Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN BRONKITIS

pada Ny.T di unit Royal Prince di Rumah Sakit Bali Royal Hospital

Oleh :
Chandra Dewi (P07120319039)
Profesi Ners

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI
PROFESI NERS
2019
Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Bronkhitis

A. Konsep dasar teori


1. Pengertian Bronkitis
Bronkitis adalah suatu infeksi saluran pernapasan yang menyebabkan inflamasi yang
mengenai trakea, bronkus utama dan menengah yang bermanifestasi sebagai batuk, dan
biasanya akan membaik tanpa terapi dalam 2 minggu. Bronkitis umumnya disebabkan oleh
virus seperti Rhinovirus, RSV,virus influenza, virus para influenza, adenovirus, virus
rubeola, dan Paramyxo virus dan bronkitis karena bakteri biasanya dikaitkan dengan
Mycoplasma pneumonia, Bordetella pertussis, atau Corynebacterium diphtheriae.Bronkitis
dibagi menjadi dua yaitu :
a.Bronkitis akut
Merupakan infeksi saluran pernapasan akut bawah. Ditandai dengan awitan gejala yang
mendadak dan berlangsung lebih singkat. Pada bronkitis jenis ini, inflamasi (peradangan
bronkus biasanya disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, dan kondisinya diperparah oleh
pemaparan terhadap iritan, seperti asap rokok, udara kotor, debu, asap kimiawi, dll)
b. Bronkitis kronis
Ditandai dengn gejala yang berlangsung lama (3 bulan dalam setahun selama 2 tahun
berturut-turut). Pada bronkitis kronik peradangan bronkus tetap berlanjut selama beberapa
waktu dan terjadi obstuksi/hambatan pada aliran udara yang normal di dalam bronkus
(NANDA, 2015). Bronkitis kronik merupakan suatu gangguan klinis yang ditandai oleh
pembentukan mukus yang berlebihan di dalam bronkus dan bermanifestasi sebagai batuk
kronik dan pembentukan sputum selama sedikitnya 3 bulan dalam setahun, sekurang-
kurangnya dalam dua tahun berturut-turut. Definisi ini tidak menyangkut penyakit-penyakit
seperti bronkiektasis dan tuberkulosis yang juga menyebabkan batuk kronik dan
pembentukan sputum. Sputum yang terbentuk pada bronkitis kronik dapat mukoid atau
mukopurulen (Price, Sylvia A., 2005).

2. Klasifikasi
Bronkitis dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu sebagai berkut :
a. Bronkitis akut
Merupakan infeksi saluran pernapasan akut bawah. Ditandai dengan awitan gejala yang
mendadak dan berlangsung lebih singkat. Pada bronkitis jenis ini, inflamasi (peradangan
bronkus biasanya disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, dan kondisinya diperparah oleh
pemaparan terhadap iritan, seperti asap rokok, udara kotor, debu, asap kimiawi, dll)
b. Bronkitis kronis
Ditandai dengn gejala yang berlangsung lama (3 bulan dalam setahun selama 2 tahun
berturut-turut). Pada bronkitis kronik peradangan bronkus tetap berlanjut selama beberapa
waktu dan terjadi obstuksi/hambatan pada aliran udara yang normal di dalam bronkus
(NANDA, 2015). Bronkitis kronik merupakan suatu gangguan klinis yang ditandai oleh
pembentukan mukus yang berlebihan di dalam bronkus dan bermanifestasi sebagai batuk
kronik dan pembentukan sputum selama sedikitnya 3 bulan dalam setahun, sekurang-
kurangnya dalam dua tahun berturut-turut. Definisi ini tidak menyangkut penyakit-penyakit
seperti bronkiektasis dan tuberkulosis yang juga menyebabkan batuk kronik dan
pembentukan sputum. Sputum yang terbentuk pada bronkitis kronik dapat mukoid atau
mukopurulen (Price, Sylvia A., 2005).
3. Anatomi Fisiologi
Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung, faring, laring,
trakhea, bronkus, dan bronkiolus. Hidung; Nares anterior adalah saluran-saluran didalam
rongga hidung. Saluran-saluran itu bermuara kedalam bagian yang dikenal sebagai
vestibulum (rongga hidung). Rongga hidung dilapisi sebagai selaput lendir yang sangat kaya
akan pembuluh darah, dan bersambung dengan lapisan faring dan dengan selaput lendir
sinus yang mempunyai lubang masuk kedalam rongga hidung. Faring (tekak) adalah pipa
berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan esophagus pada
ketinggian tulang rawan krikoid.
Maka letaknya di belakang laring (laring-faringeal). Laring (tenggorok) terletak di
depan bagian terendah faring yang memisahkan dari columna vertebrata, berjalan dari faring
sampai ketinggian vertebrata servikalis dan masuk ke dalam trakhea di bawahnya.
Laring terdiri atas kepingan tulang rawan yang diikat bersama oleh ligamen dan
membran. Trakhea atau batang tenggorok kira-kira 9 cm panjangnya trachea berjalan dari
laring sampai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini bercabang
menjadi dua bronkus (bronchi). Trakhea tersusun atas 16 – 20 lingkaran tak tetap yang
berupa cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi
lingkaran di sebelah belakang trakhea, selain itu juga membuat beberapa jaringan otot.
Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trakea pada ketinggian kirakira vertebra
torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi oleh jenis sel yang
sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan ke samping ke arah tampuk paru. Bronkus
kanan lebih pendek dan lebih lebar daripada yang kiri, sedikit lebih tinggi dari arteri
pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama lewat di bawah arteri, disebut bronkus
lobus bawah. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan, dan berjalan di
bawah arteri pulmonalis sebelum dibelah menjadi beberapa cabang yang berjalan ke lobus
atas dan bawah.
Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan
kemudian menjadi lobus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus.
Yang ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi bronchiolus terminalis, yaitu
saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). Bronkiolus
terminalis memiliki garis tengah kurang lebih 1 mm. bronkiolus tidak diperkuat oleh cincin
tulang rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Saluran-
saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkiolus terminalis disebut saluran penghantar
udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas
paru-paru.
Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkiolus dan respiratorius
yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. Ductus
alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveolis dan sakus alveolaris terminalis merupakan akhir
paru-paru, assinus atau kadang disebut lobulus primer memiliki tangan kira-kira 0,5-1,0 cm.
terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trachea sampai sakus alveolaris. Alveolus
dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn.
Paru-paru terdapat dalam rongga toraks pada bagian kiri dan kanan. Dilapisi oleh pleura
yaitu parietal pleura dan visceral pleura. Di dalam rongga pleura terdapat cairan surfaktan
yang berfungsi untuk lubrikai. Paru kanan dibagi atas tiga lobus yaitu lobus superior, medius
dan inferior sedangkan paru kiri dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior.
Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang mengandung pembuluh limfe, arteriola,
venula, bronchial venula, ductus alveolar, sakkus alveolar dan alveoli. Diperkirakan bahwa
setiap paru-paru mengandung 150 juta alveoli, sehingga mempunyai permukaan yang cukup
luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas. (Pearce,2002)
Pernafasan paru merupakan pertukaran oksigen dan karbondioksida yang terjadi pada
paru-paru. Pernafasan melalui paru-paru atau pernafasan ekternal, oksigen diambil melalui
mulut dan hidung pada waktu bernafas, dan oksigen masuk melalui trakea sampai ke alveoli
berhubungan dalam darah dalam kapiler pulmonal. Alveoli memisahkan oksigen dari darah,
oksigen menembus membran, diambil oleh sel darah merah di bawa ke jantung dan dari
jantung dipompakan ke seluruh tubuh.
Proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida terjadi ketika konsentrasi dalam darah
mempengaruhi dan merangsang pusat pernafasan terdapat dalam otak untuk memperbesar
kecepatan dalam pernafasan sehingga terjadi pengambilan O2 dan pengeluaran CO2 lebih
banyak. Darah merah (hemoglobin) yang banyak mengandun oksigen dari seluruh tubuh
masuk kedalam jaringan mengambil karbon dioksida dibawa ke paru-paru dan di paru-paru
terjadi pernafasan eksterna. Besarnya daya muat udara dalam paru-paru 4500-5000 ml (4,5-5
liter).
Udara yang diproses dalam paru-paru (inspirasi dan ekspirasi) hanya 10 %, kurang lebih
500ml, disebut juga udara pasang surut (tidal air) yaitu yang dihirup dan yang dihembuskan
pada pernafasan biasa. Kecepatan pernafasan pada wanita lebih tinggi dari pada pria.
Pernafasan secara normal, ekspirasi akan menyusul inspirasi dan kemudian istirahat. Pada
bayi ada kalanya terbalik inspirasi-istirahat-ekspirasi, disebut juga penafasan terbalik.
(Syaifuddin, 2006).

