Anda di halaman 1dari 6

Beriman kepada Kewajiban

Mencintai Sahabat-Sahabat
Rasulullah
Oleh: Abu Bakr Jabir al-Jazairi / Publikasi: Senin, 18 Desember 2006 12:17

Orang Muslim beriman kepada kewajiban mencintai sahabat-sahabat


Rasullullah saw., keluarga beliau, keutamaan mereka atas kaum
Mukminin dan kaum Muslimin yang lain, dan bahwa ketinggian derajat
mereka ditentukan oleh siapa di antara mereka yang paling dahulu
masuk Islam.

Sahabat-sahabat Rasulullah saw. yang paling utama ialah


para khulafaur rasyidin, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Utsman
bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Kemudian disusul sepuluh orang
yang dijamin masuk surga, yaitu keempat khulafaur rasyidin, Thalhah
bin Ubaidillah, Az-Zubair bin Al-Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, Sa'id
bin Zaid, Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah, Abdurrahman bin Auf.
Disusul para sahabat yang ikut perang Badar, kemudian disusul orang-
orang yang dijamin masuk surga selain sepuluh orang di atas, misalnya
Fathimah Az-Zahra', Hasan bin Ali, Husain bin Ali, Tsabit bin Qais,
Bilal bin Rabah, dan lain sebagainya. Kemudian disusul para sahabat
yang ikut menghadiri Baiat Ar-Ridwan yang berjumlah seribu empat
ratus sahabat Radhiyallahu Anhum.

Terhadap sahabat-sahabat Rasulullah saw. dan keluarga beliau, maka


orang Muslim:

1. Mencintai mereka, karena kecintaan Allah Ta'ala, dan kecintaan


Rasulullah saw. kepada mereka. Allah Ta'ala menjelaskan dalam
firman-Nya, "Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang
Allah mencintai mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap
lemah-lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap
keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah,
dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka
mencela." (Al-Maidah: 54).
Tentang sifat mereka, Allah Ta'ala berfirman, "Muhammad
adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia
keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang
sesama mereka." (Al-Fath: 29).

Rasulullah saw. bersabda, "(Takutlah kepada), Allah, (takutlah


kepada) Allah terhadap sahabat-sahabatku, dan jangan jadikan
mereka sebagai bahan tuduhan sepeninggalku. Barangsiapa
mencintai mereka, maka karena kecintaanku, ia mencintai
mereka. Barangsiapa membuat mereka marah, maka karena
kemarahanku, ia membuat mereka marah. Barangsiapa
menyakiti mereka, sungguh ia telah menyakitiku, dan
barangsiapa menyakitiku, sungguh ia telah menyakiti Allah.
Barangsiapa menyakiti Allah, maka tidak lama lagi Allah akan
mengambilnya (menghukumnya)." (Diriwayatkan At-Tirmidzi
dan ia meng-hasan-kan hadits ini).

2. Beriman kepada keutamaan mereka atas kaum Mukminin, dan


kaum Muslimin yang lain, karena firman Allah Ta'ala dalam
pujian kepada mereka, "Orang-orang yang terdahulu lagi yang
pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang Muhajirin
dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada
Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang
mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang
besar." (At-Taubah: 100).
Rasulullah saw. bersabda, "Janganlah kalian mencaci-maki
sahabat-sahabatku, karena jika salah seorang dari kalian
berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud, maka infaknya
tersebut tidak mencapai satu mud (6 ons) mereka atau
setengahnya." (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Abu Daud).

3. Berpendapat bahwa Abu Bakar adalah sahabat Rasulullah saw.


yang paling mulia dibandingkan sahabat-sahabat lainnya,
kemudian disusul Umar bin Khatthab, kemudian Utsman bin
Affan, kemudian Ali bin Abi Thalib, karena dalil-dalil berikut:
Sabda Rasulullah saw., "Jika aku mengambil kekasih dari
umatku, aku pasti mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku,
namun ia adalah saudaraku, dan sahabatku." (Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari).

Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, "Kami pernah


berkata ketika Nabi Muhammad saw. masih hidup, '(Sahabat
terbaik) ialah Abu Bakar, kemudian Umar bin Khaththab,
kemudian Utsman bin Affan, kemudian Ali bin Abi Thalib.'
Ketika hal ini didengar oleh Rasulullah saw., beliau tidak
memungkirinya."

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, "Orang terbaik umat ini setelah
nabinya ialah Abu Bakar, kemudian Umar bin Khaththab. Jika
aku mau, aku sebutkan orang ketiga yaitu Utsman bin
Affan." (Diriwayatkan Al-Bukhari).

