Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit paru yang dapat
dicegah dan diobati, ditandai oleh hambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya
reversibel, bersifat progresif dan berhubungan dengan respon inflamasi paru
terhadap partikel atau gas yang beracun/berbahaya, disertai efek ekstraparu yang
berkonstribusi terhadap derajat berat penyakit.1 Karakteristik hambatan aliran
udara pada PPOK disebabkan oleh gabungan antara obstruksi saluran nafas kecil
(obstruksi bronkiolitis) dan kerusakan parenkim (emfisema) yang bervariasi pada
setiap individu.1
PPOK merupakan salah satu dari kelompok penyakit tidak menular yang
telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh
meningkatnya usia harapan hidup dan semakin tingginya pajanan faktor risiko,
seperti faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian PPOK, semakin
banyaknya jumlah perokok khususnya pada kelompok usia muda, serta
pencemaran udara di dalam ruangan maupun di luar ruangan dan di tempat kerja.
Hubungan antara rokok dengan PPOK merupakan hubungan dose response,
semakin banyak batang rokok yang dihisap setiap hari dan lamanya kebiasaan
merokok tersebut maka risiko penyakit yang ditimbulkan semakin besar.1
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) saat ini merupakan penyebab
utama kematian ke-4 di dunia dan diperkirakan menjadi penyebab utama kematian
ke-3 pada tahun 2020. Lebih dari 3 juta orang meninggal karena PPOK pada
tahun 2012 dan menyumbang 6% dari semua kematian di seluruh dunia . PPOK
adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas kronis di seluruh dunia; Banyak
orang menderita penyakit ini selama bertahun-tahun, dan meninggal akibat dari
penyakit itu sendiri ataupun akibat komplikasinya. Secara global, beban PPOK
diperkirakan meningkat dalam beberapa dekade yang akan datang karena terus
terpaparnya faktor risiko PPOK dan penuaan di populasi. 2
Pada tahun 1998, dengan kerjasama National Heart, Lung, and Blood
Institute, National Institutes of Health dan World Health Organization, Global
Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) diterapkan. Tujuannya
adalah untuk meningkatkan kesadaran akan PPOK dan untuk meningkatkan
pencegahan dan pengelolaan PPOK melalui upaya bersama oleh semua orang
yang terlibat di semua layanan dan kebijakan kesehatan. Pada PPOK dapat terjadi
eksaserbasi yang dicetuskan oleh beberapa faktor. Definisi eksaserbasi akut pada
PPOK adalah kejadian akut dalam perjalanan alami penyakit dengan karakteristik
adanya perubahan basal sesak napas, batuk, dan/atau sputum yang diluar batas
normal dalam variasi hari ke hari.1 Penyebab eksaserbasi akut yaitu infeksi
trakeobronkial (infeksi virus dan infeksi bakteri) dan polusi udara, sedangkan
sepertiga penyebab lainnya belum dapat diidentifikasi. 1 Eksaserbasi akut dapat
timbul pada PPOK yang artinya timbulnya perburukan dibandingkan dengan
kondisi sebelumnya. 1
Gejala eksaserbasi utama berupa peningkatan sesak, produksi sputum
meningkat, dan adanya perubahan konsistensi atau warna sputum. Eksaserbasi
akut dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu tipe I (eksaserbasi berat) apabila
memiliki 3 gejala utama, tipe II (eksaserbasi sedang) apabila hanya memiliki 2
gejala utama, dan tipe III (eksaserbasi ringan) apabila memiliki 1 gejala utama
ditambah adanya infeksi saluran napas atas lebih dari 5 hari, demam tanpa sebab
lain, peningkatan batuk, peningkatan mengi atau peningkatan frekuensi
pernapasan > 20% baseline, atau frekuensi nadi > 20% baseline.1
Penatalaksanaan PPOK secara umum bertujuan untuk mencegah
progresivitas dari penyakit, mengurangi gejala, meningkatkan toleransi terhadap
aktivitas, meningkatkan status kesehatan, mencegah dan menangani komplikasi,
mencegah dan menangani eksaserbasi, dan menurunkan angka kematian. Agar
dapat ditatalaksana sedini mungkin diperlukan pula penegakan diagnosis yang
akurat. Gejala dan tanda PPOK sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala, gejala
ringan hingga berat. Diagnosis PPOK ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang.
