Anda di halaman 1dari 16

BEDAH ANAK

1. Bayi L 5 hari dengan usus keluar dari lubang pada dinding perut sebelah kanan
umbilikus “gastroskisis”. Sebutkan 3 masalah utama pada pasien diatas.
a. Kehilangan air evaporasi secara nyata akibat rongga abdomen yg terbuka dan gangguan
penyerapan  dehidrasi, gangguan elektrolit, gangguan nutrisi
b. Infeksi dan iritasi karena usus yg terpapar di luar abdomen
c. Suhu Tubuh Rendah (hipotermi)
Bedanya dengan omfalocele : omfalocele memeiliki selaput tipis transparant. Lokasinya di
umbilicus. Berasosiasi dengan anomaly. 3 masalah utama : dehidrasi, infeksi, hipotermi.
Trias of death  hipotermi, gangguan koagulasi, asidosis
2. Pasien anak perempuan usia 2 tahun dengan BAB darah lendir sejak 3 hari, awalnya
pasien nyeri perut hilang timbul kemudian perut kembung dan disertai muntah-
muntah berisi makanan yang dikonsumsi sejak 1 hari yang lalu muntah hijau
(pengeluaran meconium terlambat (>24 jam pertama), konstipasi. RT: ada kotoran stlh RT
dan kembung hilang. Tonus spingter ani normal + BAB menyemprot)
a. Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis
a. Foto polos abdomen : Terlihat tanda-tanda obstruksi  herring bone sign, air fluid
level (+), terdapat udara bebas didaerah diafragma/lateral pada foto 3 posisi (LLD)
b. Barium enema (jk tdk ada tanda2 enterokolitis): daerah transisi lumen sempit ke
daerah yang melebar
c. Lab: darah lengkap, elektrolit
d. Anorektal manometri
e. Biopsy
b. Kemungkinan diagnosis  Hirchprung disease  tidak adanya ganglion parasimpatis pd
lapisan submucosal (Meissner) dan muskularis (aurbach). Khas : BAB menyemprot saat
RT, meconium kehitaman dan terlambat >24 jam, perut kembung
c. Terapi pasien
a. Dekompresi (NGT no 8/10/12)
b. Resusitasi cairan mengatasi dehidrasi dan gangguan elektrolit
c. Nutrisi Parenteral
d. Rectal washing
e. Bedah (colostomy sementara untuk dekompresi kolon, kemudian dilakukan
tindakan operasi definitif seperti pull-through atau Duhamel)

3. Seorang anak 2 th, dengan benjolan disertai rasa nyeri


a. Sebutkan 3 differential diagnosis pada pasien diatas
Torsio testis
Orchitis
Hernia inkarserata
b. Sebutkan 4 kelaianan organ yang sering menyertai Anorektal Malformasi
(VACTERL)
- Vertebra defect
- Anal atresia
- Cardiac defect
- Trakeoesofageal fistel
- Esofagus atresia
- Renal abnormality
- Limb defect

4. Pasien bayi datang dengan muntah hijau, kotoran bercampur lender warna merah,
ada USG.
Intususepsi:
a. Etio : peralihan diet cair ke padat; enteritis adanya peristaltic usus yg kuat; gastroenteritis
akut pd bayi akibat rotavirus
b. Tanda dan gejala : bayi tiba tiba nangis, muntah, defekasi ada darah segar dan lender (red
currant jelly)
c. Pemfis : massa yang biasnaya memanjang dgn batas jelas. Colok dubur : pseudoportio
d. PP : barium enema = cupping dan coiled spring appearance; leukositosis. Pada USG
tampak doughnut sign.
e. DD : gastroenteritis, diverticulum Meckel, disentri amoeba, enterokolitis, prolapse recti
f. Terapi : dekompresi (NGT) dan cegah aspirasi (sonde lambung)
Rehidrasi
Penenang untuk menahan sakit
Reposisi : reposisi hidrostatik, reposisi pneumostati, reposisi operatif

BEDAH ONKO
1. Perempuan 25 tahun datang ke poli bedah dengan keluhan payudara kanan bengkak
sejak 2 hari yang lalu, payudara kanan berwarna kemerahan, padat dan terasa nyeri.
Pasien juga sedang menyusui bayinya dan lebih sering menyusui dengan payudara kiri.
Penyebab : stasis ASI dan infeksi (staph. Aureus, Escherichia coli)’
a. Apa diagnosis klinis pasien (mastitis payudara kanan). Mastitis : peradangan 1/lebih
segmen payudara dgn/tanpa infekso
b. Jelaskan management pasien diatas.
Pemberian antibiotik 10-14 hari  cefixime 2x100mg
Kompres hangat atau dingin sesuai kenyamanan pasien
Pemberian analgetik
Lanjutkan menyusui dengan kedua payudara secara bergantian
Konseling suportif  banyak beristirahat, minum banyak air, hindari penggunaan bra yang
terlalu ketat, berikan asi hingga terasa kosong pada payudara, pastikan posisi benar saat
menyusui agar tidak luka
Pengeluaran ASI dengan efektif