4. Mengakui kelebihan-kelebihan para sahabatnya, dan kebaikan-


kebaikan mereka, seperti kebaikan Abu Bakar, Umar bin
Khaththab dan Utsman bin Affan dalam sabda Rasulullah saw.
kepada Gunung Uhud yang gemetar bersama para sahabat yang
berada di atasnya, "Tenanglah engkau Uhud, sesungguhnya di
atasmu terdapat Nabi, Shiddiq (Abu Bakar), dan dua orang
yang syahid (Umar dan Utsman)." (Diriwayatkan Al-Bukhari, At-
Tirmidzi, Abu Daud, dan Ahmad).
Atau seperti kelebihan, dan kebaikan Ali bin Abu Thalib r.a.,
karena sabda Rasulullah saw. kepadanya, "Tidaklah engkau
senang kalau kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun
di sisi Nabi Musa?" (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At-
Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Atau seperti kelebihan Fathimah Radhiyallahu Anha, karena


Sabda Rasulullah saw., "Fatimah adalah wanita terkemuka dari
wanita-wanita penghuni surga." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Atau seperti kelebihan Az-Zubair bin Al-Awwan, karena sabda


Rasulullah saw.,"Sesungguhnya setiap nabi itu mempunyai
hawari (penolong), dan hawariku (penolongku) ialah Az-Zubair
bin Al-Awwam." (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi,
Ibnu Majah, dan Ahmad).

Atau seperti kelebihan Hasan, dan Husain, karena Sabda


Rasulullah saw., "Ya Allah, cintailah keduanya, karena aku
mencintai keduanya." (Diriwayatkan Al-Bukhari, At-Tirmidzi,
dan Ahmad).

Atau seperti kelebihan Abdullah bin Umar Radhiyallahu


Anhuma, karena sabda Rasulullah saw., "Sesungguhnya
Abdullah (bin Umar) adalah orang shalih." (Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari).

Atau seperti kelebihan Zaid bin Haritsah r.a., karena sabda


Rasulullah saw., "Engkau adalah saudara kita dan mantan
budak kita." (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Atau seperti kelebihan Ja'far bin Abu Thalib r.a., karena sabda
Rasulullah saw., "Engkau sangat mirip dengan
perawakanku,dan akhlakku." (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Atau seperti kelebihan Bilal bin Rabah Radhiyallahu Anhu,


karena sabda Rasulullah saw., "Aku mendengar suara sandalmu
di depanku di surga." (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan
Ahmad).

Atau seperti kelebihan Salim, mantan budak Abu Hudzaifah,


Abdullah bin Mas'ud, Ubai bin Ka'ab, dan Muadz bin Jabal,
karena sabda Rasulullah saw., "Hendaklah kalian meminta
pembacaan al-Qur'an kepada empat orang Abdullah bin
Mas'ud, Salim manta budak Abu Hudzaifah, Ubai bin Ka'ab, dan
Muadz bin Jabal." (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Atau seperti kelebihan Aisyah Radhiyallahu Anha, karena sabda


Rasulullah saw., "Kelebihan Aisyah atas seluruh wanita dalah
seperti kelebihan makanan Tsarid (roti yang diremuk dan
direndam dalam kuah) atas semua makanan." (Diriwayatkan Al-
Bukhari).

Atau seperti kebaikan kaum Anshar, karena sabda Rasulullah


saw., "Jika kaum Anshar melewati suatu lembah, atau jalan di
antara dua bukit, aku pasti melewati lembah kaum Anshar. Jika
tidak karena Hijrah, aku pasti menjadi salah seorang dari kaum
Anshar." (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Atau karena sabda Rasulullah saw. tentang kaum Anshar, "Kaum


Anshar, mereka tidak dicintai kecuali oleh orang Mukmin, dan
mereka tidak dibenci kecuali orang munafik. Barangsiapa
mencintai mereka, ia dicintai Allah. Dan barangsiapa membenci
mereka, ia dibenci Allah." (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Atau seperti kebaikan Sa'ad bin Muadz Radhiyallahu Anhu,


karena sabda Rasulullah saw., "Arasy goyah karena kematian
Sa'ad bin Muadz." (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Atau seperti kelebihan Usaid bin Khudhair Radhiyallahu


Anhu ketika ia bersama salah seorang sahabat Rasulullah saw. di
rumah Rasulullah saw. di malam yang gelap gulita. Ketika
keduanya keluar dari rumah Rasulullah saw., tiba-tiba di kedua
tangan Usaid bin Khudair terdapat sinar, kemudian keduanya
berjalan dengan diterangi sinar tersebut. Ketika keduanya
berpisah, sinar tersbut pun hilang dari keduanya.

Atau seperti kebaikan Ubai bin Ka'ab Radhiyallahu Anhu, karena


sabda Rasulullah saw.,"Sesungguhnya Allah memerintahkanku
untuk membacakan kepadamu ayat, '(Dia tidak termasuk
orang-orang kafir dari Ahli Kitab)'." Ubai bin Ka'ab berkata,
'Apakah Allah juga menyebut namaku?' Rasulullah saw.
bersabda, "Ya, betul," Ubai bin Ka'ab pun menangis.
(Diriwayatkan Al-Bukhari).

