Anda di halaman 1dari 46

RINGKASAN DAN SUMMARY

KONSEP PENDIDIKAN UNTUK PEMBANGUNAN


BERKELANJUTAN
(KASUS PONDOK PESANTREN MODERN SELAMAT KENDAL)

Disertasi
untuk memenuhi sebagian persyaratan
Mencapai derajad S-3
Program Studi Ilmu Lingkungan

diajukan oleh:
Sri Ngabekti
08/276642/SMU/00571

Kepada
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2012
1

RINGKASAN DISERTASI

KONSEP PENDIDIKAN UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


(KASUS PONDOK PESANTREN MODERN SELAMAT KENDAL)

A. Pengantar

Dalam rangka memperbaiki pengelolaan lingkungan hidup melalui jalur


pendidikan, pada tahun 1992 dalam Agenda 21 dimunculkan Education for
Sustainable Development (EfSD) atau Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan
(PPB). Pendidikan dipilih dalam implementasi pembangunan berkelanjutan karena
merupakan instrumen kuat yang efektif untuk melakukan komunikasi, memberikan
informasi, penyadaran, pembelajaran dan dapat untuk memobilisasi
massa/komunitas, serta menggerakkan bangsa ke arah kehidupan masa depan yang
berkembang secara lebih berkelanjutan (more sustainably developed).

PPB adalah pendidikan untuk mendukung praktek pembangunan


berkelanjutan, artinya pendidikan yang memberi kesadaran dan kemampuan kepada
semua orang (utamanya generasi mendatang) untuk berkontribusi lebih baik bagi
pembanguan berkelanjutan pada masa sekarang dan yang akan datang (Sudibyo,
2008). Tujuan akhir dari PPB adalah pendidikan berakhlak mulia dari usia dini
sampai perguruan tinggi. PPB menekankan pada aktivitas lingkungan berupa
pemikiran global dengan aksi lokal (Think globally act locally).

Dalam pelaksanaan PPB di sekolah formal, banyak hambatan dan tantangan


yang harus dihadapi dan dicari upaya pemecahannya (HSF dan UNY, 2008). Salah
satu di antaranya adalah isu strukturisasi dan penempatan PPB dalam kurikulum
pendidikan. Pondok pesantren, memiliki kurikulum yang lebih fleksibel jika
dibandingkan dengan sekolah umum. Oleh karena itu PPB dapat menjadi mata
pelajaran monolitik, atau terintegrasi ke dalam beberapa mata pelajaran yang relevan.
Praktek PPB pun dapat langsung teramati dalam kehidupan sehari-hari karena siswa
tinggal di pondok. Kajian teoritis tentang dimensi PPB yang telah ada, belum tentu
2

sesuai diterapkan di Indonesia yang mayoritas beragama Islam, sehingga mungkin


ditemukan dimensi lainnya.

Zamroni (2011) menyatakan selain dapat diimplementasikan dalam


kurikulum mata pelajaran umum, PPB juga dapat diimplementasikan dalam mata
pelajaran agama. Spirit pendidikan agama yang selalu mengajarkan keselarasan dan
kearifan dalam kehidupan umat manusia, dapat dijadikan sebagai basis fundamental
untuk mendesain penyelenggarakan pendidikan berparadigma PPB. Keduanya dapat
saling melengkapi dan saling menguatkan, sehingga terbentuklah suatu desain
kurkulum terpadu dan holistik. Model pendidikan agama berparadigma PPB juga
sebagai salah satu upaya untuk mensinkronkan, mengintegrasikan dan memberi
bobot yang sama bagi tiga aspek utama dalam pembangunan berkelanjutan yakni,
aspek ekonomi, aspek sosial budaya dan aspek kelestarian lingkungan. Implementasi
ini sangat sesuai dengan pendidikan di pondok pesantren.

