Anda di halaman 1dari 12

Nama : Alia Hanafia Fadli

Nim : 15034018

MENGANALISIS PENCACAH GEIGER - MULLER DALAM PENDETEKSIAN RADIASI

1. Defenisi Pencacah Geiger Muller


Pencacah Geiger adalah alat untuk mengukur keaktifan unsur radioaktif yang
paling banyak digunakan. Alat ini dibuat pertama kali oleh Walther Muller dan Hans
Geiger pada tahun 1903.

2. Sifat-Sifat Pencacah Geiger Muller


1) Jumlah ion yang dihasilkan di daerah ini sangat banyak,
2) mencapai nilai saturasinya,
3) pulsanya relatif tinggi, dan
4) tidak memerlukan penguat pulsa lagi.

3. Cara Kerja Pencacah Geiger Muller


Detektor Geiger Muller meupakan salah satu detector yang berisi gas. Selain
Geiger muller masih ada detektor lain yang merupakan detektor isian gas yaitu detektor
ionisasi dan detektor proporsional. Ketiga macam detektor tersebut secara garis besar
prinsip kerjanya sama, yaitu sama-sama menggunakan medium gas. Perbedaannya
hanya terletak pada tegangan yang diberikan pada masing-masing detektor tersebut.

4. Arus yang terjadi pada Pencacah Geiger Muller


Arus listrik yang dihasilkan oleh ion yang terbentuk itu sangat lemah. Akan
tetapi, beda tegangan 1.000 volt akan mempercepat ion itu. Ion yang dipercepat itu
mengionkan lagi atom-atom gas yang lain sehingga arus listrik yang terjadi cukup
besar. Dalam waktu yang singkat arus terputus, tetapi setiap kali partikel radioaktif
masuk ke dalam tabung, timbul pulsa listrik dalam rangkaian.

5. Pembentukan pulsa pada Pencacah Geiger Muller


Apabila detektor yang berisi gas terkena radiasi maka akan terjadi proses ionisasi
gas dalam detektor tersebut. Jika konstanta waktu RC jauh lebih besar dari waktu yang
diperlukan untuk mengumpulkan semua ion yang dihasilkan oleh lintasan partikel
tunggal yang melalui detektor maka tinggi pulsa dapat dihitung dengan rumus :
V = Q/C
Dimana :

V = potensial
Q = jumlah muatan yang dihasilkan dalam detector
C = Kapasitas

6. Jenis-jenis Radiasi yang dapat dicacah


Jenis radiasi yang dapat dideteksi dapat ditinjau dari beberapa aspek yaitu
berdasarkan panjang gelombang, berdasarkan massanya, berdasarkan muatan listriknya.
MENGANALISIS PENCACAH GEIGER - MULLER DALAM PENDETEKSIAN RADIASI

A. Defenisi Pencacah Geiger Muller


Pencacah Geiger adalah alat untuk mengukur keaktifan unsur radioaktif.
Alat ini dibuat pertama kali oleh Walther Muller dan Hans Geiger pada tahun
1903. Pencacah Geiger adalah alat deteksi sinar radioaktif yang paling banyak
digunakan. Peralatan Pencacah Geiger-Muller ini terdiri dari sebuah tabung
silinder terbuat dari logam. Di dalam tabung dipasang sebuah kawat konduktor
yang halus. Kawat itu bertindak sebagai katode dan tabung sebagai anode. Tabung
itu diisi dengan gas atau campuran gas dengan tekanan rendah (10 cmHg).

Gambar 1. Pencacah Geiger-Muller.

