Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIK PROFESI NERS

ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS PADA PASIEN DENGAN HIPERTENSI PADA


KEHAMILAN
_________________________________________________________________

Nama : Annisyah
NIM : P05120419 005

Preceptor Institusi Pendidikan Preceptor Lahan Praktik

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BENGKULU
JURUSAN KEPERAWATAN PRODI PROFESI NERS
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
LAPORAN KASUS PRAKTIK PROFESI NERS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.S DENGAN CA OVARIUM DI RUANG MAWAR
RSUD DR M.YUNUS BENGKULU
_________________________________________________________________

Nama : Annisyah
NIM : P05120419 005

Preceptor Institusi Pendidikan Preceptor Lahan Praktik

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BENGKULU
JURUSAN KEPERAWATAN PRODI PROFESI NERS
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
A. Pengkajian

Pengkajian pada pasien dengan kasus hipertensi dalam kehamilan

meliputi :

1. Identitas umum ibu, seperti:nama, tempat tanggal lahir/umur, pendidikan, suku bangsa,
pekerjaan, agama, dan alamat rumah
2. Data Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang :
Biasanya ibu akan mengalami: sakit kepala di daerah frontal, terasa sakit di ulu hati/
nyeri epigastrium, bisa terjadi gangguan visus, mual dan muntah, tidak nafsu makan,
bisa terjadi gangguan serebral, bisa terjadi edema pada wajah dan ekstermitas,
tengkuk terasa berat, dan terjadi kenaikan berat badan 1 kg/ minggu.
b. Riwayat kesehatan Dahulu:
Biasanya akan ditemukan riwayat: kemungkinan ibu menderita penyakit hipertensi
pada kehamilan sebelumnya, kemungkinan ibu mempunyai riwayat preeklampsia
dan eklampsia pada kehamilan terdahulu, biasanya mudah terjadi pada ibu dengan
obesitas, ibu mungkin pernah menderita gagal ginjal kronis.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Kemungkinan mempunyai riwayat kehamilan dengan hipertensi dalam keluarga.
d. Riwayat Perkawinan
Biasanya terjadi pada wanita yang menikah di bawah usia 20 tahun atau di atas 35
tahun.
e. Riwayat Obstetri
Biasanya hipertensi dalam kehamilan paling sering terjadi pada ibu hamil
primigravida, kehamilan ganda, hidramnion, dan molahidatidosa dan semakin
semakin tuanya usia kehamilan (Prawirohardjo, 2013).
3. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : Biasanya ibu hamil dengan hipertensi akan mengalami
kelemahan.
b. Tanda - tanda vital : TD : Pada ibu hamil dengan hipertensi akan ditemukan tekanan
darah darah sistol diatas 140 mmHg dan diastol diatas 90 mmHg. Nadi : Biasanya
pada ibu hamil dengan hipertensi akan ditemukan denyut nadi yang meningkat,
bahkan pada ibu yang mengalami eklampsia akan ditemukan nadi yang semakin
cepat. Nafas : Biasanya pada ibu hamil dengan hipertensi akan ditemuksn nafas
pendek, dan pada ibu yang mengalami eklampsia akan terdengar bunyi nafas yang
berisik dan ngorok. Suhu : Ibu hamil yang mengalami hipertensi dalam kehamilan
biasanya tidak ada gangguan pada suhunya, tetapi jika ibu hamil tersebut
mengalami eklampsia maka akan terjadi peningkatan suhu. BB : Biasanya akan
terjadi peningkatan berat badan lebih dari 0,5 kg/minggu, dan pada ibu hamil yang
mengalami preeklampsia akan terjadi peningkatan BB lebih dari 1 kg/minggu atau
sebanyak 3 kg dalam 1 bulan
c. Pemeriksaan fisik
1) Kepala : Biasanya ibu hamil akan ditemukan kepala yang berketombe dan kurang