Pondok Pesantren Modern Selamat (PPMS) Kendal Jawa Tengah


merupakan salah satu pondok pesantren yang sudah menunjukkan adanya motivasi
pengelolanya untuk peduli terhadap lingkungan. Hal ini ditunjukkan oleh
pengelolaan lingkungan biologis sekolah yang hijau oleh berbagai jenis tanaman.
Bangunan fisik pondok pesantren pun ditata dengan memperhatikan pemanfaatan
sumber energi alam seperti energi matahari dan angin, sehingga dapat mengurangi
penggunaan energi listrik. Beberapa fasilitas pondok seperti perpustakaan, tempat
menerima tamu, ruang diskusi, klinik kesehatan, dan lainnya berupa ruang terbuka
berbentuk joglo khas Jawa Tengah. Asrama santripun tampak bersih dan bukan
model kamar atau ruang-ruang yang kumuh. Tumbuhnya motivasi PPMS Kendal
khususnya dan pondok pesantren umumnya dalam pengelolaan lingkungan penting
untuk dikaji lebih mendalam.

Penelitian untuk mengeksplorasi implementasi PPB di pondok pesantren


menjadi sangat penting untuk menemukan persepsi, sikap, dan praktek sebagai
bentuk internalisasi kajian Islam dalam kehidupan sehari-hari. Apabila diketahui
PPB telah dilaksanakan di pondok pesantren, meskipun belum sepenuhnya sesuai
dengan konsep PPB secara global, maka diharapkan akan ditemukan konsep PPB
yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia yang religius. Dengan
3

demikian, harapan yang ingin dicapai dari pelaksanaan pendidikan menuju


pembangunan berkelanjutan akan lebih mudah terwujud.

Berdasarkan uraian di atas, permasalahan dalam penelitian ini adalah:


1. Bagaimana persepsi, sikap, dan praktek pendidikan untuk pembangunan
berkelanjutan di pondok pesantren (kasus Pondok Pesantren Modern Selamat
Kendal Jawa Tengah).
2. Bagaimana formulasi konsep pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan
Pondok Pesantren dalam konteks Indonesia yang religius.

B. Kajian Pustaka

1. Pendidikan di pondok pesantren

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 bab I


pasal 1 menyatakan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya dan masyarakat (Anonim, 2003). Pengertian ini juga berlaku bagi
pendidikan di pondok pesantren modern yang memiliki sekolah umum di bawah
naungan Dinas Pendidikan Nasional.

Dalam pertumbuhannya, pondok pesantren telah mengalami beberapa fase


perkembangan. Hasil penelitian LP3S Jakarta (Supriyadie, 2008), telah mencatatkan
lima macam pola fisik pondok pesantren. Secara faktual, menurut Ghazali (2003)
berdasarkan orientasi pendidikan dan pengajarannya, ada tiga tipe pondok pesantren
yakni pondok pesantren tradisional, komprehensif, dan modern. Bentuk-bentuk
pendidikan yang diselenggarakan di pesantren pada saat ini sudah variasi.
Departemen Agama (2007) mengklasifikasikan bentuk pendidikan pesantren menjadi
empat tipe. Satu tipe yang sekarang sedang mendapatkan perhatian masyarakat
adalah pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal dengan menerapkan
kurikulum nasional, baik yang memiliki sekolah keagamaan (MI, MTs, MA dan PT
4

Agama Islam) maupun juga memiliki sekolah umum (SD, SMP, SMA dan PT
Umum).

Pada saat ini pondok pesantren mengalami perkembangan kuantitas yang


sangat pesat. Pada statistik pondok pesantren 2005-2006 Depag (Depag.ac.id.com,
01-02-2010), di 33 provinsi terdapat 16.015 pondok pesantren. Wahid (2011) dalam
Republika (18 Desember 2011) menyatakan pada tahun 2010 jumlah pondok
pesantren sekitar 25.800, dengan jumlah santri mencapai sekitar 3,56 juta.
Kehidupan di pondok pesantren ini merupakan miniatur masyarakat Indonesia yang
mayoritas beragama Islam. Keberhasilan implementasi suatu program di pondok
pesantren dapat digunakan sebagai acuan untuk diimplementasikan dalam lingkup
yang lebih luas.

2. Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan

Kebijakan Pendidikan untuk Pembangunan Berkalanjutan (PPB) di Indonesia


ditetapkan pada tanggal 19 Februari 2004 oleh Kementerian Lingkungan Hidup
bersama dengan Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Agama, dan
Departemen Dalam Negeri. Keterampilan yang diharapkan dari PPB ini dapat
dipelajari dan diimplementasikan pada pendidikan formal, informal dan nonformal.