Atau seperti kebaikan Khalid bin Walid Radhiyallahu Anhu,


karena sabda Rasulullah saw., "Khalid adalah salah satu pedang
Allah yang terhunus." (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Atau seperti kebaikan Hasan Radhiyallahu Anhu, karena sabda


Rasulullah saw., "Anakku ini adalah orang terkemuka. Mudah-
mudahan dengannya, Allah mendamaikan dua kelompok dari
kaum Muslimin." (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Atau seperti kebaikan Abu Ubaidah Radhiyallahu Anhu, karena


sabda Rasulullah saw., "Setiap umat mempunyai orang
kepercayaan, da sesungguhnya orang kepercayaan kita, hai
umat (Islam), adalah Abu Ubaidah bin Al-
Jarrah." (Diriwayatkan Al-Bukhari).

5. Menahan diri dari mengungkap keburukan mereka dan taidak


berkomentar tentang persengketaan yang terjadi pada mereka,
karena sabda-sabda Rasulullah saw., misalnya sabda beliau
berikut:
"Janganlah kalian mencaci-maki sahabat-
sahabatku." (Diriwayatkan Al-Bukhari, dan Abu Daud).

"Jangan kalian menjadikan mereka (sahabat-sahabatku)


sebagai bahan tuduhan sepeninggalku." (Diriwayatkan At-
Tirmidzi).

"Barangsiapa menyakiti mereka (para sahabat), sungguh ia


telah menyakitiku. Barangsiapa menyakitiku, sungguh ia telah
menyakiti Allah. Dan barangsiapa menyakiti Allah, maka tidak
lama lagi Allah akan mengambilnya
(menghukumnya)." (Diriwayatkan At-Tirmidzi).

6. Beriman kepada kehormatan istri-istri Rasulullah saw., bahwa


mereka adalah wanita-wanita suci bersih, mencari keridhaan
mereka, dan berpendapat bahwa istri-istri beliau yang termulia
ialah Khadijah binti Khuwailid, dan Aisyah binti Abu Bakar,
karena firman Allah Ta'ala, "Nabi itu (hendaknya) lebih utama
bagi orang-orang Mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-
istrinya adalah ibu-ibu mereka." (Al-Ahzab: 6).
Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim,
atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul
Falah, 2002), hlm. 91-98.
1. Mencintai mereka, karena kecintaan Allah Ta'ala, dan kecintaan
Rasulullah saw. bersabda, "(Takutlah kepada), Allah,
(takutlah kepada) Allah terhadap sahabat-sahabatku,
dan jangan jadikan mereka sebagai bahan tuduhan
sepeninggalku. Barangsiapa mencintai mereka, maka
karena kecintaanku, ia mencintai mereka.
Barangsiapa membuat mereka marah, maka karena
kemarahanku, ia membuat mereka marah.
Barangsiapa menyakiti mereka, sungguh ia telah
menyakitiku, dan barangsiapa menyakitiku, sungguh
ia telah menyakiti Allah. Barangsiapa menyakiti Allah,
maka tidak lama lagi Allah akan mengambilnya
(menghukumnya)." (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia
meng-hasan-kan hadits ini).

2. Beriman kepada keutamaan mereka atas kaum


Mukminin, dan kaum Muslimin yang lain, karena firman
Allah Ta'ala dalam pujian kepada mereka,

ُ‫صاَذر بوالتذذيِبن اتببَّببهعوُههم‬ ْ‫نَأ‬


‫ب‬ ‫ل‬
‫ب ه بب ب‬‫ل‬ ‫ا‬
‫و‬ ‫ن‬ ‫ذ‬
ِ‫ي‬
‫ر‬ ‫وال هسبَّذهقوُبن اللبتوهلوُبن ذمن المهه ذ‬
‫ج‬ ‫ب س‬
ِ‫ت بلتذرى‬ ‫ضوُا۟ علنَه وأبعتد بلمُ ج هنَس ن‬ ‫ت‬ ‫ذ‬ ‫ذذ‬
‫بإلحهسنن تر ب ه ب ه ل ب ب ه ب ه ب ب ه ل ب‬
‫ر‬‫و‬ ُ‫م‬ ‫ه‬ ‫ب‬ َ‫ن‬
‫ل‬ ‫ع‬ ‫ه‬‫ل‬ ‫ال‬ ‫ى‬ ‫ض‬
١:‫ك البفلوُهز البعذظيِهمُ ﴿التْحَوُبة‬ ‫بتتْحَبهاَ اللبنَأْلبههر هخلذذديِن فذيِهآَ أببددا ۚ هذلذ‬
‫ب‬ ‫ب ب ب‬ ‫ه‬ ‫لب ب‬
۰۰﴾
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama
(masuk islam) di antara orang-orang Muhajirin dan
Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka
dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka
pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi
mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di
dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-
lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah:
100).
Rasulullah saw. bersabda, "Janganlah kalian mencaci-maki
sahabat-sahabatku, karena jika salah seorang dari kalian
berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud, maka infaknya
tersebut tidak mencapai satu mud (6 ons) mereka atau
setengahnya." (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Abu Daud).