Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KEPANITERAAN UMUM

CAPPING PULPA (indirect) PADA GIGI 47 DENGAN


PULPITIS REVERSIBLE

Disusun oleh:

Muhammad Rosyid Abdul Hakim


J520140019

KEPANITERAAN UMUM PERIODE 10


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2018

1
1. PENDAHULUAN

A. Definisi
Pulpitis adalah peradangan atau inflamasi dari pulpa dental sebagai
akibat dari karies yang sudah masuk ke dalam pulpa gigi, maupun trauma
ditandai dengan gejala utama berupa rasa sakit pada gigi.
Pulpitis reversibel merupakan inflamasi pulpa yang tidak parah. Jika
penyebabnya dihilangkan, inflamasi akan menghilang dan pulpa akan kembali
normal. Ketidaknyamanan akan dialami saat diberikan stimulus seperti dingin
atau manis dan akan hilang dalam beberapa detik setelah rangsangan
dihilangkan (Ali dan Mulay., 2015). Stimulus ringan seperti erosi servikal, atau
atrisi oklusal, sebagian besar prosedur operatif, kuretase periodontal yang
dalam, dan fraktur email yang menyebabkan tubulus dentin terbuka adalah
faktor yang dapat mengakibatkan pulpitis reversibel (Walton & Torabinejad,
2008).
B. Etiologi
Faktor-faktor penyebab dapat dibagi menjadi 3, yaitu
a. Bakteri
Penyebab utama caries adalah mikroorganisme beserta produk-
produknya. Reaksi pulpa dapat terjadi pada lesi dini dentin. Proses caries
terus berlanjut dan belum mengenai pulpa, sel-sel inflamasi akan
mengadakan penetrasi melalui dentin yang terbuka,sehingga apabila
caries sudah mengenai pulpa maka terjadilah suatu inflamasi yang kronis.
b. Mekanis
Cedera pada pulpa oleh karena jatuh atau pukulan pada wajah, dengan
atau tanpa disertai fraktur. Apabila pulpa terbuka, kuman akan
mengadakan penetrasi kedalam dan menyebabkan inflamasi pulpa.
c. Kimiawi
Kerusakan pulpa dapat disebabkan oleh erosi bahan-bahan yangbersifat
asam ataupun uap

2
C. Patofisiologi
Patogenesis pulpitis diawali dari terjadinya karies yang disebabkan oleh
daya kariogenik dari bakteri yang timbul karena adanya produksi asam laktat.
Akibatnya, pH cairan disekitar gigi tersebut menjadi rendah atau bersifat
asam. Kondisi tersebut cukup kuat untuk melarutkan mineral-mineral pada
permukaan gigi dan terjadi demineralisi. Jika karies sudah mencapai email-
dentin, karies akan menyebar ke segala arah dentin menjadi meluas, akhirnya
sampai ke pulpa. Setelah karies sampai ke pulpa, maka terjadilah proses
inflamasi pada pulpa.
Kemudian terjadi pelepasan histamine dan bradikinin yang
menyebabkan vasodilatasi, sehingga permeabilitas kapiler meningkat, terjadi
akumulasi sel PMN dan peningkatan cairan intrerstisial disekitar area
inflamasi (edema lokal). Edema lokal ini menyebabkan peningkatan tekanan
didalam pulpa sehingga dapat menekan saraf-saraf yang ada didalam pulpa
dan jaringan sekitarnya. Gejala penakanan ini dapat menyebabkan rasa nyeri
ringan sampai sangat kuat tergantung keparahan inflamasinya, yang
dipengaruhi oleh virulensi kuman, daya tahan tubuh, serta pengobatan yang
diberikan.
D. Gejala
 Gigi terasa nyeri saat ada iritasi panas, dingin, atau manis
 Nyeri yang tajam dan sulit untuk menyebutkan lokasi rasa sakit.
 Nyeri segera reda ketika iritan dihilangkan
E. Tanda Klinis
 Karies dentin yang dalam atau kavitas mendekati pulpa gigi
 Terdapat hiperemia pulpa
 Sondasi positif sakit namun hilang apabila rangsang dihilangkan
 Respon yang berlebihan terhadap tes pulpa