Oleh karena itu penulis tertarik untuk membahas tentang manajemen
penatalaksanaan eksaserbasi pada penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
terutama pada layanan primer.
1.2 Tujuan Penulisan
Penulisan CSS ini bertujuan untuk memahami serta menambah
pengetahuan tentang manajemen PPOK eksaserbasi.

1.3 Batasan Masalah


Dalam CSS ini akan dibahas mengenai definisi dan manajemen PPOK
eksaserbasi pada layanan primer.

1.4 Metode Penulisan


Penulisan CSS ini menggunakan metode tinjauan pustaka dengan mengacu
pada GOLD 2019.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan PPOK


Eksaserbasi.
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit paru yang dapat
dicegah dan diobati, ditandai oleh hambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya
reversibel, bersifat progresif dan berhubungan dengan respon inflamasi paru
terhadap partikel atau gas yang beracun/berbahaya, disertai efek ekstraparu yang
berkonstribusi terhadap derajat berat penyakit.1
Eksaserbasi dari penyakit paru obstruktf kronis (PPOK) merupakan
kejadian penting dalam penanganan PPOK, karena akan memperburuk status
kesehatan, angka perawatan dan rawatan ulang, dan perburukan penyakitnya.
Eksaserbasi PPOK adalah kejadian yang kompleks dan biasanya berkaitan dengan
peningkatan inflamasi saluran pernafasan, peningkatan produksi mukus, dan
terperangkapnya udara yang mencolok. Perubahan-perubahan ini menyebabkan
peningkatan dyspnea yang merupakan kunci dari kejadian eksaserbasi. Gejalan-
gejala lain termasuk peningkatan jumlah dan purulensi sputum, bersama dengan
peningkatan batuk dan wheezing.2

2.2 Manajemen Penatalaksanaan PPOK Eksaserbasi di Layanan Primer


Penatalaksaan eksaserbasi PPOK diklasifikasikan berdasarkan :2
 Mild (Ringan) : ditangani hanya dengan bronkodilator kerja singkat
(SABDs).
 Moderate (Sedang) : ditangani dengan SABDs ditambah dengan
antibiotik dan/atau kortikosteroid oral.
 Severe (Berat) : pasien memerlukan perawatan di rumah sakit atau lansung
datang ke IGD. Eksaserbasi yang berat dapat juga dikaitkan dengan gagal
nafas akut.
Eksaserbasi dapat dikaitkan dengan peningkatan produksi sputum. Suatu
penelitian menyebutkan bahwa perubahan warna sputum menjadi purulen
menunjukkan terjadinya peningkatan jumlah bakteri di dalam sputum. Hal ini
mendukung dan berhubungan dengan konsep peningkatan eosinophil dalam
saluran nafas, paru, dan darah dalam jumlah yang signifkan pada pasien
PPOK. Namun pada sebagian pasien dengan eksaserbasi PPOK, jumlah
eosinophil meningkat bersama dengan neutrophil dan sel inflamasi lainnya.
Adanya sputum eosinophilia berkaitan dengan kerentananan terhadap infeksi
virus. Hal ini berarti bahwa eksaserbasi berkaitan dengan peningkatan
eosinophil dalam sputum atau darah yang mungkin lebih responsif terhadap
steroid sistemik, walaupun masih dibutuhkan penelitian untuk menguji hipotesa
ini.2
Selama eksaserbasi PPOK, gejala biasanya timbul selama 7-10 hari, namun
pada beberapa kasus dapat lebih lama. Setelah 8 minggu, 20% pasien belum
kembali ke kondisi sebelum eksaserbasi. Diketahui dengan pasti bahwa
eksaserbasi PPOK berkontribusi dalam perburukan penyakit. Perburukan penyakit
bahkan semakin besar kemungkinan terjadinya bila proses penyembuhan dari
PPOK berjalan lambat.2
Tujuan dari terapi eksaserbasi PPOK adalah meminimalkan dampak negatif
dari kejadian eksaserbasi saat ini dan mencegah terjadinya kejadian lanjutannya.