4. Etiologi

Merokok atau pemajanan terhadap polusi adalah penyebab utama bronchitis kronik.
Pasien dengan bronchitis kronik lebih rentan terhadap kekambuhan infeksi saluran pernapasan
bawah. Kisaran infeksi virus, bakteri, dan mikroplasma yang luas dapat menyebabkan
episode bronchitis akut. Eksaserbasi bronchitis kronik hampir pasti terjadi selama musim
dingin. Menghirup udara yang dingin dapat menyebabkan bronkospasme bagi yang rentan.
Terdapat beberapa faktor yang merupakan etiologi bronkitis kronis, yaitu:
a. Rokok
Terdapat hubungan yang erat antara merokok dengan penurunan VEP (Volume
Ekspirasi Paksa) dalam satu detik. Secara patologis rokok berhubungan dengan hiperplasia
kelenjar mukus bronkus dan metaplasia inhibisi aktivitas sel rambut getar, makrofag
alveolar dan surfaktan.
b. Infeksi
Infeksi saluran pernafasan bagian atas pada seseorang penderita bronkhitis kronis
hampir selalu menyebabkan infeksi paru bagian bawah, serta menyebabkan kerusakan paru
bertambah. Eksaserbasi bronkhitis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus,
yang kemudian menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri. Bakteri yang paling sering
adalah Haemophilus influenzae dan Streptococus Pneumonia.

c. Polusi
Polusi tidak begitu besar pengaruhnya sebagai faktor penyebab penyakit bronkhitis,
tetapi bila ditambah merokok, faktor akan lebih tinggi.

d. Keturunan
Belum diketahui jelas apakah faktor keturunan berperan atau tidak, kecuali dengan
penderita dengan defisiensi alpha-1 anti tripsin yang merupakan suatu protein. Kerja
protein ini adalah menetralkan enzim proteolitik yang merusak jaringan, sehingga
defisiensi alpha-1 anti tripsin menyebabkan kerusakan jaringan.

e. Faktor Sosial Ekonomi


Kematian pada penderita bronkhitis kronik ternyata labih banyak pada golongan
sosial ekonomi rendah, mungkin disebabkan oleh faktor lingkungan dan ekonomi yang
lebih jelek.

f. Usia Tua
Dengan bertambahnya usia, daya tahan tubuh akan menurun, sehingga pria yang sejak
awal merokok tentu akan lebih rentan terhadap penyakit ini.