3
II. LAPORAN KASUS

IDENTITAS

Nama Lengkap : Retno Wulandari


Tempat / Tanggal Lahir : Surakarta, 19 Mei 1970
Usia : 48 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Perumahan Griya Adi II Sapen, Mojolaban
Sukoharjo
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Islam
DATA MEDIK UMUM
Golongan Darah : B
Alergi : Dingin
Penyakit Sistemik : Tidak Ada
Operator : Monika Ekania

a. PEMERIKSAAN SUBJEKTIF
CC :
Pasien datang dengan keluhan gigi terasa ngilu saat minum dingin
PI :
- Pasien merasakan keluhan tersebut sejak 2 minggu yang lalu
- Pasien mengeluhkan ngilu pada gigi kanan bawah
- Keluhan dirasakan saat minum dingin, rasa ngilu tajam saat ada
rangsangan dan hilang saat rangsangan dihilangkan
PMH :
- Pasien mengaku memiliki alergi cuaca dingin.
- Pasien mengaku tidak memiliki penyakit sistemik
- Pasien mengaku tidak sedang dalam perawatan dokter
PDH :
- Pasien mengaku pernah ke dokter gigi untuk tambal gigi 11 tahun lalu

4
- Pasien mengaku pernah di kikir giginya 2 tahun lalu
FH :
Umum :
a. Ayah :Sudah meninggal karena menderita penyakit gula
b. Ibu :Sudah meninggal karena menderita stroke

Gigi dan Mulut :


a. Ayah : Pasien mengaku gigi Ayah pasien pernah memakai gigi tiruan
b. Ibu : Pasien mengaku gigi Ibu pasien pernah memakai gigi tiruan
SH :
- Pasien mengaku menggosok gigi 1x sehari
- Pasien mengaku sering minum kopi 1x sehari
b. PEMERIKSAAN OBJEKTIF
 Kesan Umum Kesehatan Penderita
Jasmani : Sehat
Mental : Sehat, kooperatif
 Vital Sign
Tekanan darah: 120 / 80 mmHg (Normal)
Nadi : 80 x / menit
Pernafasan : 16 x / menit
Suhu : 36,30C
Berat Badan : 70 kg
Tinggi Badan : 155 cm
 Kesehatan Umum Berdasarkan Sistem Tubuh
o Sistem Endokrin : Tidak Ada Kelainan
o Sistem Gastrointestinal : Tidak Ada Kelainan
o Sistem Hepatopoetik : Tidak Ada Kelainan
o Sistem Kardiovaskuler : Tidak Ada Kelainan
o Sistem Muskuloskeletal : Tidak Ada Kelainan
o Sistem Neurologik : Tidak Ada Kelainan
o Sistem Respirasi : Tidak Ada Kelainan

5
o Sistem Urogenital : Tidak Ada Kelainan
 Pemeriksaan Ekstra Oral

Kelenjar KelenjarL Tulang


Fasial Neuromuskular TMJ
Ludah imfe Rahang

Deformitas TAK TAK TAK TAK TAK TAK

Nyeri TAK TAK TAK TAK TAK TAK

Tumor TAK TAK TAK TAK TAK TAK

GangguanF TAK TAK TAK TAK TAK TAK

ungsi

 Pemeriksaan Intra Oral

o Mukosa bibir : TAK


o Mukosa pipi : TAK
o Dasar mulut : TAK
o Gingiva : Terdapat perubahan warna kehitaman
pada regio 31,32,33,41,42,43
o Orofaring : TAK
o Oklusi : Normal bite
o Torus palatinus :Ada
o Bentukpalatum : U, normal
o Frenulum
- FrenulumLabialis RA : Tinggi
- FrenuumLabialis RB : Tinggi
- Frenulum Lingualis : Tinggi
- Frenulum Bukalis RA : Sedang
- Frenulum Bukalis RB : Sedang

