Anda di halaman 1dari 21

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Salah satu yang harus dianjurkan pada remaja adalah mengonsumsi susu

sebagai minuman utama, karena susu merupakan sumber utama kalsium yang

diperlukan untuk kesehatan tulang. Penelitian –penelitian telah membuktikan

bahwa peningkatan konsumsi susu pada saat remaja memberikan pengaruh yang

menguntungkan pada tulang dan sebaliknya konsumsi susu rendah dapat

meningkatkan resiko osteoporosis pada saat usia lanjut.

Kualitas atau mutu susu merupakan bagian penting dalam produksi dan

perdagangan susu. Derajat mutu susu hanya dapat dipertahankan selama waktu

tertentu, yang selanjutnya akan mengalami penurunan dan berakhir dengan

kerusakan susu. Untuk mengukur derajat mutu susu dapat dilakukan dengan uji

kebersihan atau uji penyaringan, uji alkohol, uji iodine, uji pH dan berat jenis

susu. Uji tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memeriksa keadaan dan kualitas

susu yang aman dan layak untuk dikonsumsi.

Menggunakan metode-metode pengukuran mutu susu maka dapat

ditentukan kelayakan produk susu. Laporan uji kualitas susu menampilkan

metoda-metoda pengujian kualitas susu terhadap kelayakan untuk dikonsumsi

atau tidak. Pemalsuan pada susu yang sangat mudah dijumpai adalah dengan

menambahkan susu dengan air. Hal ini akan menambah volume dari susu tersebut

dan susu akan dihargai dengan sedikit lebih mahal. Hal inilah yang

melatarbelakangi dilakukannya praktikum Dasar Teknologi Hasil Ternak

mengenai percobaan Susu.


Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dilakukannnya Praktikum Dasar Teknologi Hasil Ternak mengenai

percobaan Susu yaitu untuk mengetahui alat-alat yang digunakan dalam proses

pengujian kualitas susu segar, dan untuk mengetahui teknik-teknik yang tepat

untuk pengujian kualitas susu segar serta beberapa ciri-ciri dari susu segar yang

telah mengalami pemalsuan.

Kegunaan dilakukannya Praktikum Dasar Teknologi Hasil Ternak

mengenai percobaan Susu yaitu agar praktikan dapat mengetahui alat-alat yang

digunakan dalam proses pengujian kualitas susu segar, dan untuk mengetahui

teknik-teknik yang tepat untuk pengujian kualitas susu segar serta beberapa ciri-

ciri dari susu segar yang telah mengalami pemalsuan.


TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Umum Susu

Susu dapat didefinisikan sebagai hasil sekresi normal kelenjar mamari atau

ambing mamalia, atau cairan yang diperoleh dari pemerahan ambing sapi sehat,

tanpa dikurangi atau ditambahkan sesuatu. Susu dapat pula didefinisakan dari

aspek kimia, yaitu suatu emulsi lemak di dalam larutan air dari gula dan garam-

garam mineral dengan protein dalam keadaan koloid. Bagian utama susu adalah

air, lemak, protein, gula, dan abu. susu merupakan sumber kalsium, fosfor,

vitamin B, dan protein yang sangat baik. Mutu protein susu setara dengan protein

daging dan telur. Protein susu sangat kaya akan lisin, yaitu salah satu asam amino

esensial yang sangat dibutuhkan tubuh (Lukman 2006).

Susu dan produk susu sudah dinilai sebagai bahan makanan yang bergizi

tinggi. Sumber susu untuk manusia dapat berasal dari sapi dan kambing. Hewan

lain yang dapat dipergunakan sebagai sumber susu, antara lain adalah kerbau,

domba, unta dan kuda. Pada umumnya susu dari berbagai spesies hewan

mengandung komponen yang sama, tetapi komposisi dan sifatnya agak bervariasi.

Sebagian besar susu dan produk susu disuplai atau berasal dari susu sapi. Istilah

“susu” selalu dianggap sebagai susu sapi dan susu yang berasal dari spesies lain

selalu disebut secara spesifik (Muhammad 2007).

