Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

SSCT (SACKS SENTENCES COMPLETION TEST)

Guna Memenuhi Nilai Tugas Kelompok Psikologi Proyektif

Disusun Oleh :
Dewi Angel 1511415040
Unik Pancerina 1511415045
Dimas Yudistira W. 1511415060
Muhammad Saiful Arbi 1511415066
Atikah 1511415067

Rombel 2

JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2017
A. Sejarah Sack Sentence Completion Test
Semenjak SentenceCompletion Test (SCT) termasuk dalam jenis dari
Word-Association method, kedua teknik tersebut sering dibandingkan, dan
umumnya kelebihan dari SCT.SCT dianggap lebih mampu memberikan kesan
terhadap konteks, nada perasaan, kualitas sikap, dan benda-benda tertentu atau
area perhatian. Hal itu membuat individu lebih bebas dalam memberikan respond
an juga cakupan perilaku subjek.
Pada tahun 1897 Ebbinghaus menggunakan kalimat tidak lengkap untuk
tes inteligensi, yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan
kombinasi dan juga penggabungan.Salah satu perintis metode Penyelesaian
Kalimat dalam bidang kepribadian adalah Tendler, yang membedakan antara
diagnosis reaksi pemikiran dan respon emosional. Tendler memberikan beberapa
kriteria yang dapat digunakan untuk tes pada ranah perilaku emosional, yaitu
penggunaan media yang akan :
(a) Secara langsung dapat menimbulkan respon emosional.
(b) Memberikan kebebesan dalam memberikan respon.
(c) menghindari diskriminasi atau pilihan (seperti dalam tes kepribadian)
Tendler menyatakan jika SCT memenuhi 3 kriteria tersebut sehingga
sesuai jika SCT ini sesuai untuk “tes pengetahuan emosional”.Pengetahuan yang
dimaksud yaitu pengetahuan tentang keadaan dimana masing-masing reaksi
emosional dibuat. Tes item dimaksudkan untuk merangsang kebanggan,
kemarahan, cinta, kebahagiaan, kebencian, rasa rendah diri, kekhawatiran,
kompensasi rasa percaya, penyesalan, kesombongan, keangkuhan, dendam,
negativisme, kasihan, rasa malu, ketakutan, ketertarikan, penghindaran,
penggelapan, dan keinginan.
Ini disebut keadaan emosional yang dipilih berdasarkan dasar empiris.
Tendler percaya bahwa pemunculan stimuli dengan cara ini akan membangkitkan
serangkaian keterangan emosional dan masih memberikan kebebasan dalam
memberikan respon. Contoh item yang digunakan Tendler dalam jenis ini seperti
misalnya: (2) saya marah ketika …. (3) Saya merasa senang ketika .... (4) Saya
suka…. ; (5) Aku benci …. (12) Saya memiliki dendam terhadap. ….
Berdasarkan analisa Tendler, ia mencatat dari 250 mahasiswi yang mendapat
stimulus yang sama akan menimbulkan respon yang berbeda dari individu yang
berbeda. Berdasarkan beberapa pengelompokan, ada respon yang menunjukkan
ketakutan, keengganan, suka, minat, dan kasih sayang.Perbedaan respon yang
mereka munculkan dapat mengacu pada ego yang positif ataupun negatif, juga
atas faktor sosial.
Lorge dan Thorndike menggunakan usaha yang keras dan tabulasi statistic
dalam permasalahan penilaian respon pada SCT sebagai indikator dari sifat-sifat
individu.Sebuah kelompok yang terdiri dari 30 orang dewasa diberikan 240
pernyataan yang harus diisi dengan kata tunggal. Contoh pernyataannya adalah
