Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN INOVASI PRAKTIK PROFESI NERS

ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH PADA Ny.H


DENGAN DISPEPSIA
DI RUANG MELATI RSUD Dr.M.YUNUS BENGKULU

Nama : Anninah
NIM : P05120419 006

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BENGKULU
JURUSAN KEPERAWATAN PRODI PROFESI NERS
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
1. LATAR BELAKANG
Dispepsia adalah sekumpulan gejala nyeri, perasaan tidak enak pada perut bagian
atas yang menetap, atau berulang disertai dengan gejala lainnya seperti rasa penuh saat
makan, cepat kenyang, kembung, bersendawa, nafsu makan menurun, mual, muntah, dan
dada terasa panas, yang berlangsung sejak 3 bulan terakhir, dengan awal gejala timbul 6
bulan sebelumnya. Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual dan potensial. Manajemen Nyeri
menggunakan teknik distraksi, relaksasi (Menggunakan napas dalam), pijat efflurage,
guided imaginary, kompres air hangat, teknik relaksasi otot progresif dalam, relaksasi
genggam jari. Menurut teori gate-control kompres hangat dapat mengaktifkan
(merangsang) serat-serat nonnosiseptif yang berdiameter besar ( A-α dan A-β) untuk
„‟menutup gerbang‟' bagi serat- serat yang berdiameter kecil ( A-δ dan C) yang berperan
dalam menghantarkan nyeri, sehingga nyeri dapat dikurangi (Jeon et al. 2015). Upaya
menutup pertahanan tersebut merupakan dasar terapi menghilangkan nyeri. Berdasarkan
latar belakang diatas penulis berminat melakukan penerapan terapi kompres air hangat
untuk mengurangi nyeri pada gangguan gastritis (Amin, 2017)

2. IDENTIFIKASI MASALAH/DIAGNOSA KEPERAWATAN


Nyeri akut b.d sgen cedera biologis
Ditandai dengan :
 Nyeri ulu hati skala 7 sejak 12 jam sebelum masuk rumah sakit
 Perut terasa panas
 Perubahan selera makan
 Ekspresi wajah menahan nyeri
 Fokus pada diri sendiri
 Nyeri tekan abdomen
- + -
+ + +
+ - +

3. PENJELASAN ARTIKEL JURNAL PILIHAN


Research of Education and Art Link (REAL) in Nursing Journal (RNJ)
Judul : Terapi Komplementer Guna Menurunkan Nyeri Pasien Gastritis:
Literatur Review
Penulis : Andinna Dwi Utami & Imelda Rahmayunia Kartika
Publikasi : 2018 Vol.1 No.3
Abstrak : Gastritis merupakan peradangan yang mengenai mukosa
lambung. Peradangan ini dapat mengakibatkan pembengkakan
mukosa lambung sampai terlepasnya epitel mukosa superfisial
yang menjadi penyebab terpenting gangguan dalam sistem
pencernaan. Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional
yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual
dan potensial. Manajemen Nyeri yang menggunakan teknik
distraksi, relaksasi (Menggunakan napas dalam), pijat efflurage,
guided imaginary, kompres air hangat, teknik relaksasi otot
progresif dalam, relaksasi genggam jari.
Tujuan : Mereview beberapa literatur terkait tentang terapi komplementer
terhadap penurunan nyeri pada pasien gastritis. Sebagai rujukan
evidance based agar perawat dapat menerapkannya dalam
komunitas pada pasien yang mengalami nyeri pada gastritis.
Metode : Metode yang digunakan dalam penulisan literatur
Penelitian review ini diawali dengan pemilihan topik,
kemudian ditentukan keyword untuk pencarian
jurnal. Beberapa database antara lain Google
Scholar, dan Pro Quest. Pencarian jurnal ini dibatasi
tahunnya mulai dari tahun 2009 sampai tahun
2019. Keyword yang digunakan adalah ‘Nyeri
Gastritis, Terapi Komplementer’. Dua puluh jurnal
Bahasa Indonesia dan jurnal Bahasa Inggris dipilih
berdasarkan kriteria inklusi. Kriteria inklusi dalam
literatur review ini adalah terapi komplementer
terhadap nyeri gastritis.
Hasil penelitian : Literatur review ini menelaah 20 jurnal artikel True Experiment,
tentang terapi komplementer terhadap penurunan nyeri pada
pasien gastritis dan hanya memakai 10 jurnal yang inklusi sesuai
dengan keyword.
Penggunaan kompres hangat dapat meningkatkan
relaksasi otot-otot dan mengurangi nyeri akibat
spasme atau kekakuan serta memberikan rasa
hangat lokal. Pada umumnya panas cukup berguna
untuk pengobatan. Panas meredakan iskemia
dengan menurunkan kontraksi dan meningkatkan
sirkulasi. Kompres hangat dapat menyebabkan
pelepasan endorfin tubuh sehingga memblok
transmisi stimulasi nyeri.
Kesimpulan : Berdasarkan beberapa penjelasan yang telah dikemukakan,
bahwa terapi komplementer yang paling sering digunakan adalah
relaksasi nafas dalam, karena relaksasi nafas dalam yang
digunakan untuk proses terapi tersebut sangat membantu
meringankan nyeri yang dialami pasien oleh karena itu
memudahkan dalam proses penyembuhan dan dapat dilakukan
secara mandiri oleh pasien
Saran : Sebagai rujukan evidance based agar perawat dapat
menerapkannya dalam komunitas pada pasien yang mengalami
nyeri pada gastritis