Berdasarkan tingkat keparahan dari eksaserbasi dan/atau keparahan penyakit
dasar, kejadian eksaserbasi dapat ditanggulangi dengan pasien rawat jalan atau
pun rawat inap. Lebih dari 80% kasus eksaserbasi ditangani dengan rawat jalan
dengan menggunakan obat-obatan termasuk bronkodilator, kortikosteroid , dan
antibiotik.2
Indikasi penilaian kebutuhan rawat inap selama eksaserbasi PPOK
ditinjukkan dalam Tabel 5.1. Ketika pasien dengan eksaserbasi PPOK datang ke
IGD, mereka seharusnya diberikan oksigen tambahan dan dilakukan penilaian
apakah kejadian eksaserbasi ini mengancam nyawa atau apakah peningkatan
usaha pernafasan atau perubahan pertukaran gas memerlukan pertimbangan
ventilasi non-invasif. Jika ya, pelayan kesehatan harus mempertimbangkan rawat
inap di bagian paru atau pun intensive care rumah sakit. Jika tidak, pasien dapat
ditangani di IGD atau di bangsal umum. Sebagai tambahan terapi farmakologi,
penanganan di rumah sakit dari eksaserbasi termasuk bantuan pernafasan
(terapi oksigen, ventilasi). Penanganan kasus eksaserbasi berat, namun tidak
mengancam nyawa dibahas pada tabel 5.2.2
Tampilan klinis dari eksaserbasi PPOK beragam, oleh karena itu kami
merekomendasikan bahwa pada pasien yang dirawat, keparahan eksaserbasi harus
bersarkan pada tanda klinis pasien dan menyarankan klasifikasi di bawah ini.
Tanpa gagal nafas : Jumlah pernafasan : 20-30 kali per menit; tanpa
penggunaan otot pernafasan aksesoris; tanpa perubahan status mental; hipoksemia
membaik dengan pemberian oxygen melalui masker Venturi dengan 28-35%
oxygen (FiO2); tanpa peningkatan PaCO2.2
Gagal nafas akut – yang tidak mengancam nyawa : Jumlah pernafasan : >30
kali per menit; menggunakan otot pernafasan aksesoris; tanpa perubahan status
mental; hipoksemia membaik dengan pemberian oxygen melalui masker
Venturi dengan 25-30% FiO2; hiperkarbia atau peningkatan PaCO2
dibandingkan nilai dasar atau meningkatan 50-60 mmHg.2
Gagal nafas akut – yang mengancam nyawa : Jumlah pernafasan : >30 kali
per menit; menggunakan otot pernafasan aksesoris; perubahan akut status
mental; hipoksemia tidak membaik dengan pemberian oxygen melalui masker
Venturi atau memerlukan FiO2 > 40%; hiperkarbia atau peningkatan PaCO2
dibandingkan nilai dasar atu meningkatan >60 mmHg atau adanya asidosis (pH ≤
7.25). 2
Prognosis jangka panjang setelah rawat inap pada eksaserbasi PPOK
adalah buruk, dengan tingkat mortalitas dalam 5 tahun sekitar 50%. Faktor-faktor
yang berhubungan lansung dengan outcome yang buruk termasuk usia tua,
index masa tubuh yang rendah, komorbid (spt. penyakit kardiovaskular atau
kanker paru), riwayat rawat inap sebelumnya untuk eksaserbasi PPOK, indeks
keparahan klinis eksaserbasi, dan kebutuhan terapi oksigen jangka panjang
setelah keluar rumah sakit. Pasien-pasien ini memiliki tingkat kejadian dan
keparahan gejala pernafasan yang lebih tinggi, kualitas hidup yang lebih buruk,
fungsi paru yang lebih buruk, kapasitas olahraga yang lebih rendah, densitas paru
lebih rendah, dan dinding bronkus yang menebal pada CT-scan dan juga risiko
mortalitas yang lebih tinggi pada eksaserbasi akut PPOK.2
Penelitian Cochrane terbaru menyimpulkan bahwa penggunaan rencana
aksi pada kasus eksaserbasi PPOK dengan komponen edukasi singkat, sejalan
dengan dukungan yang tetap, menurunkan angka rawat inap pasien tersebut.