Menurut Lukman (2006), susu segar adalah susu murni, tidak mengalami

pemanasan dan tidak ada penambahan bahan pengawet. Susu sapi segar

mengandung air (87,25%), laktosa (4,8%), lemak (3,8%), kasein (2,8%), albumin

(0,7%), dan garam-garaman (0,65%). Susu juga merupakan sumber kalsium,

riboflavin, dan vitamin A, sementara itu susu yang sudah difortifikasi (diperkaya)
juga banyak mengandung vitamin D. Sehingga para ahli sangat

merekomendasikan, bahwa susu dapat digunakan sebagai makanan pengganti ASI

bagi anak-anak. Selain itu perlu kita tahu bahwa susu juga mengandung vitamin,

sitrat, dan enzim. Susu sapi yang baik memiliki warna putih kekuningan dan tidak

tembus cahaya. Warna susu dipengaruhi oleh jenis sapi, jenis pakan, jumlah

lemak susu, dan persentase zat padat di dalamnya. Pemeriksaan fisik ditekankan

pada BJ dan angka refraksi pada susu. Pengujian secara kimia ditekankan untuk

pengujian lemak dan bahan padat bukan lemak. Sedangkan pengujian secara

biologi harus difokuskan untuk penghitungan jumlah bakteri susu dan

karakterisasi aktifitas biokimianya.

Susu juga merupakan sumber protein terbaik setelah telur. Meskipun

demikian, tidak selamanya dan tidak semua orang harus minum susu. Hal ini

disebabkan karena adanya orang yang mengonsumsi susu akan menimbulkan

permasalahan bagi tubuhnya. Oleh karena itu, ada baiknya kita mengonsumsi susu

dalam bentuk lain, seperti keju, karamel, dodol, dan es krim. Di samping itu, para

pemakai susu yang berasal dari biji-bijian, seperti susu kedelai, tidak diharuskan

mengonsumsi susu hewan ternak (Moeljanto, 2002).

Pengujian Kualitas Susu

Warna susu yang normal adalah putih sedikit kekuningan. Warna susu

dapat bervariasi dari putih kekuningan hingga putih sedikt kebiruan. Warna putih

sedikit kebiruan dapat tampak pada susu yang memiliki kadar lemak rendah atau

pada susu skim. Warna putih dari susu diakibatkan oleh dispersi yang

merefleksikan sinar dari globula-globula lemak serta partikel-pertikel koloid

senyawa kasein dan kalsium posfat. Warna kekuningan disebabkan karena adanya
pigmen karoten yang terlarut di dalam lemak susu. Karoten mempunyai

keterkaitan dengan pigmen santofil yang banyak ditemuan di dalam tanam-

tanaman hijau. Bila karoten dan santofil dikonsumsi oleh sapi perah, maka akan

ikut dalam aliran darah dan sebagian terlarut/bersatu dalam lemak susu

(Muhamad, 2007).

Susu segar memiliki rasa sedikit manis dan bau (aroma) khas. Rasa manis

disebabkan adanya gula laktosa didalam susu, meskipun sering dirasakan ada

sedikit rasa asin yang disebabkan oleh klorida. Bau khas susu disebabkan oleh

beberapa senyawa yang mempunyai aroma spesifik dan sebagian bersifat volatil.

Oleh sebab itu, beberapa jam setelah pemerahan atau setelah penyimpanan, aroma

khas susu banyak berkurang (Muhamad, 2007).

Penggumpalan merupakan sifat susu yang paling khas. Penggumpalan

dapat disebabkan oleh kegiatan enzim atau penambahan asam. Enzim Proteolitik

yang dihasilkan oleh bakteri dapat menyebabkan penggumpalan air susu. Kerja

enzim ini biasanya terjadi dalam tiga tahap yaitu penyerapan enzim ke dalam

partikel-partikel kasein, diikuti dengan perubahan keadaan partikel kasein itu

sebagai akibat kerja enzim dan terakhir mengendapnya kasein yang telah berubah

itu sebagai garam kalsium atau garam kompleks. Adanya ion-ion kalsium dalam

air susu diperlukan untuk proses pengendapan. Jika terjadi penyimpangan maka

susu dapat berubah cair bahkan dapat terlalu kental hal ini disebabkan karena

faktor pemerahan dan faktor ternak tersebut (Buckle dkk., 1987)

Uji kotoran susu tampak bersih dan putih, tidak ada kotoran serta benda-

benda asing yang terlihat dalam susu. Hal ini menunjukkan dalam penanganannya

susu tersebut bebas dari kontaminasi debu kotoran, alat/perkakas dalam keadaan
steril dan pekerja yang higienis. Kotoran yang tersangkut pada saringan dapat

berupa bulu sapi rumput sisa makanan, bagian tinja (Malaka, 2010).

