Anda di halaman 1dari 6

BAB II

PEMBAHASAN
A. INFLAMASI

Radang atau inflamasi sebenarnya merupakan respon jaringan hidup untuk mempertahankan
diri. Misalnya karena adanya benda asing, bakteri, dsb. Radang sendiri dibagi menjadi 2, yaitu:

1. Inflamasi non imunologis : tidak melibatkan sistem imun (g ada reaksi alergi) misalnya karena
luka, cedera fisik, dsb
2. Inflamasi imunologis : Melibatkan sistem imun, terjadi reaksi antigen-antibodi. Misal pada
asma

Inflamasi adalah respon biologis kompleks dari jaringan vaskuler atas adanya bahaya, seperti pathogen,
kerusakkan sel, atau iritasi. Ini adalah usaha perlindungan diri tubuh kita untuk menghilangkan
rangsangan penyebab luka dan inisiasi proses penyembuhan jaringan. Jika inflamasi tidak ada, maka luka
dan infeksi tidak akan sembuh dan akan menggalami kerusakkan yang lebih parah. Namun, inflamasi
yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan penyakit, seperti demam, atherosclerosis, dan
reumathoid arthritis. (Gard, 2001)

Inflamasi dapat dibedakan atas inflamasi akut dan kronis. Inflamasi akut adalah respon awal
tubuh oleh benda berbahaya dan terus meningkat sejalan dengan meningkatnya pergerakkan plasma
dan leukosit dari darah ke jaringan luka. Reaksi biokimia berantai yang mempropagasi dan pematangan
respon imun, termasuk system vaskuler, system imun dan berbagai sel yang ada pada jaringan luka.
Inflamasi kronis merupakan inflamasi yang berpanjangan, memicu peningkatan pergantian tipe sel yang
ada pada tempat inflamasi dan dicirikan dengan kerusakkan dan penutupan jaringan dari proses
inflamasi. (Gard, 2001)

Inflamasi merupakan respon jaringan terhadap rangsangan fisik atau kimiawi yang merusak sel
tubuh. Rangsangan ini menyebabkan lepasnya mediator inflamasi seperti histamin, serotonin, bradikinin,
dan prostaglandin, yang menimbulkan reaksi radang berupa panas, nyeri, merah, bengkak, dan disertai
gangguan fungsi. Kerusakan sel yang terkait dengan inflamasi berpengaruh pada selaput membran sel
yang menyebabkan leukosit mengeluarkan enzim-enzim lisosomal dan asam arakidonat., selanjutnya
dilepaskan dari persenyawaan-persenyawaan terdahulu. Jalur siklooksigenase (COX) dari metabolisme
arakidonat menghasilkan prostaglandin yang mempunyai efek pada pembuluh darah, ujung saraf, dan
pada sel-sel yang terlibat dalam inflamasi. (Katzung, 2004). Itulah mengapa ketika terjadi peradangan
kita merasakan nyeri.

B. ANTI-INFLAMASI

Anti inflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang disebabkan bukan karena
mikroorganisme (non infeksi), namun yang timbul sebagai respon cedera jaringan dan infeksi. Agen-agen
anti-inflamasi mempunyai khasiat tambahan seperti meredakan rasa nyeri (Analgesik), dan penurun
panas (Antipiretik). Setelah dilakukan riset untuk obat yang efektiftif dan efek samping minimal, maka
dikenalkan obat-obat Anti-inflamasi non steroid atau NSAID (Non Steroidal Antiinflamatory Drug) yang
mempunyai efek-efek Anti-inflamasi kuat. NSAID memiliki khasiat analgesik (pereda nyeri), antipiretik
(penurun panas), dan antiinflamasi (anti radang). Istilah “non steroid” digunakan untuk membedakan
jenis obat-obatan ini dengan steroid, yang juga memiliki khasiat serupa. NSAID bukan tergolong obat-
obatan jenis narkotika.

Cara kerja NSAID didasarkan pada penghambatan isoenzim COX-1 (cyclooxygenase-1) dan COX-2
(cyclooxygenase-2). Enzim cyclooxygenase ini berperan dalam memacu pembentukan prostaglandin dan
tromboksan dari arachidonic acid. Dengan terhambatnya isoenzym ini, maka prostaglandin yang
menimbulkan reaksi radang berupa panas, nyeri, merah, bengkak, dan disertai gangguan fungsi itu pun
tidak terbentuk.

Bagian tanaman kelor memiliki substansial aktivitas anti-inflamasi. Misalnya, ekstrak akar menunjukan
secara signifikan aktivitas anti-inflamasi pada kaki tikus yang diinduksi karagenan edema (Ezeamuzie et
al, 1996;.. Khare et al, 1997). Selain itu, n-butanol ekstrak biji Kelor menunjukkan aktivitas anti inflamasi
terhadap ovalbumin-induced peradangan saluran napas pada marmut (Mahajan et al., 2009).