Intervensi edukasi juga ditemukan meningkatakan penanganan eksaserbasi
dengan kortikosteroid dan antibiotik.2
Poin kunci dalam penanganan eksaserbasi dituliskan dalam tabel 5.3.

Tatalaksana Farmakologis
Tiga kelas obat yang paling umum digunaka untuk eksaserbasi PPOK
adalah bronkodilator, kortikosteroid, dan antibiotik.2
Bronkodilator. Walaupun tidak ada bukti kuat dari penelitian RCT,
direkomendasikan untuk menggunakan beta-2 antagonist yang dihirup, dengan
atau tanpa antikholinergik kerja singkat, sebagai terapi inisial untuk terapi awal
eksaserbasi. Pembahasan sistematik tentang metode pemberian bronkodilator
kerja singkat tidak menemukan perbedaan signifikan FEV1 antara penggunaan
metered dose inhalers (MDI) (dengan atau tanpa alat spacer) atau dengan
nebulizer, walaupun yang terakhir mungkin merupakan metode yang lebih mudah
untuk pasien yang lebih parah. Direkomendasikan bahwa pasien tidak
mendapatkan nebulisasi yang terus-menerus, tapi menggunakan inhaler MDI
satu puff tiap jam untuk dua atau tiga dosis dan setelahnya setiap 2-4 jam
bergantung pada respon pasien. Walaupun tidak ada penelitian klinis yang
mengevaluasi penggunaan bronkodilator jangka panjang (baik beta2-agonist atau
antikholonergik atau kombinasinya) dengan atau tanpa kortikosteroid hirup
selama eksaserbasi, kami merekomendasikan untuk melanjutkan tatalaksana ini
selama eksaserbasi atau untuk memulai pengobatan secepat mungkin sebelum
pasien dipulangkan. Methylxanthine intravena (theophylline atau aminophylline)
tidak direkomendasikan untuk digunakan pada pasien-pasien ini karena efek
samping yang banyak.2
Glukokortikoid. Data dari penelitian menunjukkan penggunaan
glukokortikoid sistemik pada eksaserbasi PPOK mempersingkat lama
penyembuhan dan memperbaiki fungsi paru (FEV1). Obat ini juga memperbaiki
oksigenasi, risiko kekambuhan dini, kegagalan terapi, dan lamanya waktu
perawatan di rumah sakit. Direkomendasikan prednisone 40 mg setiap hari
selama 5 hari. Terapi oral prednisolone sama efektifnya dengan pemberian
intravena. Budesolone nebul sendiri, walaupun lebih mahal, dapat menjadi
alternatif terhadap oral kortikosteroid pada beberapa pasien untuk tatalaksana
eksaserbasi. Penelitian terbaru mengarahkan bahwa glukokortikoid mungkin
kurang efektif dalam penanganan eksaserbasi PPOK pada pasien dengan angka
eosinophil darah yang lebih rendah.2
Antibiotik. Meskipun agen infeksi pada eksaserbasi PPOK dapat berupa
viral atau bakteri, penggunaan antibiotik dalam eksaserbasi masih kontroversial.