Semakin banyak konsentrat yang diberikan maka berat jenis susu semakin

meningkat (P<0,05). Berat jenis dipengaruhi oleh kandungan yang terlarut

didalam susu dimana semakin banyak senyawa yang terdapat dalam susu maka

berat jenis susu akan meningkat. Konsentrat merupakan bahan pakan yang

memiliki kandungan nutrisi yang lengkap, sehingga akan mempengaruhi besarnya

kandungan bahan padat bukan lemak didalam susu. Bahan padat bukan lemak

terdiri dari protein, laktosa dan mineral (Utami, 2014).Berat jenis susu normal

antara 1,027 – 1,034 pada suhu 20oC. Kenaikan Bj ini terutama terjadi karena

pembebasan gas CO2 dan N2 yang terdapat dalam susu segar sebanyak 4-5%. pH

susu sekitar 6,5-6,7 (sedikit asam) (Badan Standarisasi Nasional, 2010).

Uji iodine digunakan untuk mendeteksi adanya pati (suatu polisakarida).

Pada percobaan masing – masing larutan sampel ditambahkan dengan 2 tetes

iodin, Iodin yang ditambahkan berfungsi sebagai indikator suatu senyawa

polisakarida. Uji Iodin dalam percobaan dilakukan dengan 3 kondisi yaitu

kondisi, netral,asam dan basa,yaitu pada masing-masing tabung ditambahkan 2

tetes air pada tabung I ( netral ), 2 tetes HCl pada tabung II ( asam ) dan 2 tetes

NaOH pada tabung III ( basa ). Bila terjadi perubahan menjadi biru berarti susu

tersebut mengandung amilum (Abustam dkk., 2015).

Uji Alkohol merupakan kestabilan sifat koloidal protein susu tergantung

pada selubung atau mantel air yang menyelimuti butir-butir protein terutama

kasein. Apabila susu dicampur dengan alkohol yang memiliki daya dehidratasi,

maka protein akan berkoagulasi. Semakin tinggi derajat keasaman susu, semakin
berkurang jumlah alkohol dengan kepekatan yang sama dibutuhkan untuk

memecahkan susu yang sama banyaknya. Uji alkohol positif ditandai dengan

adanya butiran susu yang melekat pada dinding tabung reaksi, sedangkan uji

alkohol negatif ditandai dengan tidak adanya butiran susu yang melekat pada

dinding tabung reaksi (Dwitania, 2013).Hasil uji alkohol yang negatif ditandai

dengan tidak adanya gumpalan susu yang melekat pada dinding tabung reaksi

(Samsul,2011).

pH susu segar berada di antara pH 6,6 - 6,7 dan bila terjadi cukup banyak

pengasaman oleh aktivitas bakteri, angka-angka ini akan menurun secara nyata.

Bila pH susu naik di atas 6,6 – 6,8 biasanya hal itu dianggap sebagai tanda adanya

mastis pada sapi, karena penyakit ini menyebabkan perubahan keseimbangan

mineral dalam susu (Amalia, 2012).Hasil uji tingkat keasaman (pH) susu yang

diperiksa seluruhnya memiliki pH 7. Semua tingkat keasaman (pH) susu sapi

kemasan adalah tujuh. Berdasarkan SNI 01-3141-1998, rataan pH susu adalah

sekitar 6-7. Ini juga menggambarkan bahwa rataan pH susu cenderung normal.