Menurut Sudibyo (2008) PPB adalah pendidikan yang mempunyai wawasan


dan konsep yang lebih luas daripada Pendidikan Lingkungan Hidup. Dimensi PPB
pun lebih luas karena mencakup ekonomi, lingkungan, dan sosial-budaya. Di
Indonesia, PPB bertujuan menyiapkan generasi mendatang untuk berkontribusi lebih
baik bagi terlaksananya pembangunan berkelanjutan. Tujuan akhir dari PPB adalah
pendidikan berakhlak mulia dari usia dini sampai perguruan tinggi.

Hastuti (2009) menyatakan sebagai paradigma baru di bidang pendidikan,


PPB mungkin masih terlalu awam bagi sebagaian besar masyarakat. Sosialisasi PPB
yang sudah dilakukan baru sebatas kepada para birokrat. Pengetahuan tentang PPB
masih sangat “maya” sehingga perlu terus disosialisasikan agar mereka peduli dan
berperilaku yang mendukung pembangunan berkelanjutan.
5

C. Metode Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif naturalistik,


karena dalam prosesnya, peneliti berusaha secara aktif melakukan interaksi dengan
subjek dengan kondisi apa adanya dan tidak direkayasa agar data yang diperoleh
merupakan fenomena yang asli dan alamiah. Penelitian ini mengedepankan adanya
interaksi dan observasi partisipatif dengan subjek yang diteliti, melakukan observasi
dan wawancara.

Pendekatan penelitiannya adalah induktif dengan melakukan penyusunan


teori dan menarik kesimpulan berdasarkan data (grounded theory). Salim (2001)
menyatakan menyusun teori dengan pendekatan induktif dapat digambarkan sebagai
berikut.

Data Uraian konsep-konsep Teori yang menerangkan data


berdasarkan data

Strategi penelitian kualitatif yang akan dipilih dalam penelitian ini yang
utama adalah penelitian eksploratif. Penelitian eksploratif dilakukan berdasarkan
pada data empiris yang bersifat spesifik.

Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Modern Selamat (PPMS).


Secara geografis PPMS terletak di jalan Soekarno-Hatta Desa Jambearum
Kecamatan Patebon Kabupaten Kendal Jawa Tengah. Penelitian dilakukan terhadap
lingkungan, ekonomi, dan sosial-budaya seluruh komunitas pondok pesantren,
alumni, masyarakat sekitar, dan instansi terkait di Kabupaten Kendal.

Fokus penelitian ini adalah mengeksplorasi teori dan praktek PPB di PPMS
Kendal. Paradigma penelitian yang sesuai dengan keadaan pondok pesantren
ditentukan dengan cara menggali kajian pustaka dari berbagai sumber informasi
terkait dengan teori pembangunan berkelanjutan, dimensi, dan isu lingkungan yang
sedang terjadi di Indonesia.

Sumber data dalam penelitian ini adalah seluruh komunitas pondok


pesantren, masyarakat sekitar pondok, dan stakeholder Data penelitian kualitatif
6

berupa naratif, deskriptif, dokumen pribadi, catatan lapangan, dokumen pondok


pesantren, foto, video-tapes, dan hasil rekaman CCTV. Teknik pengumpulan data
adalah wawancara, observasi partisipatif, observasi, dan analisis dokumen.
Analisis data kualitatif adalah induktif, dimulai dari transkripsi data hasil
wawancara, observasi, dan dokumentasi. Langkah analisis data penelitian kualitatif
lebih bersifat terbuka terhadap perubahan, perbaikan, dan penyempurnaan atas dasar
data baru yang diperoleh. Komponen analisis data yang perlu diperhatikan antara lain
pengelompokan data, pembobotan, refleksi, dan triangulasi.
Untuk memperoleh keabsahan dan validitas data, dilakukan proses triangulasi
yakni penggunaan kombinasi beberapa metode atau sumber data dalam pengumpulan
data. Tujuan triangulasi adalah untuk melakukan cross check data yang diperoleh
dari lapangan. Model triangulasi yang digunakan adalah triangulasi informan,
dokumen, dan metode.
Berdasarkan data tersebut, dilakukan ekstraksi untuk menyusun unit-unit
informasi ke dalam kartu informasi yang akan dikelompokkan ke dalam tema,
kemudian menjadi kelompok tema. Berdasarkan kelompok tema inilah kemudian
disusun konsep-konsep.

D. Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Persepsi, sikap dan praktek PPB

Hasil eksplorasi tentang persepsi, sikap, dan praktek/perilaku santri dan


komunitas pondok yang lain, dikelompokkan berdasarkan dimensi yang relevan
dengan PPB yaitu dimensi lingkungan, ekonomi, dan sosial-budaya. Selain itu ada
temuan dimensi lain yaitu dimensi edukasional dan dimensi spiritualitas/religi.

Dimensi edukasional merupakan sarana dalam membentuk jiwa siswa yang


memenuhi prinsip-prinsip PPB. Dimensi ini berpengaruh langsung terhadap persepsi
santri terhadap tiga dimensi PPB yang lain. Sedangkan dimensi spiritual menjadi
dasar dari konsep PPB yang khas di PPMS Kendal.
7

Persepsi berarti tanggapan langsung seseorang terhadap segala sesuatu yang


ditangkap oleh pancaindra. Persepsi ini sifatnya sangat subjektif untuk setiap orang.
Oleh karena itu dalam penelitian ini persepsi, sikap, dan praktek PPB oleh santri
secara umum ditampilkan dalam bentuk tabel. Sedangkan persepsi santri dan
komunitas pondok lain secara khusus disajikan secara naratif pada bagian
pembahasan. Berdasarkan hasil angket, persepsi santri terhadap dimensi PPB secara
umum dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Persepsi, sikap, dan praktek PPB oleh santri PPMS Kendal

No Isu PPB Persepsi siswa Sikap dan praktek(perilaku)


PPB
1. Dimensi Kami sekolah di Memahami dan melaksanakan
Edukasional: PPMS agar menjadi kegiatan pembelajaran dan
anak sholeh, mandiri, ibadah dengan sungguh-
disiplin, mendapat sungguh dan bertanggung
ilmu dunia dan jawab
akherat.

2. Dimensi Siswa menyadari Peduli dan ikut terlibat dalam:


lingkungan: pentingnya Penghijauan
penghijauan agar Memelihara tanaman di
udara tetap asrama dan sekolah
bersih,sejuk, dan Menghemat listrikdan air
nyaman,sehingga Menjaga kebersihan
dapat berpikir jernih, lingkungan
dan antisipasi global Membuang sampah pada
warning. tempatnya

3. Dimensi sosial- Kami sesama teman Peduli teman dan kerjasama


budaya: harus saling dalam membersihkan kamar
membantu, kerjasama dan kelas
menghargai, dan Toleransi terhadap semua
toleransi terhadap perbedaan antar teman
perbedaan Membantu teman yang
kesulitan
4. Dimensi Sebagai santri di Uang saku dalam jumlah
ekonomi: pondok pesantren, cukup, uang saku dititipkan
kami harus hidup wali kelas, makan makanan
sederhana dan hemat yang disediakan pondok,
5. Dimensi Kami sekolah di Menyadarai dan melaksanakan
spiritual PPMS agar menjadi sholat wajib berjamaah,
anak sholeh, membaca Al-Qur’an, puasa,
mendapatkan ilmu pengajian diniyah dan
agama dan ilmu pengajian umum.
pengetahuan sekaligus.
Sumber: disarikan dari hasil angket santri, alumni, hasil observasi
8

