Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KASUS KEPANITRAAN UMUM

Perawatan Topical Application Flour


pada Semua Gigi Decidui

Muhammad Rosyid Abdul Hakim


J520140019

KEPANITRAAN UMUM PERIODE 10


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2018

1
I. PENDAHULUAN

Karies gigi atau gigi berlubang adalah suatu penyakit infeksi mikrobiologik pada
jaringan keras gigi yang ditandai oleh rusaknya email dan dentin disebabkan oleh
aktivitas metabolisme bakteri dalam plak yang menyebabkan terjadinya demineralisasi
akibat interaksi antar produk-produk mikroorganisme, saliva dan bagian-bagian yang
berasal dari makanan dan email.
Etiologi karies gigi adalah multifaktoral. Proses terjadinya karies pada gigi
melibatkan beberapa faktor yang tidak berdiri sendiri tetapi saling bekerja sama. Ada
faktor penting yang saling berinteraksi dalam pembentukan karies gigi, yaitu:
Mikroorganisme yang berperan adalah bakteri Streptococcus mutans dan Lactobacillus
yang utama penyebab terjadinya karies. Gigi (host): morfologi gigi dengan lekukan
yang dalam merupakan daerah yang sulit dibersihkan dari sisa-sisa makanan yang
melekat sehingga plak akan mudah berkembang dan dapat menyebabkan terjadinya
karies gigi. Makanan: sisa-sisa makanan dalam mulut (karbohidrat) merupakan substrat
yang difermentasi oleh bakteri untuk mendapatkan energi. Waktu: karies merupakan
penyakit yang berkembangnya lambat dan keaktifannya berjalan bertahap serta
merupakan proses dinamis yang ditandai dengan periode demineralisasi.
Topikal aplikasi fluor (TAF) merupakan pengolesan langsung larutan fluor yang
pekat pada gigi setelah gigi di bersihkan dan di keringkan dengan semprotan udara.
Fluor dapat menghambat terjadinya karies dengan cara berikatan dengan hidroksi apatit
yang kemudian membentuk fluor apatit sehingga akan menurunkan proses demineralisasi
dan meningkatkan proses remineralisasi dan karies dapat di cegah.

Pada anak-anak memiliki resiko terjadinya karies yang tinggi, oleh karena itu
pemberian fluor sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya karies. Topikal aplikasi
fluor pada anak-anak dilakukan dengan cara pengolesan langsung fluor pada enamel
kemudian didiamkan kurang lebih selama 4 menit dan selama 30 menit tidak boleh
makan, minum dan berkumur.

Fluor mempunyai kemampuan untuk berreaksi dengan permukaan email gigi


dalam membentuk kalsium fluor dan fluroapatit sehingga permukaan lebih tahan
terhadap demineralisasi dan kerusakan. Mekanisme fluor dalam pencegahan karies adalh
dengan cara menghambat proses demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi.

2
Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan TAF diantaranya
:Resiko karies tinggi, sedang atau rendah, Angka kariogenik, Usia pasien, Kandungan
fluor dalam air yng sering dikonsumsi, Kondisi sistemik pasien. Bahan-bahan TAF
bermacam-macam diantaranya adalah NaF, SnF dan APF. NaF merupakan sediaan fluor
yang paling sering digunakan karena dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama,
memiliki rasa yang cukup baik, tidak mewarnai gigi dan tidak mengiritasi gingiva.