C. Syok

Syok adalah kondisi hilangnya volume darah sirkulasi efektif. Kemudian diikuti perfusi jaringan
dan organ yang tidak adekuat, yang akibat akhirnya gangguan metabolik selular. Pada beberapa situasi
kedaruratan adalah bijaksana untuk mengantisipasi kemungkinan syok. Seseorang dengan cidera harus
dikaji segera untuk menentukan adanya syok. Penyebab syok harus ditentukan (hipovolemik,
kardiogenik, neurogenik, atau septik syok).(Bruner & Suddarth,2002).
Syok adalah suatu keadaan serius yang terjadi jika sistem kardiovaskuler (jantung dan pembuluh
darah) tidak mampu mengalirkan darah ke seluruh tubuh dalam jumlah yang memadai; syok biasanya
berhubungan dengan tekanan darah rendah dan kematian sel maupun jaringan. Syok terjadi akibat
berbagai keadaan yang menyebabkan berkurangnya aliran darah, termasuk kelainan jantung (misalnya
serangan jantung atau gagal jantung), volume darah yang rendah (akibat perdarahan hebat atau
dehidrasi) atau perubahan pada pembuluh darah (misalnya karena reaksi alergi atau infeksi).

Syok adalah kondisi kritis akibat penurunan mendadak dalam aliran darah yang melalui tubuh.
Ada kegagalan sistem peredaran darah untuk mempertahankan aliran darah yang memadai sehingga
pengiriman oksigen dan nutrisi ke organ vital terhambat. Kondisi ini juga mengganggu ginjal sehingga
membatasi pembuangan llimbah dari tubuh.

Macam-macam Syok :

 Syok kardiogenik (berhubungan dengan kelainan jantung)


 Syok hipovolemik ( akibat penurunan volume darah)
 Syok anafilaktik (akibat reaksi alergi)
 Syok septik (berhubungan dengan infeksi)
 Syok neurogenik (akibat kerusakan pada sistem saraf).

Penyebab :

 Perdarahan (syok hipovolemik)  Cedera tulang belakang (syok


 Dehidrasi (syok hipovolemik) neurogenik)
 Gagal jantung (syok kardiogenik)  Infeksi (syok septik)
 Trauma atau cedera berat  Reaksi alergi (syok anafilaktik)
 Serangan jantung (syok kardiogenik)  Sindroma syok toksik

Tanda-tanda syok :

 Gelisah, pucat, keringat berlebihan dan kulit lembab


 Bibir dan kuku jari tangan tampak kebiruan
 Nyeri dada
 Kulit Lembab Dan Dingin
 Pembentukan Air Kemih Berkurang Atau Sama Sekali Tidak Terbentuk Air Kemih
 Pusing
 Pingsan
 Tekanan Darah Rendah (Hipotensi), tapi Tidak semua hipotensi adalah syok
 Denyut nadi yang cepat,pernafasan dangkal , Lemah dan sampai tidak sadarkan diri
D. Penanganan Syok

Secara umum yaitu sebagai penolong yang berada di tempat kejadian, hal yang pertama-tama dapat
dilakukan apabila melihat ada korban dalam keadaan syok adalah :

1. Melihat keadaan sekitar apakah berbahaya (danger) , baik untuk penolong maupun yang
ditolong (contoh keadaan berbahaya : di tengah kobaran api)
2. Buka jalan napas korban, dan pertahankan kepatenan jalan nafas (Airway)
3. Periksa pernafasan korban (Breathing)
4. Periksa nadi dan Cegah perdarahan yang berlanjut (Circulation)
5. Peninggian tungkai sekitar 8-12 inchi jika ABC clear
6. Cegah hipotermi dengan menjaga suhu tubuh pasien tetap hangat (misal dengan selimut)
7. Lakukan penanganan cedera pasien secara khusus selama menunggu bantuan medis tiba.
8. Periksa kembali pernafasan, denyut jantung suhu tubuh korban (dari hipotermi) setiap 5
menit.

Pengobatan :

1. Penderita dijaga agar tetap merasa hangat dan kaki sedikit dinaikkan untuk mempermudah
kembalinya darah ke jantung.
2. Setiap perdarahan segera dihentikan dan pernafasan penderita diperiksa.
3. Jika muntah, kepala dimiringkan ke satu sisi untuk mencegah terhirupnya muntahan.
4. Jangan diberikan apapun melalui mulut.
5. Tenaga kesehatan bisa memberikan bantuan pernafasan mekanis.

Obat-obatan diberikan secara intravena.

1. Obat bius (narkotik),


2. Obat tidur
3. Obat penenang biasanya tidak diberikan karena cenderung menurunkan tekanan darah.
Cairan diberikan melalui infus. Bila perlu, diberikan transfusi darah.