bersih dan pada ibu hamil dengan hipertensi akan mengalami sakit kepala.
2) Wajah : Biasanya pada ibu hamil yang mengalami preklampsia/eklampsia wajah
tampak edema.
3) Mata : Biasanya ibu hamil dengan hipertensi akan ditemukan konjungtivasub
anemis, dan bisa juga ditemukan edema pada palvebra. Pada ibu hamil yang
mengalami preeklampsia atau eklampsia biasanya akan terjadi gangguan
penglihat yaitu penglihatan kabur.
4) Hidung : Biasanya pada ibu hamil tidak ditemukan gangguan
5) Bibir : Biasanya akan ditemukan mukosa bibir lembab
6) Mulut : Biasanya terjadi pembengkakan vaskuler pada gusi, menyebabkan
kondisi gusi menjadi hiperemik dan lunak, sehingga gusi bisa mengalami
pembengkakan dan perdarahan
7) Leher : Biasanya akan ditemukan pembesaran pada kelenjer tiroid
8) Thorax : 1) Paru-paru : Biasanya akan terjadi peningkatan respirasi, edema paru
dan napas pendek 2) jantung : Pada ibu hamil biasanya akan terjadi palpitasi
jantung, pada ibu yang mengalami hipertensi dalam kehamilan, khususnya pada
ibu yang mengalami preeklampsia beratakan terjadi dekompensasi jantung.
9) Payudara : Biasanya akan ditemukan payudara membesar, lebih padat dan lebih
keras, puting menonjol dan areola menghitam dan membesar dari 3 cm menjadi 5
cm sampai 6 cm, permukaan pembuluh darah menjadi lebih terlihat.
10) Abdomen :Pada ibu hamil akan ditemukan umbilikus menonjol keluar,
danmembentuk suatu area berwarna gelap di dimding abdomen, serta akan
ditemukan linea alba dan linea nigra. Pada ibu hamil dengan hipertensibiasanya
akan ditemukan nyeri pada daerah epigastrum, dan akanterjadi anoreksia, mual
dan muntah
Pemeriksaan janin : Biasanya ibu hamil dengan hipertensi bisa terjadi bunnyi
jantung janin yang tidak teratur dan gerakan janin yang melemah (Mitayani,
2011).
11) Ekstermitas : Pada ibu yang mengalami hipertensi dalam kehamilan bisa
ditemukan edema pada kaki dan tangan juga pada jari-jari.
12) Sistem persarafan : Biasanya ibu hamil dengan hipertensi bisa ditemukan hiper
refleksia, klonus pada kaki
13) Genitourinaria : Biasanya ibu hamil dengan hipertensi akan didapatkan oliguria
dan proteinuria, yaitu pada ibu hami dengan preeklampsia (Reeder, 2011;
Mitayani, 2011).
B. Diagnosis Keperawatan
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi
2. Ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan kurang suplai oksigen ke
jaringan
3. Resiko cedera dengan faktor resiko internal ( disfungsi integrasi sensori)
4. Nyeri berhubungan dengan agen cedera biologis
5. Intoleran aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen
6. Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status terkini
7. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M., Butcher, Howard K., Dochterman, Joanne M., Wagner, Cheryl M. 2016.
Nursing Interventions Classification (NIC), 6th edition. Yogyakarta: Mocomedia
Herlman, T. Heather.2018. NANDA-I Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2018-
2020. Jakarta: EGC
Moorhead, sue., Johnson, Marion., Maas, Meridean L., Swanson, Elizabeth. 2016. Nursing
Outcomes Classification (NOC), 5th edition. Yogyakarta: Mocomedia

Nugroho, taufan. 2010.Obstetric Untuk Mahasiswa Kebidanan.Yogjakarta: Nuha Medika


Potter, Perry. 2010. Fundamental Of Nursing: Consep, Proses and Practice. Edisi 7. Vol.3. Jakarta
: EGC
C. Perencanaan Keperawatan

no Diagnosa Keperawatan Tujuan/ Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional


