Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN

KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


KONJUNGTIVITIS

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat, taufik
dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang
berjudul Laporan Pendahuluan dengan Kasus Tumor Tulang.
Makalah ini diajukan sebagai persyaratan mengikuti bimbingan pada mata kuliah
Keperawatan Medikal Bedah III. Pembuatan makalah ini tidak terlepas bantuan dari berbagai
pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih yang sedalam-
dalamnya kepada yang terhormat :
1. Bapak Dr. H. Yitno, S.Kp., M.Pd., sebagai Ketua STIKes Hutama Abdi Husada
Tulungagung.
2. Ibu Anis Murniati, S. Kep., Ners., M. Biomed. sebagai dosen pengajar pada mata
kuliah Keperawatan Medikal Bedah III, dan sekaligus sebagai dosen pembimbing
tugas kelompok dengan judul Laporan Pendahuluan dengan Kasus Tumor Tulang.
3. Pihak perpustakaan yang telah menyediakan buku penugasan Keperawatan Medikal
Bedah III.
4. Teman-teman yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam
penyelesaian makalah ini.
Makalah yang penulis buat ini masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
penulis miliki kurang. Oleh karena itu, penulis harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan kritik atau pun masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini. Besar harapan penulis, mudah-mudahan makalah ini bermanfaat
bagi para pembaca pada umumnya, dan kelompok pada khususnya.

Tulungagung, 21 Oktober 2019

Tim Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................................................................2

KATA PENGANTAR...............................................................................................................ii

DAFTAR ISI............................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1

1.1 LATAR BELAKANG..................................................................................................1

1.2 RUMUSAN MASALAH............................................................................................1

1.3 TUJUAN......................................................................................................................1

BAB II LAPORAN PENDAHULUAN...................................................................................2

2.1 DEFINISI....................................................................................................................2

2.2 KLASIFIKASI............................................................................................................2

2.3 ETIOLOGI..................................................................................................................2

2.4 MANIFESTASI KLINIS.............................................................................................3

2.5 PATHWAY...................................................................................................................5

2.6 KOMPLIKASI............................................................................................................6

2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG................................................................................6

2.6 PENATALAKSANAAN.............................................................................................7

BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN....................................................................8

3.1 PENGKAJIAN............................................................................................................8

3.2 DIAGNOSA................................................................................................................9

3.3 RENCANA KEPERAWATAN....................................................................................9

3.4 IMPLEMENTASI......................................................................................................14

3.5 EVALUASI................................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................16

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.3 TUJUAN

1
BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN

2.1 DEFINISI

Konjungtivitis adalah peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih


mata dan bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya
berbagai macam gejala, salah satunya adalah mata merah.

Konjungtivitis lebih dikenal sebagai pink eye, yaitu adanya inflamasi


pada konjungtiva atau peradangan pada konjungtiva, selaput bening yang
menutupi bagian berwarna putih pada mata dan permukaan bagian dalam kelopak
mata. (Effendi, 2008).

2.2 KLASIFIKASI

Berdasarkan penyebabnya:

1. Konjungtivitis virus.
Biasanya mengenai satu mata. Pada konjungtivitis ini, mata sangat berair. Kotoran
mata ada, namun biasanya sedikit.
2. Konjungtivitis bakteri.
Biasanya mengenai kedua mata. Ciri khasnya adalah keluar kotoran mata dalam
jumlah banyak, berwarna kuning kehijauan
3. Konjungtivitis alergi.
Konjungtivitis ini juga mengenai kedua mata. Tandanya, selain mata berwarna
merah, mata juga akan terasa gatal. Gatal ini juga seringkali dirasakan dihidung.
Produksi air mata juga berlebihan sehingga mata sangat berair.
4. Konjungtivitis papiler raksasa.
Adalah konjungtivitis yang disebabkan oleh intoleransi mata terhadap lensa kontak.
Biasanya mengenai kedua mata, terasa gatal, banyak kotoran mata, air mata
berlebih, dan kadang muncul benjolan di kelopak mata.

2.3 ETIOLOGI

Terdapat bermacam-macam agen penyebab konjungtivitis, antara lain:

2
a. infeksi oleh virus atau bakteri ( Staphylococcus sp., Clamydia sp., dan Neisseria
sp.)
b. reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang.
c. iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lainnya; sinar ultraviolet dari las
listrik atau sinar matahari yang dipantulkan oleh salju.
d. pemakaian lensa kontak, terutama dalam jangka panjang, juga bisa menyebabkan
konjungtivitis.

