 0 0 0 0 0,0065±0
2. 0,0065 0 0
3. 0,0065 0 0

∑ 0,0195 0 0

Table 4.7 waktu CA 0.1 m (s)

n tn ̅̅̅
𝑡𝑛 |𝜕𝑡| |𝜕𝑡|2 𝛼 St SR ̅̅̅ + SP
𝑡𝑛
1 0,76 0,733 0,0263 0,00071 0,0006 0,0305 4,1 0,733±0,0
. 2 5 66 3055

2 0,7 0,0333 0,00111


.
3 0,74 0,0067 0,00004
.

∑ 2,2 0,0667 0,00187


17

Table 4.8 waktu AB 0,1 m (s)

n tn ̅̅̅
𝑡𝑛 |𝜕𝑡| |𝜕𝑡|2 𝛼 St SR ̅̅̅ + SP
𝑡𝑛
1 0,37 0,443 0,0733 0,00538 0,003 0,070 15 0,443±0,0
. 29 24 ,8 7024
43
2 0,45 0,0067 0,00004
.
3 0,51 0,0667 0,00444
.

∑ 1,33 0,1467 0,00987

Table 4.9 untuk waktu CA = 0,1 m (s)

n tn ̅̅̅
𝑡𝑛 |𝜕𝑡| |𝜕𝑡|2 𝛼 St SR ̅̅̅ + SP
𝑡𝑛
1 0,77 0,75 0,02 0,00040 0,0026 0,0624 8,3 0,75±0,06
. 0 5 27 245

2 0,80 0,05 0,00250


.
3 0,68 0,07 0,00490
.

∑ 2,25 0,14 0,00780


18

Table 4.10 waktu untuk AB = 0,12 m (s)

n tn ̅̅̅
𝑡𝑛 |𝜕𝑡| |𝜕𝑡|2 𝛼 St SR ̅̅̅ + SP
𝑡𝑛
1 0,48 0,44 0,04 0,00160 0,000 0,034 7, 0,44±0,03
. 80 64 87 464
3
2 0,42 0,02 0,00040
.
3 0,42 0,02 0,00040
.

∑ 1,32 0,08 0,00240

Table 4.11 waktu untuk CA = 0,1 m (s)

n tn ̅̅̅
𝑡𝑛 |𝜕𝑡| |𝜕𝑡|2 𝛼 St SR ̅̅̅ + SP
𝑡𝑛
1 0,76 0,743 0,0167 0,00028 0,000 0,0152 2,0 0,743±0,0
. 16 8 55 1528

2 0,73 0,0133 0,00018


.
3 0,74 0,0033 0,00001
.

∑ 2,23 0,0333 0,00047


19

Table 4.12 untuk waktu AB = 0,14 m (s)

n tn ̅̅̅
𝑡𝑛 |𝜕𝑡| |𝜕𝑡|2 𝛼 St SR ̅̅̅ + SP
𝑡𝑛
1 0,52 0,55 0,03 0,00090 0,004 0,079 14 0,55±0,07
. 20 37 ,4 937
31
2 0,49 0,06 0,00360
.
3 0,64 0,09 0,00810
.

∑ 1,65 0,18 0,01260

Table 4.13 waktu CA 0,1 m (s)

n tn ̅̅̅
𝑡𝑛 |𝜕𝑡| |𝜕𝑡|2 𝛼 St S ̅̅̅ + SP
𝑡𝑛
R
1 0,76 0,753 0,0067 0,00004 0,001 0,050 6, 0,753±0,0
. 69 33 68 5033
1
2 0,80 0,0467 0,00218
.
3 0,70 0,0533 0,002804
.

∑ 2,26 0,1067 0,00507


20

Table 4.14 waktu AB 0,16 m (s)

n tn ̅̅̅
𝑡𝑛 |𝜕𝑡| |𝜕𝑡|2 𝛼 St SR ̅̅̅ + SP
𝑡𝑛
1 0,39 0,497 0,1067 0,01138 0,0057 0,0929 18, 0,497±0,0
. 6 2 70 9292
8
2 0,56 0,0633 0,00401
.
3 0,54 0,0433 0,00188
.

