Anda di halaman 1dari 3

Faktor-Faktor Penyebab Penurunan Area Lamun

Lamun hidup dan terdapat pada daerah mid-intertidal sampai kedalaman 0,5-10 m, dan
sangat melimpah di daerah sublitoral. Jumlah spesies lebih banyak terdapat di daerah tropik dari
pada di daerah ugahari (Barber, 1985). Habitat lamun dapat dilihat sebagai suatu komunitas, dalam
hal ini suatu padang lamun merupakan kerangka struktur dengan tumbuhan dan hewan yang saling
berhubungan. Habitat lamun dapat juga dilihat sabagai suatu ekosistem, dalam hal ini hubungan
hewan dan tumbuhan tadi dilihat sebagai suatu proses yang dikendalikan oleh pengaruh-pengaruh
interaktif dari faktor-faktor biologis, fisika, kimiawi. Ekosistem padang lamun pada daerah tropik
dapat menempati berbagai habitat, dalam hal ini status nutrien yang diperlukan sangat
berpengaruh. Lamun dapat hidup mulai dari rendah nutrien dan melimpah pada habitat yang tinggi
nutrien. Lamun pada umumnya dianggap sebagai kelompok tumbuhan yang homogen. Lamun
terlihat mempunyai kaitan dengan habitat dimana banyak lamun (Thalassia) adalah substrat dasar
dengan pasir kasar. Menurut Haruna (Sangaji, 1994) juga mendapatkan Enhalus acoroides
dominan hidup pada substrat dasar berpasir dan pasir sedikit berlumpur dan kadang-kadang
terdapat pada dasar yang terdiri atas campuran pecahan karang yang telah mati.
Banyak kegiatan pembangunan di wilayah pesisir telah mengorbankan ekosistem padang
lamun, seperti kegiatan reklamasi untuk pembangunan kawasan industri atau pelabuhan ternyata
menurut data yang diperoleh telah terjadi pengurangan terhadap luasan kawasan padang lamun,
Sehingga pertumbuhan, produksi ataupun biomasanya akan mengalami penyusutan. Di sisi lain
masih kurang upaya yang kita berikan untuk menyelamatkan ekosistem ini. Meskipun data
mengenai kerusakan ekosistem padang lamun tidak tersedia tetapi faktanya sudah banyak
mengalami degradasi akibat aktivitas di darat. Dampak nyata dari degradasi padang lamun
mengarah pada menurnnya keragaman biota laut sebagai akibat hilang atau menurunnya fungsi
ekologi dari ekosistem ini. Upaya rehabilitasi menjadi isu yang penting untuk dipikirkan bersama,
seperti kegiatan transplantasi lamun pada suatu habitat yang telah rusak dan penanaman lamun
buatan untuk menjaga kestabilan dan mempertahankan produktivitas perairan.

Adapun, penyebab penurunan area lamun terse but adalah sebagai berikut :

1. Eutrofikasi
Butrofikasi, peningkatan konsentrasi nutrisi di badan perairan terutama unsur nitrogen (N)
dan Fosfor (P), merupakan permasalahan yang penting dalam zona pesisir dunia.
Eutrofikasi dan pemuatan sedimen (pengendapan) diduga menjadi penyebab utam
penurunan area vegetasi lamun di seluruh dunia (GREEN &SHORT,2003;LARKUM et
al.,2006).
2. Pengendapan
Partikel tedarut yang terkandung daJam aliran tersebut, menciptakan turbiditas yang dapat
mengurangi kejernihan air dan mereduksi ketersediaan cahaya, sehingga menghambat
pertumbuhan dan perkernbangan lamun di kawasan estuari dan pesisir (BJORK et al.,
2008). Dampak lainnya adalah penimbunan sedimen pada lamun dan perubaban kondisi
sedimen, sehingga tidak dapat mendukung pertumbuban lamun. Saat ini, peogendapan juga
merupakan ancaman besar terbadap komunitas padang lamun (HEMMINGA & DUARTE,
2000).
3. Pembebanan sedimen organic
Eutrofikasi pada perairan pesisir bersamaan dengan meningkatnya pemasukan senyawa
organik ke dalam sedimen dapat memberikan dampak negatif terhadap lamun. Penurunan
larnun juga telah dikaitkan dengan beban senyawa organik lokal pada sedimen yang
berhubungan dengan aktivitas akuakultur. Peningkatan polusi perairan karena aktivitas
perikanan disebabkan oleb sisa pakan, ekskresi ikan, dan produksi feses. Partikel organilc
di dalam perairan mengalami sedimentasi, sehingga meningkatkan materi organik di dalam
sedimen.
4. Kerusakan mekanis
Kerusakan pada padang lamun yang disebabkan seeara mekanis dapat berasal dari berbagai
aktivitas, misalnya penangkapan ikan dan perkapalan. Praktek penangkapan ikan yang
mengganggu sedimen dapat menyebabkan penurunan area penutupan lamun, seperti
rusaknya taruk dan rimpang. Penggunaan pukat bahkan dapat merusak lamun secara
keseluruhan dengan cara mencabutnya dari sedimen.
5. Pemanasan global
Ancaman yang relatif baru terhadap lamun adalah perubahan iklim yang merupakan
dampak dari pemanasan global (GREEN & SHORT, 2003; LAFFOLEY &
GRIMSDITCH, 2009), walaupun dampak pada lamun seeara keseluruhan belum dapat
ditentukan. Potensi aneaman terhadap lamun dapat muneul secara tidak langsung dari
proses kenaikan permukaan air laut, perubahan sistem pasang surut, penurunan salinitas
lokal, kerusakan akibat radiasi sinar ultraviolet, serta dampak perubahan distribusi dan
intensitas kejadian ekstrim yang tidak terduga, yang merupakan akibat dari perubahan
iklim.

Dafpus

Barber, B.J.1985. Effects of elevated temperature on seasonal in situ leaf productivity of Thalassia
testudinum banks ex konig and Syringodium fliforme kutzing. Aquatic Botany 22:61-69.

GREEN, E. P.andF. T. SHORT 2003. WorldAllas of Seagrasses. University of California Press, USA:
310 pp ..

BJORK, M., F. T. SHORT, E. MCLEOD and S. BEER 2008. Managing seagrassesfor resilience to
climate change. IUCN, Switzerland: 56 pp.

HEMMINGA, M. A. and C. M. DUARTE 2000. Seagrassecology.Cambridge University Press, UK: 298


pp.