Kadang konjungtivitis bisa berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-


tahun. Konjungtivitis semacam ini bisa disebabkan oleh:

a. Entropionatauektropion
b. Kelainan saluran air mata
c. Kepekaan terhadap bahan kimia
d. Pemaparan oleh iritan
e. Infeksi oleh bakteri tertentu, terutama klamidia. (Medicastore, 2009).

Substansi lain yang dapat mengiritasi mata dan menyebabkan timbulnya


konjungtivitis yaitu bahan kimia (seperti klorin dan sabun) dan polutan udara (seperti
asap dan cairan fumigasi) (Effendi, 2008).

2.4 MANIFESTASI KLINIS

Tanda-tanda konjungtivitis, yakni:

a. Konjungtiva berwarna merah (hiperemi) dan membengkak.


b. Produksi air mata berlebihan (epifora).kelopak mata bagian atas nampak
menggelantung (pseudoptosis) seolah akan menutup akibat pembengkakan.
c. Konjungtiva dan peradangan sel-sel konjungtiva bagian atas.
d. Pembesaran pembuluh darah di konjungtiva dan sekitarnya sebagai
e. Reaksi nonspesifik peradangan.
f. Pembengkakan kelenjar (folikel) di konjungtiva dan sekitarnya.
g. Terbentuknya membran oleh proses koagulasi fibrin (komponen protein).
h. Dijumpai sekret dengan berbagai bentuk (kental hingga bernanah)

3
Konjungtiva yang mengalami iritasi akan tampak merah dan mengeluarkan
kotoran. Konjungtivitis karena bakteri mengeluarkan kotoran yang kental dan berwarna
putih. Konjungtivitis karena virus atau alergi mengeluarkan kotoran yang jernih.
Kelopak mata bisa membengkak dan sangat gatal, terutama pada konjungtivitis karena
alergi. Gejala lainnya adalah:

a. Mata berair
b. Mata terasa nyeri
c. Mata terasa gatal
d. Pandangan kabur
e. Peka terhadap cahaya
f. Terbentuk keropeng pada kelopak mata ketika bangun pada pagi hari

4
2.5 PATHWAY

Infeksius Iritatif (zat kimia, Pemakaian lensa


(virus,bakteri, jamur, Imunologi
suhu, lingkungan, kontak dlm
parasit) (alergi) radiasi, trauma jangka panjang

Menginfeksi konjungtiva

Terjadinya reaksi antigen dan antibodi Fungsi sekresi


kelenjar air
Kurang mata terganggu
Konjungtivitis
informasi

Bingung Lakrimasi ↑
Peradangan Pelebaran ↑ permebilitis
pembuluh sel
darah
Kurang TIO ↑
Mata terasa
pengetahuan
panas
seperti Hyperemia Oedema
terbakar (mata merah) kelopak Tersumbatn
mata ya kanal
schlemen
Nyeri
Gangguan
citra tubuh Iskemik
saraf optic

Ulkus kornea

Gangguan
Terdapat Secret
sensori
mukropurulen
perceptual :
penglihatan

Risiko
penularan
penyakit
5
2.6 KOMPLIKASI
Terdapat beberapa komplikasi dari konjungtivitis antara lain:

a. Glaucoma
b. Katarak
c. Ablasi retina
d. Komplikasi pada konjungtivitis kataral teronik merupakan segala penyulit
e. Dari blefaritis seperti ekstropin, trikiasis
f. Komplikasi pada konjungtivitis purulenta seringnya berupa ulkus kornea
g. Komplikasi pada konjungtivitis membranasea dan pseudomembranasea adalah bila
sembuh akan meninggalkan jaringan perut yang tebal di kornea yang dapat
mengganggu penglihatan, lama- kelamaan orang bisa menjadi buta
h. Komplikasi konjungtivitis vernal adalah pembentukan jaringan sikratik dapat
mengganggu penglihatan.