2. Perempuan 20 tahun datang ke poli bedah mengeluh benjolan payudara kiri sejak 5
tahun yang lalu, benjolan membesar perlahan kira-kira sebesar kelereng. Bisa
digerakkan tanpa disertai nyeri
1. diagnosis klinis
a. fibroadenoma sinistra (tumor jinak yg dibentuk oleh jaringan fibrous stroma dan
proliferasi epitel lobules)
jenis : multiple fam (>5tumor), giant fam (>5cm), juvenile fam (pd usia remaja dan
tumbuh sgt pesat)
pemeriksaan penunjang : USG dan FNAB
2. Terapi
a. Konservatif (tidak memiliki riwayat keluarga mengalami kanker payudara ataupun
kanker lainnya)
b. Eksisi tumor (ukuran tumor >4 cm). disebut eksisi jika <5cm, jika >5cm namanya
insisi.

3. Sebutkan faktor faktor resiko kanker payudara


Jawaban:
Faktor resiko yg tidak dapat diubah
1. Usia (semakin tua semakin meningkat resikonya)
2. Riwayat menstruasi (menarche awal, menopasue lambat)
3. Riwayat keluarga dengan kanker payudara dan kanker ovarium
4. Riwayat operasi tumor payudara jinak (ADH, florid, papiloma)
5. Riwayat operasi kanker ovarium ( pada usia muda)
Faktor resiko yang dapat diubah
1. Paritas (nullipara)
2. Usia melahirkan anak pertama “aterm” > 35 tahun
3. Riwayat tidak laktasi (sedikit meningkat resiko)
4. Obesitas dan konsumsi lemak tinggi
5. Merokok
6. Penggunaan obat-obat hormonal (pil KB, HRT) jangka panjang
7. Riwayat radiasi didaerah dada/ payudara pada usia muda (radiasi pada HL,NHL)

4. Sebutkan dan jelaskan pencegahan kanker payudara


- Melakukan SADARI secara rutin (dilakukan 7 hari setelah menstruasi terakhir)
- Menjaga berat badan tetap ideal
- Makan makanan sehat  antioksidan tinggi
- Hindari makan-makanan yang berkadar lemak tinggi
- Olahraga teratur
- Hentikan / jangan merokok
- Membatasi minuman beralkohol / stop
- Menyusui bayi secara teratur
- Hindari terkena paparan radiasi
- Menggunakan alat kontrasepsi dengan IUD

BEDAH PLASTIK
1. Pasien laki laki 28 tahun datang ke ugd dengan keluhan luka bakar pada wajah, leher,
dada, dan kedua lengan setelah terkena ledakan gas elpiji di ruang tertutup. Luas luka
bakar 30% TBSA. BB 60kg.
a. sebutkan tanda tanda trauma inhalasi.
1. Luka bakar mengenai wajah dan atau leher.
2. Suara serak.
3. Alis mata dan bulu hidung hangus terbakar.
4. Adanya timbunan karbon dan tanda peradangan akut orofaring
5. Sputum yang mengandung karbon atau arang
6. Riwayat gangguan mengunyah dan atau terkurung dalam api
7. Luka bakar kepala dan badan akibat ledakan.
8. Kadar karboksihemoglobin lebih dari 10% setelah berada di tempat kebakaran.
b. Pembagian luas luka bakar berdasarkan role of nine
- Kepala dan leher : 9% Total : 100%
- Badan anterior : 18%
- Badan posterior : 18%
- Ekstremitas superior D : 9%
- Ektremitas superior S : 9%
- Ektremitas inferior D : 18%
- Ektremitas Inferios S : 18%
- Genitalis : 1%

c. Menggunakan rumus baxter 4 cc x Luas luka bakar x Berat badan


4cc x 30% TBSA x 60 kg = 7200 cc
- 8 jam pertama setelah kejadian diberikan ½ dari total resusitasi : 3600 cc
- 16 jam kedua diberikan ½ total resusitasi : 3600 cc

2. Gambar anak dengan palatum dan alveolar terdapat kelainan


Diagnsos : Labioschisis
Syarat operasi : cheiloraphy. Ten rules  umur > 10 minggu, Berat badan > 10 pon, Hb >
10, Leukosit < 10.000
Komplikasi :
- Gangguan bicara dan pendengaran
- Aspirasi
- Distress pernafasan
- Resiko infeksi sal nafas
- Gang pertumbuhan rahang
- Gang tumbuh kembang
Terapi :
-pemberian nutrisi yg adekuat
-mencegah komplikasi
-fasilitas tumbuh kembang
-operasi (cheiloraphy dan palatoraphy (untuk usia 10-12 bulan) = pada labiopalatoskisis)

Labiopalatoskisis : celah pd bibir, gusi, dan palatum.