Ketidakpastian berasal dari penelitian yang tidak membedakan antara bronkitis
(akut atau kronis) dan eksaserbasi PPOK, studi tanpa kontrol plasebo, dan/atau
studi tanpa rontgen dada yang tidak mengecualikan bahwa pasien mungkin
memiliki radang paru-paru yang mendasarinya. Ada bukti yang mendukung
penggunaan antibiotik dalam eksaserbasi ketika pasien memiliki tanda-tanda
klinis dari infeksi bakteri misalnya, peningkatan pulensi dahak.2
Sebuah tinjauan sistematis dari studi terkontrol plasebo telah menunjukkan
bahwa antibiotik mengurangi risiko mortalitas jangka pendek sebesar 77%,
kegagalan pengobatan sebesar 53% dan sputum purulensi sebesar 44% . Ulasan
ini memberikan bukti untuk mengobati pasien dengan PPOK yang sedang
atau sangat sakit eksaserbasi dan peningkatan purulensi batuk dan dahak dengan
antibiotik. Data ini didukung oleh RCT yang lebih baru pada pasien dengan
diagnosis PPOK moderat. Dalam pengaturan rawat jalan, kultur dahak tidak layak
karena mereka mengambil setidaknya dua hari dan sering tidak memberikan hasil
yang dapat diandalkan untuk alasan teknis. Beberapa biomarker saluran udara
infeksi sedang dipelajari di eksaserbasi PPOK yang memiliki profil
diagnostik yang lebih baik. Studi protein C-reaktif (CRP) telah melaporkan
temuan yang kontradiktif; CRP telah dilaporkan meningkat pada infeksi bakteri
dan virus, oleh karena itu penggunaannya dalam hal ini kondisi tidak
dianjurkan. Biomarker lain yang telah diteliti adalah procalcitonin, penanda yang
lebih spesifik untuk infeksi bakteri dan yang mungkin bernilai dalam keputusan
untuk menggunakan antibiotik, tetapi tes ini mahal dan tidak tersedia. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa terapi antibiotik yang dipandu oleh procalcitonin
berkurang paparan antibiotik dan efek samping dengan kemanjuran klinis
yang sama. Sebuah metaanalisis baru-baru ini studi klinis yang tersedia
menunjukkan bahwa protokol berbasis procalcitonin untuk memicu penggunaan
antibiotik dikaitkan dengan penurunan resep antibiotik dan total secara
signifikan paparan antibiotik, tanpa mempengaruhi hasil klinis (misalnya, tingkat
kegagalan pengobatan, panjang tinggal di rumah sakit, kematian). Namun,
kualitas bukti ini rendah hingga sedang, karena keterbatasan metodologis dan
populasi penelitian keseluruhan yang lebih kecil. Berbasis prokalsitonin protokol
mungkin efektif secara klinis; Namun, uji coba konfirmasi dengan metodologi
yang ketat diperlukan. Sebuah penelitian pada pasien COPD dengan
eksaserbasi yang membutuhkan ventilasi mekanis (invasif atau noninvasif)
menunjukkan bahwa tidak memberikan antibiotik dikaitkan dengan peningkatan
mortalitas dan insidensi pneumonia nosokomial sekunder yang lebih besar.2
Singkatnya, antibiotik harus diberikan kepada pasien dengan eksaserbasi
PPOK yang memiliki tiga gejala kardinal: peningkatan dispnea, volume
dahak, dan peningkatan purulensi sputum; memiliki dua gejala kardinal, jika
peningkatan purulensi dahak adalah salah satu dari dua gejala; atau memerlukan
ventilasi mekanis (invasif atau noninvasif). Panjang yang direkomendasikan
terapi antibiotik adalah 5-7 hari.2
Pilihan antibiotik harus didasarkan pada pola resistensi bakteri lokal.