Tabung dan kawat diberi beda potensial kira-kira 500 - 1.000 volt untuk
mempercepat ion dari gas yang terbentuk di dalam tabung. Sinar radioaktif yang
masuk melalui jendela tipis pada salah satu ujung tabung akan mengionkan gas
yang berada di dalam tabung. Arus listrik yang dihasilkan oleh ion terbentuk
sangat lemah. Akan tetapi, beda tegangan 1.000 volt akan mempercepat ion
tersebut. Ion yang dipercepat itu mengionkan lagi atom-atom gas yang lain
sehingga arus listrik yang terjadi cukup besar. Dalam waktu yang singkat arus
terputus, tetapi setiap kali partikel radioaktif masuk ke dalam tabung, timbul pulsa
listrik dalam rangkaian. Pulsa ini diperkuat sehingga dapat dipakai untuk
menyalakan rangkaian pencacah elektronik.
Pencacah Geiger atau disebut juga Pencacah Geiger-Muller adalah sebuah
alat pengukur radiasi ionisasi.Pencacah Geiger bias digunakan untuk mendeteksi
radiasi alpha dan beta.Sensornya adalah sebuah tabung yang di isi oleh gas yang
akan bersifat konduktor, ketika partikel atau foton radiasi menyebabkan gas
(umumnya Argon)menjadi konduktif. Alat tersebut akan membesarkan sinyal dan
menampilkan pada indikatornya yang bisa berupa jarum penunjuk, lampu atau
bunyi klik dimana satu bunyi menandakan satu partikel. Pada kondisi tertentu,
pencacah Geiger dapat digunakan untuk mendeteksi radiasi gamma, walaupun
tingkat reliabilitasnya kurang. Pencacah geiger tidak bias digunakan untuk
mendeteksi neutron.Bagian-bagian detektor Geiger Muller :
a. Katoda yaitu dinding tabung logam yang merupakan elektroda negatif. Jika
tabung terbuat dari gelas maka dinding tabung harus dilapisi logam tipis.
b. Anoda yaitu kawat tipis atau wolfram yang terbentang ditengah- tengah
tabung. Anoda sebagai elektroda positif.
c. Isi tabung yaitu gas bertekanan rendah, biasanya gas beratom tunggal
dicampur gas poliatom (gas yang banyak digunakanAr dan He).

B. Sifat-Sifat Pencacah Geiger Muller


Jumlah ion yang dihasilkan di daerah ini sangat banyak, mencapai nilai
saturasinya, sehingga pulsanya relatif tinggi dan tidak memerlukan penguat pulsa
lagi. Kerugian utama dari detektor ini ialah tidak dapat membedakan energi
radiasi yang memasukinya, karena berapapun energinya jumlah ion yang
dihasilkannya sama dengan nilai saturasinya. Detektor ini merupakan detektor
yang paling sering digunakan, karena dari segi elektonik sangat sederhana, tidak
perlu menggunakan rangkaian penguat. Sebagian besar peralatan ukur proteksi
radiasi, yang harus bersifat portabel, terbuat dari detektor Geiger Mueller.