5. Patofisiologi
Gambaran khas pada bronkitis kronis adalah hipersekresi mukus, yang dimulai di saluran
nafas besar. Meskipun faktor penyebab terpenting adalah merokok, polutan udara lain, seperti
sulfur dioksida dan nitrogen dioksida, juga berperan. Berbagai iritan ini memicu hipersekresi
kelenjar mukosa bronkus, menyebabkan hipertrofi kelenjar mukosa, dan menyebabkan
pembentukan metaplastik sel goblet penghasil musin di epitel permukaan bronkus. Selain itu,
zat tersebut juga menyebabkan peradangan dengan infiltrasi sel T CD8+, makrofag, dan
neutrofil. Berbeda dengan asma, pada bronkitis kronis eosinofil jarang ditemukan, kecuali jika
pasien mengidap bronkitis asmatik. Dipostulasikan bahwa banyak efek iritan lingkungan pada
epitel pernafasan diperantarai melalui reseptor faktor pertumbuhan epidermis. Sebagai contoh,
transkripsi gen musin MUC5AC, yang meningkat sebagai akibat terpajan asap tembakau, baik
in vitro maupun in vivo pada model eksperimental, sebagian diperantarai oleh jalur reseptor
faktor pertumbuhan epidermis. Infeksi mikroba sering terjadi, tetapi hanya berperan sekunder,
terutama dengan mempertahankan peradangan dan memperparah gejala (Robin, 2007).
Temuan patologis utama pada bronkitis kronik adalah hipertrofi kelenjar mukosa bronkus
dan peningkatan jumlah dan ukuran sel-sel goblet, dengan infiltraasi sel-sel radang dan edema
mukosa bronkus. Pembentukan mukus yang meningkat mengakibatkan gejala khas yaitu
batuk kronis. Batuk kronik yang disertai peningkatan sekresi bronkus tampaknya
mempengaruhi bronkiolus kecil sehingga bronkiolus tersebut rusak dan dindingnya melebar.
Faktor etiologi utama adalah merokok dan polusi udara yang lazim di daerah industri. Polusi
udara yan terus menerus juga merupakan predisposisi infeksi rekuren karena polusi
memperlambat aktivitas silia dan fagositsis, sehingga timbunan mukus menigkat sedangkan
mekanisme pertahanannya sendiri melemah. Pada bronkitis kronik terdapat pembesaran
kelenjar mukosa bronkus, metaplasia sel goblet, inflamasi, hipertrofi otot polos pernapasan
serta distorsi akibat fibrosis.
Berbagai faktor risiko untuk terjadinya bronkitis kronis (merokok, polusi udara, infeksi
berulang, dll) menimbulkan kondisi inflamasi pada bronkus. Perubahan patologi yang terjadi
pada trakea, bronki dan bronkiolus terus sampai ke saluran napas kecil (diameter 2-4 mm)
berupa infiltrasi permukaan epitel jalan napas, kelenjar duktus, kelenjar-kelenjar dengan
eksudat inflamasi (sel dan cairan) yang didominasi oleh sel T limfosit (CD8+), makrofag dan
neutrofil. Proses inflamasi kronik itu berhubungan dengan metaplasia sel goblet dan sel
squamosa dari epitelium, peningkatan ukuran epitelepitel kelenjar, peningkatan banyak otot
polos dan jaringan penunjang pada dinding jalan napas, serta degenerasi tulang rawan jalan
napas. Semua perubahan patologi itu bertanggung jawab terhadap gejala pada bronkitis kronis
yaitu batuk kronik dan produksi sputum berlebihan seperti yang dijelaskan sebagai definisi
bronkitis kronis dengan kemungkinan berkombinasi dengan masalah jalan napas perifer dan
emfisema.
6. Manifestasi Klinis
Keluhan yang dirasakan oleh penderita bronchitis kronik antara lain:
- Batuk yang sangat produktif, purulen dan mudah memburuk dengan inhalasi
iritan, udara dingin atau infeksi
- Produksi mucus dalam jumlah yang sangat banyak
- Dyspnea
- Riwayat merokok, riwayat paparan polutan
Pada pemeriksaan fisik paru didapatkan:
- Inspeksi
 Pursed lips breathing.
 Barrel chest
 Penggunaan otot bantu pernafasan
 Hipertrofi otot bantu pernafasan
 JVP meningkat
 Edema tungkai bawah
 Penampilan blue bloater. Gambaran khas bronchitis kronis, gemuk,
sianosis, edema tungkai dan ronki basah di basal paru. Sianosis di sentral
dan perifer.
- Palpasi
Fremitus melemah
- Perkusi
Hipersonor
- Auskultasi
 Suara nafas vesikuler normal atau melemah
 Ronki dan mengi saat nafas biasa atau eskpirasi paksa
 Eskpirasi memanjang
 Bunyi jantung terdengar jauh

7. Komplikasi
Ada beberapa komplikasi bronchitis yang dapat dijumpai pada pasien, antara lain :
a. Bronchitis kronik
b. Pneumonia dengan atau tanpa atelektaksis, bronchitis sering mengalami infeksi
berulang biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran nafas bagian atas. Hal ini
sering terjadi pada mereka drainase sputumnya kurang baik.
c. Pleuritis. Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia.
Umumnya pleuritis sicca pada daerah yang terkena.
d. Efusi pleura atau empisema
e. Abses metastasis diotak, akibat septikemi oleh kuman penyebab infeksi supuratif pada
bronkus. Sering menjadi penyebab kematian
f. Haemaptoe terjadi kerena pecahnya pembuluh darah cabang vena ( arteri
pulmonalis ) , cabang arteri ( arteri bronchialis ) atau anastomisis pembuluh darah.
Komplikasi haemaptoe hebat dan tidak terkendali merupakan tindakan beah gawat
darurat.
g. Sinusitis merupakan bagian dari komplikasi bronchitis pada saluran nafas
h. Kor pulmonal kronik pada kasus ini bila terjadi anastomisis cabang-cabang arteri dan
vena pulmonalis pada dinding bronkus akan terjadi arterio-venous shunt, terjadi
gangguan oksigenasi darah, timbul sianosis sentral, selanjutnya terjadi hipoksemia.
Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal, kor pulmoner kronik,.
Selanjutnya akan terjadi gagal jantung kanan.
i. Kegagalan pernafasan merupakan komlikasi paling akhir pada bronchitis yang berat da
luas
j. Amiloidosis keadaan ini merupakan perubahan degeneratif, sebagai komplikasi klasik
dan jarang terjadi. Pada pasien yang mengalami komplikasi ini dapat ditemukan
pembesaran hati dan limpa serta proteinurea.