6
o Lidah
- Ukuran : Normal
- Aktivitas : Normal
o Alveolus
- RahangAtas : Tinggi
- RahangBawah : Tinggi
o Supernumerary teeth : Tidak Ada
o Diastema : Tidak Ada
o Gigi Anomali : Tidak Ada
o Gigi Tiruan : Tidak Ada
o Oral Hygiene : 7,1 ; Buruk

 Pemeriksaan Jaringan Lunak

33,34 : Terdapat pewarnaan berwarna putih irreguler

d/ Geographic Tongue

17 : Terdapat perubahan warna pada regio gigi 31,32,33,41,42,43

d/ Rasial Pigmentation

7
13,14,15,16,11,18: Terdapat pembesaran gingiva berwarna kemerahan,

konsistensi kenyal, unstipling

d/ Gingivitis et causa plak dan kalkulus

 Pemeriksaan OHI

OHI Awal : 7,1 (Buruk)


OHI Akhir : 0,6 (Baik)

 Pemeriksaan Gigi Geligi

8
RINGKASAN KODE RENCANA
DIAGNOSI
ELEMEN HASIL DIAGNOSI PERAWATA
S/DD
PEMERIKSAAN S (ICD-10) N

13 Terdapat D/ Atrisi K.03.1 Tp/ Observasi

pengikisan pada

incisal

12 Terdapat kavitas D/ Karies K.02.1 Tp/ Restorasi

kedalaman email Email kavitas Klas III

bagian distal GV Black

dengan Resin

Komposit

23 Terdapat D/ Atrisi K.03.1 Tp/ Observasi

pengikisan pada

incisal

28 Terdapat kavitas D/ Karies K.02.2 Tp/ Restorasi


pada bagian
oklusal distal Dentin kavitas Klas II
kedalaman dentin
GV Black
dengan:
Sondasi (+) dengan Resin
Perkusi (-)
Palpasi (-) Komposit
CE (+)

36 Terdapat sisa akar D/ Radices K.04.0 Tp/ Ekstraksi

9
37 Terdapat kavitas D/ Karies K.02.2 Tp/
kedalaman dentin
bagian bukal Dentin Restorasikavita
dengan:
Sondasi (+) s KlasI GV
Perkusi (-)
Palpasi (-) Black dengan
CE (+)
Resin Komposit

46 Terdapat kavitas D/ Karies K.02.1 Tp/

bagian oklusal Email Restorasikavita

bukal kedalaman s KlasI GV

email Black dengan

Resin Komposit

47 Terdapat kavitas D/ Karies K.02.2 Tp/ Capping


bagian oklusal
bukal kedalaman Dentin Pulpa, Restorasi
dentin dengan :
Sondasi (+) Onlay
Perkusi (-)
Palpasi (-)
CE (+)

Tanggal Elemen Diagnosis Perawatan

5 September 47 D/ Pulpitis reversibel TP/ -KIE


2016 -Capping pulpa
-Restorasi sementara
-Kontrol

10
c. PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Rontgen Periapikal

Terdapat gambaran radiolusen pada gigi 47 yang telah mendekati tanduk pulpa.
d. Diagnosis
D/ Pulpitis Reversible

e. Rencana Perawatan
- KIE
- Capping Pulpa
- Restorasi Sementara
- Kontrol
f. Tahapan Perawatan
a. Alat yang digunakan beserta fungsinya
a. Diagnostic set (sonde, kacamulut, pinset, ekscavator) : sebagai alat untuk
melakukan pemeriksaan objektif. Sonde digunakan untuk melakukan
sondasi pada gigi yang bersangkutan, kacamulut digunakan untuk
melihat gigi yang bersangkutan jika tidak bisa dilihat langsung oleh mata,
ekskavator digunakan untuk melakukan ekskavasi jaringan karies, dan
pinset digunakan untuk membantu mengambil atau memegangi bahan
yang tidak dipegang langsung oleh tanga.Bengkok: tempat meletakkan
diagnostik set