∑ 1,49 0,2133 0,01727

Table 4.15 waktu CA 0,1 m (s)

n tn ̅̅̅
𝑡𝑛 |𝜕𝑡| |𝜕𝑡|2 𝛼 St SR ̅̅̅ + SP
𝑡𝑛
1 1,54 1,51 0,03 0,00090 0,0006 0,0300 1,9 1,51±0,30
. 0 0 87 00

2 1,48 0,03 0,00090


.
3 1,51 0 0
.

∑ 4,53 0,06 0,00180


21

Table 4.16 waktu AB 0,1 m (s)

n tn ̅̅̅
𝑡𝑛 |𝜕𝑡| |𝜕𝑡|2 𝛼 St SR ̅̅̅ + SP
𝑡𝑛
1 0,49 0,447 0,0433 0,00188 0,0037 0,0750 18, 0,447±0,7
. 6 6 80 506
3
2 0,36 0,0867 0,00751
.
3 0,49 0,0433 0,00188
.

∑ 1,34 0,1733 0,01127

Table 4.17 waktu CA 0,12 m (s)

n tn ̅̅̅
𝑡𝑛 |𝜕𝑡| |𝜕𝑡|2 𝛼 St SR ̅̅̅ + SP
𝑡𝑛
1 1,24 1,303 0,0633 0,00401 0,0020 0,0550 4,2 1,303±0,0
. 2 8 25 5508

2 1,34 0,0367 0,00134


.
3 1,33 0,0267 0,00071
.

∑ 3,91 0,1267 0,00607


22

Table 4.18 waktu AB 0,1 m (s)

n tn ̅̅̅
𝑡𝑛 |𝜕𝑡| |𝜕𝑡|2 𝛼 St SR ̅̅̅ + SP
𝑡𝑛
1 0,42 0,44 0,02 0,00040 0,0008 0,0346 7,8 0,44±0,03
. 0 4 73 464

2 0,48 0,04 0,00160


.
3 0,42 0,02 0,00040
.

∑ 1,32 0,08 0,00240

Table 4.19 waktu CA 0,14 m (s)

n tn ̅̅̅
𝑡𝑛 |𝜕𝑡| |𝜕𝑡|2 𝛼 St SR ̅̅̅
𝑡𝑛 + SP
1 1,39 1,37 0,02 0,00040 0,0002 0,0173 1,2 1,37±0,01
. 0 2 64 732

2 1,36 0,01 0,00010


.
3 1,36 0,01 0,0010
.

∑ 4,11 0,04 0,00060


23

Table 4.20 waktu AB 0,1 m (s)

n tn ̅̅̅
𝑡𝑛 |𝜕𝑡| |𝜕𝑡|2 𝛼 St SR ̅̅̅ + SP
𝑡𝑛
1 0,42 0,397 0,0233 0,00054 0,0006 0,0321 8,1 0,397±0,0
. 9 5 04 3215

2 0,41 0,0133 0,00018


.
3 0,36 0,0367 0,00134
.

∑ 1,19 0,0733 0,00207

Table 4.21 waktu CA 0,16 m (s)

n tn ̅̅̅
𝑡𝑛 |𝜕𝑡| |𝜕𝑡|2 𝛼 St SR ̅̅̅ + SP
𝑡𝑛
1 1,46 1,443 0,0167 0,00028 0,0002 0,0208 1,4 0,1443±0,
. 9 2 42 02082

2 1,45 0,0067 0,00004


.
3 1,42 0,0233 0,00054
.

∑ 4,33 0,0467 0,00087


24

Table 4.22 waktu AB 0,1 m (s)

n tn ̅̅̅
𝑡𝑛 |𝜕𝑡| |𝜕𝑡|2 𝛼 St SR ̅̅̅ + SP
𝑡𝑛
1 0,33 0,32 0,01 0,00010 0,0002 0,0173 15, 0,32±0,01
. 0 2 41 732
3
2 0,34 0,01 0,00010
.
3 0,3 0,02 0,00040
.