8. Pemeriksaan Penunjang
a. Sinar X dada

Dengan melakukan pemeriksaan sinar X dada dapat dinyatakan hiperinflasi


paru-paru, mendatarnya diafragma, peningkatan area udara retrosternal, penurunan
tanda vaskularisasi/buta (emfisema), peningkatan tanda bronkovaskuler
(bronkitis), hasil normal selama periode remisi (asma).

b. Tes fungsi paru

Tes ini dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan


apakah fungsi abnormal adalah obtruksi atau restriksi, untuk memperkirakan
derajat disfungsi dan untuk mengevalusi efek terapi, misalnya bronkodilator.

c. TLC

Tes ini dilakukan untuk melihat peningkatan pada luasnya bronkitis dan
kadang-kadang pada asma, penurunan emfisema.
 Kapasitas inspirasi : Menurun pada emifisema
 Volume residu : Meningkat pada emfisema, bronkitis kronis dan asma

d. FEV/FVC

Rasio volume ekspirasi kuat dengan kapasitas vital kuat menurun pada
bronkitis dan asma.

e. GDA

Memperkirakan progresi proses penyakit kronis, PaCO2 normal menurun dan


PaCO2 normal atau meningkat (bronkitis kronis dan emfisema) tetapi sering
menurun pada asma.

f. Bronkogram

Dapat menunjukkan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi, kolaps bronkial


pada ekspirasi kuat (emfisema), pembesaran duktus mukosa yang terlihat pada
bronkitis.

g. EKG latihan, tes stress

Membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru, mengevalusi keefektifan terapi


brokodilator, perencanaa/ evaluasi program latihan.

9. Penatalaksanaan
a. Batuk Efektif dan Napas Dalam
Batuk efektif adalah tindakan yang diperlukan untuk membersihkan sekret.
Tujuan napas dalam dan batuk adalah untuk meningkatkan ekspansi paru, mobilisasi
sekresi, dan mencegah efek samping dari retensi sekresi. Pasien diberi posisi duduk
tegak pada tepi tempat tidur atau kursi dengan kaki disokong. Pasien dianjurkan
untuk mengambil napas dalam dan perlahan. Bila sekret terauskultasi, kemudian
batuk dimulai pada inspirasi maksimum.
b. Bronkodilator
Diberikan secara tunggal atau kombinasi dari ketiga jenis bronkodilator dan
disesuaikan dengan klasifikasi derajat berat penyakit. Pemilihan bentuk obat
diutamakan inhalasi, nebuliser tidak dianjurkan pada penggunaan jangka
panjang. Pada derajat berat diutamakan pemberian obat lepas lambat (slow
release) atau obat berefek panjang (long acting). Macam - macam bronkodilator:
-
Golongan antikolinergik: digunakan pada derajat ringan sampai berat,
disamping sebagai bronkodilator juga mengurangi sekresi lendir ( maksimal
4 kali perhari)
-
Golongan agonis beta – 2: bentuk inhaler digunakan untuk mengatasi sesak,
peningkatan jumlah penggunaan dapat sebagai monitor timbulnya
eksaserbasi. Sebagai obat pemeliharaan sebaiknya digunakan bentuk tablet
yang berefek panjang. Bentuk nebuliser dapat digunakan untuk mengatasi
eksaserbasi akut, tidak dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang. Bentuk
injeksi subkutan atau drip untuk mengatasi eksaserbasi berat.
-
Kombinasi antikolinergik dan agonis beta – 2: kombinasi kedua golongan
obat ini akan memperkuat efek bronkodilatasi, karena keduanya mempunyai
tempat kerja yang berbeda. Disamping itu penggunaan obat kombinasi lebih
sederhana dan mempermudah penderita.
-
Golongan xantin: dalam bentuk lepas lambat sebagai pengobatan
pemeliharaan jangka panjang, terutama pada derajat sedang dan berat.
Bentuk tablet biasa atau puyer untuk mengatasi sesak (pelega napas), bentuk
suntikan bolus atau drip untuk mengatasi eksaserbasi akut. Penggunaan
jangka panjang diperlukan pemeriksaan kadar aminofilin darah.
c. Antiinflamasi
Digunakan bila terjadi eksaserbasi akut dalam bentuk oral atau injeksi
intravena, berfungsi menekan inflamasi yang terjadi, dipilih golongan
metilprednisolon atau prednison. Bentuk inhalasi sebagai terapi jangka panjang
diberikan bila terbukti uji kortikosteroid positif yaitu terdapat perbaikan VEP1
pascabronkodilator meningkat > 20% dan minimal 250 mg.
d. Antibiotika
Hanya diberikan bila terdapat infeksi. Antibiotik yang digunakan:
-
Lini I : amoksisilin, makrolid
-
Lini II : amoksisilin dan asam klavulanat, sefalosporin, kuinolon, makrolid
baru
e. Antioksidan
Dapat mengurangi eksaserbasi dan memperbaiki kualiti hidup, digunakan N -
asetilsistein.
f. Mukolitik
Hanya diberikan terutama pada eksaserbasi akut karena akan mempercepat
perbaikan eksaserbasi, terutama pada bronkitis kronik dengan sputum yang
viscous. Mengurangi eksaserbasi pada PPOK bronkitis kronik, tetapi tidak
dianjurkan sebagai pemberian rutin.

