Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Operasi Seksio Sesarea semakin banyak diterima dan diminati masyarakat,
sebagai bukti dua per tiga wanita memilih operasi Seksio Sesarea sebagai pilihan
metode persalinan saat ini dari pada 20 tahun lalu. Hal ini terbukti karena lebih
aman dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia. Penerimaan ini dengan
berbagai alasan seperti semakin meningkatnya pengetahuan tentang antibiotic,
keseimbangan pemberian cairan, transfusi darah, anesthesia, dan tekhnik operasi
yang lebih sempurna.
Proses persalinan atau kelahiran seorang anak biasanya berlangsung secara
tradisional seperti di rumah sendiri melalui pertolongan dukun bayi, tetapi dengan
berkembangnya ilmu dan tekhnologi seperti sekarang ini, persalinan di desa
sekalipun telah ditangani oleh staf kesehatan yaitu seorang Bidan desa. Akhir-
akhir ini telah menjadi trend melakukan persalinan melalui Seksio Sesarea, sebab
dianggap lebih praktis dan tidak lagi menyakitkan. Oleh karena itu banyak dipilih
atau digunakan oleh ibu-ibu hamil baik di kota maupun di desa-desa.
Dengan pertimbangan sosial dan untuk keharmonisan keluarga di masa-
masa yang akan datang, ada kecenderungan yang kuat permintaan persalinan
melalui Seksio Sesarea meningkat, sehingga akhirnya Seksio Sesarea menjadi
metode persalinan yang paling konservatif oleh karena tingkat morbiditas dan
mortalitas yang rendah.
Pada umumnya pasca operasi, timbul suatu masalah yaitu perawatan dan
penyembuhan luka. Perawatan luka dapat dilakukan baik di ruang operasi maupun
di ruang lain seperti di ruang bangsal perawatan atau di rumah sendiri. Perawatan
ini menjadi tugas rutin perawat, oleh karena itu seorang perawat harus memiliki
keterampilan keperawatan luka yang benar dan merangsang pasien termotifasi
menjadi sembuh.
Luka atau Vulnera adalah terjadinya gangguan kontiunitas suatu jaringan,
sehingga terjadi pemisahan yang semula normal (Sumiardi dan Bachsinar, 1995).
Luka karena operasi Sesarea merupakan luka jenis komplikatum, sebab luka yang
melibatkan kulit dan jaringan dibawahnya. Di samping itu merupakan luka jenis

1
terbuka, sebab luka yang ada hubungan antara luka dengan dunia luar dan
merupakan luka sayat atau Vulnus Scissum.
Perawatan luka pasca operasi sesarea bertujuan agar tidak terjadi infeksi,
sehingga seorang perawat atau bidan benar-benar berada pada kondisi steril siap
melakukan perawatan, dengan alur yang meliputi: cuci tangan sebelum dan
sesudah melakukan tindakan, memakai handscoon, menggunakan peralatan steril
untuk pasien dan menerapkan kondisi aseptik.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian dari Sectio Cesarea?
2. Apasaja tujuan perawatan post Operasi Sectio Cesarea?
3. Bagaimana Pedoman perawatan post Operasi?

C. Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan penulisan makalah ini, yaitu:
1. Mengetahui pengertian dari Sectio Cesarea?
2. Mengetahui tujuan perawatan post Operasi Sectio Cesarea?
3. Mengetahui Pedoman perawatan post Operasi?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Seksio Sesarea