(NOC) (NIC)
1 Ketidakefektifan Pola Napas b.d Setelah diberikan intervensi keperawatan Aktivitas Keperawatan
hipoventilasi, selama 3 x 24 jam, 1. Mempertahan kan ventilasi
Pola napas dengan: NIC : monitor pernafasan
 Pola nafas abnormal 1. Monitor status pernapasan sebagaimana
NOC: Status Pernapasan
 Bradipnea mestinya 2. Memantau kondisi pasien,
 Dipertahankan pada 4
 Penurunan tekanan ekspirasi 2. Monitor pola nafas : bradipena, takipenia, peningkkatan MAP dapat terjadi
 Ditingkatkan pada 5
 Penurunan tekanan inspirasi kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, 3. Mencegah pola napas pasien
1 = deviasi berat dari kisaran normal
 Dyspnea biot memburuk
 Pernapasan cuping hidung 2 = deviasi yang cukup berat dari 3. Posisikan untuk meringankan sesak napas
 Ortopnea kisaran normal 4. Motivasi pasien untuk bernapas pelan, dan 4. Posisi semi fowler menggunakan gaya
 Pernapasan bibir dalam gravitasi untuk membantu
 Takipnea 3 = deviasi sedang dari kisaran normal 5. Auskultasi suara napas, catat area ventilasi pengembangan paru dan mengurangi
 Penggunaan otot bantu menurun, atau tidak ada dan suara tekanan dari abdomen pada
pernapasan 4 = deviasi ringan dari kisaran normal tambahan diagfragma.
5. Memaksimlakan ventilasi dan
5 = tidak ada deviasi dari kisaran normal
mencegah terjadinya kelelahan
NIC : terapi oksigen 6. Suara nafas menurun atau tidak ada
NIC : Monitor asam basa menunjukkan tidak masuknya O2 ke
Dengan kriteria hasil: paru paru
6. Monitor status hemodinamik 7. Bronkodilator dapat diberikan untuk
 Status Pernapasan 1/2/3/4/5 membantu ventilasi dengan efek
vasodilatasi saluran napas
Dengan kriteria mayor: 8. Menurunkan sesak napas
9. Aliran yang terlalu rendah atau terlalu
 Frekuensi pernapasan tinggi dapat menurunkan kondisi
7. Atur intake cairan
 Irama pernapasan pasien
 Kedalaman inspirasi 10. Cairan untuk mengoptimalkan
 Suara auskultasi nafas keseimbangan
 Kepatenan jalan nafas 8. Terapi puersed lips breathing 11. Teknik yang tepat dapat meningkatkan
 Volume tidal 9. Kelola pemberian bronkodilator efektivitas dari pengobatan
 Pencapaian tingkat insertif spirometri
 Kapasitis vital 10.Berikan terapi oksigen sesuai indikasi
Dengan kriteria minor : 11. Ajarkan teknik yang tepat untuk
menggunakan pengobatan dan alat
 Penggunaan otot bantu pernapasan (inhaler, nebulizer)
 Suara napas tambahan 12.
 Retraksi dinding dada
 Pernapasan pursed lips
 Dispnea saat istirahat
 Dispnea saat latihan
Orthopnea
 Pengembangan dinding dada tidak
simetris
 Gangguan vokalisasi
 Akumulasi sputum
Gangguan ekspirasi
atelektasisi