B. Konsep dasar asuhan keperawatan


1. Pengkajian Keperawatan

a. Anamnesa

1) Biodata
Kaji biodata mulai dari nama, alamat, usia, pendidikan, agama.
2) Riwayat Penyakit Dahulu
Tanyakan pada klien. Apakah klien pernah atau sedang menderita suatu penyakit
lainnya dan pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya. Dan tanyakan juga
tindakan apa saja yang telah dilakukan serta obat apa saja yang telah dikonsumsi
3) Riwayat Penyakit Sekarang
Klien pada umumnya mengeluh sering batuk, demam, suara serak dan kadang nyeri
dada.
4) Riwayat Penyakit Keluarga
Kaji adakah keluarga klien yang sedang atau pernah mengalami penyakit yang sama
dengan penyakit klien. Dan tanyakan apakah ada anggota keluarga klien yang
mempunyai penyakit berat lainnya.
5) Aktivitas sehari-hari di rumah
Kaji pola makan, minum, eliminasi BAB, eiminasi BAK, istirahat tidur dan kebiasaan
klien.
6) Riwayat Psikososial-Spiritual
 Psikologis : apakah klien menerima penyakit yang dideritanya atau menarik
diri ?
 Sosial : bagaimana interaksi klien terhadap lingkungan sekitar sebelum dan
selama sakit dan apakah klien dapat beradaptasi dengan lingkungan baru (rumah
sakit) ?
 Spiritual : apakah dan bagaimana klien mengerjakan ibadahnya saat sakit ?
b. Pemeriksaan Fisik
 Keadaan umum
 Tingkat keamanan
 GCS

a. Tanda-tanda vital
 Tekanan darah :
 Suhu :
 Nadi :
 Repsirasi rate :
Pengkajian per sistem
(a) Kepala dan leher
Kepala : Kaji bentuk danada tidaknya benjolan.
Mata : Kaji warna sklera dan konjungtiva.
Hidung : Kaji ada tidaknya pernafasan cuping hidung.
Telinga : Kaji
Mulut : Kaji mukosa dan kebersihannya.
Leher : Ada tidaknya pembesaran vena jugularis.
(b) Sistem Integumen
a. Rambut : Kaji warna dan kebersihannya.
b. Kulit : Kaji warna dan ada tidaknya lesi.
c. Kuku : Kaji bentuk dan kebersihannya.
d. Sistem Pernafasan
e. Inspeksi : biasanya pada klien bronkhitis terjadi sesak, bentuk
dada barrel chest, kifosis.
f. Palpasi : Iga lebih horizontal.
g. Auskultasi : Adakah kemungkinan terdapat bunyi napas
tembahan, biasanya terdengar ronchi.
(c) Sistem Kardiovaskuler
a. Inspeksi : Kaji apakah ada pembesaran vena ingularis.
b. Palpasi : Kaji apakah nadi teraba jelas dan frekwensi nadi.
c. Auskultasi : Kaji suara s1, s2 apakah ada suara tambahan.
(d) Sistem Pencernaan
a. Inspeksi : Kaji bentuk abdomen, ada tidaknya lesi.
b. Palpasi : Kaji apakah ada nyeri tekan
c. Perkusi : Kaji apakah terdengar bunyi thympani
d. Auskultasi : Kaji bunyi peristaltik usus.
(e) Sistem Reproduksi
 Kaji apa jenis kelamin klien dan apakah klien sudah menikah.
(f) Sistem Pergerakan Tubuh
 Kaji kekuatan otot klien.
(g) Sistem Persyaratan
 Kaji tingkat kesadaran klien dan GCS.
(h) Sistem Perkemihan
Kaji apakah ada gangguan eliminasi urin.
c. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
-
Darah rutin : Hb, Ht dan leukosit boleh didapatkan meningkat3
-
Analisa gas darah : hipoksia dan hiperkapnia
2. Pemeriksaan faal paru
-
Spirometri : Ditemukan adanya penurunan kapasitas vital (VC) dan volume
ekspirasi kuat (FEV) serta peningkatan volume residual (RV) dengan kapasitas
paru total (TC) normal atau meningkat.
3. Radiologi
Rontgen thorax (PA/Lateral)
-
Corakan bronkovaskuler meningkat
-
Tram-track appearance : penebalan dinding bronkial3
2. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret.
b. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme
bronchus.
c. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan broncokontriksi, mukus.
d. Resiko infeksi berhubungan dengan menetapnya sekret, proses penyakit kronis.
e. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
3. Rencana Keperawatan

NO Diagnosa Keperawatan (SDKI) Tujuan dan KH (SLKI) Intervensi (SIKI)