∑ 0,96 0,04 0,00060

4.1.2 Ralat Tidak Langsung

A. Percobaan 1 (M2 +m1) = 0,0904 kg

𝑀1 𝑔 𝑟 2
𝐼= - 2M2𝑟 2 -M1𝑟 2 = -35,54 X 10−4 kg/𝑚2
𝑎

δI 𝑔 𝑟2
 = -𝑟 2
δm1 a

9,78 (0,062)2
= -(0,062)2
0,5663

=0,068-3,84 X 10−3 = 64,16 X 10−3

δI
 = -2𝑟 2
δm2

= -2 (0,062)2 = −7,688 𝑋 10−3


δI δI
 SI =√(δm1 δm12 ) + ( δm2 δm22

=√(64,16 𝑋 10−3 . 0)2 + √(7,688 𝑋 10−3 . 0)2 = 0


 I ± SI = -35,54 𝑋 10−4 ± 0 kg/𝑚2
25

B. Percobaan 2 ( M2 + m2 ) = 0,0877 kg

𝑀1 𝑔 𝑟 2
𝐼= - 2M2𝑟 2 -M1𝑟 2 = -309,34 X 10−3 kg/𝑚2
𝑎

δI 𝑔 𝑟2
 = -𝑟 2
δm1 a

9,78 (0,062)2
= -(0,062)2
0,0669

= 53,156 X 10−3

δI
 = -2𝑟 2
δm2

= -2 (0,062)2 = −7,688 𝑋 10−3


δI δI
 SI =√(δm1 δm12 ) + ( δm2 δm22

= √(53,156 𝑋 10−3 . 0)2 + √(7,688 𝑋 10−3 . 0)2 = 0


 I ± SI = -309,34 X 10−4 ± 0 kg/𝑚2

4.2 PEMBAHASAN

Setiap benda yang berputar, memiliki nilai momen inersia. Dimana momen
inersia merupakan ukuran kelembaman suatu benda untuk mempertahankan kondisi
awalnya. Momen inersia pada katrol dapat dianalisa melalui jenis katrol yang di
gunakan. Pada percobaan pesawat atwood, katrol yang digunakan berbentuk silinder
tipis dengan sumbu putar di pusat yang memiliki nilai momen inersia. Melalui rumus
momen inersia dapat diketahui bahwa factor yang mempengaruhi besarnya momen
inersia adalah massa dan jarak ke titik pusat. Massa berfungsi sebagai besaran yang
mempertahankan kecepatan linier. Sementara, pada gerak rotasi, momen inersia yang
ekuivalen dengan massa tersebut.

Pada system katrol, ketika katrol tersebut di beri massa tambahan maka akan
timbul suatu percepatan. Dengan adanya percepatan, maka pada percobaan pesawat
26

atwood dapat diamati gerak lurus beraturan (GLB) dan gerak lurus berubah beraturan
(GLBB) serta hukum newton yang berlaku pda percobaan pesawat atwood.
Diantaranya hukum newton I tentang “kelembaman”. Hukum ini berlaku ketika
massa M1 dan M2 digantungkan tanpa diberi beban tambahan. Hukum newton II
berhubungan dengan gaya yang mempengaruhi percepatan. Hukum ini berlaku pada
saat penambahan beban tambahan m1 dan m2. Pada kondisi ini terjadi GLBB karena
adanya perubahan kecepatan. Hukum newton 3 disebut sebagai hukum aksi reaksi.
Hukum ini terjadi pada saat beban tambahan menyangkut pada lubang di titik C serta
pada saat M2 menumbuk klem S. pada saat beban tambahan tertahan pada lubang di
titik C, maka gerak yang terjadi pada katrol adalah gerak lurus beraturan (GLB).

Berdasarkan percobaan dan perhitungan pesawat atwood, pada GLB diperoleh


percepatan (a1) sebesar 0,58 m/𝑠 2 sementara pada GLBB diperoleh percepatan (a2)
sebesar 0,0669 m/𝑠 2 . Keduanya sama sama menempuh jarak yang berubah ubah.
Sehingga dapat dianalisa bahwa baik pada GLB maupun GLBB akan memiliki nilai
percepatan jika jaraknya berubah ubah. Adapun a1 lebih bsar dari pada a2
dikarenakan perbedaan gaya yang diberikan. Dalam hal ini percobaan A memiliki
gaya yang di implentasikan dalam beban tambahan yang lebih besar daripada
percobaan B. hal ini sesuai dengan hukum newton 2 bahwa percepatan akan
berbanding lurus dengan gaya yang diberikan. Semakin besar gaya maka akan
semakin besar percepatannya.