II. LAPORAN KASUS


IDENTITAS
Nama Lengkap : Rivano Dwiasa Rizkyansyah
Tempat / Tanggal Lahir : Surakarta, 01 Juni 2011
Usia : 7 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Windan, rt 01/rw 06, Makam Haji, Kartasura, Sukoharjo
Pekerjaan : Pelajar
Agama : Islam

DATA MEDIK UMUM


Golongan Darah : -
Alergi : Tidak Ada
Penyakit Sistemik : Tidak Ada
Operator : Monika Ekania

A. PEMERIKSAAN SUBJEKTIF
CC :
Pasien diantar orang tuanya untuk memeriksakan giginya yang berwarna kecoklatan
PI :
Menurut keterangan ibu pasien, pasien tidak pernah mengeluhkan sakit gigi
PMH :
- Menurut keterangan ibu pasien, pasien belum pernah dirawat di rumah sakit
- Menurut keterangan ibu pasien, pasien pernah mengalami bronkhitis 2 tahun yang
lalu

3
- Menurut keterangan ibu pasien, pasien tidak memiliki alergi obat, makanan dan
cuaca
- Menurut keterangan ibu pasien, status perdarahan pasien baik
PDH :
Menurut keterangan ibu pasien, pasien belum pernah diperiksa di dokter gigi.
FH :
 Umum :
Ayah : Menurut keterangan ibu pasien, ayah pasien tidak memiliki riwayat
penyakit sistemik
Ibu : Menurut keterangan ibu pasien, ibu pasien menderita sakit hipertensi
 Gigi dan Mulut :
Ayah : Menurut keterangan ibu pasien, ayah pasien mengalami giginya goyah
karena trauma
Ibu : Menurut keterangan ibu pasien, ibu pernah mengeluhkan giginya sakit
dan bengkak.
SH :
 Menurut keterangan ibu pasien, pasien menggosok gigi 2 kali sehari saat mandi
pagi dan mandi sore
 Menurut keterangan ibu pasien, pasien sering mengonsumsi manis
 Menurut keterangan ibu pasien, pasien minum dot terakhir 2 tahun yang lalu

B. PEMERIKSAAN OBJEKTIF
Pemeriksaan Ekstraoral
 Kesan Umum Kesehatan Penderita
Jasmani : Sehat
Mental : Sehat, kooperatif dan komunikatif
 Vital Sign
TekananDarah : 80 / 60 mmHg (Normal)
Nadi : 60 x / menit
Pernafasan : 16 x / menit
Suhu : 36,2 0C
BeratBadan : 19 kg
Tinggi Badan : 117 cm

4
 KesehatanUmumBerdasarkanSistemTubuh
o Sistem Endokrin : Tidak Ada Kelainan
o Sistem Gastrointestinal : Tidak Ada Kelainan
o Sistem Hepatopoetik : Tidak Ada Kelainan
o Sistem Kardiovaskuler : Tidak Ada Kelainan
o Sistem Muskuloskeletal : Tidak Ada Kelainan
o Sistem Neurologik : Tidak Ada Kelainan
o Sistem Respirasi : Tidak Ada Kelainan
o Sistem Urogenital : Tidak Ada Kelainan
 Pemeriksaan Ekstra Oral

Kelenjar Kelenjar Tulang


Fasial Neuromuskular TMJ
Ludah Limfe Rahang
Deformitas TAK TAK TAK TAK TAK TAK

Nyeri TAK TAK TAK TAK TAK TAK

Tumor TAK TAK TAK TAK TAK TAK

Gangguan TAK TAK TAK TAK TAK TAK


Fungsi
Bentuk muka : Lonjong, simetris
Profil : Cembung
Bibir : Sedang
 Pemeriksaan Intraoral
- Mukosa bibir : TAK
- Mukosa pipi : TAK
- Dasar mulut : TAK
- Gingiva : TAK
- Orofaring : TAK
- Oklusi : Normal bite
- Torus palatinus :Tidak Ada
- Bentuk palatum : U, normal
- Frenulum
FrenulumLabialis RA : Rendah
FrenuumLabialis RB : Rendah

5
Frenulum Lingualis RA : Rendah
Frenulum Lingualis RB : Rendah
Frenulum Bukalis RA : Rendah
Frenulum Bukalis RB : Rendah
- Lidah
o Ukuran : Normal
o Aktivitas : Normal
- Alveolus
Rahang Atas : Tinggi
Rahang Bawah : Tinggi
- Supernumerary teeth : Tidak Ada
- Diastema : Tidak Ada
- Gigi Anomali : Tidak Ada
- Gigi Tiruan : Tidak Ada
- PHP-M : ;