3. Pasien laki 21 tahun datang keluhan nyeri pada rahang bawah dan sulit membuka mulut
setelah mengalami kecelakaan lalu lintas 30 menit sebelum MRS. Riwayat pingsan (+)
GCS 15 vital sign stabil, klinis didapatkan maloklusi (+) unstable mandibula daerah
incisivus dan caninus kanan
a. Bagaimana penanganan pasien diatas
Primary dan secondary survey
Fiksasi dengan kawat intradental
ORIF miniplate
b. Pemeriksaan penunjang apa yang diperlukan untuk pasien ini
Foto Rontgen Waters
CT scan dengan 3D
c. Apa kemungkinnan diagnosis pasien yang ada
Fraktur mandibular

4. Fraktur Maksilofacial
(os maksila, os zygomaticus, os ethmoid)
a. Kalsifikasi (Le Fort)
I : Fraktur transversus melalui lantai rongga maksila di atas gigi. Memisahkan prosesus
alveolaris, palatum, dan prosesus pterygoid, dari struktur diatasnya
II: fraktur membentuk piramida. Garis fraktur diagonal, dari lempeng pterygoid melewati
maksila-ke tepi inferior orbita-ke sisi medial orbita-mencapai hidung. Alveolus maksila,
dinding medial orbita dan hidung terpisah sndiri.
III : fr yg melewati sutura zygomatikofrontalis – dasar orbita – sutura nasofrontalis. Tulang
wajah terpisah dari cranium.
b. Klinis : muka asimetris, udem, hematoma, trismus, nyeri spontan, maloklusi. Muka
tampak bengkak. Fr ini umumnya bilateral, ingus berdarah, mata tertutup krn hematoma,
gang kesadaran.
c. PP : foto waters dan CT scan 3D
d. Tx : ORIF

BEDAH UROLOGI

1. Seorang pria berusia 32 tahun tiba tiba merasa sangat sakit dipinggang kiri. Lima menit
kemudian, rasa sakit berkurang tetapi terasa masih tidak nyaman dan memutuskan
untuk pergi ke rumah sakit. Sementara dalam perjalanan ke rumah sakit, sakit
pinggangnya bertambah keras mulai merasa mual dan rasa sakitnya menyebar ke perut
kiri bagian bawah dan penis. Pemeriksaan fisik pinggang kiri, nyeri ketok ringan. Data
laboratorium urinalisis hanya ada eritrocyturia (hematuria mikroskopis), sedangkan
darah lengkap dan test fungsi ginjal (BUN, SC, dan eLFG) pada saat ini hasilnya normal.
Hasil pemeriksaan penunjang radiologi pada gambar 2

Pernyataan
1. Sebutkan paling tidak masing-masing satu kelainan yang tampak pada pemeriksaan
penunjang radiologi BOF dan USG
2. Sebutkan diagnosis utama dan komplikasi pasien ini
3. Sebutkan apa terapi pada pasien ini
4. Kapan pasien ini harus dirujuk ke dokter spesialis urologi
5. Bagaimana prognosis pasien ini
Jawaban.
1. BOF: Tampak bayangan radioopak yang terproyeksi setinggi para vertebra thorakal
USG: Tampak acoustic shadow, bayangan hiperekoik pada pole bawah dengan ukuran
sebesar 1 x 1/4 cm, hidronephrosis (jika batu pada pyelum).
2. Nefrolithiasis dd/ uretherolithiasis, komplikasi: obstruksi : hidrourether,
hidronephrosis, infeksi : sistitis, pionefrosis, urosepsis, gagal ginjal akut dan kronik.
3. nefrolithotomy (PNL atau uretherolithotomy), Pemasangan DJ STENT jika batu
urether.
4. Apabila ukuran batu > 5 mm
Batu pada saluran kemih proksimal
Terjadi infeksi berulang
Selama pengamatan batu tidak turun
5. Prognosis : Baik
98% batu <5mm dapat keluar sendiri