Dengan diketahui nya kecepatan gravitasi serta percepatan pada masing


masing percobaan, maka nilai momen inersia juga dapat diketahui. Berdasarkan
perhitungan nilai I pada percobaan A sebesar - 35,54 X 10−4 kg/𝑚2 . Sedangkan nilai
I pada percobaan B sebesar -309,34 X 10−3 kg/𝑚2 . Dan nilai percepatan system
dapat dihitung, diperoleh nilai a system pada percobaan A sebesar - 9,74 X 10−4
m/𝑠 2 . Sedangkan nilai a system pada percobaan B sebesar - 7,91 X 10−4 m/𝑠 2 .
27

Sebenarnya nilai momen inersia tidak boleh negative. Tanda negative


menandakan bahwa suatu katrol telah kehilangan kelembamannya dikarenakan
pergerakan katrol yang cepat karna pengaruh percepatan dan gaya ( beban tambahan
). Dalam system ini dapat diamati bahwa momen inersia ( kelembaman ) dalam posisi
awal diam kemudian diberi gaya sehingga mengalami percepatan. Ketika benda
berhasil bergerak karena suatu gaya bahkan timbul percepatan maka ukuran
kelembaman benda tersebut yang awalnya diam aka berangsur angsur menghilang.
Maka dari itu nilai I pada kedua percobaan bernilai negative (-).
Pada percobaan pesawat atwod dapat pula dibuat beberapa grafik hubungan
beberapa komponen dalam system katrol

1.55

1.5

1.45

1.4
t ca ( s )

1.35

1.3

1.25
0 0.05 0.1 0.15 0.2

Gambar 4.1 hubungan antara X ab dan t ab


Pada gambar diatas merupakan grafik hubungan antara X ca dan t ca dengan X ca
yang berubah ubah. Seharus nya makin jauh jarak X ca maka akan menghasilkan t ab
yang lebih lama, tetapi pada gambar tersebut terlihat bentuk grafik yang tidak sesuai
dengan teori, hal tersebut dikarenakan ada beberapa factor kesalahan, diantaranya
permainan stopwatch yang kurang mahir, sehingga menyebabkan ketidak tepatan
waktu yang diperoleh.
28

1.55

1.5

1.45

1.4
t ca

1.35

1.3

1.25
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12

Gambar 4.2 hubungan antara V ca dengan t ca

Gambar tersebut merupakan hubungan antara V ca dengan t ca, grafik tersebut


berbentuk grafik GLBB.

0.6

0.5

0.4

0.3
t ab (s)

0.2

0.1

0
0 0.05 0.1 0.15 0.2

Gambar 4.3 hubungan antara X ab dengan t ab


29

Gambar tersebut merupakan grafik hubungan X ab dengan t ab. Pada percobaan kali
ini, jarak ab yang berubah ubah merupakan fenomena terjadinya GLB. grafik tersebut
tidak sesuai dengan literature GLB, hal tersebut dikarenakan beberapa factor yang
mempengaruhi, sama seperti factor kesalahan di atas.

0.6

0.5

0.4

0.3
t ab

0.2

0.1

0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35

Gambar 4.4 hubungan antara V ab dengan t ab


Gambar tersebut merupakan grafik hubungan antara V ab dengan t ab. Dipercobaan
pada jarak ab terjadi fenomena GLB dimana seharusnya kecepatan yang terjadi
konstan. Grafik diatas tidak sesuai literature, hal tersebut dikarenakan beberapa factor
kesalahan yang hamper sama dengan kesalahan di atas.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat di peroleh dari percobaan pesawat atwood adalah


sebagai berikut :

a. Factor yang mempengaruhi besarnya momen inersia adalah massa dan jari –
jari nya dimana kedua besaran tersebut merupakan besaran fisis momen
inersia pada system katrol.
b. Hukum newton I terjadi pada saat katrol diam (M1 seimbang dengan M2),
hukum newton 2 terjadi saat M2 diberi beban tambahan (m1 dan m2), hukum
3 terjadi saat beban tambahan menempel pada titik C, massa M2 menumbuk
klem S serta gaya tegangan tali dan beban.
c. Katrol mengalami gerak dipercepat maupun gerak dengan kecepatan tetap
tergantung ada tidaknya gaya (beban tambahan yang diberikan).
d. Nilai I pada percobaan A = - 35,54 X 10−4 kg/𝑚2
Nilai I pada percobaan B = -309,34 X 10−3 kg/𝑚2
e. Nilai a system pada percobaan A = - 9,74 X 10−4 m/𝑠 2
Nilai a system pada percobaan B = - 7,91 X 10−4 m/𝑠 2