 Pemeriksaan Jaringan Lunak

6
 Pemeriksaan PHP-M

Skor PHP-M: 21 (sedang)


 Pemeriksaan Gigi Geligi

KODE
ELE RINGKASAN HASIL DIAGNOSIS/ RENCANA
DIAGNOSIS
MEN PEMERIKSAAN DD PERAWATAN
(ICD-10)
51 Terdapat karies rampan pada d/ K02.1 Tp/
bagian labial kedalaman dentin karies dentin restorasi dengan
SIK
61 Terdapat karies rampan pada d/ K02.1 Tp/
bagian labial kedalaman dentin karies dentin restorasi dengan
SIK

7
62 Terdapat karies rampan pada d/ K02.1 Tp/
bagian labial kedalaman dentin karies dentin restorasi dengan
SIK

B. PEMERIKSAAN PENUNJANG
-
C. DIAGNOSIS
-
D. RENCANA PERAWATAN
Tp 1/ TAF
2/ KIE
E. TAHAPAN PERAWATAN
1) Sterilisasi dan persiapan alat serta bahan
2) Alat yang digunakan adalah:
 Diagnostic set: kaca mulut untuk menjangkau bagian yang tidak terlihat dan
untuk menyibakkan mukosa, sonde untuk melakukan sondasi dan explorasi,
pinset untuk membantu operator mengambil bahan.
 Handpiece low speed: untuk menempatkan brush
 Brush : untuk melakukan profilaksis
3) Bahan yang digunakan adalah:
 Disclossing agent: untuk melihat plak dan pengukuran PHP-M
 APF 1,23% (acidulated phosphate fluor) : sebagai bahan topikal fluor
 Pasta dan pumice: sebagai bahan profilaksis
 Tray: sebagai tempat untuk mengaplikasikan fluor gel
 Cotton roll dan cotton pellet: untuk isolasi dan bahan yang membantu
pengaplikasikan bahan yang lain.
4) Melakukan pemeriksaan subjektif dengan bantuan keterangan wali (Ibu) dan
pemeriksaan objektif
5) Melakukan profilaksis menggunakan brush dengan pasta dan pumice

8
6) Try in tray yang akan digunakan untuk melihat apakah terlalu besar atau terlalu
kecil
7) Isolasi daerah kerja mengunakan saliva ejector
8) Aplikasi APF 1,23% menggunakan tray dan ditunggu 4 menit
9) Instruksi pasca TAF:
 Menginstruksikan bersama wali pasien agar pasien tidak makan dan minum
setengah jam setelah pengaplikasian fluor.
 Menginstruksikan bersama wali pasien agar pasien tidak menelan bahan TAF
 Menginstruksikan bersama wali pasien agar pasien kontrol setiap 6 bulan
sekali.
10) KIE kepada wali pasien
Komunikasi : menjelaskan bahwa pasien memiliki high risk caries karena pola
makan pasien yang banyak terpapar gula menggunakan bahasa pasien dan wali
pasien
Infornasi : menjelaskan perawatan yang telah dilakukan kepada pasien yaitu
berupa topikal aplikasi fluor yang gunanya untuk mencegah pembentukan
karies
Edukasi : mengedukasi wali pasien agar memperhatikan cara menyikat gigi
dan untuk mengurangi konsumsi makanan yang manis.