Dalam skala pH 1 sampai 14, asam mempunyai skala yang lebih rendah antara 0

sampai 7 sedangkan basa mempunyai skala yang lebih tinggi antara 7 sampai 14,

maka dari itu pH 7 dianggap netral. Normalnya pH pada susu dapat disebabkan

karena adanya kasein, buffer, fosfat, dan sitrat. Selain itu, kenaikan dan penurunan

pH ditimbulkan dari hasil konversi laktosa menjadi asam laktat oleh

mikroorganisme aktivitas enzimatik (Manik, 2006).


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Susu

Menurut selly (2010) ada beberapa faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi kualitas susu yaitu :

Bangsa Sapi

Setiap bangsa sapi mempunyai sifat yang berbeda-beda dalam

menghasilkan susu, kadar lemak dan warna susu. Jumlah susu yang dihasilkan

bangsa sapi Fries Holland (FH) tertinggi jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa

sapi perah lainnya, baik di daerah beriklim sedang maupun di daerah tropis.

Lama Bunting

Sapi yang telah dikawinkan dan bunting akan menghasilkan susu lebih

sedikit daripada sapi yang tidak bunting. Lama bunting sapi perah adalah

sembilan bulan. Produksi susu akan semakin menurun terutama saat sapi bunting

tujuh bulan sampai beranak. Dengan demikian, kebuntingan mempunyai pengaruh

yang tidak langsung terhadap produksi susu.

Masa Laktasi

Masa laktasi adalah masa sapi sedang menghasilkan susu yakni selama 10

bulan antara saat beranak dan masa kering. Produksi susu per hari mulai menurun

setelah laktasi dua bulan.

Besar Sapi

Sapi-sapi yang memiliki badan yang besar akan menghasilkan susu yang

lebih banyak daripada sapi-sapi yang berbadan kecil meskipun bangsa dan

umurnya sama. Hal ini disebabkan sapi yang bedannya besar akan makan lebih

banyak sehingga menghasilkan susu yang lebih banyak.


Birahi

Saat sapi mengalami birahi akan terjadi perubahan-perubahan faali yang

mempengaruhi volume dan kualitas susu yang dihasilkan. Sapi akan menunjukkan

gejala gelisah dan mudah terkejut sehingga tidak mau makan dan produksi susu

menurun.

Umur Sapi

Sapi-sapi yang beranak pada umur yang lebih tua yaitu dua tahun, akan

menghasilkan susu yang lebih banyak dari pada sapi-sapi yang beranak pada umur

muda. Produksi susu akan terus meningkat dengan bertambahnya umur sapi

hingga umur enam tahun. Setelah umur enam tahun produksi susu akan menurun

sedikit demi sedikit, sampai sapi berumur 11 tahun. Hal ini disebabkan kondisi

tubuh yang telah menurun dan ketuaan.

Selang Beranak

Selang beranak yang optimal adalah satu tahun. Jika selang beranak

diperpendek akan menurunkan produksi susu sebesar 3,5 hingga sembilan persen

pada laktasi yang sedang berjalan.

Masa Kering

Produksi susu pada laktasi kedua dan berikutnya dipengaruhi oleh

lamanya masa kering sebelumnya. Setiap sapi betina, produksi susu akan naik

dengan bertambahnya masa kering sampai tujuh hingga delapan minggu.

Frekuensi Pemerahan

Umumnya sapi diperah dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Pemerahan

yang dilakukan lebih dari dua kali sehari biasanya dilakukan terhadap sapi-sapi

yang berproduksi tinggi. Untuk sapi yang berproduksi 20 liter susu per hari dapat
diperah tiga kali sehari, sedangkan sapi yang berproduksi 25 liter susu atau lebih

dapat diperah empat kali sehari. Peningkatan produksi susu akibat adanya

pengaruh hormon prolaktin yang lebih banyak dihasilkan pada sapi yang diperah

empat kali.

Pemberian Pakan

Variasi dalam produksi susu pada beberapa peternakan sapi perah

disebabkan perbedaan dalam tata laksana pemberian pakan. Pakan yang terlalu

banyak konsentrat akan menyebabkan kadar lemak yang terkandung dalam susu

rendah, sedangkan pakan yang terlalu banyak berupa hijauan menyebabkan kadar

lemak susu tinggi karena lemak susu tergantung dari kandungan serat kasar yang

terdapat dalam pakan.