1 Bersihan Jalan Nafas tidak Efektif 1. PPastikan kebutuhan oral / tracheal
suctioning
Definisi : Ketidakmampuan untuk Setelah dilakukan tindakan keperawatan
2. AAuskultasi suara nafas sebelum dan
membersihkan sekresi atau obstruksi selama 3x 24 jam diharapkan kondisi klien
sesudah suctioning.
dari saluran pernafasan untuk memenuhi kriteria hasil :
mempertahankan kebersihan jalan 1. MMendemonstrasikan batuk efektif dan 3. Informasikan pada klien dan keluarga
nafas. suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis tentang suctioning
dan dyspneu (mampu mengeluarkan
sputum, mampu bernafas dengan mudah, 4. MMinta klien nafas dalam sebelum
Batasan Karakteristik :
tidak ada pursed lips) suction dilakukan.
1. Dispneu, Penurunan suara nafas
2. Orthopneu 2. MMenunjukkan jalan nafas yang paten 5. BBerikan O2 dengan menggunakan
3. Cyanosis (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, nasal untuk memfasilitasi suksion
4. Kelainan suara nafas (rales, frekuensi pernafasan dalam rentang nasotrakeal
wheezing) normal, tidak ada suara nafas abnormal)
6. GGunakan alat yang steril sitiap
5. Kesulitan berbicara
melakukan tindakan
6. Batuk, tidak efekotif atau tidak ada 3. MMampu mengidentifikasikan dan
7. Mata melebar mencegah factor yang dapat menghambat
7. AAnjurkan pasien untuk istirahat dan
8. Produksi sputum jalan nafas
napas dalam setelah kateter dikeluarkan
9. Gelisah dari nasotrakeal
10. Perubahan frekuensi dan irama
8. MMonitor status oksigen pasien
nafas
9. AAjarkan keluarga bagaimana cara
Faktor-faktor yang berhubungan: melakukan suksion
1. Lingkungan : merokok, menghirup
10. Hentikan suksion dan berikan oksigen
asap rokok, perokok pasif-POK,
infeksi apabila pasien menunjukkan bradikardi,
2. Fisiologis : disfungsi peningkatan saturasi O2, dll.
neuromuskular, hiperplasia dinding
11. Buka jalan nafas, guanakan teknik chin
bronkus, alergi jalan nafas, asma.
lift atau jaw thrust bila perlu
3. Obstruksi jalan nafas : spasme jalan
nafas, sekresi tertahan, banyaknya 12. oPosisikan pasien untuk
mukus, adanya jalan nafas buatan, memaksimalkan ventilasi
sekresi bronkus, adanya eksudat di
13. IIdentifikasi pasien perlunya
alveolus, adanya benda asing di
pemasangan alat jalan nafas buatan
jalan nafas.
1. Pasang mayo bila perlu
2. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
3. Keluarkan sekret dengan batuk atau
suction
4. Auskultasi suara nafas, catat adanya
suara tambahan
5. Lakukan suction pada mayo
6. Berikan bronkodilator bila perlu
7. Berikan pelembab udara Kassa basah
NaCl Lembab
8. Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
9. Monitor respirasi dan status O2
2 Gangguan Pertukaran gas 1. BMembuka jalan nafas, guanakan
teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
Definisi : Kelebihan atau kekurangan
2. PPosisikan pasien untuk
dalam oksigenasi dan atau Setelah dilakukan tindakan keperawatan
memaksimalkan ventilasi
pengeluaran karbondioksida di dalam selama 3x 24 jam diharapkan kondisi klien
membran kapiler alveoli memenuhi kriteria hasil : 3. IIdentifikasi pasien perlunya
1. MMendemonstrasikan peningkatan pemasangan alat jalan nafas buatan
Batasan karakteristik : ventilasi dan oksigenasi yang adekuat
2. MMemelihara kebersihan paru paru dan 4. PPasang mayo bila perlu
1. Gangguan penglihatan bebas dari tanda tanda distress 5. LLakukan fisioterapi dada jika perlu
2. Penurunan CO2 pernafasan
6. KKeluarkan sekret dengan batuk atau
3. Takikardi 3. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suction
suara nafas yang bersih, tidak ada
4. Hiperkapnia
sianosis dan dyspneu (mampu 7. AAuskultasi suara nafas, catat adanya
5. Keletihan mengeluarkan sputum, mampu bernafas suara tambahan
dengan mudah, tidak ada pursed lips) 8. LLakukan suction pada mayo
6. somnolen
7. Iritabilitas 4. TMengukur tanda-tanda vital dalam 9. BBerikan bronkodilator bial perlu
rentang normal 10. BBerikan pelembab udara
8. Hypoxia
9. kebingungan 11. AAtur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
10. Dyspnoe
12. MMonitor respirasi dan status O2
11. nasal faring
13. oMonitor rata – rata, kedalaman, irama
12. AGD Normal dan usaha respirasi
13. sianosis 14. aCatat pergerakan dada,amati
kesimetrisan, penggunaan otot
14. warna kulit abnormal (pucat,
kehitaman) tambahan, retraksi otot supraclavicular
dan intercostal
15. Hipoksemia
15. oMonitor suara nafas, seperti dengkur
16. hiperkarbia
16. oMonitor pola nafas : bradipena,
17. sakit kepala ketika bangun
takipenia, kussmaul, hiperventilasi,
18. frekuensi dan kedalaman nafas cheyne stokes, biot
abnormal
17. CCatat lokasi trakea
18. oMonitor kelelahan otot diagfragma
Faktor faktor yang berhubungan : (gerakan paradoksis)

1. ketidakseimbangan perfusi 19. uAuskultasi suara nafas, catat area


ventilasi penurunan / tidak adanya ventilasi dan
2. perubahan membran kapiler- suara tambahan
alveolar 20. eTentukan kebutuhan suction dengan
mengauskultasi crakles dan ronkhi pada
jalan napas utama
21. AAuskultasi suara paru setelah tindakan
untuk mengetahui hasilnya

3 Pola Nafas tidak efektif Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Buka jalan nafas, guanakan teknik chin
selama 3x 24 jam diharapkan kondisi klien lift atau jaw thrust bila perlu
Definisi : Pertukaran udara inspirasi memenuhi kriteria hasil :
2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan
dan/atau ekspirasi tidak adekuat
ventilasi
1. Mendemonstrasikan batuk efektif dan
Batasan karakteristik : suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis 3. Identifikasi pasien perlunya
1. Penurunan tekanan dan dyspneu (mampu mengeluarkan
inspirasi/ekspirasi pemasangan alat jalan nafas buatan
2. Penurunan pertukaran udara per sputum, mampu bernafas dengan mudah,
4. Pasang mayo bila perlu
menit tidak ada pursed lips)
3. Menggunakan otot pernafasan 2. Menunjukkan jalan nafas yang paten 5. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
tambahan (klien tidak merasa tercekik, irama nafas,
4. Nasal flaring frekuensi pernafasan dalam rentang 6. Keluarkan sekret dengan batuk atau
normal, tidak ada suara nafas abnormal) suction
5. Dyspnea
6. Orthopnea 7. Auskultasi suara nafas, catat adanya
7. Perubahan penyimpangan dada 3. Tanda Tanda vital dalam rentang normal suara tambahan
8. Nafas pendek (tekanan darah, nadi, pernafasan)
8. Lakukan suction pada mayo
9. Assumption of 3-point position
10. Pernafasan pursed-lip 9. Berikan bronkodilator bila perlu
11. Tahap ekspirasi berlangsung
10. Berikan pelembab udara Kassa basah
sangat lama
NaCl Lembab
12. Peningkatan diameter anterior-
posterior 11. Atur intake untuk cairan
13. Pernafasan rata-rata/minimal mengoptimalkan keseimbangan.
a. Bayi : < 25 atau > 60
12. Monitor respirasi dan status O2
b. Usia 1-4 : < 20 atau > 30
c. Usia 5-14 : < 14 atau > 25
Terapi Oksigen
d. Usia > 14 : < 11 atau > 24
14. Kedalaman pernafasan 1. Bersihkan mulut, hidung dan secret
15. Dewasa volume tidalnya 500 ml trakea
saat istirahat 2. Pertahankan jalan nafas yang paten
16. Bayi volume tidalnya 6-8 ml/Kg
17. Timing rasio 3. Atur peralatan oksigenasi
18. Penurunan kapasitas vital 4. Monitor aliran oksigen