2 Resiko ketidakefektifan perfusi Setelah diberikan intervensi keperawatan NIC : manajemen edema serebral
jaringan otak dibuktikan dengan selama asuhan keperawatan, diharapkan Aktivitas keperawatan
infark perfusi jaringan cerebral efektif 1. Monitor status neurologis dengan tepat dan 1. Infark atau hemoragik menyebabkan
NOC : perfusi jaringan : cerebral bandingkan dengan nilai normal penurunan fungsi neurologis dan dapat
 Dipertahankan pada 4 menimbulkan kelumpuhan
 Ditingkatkan pada 5 2. Hipertensi merupakan salah satu penyebab
1 = deviasi berat dari kisaran normal 2. Monitor tanda-tanda vital pecahnya pembuluh darah,
3. Monitor status penapasan: frekuensi, irama, 3. perubahan pola napas dapat terjadi bila
2 = deviasi yang cukup berat dari kisaran kedalaman pernapasan, terdapat penekanan pada hipotalamus
normal 4. Kurangi stimulus dalam lingkungan pasien 4. stimulus dapat menyebabkan peningkatan
5. Mpnitor adanya tanda-tanda peningkatan TIK TIK
3 = deviasi sedang dari kisaran normal
6. Berikan sedasi sesuai keperluan 5. ortorea, rhinorea, muntah proyektil adalah
4 = deviasi ringan dari kisaran normal
beberapa tanda dari peningkatan TIK
5 = tidak ada deviasi dari kisaran normal 6. sedasi memiliki efek yang dapat
membantu mengurangi stimulus dari
Dengan kriteria hasil: lingkungan dan mencegah terjadinya
peningkatan TIK
 Tekanan intrakranial
 Tekanan darah sistolik 7. posisi kepala yang lebih tinggi dapat
 Tekanan darah diastolik membantu mencegah dan menurunkan
 Nilai rata-rata tekanan darah 7. Posisiskan tinggi kepala tempat tidur 30 penumpukan cairan di otak
 Hasil cerebral angiogram derajat atau lebih 8. tirah baring dapat menyebabkan
kelemahan otot pada pasien
9. pajanan terhadap lingkungan dapat
menyebabkan perubahan suhu dan
8. Lakukan latihan ROM mempegaruhi suhu tubuh pasien
10. kelemahan otot untuk mengunyah,
9. Pertahankan suhu normal gangguan menelan, dapat menyebabkan
pasien mengalami intake nutrisi yang
kurang
11. kejang dapat meningkatkan tekanan
itrakranial.