Persepsi terhadap teori PPB, secara langsung akan mempengaruhi sikap dan
praktek/perilaku santri dalam kehidupan kesehariannya. Monitoring guru, ustad dan
pengelola ini dilakukan secara berkesinambungan, sehingga diharapkan akan
menjadi kebiasaan yang masih terbawa ketika santri keluar dari pondok pesantren.
Sikap dan perilaku santri yang salah atau menyimpang, langsung diluruskan dan
mendapatkan sanksi yang mendidik agar penyimpangan tidak terulang lagi. Sikap
dan perilaku untuk seluruh komunitas PPMS terhadap berbagai isu PPB, secara
singkat dapat dilihat pada Tabel 2.
Berdasarkan tabel tersebut, tampak bahwa persepsi siswa tentang PPB ini
sudah membentuk sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari hari. Dalam
pendidikan, keberhasilan proses pendidikan dapat dievaluasi dari ke tiga ranah
kognitif (penguasaan materi pelajaran), ranah afektif (pembentukan sikap) dan ranah
psikomotorik (keterampilan dan praktek/perilaku). Kedua ranah afektif (sikap) dan
psikomotorik (perilaku) dapat dilaksanakan dan dievaluasi dengan baik pada
pendidikan pondok pesantren karena siswa tinggal dan hidup didalam pondok.
Melalui pengkondisian dan pembiasaan sikap dan perilaku siswa yang baik selama 3-
6 tahun di pondok pesantren, diharapkan akan berkelanjutan setelah siswa hidup di
masyarakat luar pesantren.

2. Penyusunan Konsep Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di


PPMS Kendal

Untuk melakukan analisis induktif dan penyusunan konsep, diperlukan


ringkasan hasil eksplorasi yang disusun dalam bentuk matriks hubungan antar tema
seperti pada Tabel 3. Penyusunan konsep dilakukan melalui dialog antar tema,
kemudian dicari hubungan dalam rangka memperoleh konsep PPB di PPMS Kendal.
Analisis induktif dan penyusunan konsep PPB dapat dilihat pada Gambar 1.
Berdasarkan hasil analisis induktif, maka ditemukan satu konsep khas PPMS Kendal
yakni konsep akhlakul karimah. Untuk mencapai lulusan akhlakul karimah,
diterapkan pendidikan berdasarkan pada kurikulum berbasis pesantren, yang
kemudian diimplementasikan pada proses pembelajaran, dan dipraktekkan oleh
komunitas pondok dalam bentuk peduli lingkungan, kemandirian ekonomi, peduli
sosial, serta melakukan aktivitas spiritual sesuai perintah Agama Islam.
DIDAKTIK PPB DI PPMS KENDAL

Konsep Konsep Dimensi Konsep Dimensi Konsep Dimensi Konsep religi/


Edukasional Lingkungan Sosial-Budaya spiritual
Ekonomi

1,4,6,7,9,10,19 1,4,5,6,7,1io,19 1,2,3,4,16 1,2,3,20

8,10 1,4,5,6,11,14,15,17,1
1,3,6,7,8 1,2,5 1,2,6,7,13 2,3 2,18 1,3,17 1,2,9,18 1,2,19 1,2,6,7,8,9,18

11,12,14 1,12 1,2,8,10

Kurikulum PPB Praktek PPB Partisipasi Lingkunga Lingkungan Internal Eksternal Pondok – Pondok- Pondok- Pondok- Nazar, Zakat,
Komunita n abiotik Biotik Orang tua Alumni masyarakat Instansi Infak,
s Sedakah
Sholat wajib
1. Terintegrasi 1. Perilaku 1. Konse 1.Pemanf 1. Penataa 1. Dana 1. Sumba 1. Berakh 1. Meng 1. Peng 1. Peny berjamaah,S
pada sehari- p aatan n pribadi ngan lakul abdi ajian edia holat sunnah,
beberapa hari, energy karima sbg 2. Mat fasili
penataa Lingkun Pak orang menjaga
mapel model matahar h penga a tas
2. Masuk dalam tegur
n gan Slamet tua wudhu,mem
i dan 2. Preven suh/pe Penc 2. Kerj
Muatan ditempat pondok Biologis 2. Zakat siswa baca Al-
angin si ngajar ahari asam
Lokal 2. Tugas oleh secara 2. Keanek maal per dekade /pemb an a Qur’an
sebagai menana Pendiri maksim aramana Putra- bulan nsi antu form
maple khas m 2. Perawa al n putriny 2. Masuka moral pengel al 1.Pendirian
pondok tanaman tan: 2. Pengura Spesies a n dari 3. Orienta ola pondok dari
3. Melalui oleh tukang ngan 3. Perawat kantin. si masa 2. Jual- nazar.
Khotbah wali polutan depan beli 2.Kekurangan
kebun/ an 3. BOS
Jum’at kelas dan makan biaya
dan
4. RSBI: akidah 3. Jum’at emisi an operasional
yang lurus sehat
BOM
karbon. 3. Berhu dari ZIS
dan peduli dan 3. Kebersi b dg 3.Spiritual
lingkungan. bersih han pendi Bapak yang
5. Peraturan Lingku dikan diikuti
menjaga ngan lanjut komunitas
lingkungan pesantren
Gambar 1. Konseptualisai Eksplorasi PPB
Pendidikan untuk
Pembangunan Berkelanjutan
(Kasus di PPMS Kendal)