11
b. Alat Pelindung Diri (APD) seperti sarung tangan dan masker  untuk
melindungi diri operator dari terpapar infeksi.
c. Handpiece low speed : untuk melakukan profilaksis
d. Brush: untuk mengoleskan pasta pumice
e. Agate spatula: untuk memanipulasi SIK
f. Glass plate: untuk memanipulasi SIK, dan mencampur pasta dan katalis
CaOH
g. Ball Aplicator: untuk mengaplikasikan CaOH
h. Plastis Instrumen: Untuk mengaplikasikan SIK
b. Bahan yang digunakan beserta cara manipulasi/ penggunaannya
a) CE  sebagai bahan tes vitalitas pulpa
b) Cotton Pelet  bahan tempat CE di semprotkan untuk tes vitalitas
pulpa.
c) Cotton Roll  digunakan sebagai isolasi rongga mulut.
d) Ca(OH)2 sebagai bahan kaping pulpa, yang terdiri dari pasta dan
katalis. Cara memanipulasinya adalah dengan cara mencampurkan pasta
dan katalis dari Ca(OH)2.
e) Cavit  sebagai bahan restorasi sementara.
f) SIK tipe 3  digunakan sebagai basis/lining setelah cavitas
diaplikasikan Ca(OH)2. Cara memanipulasinya dengan caramembagi
serbuk menjadi 4 bagian kemudian di campurkan ke dalam cairan satu
per satu.
g) Pasta&pumiceuntuk profilaksis

12
c. Cara Kerja
Setelah dilakukan penegakan diagnosis dan rencana perawatan atas
dasar pemeriksaan subjektif berupa anamnesis, pemeriksaan objektif,
selanjutnya adalah dilakukan perawatan caping pulpa indirek. Berikut
tahapan-tahapannya:
a) Pasien dipersilahkan duduk di dental unit
b) Asisten operator menyiapkan alat dan bahan
c) Pemeriksaan subjektif (anamnesis) meliputi CC, PI, PDH, PMH,
FH dan SH.
d) Pemeriksaan objektif (ekstraoral dan intraoral)
e) Pemeriksaan radiograf periapikal : menujukkan adanya area
radiolusen kedalaman dentin diatas kamar pulpa
f) Pembesihan kavitas dengan menggunakan ekskavator
g) Melakukan profilaksis dengan menggunakan pasta dan pumice
yang dilakukan dengan brush yang dipasang pada handpiece
lowspeed untuk mengilangkan debris

h) Isolasi dengan cotton roll

13
i) Melakukan kaping pulpa dengan pemberian selapis tipis kalsium
hidroksida pada dasar kavitas atau diatas pulpa wall

j) Pemberian SIK sebagai lining diatas dari kalsium hidroksida

k) Pemberian tumpatan sementara (cavit).

l) Evaluasi hasil (Kontrol) dilakukan setelah satu minggu.


m) Setelah satu minggu, dilakukan pemeriksaan subjektif untuk
melihat apakah gejala pulpitis reversible hilang atau tidak. Jika
pasien sudah tidak merasakan sakit, maka dilakukan pemeriksaan
objektif dengan cara melakukan tes vitalitas, perkusi dan palpasi.
n) Jika hasil tes gigi tetap vital, perkusi, sondasi dan palpasi negatif,
maka dikatakan perawatan capping pulpa indirect berhasil.

14
g. Hasil Perawatan

Sebelum Perawatan

Setelah kontrol 1 minggu

HASIL KONTROL:

a. Pemeriksaan Subjektif :
Pasien sudah tidak merasakan keluhan
b. Pemeriksaan Objektif :
Sondasi : -
Palpasi : -
Perkusi : -
Vilatitas : +
- Tumpatan sudah lepas
- Lining masih dalam kondisi baik juga
- Digantikan dengan tumpatan sementara zinc phospat

III. PEMBAHASAN

Pulpitis adalah peradangan atau inflamasi dari pulpa dental sebagai akibat
dari karies yang sudah masuk ke dalam pulpa gigi, maupun trauma ditandai
dengan gejala utama berupa rasa sakit pada gigi.