2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Pemeriksaan Mata
- Pemeriksaan tajam penglihatan
- Pemeriksaan dengan uji konfrontasi, kampimeter dan perimeter (sebagai alat
pemeriksaan pandangan).
- Pemeriksaan dengan melakukan uji fluoresein (untuk melihat adanya efek
epitel kornea).
- Pemeriksaan dengan melakukan uji festel (untuk mengetahui letak adanya
kebocoran kornea).
- Pemeriksaan oftalmoskop
- Pemeriksaan dengan slitlamp dan loupe dengan sentolop (untuk melihat benda
menjadi lebih besar disbanding ukuran normalnya).
b. Therapy Medik
Antibiotic topical, obat tetes steroid untuk alergi (kontra indikasi pada
herpes simplek virus).
c. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan
tersebut dibuat sediaan yang dicat dengan pegecatan gram atau giemsa dapat
dijumpai sel-sel radang polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang disebabkan
alergi pada pengecatan dengan giemsa akan didapatkan sel-sel eosinofil.

6
2.6 PENATALAKSANAAN

1. Konjungtivitis virus biasanya tidak diobati, karena akan sembuh sendiri dalam
beberapa hari. Walaupun demikian, beberapa dokter tetap akan memberikan larutan
astringen agar mata senantiasa bersih sehingga infeksi sekunder oleh bakteri tidak
terjadi dan air mata buatan untuk mengatasi kekeringan dan rasa tidak nyaman di
mata.
2. Obat tetes atau salep antibiotik biasanya digunakan untuk mengobati konjungtivitis
bakteri. Antibiotik minum juga sering digunakan jika ada infeksi di bagian tubuh
lain. Pada konjungtivitis bakteri atau virus, dapat dilakukan kompres hangat di
daerah mata untuk meringankan gejala.
3. Tablet atau tetes mata antihistamin cocok diberikan pada konjungtivitis alergi.
Selain itu, air mata buatan juga dapat diberikan agar mata terasa lebih nyaman,
sekaligus melindungi mata dari paparan alergen, atau mengencerkan alergen yang
ada di lapisan air mata.
4. Untuk konjungtivitis papiler raksasa, pengobatan utama adalah menghentikan
paparan dengan benda yang diduga sebagai penyebab, misalnya berhenti
menggunakan lensa kontak. Selain itu dapat diberikan tetes mata yang berfungsi
untuk mengurangi peradangan dan rasa gatal di mata.

7
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 PENGKAJIAN

a. Identitas klien
Meliputi nama, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, suku bangsa,
tanggal, jam masuk RS, nomor registrasi, dan diagnosis medis.
b. Riwayat kesehatan
 Riwayat kesehatan sekarang
Tanyakan apa yang dirasakan sekarang atau keluhan yang di rasakan sekarang.
 Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit serupa
dengan klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau keturunan.
c. Anamnesis
Kaji gejala yang dialami klien sesuai dengan jenis konjungtivitis yang terjadi,
meliputi gatal dan rasa terbakar pada alergi; sensasi benda asing pada infeksi
bakteri akut dan infeksi virus; nyeri dan fotofobia jika kornea terkena; keluhan
peningkatan produksi airmata; pada anak-anak dapat disertai dengan demam dan
keluhan pada mulut dan tenggorok. Kaji riwayat detail tentang masalah sekarang
dan catat riwayat cedera atau terpajan lingkungan yang tidak bersih.
d. Pemeriksaan
Pemeriksaan fisik (inspeksi) untuk mencari karakter atau tanda konjungtivitis
yang meliputi :
1) Hiperemi konjungtiva yang tampak paling nyata pada fornix dan mengurang
kea rah limbus.
2) Kemungkinan adanya secret :
a) Mukopurulen dan berlimpah pada infeksi bakteri, yang menyebabkan
kelopak mata lengket saat bangun tidur.
b) Berair atau encer pada infeksi virus.
c) Edema konjungtiva
d) Blefarospasme
e) Lakrimasi
f) Konjungtiva palpebra (merah,kasar seperti beludru karena ada edema dan
infiltrasi).
g) Konjungtiva bulbi, injeksi konjungtiva banyak, kemosis, dapat ditemukan
pseudo membrane pada infeksi pneumokok.Kadang-kadang disertai
perdarahan subkonjungtiva kecil-kecil baik di konjungtiva palpebral
maupun bulbi yang biasanya disebsbkan pneumokok atau virus.
e. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan laboratorium

8
2) Pemeriksaan visus, kaji visus klien dan catat derajad pandangan perifer klien
karena jika terdapat secret yang menempel pada kornea dapat menimbulkan
kemunduran visus/melihat halo.