5.2 Saran

Saran yang dapat diberikan setelah percobaan pesawat atwood adalah sebagai
berikut :

a. Lubang pada titik C diperbesar agar ketika M2 + m melewatinya tidak mudah


tersangkut.
b. Jarak antara C ke A maupun A ke B dibuat lebih jauh agar lebih mudah
melihat BLB dan GLBB pada system tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Aby, Ganijanti. 2014. Seri Fisika Dasar Mekanika. Jakarta : Salemba Teknika
Giancoli, Douglas C.1997. Fisika Jilid I. Jakarta : Erlangga
http://www.yuksinau.id/hukum-newton-1-2-3/#
(Diakses pada tanggal 22 Desember 2017)
http://www.softilmu.com/2015/11/Pengertian-Rumus-Contoh-Penerapan-Gerak-Lurus-
Beraturan-GLB-dan-Gerak-Lurus-Berubah-Beraturan-GLBB-Adalah.html
(Diakses pada tanggal 22 Desember 2017)
Lampiran A perhitungan pesawat atwood.

A.1 perhitungan momen inersia katrol.

 Momen inersia untuk jarak AB (M2 = m1).


Diket : a = 0,58 m/𝑠 2
Dit : I ?
𝑀1 𝑔 𝑟 2
Jawab : 𝐼 = - 2M2𝑟 2 -M1𝑟 2
𝑎
0,0092 9,78 0,0622
= – 2 . 0,0812 . 0,0622 – 0,092 . 0,0622 = - 35,54 X
0,58

10−4 kg/𝑚2
 Momen inersia untuk jarak CA (M2 + m2).
Diket : a = 0,0669 m/𝑠 2
Dit : I ?
𝑀1 𝑔 𝑟 2
Jawab : 𝐼 = - 2M2𝑟 2 -M1𝑟 2
𝑎
0,0062 9,78 0,0622
= – 2 . 0,0812 . 0,0622 – 0,0065 . 0,0622 = -309,34
0,0669

X 10−3 kg/𝑚2

A.2 perhitungan percepatan system katrol.

𝑀 𝑔
 a = 2𝑀+𝑚+𝐼/𝑟 2
0,0092 .9,78
= 10−4
2 0,0812+0,0092+(−35,54 X )
0,0622

0,0899
= − 92,278 = - 9,74 X 10−4 m/𝑠 2
𝑀 𝑔
 a = 2𝑀+𝑚+𝐼/𝑟 2
0,0062 .9,78
= 10−3
2 0,0812+0,0062+(−309,34 X )
0,0622

0,06357
= − 80,311 = - 7,91 X 10−4 m/𝑠 2
Lampiran B. Jawaban Pertanyaan

1. Apabila diameter katrol dalam percobaan dirubah, apakah mampu mempengaruhi


data yang di dapatkan ? jelaskan!

Jawab : tentu saja, diameter katrol dapat mempengaruhi nilai jari jari katrol dimana
jari jari katrol merupakan salah satu factor yang mempengaruhi nilai momen inersia.

2. 2 orang remaja bernama A dab B sedang memindahkan 2 benda yang memiliki


massa yang sama sebesar 2 kg dari lantai ke atap sebuah rumah. A menggunakan tali
dan sebuah katrol yang berdiameter 6 cm. sedangkan B hanya menggunakan tali.
Manakah yang membutuhkan gaya yang lebih besar untuk memindahkan benda
tersebut jika percepatan benda naik 1 m/𝑠 2 ( g = 9,8 m/𝑠 2 ) ?

Jawab : benda A ditarik oleh remaja A dengan katrol.