C. Cara Kerja Pencacah Geiger Muller


Detektor Geiger Muller meupakan salah satu detector yang berisi gas.
Selain Geiger muller masih ada detektor lain yang merupakan detektor isian gas
yaitu detektor ionisasi dan detektor proporsional. Ketiga macam detektor tersebut
secara garis besar prinsip kerjanya sama, yaitu sama-sama menggunakan medium
gas. Perbedaannya hanya terletak pada tegangan yang diberikan pada masing-
masing detektor tersebut.
Apabila kedalam tabung masuk zarah radiasi maka radiasi akan
mengionisasi gas isian. Banyaknya pasangan elektron-ion yang terjadi pada
detektor Geiger-Muller tidak sebanding dengan tenaga zarah radiasi yang datang.
Hasil ionisasi ini disebut elektron primer. Karena antara anode dan katode
diberikan beda tegangan maka akan timbul medan listrik diantara kedua eleklrode
tersebut. Ion positif akan bergerak kearah dinding tabung (katoda) dengan
kecepatan yang relative lebih lambat bila dibandingkan dengan elektron-elektron
yang bergerak ke arah anoda (+) dengan cepat. Kecepatan geraknya tergantung
pada besarnya tegangan V.
Sedangkan besarnya tenaga yang diperlukan untuk membentuk electron
dan ion tergantung pada macam gas yang digunakan. Dengan tenaga yang relatif
tinggi maka elektron akan mampu mengionisasi atom-atom sekitarnya. Sehingga
menimbulkan pasangan elektron- ion sekunder. Pasangan elektron-ion sekunder
ini pun masih dapat menimbulkan pasangan elektron-ion tersier dan seterusnya,
sehingga akan terjadi lucutan yang terus-menerus (avalence). Kalau tegangan V
dinaikkan lebih tinggi lagi maka peristiwa pelucutan elektron sekunder atau
avalanche makin besar dan electron sekunder yang terbentuk makin banyak.
Akibatnya, anoda diselubungi serta dilindungi oleh muatan negative elektron,
sehingga peristiwa ionisasi akan terhenti.
Karena gerak ion positif kedinding tabung (katoda) lambat, maka ion-ion
ini dapat membentuk semacam lapisan pelindung positif pada permukaan dinding
tabung. Keadaan yang demikian tersebut dinamakan efek muatan ruang atau space
charge effect. Tegangan yang menimbulkan efek muatan ruang adalah tegangan
maksimum yang membatasi berkumpulnya elektron-elektron pada anoda. Dalam
keadaan seperti ini detektor tidak peka lagi terhadap datangnya zarah radiasi.
Oleh karena itu efek muatan ruang harus dihindari dengan menambah
tegangan V. Penambahan tegangan V dimaksudkan supaya terjadi pelepasan
muatan pada anoda sehingga detektor dapat bekerja normal kembali. Pelepasan
muatan dapat terjadi karena electronmendapat tambah tenaga kinetic akibat
penambahan tegangan V.
Apabila tegangan dinaikkan terus menerus, pelucutan elektron yang terjadi
semakin banyak. Pada suatu tegangan tertentu peristiwa avalanche elektron
sekunder tidak bergantung lagi oleh jenis radiasi maupun energi (tenaga) radiasi
yang datang. Maka dari itu pulsa yang dihasilkan mempunyai tinggi yang sama
sehingga detektor Geiger muller tidak bisa digunakan untuk mengitung energy
dari zarah radiasi yang datang. Kalau tegangan V tersebut dinaikkan lebih tinggi
lagi dari tegangan kerja Geiger Muller, maka detektor tersebut akan rusak, karena
sususan molekul gas atau campuran gas tidak pada perbandingan semula atau
terjadi peristiwa pelucutan terus-menerus yang disebut continuous discharge.
Hubungan antara besar tegangan yang dipakai dan banyaknya ion yang dapat
dikumpulkan dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Pembagian daerah tegangan kerja tersebut berdasarkan jumlah ion yang


terbentuk akibat kenaikan tegangan yang diberikan kepada detektor isian gas.
Adapun pembagian tegangan tersebut dimulai dari tegangan terendah adalah
sebagai berikut:
I. = daerah rekombinasi
II. = daerah ionisasi
III. = daerah proporsional
IV. = daerah proporsioanl terbatas

V. = daerah Geiger Muller


Kurva yang atas adalah ionisasi Alpha, sedangkan kurva bawah adalah
ionisasi oleh Beta. Kedua kurva menunjukkan bahwa pada daerah tegangan kerja
tersebut, detektor ionisasi dan detektor proporsional masih dapat membedakan
jenis radiasi dan energi radiasi yang datang. Dengan demikian, detektor ionisasi
dan detektor proporsional dapat digunaknan pada analisis spectrum energi.
Sedangkan detektor Geiger Muller tidak dapat membedakan jenis radiasi dan
energi radiasi.
Tampak dari gambar tersebut bahwa daerah kerja detektor Geiger Muller
terletak pada daerah V. Pada tegangan kerja Geiger Muller elektron primer dapat
dipercepat membentuk elektron sekunder dari ionisasi gas dalam tabung Geiger
Muller. Dalam hal ini peristiwa ionisasi tidak tergantung pada jenis radiasi dan
besarnya energi radiasi. Tabung Geiger Muller memanfaatkan ionisasi sekunder
sehingga zarah radiasi yang masuk ke detektor Geiger Muller akan menghasilkan
pulsa yang tinggi pulsanya sama. Atas dasar hal ini, detektor Geiger Muller tidak
dapat digunakan untuk melihat spectrum energi, tetapi hanya dapat digunakan
untuk melihat jumlah cacah radiasi saja. Maka detektor Geiger Muller sering
disebut dengan detektor Gross Beta gamma karena tidak bisa membedakan jenis
radiasi yang datang.
Besarnya sudut datang dari sumber radiasi tidak mempengaruhi banyaknya
cacah yang terukur karena prinsip dari detektor Geiger Muller adalah mencacah
zarah radiasi selama radiasi tersebut masih bisa diukur. Berbeda dengan detektor
lain misalnya detektor sintilasi dimana besarnya sudut datang dari sumber radiasi
akan mempengaruhi banyaknya pulsa yang dihasilkan.