Faktor yang berhubungan : 5. Pertahankan posisi pasien


1. Hiperventilasi 6. Onservasi adanya tanda tanda
2. Deformitas tulang hipoventilasi
3. Kelainan bentuk dinding dada
7. Monitor adanya kecemasan pasien
4. Penurunan energi/kelelahan
terhadap oksigenasi
5. Perusakan/pelemahan muskulo-
skeletal 8. Vital sign Monitoring
6. Obesitas
7. Posisi tubuh Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
8. Kelelahan otot pernafasan
9. Hipoventilasi sindrom 9. Catat adanya fluktuasi tekanan darah
10. Nyeri 10. Monitor VS saat pasien berbaring,
11. Kecemasan duduk, atau berdiri
12. Disfungsi Neuromuskuler 11. Auskultasi TD pada kedua lengan dan
13. Kerusakan persepsi/kognitif bandingkan
14. Perlukaan pada jaringan syaraf
tulang belakang 12. Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
15. Imaturitas Neurologis selama, dan setelah aktivitas
13. Monitor kualitas dari nadi
14. Monitor frekuensi dan irama
pernapasan
15. Monitor suara paru
16. Monitor pola pernapasan abnormal
17. Monitor suhu, warna, dan kelembaban
kulit
18. Monitor sianosis perifer
19. Monitor adanya cushing triad (tekanan
nadi yang melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
20. Identifikasi penyebab dari perubahan
vital sign

4 Resiko infeksi Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai
selama 3x 24 jam diharapkan kondisi klien pasien lain
Definisi : Peningkatan resiko memenuhi kriteria hasil :
2. Pertahankan teknik isolasi
masuknya organisme patogen
1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi 3. Batasi pengunjung bila perlu
Faktor-faktor resiko : 2. Mendeskripsikan proses penularan
penyakit, factor yang mempengaruhi 4. Instruksikan pada pengunjung untuk
1. Prosedur Infasif
penularan serta penatalaksanaannya, mencuci tangan saat berkunjung dan
2. Ketidakcukupan pengetahuan untuk
setelah berkunjung meninggalkan
menghindari paparan patogen
3. Menunjukkan kemampuan untuk pasien
3. Trauma
mencegah timbulnya infeksi
4. Kerusakan jaringan dan 5. Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci
peningkatan paparan lingkungan 4. Jumlah leukosit dalam batas normal tangan
5. Ruptur membran amnion
5. Menunjukkan perilaku hidup sehat 6. Cuci tangan setiap sebelum dan
6. Agen farmasi (imunosupresan)
sesudah tindakan kperawtan
7. Malnutrisi
8. Peningkatan paparan lingkungan 7. Gunakan baju, sarung tangan sebagai
patogen alat pelindung
9. Imonusupresi
8. Pertahankan lingkungan aseptik selama
10. Ketidakadekuatan imum buatan
pemasangan alat
11. Tidak adekuat pertahanan
sekunder (penurunan Hb, Leukopenia, 9. Ganti letak IV perifer dan line central
penekanan respon inflamasi) dan dressing sesuai dengan petunjuk
12. Tidak adekuat pertahanan tubuh
primer (kulit tidak utuh, trauma umum
jaringan, penurunan kerja silia, cairan
10. Gunakan kateter intermiten untuk
tubuh statis, perubahan sekresi pH,
menurunkan infeksi kandung kencing
perubahan peristaltik)
13. Penyakit kronik 11. Tingktkan intake nutrisi
12. Berikan terapi antibiotik bila perlu

Infection Protection (proteksi terhadap


infeksi)

1. Monitor tanda dan gejala infeksi


sistemik dan lokal
2. Monitor hitung granulosit, WBC
3. Monitor kerentanan terhadap infeksi
4. Batasi pengunjung
5. Saring pengunjung terhadap penyakit
menular
6. Partahankan teknik aspesis pada pasien
yang beresiko
7. Pertahankan teknik isolasi k/p
8. Berikan perawatan kuliat pada area
epidema
9. Inspeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan, panas, drainase
10. Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
11. Dorong masukkan nutrisi yang cukup
12. Dorong masukan cairan
13. Dorong istirahat
14. Instruksikan pasien untuk minum
antibiotik sesuai resep
15. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan
gejala infeksi
16. Ajarkan cara menghindari infeksi
17. Laporkan kecurigaan infeksi
18. Laporkan kultur positif

5 Intoleransi aktivitas b/d curah jantung Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Observasi adanya pembatasan klien
yang rendah, ketidakmampuan selama 3x 24 jam diharapkan kondisi klien dalam melakukan aktivitas
memenuhi metabolisme otot rangka, memenuhi kriteria hasil :
2. Dorong anal untuk mengungkapkan
kongesti pulmonal yang menimbulkan 1. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa
disertai peningkatan tekanan darah, nadi perasaan terhadap keterbatasan
hipoksinia, dyspneu dan status nutrisi
yang buruk selama sakit dan RR 3. Kaji adanya factor yang menyebabkan
2. Mampu melakukan aktivitas sehari hari kelelahan
Intoleransi aktivitas b/d fatigue (ADLs) secara mandiri
4. Monitor nutrisi dan sumber energi
Definisi : Ketidakcukupan energu
tangadekuat
secara fisiologis maupun psikologis
untuk meneruskan atau menyelesaikan 5. Monitor pasien akan adanya kelelahan
aktifitas yang diminta atau aktifitas fisik dan emosi secara berlebihan
sehari hari. 6. Monitor respon kardivaskuler terhadap
aktivitas
Batasan karakteristik :
7. Monitor pola tidur dan lamanya
a. melaporkan secara verbal adanya
tidur/istirahat pasien
kelelahan atau kelemahan.
b. Respon abnormal dari tekanan
darah atau nadi terhadap aktifitas
Activity Therapy
c. Perubahan EKG yang menunjukkan
aritmia atau iskemia 1. Kolaborasikan dengan Tenaga
d. Adanya dyspneu atau Rehabilitasi Medik dalammerencanakan
ketidaknyamanan saat beraktivitas. progran terapi yang tepat.
2. Bantu klien untuk mengidentifikasi
Faktor factor yang berhubungan : aktivitas yang mampu dilakukan