Konsep Konsep Dimensi Konsep Dimensi Dimensi Sosial- Dimensi


Edukasional Lingkungan Ekonomi Budaya religi/
spiritual

Kurikulum PLH Praktek PLH Partisipasi Lingkunga Lingkungan Internal Eksternal Pondok – Pondok- Pondok- Pondok- Nazar,
Komunita n Fisik Biologis Orang tua Alumni masyarakat Instansi Zakat, Infak,
s Shodaqoh

6. Terintegrasi 4. Perilaku 3. Kons 5. Pema 4. Penataa 3. Dana 4. Sumba 4. Berakh 4. Meng 3. Peng 3. Peny
pada sehari- nfaata lakul abdi ajian edia
ep n pribadi ngan
beberapa hari, n karima sbg 4. Mat fasili
penat Lingkun Pak orang
mapel model energ h penga a tas
7. Masuk dalam tegur
aan gan Slamet tua
y 5. Preven suh/pe Penc 4. Kerj
Muatan ditempat pond Biologis 4. Zakat siswa
matah si ngajar ahari asam
Lokal 5. Tugas ok ari 5. Keanek maal per dekade /pemb an a
sebagai menana oleh dan aramana Putra- bulan nsi antu form
maple khas m Pendi angin n putriny 5. Masuka moral pengel al
pondok tanaman ri/ secara Spesies a n dari 6. Orienta ola
8. Melalui oleh pemil maksi 6. Perawat kantin. si masa 5. Jual-
Khotbah wali ik mal an 6. BOS depan beli
Jum’at kelas 6. Pengu makan
4. Pera dan
9. RSBI: akidah 6. Jum’at ranga an
yang lurus sehat
wata BOM
n 6. Berhu
dan peduli dan n:
poluta b dg
lingkungan. bersih tukan n dan pendi
10. Peraturan emisi dikan
menjaga karbo lanjut
lingkungan
15

C. Temuan Penelitian
Penelitian ini menemukan konsep PPB yang sesuai dengan masyarakat
pesantren yang religius, khususnya di PPMS Kendal Jawa Tengah yaitu konsep
akhlakul karimah atau menurut Ismail (2010) al-akhlaq al-karimah yang berarti
akhlak yang mulia. Konsep PPB yang akhlakul karimah adalah pendidikan yang
mengarah pada pembentukan nilai-nilai spiritual santri/ generasi muda agar mampu
hidup mandiri, memiliki kepedulian lingkungan dan sosial secara berkesinambungan,
sehingga mampu berkontribusi terhadap kehidupan berkelanjutan bagi generasi
mendatang.
Konsep PPB akhlakul karimah selaras dengan esensi pendidikan Indonesia
dan juga esensi pendidikan di pondok pesantren, serta melengkapi konsep PPB yang
telah ada sebelumnya, karena belum secara implisit menyebutkan pembentukan nilai-
nilai spiritual. Penekanan pada pembentukan nilai spiritual pada konsep ini,
disebabkan nilai spiritual akan menghasilkan generasi muda yang berakhlak mulia.
Untuk mencapai generasi muda yang akhlakul karimah, diperlukan lima
dimensi PPB yakni dimensi edukasional, spiritual, lingkungan, ekonomi, dan sosial
budaya. Dimensi edukasional diterapkan melalui kurikulum berbasis pesantren,
model pendidikan dengan pendekatan humanistis (insaniyah), yang kemudian
diimplementasikan pada proses pembelajaran, dan dipraktekkan oleh komunitas
pondok dalam bentuk kepedulian lingkungan, kemandirian ekonomi, kepedulian
sosial, serta melakukan aktivitas spiritual sesuai perintah Agama Islam.
Ajaran Agama Islam berdasarkan pada landasan akidah, syariah, dan akhlakul
karimah tersebut. Ajaran ini secara lengkap tercermin pada perilaku Nabi
Muhammad saw., yang merupakan figur sentral sebagai teladan umat Islam dalam
kehidupan sosial, intelektual, dan penghayatan nilai-nilai spiritual.
Akhlakul karimah berasal dari kata akhlak dan karimah. Secara terminologi,
akhlak adalah pola perilaku yang berdasarkan kepada dan memanifestasikan nilai-
nilai Iman, Islam dan Ihsan. Menurut Imam Ghazali (dalam akhlakul karimah.htm,
diunduh 7 Mei 2012), akhlak yaitu suatu keadaan yang tertanam di dalam jiwa yang
menampilkan perbuatan dengan senang tanpa memerlukan penelitian dan pemikiran.
Sedangkan karimah berarti mulia, terpuji, baik. Apabila perbuatan yang keluar atau
16