seperti: (1) Binatang adalah… (20) Saya tidak suka… (80) Wanita ingin…
(121)… menyenangkan. (160) Orang kaya dapat membeli…. Tiap-tiap penulis
membuat daftar tentang sifat, minat, sikap, dan perhitungan seperti ini.Untuk
contoh, “Binatang itu berbahaya”, diberi skor +1 pada daftar Thorndike dibawah
“Menyukai keamanan”.Eksperimen dilakukan dua kali dengan rentang waktu 3
bulan antar sesi.Hasilnya, 30 persen dari 480 respon dinyatakan “signifikan” dan
digunakan. Pengarang mengatakan jika “kita takut jawaban verbal dalam tes
asosiasi dan melengkapi secara luas tidak berhubungan dalam perilaku nyata
seseorang…. Seseorang mungkin akan banyak dipengaruhi oleh kebiasaan-
kebiasaan verbal dan simbolik spesial”.
Sebuah penelitian lebih lanjut kemudian dibuat oleh Rohde, yang
menganjurkan penggunaan SCT sebagai alat untuk para psikolog klinis dan
profesional lainnya yang berurusan dengan masalah masa muda dan yang
membutuhkan keintiman berkenalan dengan kebutuhan, konflik batin, fantasi,
sentimen, sikap, aspirasi, dan kesulitan penyesuaian klien mereka. Pertanyaan
langsung cenderung akan membuat mereka dalam kesadaran diri sehingga
melakukan defense. Kebebasan dalam merespon juga biasanya dibatasi oleh
pertanyaan atau pernyataan yang biasanya mengarahkan pada suatu
jawaban.Tidak seperti teknik proyeksi, yang dapat menghindarkan dari penolakan
dan juga kontrol. Mereka mengungkapkan kebutuhan yang terpendam, sentimen,
sikap, dan aspirasi dimana subjek akan enggan atau tidak dapat mengenali atau
mengungkapkan dalam komunikasi langsung.
Rohde memperbaiki daftar pertanyaan dari Payne yang digunakan sebagai
teknik proyeksi untuk mempelajari karakteristik kepribadian anak-anak muda.
Kriterianya dalam memilih dan menyusun item adalah sebagai berikut: (i)
rentang perbedaan stimulus harus cukup luas untuk memperoleh informasi
mengenai semua fase kepribadian. (2) Respon harus dikontrol sedikit mungkin
sehingga subjek dapat memiliki kebebasan berekspresi. (3) Total waktu yang
dibutuhkan untuk uji harus tidak melebihi jangka waktu yang nyaman untuk
jadwal sekolah dan lembaga. Bentuk akhir dari Rohde-Hildreth Completions
Blank terdiri dari 64 item dari jenis berikut: "Tugas sekolahku ... Saya ingin tahu.
. . Ada waktu. . . ," dll. Hal ini dimaksudkan untuk individu sekitar 12 tahun, dan
dapat diberikan pada individu atau tes kelompok.Penulis mengklaim bahwa
tesnya tidak hanya mengungkapkan kebutuhan subjek, keadaan pribadi, sifat, dan
tekanan, tetapi juga seleranya, sentimen, ideologi, struktur ego, status intelektual,
dan kematangan emosi.
Tes tersebut telah diakui kebenarannya di 670 sekolah menengah dan
interpretasi dari respon didasarkan pada 39 kategori kepribadian yang
diungkapkan oleh Murray.Rohde membuat beberapa pernyataan terkait barisan
stimulus, kedalaman teknik yang dapat dicapai, ketidakmampuan subjek untuk
menutupi kepribadian aslinya, dan keseluruhan jumlah rahasia yang dapat
diperoleh.Beberapa psikolog memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang luar