4. RENCANA/IMPLEMENTASI
a. Subjek
Pasien dengan Dispepsia
Nama : Ny.H
Usia : 37 tahun
No Reg : 745025
b. Waktu dan tempat
Waktu pelaksanaan pada
Hari, Tanggal : Senin, 1 Juli 2019
Jam : 16.00 WIB
Tempat : Ruang Melati kelas II RSUD Dr. M.Yunus Bengkulu
c. Prosedur inovasi
1) Fase pra interaksi
Persiapan pasien :
 Identifikasi pasien
 Pastikan pasien dalam posisi nyaman
 Lakukan informed consent
Persiapan alat :
 Mendekatkan alat ke pasien: air hangat, kom, washlap, skala nyeri
Persiapan perawat :
 Perawat cuci tangan
 Menggunakan APD sesuai indikasi
2) Fase kerja
 Jelaskan pada pasien kegunaan dari kompres air hangat :
Penggunaan kompres hangat diharapkan dapat meningkatkan relaksasi
otot-otot dan mengurangi nyeri akibat spasme atau kekakuan serta
memberikan rasa hangat lokal. Pada umumnya panas cukup berguna untuk
pengobatan. Panas meredakan iskemia dengan menurunkan kontraksi dan
meningkatkan sirkulasi. Kompres hangat dapat menyebabkan pelepasan
endorfin tubuh sehingga memblok transmisi stimulasi nyeri. (Subekti &
Utami, 2011)
 Jelaskan pada pasien bagaimana melakukan latihan, minta pasien
mengikuti instruksi.
o Bebaskan area yang akan dikompres air hangat
o Kompres area nyeri dengan air hangat menggunakan washlap
o Lakukan kompres air hangat tiap nyeri muncul
3) Fase terminasi
 Berikan pasien kesempatan untuk bertanya
 Evaluasi
Menanyakan perasaan reponden setelah melakukan kompres air hangat
Memberikan reinnforcment positif kepada reponden.
Mengucapkan salam

5. HASIL IMPLEMENTASI
a. Fase pra interaksi :
Pasien menyetujui tindakan inovasi untuk kompres air hangat, pasien merasa nyaman
dalam posisi duduk
b. Fase kerja :
Pasien cooperative
Pasien mengikuti instruksi yang diberikan
Pasien mampu melakukan kompres air hangat dibantu dengan keluarga
c. Fase evaluasi (struktur dan hasil) :
Pasien merasa nyaman, nyeri berkurang dari skala 7 menjadi skala 6.
6. RENCANA TINDAK LANJUT
Lakukan pemberian intervensi ulang, dan kolaborasi dengan pemberian obat