Ada 2 kemungkinan katrol yang digunakan

a. Katrol tetap ( tidak bergerak )


Gaya yang diberikan = berat benda
F=W
Diket : m = 2 kg
a = 1 m/𝑠 2
r = 0,03 m
g = 9,8 m/𝑠 2
Dit : F ?
F=W
=mg
= 2 . 9,8 = 19,6 N
b. Katrol bergerak
Gaya yang diperlukan = ½ W
2F = W
Dit F ?
F = W/2
F = m g/2
F = 2 . 9,8/ 2 = 9,8 N

Benda B oleh remaja B

Diket : m = 2 kg

a = 1 m/𝑠 2

g = 9,8 m/𝑠 2

Dit : F ?

Jawab : ∑F = m . a

T–W=2.1

T–(mg)= 2

T – 19,6 = 2

T ( F ) = 21,6 N

Sehingga, diperoleh kesimpulan bahwa dengan menggunakan katrol baik tetap


ataupun bergerak akan membutuhkan gaya yang lebih kecil untuk memindahkan
benda terebut ke atap daripada hanya menggunakan tali.

3. 3 buah bola terbuat dari material yang berbeda, memiliki ukuran geometri yang
sama di jatuhkan diatas ketinggian 200m dari ermukaan tanah. Bola 1, 2, dan 3.
Secara berturut turut memiliki massa 2 kg, 5 kg, dan 10 kg. bola manakah yang akan
jatuh menyentuh tanah terlebih dahulu ( g = 9,8 m/𝑠 2 ) ?
Jawab : pada soal diatas, merupakan salah satu apikasi soal gerak jatuh bebas ( gerak
vertikal kebawah ) dengan V0 = 0. Pada gerak jatuh bebas perbedaan massa tidak
mempengaruhi cepat atau lambatnya benda tersebut sampai ketanah dengan catatan
benda tersebut memiliki ukuran geometri yang sama. ketinggian, percepatan gravitasi
seta waktu untuk menumbuk tanah. Ukuran luas penampang yang berbeda juga
mempengarui gerak jatuh bebas. Luas penamang yang besar akan lebih lama untuk
sampai ketanah karena adanya gesekan dengan udara. Namun jika ada 3 buah beda
dengan ukuran geometri yang sama, dijatuhkan pada ketinggian yang sama, serta
pada suatu tepat yang memiliki percepatan gravitasi yang sama pula, beban tersebut
akan jatuh secara bersamaan.

4. jelaskan secara singkat kondisi / fenomena sekitar kita yg menunyjukan berlakunya


Hukum newton 1,2,3.

Jawab : hukum newton 1 berkaitan dengan sifat kelembaman suatu benda cenderung
mempertahankan kedudukannya, contoh : pada saat mengerem motor, tubuh akan
terdorong ke depan karena tubuh berusaha mempertahankan keadaan untuk terus
maju ke depan saat motor berjalan.

Hukum 2 newton berkaitan dengan benda dalam keadaan bergerak. Massa benda dan
gaya yang diberikan diperhitungkan. Contoh : orang mendorong gerobak bubur ayam
dengan kekuatan tertentu dan gerobak tersebut akan berjalan dengan percepatan
tertentu.

Hukum newton 3 berkaitan dengan gaya aksi reaksi. Artinya benda yang diberikan
gaya akan menimbulkan reaksi ( memberikan gaya ). Contoh : saat agustusan omba
tarik tambang, saat mendayung perahu kita mendayung ke belakang, dan perahu maju
ke depan.
BLANKO PERCOBAAN

PESAWAT ATWOOD

M1 (gr) 81,4 81,4 81,4

M2 (gr) 81,2 81,2 81,2

m1 (gr) 9,2 9,2 9,2

m2 (gr) 6,5 6,5 6,5

M2 + m1 ….

CA (cm) 10 10 10 10

t1 (detik) 0,76 0,7 0,74 0,77 0,80 0,68 0,76 0,73 0,74 0,76 0,80 0,70

AB (cm) 10 12 14 16

t2 (detik) 0,37 0,45 0,51 0,48 0,42 0,42 0,52 0,49 0,64 0,39 0,56 0,54

M2 + m2 …..

CA (cm) 10 12 14 16

t1 (detik) 1,54 1,48 1,51 1,24 1,34 1,33 1,39 1,36 1,36 1,46 1,45 1,42

AB (cm) 10 12 14 16

t2 (detik) 0,49 0,36 0,49 0,42 0,48 0,42 0,42 0,41 0,36 0,33 0,34 0,3