9
III. DOKUMENTASI

Alat dan Bahan

 Alat diagnostik set : sonde, pinset dan kaca mulut


 Handpiece lowspeed
 Handscoon
 Masker

 Tray
 Pasta dan pumice
 APF 1,23 %

10
Foto Intra Oral

Tahapan Perawatan
1. Melakukan profilaksis

11
2. Aplikasi APF

IV. PEMBAHASAN

Penilaian risiko karies saat ini melibatkan kombinasi beberapa faktor termasuk
diet, paparan fluorida, host yang rentan, dan mikroflora yang saling berinteraksi dengan
beragam sosial, budaya, dan perilaku. Penilaian risiko karies adalah penentuan
kemungkinan timbulnya karies (yaitu, jumlah lesi baru atau awal) selama periode
waktu tertentu atau kemungkinan akan ada perubahan ukuran atau aktivitas lesi yang
sudah ada. Dengan kemampuan untuk mendeteksi karies pada tahap awal (yaitu lesi
white spot), penyedia layanan kesehatan dapat membantu mencegah pembentukan
kavitas pada anak salah satunya dengan TAF. Hubungan antara konsumsi gula dan
terjadinya karies sekarang lebih rendah dikarenakan mulai maraknya penggunaan fluor.
Namun, terapat bukti penggunaan botol pada malam hari, terutama bila
berkepanjangan, dapat dikaitkan dengan karies anak usia dini.
Pengaplikasian topikal aplikasi fluor pada kasus ini berhasil. Keberhasilan ini
didapat karena pasien mampu mengikuti instruksi yang ada untuk pengaplikasian TAF
yaitu pasien mau memakai tray yang telah diolesi bahan APF selama 4 menit. Tujuan
penanganan hal ini adalah menghambat dan mencegah terjadinya karies serta
mempertahankan gigi – geligi desidui sehingga dapat tanggal pada waktunya dan
digantikan gigi permanennya. jika setelah melakukan perawatan karies pada pasien
masih berlanjut hingga membentuk kavitas berarti perawatan gagal, sebaliknya jika
karies pada gigi pasien terhenti maka perawatan berhasil.
Perawatan topikal aplikasi fluor ini diberikan pada pasien untuk mencegah
terjadinya karies. Topikal apliksi fluor yang diberikan pada pasien dalam bentuk gel

12
dan dalam sediaan APF dengan konsentrasi 1,23%. Pertimbangan dalam penggunaan
APF ini karena sifatnya yang stabil, tersedia dalam bermacam-macam rasa, tidak
menyebabkan pewarnaan pada gigi dan tidak mengiritasi gingiva. Dengan adanya
varian rasa akan mudah diterima oleh anak-anak.
Pemberian topikal aplikasi flour dilakukan setelah profilaksis dan gigi dalam
keadaan bersih dan kering, sebelumnya gigi telah diisolasi menggunakan cotton roll
pada daerah bukal dan lingual. TAF dalam sediaan APF dioleskan meggunakan cotton
pellet pada tray , kemudian tray diaplikasikan ke dalam rongga mulut. Setelah diolesi
topikal aplikasi fluor, selanjutnya ditunggu selama 2 - 4 menit sambil dilakukan suction
saliva agar air liur tidak tercampur dengan topikal aplikasi fluor. Waktu 2 – 4 menit
digunakan agar terjadi pereketan antara fluor dengan enamel. Proses yang terjadi adalah
fluor berikatan dengan apatit dari struktur gigi sehingga dapat membentuk fluorapatit
yang akan membuat enamel tahan terhadap asam daningkatkan remineralisasi pada
gigi. Sedangkan fluor lainya juga dapat berikatan dengan struktur H dalam hidroksi
apatit, ikatan HF tersebut dapat masuk ke dinding sel bakteri dan mengakibatkan
bakteri lisis sehingga menghambat proses demineralisasi, dengan mekanisme tersebut
lesi karies akan terhenti. Setelah 4 menit, cotton roll dilepas dan pasien diinstruksikan
untuk tidak boleh makan, minum, berkumur tetapi boleh meludah, setelah itu ditunggu
sekitar 1 jam baru boleh makan dan minum. Agar ikatan fluor dengan gigi tidak larut.
Langkah terakhir yakni memberikan DHE kepada anak berupa cara menggosok
gigi yang benar. Pada perawatan topikal aplikasi fluor tidak dilakukan kontrol dan
pengulangan dapat dilakukan sebanyak 2-3 kali sesuai dengan kebutuhan dan biasanya
pengulangan dilakukan pada saat gigi bercampur sekitar usia 7 tahun dan pada saat gigi
permanen sekitar usia 13 tahun.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan:
Karies gigi dapat terjadi melalui beberapa faktor. Salah satu faktor yang
mempengaruhi yaitu makanan. Makanan yang manis dapat menjadikan gigi menjadi
asam dari hasil metabolik bakteri. Pada tahapan pembentukan karies, terdapat fase
demineralisasi dimana pH kirtis dari hidroksiapatit adalah 5,5. Apabila pada orang
tersebut dilakukan aplikasi fluor, maka pH kritis menjadi 4,5 karena hidroksiapatit