2. Laki-laki 68 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan buang air kecil seret sejak 6 bulan
terakhir, sering mengedan dan tidak lampias setelah selesai kencing. Tidak ada riwayat
hematuria atau keluar batu saat BAK. Pertanyaan
1. Anamnesis tambahan apalagi yng diperlukan untuk menegakkan diagnosis dan DD
LUTS obstruksi : hesitancy, intermittency, incomplete emptying, abdominal
dribbling
LUTS iritatif : frekuensi, nokturia, urgensi, disuria
2. Pemeriksaan fisik apa yang utama dan bagaimana deskripsinya
a. Pemeriksaan fisik ginjal  inspeksi (massa), palpasi (bimanual palpasi
ballotment, nyeri tekan CVA), perkusi  nyeri ketok CVA
b. Pemeriksaan fisik suprapubik  inspeks (massa, melihat adanya distensi buli-buli
akibat retensio urin), palpasi  VU teraba/tidak (normalnya tidak teraba), nyeri
tekan
c. Pemeriksaan genitalia eksterna  inspeksi (sirkumsisi/tidak, fimosis, meathal
bleeding, smegma), palpasi
d. Pemeriksaan colok dubur  Tonus sfingter ani (TSA), mukosa licin, sulkus
medianus (cekung  normal, datar  BPH sedang, cembung  BPH berat), pole
atas teraba atau tidak, nodul teraba/tidak
3. Apa kemungkinan diagnosisnya
a. Pembesaran prostat suspek jinak
i. Batu buli-buli
ii. Striktur urethra
iii. Batu urethra
4. Bagaimana manajemen penderita diatas
 BPH ringan  watchful waiting
 BPH sedang  medikamentosa dengan 5alpha reductase inhibitor (Harnal)
 BPH berat  medikamentosa kombinasi 5 alpha reductase inhibitor dan
alphablocker (Harnal + Avodart)
 Indikasi operasi  BPH dengan site of obstruction, BPH dengan komplikasi (batu,
keganasan), BPH gagal medikamentosa
5. Kapan penderita diatas dirujuk ke spesialis urologi  jika terdapat indikasi operasi dan
BPH dengan penyakit penyulit
3. Pria 58 tahun mengeluh gangguan berkemih, frekuensi, hesitensi, pancaran kencing
lemah, nokturia, dan rasa berkemih tidak tuntas lebih dari 2 tahun. Keluhan bertambah
berat dan membangunkan pasien di malam hari 3-4 kali riwayat medis masa lalu, tidak
pernah ada ISK, pemeriksaan RT prostat kenyal dan membesar, lab urinalisis, darah
lengkap, fungsi ginjal (BUN, SC, eLFG) pada saat ini hasilnya normal. Pada pemeriksaan
radiologi ditemukan gambar
1. Sebutkan paling tidak masing-masing satu kelainan yang tampak pada BOF, USG, IVP
 BOF  vesikolithiasis (BPH mengakibatkan stasis urine)
 USG  volume prostat membesar >20ml, dapat tampak batu pada vesika urinaria
 IVP  terdapat batu ginjal
2. Sebutkan diagnosis utama dan komplikasi pasien ini
Diagnosis utama  BPH
Komplikasi  LUTS, vesikolithiasis
3. Sebutkan terapi pasien ini
BPH ringan  watchful waiting
BPH sedang  medikamentosa dengan 5alpha reductase inhibitor (Harnal)
BPH berat  medikamentosa kombinasi 5 alpha reductase inhibitor dan alphablocker
(Harnal + Avodart)
Indikasi operasi  BPH dengan site of obstruction, BPH dengan komplikasi (batu,
keganasan), BPH gagal medikamentosa
4. Apakah pasien ini harus dirujuk spesialis urologi  jika terdapat indikasi operasi dan BPH
dengan penyakit penyulit
5. Bagaimana prognosis pada pasien ini  dubia ad bonam

BEDAH TRAUMA
1. Pasien dengan adanya kecurigaan perdarahan intra abdomen post trauma dengan
kondisi pasien stabil dapat dilakukan pemeriksaan FAST (Focused Assessment
Sonography in Trauma) ada beberapa lokasi yang mesti diperiksa untuk mengetahui luas
perdarahan yaitu
- Fossa Hepatorenal
- Fossa Splenorenal
- Pelvic cavum douglas
- Paravesika
- Ruang perikardium

2. Pemeriksaan Klinis shock secara dini pada pasien trauma


- Vital sign : TD (hipotensi), RR (meningkat), HR (takikardia), Temp (menurun), GCS
menurun
- CRT >2detik, akral dingin
3. Tanda klasik adanya Tamponade jantung pada pasien trauma thorax adalah trias beck
yaitu.
1. Klinis suara jantung menjauh
2. Peningkatan tekanan vena jugularis
3. Penurunan tekanan nadi (hipotensi)