10. Monitor intake dan output

11. Lakukan tindakan untuk mencegah kejang


(beri anti kejang sesuai kebutuhan)
3 Nyeri akut b.d agen pencedera Setelah diberikan intervensi keperawatan NIC: Manajemen nyeri 1. Untuk mengetahui sejauh mana nyeri
biologis (tumor paru) selama 3 x 24 jam, diharapkan pasien Aktivitas keperawatan: terjadi
mampu menunjukkan: 1. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif 2. Mengetahui keadaan umum pasien
Ditandai dengan: meliputi lokasi, karakteristik, durasi, 3. Membantu pasien mengidentifikasi
NOC: Nyeri Akut
 Dipertahankan pada 2 frekuensi,intensitas nyeri dan faktor nyeri yang dialami agar dapat
Mengeluh area dada seperti
 Ditingkatkan pada 5 pencetus meringankan dan mengurangi nyeri
dtertekan benda berat dengan sampai pada kenyamanan yang
skala 5, nyeri dirasakan ±35 menit  1= Berat 2. Kaji tanda-tanda vital
diterima pasien
 2= Cukup berat 3. Gali bersama pasien faktor yang dapat
menurunkan nyeri seperti kompres 4. Untuk mengetahui tindakan yang
Tampak meringis,  3= Sedang
hangat/dingin nyaman dilakukan bila nyeri muncul
 4= Ringan 5. Pengetahuan yang akan dirasakan
nadi 82 x/m 4. Evaluasi efektivitas tindakan pengontrolan
 5= Tidak ada membantu mengurangi nyerinya dan
nyeri yang pernah digunakan sebelumnya.
Dengan kriteria hasil dapat membantu mengembangkan
 Nyeri yang dilaporkan 1/2/3/4/5 5. Berikan informasi mengenai penyebab 6. Lingkungan tenang akan menurunkan
 Panjangnya episode nyeri 1/2/3/4/5 nyeri dan berapa lama nyeri akan stimulus nyeri eksternal dan
 Mengerang dan menangis 1/2/3/4/5 dirasakan membatasi pengunjung akan
 Ekspresi nyeri wajah 1/2/3/4/5 6. Kendalikan faktor lingkungan tenang, membantu meningkatkan kondisi
 Mengeluarkan keingat 1/2/3/4/5 batasi pengunjung, suhu ruangan, oksigen ruangan yang akan berkurang
pencahayaan apabila banyak yang berada di
7. Ganti linen tempat tidur bila diperlukan ruangan.
8. Berikan posisi nyaman ketika nyeri 7. Memberikan rasa nyaman
muncul 8. Untuk mengurangi atau meringankan
9. Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri rasa nyeri sampai pada tingkat yang
10. Ajarkan tekhnik relaksasi (tarik nafas dapat diterima pasien
dalam) ketika nyeri muncul 9. Distraksi dapat menurunkan stimulus
11. Ajarkan teknik relaksasi genggam jari internal
12. Lakukan manajemen sentuhan 10. Untuk meringankan rasa nyari
13. Berikan aromaterapi untuk mengurangi 11. Genggaman jari akan menghangatkan
nyeri titik-titik keluar dan masuknya energy
14. Dukung istirahat/tidur yang adekuat untuk meridian yang terletak pada tangan.
membantu penurunan nyeri Yang akan memberikan rangsangan
15. Berikan individu penurun nyeri yang menuju saraf pada tubuh yang
optimal dengan peresepan analgesic mengalami gangguan, dan dapat
mengurangi nyeri
12. Manajemen sentuhan pada saat nyeri
berupa sentuhan dukungan psikologis
dapat membantu menurunkan nyeri.
kepatuhan pasien terhadap rencana
terapeutik.
13. Aromaterapi dapat memodulasi otak
untuk memberikan perasaan tenang
dan rileks sehingga dapat
mengeliminasi stimulus nyeri yang
diterima otak
14. Istirahatkan secara fisiologis akan
menurunkan kebutuhan oksigen untuk
memenuhi metabolisme basal.