D. Arus yang terjadi pada Pencacah Geiger Muller.


Pencacah Geiger Muller adalah alat deteksi sinar radioaktif yang paling
banyak digunakan. Peralatan pencacah Geiger-Muller ini terdiri dari sebuah
tabung silinder terbuat dari logam. Di dalam tabung di pasang sebuah kawat
konduktor yang halus. Kawat itu bertindak sebagai katoda dan tabung sebagai
anoda. Tabung itu diisi dengan gas atau campuran gas dengan tekanan rendah
(10 cmHg).
Tabung dan kawat diberi potensial kira-kira 500-1.000 volt untuk
mempercepat ion dari gas yang yang terbentuk di dalam tabung. Sinar
radioaktif yang masuk melalui jendela tipis pada salah satu ujung tabung akan
mengionkan gas yang berada di dalam tabung. Arus listrik yang dihasilkan
oleh ion yang terbentuk itu sangat lemah. Akan tetapi, beda tegangan 1.000
volt akan mempercepat ion itu. Ion yang dipercepat itu mengionkan lagi atom-
atom gas yang lain sehingga arus listrik yang terjadi cukup besar. Dalam
waktu yang singkat arus terputus, tetapi setiap kali partikel radioaktif masuk
ke dalam tabung, timbul pulsa listrik dalam rangkaian. Pulsa ini diperkuat
sehingga dapat dipakai untuk menyalakan rangkaian pencacah elektronik.

E. Pembentukan pulsa pada Pencacah Geiger Muller.


Apabila detektor yang berisi gas terkena radiasi maka akan terjadi proses
ionisasi gas dalam detektor tersebut. Jika konstanta waktu RC jauh lebih besar
dari waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan semua ion yang dihasilkan
oleh lintasan partikel tunggal yang melalui detektor maka tinggi pulsa dapat
dihitung dengan rumus : V = Q/C ; dimana:

V : potensial
R : jumlah muatan yang dihasilkan dalam detektor

C : Kapasitas.

