Anda di halaman 1dari 16

PRAKTIKUM FISIKA DASAR

LABORATORIUM FISIKA DASAR


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIGON GAYA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Metode poligon adalah salah satu penentuan dari posisi horizontal


banyak titik dimana satu dengan yang lainnya dihubungkan dengan suatu
pengukuran sudut dan jarak sehingga membentuk rangkaian titik-titik
(poligon).
Pada pengukuran kali ini diukur arah dari dua titik atau lebih yang
dibidik dari satu titik kontrol. Dan jarak antara titik pengukuran dilakukan
dengan maksud untuk mendapatkan suatu banyangan dengan menentukan titik-
titik diatas permukaan bumi (alam semesta).
Poligon gaya merupakan metode pengukuran dengan rangkaian segi
banyak dalam menentukan suatu posisi atau titik yang dapat diketahui kecil
besarnya dengan menghitung dari pengukuran arah, sudut, dan jarak. Hasil
pengukuran ini digunakan sebagai kerangka pemetaan.
Untuk pemetaan diperlukan adanya kerangka dasar. Kerangka dasar
adalah sejumlah titik yang diketahui koordinatnya dalam sistem tertentu yang
mempunyai fungsi sebagai pengikat dan pengontrol ukuran baru.
Mengingat fungsinya, titik-titik kerangka dasar harus ditempatkan
menyebar mearata diseluruh daerah yang akan di petakan dengan kerapatan
tertentu. Mengingat pula pengukuran untuk pemetaan memerlukan waktu yang
cukup lama, maka titik-titik kerangka dasar harus ditanam cukup kuat dan
terbuat dari bahan yang tahan lama.
Dalam proses pemetaan terdapat pengukuran suatu kerangka horizontal yaitu
(pengukuran mendatar untuk mendapatkan jarak, sudut, dan koordinator
medatar antara titk-titik yang kita ukur diatas permukaan bumi) dan permukaan
dari kerangka dasar vertikal (pengukuran tegak /vertikal untuk mendapat jarak,
sudut dan koordinat tegak antara titik yg diukur serta pengukuran titik dekat).

HENDRIK B. AHMAD
09220180014
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIGON GAYA

Untuk mencari resultan vector yang bekerja dapat digunakan tiga metode salah
satunya metode poligon.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Instruksi Umum ( TIU )


1. Mahasiswa dapat memahami konsep penyusun gaya
2. Mahasiswa dapat menerapkan konsep metode poligon gaya
pada sistem yang bekerja lebih dari dua gaya
1.2.2 Tujuan Instruksi Khusus ( TIK )
1. Mahasiswa dapat menetuan besarnya sudut dari gaya yang terbentuk
dan menggambarkan
2. Mahasiswa dapat menentukan nilai resultan gaya secara analitis dan
grafis.

HENDRIK B. AHMAD
09220180014
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIGON GAYA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Poligon

2.1.1 Definisi Poligon

Untuk titik refrensi dalam pengukuran poligon ialah TDT (Titik Dasar
Teknik) atau BM (Base Mark) Orde 3,2 ataupun Orde 1 yang telah memiliki
kooordinat TM-3 dan diukur menggunakan GPS Geodetik. Poligon berasal
dari kata Poli yang berarti banyak dan gon yang berarti sudut. Arti
sebenarnya rangkaian titik-titik secara berurutan.
Titik referensi adalah titik yang mempunyai sebuah koordinat yang
dalam penghitungannya mengacu pada sebuah datum dan proyeksi peta, di
Indonesia datum yang di gunakan adalah WGS 84 sedangkan proyeksi peta
menggunakan TM-3, sedangkan koordinat lokal adalah koordinat yang
tidak mengacu pada dua hal tersebut (koordinat sementara), Menentukan
posisi horizontal dengan banyak titik, dimana titik satu dan lainnya
dihubungkan oleh pengukuran sudut dan jarak sehingga membentuk
rangkaian titik. Kalaupun hal itu di terapkan dalam pengukuran poligon
untuk area yang cukup luas tentu saja kelengkungan bumi diabaikan begitu
saja.
2.1.2 Macam-macam poligon

Poligon terbagi menjadi 2 yaitu poligon tertutup dan poligon terbuka


serta terikat sempurna dan poligon terbuka terikat koordinat rangkaian titik
yaitu,
1. Poligon tertutup, adalah poligon yang titik awal dan titik akhirnya
menjadi satu.
2. Poligon terbuka teikat sempurna, pada titik awal dan titik akhirnya
dengan dua titik diawal dan dua titik diakhir poligon.