Cairan intravena dan transfusi darah mungkin tidak mempu mengatasi syok jika perdarahan atau
hilangnya cairan terus berlanjut atau jika syok disebabkan oleh serangan jantung atau keadaan lainnya
yang tidak berhubungan dengan volume darah. Untuk menambah aliran darah ke otak atau jantung bisa
diberikan obat yang mengkerutkan pembuluh darah.

E. Syok Anafilaktik

Syok anafilaktik atau anafilaksis adalah reaksi alergi yang tergolong berat karena dapat mengancam
nyawa penderitanya. Reaksi alergi ini dapat berkembang dengan cepat. Kondisi ini diawali dengan
gejala-gejala umum, seperti mual, muntah, dan rasa sakit di daerah perut. Syok anafilaktik umumnya
muncul dalam beberapa menit setelah penderita terpapar oleh alergen, namun juga dapat muncul
setelah beberapa jam sehingga penyebab berikut gejalanya perlu dikenali.

a. Penyebab Syok Anafilaktik

Alergen adalah apa pun benda yang menjadi penyebab terjadinya syok anafilaktik. Reaksi
alergi berlebih ini adalah bagaimana sistem imun tubuh merespons zat-zat yang dianggap
berbahaya oleh tubuh secara alamiah. Beberapa alergen yang dapat memicu reaksi syok anafilaktik
di antaranya:

1. Makanan, seperti hidangan laut, telur, susu, atau buah-buahan.


2. Sengatan serangga, seperti lebah atau tawon.
3. Kacang-kacangan, seperti kacang tanah, kacang mede, kacang almond, dan lain-lain.
4. Obat-obatan tertentu, seperti antibiotik, Lain-lain, seperti karet lateks.

Penderita penyakit asma atau orang yang memiliki kelainan kulit menahun, seperti atopik
dermatitis, lebih berisiko terkena syok anafilaktik. Terdapat juga kasus anafilaktik idiopati, yaitu
reaksi alergi yang tidak dapat diketahui penyebabnya.

b. Gejala Syok Anafilaktik

Saat tubuh terpapar alergen, sistem imun tubuh Anda akan mengeluarkan berbagai zat
kimia, seperti histamin. Inilah yang menyebabkan munculnya reaksi syok anafilaktik. Gejala syok
anafilaktik lain yang patut diperhatikan selain yang sudah disebutkan di atas adalah:

1. Ruam merah pada kulit


2. Bentol yang gatal
3. Pembengkakan pada mata, bibir, tangan, dan kaki
4. Pembengkakan pada mulut, lidah, atau tenggorokan
5. Pusing atau pingsan
6. Mengi
c. Pengobatan Syok Anafilaktik

Salah satu pengobatan yang diberikan pada pasien syok anafilaktik adalah suntikan
adrenalin. Suntikan adrenalin harus segera diberikan jika reaksi alergi disertai gejala seperti
kesulitan bernapas dan kehilangan kesadaran. Pastikan untuk memindahkan sumber alergi, seperti
sengat lebah, sebelum memberikan pertolongan lanjutan kepada penderita. Alat suntik hendaknya
didiamkan selama 5-10 detik setelah suntikan adrenalin diberikan. Berikan dosis suntikan adrenalin
kedua jika kondisi pasien tidak tampak membaik setelah 5-10 menit pertama. Pelajari dan baca
instruksi pemberian suntikan adrenalin sebagai tindakan pertolongan pertama sebelum
memberikan tindakan. Suntikan adrenalin dapat membantu mengurangi pembengkakan,
melancarkan saluran udara sehingga memudahkan pernapasan, serta meningkatkan tekanan darah
pasien. Pada pasien dengan henti nafas dan henti jantung, petugas kesehatan akan melakukan
resusitasi jantung paru (CPR).

Beberapa posisi juga dapat diterapkan untuk membantu meningkatkan kondisi pasien
paska pemberian suntikan adrenalin. Posisi telentang dengan kaki terangkat dapat membantu
melancarkan aliran darah ke kepala dan jantung. Pada perempuan hamil, pasien dapat berbaring
dengan bertumpu pada tubuh bagian kiri untuk menjaga kelancaran aliran darah. Segera hubungi
rumah sakit setelah suntikan adrenalin diberikan untuk mendapatkan penanganan medis
selanjutnya.

Obat-obatan seperti kortikosteroid dan antihistamin dapat diberikan setelah pasien


menyelesaikan perawatan di rumah sakit untuk mengurangi serta mencegah kembalinya gejala
syok anafilaktik. Pasien juga dapat diberikan suntikan adrenalin sebagai tindakan pengamanan
darurat selama menjadi pasien rawat jalan pasca perawatan.