METODOLOGI PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum Dasar Teknologi Hasil Ternak mengenai percobaan Susu

dilakukan pada hari Sabtu, 14 September 2019 pukul 14.00 WITA sampai selesai.

Di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas

Hasanuddin, Makassar.

Materi Praktikum

Alat yang digunakan pada praktikum Dasar Teknologi Hasil Ternak

mengenai percobaan Susu yaitu gelas kimia, cawan petri, pipet tetes, tissue, gelas

ukur, laktodensimeter, pH meter.

Bahan yang digunakan pada praktikum Dasar Teknologi Hasil Ternak

mengenai percobaan Susu yaitu, susu, santan, aquadest, larutan iodine 0,1 N, air

tajin, dan alkohol 70%.

Prosedur Kerja

Uji Warna, Bau, Rasa, dan Konsistensi

Pertama-tama manyiapkan susu segar dengan campuran santan, air tajin

dan air biasa dengan perbandingan 1:1 dalam cawan petri diisi dengan susu murni,

kemudian mengamati perbedaan diantara sampel tersebut kemudian mencatat

hasilnya.

Uji Kotoran

Pertama-tama menyiapkan corong gelas dan diatasnya diberi dengan tissue

halus, kemudian menuang air susu kedalam corong tersebut dan memperhatikan

penampakan kotoran dari susu yang melekat pada tissue tersebut.


Uji pH

Pertama-tama menyiapkan pH meter untuk menentukan pH susu,

kemudian membersihkan bagian elektroda dengan air suling dan dikalibrasi

dengan larutan buffer, lalu memasukkan ujung elektroda pH meter pada air susu

dan mencatat hasilnya.

Uji Alkohol

Pertama-tama menyiapkan cawan petri yang sudah terisi susu murni,

kemudian ditetesi dengan alkohol 70%, lalu perhatikan apakah ternetuk

gelembung udara atau tidak dan juga apakah terbentuk Kristal-kristal panjang atau

pendek maupun bersambungan dan mencatat hasilnya.

Uji BJ

Pertama-tama menyiapkan laktodensimeter lalu mencelupkannya kedalam

gelas kimia yang telah berisi air susu kemudian mencatat hasilnya.

Uji Iodine

Pertama-tama menyiapkan cawan petri yang telah berisi air susu,

kemudian menambahkan 5 tetes larutan iodine 0,1 N dan mengocoknya.

Mendiamkan sebentar lalu mengamati perubahan warna yang terjadi dan mencatat

hasilnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Uji Kualitas Susu


Pengujian Tabung P Tabung Q Tabung R Tabung S
Warna Putih Putih
Kekuningan Putih Putih Kekuningan
Bau Basi Spesifik Spesifik spesifik
Rasa Sedikit Manis Normal Gurih manis Sedikit manis
Konsistensi Encer Encer Normal Pekat

Uji Kotoran Bersih sedang Bersih Sekali Bersih sekali Bersih sedang

Uji pH 6,82 6,86 6,86 6,78


Uji Alkohol - - - +
Uji BJ 1,01354 1,0136 1,019 1,01224
Uji Iodine + - - -
Keterangan Susu air tajih Susu air Susu murni Susu santan
Sumber : Data hasil praktikum Dasar Teknologi Hasil Ternak, 2019

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan mengenai susu pada

pengujian warna, pada tabung P, Q, R, dan S berwarna putih kekuningan. Hal ini

tidak sesuai dengan pendapat Diastari (2013) yang menyatakan warna air susu

disebabkan karena warna kasein. Warna kasein yang murni berwarna putih seperti

salju. Di dalam susu, kasein ini merupakan disfersi koloid sehingga tidak tembus

cahaya yang mengakibatkan air susu tersebut berwarna putih. Kadang-kadang

susu berwarna agak kekuning-kuninganyang disebabkan oleh karoten.