15
Pasien datang dengan keluhan gigi belakang kanan bawah berlubang dan
linu saat minum dingin. Keluhan dirasakan sejak 2 minggu yang lalu, keluhan
dirasakan ketika mendapatkan rangsangan seperti minum dingin, jika rangsangan
dihilangkan ngilunya hilang. Pasien mengeluhkan giginya berlubang sejak 10
tahun yang lalu, namun rasa linu dirasakan 2 minggu yang lalu pada gigi yang
berlubang tersebut. Pasien belum pernah merasakan sakit secara tiba-tiba pada
gigi yang dikeluhkan serta rasa sakit belum dirasakan sampai mengganggu waktu
tidur. Pasien belum pernah memeriksakan ke dokter mengenai keluhan tersebut
dan pernah minum obat ponstan dan amoxicilin. Pemeriksaan objektif
menunjukkan karies yang dalam pada gigi 47. Pemeriksaan penunjang radiografi
dilakukan untuk mengetahui kedalaman karies. Setelah dilakukan pemeriksaan
subjektif, objektif, dan penunjang didapatkan diagnosis pulpitis reversible pada
gigi 47. Rencana perawatan yang akan dilakukan adalah melakukan kaping pulpa
indirek.
Kaping pulpa adalah perawatan endodontik yang bertujuan untuk
mempertahankan vitalitas pada endodontium. Syarat dilakukannya perawatan
kaping pulpa direk maupun indirek diantaranya (1) pulpa gigi dalam keadaan vital
dan tidak ada riwayat nyeri spontan, (2) nyeri yang ditimbulkan saat tes pulpa
dengan stimulus dingin atau panas tidak berlangsung lama,(3) pada radiografi
periapikal tidak ada lesi periradikular, dan (4) bakteri harus dihilangkan terlebih
dahulu sebelum di restorasi permanen (Amerongen et al., 2006).
Bahan yang dipakai Ca(OH)2 yang mempunyai sifat dapat merangsang
odontoblas like sel membentuk dentin reparatif. Pada laporan kasus dilakukan
perawatan capping pulpa pada gigi 47 yang berlubang besar dan hasil radiografi
menunjukkan karies dentin yang sudah dekat dengan pulpa (Simone., dkk 2014).
Kaping pulpa dibagi menjadi dua, kaping pulpa indirek dan kaping pulpa
direk.
1. Kaping pulpa indirek
Indikasi untuk perawatan kaping pulpa indirek adalah karies dentin yang
dalam dan masih terdapat lapisan dentin pada dasar kavitas, untuk radiografis
dan klinisnya tidak ditemukan degenerasi pulpa dan penyakit periradikuler