HENDRIK B. AHMAD
09220180014
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIGON GAYA

2.1.3 Syarat pembuatan titik poligon

1. Dalam menentukan jumlah titik poligon, harus membedakan


2. Pada fungsi poligon
3. Bentuk poligon diusahan tidak terlalu banyak sudut.
4. Jarak dari setiap titik-titik poligon diusahakan mendekati sama
dan tidak terlalu pendek.
5. Diusahakan tidak membentuk sudut lancip.
2.1.4 Syarat penempatan titik Poligon

1. Memudahkan untuk melaksanakan pengukuran.


2. Titik poligon harus dipilih pada daerah yang mudah dibidik.
3. Untuk memudahkan mencari titik poligon, usahakan titik poligon
tersebut terletak dengan objek-objek yang mudah dikenal misalnya,
pohon, tiang listrik dan lain-lain.
2.2 Gaya

2.2.1 Definisi Gaya

Gaya merupakan suatu besaran yang menyebabkan benda bergerak.


Sebagai contoh sebagai kita mendorong sebuah mobil yang mogok, pada
olahraga bulutangkis sebuah gaya yang diberikan atlet pada bola tersebut
sehingga menyebabkan perubahan pada benda yaitu perubahan bentuk, sifat
gerak suatu benda, kecepatan suatu benda dan arah gerak suatu benda.
Disisi lain gaya tidak selalu menyebabkan adanya gerak sebagai contoh,
jika kita mendorong tembok dengan sekuat tenaga, tetapi gembok tidak
dapat bergerak sehingga gaya dapat memiliki suatu nilai dan arah.
2.2.2 Macam-macam gaya

1. Gaya pegas
Gaya pegas adalah gaya yang terjadi akibat tarikan atau dorongan
terhadap benda yang elsatis.

HENDRIK B. AHMAD
09220180014
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIGON GAYA

2. Gaya listrik
Gaya listrik adalah gaya yang ditimbulkan karena adanya aliran
listrik.

3. Gaya gravitasi

Gaya grafitasi adalah gaya yang disebabkan oleh gaya tarik bumi.
Jika kita melempar benda keatas maka kecepatan jatuh benda tersebut
akan lebih cepat jika mendekati bumi karena pengaruh gaya grafitasi
bumi.

4. Gaya magnet

Gaya magnet adalah gaya yang ditimbulkan karena adanya tarikan


magnet terhadap benda-benda yang terbuat dari logam.

5. Gaya gesek

Gaya gesek adalah gaya yang terjadi akibat dua permukaan benda
yang saling bergesekan. Semakin halus permukaan, semakin kecil gaya
geseknya dan sebaliknya semakin kasar permukaan, gaya geseknya
semakin besar.

2.3 Hukum Newton

2.3.1.Hukum 1 Newton

Galileo menyimpulkan bahwa jika tidak ada gaya yang diberikan


kepada benda yang bergerak, benda itu akan terus bergerak dengan laju
kostan pada lintasan yang lurus. Sebuah benda melambat hanya jika ada
gaya yang diberikan kepadanya. Maka dengan demikian Galileo
menganggap gesekan sebagai gaya yang sama dengan dorongan atau tarikan
biasa. Berdasarkan kesimpulan Galileo Isaac Newton (1642) membangun
teori gerakan yang terkenal. Sehingga menurut Hukum 1 Newton berbunyi
“Jika pada resultan gaya pada suatu benda sama dengan nol, maka benda

HENDRIK B. AHMAD
09220180014
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIGON GAYA

mula-mula akan diam, sedangkan benda yang mula-mula akan diam,


Ʃ
sedangkan benda yang mula-mula begerak akan terus bergerak dengan
kecepatan yang tetap”. Secara matematis Hukum 1 Newton itu dapat
digunakan sebagai berikut :
………….......................................................................(1.2.1)
ƩF = 0