2
Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan
membuka dinding perut dan dinding uterus atau membuat sayatan pada dinding
rahim. Pertolongan operasi persalinan merupakan tindakan dengan tujuan untuk
menyelamatkan ibu maupun bayi. Infeksi setelah oprasi persalinan masih tetap
mengancam sehingga perawatan setelah operasi memerlukan perhatian untuk
menurunkan angka kesakitan dan kematian serta agar dapat melewati fase
penyembuhan pasca operasi tanpa komplikasi.
Badan Kesehatan Dunia merekomendasikan bahwa angka persalinan dengan
tindakan sectio caesarea pada ibu hamil tidak boleh lebih dari 1015%. Prosedur
operasi sectio caesarea di Inggris menyebabkan infeksi luka sebesar 5% (The
National Institute for Health and Clinical Excellence, 2008). Infeksi luka operasi
merupakan luka yang disebabkan karena prosedur sectio invasif. Infeksi luka
operasi bisa menyebabkan kecacatan dan kematian (Gould, 2012)
Kejadian infeksi luka operasi di rumah sakit Inggris tahun 2006 sebesar 13,8
luka operasi yang di dapat ibu salah satunya melalui operasi sectio caesarea.
(World Health Organization, 2010).
Seksio sesarea telah menjadi tindakan bedah kebidanan kedua tersering
yang digunakan di Indonesia dan di luar negeri. Operasi ini mengikuti ekstraksi
vakum dengan frenkuensi yang dilaporkan 6 % sampai 15%. Alasan terpenting
untuk perkembangan ini adalah: peningkatan prevalensi primigravida,
peningkatan usia ibu, peningkatan insiden insufisiensi plasenta, perbaikan
pengamatan kesejahteraan fetus, peningkatan keengganan melakukan tindakan
persalinan pervaginam yang sukar.
Proses persalinan operasi caesar umumnya berlangsung sekitar satu jam.
Pada pasien dengan pembiusan total, kesadaran akan berlangsung pulih secara
bertahap seusai penjahitan luka operasi. Sedangkan pada pembiusan regional,
dengan anasthesi epidural atau spinal (memasukkan obat bius melalui suntikan
pada punggung), ibu bersalin akan tetap sadar hingga operasi selesai dan hanya
bagian perut ke bawah akan hilang sensasi rasa sementara.
Sayatan pada dinding uterus dan dinding depan abdomen menimbulkan luka
bekas operasi seksio sesarea. Hal ini menyebabkan terputusnya jaringan dan
kerusakan sel. Luka sembuh karena degenerasi jaringan atau oleh pembentukan

3
granulasi. Sel-sel yang cidera mempunyai kapasitas regenerasi yang akan
berlangsung bila struktur sel yang melatar belakangi tidak rusak. Bila otot cidera,
akan terjadi hipertropi sel - sel marginal atau garis tepi. Pada sistem saraf perifer
tidak terjadi regenerasi bila badan sel rusak, namun bila akson rusak, terjadi
degenerasi akson sebagian dan disusul dengan regenerasi. Pada torehan bedah
yang biasa, jaringan otot ditoreh, sel epitel regenerasi diatas jaringan granulasi.
Menurut statistik tentang 3.509 kasus seksio sesarea, indikasi untuk seksio sesarea
adalah disproporsi janin panggul 21 %, gawat janin 14 %, plasenta previa 11 %,
pernah seksio sesarea 11 %, kelainan letak 10 %, incoordinate uterine action 9%,
pre-eklampsia dan hipertensi 7 %, dengan angka kematian ibu sebelum dikoreksi
17 0/00, dan sesudah dikoreksi 0,58 0/00, sedang kematian janin 14,5 0/00, pada
774 persalinan yang kemudian terjadi, terdapat 1,03 0/00 ruptura uteri.
Tindakan sectio caesarea juga berdampak pada pemenuhan kebutuhan dasar
ibu seperti dapat menyebabkan nyeri pada bekas luka operasi, gangguan eliminasi
urin, gangguan pemenuhan nutrisi dan cairan, gangguan aktifitas, gangguan
personal hygiene, gangguan pola istirahat dan tidur serta masalah dalam produksi
dan pemberian air susu ibu pada bayinya (Maryunani, 2015)
Menurut Bensons dan Pernolls, angka kamatian pada operasi sesar adalah
40 – 80 tiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini menunjukkan resiko 25 kali lebih
besar dibanding persalinan pervaginam. Malahan untuk kasus karena infeksi
mempunyai angka 80 kali lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan
pervaginam. Komplikasi tindakan anestesi sekitar 10 % dari seluruh angka
kematian ibu.
Dari hasil Penelitian yang dilakukan oleh Hetik Kuswanti, Mahasiswa
program Studi Kebidanan Sutomo di Ruang Bersalin RSUD Dr. Sutomo
mengenai Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Perawatan Luka. Menunjukkan 8
(61,54 %) termasuk kategori berpengetahuan baik, 5 (3 8,46 %) terkategorikan
berpengetahuan cukup. Berdasarkan data laporan tahunan RS. Kota pada tahun
2014 terdapat kejadian infeksi pada bekas luka seksio sesarea 3 dari 67 pasien
yang mengalami seksio sesarea. Sedangkan tahun 2015 terdapat kejadian infeksi
pada bekas luka seksio sesarea 1 dari 70 pasien post seksio sesare. Dari data