16
(Harty, 2007). Perawatan kaping pulpa indirek dilakukan jika tidak ada
riwayat pulpagia atau tidak ada tanda-tanda pulpitis ireversibel. Prosedur
dalam melakukan perawatan kaping pulpa indirek adalah membuang semua
dentin lunak terlebih dahulu, kemudian diatas dentin yang tersisa
diaplikasikan kalsium hidroksida untuk menekan bakteri, kemudian diberikan
tumpatan sementara, setelah beberapa minggu kalsium hidroksida dan
tumpatan sementara dilepas dan digantikan oleh restorasi permanen (Walton
& Torabinejad, 2008).
Kaping pulpa indirek tidak dapat dilakukan jika ditemukan rasa nyeri yang
tajam dan menetap saat terdapat rangsangan, nyeri spontan yang lama pada
malam hari, gigi goyah, gigi yang berubah warna, karies dengan pulpa yang
terbuka, kerusakan pada lamina dura, dan terdapat area radiolusen pada ujung
akar gigi (Ingle & Bakland, 2002).
Keberhasilan perawatan kaping pulpa indirek, ditandai dengan hilangnya
rasa sakit, tidak ada keluhan spontan dan tidak sensitf terhadap perubahan
suhu. Kemudian pada pemeriksaan objektif ditandai dengan pulpa yang
tinggal akan tetap vital. Sedangkan faktor kegagalan perawatan kaping pulpa
indirek kemungkinan dapat terjadi pada saat pengeburan, ada kemungkinan
mata bur membuat perforasi atap pulpa. Hal ini perawatan kaping pulpa
indirek berganti menjadi kaping pulpa direk.
2. Kaping pulpa direk
Kaping pulpa direk adalah prosedur perawatan dengan cara
mengaplikasikan bahan liner secara langsung pada jaringan pulpa yang
terbuka, tindakan ini dilakukan biasanya karena trauma atau karies yang
dalam. Tujuan dilakukan kaping pulpa direk adalah untuk membentuk dentin
reparatif dan memelihara pulpa vital (Komabayashi & Zhu, 2011).
Kegagalan setelah kaping pulpa direk dapat terjadi karena beberapa faktor
: (1) pulpa inflamasi kronis, penyembuhan tidak dapat terjadi ketika pulpa
mengalami inflamasi, oleh karena itu dalam situasi ini dibutuhkan perawatan
pulpektomi (2) penjendalan darah pada ekstra pulpa, penjendalan darah
mencegah kontak jaringan pulpa yang sehat dengan bahan material kaping

17
pulpa dan bertentangan dengan proses penyembuhan luka (3) kegagalan
restorasi, jika restorasi gagal untuk mencegah masuknya bakteri, hal itu dapat
meningkatkan kegagalan perawatan (Noort,2007).

IV. PENUTUP
a. Kesimpulan
Kaping pulpa bertujuan untuk mencegah inflamasi pulpa akibat bakteri dan
iritan-iritan yang mengiritasi pulpa secara langsung maupun tidak langsung,
serta merangsang pembentukan dentin reparative. Bahan yang umum
digunakan adalah Kalsium hidrokside yang mememiliki kelebihan antibacterial
dan dapat membentuk dentin reparative.
b. Saran
Diperlukan pasien dengan kepatuhan kunjungan yang baik sehingga dapat
diamati perkembangan dari gigi yang dikeluhkan tersebut dan dapat dilakukan
radiografi saat control untuk melihat bagaimana prognosis dari perawatan yang
telah dilakukan.

18
V. DAFTAR PUSTAKA
Ali, S.G., Mulay, S. 2015. Pulpitis: A review. Journal of Dental and Medical
Sciences. Volume 14, Issue 8
Amerongen, J. v., Loveren, C. v., & Kidd, E. A. 2006. Fundamentals ofOperative
Dentistry (3rded.). Texas: Quintessence books.
Harty. 2007. Endodontics in Clinical Practice (5 thed). USA: Elsevier.
Ingle, J.I., Backland, L.K. 2002. Endodontics (5 ed.). Hamilton : BC Decker Inc
Komabayashi, T., & Zhu, Q. 2011. Innovative Endodontic Therapy for Anti-
inflammatory Direct Pulp. Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral
RadiolEndod, 109(5), 1-10.
rd
Noort R Van. 2007. Introduction to Dental Materials 3 ed. London : Mosby
Elsevier: 99-171
Mitchell, Laura., David A. Mitchell, Lorna McCaul. 2012. Kedokteran Gigi
Klinik. Jakarta:EGC
Simone, Steiner-Oliveira, Braga, Imparato. 2014. Indirect pulp treatment without
re-entry in a permanent tooth: 36 months of follow-up. Rev Gaúcha
Odontol., Porto Alegre, v.62, n.1, p. 71-7
Walton, R.E., & Torabinejad, M. 2008. Prinsip dan Praktik Ilmu Endodontik (3
rd ed.). Jakarta: EGC.

19