biasa.Shor kembali mengkritisi metode asosiasi kata diatas, dan memberikan
tambahan jika stimulus kata tidak direncanakan untuk rentangan konten maupun
berupa sambungan tapi disusun berubah-ubah. Pada Shor Self-Idea-Completion
test (SIC) stimulus adalah kalimat permulaan yang mengharuskan untuk memberi
kesan terhadap konteks, perasaan, kualitas sikap, dan objek spesifik pada area
perhatian. Contoh item dari SIC yaitu: (1) Saya ingin tahu … (4) Tentara
makan… (6) Belakang rumah… (10) Jika ibu saya…. Tidak ada sistem scoring
formal yang ditawarkan Shor, namun Shor menyarankan untuk melakukan
pemeriksaan pada ranah penolakan, bukti perlawanan, dan cara-cara
penghindaran, motif pencatatan berulang, dan perpaduan-perpaduan yang tidak
normal, dan evaluasi tingkatan kepribadian yang diproyeksikan.
Stein menyatakan jika tes melengkapi kalimat digunakan sebagai salah
satu Battery Test pada Veterans Administrations Mental Hygiene Clinic of the
New York Regional Office.Tes ini memang umumnya ditujukan pada personil
Office of Strategic Office selama perang. Hasilnya akan digunakan untuk
mengetahui hasil singkat dari deskripsi kepribadian dari pada kandidat. Test
terdiri dari 2 bagian dari 50 kalimat yang tidak lengkap pada masing-masing
bagiannya. Informasi yang dapat digali dari tes ini yaitu keluarga, masa lalu,
dorongan, keadaan pribadi, tujuan, penangkapan, energi, perspektif waktu, reaksi
terhadap orang lain, reaksi orang lain terhadap diri sendiri. Hasil tes ini sangat
bergantung dengan pengalaman, insight, dan pengetahuan tentang perilaku yang
dinamis.
Rotter dan Willerman mengakui validitas yang begitu tinggi dari metode
melengkapi kalimat seperti teknik evaluasi.Incomplete Sentences Test (ICT)-nya
digunakan sebagai sebuah alat seleksi untuk rumah sakit penyembuhan Tentara
Angkatau Udara. Te situ mengandung 40 item, seperti (1) Saya suka. . . (8) yang
terbaik. . . (28) Terkadang. . . (37) saya . . . Respon dihitung berdasarkan 3
kategori : konflik atau respon tidak sehat, positif atau respon sehat, dan respon
netral. respon konflik dihitung dari +1 sampai +3, respon netral 0, dan respon
positif dari -1 sampai -3. Evaluasi didasarkan pada informasi dari sejarah kasus,
tes kesehatan dan tes kepribadian, pengenalan hak, tes disfungsi mental, dan
wawancara psikologis.
Carter (dalam Abt & Bellak,1959) menggabungkan sebuah perubahan dari
Tendler’s Emotional Insight Test dengan sebuah psikogalvanometer untuk
meneliti tentang proses afeksi yang terpercaya. Stimulus disajikan secara singkat
dan dijawab menggunakan mulut.Kata-kata yang tepat digunakan oleh subjek
kemudian direkam, bersamaan dengan perubahan daya hantar di telapak tangan,
dan waktu reaksi yang dibutuhkan untuk melengkapi kalimat secara lisan.Respon-
repson dikelompokkan berdasarkan 6 kategori, yaitu ego-positif, ego-negatif,
sosial-positif, sosial-negatif, ketakutan, keseganan, dan tak terkelompokkan.Carter
menemukan terjadi perbedaan signifikan daya hantar listrik di telapak tangan dan
waktu reaksi pada subjek dengan banyak masalah dan juga psikoneurotik dengan
subjek normal.