Hukum I Newton digunakan untuk benda diam dan benda bergerak


lurus.Hukum I Newton juga menggambarkan bahwa benda akan
mempertahankan keadaan diam atau keadaan begeraknya.Sifat benda yang
cenderung mempertahankan keadaan suatu geraknya. (Fieska Cahyani,2013)
2.3.2 Hukum II Newton

Hukum II Newton berbunyi “Percepatan suatu benda yang dihasilkan


oleh resultan gaya yang bekerja pada suatu benda berbanding lurus dengan
resultan gaya dan berbanding terbalik dengan masa benda”. secara
matematis Hukum II Newton dinyatakan sebagai berikut:
∑F
𝑎= .…..........................................................................(1.2.2)
m

Keterangan:
∑ 𝐹 = 𝑅𝑒𝑠𝑢𝑙𝑡𝑎𝑛 𝑔𝑎𝑦𝑎 (𝑚)
m = Massa benda (kg)
a = percepatan benda (m/s2)
Jika benda yang mengalami perubahan keadaan yang bergerak
denganarah yang berputar percepatan dari benda adalah bergerak percepatan
cm/m2 dan satuan gaya dyne yaitu :
1 dyne = 1gram 1cm/s3
1 kgm/s2 = 1000 gr 100m/s2
1 Newton = 10-5 dyne
Apabila suatu benda bekerja atau dikerjakan saat benda bersamaa pada
sebuah titik maka terjadi bahwa akibat yang sama senantiasa ditimbulkan
oleh gaya tunggal yang mempunyai besar dan arah yang tetap. Apabila yang
sendiri sendiri itu dikatakan kita akan mencari gaya tunggal yang biasa

HENDRIK B. AHMAD
09220180014
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIGON GAYA

disebut resultan gaya dan proses ini disebut suatu peyusunan gaya dan
merupakan kebalikan dari uraian-uraian yang menjadi suatu komponennya.
Jika lebih dari dua gaya yang bekerja pada suatu titik maka untuk
menyelesaikan komponen gaya menggunakan metode polygon gaya. Jika
harus digabungkan dengan gaya yang lain begitu pula selanjutnya.
Penggabungan dengan cara yang sama akan menghasilkan komponen
dan kemudian gaya digabungkan untuk memperoleh resultan R dengan
gabungan beberapa gaya dapat juga dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:

R=f1+f2+f3+f4 ...................................................................(1.2.3)

Jika gaya tersebut disusun pada koordinat dengan secara komponen dan
x, -y maka

R= √((𝑅𝑥)2 − (𝑅𝑦)2 .........................................................(1.2.4)

Dan hubungan antara kedua komponen resultan gaya tersebut dapat


memberikan nilai sudut dari resultan yaitu:
F=Ry-Rx
............................................................................................(1.2.5)

Tidak cukup dinyatakan oleh besaran dan arah saja akan tetap pengaruh
gaya akan bersambung pada titik tangkap gaya tersebut misalkan seseorang
yang mendorong pintu kedalam mendatar ari keaktifan gaya menggerakan
pintu didalam bergabung menjadi jarak antara titik tangkapnya dan engsel-
engsel tempat itu. Beberapa besaran fisika cukup langkah bila dinyatakan
oleh suatu bilangan dan satuan, misalnya suhu, waktu masa dan gaya.

2.3.3 Hukum III Newton

Hukum III Newton berbunyi “jika benda Amengerjakan gaya pada benda
B, maka benda B akan mengerjakan gaya pada benda A yang dimana
besarnya sama tetapi berlawanan arah”.
Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

HENDRIK B. AHMAD
09220180014
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIGON GAYA

∑ 𝑓𝑎𝑘𝑠𝑖 = − ∑ 𝑓𝑟𝑒𝑎𝑘𝑠𝑖 …......................................................(1.2.6)