3.2 DIAGNOSA

1. Nyeri berhubungan dengan peradangan ditandai dengan rasa panas pada mata
2. Gangguan sensori perseptual berhubungan dengan ulkus kornea yang ditandai
denganadanya sekret purulen.
3. Gangguan konsep diri (body image menurun) berhubungan dengan adanya
perubahan pada kelopak mata (bengkak /edema)
4. Resiko tinggi penularan penyakit pada mata yg lain / pada orang lain
berhubungan dengan terdapatnya secret mukropurulen
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kondisi
prognosis dan pengobatan proses penyakit

3.3 RENCANA KEPERAWATAN

N Hari/ Tgl/ Tujuan atau Rencana


Dx Kep Rasional
o Waktu Kriteria Hasil Keperawatan
1 Nyeri b/d Setelah 1. Kaji tingkat 1. Untuk mengetahui
peradangan diberikan nyeri yang tingat nyeri klien dan
d/d rasa asuhan dialami oleh menentukan intervensi
panas pada keperawatan klien. selanjutnya
2. Ajarkan kepada 2. Untuk meminimalkan
mata diharapkan
klien metode nyeri klien
nyeri klien
distraksi selama
teratasi
nyeri, seperti
dengan
nafas dalam dan
kriteria hasil
teratur. 3. Merupakan suatu cara
:
3. Ciptakan
pemenuhan rasa
 Nyeri
lingkungan tidur
nyaman kepada klien
berkurang yang nyaman,
dengan mengurangi
atau aman dan
stressor yang berupa
terkontrol. tenang.
kebisingan.
4. Menghilangkan nyeri,
4. Kolaborasi
9
dengan tim karena memblokir
medis dalam syaraf penghantar
pemberian nyeri.
analgesic.
2 Gangguan Setelah 1. Pastikan 1. Mempengaruhi
sensori diberikan derajat/tipe harapan masa depan
perseptual asuhan kehilangan pasien dan pilihan
b/d ulkus keperawatan penglihatan intervensi
2. Dorong 2. Sementara intervensi
kornea yang diharapkan
mengekspresi- dini mencegah
d/d adanya penglihatan
kan perasaan kebutaan, pasien
sekret kliean
tentang menghadapi
purulen. kembali
kehilangan/ke- kemungkinan/menga-
normal
mungkinan lami pengalaman
dengan
kehilangan kehilangan penglihatan
kriteria hasil
penglihatan sebagian/total.
:
3. Mencegah penglihatan
 Mengenal 3. Tunjukkan
lebih lanjut
gangguan pemberian tetes
sensori mata, contoh
dan menghitung
berkompe tetesan,
n-sasi mengikuti
terhadap jadwa, tidak
4. Menurunkan bahaya
perubahan salah dosis
keamanan sehubungan
 Mengident 4. Lakukan
dgn perubahan lapang
ifikasi / tindakan untuk
pandang/kehilangan
memper- membantu
penglihatan dan
baiki pasien
akomodasi pupil
potensial menangani
terhadap sinar
bahaya keterbatasan
lingkungan.
dalam penglihatan.
lingku-
ngan
3 Gangguan Setelah 1. Dorong 1. Membantu pasien

10
konsep diri diberikan pengungkapan untuk memulai
(body image asuhan perasaan dan perubahan dan
menurun) b/d keperawatan menerima apa mengurangi rasa malu.
adanya diharapkan yang
perubahan tidak tejadi dikatakannya.
2. Berikan
pada kelopak gangguan 2. Meningkatkan rasa
lingkungan yg
mata konsep diri aman, mendorong
bisa menerima
(bengkak dengan verbalisasi.
keadaan dirinya
/edema) kriteria hasil
3. Diskusikan 3. Persepsi pasien
:
peradangan mengenai perubahan
 Mendemo terhadap citra pada citra diri
n-strasikan diri dan efek mungkin terjadi
respon yang secara tiba-tiba atau
adaptif ditimbulkan dari kemudian.
perubahan penyakit.
konsep
diri.
 Mengeks-
presikan
kesadaran
tentang
perubahan
dan
perkemba-
ngan ke
arah
penerima-
an.
4 Resiko tinggi Setelah 1. Beritahu klien 1. Meminimalkan resiko
. penularan diberikan untuk mencegah penyebaran infeksi.
penyakit asuhan pertukaran
pada mata yg keperawatan sarung tangan,
lain / pada diharapkan handuk dan
orang lain tidak tejadi bantal dgn