13
berubah fluorapatit. Hal ini sangat baik bagi orang yang memiliki resiko karies tinggi
karena pembentukan karies akan lebih rendah.
Saran:
- Sebaiknya TAF dilakukan pada saat periode gigi bercampur

VI. DAFTAR PUSTAKA


American Academy of Pediatric Dentistry. Policy on use of a caries-risk assessment
tool (CAT) for infants, children, and adolescent. Oral Health Dental Policies
2002; 18–20.
Amstrong, Sandra Guzma´n., Jane Chalmers., John J. Warren. 2010. White spot
lesions: Prevention and Treatment. America : America Journal Orthodontic
Dentofacial Orthop : 690-696.
Andlaw, R. J. and Rock, W. P. 2012. Perawatan Gigi Anak Edisi 2. Jakarta: Widya
Medika
Angela, Ami. 2005. Pencegahan primer pada anak yang berisiko karies tinggi (Primary
prevention in children with high caries risk), Maj. Ked. Gigi. (Dent. J.), 38 (3) :
130–134
Bakar, A. 2013. Kedokteran Gigi Klinis Edisi 2. Yogyakarta: Quantum Sinergis Media
Cameron A.C., Widmer., RP. 2008. Pediatric Dentistry. Elsevier
Casamassimo, P. S. et al. 2013. Pediatric Dentistry: Infacy Through Adolescence.
China: Elsevier
Chandna, Ambuj., Aseem Sharma., Gaurav Sharma., Bhupinder Arora, Sanjay Sharma.
2016. White Spot Lesions : A Review Article. Pradesh : IOSR Journal of Dental
and Medical Sciences (IOSR-JDMS).Vol. 15. No.6 : 68 – 69.
Guclu, Zeynep Asli., Alev Alaçam., Nichola Jayne Coleman. 2016. A 12-Week
Assessment of the Treatment of White Spot Lesions with CPP-ACP Paste and/or
Fluoride Varnish. Turkey : BioMed Research International. Vol. 2016 : 1 – 9.
Joshi, Surabhi., Chintan Joshi.2013. Management of Enamel White Spot Lesions. India
: Journal of Contemporary Dentistry. Vol. 3 : 133 – 137.
Kidd EAM, Bechal SJ. Dasar-dasar karies penyakit dan penanggulangannya. Cetakan
2. Jakarta: EGC; 1992.
McDonald, Avery. 2011. Dentistry for the Child and Adolescent. Elsevier.

14
Sirat, Ni M,. 2014. Pengaruh Aplikasi Topikal dengan larutan NaF dan SnF dalam
pencegahan Karies gigi. Jurnal Kesehatan Gigi. 2(2).
Soeprapto, Andrianto. 2017. Pedoman dan Tatalaksana Praktik Kedokteran Gigi.
Cetakan 2. Yogyakarta: STPI Bina Insan Mulia; 2017.
Widayati, Nur. 2014. Faktor Yang Berhubungan dengan Karies Gigi pada Anak
Usia 4-6 Tahun. Surabaya : Jurnal Berkala Epidemiologi. Vol. 2, No. 2 : 196-
205.

15