4. Urutkan tahapan tahapan yang benar dalam melakukan intraoseus procedure


a. Siapkan alat (abocath dan spuit)
b. Menentukan tempat pungsi
c. Meletakkan padding dibawah lutut
d. Tindakan asepsis dan drapping dengan doek steril
e. Injeksi lidokain
f. Keluarkan stiller dan sambungkan dengan spuit
g. Dengan sudut 90 masukkan jarum dan aspirasi sumsum tulang
h. Sambungkan dengan infus set

BEDAH DIGESTIVE
1. Sebutkan dan jelaskan pemeriksaan fisik pada pasien dengan keluhan nyeri perut kanan
bawah
Rebound / Blumberg : nyeri lepas tekan -> akibat iritasi peritoneum
Dunphy sign : penigkatan nyeri saat batuk
Rovsing sign : nyeri perut kanan bawah saat palpasi perut kiri bawah
Psoas sign : nyeri kuadran kanan bawah saat ekstensi panggul kanan
Obturator sign : nyeri kuadran kanan bawah saat rotasi panggul kanan
Mc Burney : nyeri tekan pada kuadran kanan bawah
Straight leg raising sign : nyeri saat ditekan pada area right illiac fossa dan menaikan kaki

2. Seorang perempuan usia 30 tahun datang dengan keluhan ada benjolan pada bekas
operasi SC, riwayat SC 2 bulan yang lalu. Pemeriksaan fisik: teraba defek pada bekas
operasi. Sebutkan diagnosis dan penanganannya
DX: Hernia ventralis/insisional
Penanganannya: herniotomi dan hernioplasty

3. Pasien datang dengan keluhan sulit menelan nasi sejak 1 bulan lalu, makan cair masih
bisa dan suara parau riwayat penurunan berat badan (+) sejak kesulitan menelan,
pertanyaan
a. Sebutkan Diagnosis DD pemeriksaan penunjang dan penanganan
DX : Akalasia esophagus
DD : Skleroderma
Striktura esophagus
Penunjang : esofagografi dan endoskopi
Penatalaksanaan : pembedahan  dilatasi balon
esofagomiotomi

BEDAH THORAX KARDIOVASKULAR


1. Pasien laki-laki usia 54 tahun datang dengan keluhan nyeri dada bagian kiri dan sesak
nafas setelah KLL motor 3 jam SMRS RR 24x/m diberi oksigen 8 lpm didapatkan hasil
pemeriksaan chest x-ray sebagai berikut
Apa asssesment pasien tersebut
a. Hemato/pneumothorax
b. Fraktur multipel tulang iga multipel kiri belakang
Apa rencana tindakan selanjutnya
a. Oksigen 8-12 lpm dengan facemask
b. Analgesik kuat
c. Jika ada hemato/pneumothorax  pasang WSD
d. Kalau perlu diberikan internal fiksasi tulang iga
3K + 1R  kapan chest tube dibuka
Klinis  tidak sesak lagi
Kuantitas  sudah <20ml/24 jam
Kualitas  cairan yang keluar bukan hemorrhagic (mengarah ke serous)
Radiologi  jika ragu dengan 3K lakukan radiologi (tidak ada hemato/pneumothorax)

2. Pasien perempuan berusia 35 tahun datang dengan keluhan sesak nafas sejak 20 hari
yang lalu dan batuk bercampur darah sejak 3 hari SMRS, ada pemeriksaan Chest x-ray
ditemukan sebagai berikut
a. Apa diagnosis pasien berikut  Hematothorax dextra
b. Apa rencana tindakan selanjutnya  thoracostomy WSD
Kapan di thoracotomy ? 3H
 Hematothorax massive  >750ml initial atau >2ml/kg/24 jam
 Hematothorax yang disebabkan trauma tusuk
 Hematothorax yang disebabkan tamponade

3. Pasien laki-laki 1 tahun dikeluhkan kesulitan bernafas yang memberat sejak satu hari
yang lalu, riwayat batuk pilek 3 minggu yang lalu tidak sembuh-sembuh
a. Diagnosis  Pneumothorax
b. Rencana tindakan  Chest tube pada ICS 5/6 midaxillary line bagian anterior

4. Penderita wanita 40th, anak 4 orang. Mengeluh kedua kakinya membengkak dan nyeri
sejak 1 bulan terakhir. Nyeri awalnya hanya dirasakan semakin berat terutama saat
duduk lama atau berdiri lama. Pada pemeriksaan fisik ditemukan gambar seperti
berikut.
a. Sebutkan kelainan apa yang tampak pada gambar foto disebelah  Kelainan pada
pembuluh darah vena saphena yang melebar, berkelok dan manjang.
b. Assesment  CVI  liat CEAP classification
c. Pemeriksaan penunjang  Doppler ultrasound