4
tersebut dapat di simpulkan bahwa terjadi penurunan kejadian infeksi pada bekas
luka seksio sesarea dari tahun 2014 ke tahun 2015.
Perawatan luka telah mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Teknologi dalam bidang kesehatan juga memberikan kontribusi yang sangat untuk
menunjang praktek perawatan luka ini. Dengan demikian, perawat di tuntut untuk
mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang adekuat terkait dengan proses
perawatan luka yang dimulai dari pengkajian yang komprehensif, perencanaan
intervensi yang tepat, implementasi tindakan, evaluasi hasil yang ditemukan
selama perawatan serta dokumentasi hasil yang sistematis (Agustina, 2015).
Pasien yang telah melakukan operasi akan merasakan cemas bila melihat
lukanya dan akan takut untuk merawat lukanya itu. Oleh sebab itu pasien dan
keluarganya harus mengerti langkah - langkah dasar dari cara perawatan luka
yang ditutupi. Memberi kesempatan pada pasien atau anggota keluarganya untuk
mencoba teknik yang dicontohkan di bawah pengawasan sebelum akhirnya keluar
rumah sakit karena akan berguna sekali.

B. Tujuan Perawatan Post Operasi


Tujuan perawatan pasca operasi adalah pemulihan kesehatan fisiologi dan
psikologi wanita kembali normal. Periode postoperatif meliputi waktu dari akhir
prosedur pada ruang operasi sampai pasien melanjutkan rutinitas normal dan gaya
hidupnya.
Secara klasik, kelanjutan ini dibagi dalam tiga fase yang tumpang tindih
pada status fungsional pasien. Aturan dan perhatian para ginekolog secara gradual
berkembang sejalan dengan pergerakan pasien dari satu fase ke fase lainnya. Fase
pertama, stabilisasi perioperatif, menggambarkan perhatian para ahli bedah
terhadap permulaan fungsi fisiologi normal, utamanya sistem respirasi,
kardiovaskuler, dan saraf. Pada pasien yang berumur lanjut, akan memiliki
komplikasi yang lebih banyak, dan prosedur pembedahan yang lebih kompleks,
serta periode waktu pemulihan yang lebih panjang.
Periode ini meliputi pemulihan dari anesthesia dan stabilisasi homeostasis,
dengan permulaan intake oral. Biasanya periode pemulihan 24-28 jam. Fase
kedua, pemulihan postoperatif, biasanya berakhir 1-4 hari. fase ini dapat terjadi di
rumah sakit dan di rumah. Selama masa ini, pasien akan mendapatkan diet teratur,

5
ambulasi, dan perpindahan pengobatan nyeri dari parenteral ke oral. Sebagian
besar komplikasi tradisional postoperasi bersifat sementara pada masa ini. Fase
terakhir dikenal dengan istilah “kembali ke normal”, yang berlangsung pada 1-6
minggu terakhir. Perawatan selama masa ini muncul secara primer dalam keadaan
rawat jalan. Selama fase ini, pasien secara gradual meningkatkan kekuatan dan
beralih dari masa sakit ke aktivitas normal.