11
b/d penyebaran keluarga yang
terdapatnya infeksi lain. Klien
secret dengan sebaiknya
mukropurule kriteria hasil menggunakan
n : tisu, bukan
 Mempu- saputangan dan
nyai tissue ini harus 2. Menghindari
pengeta- dibuang setelah penyebaran infeksi
huan yang pemakaian satu pada mata yang lain
adekuat kali saja dan pada orang lain.
2. Ingatkan klien
tentang
untuk tidak
tindakan
menggosok
pencegahan
mata yg sakit /
penularan 3. Prinsip higienis perlu
 Melakukan kontak
ditekankan pada klien
tindakan sembarangan
untuk mencegah
pencegahan dengan mata
replikasi kuman
3. Beritahu klien
penularan sehinnga penyebaran
tentang tekhnik
penyakit. infeksi dapat dicegah.
 Tidak cuci tangan yg
terjadi tepat. Anjurkan
penularan klien untuk
penyakit mencuci tangan
pada mata sebelum dan
yang lain, sesudah
atau orang melakukan
lain. pengobatan,
gunakan
saputangan /
handuk bersih.
Beritahu klien
4. Mencegah infeksi
untuk
silang pada klien yang
menggunakan
lain.
tetes/salep mata

12
dgn benar tanpa
menyentuhkan
ujung botol
pada mata/bulu
mata klien.
4. Bersihkan alat
yang digunakan
untuk
memeriksa klien
5 Kurang Setelah 1. Kaji tingkat 1. Sebagai dasar
pengetahuan diberikan pengetahuan menentukan
b/d asuhan pasien tentang intervensi.
2. Pasien mendapat
kurangnya keperawatan penyakitnya.
2. Jelaskan pada kejelasan tentang
informasi diharapkan
pasien tentang penyakitnya.
tentang pemenuhan
penyakit
kondisi informasi
konjungtivitis
prognosis klien
(pengertian,
dan terpenuhi
penyebab, dan 3. Pasien mendapat
pengobatan dengan
komplikasi). kejelasan tentang
proses kriteria hasil
3. Jelaskan pada
perawatan di rumah
penyakit :
pasien tentang
setelah pulang dari
 Klien perawatan
rumah sakit.
menyata- penyakit. 4. Agar mata pasien
kan paham 4. Ajurkan tidak kotor
tentang melakukan
kondisi, perawatan mata
prognosis di rumah 5. Berfungsi sebagai
dan dengan vitamin untuk mata
pengoba- dibersihkan
tan. mata setiap hari.
 Dapat 5. Ajurkan pasien
6. Agar pasien mudah
mengiden- mengkonsumsi
mengingat kapan
tifikasi buah dan
waktu kontrol yang
hubungan makan-makan
tepat.

13
tanda / yang bergizi.
6. Berikan catatan
gejala dgn
tertulis waktu
proses
kontrol ulang
penyakit.
setelah sakit.

3.4 IMPLEMENTASI

Pada saat implementasi, perawat harus melaksanakan hasil dari rencana


keperawatan yang di lihat dari diagnosa keperawatan Sesuai dengan situasi/kondisi
pasien. Di mana perawat membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi
kestatus kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang
diharapkan.

3.5 EVALUASI

Hasil yang diharapkan dari pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan
konjungtivitis antara lain :

1. Nyeri klien teratasi


2. Penglihatan kliean kembali normal
3. Tidak tejadi gangguan konsep diri
4. Tidak tejadi penyebaran infeksi
5. Pemenuhan informasi klien terpenuhi

14
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzzane C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Tamsuri, Anas. 2010. Buku Ajar Klien Gangguan Mata dan Penglihatan. Jakarta : EGC
Ilyas, Sidarta dkk. 2002. Ilmu Penyakit Mata Perhimpunan Dokter Spesialis Mata
Indonesia. Jakarta : CV. Sagung Seto
Capernito-Moyet, Lynda Juall. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC.
Marrilyn, Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Ed. III. Jakarta: Media
Aeuscualpius.

15