15. Analgesik memblok lintasan nyeri
sehingga nyeri akan berkurang.
3 Intoleran aktivitas b.d Setelah diberikan intervensi keperawatan NIC: Terapi aktivitas 1. Mengetahui keterbatasan aktivitas
ketidakseimbangan antara suplai selama 3 x 24 jam, intoleran aktivitas Aktivitas Keperawatan: klien
dan kebutuhan oksigen, teratasi dengan: 1. Pertimbangkan kemampuan klien dalam 2. Pasien dapat memilih dan
imobilitas, tidak pengalaman NOC: Toleransi terhadap aktivitas berpartisipasi melalui aktivitas spesifik merencanakannya sendiri berdasarkan
dengan suatu aktivitas, fisik tidak  Dipertahankan pada 4 2. Bantu klien untuk mengeksplorasi tujuan aktifitas yang biasa dilakukan
bugar, gaya hidup kurang gerak.  Ditingkatkan pada 5 personal dari aktivitas yang biasa 3. Aktivitas yang tepat dapat melatih
 1= Sangat terganggu dilakukan kekuatan dan irama jantung
4. Mencegah terjadi nya cedera
 2= Banyak terganggu 3. Dorong aktivitas kreatif yang tepat
4. Ciptakan lingkungan aman untuk dapat 5. Mempermudah klien dalam aktivitas
Batasan karakteristik:  3= Cukup terganggu
 4= Sedikit terganggu melakukan pergerakan otot secara berkala 6. Keluarga dapat memantau klien secara
sesuai dengan indikasi penuh
 Respon TD abnormal terhadap  5= Tidak terganggu 7. Meningkatkan motivasi dan harga diri
aktivitas 5. Bantu untuk mendapatkan alat bantuan
Dengan kriteria hasil: klien
aktivitas seperti kursi roda
 Respon frekuensi jantung  Toleransi terhadap aktivitas 1/2/3/4/5 8. Mengetahui setiap perkembangan
6. Berikan kesempatan keluarga untuk
abnormal terhadap aktivitas - SaO2 ketika beraktivitas yang muncul segera setelah terapi
terlibat dalam aktivitas dengan cara yang
 Perubahan EKG - Frekuensi nadi ketika beraktivitas aktivitas.
tepat
 Ketidaknyamanan setelah - Frekuensi pernapasan ketika
7. Berikan reinforcement positif bagi 9. Mengkaji sejauh mana perbedaan
aktivitas beraktivitas peningkatan selama aktivitas
partisipasi klien dalam aktivitas
 Dispnea setelah aktivitas - TD ketika beraktivitas
8. Monitor respon fisik, emosi, sosial dan 10. Aktifitas mempengaruhi kerja jantung
 Keletihan - Kekuatan tubuh
spiritual terhadap aktivitas sehingga pasien dengan gangguan
 Kelemahan umum - Kemudahan dalam melakukan
9. Bantu klien dan keluarga memantau jantung dapat menyebabkan
aktivitas hidup harian peningkatan kerja jantung dan dapat
perkembangan klien terhadap pencapaian
- Kemampuan berbicara ketika menyebabkan henti jantung mendadak
tujuan
melakukan aktivitas fisik 11. Latihan yang dilakukan harus
NIC: Perawatan jantung: Rehabilitatif mengimbangi kerja janutng sehingga
Aktivitas Keperawatan: latihan yang dilakukan semaksimal
10. Monitor toleransi pasien terhadap mungkin dengan beban kerja janutng
aktivitas yang terkontrol
11. Pertahankan jadwal ambulasi sesuai 12. Menjaga pola makan dan laithan akan
toleransi pasien menjaga kestabilan kerja jantung.
12. Instruksikan pada pasien dan keluarga 13. Latihan pada pasien fengan ganggguan
mengenai modifikasi faktor resiko janutng memiliki aturan latihan untuk
jantung menjaga kerja jantug tetap stabil
13. Instruksikan pasien dan keluarga 14. Mencegah penggunaan energi yang