C. Pedoman Perawatan Post Operasi


Setelah operasi selesai, penderita tidak boleh ditinggalkan sampai ia sadar.
Harus dijaga supaya jalan napas tetap bebas. Periode postoperatif meliputi waktu
dari akhir prosedur pada ruang operasi sampai pasien melanjutkan rutinitas
normal dan gaya hidupnya. Penderita yang menjalani operasi kecuali operasi
kecil, keluar dari kamar operasi dengan infus intravena yang terdiri atas larutan
NaCl 0,9% atau glukosa 5% yang diberikan berganti-ganti menurut rencana
tertentu. Di kamar operasi (atau sesudah keluar dari situ). jika perlu, diberi pula
transfusi darah. Pada waktu operasi penderita kehilangan sejumlah cairan,
sehingga pasien meninggalkan kamar operasi dengan defisit cairan. Oleh karena
itu, biasanya pascaoperasi minum air dibatasi, sehingga perlu pengawasan
keseimbangan antara cairan yang masuk dengan infus, dan cairan yang keluar.
Perlu dijaga jangan sampai terjadi dehidrasi, tetapi sebaliknya juga jangan terjadi
kelebihan dengan akibat edema paru-paru. Untuk diketahui, air yang dikeluarkan
dari badan dihitung dalam 24 jam berupa air kencing dan cairan yang keluar
dengan muntah harus ditambah dengan evaporasi dari kulit dan pernapasan. Dapat
diperkirakan bahwa dalam 24 jam sedikitnya 3 liter cairan harus dimasukkan
untuk mengganti cairan yang keluar.
Sebagai akibat anestesi, penderita pascaoperasi biasanya enek, kadang
sampai muntah. Pasien tidak boleh minum, sampai rasa enek hilang sama sekali.
kemudian, pasien boleh minum sedikit-sedikit, untuk lambat laun ditingkatkan.
Dalam 24 sampai 48 jam pascaoperasi, hendaknya diberi makanan cair; sesudah
itu, apalagi jika sudah keluar flatus, dapat diberi makanan lunak bergizi untuk
lambat-laun menjadi makanan biasa.
Pada pascaoperasi peristalik usus mengurang dan baru lambat laun pulih
kembali. Pada hari kedua pascaoperasi biasanya usus bergerak lagi; dengan gejala

6
mules, kadang-kadang disertai dengan perut kembung sedikit. Pengeluaran flatus
dapat dibantu dengan pemberian dosis kecil prostigmin, dengan teropong angin
dimasukkan ke dalam rektum, dan kadang-kadang perlu diberikan klisma kecil
terdiri atas 150 cc. campuran minyak dan gliserin. Pemberian antibiotik pada
pascaoperasi tergantung dari jenis operasi yang dilakukan. Misalnya, setelah kista
ovarium kecil diangkat, tidak perlu diberi antibiotic, akan tetapi sesudah
histerektomi total dengan pembukaan vagina, sebaiknya obat tersebut diberikan.
Pasien dengan masalah kesehatan membutuhkan perawatan postoperatif
dalam ICU untuk mendapatkan ventilasi jangka panjang dan monitoring sentral.
Ketika pasien diserahterimakan kepada perawat harus disertai dengan laporan
verbal mengenai kondisi pasien tersebut berupa kesimpulan operasi dan intruksi
pasca operatif. Intruksi pasca operatif harus sesuai dengan elemen berikut:
1) Tanda Tanda Vital
Evaluasi tekanan darah, nadi, dan laju pernapasan dilakukan setiap 15-30
menit sampai pasien stabil kemudian setiap jam setelah itu paling tidak untuk 4-6
jam. Beberapa perubahan signifikan harus dilaporkan sesegera mungkin.
Pengukuran ini, termasuk temperatur oral, yang harus direkam 4 kali sehari untuk
rangkaian sisa pasca operatif. Anjurkan pernapasan dalam setiap jam pada 12 jam
pertama dan setiap 2-3 jam pada 12 jam berikutnya. Pemeriksaan spirometri dan
pemeriksaan respirasi oleh terapis menjadi pilihan terbaik, utamanya pada pasien
yang berumur tua, obesitas, atau sebaliknya pada pasien lainnya yang bersedia
atau yang tidak bisa berjalan.
2) Perawatan Luka
Fokus penanganan luka adalah mempercepat penyembuhan luka dan
meminimalkan komplikasi dan biaya perawatan. Fokus utama dalam penanganan
luka adalah dengan evakuasi semua hematoma dan seroma dan mengobati infeksi
yang menjadi penyebabnya. Perhatikan perdarahan yang terlalu banyak (inspeksi
lapisan dinding abdomen atau perineal). Lakukan pemeriksaan hematokrit sehari
setelah pembedahan mayor dan, jika perdarahan berlanjut, diindikasikan untuk
pemeriksaan ulang. Luka abdomen harus diinspeksi setiap hari. Umumnya luka
jahitan pada kulit dilepaskan 3-5 hari postoperasi dan digantikan dengan Steril-
Strips. Idealnya, balutan luka diganti setiap hari dan diganti menggunakan bahan

