Anda di halaman 1dari 4

KERANGKA ACUAN KEGIATAN

SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT

2019

1. PENDAHULUAN
Kondisi Kesehatan Indonesia masih didominasi oleh penyakit berbasis
lingkungan khususnya penyakit yang dibawa oleh air (water borne diseases),
seperti DBD, Diare, Kecacingan dan Polio. Penyebab utama tingginya penyakit-
penyakit tersebut adalah perilaku hidup yang belum bersih dan sehat, terutama
masih banyak masyarakat yang buang air besar di tempat terbuka (open
defecation), seperti di kebun, sungai, dan sebagainya. Upaya-upaya peningkatan
cakupan jamban yang telah dilakukan bertahun-tahun melalui berbagai proyek
dan pendekatan, tetapi belum memberikan hasil yang signifikan dengan
besarnya biaya yang telah dikeluarkan. Tolok ukur yang digunakan dalam
pelaksanaan program-program adalah peningkatan jumlah jamban yang
dibangun. Namun demikian, pada kenyataannya belum mampu menurunkan
prevalensi penyakit berbasis lingkungan, karena banyak masyarakat yang tetap
buang air besar di tempat terbuka.

2. LATAR BELAKANG
Kementrian Kesehatan khususnya Direktorat Penyehatan Lingkungan
mengembangkan teknik pendekatan perilaku hidup bersih dan sehat, yaitu
dengan pendekatan Community Led Total Sanitation(CLTS) atau istilah lain
adalah Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Pendekatan CLTS ini
menitikberatkan kepada fasilitasi atas suatu proses untuk menyemangati serta
memberdayakan masyarakat setempat untuk tidak buang air besar di tempat
terbuka serta membangun dan menggunakan jamban atas kemauan sendiri
tanpa subsidi dari luar. Melalui pendekatan CLTS anggota masyarakat diajak
menganalisis masalah sekaligus mencari solusinya sendiri. Pendekatan CLTS ini
pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di India dan Bangladesh dengan
hasil yang luar biasa. Dengan hasil seperti itu, kegiatan disebarluaskan ke
berbagai pelosok di negara-negara tersebut, bahkan kini telah diadopsi dan
disebarluaskan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia
pendekatan ini pada awalnya diujicobakan di Kabupaten Muaro Jambi Provinsi
Jambi, Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan, Kabupaten Sumbawa Provinsi
Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat, Kabupaten
Sambas Provinsi Kalimantan Barat serta Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa
Timur. Pendekatan ini ternyata memberikan hasil dalam peningkatan akses
sanitasi secara spektakuler karena berlangsung dalam waktu yang sangat
cepat.Dengan persentase keberhasilan untuk membebaskan lingkungan dari
masyarakat yang buang air besar sembarangan yang begitu tinggi dan cepat,
maka dirasa perlu diadopsi kegiatan tersebut melalui kegiatan pemicuan STOP
BABS terhadap masyarakat.

3. TUJUAN
A. Tujuan Umum
Meningkatnya jumlah Desa/Kelurahan di Puskesmas Bungursari
Kecamatan Bungursari Kabupaten Purwakarta yang bebas dari buang air
besar sembarangan.
B. Tujuan Khusus
Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perubahan perilaku
higiene sanitasi lingkungan terutama dalam hal buang air besar pada
tempatnya.

4. KEGIAAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN


KEGIATAN POKOK RINCIAN KEGIATAN
STBM memiliki 5(lima) pilar setiap individu dan komunitas mempunyai
utama yakni akses terhadap sarana sanitasi dasar
 bebas buang air besar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang
sembarangan atau bebas dari buang air di sembarang tempat
Open Defecation Free (ODF), setiap rumahtangga telah
(ODF), menerapkan pengelolaan air minum dan
 mencuci tangan pakai makanan yang aman di rumah tangga, setiap
sabun, rumah tangga dan sarana pelayanan umum
 pengelolaan air minum dalam suatu komunitas seperti sekolah,
Mdan makanan rumah kantor, rumah makan, puskesmas, pasar,
tangga, terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air,
 pengelolaan sampah sabun, sarana cuci tangan), sehingga semua
rumah tangga, dan orang mencuci tangan dengan benar, setiap

 pengelolaan limbah cair rumah tangga mengelola limbahnya dengan


rumah tangga. benar, setiap rumah tangga mengelola
sampahnya dengan benar.

5. CARA PELAKSANAAN KEGIATAN


a) Sosialisasi sanitasi total berbasis masyarakat
b) Pelatihan sanitasi total berbasis masyarakat .
c) Pemicuan stbm di desa .
d) Pendampingan stbm di desa .
e) Jamban yang terbangun hasil pemicuan stbm di provinsi kepulauan riau .
f) Desaodf (open defecation free) di provinsi kepulauan riau

6. SASARAN
Masyarakat pedesaan

7. JADWAL KEGIATAN
NAMA
BULAN
KEGIATAN
Sanitasi JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES
total
berbasis
masyarakat

8. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN


Evaluasi ketepatan jadwal pelaksanaan dilakukan oleh Penanggung jawab
Program. Akan dilakukan tindakan korektif jika terjadi ketidak tepatan jadual
pelaksanaan. Pelaporan tentang evaluasi ketepatan jadual pelaksanaan kegiatan
berupa check list disertai dengan keterangan tindakn korektif jika terjadi ketidak
tepatan jadual pelaksanaan kegiatan. Laporan evaluasi ini dibuat setiap selesai
kegiatan dan ditujukan kepada Kepala UPT Puskesmas Pematang Duku.

9. PENCATATAN PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN


Pencatatan pelaporan dan evaluasi kegiatan ini merupakan Laporan dan
Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan. Pada dasarnya laporan berisi tanggal
pelaksanaan, kendala yang dihadapi yang sekaligus merupakan bentuk evaluasi
terhadap pelaksanaan kegiatan. Laporan evaluasi ini Dilakukan setiap kali
selesai melakukan kegiatan, dan ditujukan kepada Kepala UPTD Puskesmas.