mengenai aturan berolahraga berlebihan karena dapat menimbulkan
sebagaimana mestinya kelelahan.
15. Memudahkan klien untuk mengenali
kelelahan dan waktu untuk istirahat
NIC: Manajemen energi 16. Menyamakan persepsi perawat-klien
Aktivitas Keperawatan: mengenai tanda-tanda kelelahan dan
14. Tentukan pembatasan aktivitas fisik pada menentukan kapan aktivitas klien
klien dihentikan
15. Tentukan persepsi klien dan perawat 17. Mempertahankan dan meningkatkan
mengenai kelelahan. toleransi latihan
16. Anjurkan klien untuk membatasi aktivitas 18. Mengoptimalkan kapasitas fisik tubuh
yang cukup berat seperti berjalan jauh, 19. Meningkatkan fleksibilitas sendi
berlari, mengangkat beban berat, dll anggota gerak
20. Memulihkan dan meningkatkan
kondisi otot, tulang, jantung dan paru-
Evidance base: paru menjadi lebih baik
17. Terapi latihan home based exercise
training (Budiyarti, 2013)
18. Terapi mobilisasi (Susanto, 2016)
19. Pemberian latihan rentang gerak (Gusti,
2014)
20. Terapi latihan pembebanan (Harsanti,
2014)
no Diagnosa Keperawatan Tujuan/ Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
(NOC) (NIC)
1 Resiko defisit volume cairan b.d Setelah dilakukan tindakan keperawatan NIC : Manajemen cairan
kehilangan cairan secara aktif selama 3 x 24 jam defisien volume cairan Aktivitas keperawatan:
(perdarahan), yang ditandai tidak terjadi, dengan: 1. Timbang berat badan setiap hari dan 1. Menimbang berat badan penting untuk
dengan: NOC: Keseimbangan cairan monitor status pasien mengetahui status kebutuhan cairan
- Penurunan turgor kulit  Ditingkatkan pada 5 yang akan diberikan.
- Penurunan haluaran urine 1= sangat terganggu 2. Mencatat intake dan output adalah
- Membrane mukosa kering 2= banyak terganggu 2. Jaga intake dan asupan yang akurat dan untuk mengetahui keseimbangan
- Kulit kering 3= cukup terganggu catat output cairan yang masuk dan keluar
- Peningkatan suhu tubuh 4= sedikit terganggu 3. Kateter urine berguna untuk melihat
- Peningkatan frekuensi nadi 5= tidak terganggu output urine secara berkala dan melihat
- Peningkatan hematocrit Dengan kriteria hasil: 3. Masukkan kateter urine warna dan konsentrasi urine
- Peningkatan konsentrasi urine  Keseimbangan cairan 1/2/3/4/(5) 4. Melihat status hidrasi untuk
- Penurunan BB tiba-tiba - Tekanan darah (5) mengetahui tingkat kekurangan cairan
- Haus - Keseimbangan intake dan output (5)
- Kelemahan 5. Hasil laboratorium dapat
- Turgor kulit (5)
mencerminkan kandungan cairan dari
- Kelembaban membran mukosa (5)
4. Monitor status hidrasi (membran mukosa, dalam plasma dan tubuh
- Berat jenis urine (5)
denyut nadi, dan tekanan darah) 6. Kekurangan volume cairan dapat
- Kehausan (5)
5. Monitor hasil laboratorium yang relevan mempengaruhi keseimbangan tanda-
(penurunan hematokrit, kadar urine) tanda vital
6. Monitor tanda-tanda vital 7. Terapi IV line dapat membantu
memenuhi kebutuhan cairan secara
cepat melalui vena
8. Cairan yang tepat dapat mengandung
elektrolit yang dapat menjaga
7. Berikan cairan IV seperti yang ditentukan keseimbangan cairan dalam tubuh
9. Meningkatkan asupan oral untuk
menjaga mukosa dan keadaan umum
pasien
8. Berikan cairan dengan tepat