Biasanya pengobatan empiris awal adalah aminopenicillin dengan asam
klavulanat, makrolida, atau tetrasiklin. Pada pasien dengan eksaserbasi yang
sering, keterbatasan aliran udara yang parah, dan/atau eksaserbasi yang
membutuhkan ventilasi mekanis, kultur dari sputum atau bahan lainnya dari
paru-paru harus dilakukan, sebagai bakteri gram negatif (misalnya, spesies
Pseudomonas) atau patogen yang resisten yang tidak sensitif terhadap
antibiotik yang disebutkan di atas. Rute pemberian (oral atau intravena)
tergantung pada kemampuan pasien makan dan farmakokinetik antibiotik,
meskipun sebaiknya antibiotik itu diberikan secara oral. Perbaikan dalam dyspnea
dan sputum purulence menunjukkan keberhasilan klinis.2
Terapi Tambahan. Tergantung pada kondisi klinis pasien, cairan yang tepat
keseimbangan, penggunaan diuretik ketika diindikasikan secara klinis,
antikoagulan, pengobatan komorbiditas dan aspek nutrisi harus dipertimbangkan.
Setiap saat, penyedia layanan kesehatan harus sangat menegakkan kebutuhan
untuk berhenti merokok. Mengingat bahwa pasien dirawat di rumah sakit dengan
COPD eksaserbasi berada pada peningkatan risiko trombosis vena dalam dan paru
proca, tindakan profilaksis untuk tromboemboli harus dilembagakan.2
Terapi oksigen. Ini adalah komponen kunci perawatan rumah sakit untuk
eksaserbasi. Oksigen tambahan harus dititrasi untuk memperbaiki hipoksemia
pasien dengan target saturasi 88-92%. Begitu oksigen dimulai, gas darah harus
sering diperiksa untuk memastikan oksigenasi yang memuaskan tanpa retensi
karbon dioksida dan/atau perburukan buruk asidosis. Sebuah penelitian baru
menunjukkan bahwa untuk menilai tingkat bikarbonat dan pH gas darah vena
lebih akurat bila dibandingkan dengan gas darah arteri. Data tambahan
diperlukan untuk memperjelas kegunaan pengambilan sampel gas darah
vena untuk membuat keputusan klinis pada kegagalan pernafasan akut; namun
kebanyakan pasien termasuk memiliki pH> 7,30 pada presentasi, tingkat PaCO2
tidak sama ketika diukur dengan vena dibandingkan dengan darah arteri dan
tingkat keparahan batas aliran udara tidak dilaporkan.2
High flow nasal cannula (HFNC). Pada pasien dengan gagal napas
hipoksemik akut, terapi oksigen aliran tinggi oleh kanula nasal (High flow nasal
cannula/HFNC) dapat menjadi alternatif terapi oksigen standar atau ventilasi
tekanan positif non invasif; beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa
HFNC dapat mengurangi kebutuhan untuk intubasi atau kematian pada pasien
dengan gagal napas hipoksemik akut (ARF). Penelitian sampai saat ini dilakukan
pada pasien PPOK dengan penyakit yang mendasari yang sangat parah yang
membutuhkan oksigen tambahan; secara acak percobaan cross-over menunjukkan
bahwa HFNC meningkatkan oksigenasi dan ventilasi, dan penurunan hiperkarbia.