5. Laki-laki 50 tahun guru, datang dengan keluhan jempol kaki kiri menghitam dan busuk
sejak 1 bulan yang lalu riwayat DM sejak 10 tahun lalu tidak terkontrol obat, kaki terasa
nyeri setiap dipakai berjalan. Sering kesemuatan pada betis tidak ada riwayat demam
a. Apa pemeriksaan fisik yang harus dilakukan
Pemeriksaan fisik:
- Penilaian pulsasi a. femoralis, a. poplitea, a.tibialis posterior, a.dorsalis pedis
- Klasifikasi Wagner:
0 Kulit intak/utuh
1 Ulkus superficial
2 Ulkus dalam (sampai tendon, tulang)
3 Ulkus dalam dengan abses/infeksi
4 Gangren terlokalisasi/sebagian kaki
5 Gangren luas/pada seluruh kaki

Pemeriksaan penunjang: DL, GDP, Kimia darah, xray pedis, HbA1C


Pembedahan : Nekrotomi

BEDAH SARAF
1. Perempuan 60 tahun dirujuk ke RS dengan penurunan kesadaran akibat kecelakaan lalu
lintas 7 jam sebelum MRS dari tanda vital didapatkan tensi 145/85 nadi 102x/m RR 20x/m
Tax 37 celcius pada pemeriksaan neurologis ditemukan GCS 214 pupil isokor 3mm/3mm
refleks cahaya positif. Periorbital ecchymosis, rinorrhea profuse, motoris simetrsi
Apa diagnosis klinis pasien diatas  Cidera kepala berat (GCS 7) curiga e.c. fraktur basis
cranii
Apa diagnosis radiologis pasien diatas  IVH dengan midline shift
2. Laki-laki 24 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas satu jam lalu terlempar dari sepeda
motor dengan kepala membentur aspal, pasien dapat membuka mata dengan rangsang
suara (E3), mengangkat tangan dan kaki sesuai perintah (M6), mampu berbicara namun
bingung (V4) pada pemeriksaan CT scan didapatkan gambar sebagai berikut
1. Apa diagnosis klinis pasien ini  Cidera kepala Sedang (E3V4M6)
2. Apa kesimpulan CT scan kepala pasien ini  Epidural hematome dengan midline shift 5
mm ke kanan

BEDAH ORTHOPEDI
1. Laki-laki 28 tahun datang ke IGD mengeluh luka pada tungkai kanan dan tidak dapat
digerakkan setelah kecelakaan 1 jam SMRS, pasien mengendarai sepeda motor dan
bertabrakan dari arah depan dengan motor lainnya dan tungkai kanan terbentur pedal
sepeda motor. Riwayat pingsan tidak ada mual muntah (-) tensi nadi normal, dari
pemeriksaan plain photo x ray
a. Bagaimanana pemeriksaan fisik dan assesment pada pasien ini
PRIMARY SURVEY : Stabilkan airway breathing circulation disability
A : Airway + c spine protection
B : Breathing : ventilasi dan oksigenasi
C : Sirkulasi + kontrol Bleeding (pasang kateter untuk balance cairan)
D : Disability
E : Exposure/environment
SECONDARY SURVEY :
i. Look (Edema, vulnus apertum dengan perdarahan aktif/tidak, bone exposed,
deformitas (angulasi, rotasi, shortening), warna kulit (eritema, ekimosis)
ii. Feel : tenderness pada daerah yg dicurigai, penilaian neurovaskular (raba denyut
arteri dorsalis pedis kemudian bandingkan kedua kaki, CRT, suhu, uji kekuatan,
penilaian sensasi), krepitasi
iii. Move : false movement, ROM ankle aktif pasif terbatas karena nyeri
ASSESSMENT : Open fracture cruris dextra
b. Jelaskan kesimpulan gambar x-ray pasien ini
Terdapat diskontinuitas tulang tibia dengan konfigurasi komunitif dan diskontinuitas
tulang fibula dengan konfigurasi oblique (ex baca xray ortho: tampak diskontinuitas pada
distal dari tibia dengan fraktur komplit, konfigurasi oblique dengan angulasi lateral ke
posterior yang merupakan fraktur terbuka)
c. Diagnosis dan terapi
Open fracture tibia fibula dextra grade IIIa
Debridement – reposisi dikuti dengan imobilisasi dengan fiksasi luar
Medikamentosa : parasetamol 3x 500 mg, ketorolac 1x30 mg IM, tetagam 250 IU IM