B. Pengertian Sentence Completion Test


SSCT (Saks Sentence Completion Test) adalah suatu teknik proyeksi yang
digunakan untuk mengungkap dinamika kepribadian, yang dapat menampakkan
diri individu dalam hubungan interpersonal dan dalam interpretasi terhadap
lingkungan.Tes ini dibuat oleh Joseph M. Sacks, Sidney Levy dan beberapa
psikolog lainnya dari New York Veterans Administration Mental Hygiene
Service. Tes ini berbentuk kalimat-kalimat tidak sempurna yang harus dilengkapi
oleh testee sehingga menjadi kalimat yang utuh (teknik proyektif: Completion
task). Kalimat-kalimat tidak sempurna (incomplete sentences) dapat merangsang
seseorang untuk memproyeksikan keadaan atau isi psikisnya sesuai dengan
rangsang yang terdapat atau berkaitan dengan isi kalimat tersebut.Tes ini biasanya
digunakan untuk orang dewasa dan bertujuan untuk mengetahui penyesuaian diri
individu & struktur kepribadian. Isi kalimat-kalimat tersebut berkaitan dengan
area-area masalah kepribadian yang meliputi sikap individu terhadap 4 area
individual adjustment; penyesuaian dalam bidang:
1. Keluarga (serangkaian sikap terhadap ibu, ayah dan unit keluarga), terdiri
dari 12 item
2. Seks (sikap terhadap wanita dan hubungan antar lawan jenis atau
heteroseksual) terdiri dari 8 item
3. Hubungan antara manusia (sikap terhadap teman & kenalan, atasan atau
bawahan, dan sejawat di sekolah, kantor atau di tempat kuliah), terdiri dari
16 item
4. Konsep diri (ketakutan, perasaan bersalah, sikap seseorang terhadap
kemampuannya, terhadap masa lalu, masa depan, cita-cita/tujuan hidup),
terdiri dari 24 item
Asesmen kepribadian melalui proyeksi sikap individu terhadap masalah
tersebut akan diperoleh:

a. Gambaran sikap individu terhadap hal-hal yang penting yang berkaitan


dengan adjustment dirinya (hubungan masing-masing daerah sikap).
b. Gambaran keadaan psikis dalam dirinya atau kepribadiannya (kemampuan
berfikir terhadap realita, keadaan emosi, cara menyelesaikan konflik, dll)
c. Gambaran konflik atau masalah-masalah yang dialami menyangkut
penyesuaian diri (individual Adjustment).
d. Kaca mata klinis dapat menampakkan suatu gangguan sehingga tes ini
bermanfaat untuk terapi.
e. Dapat digunakan sebagai bahan awal untuk suatu wawancara eksploratif
lebih dalam, karena jika waktunya cukup kita bisa menanyakan per item
f. Konstruksi tes ini terdiri dari 60 item

C. Dasar Pemikiran SSCT ( Saks Sentence Completion Test )


1. Termasuk dalam tes proyektif.
2. SSCT terdiri dari sejumlah kalimat tidak lengkap yang disajikan untuk
dilengkapi.
3. Tidak diperlakukan secara kuantitatif.
4. Penting sebagai bahan pertimbangan dalam situasi klinis.
5. Asumsi: respon individu terhadap stimulus yang ambigu merupakan
proyeksi dari hal-hal yang ada dalam ketidaksadaran.