Pada pengujian bau tabung Q, R, dan S didapatkan hasil susu berbau spesif

yaitu bau khas susu sedangkan tabung P agak berbau susu. Hal ini sesuai dengan

pendapat dalam Diastari (2013) menyatakan Susu murni mempunyai rasa sedikit

manis ini disebabkan oleh laktosa dan kadar Cl yang rendah. Jika terjadi

penyimpangan terhadap bau susu maka dapat terjadi perubahan seperti : bau
asam, tengik dan busuk serta rasa susu akan berubah seperti : rasa tengik

disebabkan oleh kuman asam mentega, rasa sabun disebabkan oleh Bacillus

lactic saponacei, rasa lobak disebabkan oleh kuman coli.

Pada konsistensi tabung R menunjukkan bahwa susu tersebut normal

Sedangkan pada tabung P, Q dan S menghasilkan konsistensi yang kurang baik

karena ada campuran lain. Hal ini sesuai Diastari (2013) yang menyatakan bahwa

dengan pendapat semua konsistensi (kekentalan) susu sapi kemasan adalah encer.

Pada uji kotoran susu pada semua tabung diperoleh hasil yaitu bersih dan

baik untuk di konsumsi. Uji pH pada tabung P dapat diperoleh hasil bahwa nilai

pH yaitu 6,82. Pada uji kotoran tabung Q diperoleh hasil bahwa nilai pH yaitu

6,86. Pada tabung R diperoleh pH 6,86 dan pH yang didapatkan untuk tabung S

yaitu 6,78. Hal ini menunjukkan bahwa nilai pH pada susu tersebut baik. Hal ini

sesuai dengan pendapat Diastari (2013)yang menyatakan bahwa semua tingkat

keasaman (pH) susu sapi kemasan adalah tujuh.

Uji alkohol pada tabung P, Q dan R diperoleh hasil bahwa pada uji alkohol

menunjukkan hasil yang negative (-) dimana pada saat susu ditambahkan dengan

alkohol tidak ada Kristal dan tidak ada gelembung yang muncul. Pada uji alkohol

tabung S diperoleh hasil yang sama bahwa pada uji alkohol menunjukkan hasil

yang positif (+). Hal ini sesuai dengan pendapat Dwitania (2013) yang

menyatakan bahwa uji alkohol positif ditandai dengan adanya butiran susu yang

melekat pada dinding tabung reaksi yang menyatakan bahwa susu telah

dicampurkan dengan air santan, sedangkan uji alkohol negatif ditandai dengan

tidak adanya butiran susu yang melekat pada dinding tabung reaksi.
Berat jenis pada tabung P diperoleh hasil bahwa nilai berat jenis pada susu

tersebut yaitu 1,01354. Pada berat jenis pada tabung Q diperoleh hasil bahwa nilai

berat jenis pada susu tersebut yaitu 1,0136. Pada tabung R diperoleh berat jenis

sebesar 1,019 dan untuk tabung S diperoleh nilai berat jenis sebesar 1,01224. Hal

ini menunjukkan bahwa berat jenis pada susu ini lebih rendah dari standar karena

nilai berat jenis standar. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwitani (2013) yang

menyatakan bahwa tiap-tiap susu yang Bjnya rendah harus diawasi misalnya lebih

rendah dari 1,0280, biasanya dipalsukan dengan penambahan air.

Uji iodine pada tabung Q, R dan S diperoleh hasil, bahwa uji iodine

menunjukkan hasil yang negative (-) yang menunjukkan tidak adanya perubahan

warna biru pada saat susu dicampur dengan iodine. Pada uji iodine pada tabung P

diperoleh hasil bahwa uji iodine menunjukkan hasil yang positif (+). Menurut

pendapat (Manata, 2012) terbentuknya warna biru pada uji iodin maka terbentuk

kompleks pati denganiodin yang menendakan adanya kandungan karbohidrat.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan maka dapat disimpulkan

bahwa susu adalah hasil sekresi normal kelenjar mamari atau ambing mamalia,

atau cairan yang diperoleh dari pemerahan ambing sapi sehat. Ada beberapa

pengujian untuk mengetahui adanya pemalsuan susu yaitu pengujian warna, bau,

konsistensi, uji kotoran, uji pH, uji alkohol, uji berat jenis, dan uji iodine. Ciri

susu yang baik adalah warnanya putih, rasanya gurih manis, bau spesifik, uji

kotoran bersih, ph susu yang baik berkisar 6-7.