2. Laki-laki 59 tahun datang ke IGD mengeluh nyeri dan luka pada paha kiri dengan
tampak keluar ujung tulang setelah jatuh kecelakaan lalu lintas satu jam SMTRS pasien
juga mengeluh pasien tidak bisa gerak pasien ditabrak mobil
a. Diagnossi : Open fracture Femur sinistra
b. Kesimpulan X ray : terdapat diskontinuitas tulang femur 1/3 tengah, konfigurasi
kominutif
Terapi : Debridemen – reposisi dikuti dengan imobilisasi dengan fiksasi
luar
Medikamentosa : parasetamol 3x 500 mg, ketorolac 1x30 mg IM,
tetagam 250 IU IM,

3. Pasien laki-laki 79 tahun dirujuk dengan keluhan penurunan kesadaran 4 jam SMRS TD
200/110 mmhg, nadi 124x/m rr 20x/m saat diperiksa px tidak dapat membuka mata
dengan nyeri, mengerang, tidak dapat bicara, fleksi saat stimulus nyeri diberikan. Tubuh
sisi kiri lebih lemah dari kanan, terdapat riwayat hipertensi tidak terkontrol merokok
DM, riwayat penyakit jantung disangkal, kejadian pertama kali.
A. Sebutkan GCS pasien ini  E1V2M3
B. Apa jenis perdarahan intrakranial pada pasien tersebut  ICH
C. Apa diagnosis pasien tersebut  Stroke hemoragik
D. Apa penyebabnya  pecahnya pembuluh darah otak

4. Pasien laki-laki 71 tahun datang dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 1 hari yang
lalu. Pasien tampak bingung sejak jatuh dari tempat tidur 2 bulan lalu, saat jatuh tidak
ada riwayat pingsan, pasien memiliki riwayat atrial fibrilasi sejak 5 tahun lalu. Dengan
pengobatan warfarin, tekanan darah pasien saat diperiksa 160/100 nadi 100 RR 22 saat
diperiksa pasien membuka mata dengan rangsang nyeri, pasien hanya bisa mengucapkan
kata aduh tidak dapat membuat kalimat pasien menarik saat diberikan rangsang nyeri,
terdapat kelemahan tubuh sisi kanan. Pasien diputuskan dilakukan operasi, setelahnya
pasien pulih
a. Sebutkan GCS pasien  E2V3M4
b. Apa diagnosisnya  SH + ICH region
c. Apa nama penanganan operatif pasien ini  trepanasi evakuasi clot

5. Laki-laki 28 tahun datang mengeluh nyeri pergelangan kiri setelah jatuh kecelakaan lalu
lintas 1 jam SMRS, tangan kanan menumpu aspal ttv dbn
A. Bagaimana pemeriksaan fisik dan awal pasien ini  primary survey dan seconday survey
B. Jelaskan gambar x-ray pasien ini  colles fracture
C. Diagnosis apa  CF distal radius sinistra
D. Usulan terapi  ORIF
BEDAH DASAR
1. Sebukan jenis-jenis luka
 Luka memar (contusio), luka lecet (eksoriatum v.), luka robek (v. laceratum), luka sayat
(v. scisum), luka gigitan (v. morsum), luka tusuk (v. ictum), luka tembak (v.
scolopectorum), luka bakar (combustio)
 Luka bersih, luka bersih terkontaminasi, luka terkontaminasi, luka kotor atau infeksi
 Berdasarkan lama waktu penyembuhannya : luka akut dan luka kronis
2. Jelaskan tata cara melakukan primer hecting pada luka
a. Persiapan alat dan bahan :
Hecting set
Duk steril
Benang dermalon uk 3.0, cat gut ukuran 3.0
Mesh
Nacl 0,9 %
Betadin
Lidokain
Spuit 3 cc
Underpad
Kasa steril
Supratul
Hipafix
Handschoon steril
Handschoon non steril
b. Cara
 Cuci tangan dan gunakan handschoon non steril
 Persiapkan alat dan bahan
 Desinfeksi area skitar luka dengan antiseptik
 Ganti dgn handchoon steril
 Berikan anestesi di jaringan luka dengan lidokain
 Lakukan debridement dengan mesh dan pembersihan dengan normal saline
 Pasang duk steril
 Lakukan hecting dengan dermalon 3.0 (non-absorbable). Jika luka dalam dapat
dilakukan penjahitan otot dan mukosa dengan catgut 3.0 (absorbable)
 Tutup dengan sufratul
 Tutup dengan kasa steril dan kemudian hipafix