10. Pasien mendapatkan terapi lanjut


9. Tingkatkan asupan oral (misalnya
memberikan sedotan, menawarkan cairan
diantara waktu makan) 11. Air kelapa dapat menjaga ion dan
10. Konsultasikan dengan dokter jika tanda- elektrolit cairan dalam tubuh
tanda kekurangan cairan memburuk
Eviden based
11. Pengaruh pemberian air kelapa muda
terhadap tingkat status hidrasi cairan
tubuh setelah melakukan aktivitas 12. Melihat status derajat keparahan
olahraga kekurangan volume cairan dalam tubuh
12. Pemantauan status hidrasi pada pasien
meliputi pemantauan selama 24 jam
dengan menggunakan chart intake dan
output

2 Nyeri akut b.d agen pencedera Setelah diberikan intervensi keperawatan NIC: Manajemen nyeri 1. Untuk mengetahui sejauh mana nyeri
biologis (ca ovarium, masa pada selama 3 x 24 jam, diharapkan nyeri Aktivitas keperawatan: terjadi
intrauteri) terkontrol dengan : 1. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif 2. Mengetahui keadaan umum pasien
NOC: Nyeri Akut meliputi lokasi, karakteristik, durasi, 3. Membantu pasien mengidentifikasi
Ditandai dengan: nyeri yang dialami agar dapat
 Dipertahankan pada 2 frekuensi,intensitas nyeri dan faktor
 Ditingkatkan pada 5 pencetus meringankan dan mengurangi nyeri
- Adanya laporan terhadap sampai pada kenyamanan yang
nyeri  1= Berat 2. Kaji tanda-tanda vital
diterima pasien
- Takikardi  2= Cukup berat 3. Gali bersama pasien faktor yang dapat
menurunkan nyeri seperti kompres 4. Untuk mengetahui tindakan yang
- Diaphoresis  3= Sedang
hangat/dingin nyaman dilakukan bila nyeri muncul
- Peningkatan tekanan darah  4= Ringan
4. Evaluasi efektivitas tindakan pengontrolan 5. Pengetahuan yang akan dirasakan
- Ekspresi meringis  5= Tidak ada membantu mengurangi nyerinya dan
nyeri yang pernah digunakan sebelumnya.
Dengan kriteria hasil dapat membantu mengembangkan
5. Berikan informasi mengenai penyebab
 Nyeri yang dilaporkan 1/2/3/4/5 nyeri dan berapa lama nyeri akan 6. Lingkungan tenang akan menurunkan
 Panjangnya episode nyeri 1/2/3/4/5 dirasakan stimulus nyeri eksternal dan
 Mengerang dan menangis 1/2/3/4/5 6. Kendalikan faktor lingkungan tenang, membatasi pengunjung akan
 Ekspresi nyeri wajah 1/2/3/4/5 batasi pengunjung, suhu ruangan, membantu meningkatkan kondisi
 Mengeluarkan keingat 1/2/3/4/5 pencahayaan oksigen ruangan yang akan berkurang
7. Ganti linen tempat tidur bila diperlukan apabila banyak yang berada di
8. Berikan posisi nyaman ketika nyeri ruangan.
muncul 7. Memberikan rasa nyaman
9. Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri 8. Untuk mengurangi atau meringankan
10. Ajarkan tekhnik relaksasi (tarik nafas rasa nyeri sampai pada tingkat yang
dalam) ketika nyeri muncul dapat diterima pasien
11. Ajarkan teknik relaksasi genggam jari 9. Distraksi dapat menurunkan stimulus
12. Lakukan manajemen sentuhan internal
13. Berikan aromaterapi untuk mengurangi 10. Untuk meringankan rasa nyari
nyeri 11. Genggaman jari akan menghangatkan
14. Dukung istirahat/tidur yang adekuat untuk titik-titik keluar dan masuknya energy
membantu penurunan nyeri meridian yang terletak pada tangan.
15. Berikan individu penurun nyeri yang Yang akan memberikan rangsangan
optimal dengan peresepan analgesic menuju saraf pada tubuh yang
mengalami gangguan, dan dapat
mengurangi nyeri
12. Manajemen sentuhan pada saat nyeri
berupa sentuhan dukungan psikologis
dapat membantu menurunkan nyeri.
kepatuhan pasien terhadap rencana
terapeutik.
13. Aromaterapi dapat memodulasi otak
untuk memberikan perasaan tenang
dan rileks sehingga dapat
mengeliminasi stimulus nyeri yang
diterima otak
14. Istirahatkan secara fisiologis akan
menurunkan kebutuhan oksigen untuk
memenuhi metabolisme basal.
15. Analgesik memblok lintasan nyeri
sehingga nyeri akan berkurang.
3 Konstipasi berhubungan dengan Setelah diberikan intervensi keperawatan NIC : Manajemen salura cerna
kurangnya aktifitas harian selama 3 x 24 jam, diharapkan eliminasi 1. Catat tanggal buang air besar terakhir 1. Mengetahui berapa lama pengleuaran
usus tidak terganggu dengan : terakhir
Ditandai dengan : 2. Perubahan pola eliminasi usus dapat
NOC: eliminasi usus 2. Periksa adaya penurunan bising usus
 Dipertahankan pada 2 terjadi akibat penurunan gerakan
Feces keras
 Ditingkatkan pada 1 peristaltic usus
Teraba massa
 1= sangat terganggu
 2= banyak terganggu
 3= cukup terganggu 3. Berikan cairan hangat setelah makan 3. Cairan hangat dapat membantu
 4= sedikit terganggu absorpsi usus dan dapat melunakkan
 5= tidak terganggu feces
Dengan kriteria hasil 4. Instruksika pasien mengenai makanan 4. Konsumsi makanan tinggi serat dapat
meningkatkan gerakan peristaltic usus
- Pola eliminasi tinggi serat, dengan cara yang tepat
dan medorong defekasi
- Kontrol gerakan usus NIC : manajemen konstipasi/impaksi
- Warna feces
- Jumlah feces 5. Monitor tanda dan gejala terjadinya 5. Perubahan pola eliminasi usus dapat
- Feces lembut da berbentuk rupture usus dann peritonitis terjadi akibat peritonitis
- Kemudahan BAB 6. Identifikasi faktor-faktor (mis. pengobata, 6. Tirah baring lama dengan aktivitas
- Pengeluaran feces tanpa bantuan tirah baring, dan diet) yang menyebabkan fisik kurang dari yang dianjurkan
atau berkontribusi pada terjadinya dapat menyebabkan terjadinya
- Bising usus
konstipasi konstipasi
7. Monitor hasil produksi pengeluaran usus 7. Pengeluaran eliminasi usus yang
disertai dengan adanya darah
(feces) meliputi frekuensi, konsistensi,
menunjukkan adanya perdarahan pada
bentuk, warna, dengan cara yagn tepat
gastrointestinal