Dari bunyi hukum newton ke 3 ini dimana setiap aksi akan menimbulkan
aksi atau setiap sebab akan menimbulkan akibat. Dimana, setiap gaya sebab
yang diberikan akan menghasilkan besarnya gaya akibat yang
dihasilkan. Pada contoh penerapan hukum newton ke 3 ini bekerja pada setiap
benda yang diberikan gaya aksi akan menghasilkan gaya reaksi. Namun, gaya
aksi reaksi tersebut saling berlawanan arah dan bekerja pada benda yang
berbeda.
Sebagai contoh hukum newton 3, ketika anda memukul paku dengan
paku. Dimana, palu adalah gaya aksi dengan gaya dari paku adalah gaya
reaksi dari palu tersebut. Saat anda memukul paku dengan palu, begitu palu
menyentuh paku, palu berhenti sesaat atau bahkan memantul. Gaya berhenti
sesaat atau bahkan memantul tersebut merupakan gaya reaksi yang dihasilkan
oleh aksi palu tersebut.
Sebuah benda dengan berat (W) yang berada diatas meja. Meja akan
memberikan reaksi gaya normal (N), sehingga N=W dengan arah gaya saling
berlawanan. Menggantung benda secara vertical akan menghasilkan gaya
tegang tali (T) yang sama besarnya dengan massa benda (W) dengan arah
yang berlawan. Ketika seorang dengan berat (W) menaiki lift. Saat dalam
keadaan diam gaya yang dihasilkan sama dengan berat orang tersebut (F=W).
Saat lift bergerak naik maka, gaya yang dihasilkan lebih besar.

2.4 Besaran Vektor


2.4.1 Definisi Vektor

Vektor adalah jenis besaran yang mempunyai nilai dan arah. Besaran
yang termasuk besaran vektor adalah perpindahan, gaya, kecepatan, dan
percepatan sebuah vektor digambarkan sebagai sebuah ruas garis berarah yang
mempunyai titik pangkal sebagai tempat permulaan vektor dan arah-arah
panah menunjukkan arah vektor itu bekerja garis yang melalui vektor tersebut
dinamakan garis kerja.

HENDRIK B. AHMAD
09220180014
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIGON GAYA

2.4.2 Penjumlahan vektor


Operasi matematika pada besaran vektor ternyuata berbeda dengan
operasi matematika pada besaran skala. Dua buah vektor atau lebih dapat
dijumlahkan menjadi sebuah vektor. Dalam menjumlahkan suatu vektor
tersebut dapat dilakukan dengan cara jajar genjang atau dengan cara poligon
gaya.
2.4.3 Pengurangan vektor

Pengurangan sebuah vektor sama dengan cara penjumlahan vektor tetapi


dengan lawan vektor itu.Untuk dapat mengurangkan F2 dan F1 maka bentuk F2
- F1 dapat diubah menjadi F1 + (-F2).Vektor-F2 menyatakan vektor berlawanan
dengan vektor F1. Sehingga FR diperoleh dengan cara memotong F1 dengan
F2.
2.4.4 Perkalian vektor

Perkalian vektor terbagi menjadi 2 macam yaitu:


1.Perkalian Titik (Dot Product),hasilnya adalah vektor
F1.F2 = ǀF1ǀF2ǀ ………………………………………………(1.2.7)
Keterangan:
cos α
α= sudut apit terkecil kedua vektor
2.Perkalian Silang ( Cross Product ),hasilnya adalah vektor

F1 x F2 = ǀF1……………………………………………………(1.2.8)
ǀ.ǀF2ǀsin α

2.4.5 Resultan dari dua buah vektor

Vektor hasil penjumlahan dari vektor-vektor tersebut disebut juga


resultan vektor. Sebagai contoh dua orang mendorong meja di atas lantai
secara bersama-sama, lebih ringan dibanding mendorong meja secara
sendiri- sendiri hal ini dikarenakan gaya dorong dari kedua orang
menghasilkan gaya dorong resultan yang besarnya sama dengan jumlah
dari gaya dorong dari masing-masing orang dengan arah yang sama. Dari
peristiwa tersebut dapat disimpulkan bahwa jika terdapat dua vektor yang
segaris kerja dengan arah yang sama akan mengahsilkan sebuah vektor