HFNC cenderung mengurangi tingkat intubasi, tetapi tidak signifikansi statistik
dibandingkan dengan NIV (Noninvasive ventilation), dan tidak berpengaruh pada
mortalitas. 2
Edukasi. Edukasi yang dilakukan di puskesmas atau di layanan primer
ditujukan untuk mencegah bertambah beratnya penyakit dengan menyesuaikan
keterbatasan aktivitas pasien serta mencegah eksaserbasi lebih lanjut. Selain itu
perlu diberikan pengarahan mengenai cara pengurangan faktor risiko seperti
pengurangan paparan asap rokok dengan edukasi berhenti merokok, debu
pekerjaan, bahan kimia dan polusi udara indoor maupun outdoor, termasuk asap
memasak agar mencegah perburukan PPOK.1
Nutrisi. Keseimbangan nutrisi antara protein lemak dan karbohidrat
diberikan dalam porsi kecil tetapi sering, karena kekurangan kalori dapat
meningkatkan derajat sesak.1
Rehabilititasi. Rehabilitasi dilakukan dengan cara latihan bernapas dengan
pursed-lips, latihan ekspektorasi, dan latihan otot pernafasan den ekstremiti.1

Keluar rumah sakit dan tindak lanjut


Tindak lanjut awal (dalam satu bulan) setelah pulang harus dilakukan bila
memungkinkan. Ada banyak masalah pasien yang menolak tindak lanjut dini;
mereka yang tidak menghadiri follow up lebih awal telah meningkatkan
mortalitas. Ini mungkin mencerminkan kepatuhan pasien, akses yang terbatas ke
perawatan medis, miskin dukungan sosial, dan/atau adanya penyakit yang lebih
parah.2
Tindak lanjut dini memungkinkan peninjauan yang teliti terhadap terapi
discharge (dan khususnya kebutuhan yang tersisa untuk pengobatan oksigen
jangka panjang dengan penilaian saturasi oksigen dan gas darah arteri) dan
kesempatan untuk melakukan perubahan yang diperlukan pada terapi (tinjauan
terapi antibiotik dan steroid).2
Tindak lanjut tambahan pada tiga bulan dianjurkan untuk memastikan
kembali ke keadaan klinis stabil dan memungkinkan peninjauan gejala pasien,
fungsi paru (dengan spirometri), dan sedapat mungkin penilaian prognosis
menggunakan beberapa sistem penilaian seperti menggunakan indeks BODE.
Selain itu, saturasi oksigen arteri dan penilaian gas darah akan menentukan
kebutuhan terapi oksigen jangka panjang lebih akurat pada tindak lanjut
dibandingkan dengan segera setelah keluar. CT assessment untuk menentukan
adanya bronkiektasis dan emfisema harus dilakukan pada pasien dengan
eksaserbasi berulang dan/atau rawat inap. Penilaian lebih lanjut tentang
keberadaan dan manajemen komorbiditas juga harus dilakukan (Tabel 5.7).2
Setelah eksaserbasi akut, tindakan yang tepat untuk mencegah eksaserbasi
lebih lanjut harus dimulai (Tabel 5.3 dan Tabel 5.8). Untuk modalitas
perawatan berikut efek yang signifikan pada risiko / frekuensi eksaserbasi dapat
ditunjukkan dalam uji klinis.2
BAB 3
KESIMPULAN

 Eksaserbasi PPOK diartikan sebagai perburukan akut dari gejala-


gejala saluran pernafasan yang memerlukan terapi tambahan.
 Eksaserbasi PPOK dapat dipicu oleh beberapa faktor. Penyebab paling
utama adalah infeksi sistem pernafasan.
 Tujuan terapi eksaserbasi PPOK adalah memperkecil dampak buruk
dari eksaserbasi saat ini dan mencegah kejadian-kejadian yang
mengikutinya.
 Beta2-agonis kerja singkat yang dihirup, dengan atau tanpa
antikolinergik kerja singkat direkomendasikan sebagai bronkodilator inisial
untuk menangani eksaserbasi akut.
 Terapi pemeliharaan dengan bronkodilator kerja panjang seharusnya
dimulai secepat mungkin sebelum pasien dipulangkan dari rumah sakit.
 Kortikosteroid sistemik dapat memperbaiki fungsi paru
(FEV1),oksigenasi, dan mempersingkat waktu penyembuhan dan
perawatan. Lamanya terapi seharusnya berkisar 5-7 hari.
 Methylxanthine tidak direkomendasikan oleh karena tingginya efek
samping.
 Tatalaksana lain yang dapat dilakukan yaitu edukasi pasien, pemberian
nutrisi yang tepat dan rehabilitasi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Pedoman dan penatalaksanaan
Penyakit Paru Obstruktif Kronik di Indonesia. Jakarta; 2011.
2. Globala Initiative For Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD), 2019.