7
hidrasi yang baik. Pada luka yang nekrosis, digunakan balutan tipis untuk
mengeringkan dan mengikat jaringan sekitarnya ke balutan dalam setiap
penggantian balutan. Pembersihan yang sering harus dihindari karena hal tersebut
menyebabkan jaringan vital terganggu dan memperlambat penyembuhan luka.
a. Pengertian
Suatu penanganan luka yang terdiri dari membersihkan luka,
mengangkat jahitan, menutup dan membalut luka sehinga dapat
membantu proses penyembuhan luka.
b. Tujuan
1. Mencegah terjadinya infeksi.
2. Mempercepat proses penyembuhan luka.
3. Meningkatkan kenyamanan fisik dan psikologis.
c. Persiapan
1. Alat
a. Set perawatan luka dan angkat jahitan dalam bak instrumen
steril :
 Sarung tangan steril.
 Pinset 4 (2 anatomis, 2 cirurgis)
 Gunting hatting up.
 Lidi waten.
 Kom 2 buah.
 Kasa steril.
b. Plester
c. Gunting perban
d. Bengkok 2 buah
e. Larutan NaCl
f. Perlak dan alas
g. Betadin
h. Korentang
i. Alkohol 70%
j. Kapas bulat dan sarung tangan bersih
2. Lingkungan

8
a. Menutup tirai / jendela.
b. Merapikan tempat tidur.
3. Pelaksanaan
a. Mengatur posisi sesuai dengan kenyamanan pasien.
b. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan yang
akan dilakukan.
c. Inform Consent.
4. Prosedur Pelaksanaan
1) Jelaskan prosedur pada klien dengan menggambarkan
langkah-langkah perawatan luka.
2) Dekatkan semua peralatan yang diperlukan.
3) Letakkan bengkok dekat pasien.
4) Tutup ruangan / tirai di sekitar tempat tidur.
5) Bantu klien pada posisi nyaman.
6) Cuci tangan secara menyeluruh.
7) Pasang perlak dan alas.
8) Gunakan sarung tangan bersih sekali pakai (Steril) dan
lepaskan plester. Angkat balutan dengan pinset.
9) Lepaskan plester dengan melepaskan ujung dan menariknya
dengan perlahan, sejajar pada kulit dan mengarah pada
balutan.
10) Dengan sarung tangan/pinset, angkat balutan.
11) Bila balutan lengket pada luka, lepaskan dengan memberikan
larutan NaCl.
12) Observasi karakter dan jumlah drainase.
13) Buang balutan kotor pada bengkok, lepaskan sarung tangan
dan buang pada bengkok yang berisi Clorin 5%.
14) Buka bak instrumen, siapkan betadin dan larutan NaCl pada
kom, siapkan plester, siapkan depres.
15) Kenakan sarung tangan steril.
16) Inspeksi luka, perhatikan kondisinya, letak drain, integritas
jahitan dan karakter drainase serta palpasi luka (kalau perlu).