HENDRIK B. AHMAD
09220180014
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIGON GAYA

yang besarnya sama dengan arah dari masing-masing vektor yang


dijumlahkan.
Dari gambaran peristiwa tersebut dapat disimpulkan bahwa jika
terdapat dua vektor segaris kerja dengan arah berlawanan akan
menghasilkan vektor resultan yang besarnya sama dengan hasil
pengurangan dari kedua vektor tersebut dengan arah vektor resultan sama
dengan arah vektor yang nilainya sma atau lebih besar. Secara grafis
dapat di gambarkan sebagai berikut :

FR= F12+F22+2 F1.F


................................................................(1.2.9)
2
cos
Keterangan :

FR = Resultan gaya (N)

F1 = Gaya pada benda 1 (N)

F2= Gaya pada benda 2 (N)

Menyatakan arah vektor FR terhadap vektor

𝐹¹ 𝐹
...........................................................................................(1.2.10)
=
𝑠𝑖𝑛 𝐵 𝑠𝑖𝑛
Keterangan :
F1= Gaya pada benda (N)

FR = Resultan gaya (N)

Menguraikan sebuah vektor. Beberapa buah vektor dapat dijumlahkan


menjadi sebuah vektor dapat diuraikan menjadi beberapa vektor, vektor-
vektor hasil uraian tersebut disebut vektor komponen.

HENDRIK B. AHMAD
09220180014
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIGON GAYA

BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat
1.Peralatan poligon gaya
2.Beban pemberat
3.Busur derajat
4.Kertas grafik
3.1.2 Bahan
1.Kertas grafik

3.2 Prosedur Kerja

1. Pasanglah alat sesuai petunjuk pada asisten


2. Berikan beban pada masing-masing katrol dengan besar sama atau berbeda
sesuai petunjuk asisten
3. Catat besarnya beban masing-masing katrol
4. Tarik simpul tali (titik 0) ke pusat keseimbangan (perpotongan diagonal
pada bidang atau papan grafik) kemudian lepaskan.
5. Ukur kemiringan masing-masing tali (sesuai gambar) dengan menggunakan
busur,catat hasilnya
6. Rubah besarnya beban beberapa kali sesuai petunjuk asisten,ulangi prosedur
beberapa kali.Catat pula hasilnya.

HENDRIK B. AHMAD
09220180014
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIGON GAYA

BAB IV
TUGAS PENDAHULUAN

4.1 Pertanyaan

1. Jelaskan:

a. Poligon
b. Gaya
c. Poligon gaya
2. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis poligon gaya?
3. Sebutkan bunyi hukum Newton I,II dan III beserta contohnya!
4. Tiga buah gaya masing-masing memiliki nilai F1= 12 N,F2 =8,F3= 9
N.Dinama F1 dan F3 bergerak ke kanan sedangkan F2 bergerak ke arah
kiri.Tentukan besar dan arah resultan gaya-gaya tersebut!
5. Dua buah vektor gaya masing-masing 8 N dan 4 N saling mengapit sudut
120°.Tntukan resultan kedua vektor tersebut!
6. Sebutkan benda memiliki massa 4 kg dan dijatuhkan dari atas dengan
percepatan 9 m/s2.Hitunglah resultan gaya yang bekerja pada benda serta
jelaskan secara teoritis kejadiannya?
7. Jelaskan hubungan antara percobaan poligon gaya dengan jurusan anda!

4.2 Jawaban

1. a. Poligon adalah bentuk datar yang terdiri dari garis lurus yang tergabung
dari bentuk rantai tertutup atau sirkuit.
b.Gaya adalah suatu benda atau titik materi dalam keadaan diam akan
berubah kedudukannya menjadi bergerak atau sering di sebut dengan
berpindah tempat. Atau sebaliknya, sebuah benda yang selalu bergerak
akan berubah menjadi benda dalam keadaan diam. “sesuatu” yang
menyebabkan benda atau titik materi diam atau bergerak.
c. Poligon gaya adalah cara mencari resultan dua gaya atau lebih dengan
menggunakan metode grafis atau gambar.

HENDRIK B. AHMAD
09220180014
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIGON GAYA

2. a. Poligon terbuka (secara geometris dan matematis), terdiri atas serangkaian


garis yang berhubungan tetapi tidak kembali ke titik awal atau terikat
pada sebuah titik dengan ketelitian sama atau lebih tinggi ordenya. Titik
pertama tidak sama dengan titik terakhir.