1. Tirah Baring atau imobilisasi 3. Bantu untuk memilih aktivitas


2. Kelemahan menyeluruh konsisten yangsesuai dengan
kemampuan fisik, psikologi dan social
3. Ketidakseimbangan antara suplei
oksigen dengan kebutuhan 4. Bantu untuk mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber yang diperlukan
4. Gaya hidup yang dipertahankan. untuk aktivitas yang diinginkan
5. Bantu untuk mendpatkan alat bantuan
aktivitas seperti kursi roda, krek
6. Bantu untu mengidentifikasi aktivitas
yang disukai
7. Bantu klien untuk membuat jadwal
latihan diwaktu luang
8. Bantu pasien/keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan dalam
beraktivitas
9. Sediakan penguatan positif bagi yang
aktif beraktivitas
10. Bantu pasien untuk mengembangkan
motivasi diri dan penguatan
11. Monitor respon fisik, emoi, social dan
spiritual

7 Cemas b/d penyakit kritis, takut NOC : NIC :


kematian atau kecacatan, perubahan
peran dalam lingkungan social atau 1. Anxiety control 1. Anxiety Reduction (penurunan
ketidakmampuan yang permanen. 2. Coping kecemasan)
2. Gunakan pendekatan yang
3. Impulse control
Definisi : menenangkan
Perasaan gelisah yang tak jelas dari Kriteria Hasil :
3. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
ketidaknyamanan atau ketakutan yang
pelaku pasien
disertai respon autonom (sumner tidak 1. Klien mampu mengidentifikasi dan
spesifik atau tidak diketahui oleh mengungkapkan gejala cemas 4. Jelaskan semua prosedur dan apa yang
individu); perasaan keprihatinan 2. Mengidentifikasi, mengungkapkan dan dirasakan selama prosedur
disebabkan dari antisipasi terhadap menunjukkan tehnik untuk mengontol 5. Pahami prespektif pasien terhdap situasi
bahaya. Sinyal ini merupakan cemas stres
peringatan adanya ancaman yang akan
datang dan memungkinkan individu 3. Vital sign dalam batas normal 6. Temani pasien untuk memberikan
untuk mengambil langkah untuk 4. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa keamanan dan mengurangi takut
menyetujui terhadap tindakan tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan 7. Berikan informasi faktual mengenai
Ditandai dengan
1. Gelisah berkurangnya kecemasan diagnosis, tindakan prognosis
2. Insomnia
8. Dorong keluarga untuk menemani anak
3. Resah
4. Ketakutan 9. Lakukan back / neck rub
5. Sedih
10. Dengarkan dengan penuh perhatian
6. Fokus pada diri
7. Kekhawatiran 11. Identifikasi tingkat kecemasan
8. Cemas
12. Bantu pasien mengenal situasi yang
menimbulkan kecemasan
13. Dorong pasien untuk mengungkapkan
perasaan, ketakutan, persepsi
14. Instruksikan pasien menggunakan
teknik relaksasi
15. Barikan obat untuk mengurangi
kecemasan

4. Implementasi

Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah di susun pada tahap perencanaan.
Ukuran intervensi keperawatan yang diberikan kepada klien terkait dengan dukungan, pengobatan, tindakan untuk memperbaiki
kondisi, pendidikan untuk klien-keluarga, atau tindakan untuk mencegah masalah kesehatan yang muncul dikemudian hari.
Untuk kesuksesan pelaksanaan implementasi keperawatan agar sesuai dengan rencana keperawatan, perawat harus
mempunyai kemampuan kognitif (intelektual), kemampuan dalam hubungan interpersonal, dan keterampilan dalam melakukan
tindakan. Proses pelaksanaan implementasi harus berpusat kepada kebutuhan klien, faktor-faktor lain yang mempengaruhi
kebutuhan keperawatan, strategi implementasi keperawatan, dan kegiatan komunikasi
5. Evaluasi
a. Pasien tidak mengalami nyeri
b. Gangguan mobilitas fisik teratasi
c. Pasien menunjukkan pengetahuan tentang proses penyakit
d. Klien kecemasan teratasi
DAFTAR PUSTAKA

Davey, Patrick, 2006. At a Glance Medicine, Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal; 89

Ganong, William F. 2003. A Lange Medical Book: Review of Medical Physiology -


21st Edition, USA: McGraw-Hill Companies, Inc.

Guyton, Arthur C., and John E. Hall. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi ke-
9. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Harrison, T.R. 2005. Harrison’s Principles of Internal Medicine 16th edition, USA: The
Mac Graw-Hill Companies. Mansjoer, Arif, dkk., ed. 2005. Kapita Selekta
Kedokteran jilid 1 edisi ke-3 . Jakarta: Media Aesculapius.

NANDA. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &


NANDA NIC-NOC: Jilid 2. Jogjakarta: Mediaction.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)., 2003. Penyakit Paru Obstruktif Kronik
(PPOK): Pedoman diagnostic dan Penatalaksanaan di Indonesia.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
(Definisi dan Indikator Diagnostik). Jakarta Selatan: DPP PPNI

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (Definisi
dan Tindakan Keperawatan). Jakarta Selatan: DPP PPNI
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (Definisi
dan Kriteria Hasil Keperawatan). Jakarta Selatan: DPP PPNI

West, John B., 2003. Pulmonary Pathophysiology, The Essential Sixth Edition. USA:
Lippincott Williams & Wilkins, a Wolters Kluwers Company.