9
17) Bersihkan luka dengan larutan NaCl dan betadin dengan
menggunkan pinset. Gunakan satu kasa untuk setiap kali
usapan. Bersihkan dari area yang kurang terkontaminasi ke
area yang terkontaminasi. Gunakan dalam tekanan progresif
menjauh dari insisi/tepi luka.
18) Gunakan kasa baru untuk mengeringkan luka/insisi. Usap
dengan cara seperti pada langkah 17.
19) Melepaskan jahitan satu persatu selang seling dengan cara :
menjepit simpul jahitan dengan pinset cirurgis dan ditarik
sedikit ke atas kemudian menggunting benang tepat dibawah
simpul yang berdekatan dengan kulit/pada sisi lain yang tidak
ada simpul.
20) Olesi luka dengan betadin.
21) Menutup luka dengan kasa steril dan di plester.
22) Merapikan pasien.
23) Membersihkan alat-alat dan mengembalikan pada tempatnya.
24) Melepaskan sarung tangan.
25) Perawat mencuci tangan.
5. Hal – hal yang perlu diperhatikan
- Pengangkatan balutan dan pemasangan kembali balutan dapat
menyebabkan pasien terasa nyeri.
- Cermat dalam menjaga kesterilan.
- Mengangkat jahitan sampai bersih tidak ada yang ketinggalan.
- Teknik pengangkatan jahitan di sesuaikan dengan tipe jahitan.
- Peka terhadap privasi klien.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

10
Perawatan luka post SC merupakan tindakan yang sangat bermanfaat, baik dilihat
dari segi kesehatan maupun dari segi kosmetiknya. Hal tersebut berguna untuk
mencegah terjadinya komplikasi pada ibu-ibu yang harus menjalani atau memilih
operasi seksio sesarea sebagai jalan untuk melahirkan bayi mereka. Untuk itu,
dibutuhkan tenaga medis profesional yang mampu memahami dan menerapkan
perawatan luka pasca operasi seksio sesarea dengan baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA

Rahim, W., Rompas, S., & Kallo, D.V. 2019. Hubungan Antara Pengetahuan
Perawatan Luka Pasca Bedah Sectio Caesarea (Sc) Dengan Tingkat

11
Kemandirian Pasien Di Ruang Instalasi Rawat Inap Kebidanan Dan
Kandungan Rumah Sakit Bhayangkara Manado. Universitas Sam
Ratulangi Journal of Public Health , 7(1), 1-7

Maryunani. 2015. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika

Balla, J., Paun, R., & Ludji, I. 2018. Factors Related to Healing Process of Sectio
Caesarea Surgical Wound. Unnes Journal of Public Health, 7(2), 126-
132.

Nurani, D., Keintjem, F., & Losu, F.N. 2015. Faktor-Faktor Yang Berhubungan
dengan Proses Penyembuhan Luka Post Sectio Caesarea. JIDAN (Jurnal
Ilmiah Bidan), 3(1): 1-9.

Vallejo, M.C., Attaallah, A.F., Shapiro, R.E., Elzamzamy, O.M., Mueller, M.G.
and Eller, W.S. 2017. Independent risk factors for surgical site infection
after cesarean delivery in a rural tertiary care medical center. Journal of
anesthesia, 31(1): 120-126.

Vianti, R. A. 2015. Comorbidity : Apakah Merupakan Faktor Risiko Infeksi Luka


Operasi Pasca Seksio Sesarea ?. Pena Jurnal Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi, 29(1): 21–30.

12