Gambar 1.3.1 Poligon terbuka


b.Poligon tertutup adalah Garis-garis kembali ke titik awal, jadi membentuk
segi banyak. Berakhir di stasiun lain yang mempunyai ketelitian letak
sama atau lebih besar daripada ketelitian letak titik awal. Poligon tertutup
memberikan pengecekan pada sudut-sudut dan jarak tertentu, suatu
pertimbangan yang sangat penting. Titik sudut yang pertama = titik sudut
yang terakhir

Gambar 1.3.2 Poligon tertutup


3. a.Hukum 1 Newton berbunyi “Jika resultan gaya pada suata benda sama
dengan nol maka bneda yang mula-mula diam akan terus diam
sedangkan benda yang mula-mula bergerak akan terus bergerak dengan

HENDRIK B. AHMAD
09220180014
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIGON GAYA

kecepatan tetap”.Contohnya koin yang berada diatas kertas di meja akan


tetap disan ketika kertas ditarik secara cepat.

b.Hukum II Newton berbunyi “Percepatan dari suatu benda akan


sebanding dengan jumlah gaya ( resultan gaya) yang bekerja pada benda
tersebut dan berbanding terbalik dengan massanya”.Contohnya mobil
yang melaju dijalan raya akan mendapatkan percepatan yang sebanding
dengan gaya dan berbanding terbalik dengan massa mobil tersebut.

c.Hukum II Newton berbunyi “Jika suatu benda mengerjakan gaya pada


benda lain maka benda yang di kenai gaya akan mengerjakan gaya yang
besarnya sama dengan gaya yang di terima dari benda pertama tetapi
arahnya berlawanan”.Contohnya adanya gaya gravitasi,peristiwa gaya
magnet dan gaya listrik.

4. Dik: F1 = 12 N
F2 = 8 N
F3 = 9 N
Dit: R=…….?
Penyelesaian:
R= F1 + F2+ F3
R= 12 N - 8 N+9 N
R= 13 N ke kanan

5. Dik: a= 8 N
b=4N
α= 120°
Dit: R=…….?
Penyelesaian:
𝑎 + 𝑏 + 2𝑎𝑏𝑐𝑜𝑠 ѳ
R=√

R=√(82 N) + (42 𝑁) + 2(8 𝑁)(4 𝑁)𝑐𝑜𝑠120°

HENDRIK B. AHMAD
09220180014
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIGON GAYA

1
R =√64 𝑁 + 16 𝑁 + 2(32 𝑁)(− 2)

R = √80 𝑁 − 32 𝑁
R = √48 𝑁
R = √16 𝑁 x √3 𝑁
R = 4√3 N

6.Dik: M= 4 kg
a= 9 𝑚⁄𝑠2
Dit: F =.........?
Penyelesaian:
F= M x a
=4x9
= 36 N

7. Hubungan antara poligon dan teknik kimia yaitu pada bagian


perancangan pabrik karena dalam proses perancangan pabrik ada yang
dinamakan dasar,dasar itulah berbentuk poligon.Poligon tersebut
diandaikan atau dianggap sebagai batas perancangan pabrik.

HENDRIK B. AHMAD
09220180014
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIGON GAYA

DAFTAR PUSTAKA
Halliday, David. dan Resnick Robert. 1992. Fisika Jilid 1 Edisi Ketiga. Jakarta:
Erlangga.
Brinker, Russell C. dan Paul R. Wolf. 1987. Dasar-dasar Pengukuran Tanah. Jakarta:
Erlangga.
Soemono. 1953. Ilmu Gaya. Jakarta: Djambatan.
Lestari,S,E,dkk.2014.Pembuatan Program Perataan Parameter Jaringan Poligon
Dengan Menggunakan Visual Basic For Application (VBA) Microsoft
Excel.Tembalang Semarang: Jurnal Geodesi Undip.
Dr.Sudaryono.2018.Dasar-Dasar Fisika:Konsep,Rumus & Evaluasi
Mandiri.Depok:PT.Raja Grafindo Persada.

HENDRIK B. AHMAD
09220180014