Saran

Untuk peningkatan kualitas susu sebaiknya perbaiki kualitas susu

utamanya pakan dan kebersihannya. Serta pada saat praktikum sebaiknya menjaga

kebersihan lingkungan dikarenakan susu cepat terkontaminasi dengan bakteri.


DAFTAR PUSTAKA

Abustam, E., Rahmawati M., Hikmah M.A., dan Muh. I. S. 2015. Penuntun
Praktikum Dasar Teknologi Haasil Ternak, Fakultas Peternakan
Universitas Hasanuddin, Makassar.

Amalia. 2012. Kimia dan Teknologi Pengolahan Susu. Andi Offset. Yogyakarta.

Badan Standardisasi Nasional. 1997. Standar nasional Indonesia susu segar.


Bagian 1-Sapi SNI-3141.1-2011.. Badan Standardisasi Nasional.
Jakarta. www.bsn.go.id. Diunduh pada tanggal 6 November 2015

Buckle, K.A., R. A. Edwards, G.H. Fleet and M. Wootton., 1987. Ilmu Pangan.
Penerbit Univrsitas Indoneesia. Jakarta.

Dirkeswan. 1975. Manual Kesmavet. No. 28/II/1983. Direktorat Kesehatan


Hewan, Direktorat Jendral Peternakan, Departemen Pertanian. Jakarta.
Hal; 35-43.

Dwidjoseputro. 1994. Evaluasi kualitas susu pemerahan pagi dan sore hari. di
Daerah Pengalengan dan Lembang. Bull. LPP. 25 : 24.

Dwitania, C., dan Swacita, Bagus. 2013. Uji didih, alkohol, dan derajat asam susu
sapi kemasan yang dijual di pasar tradisional Denpasar. Indonesia
Medicus Veterinus. Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas
Udayana. 2(4) : 437-444.

Hadiwiyoto, S., 1994. Pengujian Mutu Susu dan Hasil Olahannya. Penerbit
Liberty. Yogyakarta.

Malaka, R. 2010.Pengantar Teknologi Susu. Masagena Press. Makassar.

Manik, E. 2006. Olahan Susu. Jakarta : Pusat Unit Pangan dan Gizi. IPB. Bogor.
Muhamad. 2002. Susu dan Hasil Pengolahanya. Bagian Teknologi Hasil Ternak.
Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan. Universiyas Udayana.
Denpasar.

Moeljanto. R.D. 2002. Khasiat dan Manfaat Susu Kambing: Susu Terbaik dari
Hewan Ruminansia. AgroMedia.

Nurwanto. 2003. Bahan Ajar Dasar teknologi Hasil Ternak. Fakultas Peternakan,
Universitas Diponegoro. Semarang.

Saleh, E. 2004. Dasar Pengolahan Susu dan Hasil Ikutan Ternak. Program Studi
Produksi Ternak. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Selly. 2010. Pemeliharaan dan Kegunaan Sapi Perah. Penerbit CV. Aneka
Semarang.

Susu. SNI 01-3141-1992.

Utami. 2014. Prinsip Kimia dan Teknologi Susu, Pusat Antar Universitas Pangan
dan Gizi, Universitas Gadjah Mada.Yogyakarta.

Wahyudi, M. 2006. Proses pembuatan dan analisis mutu youghurt. Buletin Teknik
Pertanian Vol. 11 No. 1.
Lampiran 7. Hasil Perhitungan

Tabung B

skala lacto+FK (Suhu−Suhu Tera Lacto)


BJ = 1,000 + 1000

4
20 + + 0,2 (32−38,8)
10
= 1,000 + 1000

20,4 + 0,2 (−6,8)


= 1,000 + 1000

20,4 + (−1,36)
= 1,000 + 1000

454
= 1,000 + 1000

= 1,00454
LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR TEKNOLOGI HASIL TERNAK

PRAKTIKUM
SUSU

OLEH

NAMA : MUHAMMAD AKRAM


NIM : I011 18 1343
KEL / GEL : XXI(DUA PULUH SATU) / II (DUA)
WAKTU : SABTU, 14 SEPTEMBER 2019
ASISTEN :HUSNAENI
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019

Anda mungkin juga menyukai