3. Jelaskan pemasangan NGT


a. Indikasi pemasangan :
 Pasien tidak sadar (koma)
 Pasien karena kesulitan menelan
 pasien keracunan
 pasien muntah darah
 pasien dengan masalah saluran pencernaan atas
 pasien pra atau post op esofagus atau mulut
b. Kontra Indikasi
 pasien memiliki tumor di rongga hidung atau esophagus
 pasien dengan trauma cervical
 pasien dengan fraktur facialis
 pasien yang mengalami cidera serebrospinalis

c. Cara pemasangan
1. Persiapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Perkenalkan diri dan menjelaskan tujuan dan prosedur pemasangan
3. Identifikasi kebutuhan ukuran NGT pasien
4. Cuci tangan dan mengenakan sarung tangan
5. Mengatur posisi pasien dengan sitting posisition in high flower (pada pasien sadar) atau
posisi kepala kebawah dengan sedikit miring kearah kiri dan tidur terlentang (pada px tidak
sadar)
6. Berdirilah di sisi kanan tempat tidur pasien
7. Periksalah dan perbaiki kepatenan jalan napas terlebih dahulu jika terdapat sekret atau
mucus pada pasien, melihat kemungkinan adanya obstruksi atau deformitas untuk
menentukan lokasi terbaik pemasangan NGT.
8. Perkirakan panjang NGT yang direncanakan masuk ke gaster dengan mengukur jarak
lubang hidung-lubang telinga- epigastrum. Beri tanda batas pada selang.
9. Olesi 4cm ujung NGT dengan pelumas jelly steril yang larut air
10. Pasien diinformasikan bahwa akan dimasukan selang melaui hidung dan diinstruksikan
untuk menelan.
11. Tube dimasukan bersamaan dengan saat pasien menelan. Pasien dimita untuk menelan
berulang ulang hingga ngt masuk sampai batas yang telah dibuat sebelummnya
12. Siapkan syringe 10 cc yang telah diisi udara
13. Tempatkan stetoskop di daerah gaster
14. Masukan udara tersebut ke dalam lambung melalui ngt secara cepat sambil mendengarkan
suara stetoskop.
15. Masukan ujung bagian luar selang NGT ke dalam kom berisi air, jika ada gelembung udara
berarti masuk ke dalam paru paru, jika tidak ada gelembung berarti masuk ke dalam
lambung.
16. Fiksasi selang NGT dengan hipapix dan hindari penekanan pada hidung
17. Hubungkan NGT ke botol penampung
18. Lepaskan sarung tangan dan beri tanggal pemasangan NGT

4. Pemasangan KATETER
a. Indikasi pemasangan kateter
Indikasi Diagnostik:
- Mengambil spesimen urin tanpa terkontaminasi
- Monitoring dari produksi urin, sebagai indikator status cairan dan menilai perfusi renal
- Pemeriksaan radiologi saluran kemih
- Diagnosis dari perdarahan saluran kemih, atau obstruksi saluran kemih yang ditandai
dengan kesulitan memasukan kateter
Indikasi Terapi :
- Retensi urin akut
- Obstruksi kronik yang menyebabkan hidronefrosis, serta tidak dapat diperbaiki dengan
obat atau tindakan bedah
- Inkontinensia urin yang tidak tertangani dengan terapi lainnya, yang juga dapat
menyebabkan iritasi pada kulit sekitar kemaluan
- Inisiasi irigasi kandung kemih berkelanjutan
- Dekompresi intermiten pada gangguan kandung kemih neurogenik
- Pemeliharaan kondisi higiene atau sebagai terapi paliatif pada kondisi pasien yang
memerlukan bedrest dalam waktu lama
- Tindakan bedah urologi
b. Langkah-langkah pemasangan:
1. Persiapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Perkenalkan diri dan menjelaskan tujuan dan prosedur pemasangan
3. Minta pasien untuk berbaring telentang
4. Membuka perlengkapan kateter
5. Mencuci bersih tangan dan mengenakan sarung tangan steril
6. Mensterilkan area genital pasien degan desinfektan
7. Lumasi ujung kateter dengan pelumas
8. Jika pasien wanita, tahan labia supaya terbuka lalu masukan kateter ke dalam meatus uretra
9. Jika pasien laki-laki, pegang penis dan masukkan kateter ke dalam lubang uretra
10. Teruskan mendorong sampai percabangan kateter berada di ujung penis
11. Masukan akuabides dengan spuit untuk mengembangkan balon
12. Tarik kateter hingga ada tahanan lalu fiksasi dengan hipapik
13. Hubungkan kateter ke kantong drainase
14. Lepaskan sarung tangan dan beri tanda tanggal pemasangan kateter