Gambar 3. Kurva Tinggi pulsa vs tegangan kerja pada


penghitung pulsa berisi gas.
Dengan menaikkan terus tegangan tinggi sampai melewati tegangan
daerah proporsional sehingga mengakibatkan “avalanche” merentang sepanjang
anoda. Bilamana hal ini terjadi maka daerah tegangan kerja disebut daerah geiger.
Pada daerah tegangan kerja ini semua ukuran pulsa akan sama tanpa membedakan
sifat dari partikel penyebab proses ionisasi primer maka operasi pada daerah ini
tidak dapat membedakan macam radiasi dan tidak dapat untuk mengukur energi.
Efisiensi dari detektor ini tentu tergantung pada energi dari partikel sehingga tiap
pemakai detektor counter ini harus menentukan effisiensi dari detektor tersebut
untuk berbagai energi sehingga hasil pengukuran dapat diberi interpretasi yang
tepat.
Apabila dilihat pada grafik antara angka hitungan/ cacah vs tegangan kerja
akan terjadi Plateau dengan kemiringan slope yang positif yaitu 3 % per 100 volt.
Setelah ion-ion negatif (elektron) ditarik ke anoda maka ion-ion positif ditarik ke
katoda. Pada waktu ion-ion positif ditarik ke katoda ion-ion tersebut menumbuk
dinding detektor sambil sebagian melepaskan energi dalam bentuk panas dan
sebagian lagi mengaktifkan atom-atom dari dinding detektor.
Pada saat atom-atom dari dinding detektor kembali ke keadaan normal,
atom-atom tersebut melepaskan energi pengaktifannya dengan memancarkan
faton-faton ultra violet dan terjadi interaksi antara foton-foton ultra violet dengan
gas sehingga kemungkinan akan menimbulkan suatu avalanche dan dengan
demikian juga akan menimbulkan suatu “Spurious Count” (hitungan/ cacahan
lancung). Hitungan semacam ini dalam sistim tersebut harus diredam/ dihilangkan
dan sistim peredaman yang disebut “Quenching” . Hal ini dapat dilakukan dengan
cara menurunkan tegangan pada anoda setelah suatu pulsa hingga semua ion-ion
positif terkumpul pada katoda atau secara kimiawi dengan menggunakan gas
peredam diri yaitu suatu gas yang dapat menyerap foton-foton ultra violet tanpa
terjadi ionisasi misalnya dengan memasukkan gas organik seperti alkohol atau
ether.
Apabila ada dua buah partikel masuk dalam suatu perhitungan dengan
keberuntunan yang sangat cepat maka avalanche ion-ion dari partikel pertama
melumpuhkan sistim penghitung sehingga sistim penghitung tidak dapat
memberikan respon pada saat partikel kedua masuk. Untuk mengatasi hal tersebut
diperlukan suatu sistim yang disebut waktu pisah (Resolving Time). Resolving
time
Apabila ada dua zarah radiasi masuk ke dalam detektor berurutan dalam
waktu yang berdekatan maka peristiwa avalanche iondari zarah radiasi pertama
akan melumpuhkan detektor.Selama beberapa saat detektor tak dapat mencatat
adanya zarah radisi yangdatang kemudian dalam waktu yang sangat berdekatan
dengan zarah radiasi yang datang pertama. Intensitas medan listrik yang paling
besar adalah di daerah pemukiman anoda, karena avalanchepengionan bermula di
daerah yang sangat dekat dengan anoda dan dengan cepat akan melebar ke
sepanjang anoda.
Ion positif yang bergerak perlahan ini akan membentuk tabir pelindung di
sekeliling anoda yang bermuatan positif. Hal ini menyebabkan sangat turunnya
medan listrik di sekeliling anoda dan karena itu tak mungkin terjadi avalancheoleh
lewatnya zarah radiasiberikutnya. Jika ion bergerak ke arah katoda, intensitas
medan listrik bertambah, sehingga pada suatu saatavalancheakan mulai lagi.
Waktu yang diperlukan untuk mengembalikan intensitas medan ke harga semula
disebut waktu mati atau dead time.

Pada akhir periode waktu mati, meskipun dapat terjadi avalanche lagi,
tetapi denyut keluaran belum tertangkap lagi untuk menghasilkan pula pada
detektor GM. Ketika ion positif meneruskan perjalanannya menuju ke dinding
katoda, denyut keluaran yang dihasilkan dari zarah radiasi lain akan bertambah
besar. Bila denyut keluaransudah cukup tinggi dan dapat melampaui batas
diskriminator maka akan dapat di cacah.
Dalam keadaan ini detektor dapat dikatakan telah “pulih” kembali dari
keadaan mati. Selang waktu antara akhir waktu mati dengan “pulih kembali
penuh” disebut sebagai waktu pemulihan atau recovery time. Jumlah waktu mati
atau dead time ditambah dengan waktu pemulihan atau recovery time disebut
resolving time. Resolving time dapat didefinisikan sebagai waktu minimum yang
diperlukan agar zarah radiasi berikutnya dapat dicatat setelah terjadinya
pencatatan atas zarah radiasi

yang datang sebelumnya. Resolving time berorde sekitar 100 mikrodetik atau
lebih. Berdasarkan analisis data, diperoleh resolving time detektor Geiger-Muller
dalam percobaan adalah sebesar 607,9 mikrodetik.