D. Prosedur Sack Sentence Completion Test


Dalam melakukan tes SSCT, beberapa administrasinya adalah sebagai berikut:
1) Pelaksanaan tes SSCT bisa dilakukan untuk individual maupun kelompok.
2) Estimasi waktu yang diperlukan adalah 20 sampai 40 menit. Tetapi kadang
klinis memberikan waktu sampai satu jam, juga klasikal biasanya satu jam.
3) Bacakan instruksi agar testee mengerti. Bila masih kurang mengerti,
berilah penjelasan. Usahakan agar testee menuliskan respon pertama kali
yang muncul
4) Jika ada aitem yang dianggap susah, maka berilah tanda dan lompati ke
nomor selanjutnya. Ketika sudah selesai, kembalilah ke nomor yang susah
tadi.
5) Beberapa pertanyaan yang seringkali muncul adalah, “Bolehkah saya
menjawab pertanyaan dengan waktu yang lebih lama untuk memikirkan
jawaban yang paling bijaksana?”. Pada dasarnya tes ini menekankan pada
respon awal atau respon spontan dari testee pada setiap stimulus. Oleh
sebab itu, testee tidak perlu menggunakan logikanya untuk melengkapi.
6) Pertanyaan lain yang muncul adalah “Haruskah aku menuliskan satu kata
saja?” maka tester silahkan menjawab, “Baik satu kata atau lebih
semuanya diperbolehkan sebab itu adalah reaksi spontan dan keinginan
testee.” Kadang kala, testee juga meminta tester untuk mengoreksi
jawaban testee saat tes. Maka jawablah bahwa semua jawaban testee
tersebut benar. Testee harus yakin bahwa semua respon spontannya benar.
7) Ketika testee memulai untuk mengerjakan soal pertama, perlu dicatat
waktu memulainya. Kemudian ditulis di sebelah kanan atas lembar
jawaban. Waktu selesainya juga harus ditulis.
8) Jika memungkinkan untuk meng-cross chek jawaban dengan cara meminta
testee untuk menceritakan lebih mendetail dengan wawancara. Poin
pentingnya adalah setiap peristiwa yang terjadi dimasa lalu akan
mendasari testee menjawab soal tersebut. Misalnya adalah jawaban yang
membuat depresi, seperti “Kenangan masa kecilku sudah hancur”.
Kemudian testee diminta untuk menceritakan masa kecilnya. Ia akan
memulai bercerita saat usia 5 tahun. “Ketika sedang bermain dengan anak-
anak lain di dapur, ia memecahkan termos panas dan mengenai temannya
sampai meninggal”. Testee menceritakan kejadian tersebut pada tester
(terapis)
9) Metode standar yang dipakai : subyek diminta untuk membaca soal
(stimulus) dan menuliskan responnya. Jika ada beberapa hal yang
membuat testee cemas, bisa disampaikan langsung atau diceritakan
pengalaman yang membuat testee cemas tersebut. Setelah melakukan tes
SSCT, diharapkan testee akan menjadi lebih baik.
10) Menggunakan wawancara atau oral digunakan untuk menggali beberapa
aitem yang spesiifik. Perlu dilakukan observasi pada lamanya waktu
menjawab, ekspresi wajah, perubahan tinggi rendah suara, intonasi suara
dan perilakunya.
E. Interpretasi Sack Sentence Completion Test
Interpretasi dari SSCT dilakukan dengan melihat lembar jawab yang
dibuat oleh subyek, dan kemudian dibedakan tingkatan gangguan. Antara lain :
2. Sangat terganggu. Memerlukan terapis untuk mengontrol konflik
emosi pada subyek
1. Terganggu (dalam taraf sedang). Ia memiliki konflik emosional
tapi mampu mengontrolnya, sehingga tidak membutuhkan terapis.
0. Tidak ada catatan gangguan
x. Tidak diketahui dan tidak cukup bukti.
Dalam melakukan interpretasi tes SSCT, dimulai dengan melihat lembar jawab
yang disediakan untuk tes tersebut. Lembar jawab tes disajikan bersama dan
dibawahnya ada beberapa sikap dan empat stimulus. Subyek diminta untuk
merespon aitem tersebut.
Contoh : Sikap terhadap ayah
1. aku merasa kalau ayahku jarang bekerja
16. jika ayahku mau berbuat lebih baik
31. aku berharap ayahku sudah mati
46. aku merasa ayahku tidak baik
Kata yang tercetak miring adalah respon dari subyek. Empat respon
tersebut dipertimbangkan bersama dan ringkasan interpretasi dibuat berdasarkan
realisasi pengaruh klinis dari perilaku subyek dalam hal tersebut. Dalam kasus ini,
ringkasan tersebut berisi : ‘permusuhan yang berlebihan dan berharap kematian’.
Menurut tingkatannya, testee masuk ke dalam skor 2 (sangat mengganggu,
dibutuhkan terapis untuk mengontrol konflik emosinya).
SACKS SENTENCE COMPLETION TEST (SSCT)
ITEM TEST
Waktu mulai :
Waktu selesai :
Nama :
Tanggal :
Petunjuk : Di bawah ini ada enam puluh kalimat yang belum lengkap.
Bacalah masing-masing dan selesaikanlah dengan mengisikan apa
yang pertama-tama muncul dalam pikiranmu. Bekerjalah secepat-
cepatnya.Bila ada yang tidak dapat kamu kerjakan lingkarilah
nomornya dan kembalilah mengerjakan kemudian.