Gambar 4. Waktu mati dan waktu pemulihan untuk perhitungan Pemulihan

Pada gambar 4 ditunjukan bahwa perubahan tegangan dan pulsa untuk


perhitungan tipikal GM. Nilai-nilai nya berkisar antara 100 hingga 300 ps. Jika
waktu mati 100 ps dan perhitungannya 500 jumlah /detik. Dan akan ada 5 persen
kerugian jumlah karena waktu mati.

F. Jenis-jenis Radiasi yang dapat dicacah.


Dalam fisika, radiasi mendeskripsikan setiap proses di mana energi
bergerak melalui media ataumelalui ruang, dan akhirnya diserap oleh benda
lain.Apa yang membuat radiasi adalah bahwa energi memancarkan (yaitu,
bergerak ke luar dalam garis lurus ke segala arah) dari suatu sumber.
geometri ini secara alami mengarah pada sistem pengukuran dan unit fisik
yang sama berlaku untuk semua jenis radiasi.
Radiasi adalah fenomena / peristiwa penyebaran energi gelombang
elektromagnetik ataupartikel subatom melalui vakum atau media material
Gelombang Elektromagnetik adalah gelombang yang dapat merambat walau
tidak adamedium, yang dirumuskan oleh Maxwell ternyata terbentang dalam
rentang frekuensi yang luas.Radiasi terdiri dari beberapa jenis, dan setiap
jenis radiasi tersebut memiliki panjang gelombang masing-masing,lihat
gambar-1, skema radiasi menurut jenis

Gambar . Skema Radiasi Menurut Jenis

Ditinjau dari massanya, radiasi dapat dibagi menjadi 2 yaitu :

1.Radiasi Elektromagnetik
Radiasi elektromagnetik adalah radiasi yang tidak memiliki massa.
Radiasi ini terdiri dari gelombangradio, gelombang mikro, inframerah,
cahaya tampak, sinar-X, sinar gamma dan sinar kosmik.
2.Radiasi Partikel
Radiasi partikel adalah radiasi berupa partikel yang memiliki massa,
misalnya partikel beta (ß), partikel alfa (a), sinar gamma (γ), sinar-X,
partikel neutron
Jika ditinjau dari "muatan listrik"nya, radiasi dapat dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Radiasi Pengion

Radiasipengion adalah radiasi yang apabila menumbuk atau menabrak


sesuatu, akan munculpartikel bermuatan listrik yang disebut ion. Peristiwa
terjadinya ion ini disebut ionisasi. Ion inikemudian akan menimbulkan efek
atau pengaruh pada bahan, termasuk benda hidup. Termasuk ke dalam
radiasi pengion adalah sinar-X, partikel alfa (a), partikel beta (ß),
sinargamma (γ), partikel neutron, Partikel beta (ß), partikel alfa (a), dan
neutron yang dapat menimbulkan ionisasi secara langsung.Meskipun tidak
memiliki massa dan muatan listrik, sinar-X, sinar gamma dan sinar kosmik
jugatermasuk ke dalam radiasi pengion karena dapat menimbulkan ionisasi
secara tidak langsung.

2. Radiasi non-pengion
Merupakan radiasi yang tidak dapat menimbulkan ionisasi.
Termasuk ke dalamradiasi non-pengion adalah gelombang radio, gelombang
mikro, inframerah, cahaya tampak danultraviolet.Sedangkan dilihat dari
jenis radiasinya terdiri dari : (a) radiasi elektromagnetik, (b) radiasi
pengion, (c) radiasi thermal, (d)radiasi Cerenkov, (e) radiasi sel hidup,
(f) radiasi matahari, (g) radiasi nuklir, (h) radiasi bendahitam, (i) radiasi non-
ionisasi dan radiasi cosmic.