1. Saya merasa bahwa ayah saya jarang. . .


2. Ketika rintangan menentang saya. . .
3. Saya selalu ingin. . .
4. Jika saya mampu dalam. . .
5. Bagi saya masa depan terlihat. . .
6. Orang-orang terhadap saya. . .
7. Saya tahu itu konyol tapi saya takut untuk. . .
8. Saya merasa bahwa sahabat sejati. . .
9. Ketika saya masih anak-anak. . .
10. Pemikiran saya tentang wanita yang sempurna. . .
11. Ketika saya melihat seorang pria dan seorang wanita bersama-sama…
12. Dibandingkan dengan kebanyakan keluarga, keluarga saya. . .
13. Di tempat kerja, saya bisa mendapatkan yang terbaik dengan. . .
14. Ibu saya. . .
15. Saya akan melakukan apa saja untuk melupakan waktu ketika saya…
16. Seandainya ayah saya hanya. . .
17. Saya percaya bahwa saya memiliki kemampuan untuk. . .
18. Saya benar-benar bahagia jika. . .
19. Jika orang bekerja untuk saya. . .
20. Saya berharap untuk. . .
21. Di sekolah, guru saya. . .
22. Sebagian besar teman-teman saya tidak tahu bahwa saya takut terhadap. . .
23. Saya tidak suka orang-orang yang. . .
24. Sebelum perang, saya. . .
25. Saya pikir sebagian besar anak perempuan. . .
26. Perasaan saya tentang kehidupan pernikahan adalah. . .
27. Keluarga saya memperlakukan saya seperti. . .
28. Mereka yang bekerja dengan saya adalah. . .
29. Ibu saya dan saya. . .
30. Kesalahan terbesar saya adalah. . .
31. Saya berharap ayah saya. . .
32. Kelemahan terbesar saya adalah. . .
33. Ambisi rahasia dalam hidup saya . . .
34. Orang yang bekerja untuk saya. . .
35. Suatu hari saya. . .
36. Ketika saya melihat bos datang. . .
37. Saya berharap saya dapat mengalahkan rasa takut terhadap. . .
38. Orang-orang yang paling saya sukai. . .
39. Jika saya kembali muda lagi. . .
40. Saya percaya sebagian besar wanita. . .
41. Jika saya memiliki hubungan seks. . .
42. Sebagian besar keluarga yang saya tahu. . .
43. Saya suka bekerja dengan orang-orang yang. . .
44. Saya berpikir bahwa kebanyakan ibu. . .
45. Ketika saya masih muda, saya merasa bersalah apabila. . .
46. Saya merasa bahwa ayah saya. . .
47. Ketika keberuntungan berbalik melawan saya. . .
48. Dalam memberikan perintah kepada orang lain, saya. . .
49. Apa yang saya inginkan yang terbaik dari kehidupan. . .
50. Ketika saya lebih tua. . .
51. Orang yang saya anggap lebih unggul dari saya. . .
52. Ketakutan saya kadang-kadang memaksa saya untuk. . .
53. Ketika saya tidak ada, teman-teman saya. . .
54. Kenangan masa kecil saya yang paling jelas. . .
55. yang kurang saya sukai dari wanita. . .
56. kehidupan seks saya. . .
57. Ketika saya masih kecil, keluarga saya. .
58. Orang yang bekerja dengan saya biasanya. . .
59. Saya suka ibu saya tapi. . .
60. Hal terburuk yang pernah saya lakukan. . .
DAFTAR PUSTAKA

Abt, L. E., & Bellak, L. (1959). Projective Psychology. New York: Grove Press
Book.