yang dilakukan itu baik dan terpuji menurut syariat dan akal maka perbuatan itu
dinamakan akhlak yang mulia atau akhlakul karimah.
Konsep Akhlakul karimah yang diharapkan bagi santri dan alumni PPMS
khususnya dan umat Islam pada umumnya, harus merujuk pada akhlak Islami
bersumber dari Al Quran dan Al Hadits. Berikut ini merupakan beberapa cuplikan
Hadits yang berhubungan dengan akhlak Islami.

a. Aisyah RA pernah menuturkan: “Rasulullah bukanlah seorang yang keji


dan tidak suka berkata keji, beliau bukan seorang yang suka berteriak-
teriak di pasar dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bahkan
sebaliknya, beliau suka memaafkan dan merelakan”.(HR.Ahmad).

b. Al-Husein cucu Rasulullah SAW menuturkan: “Beliau SAW senantiasa


tersenyum, luhur budi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang
yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka
mencela makanan yang tidak disukainya.

c. Barangsiapa melapangkan kesusahan (kesempitan) untuk seorang


mukmin di dunia maka Allah akan melapangkan baginya kesusahan dari
kesusahan-kesusahan pada hari kiamat dan barangsiapa memudahkan
kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan
akhirat.

d. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan


menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah selalu menolong hamba
yang suka menolong kawannya.

e. Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu maka Allah akan


mempermudah baginya jalan ke surga.

f. Suatu kaum yang berkumpul dalam sebuah rumah dari rumah-rumah


Allah, bertilawat Al Qur'an dan mempelajarinya bersama maka Allah
akan menurunkan ketentraman dan menaungi mereka dengan rahmat.
(HR.Muslim).

g. Barangsiapa ada kelebihan tempat (tempat yang kosong) dalam kendaraan


(punggung unta) hendaklah diberikan kepada orang yang tidak punya
kendaraan (diajak serta), dan barangsiapa punya kelebihan bekal
(perjalanan) maka hendaklah diberikannya kepada orang yang tidak
punya bekal. (HR. Muslim).

h. Nabi Muhammad SAW bersabda, “ Mukmin yang paling sempurna


imannya adalah yang paling baik akhlaknya.
17

i. Aisyah RA. ditanya mengenai akhlaq Rasulullah SAW, maka beliau


menjawab “Akhlak Rasulullah adalah Al Quran”. (HR. Muslim).

Beberapa contoh ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan ciri-ciri manusia


yang akhlaknya mulia dapat dilihat pada Al-Qur’an surat al-Mukminun (18: 2-5 dan
8-9). Allah swt berfirman,
“(1) sungguh beruntung orang yang beriman,(2) yaitu orang yang khusyuk
dalam sholatnya, (3) dan orang yang berpaling dari perbuatan/perkataan sia-
sia,(4) dan orang yang menunaikan zakat, (5) dan orang yang menjaga
kemaluan (6) …………………. (7) ………………. (8) dan (sungguh
beruntung) orang yang memelihara amanah dan janji, (9) serta memelihara
shalat”.

Ismail (dalam Republika, 31 Agustus 2012) Setidaknya ada empat prinsip


nilai yang terdapat dalam ayat tersebut yakni: prinsip iman (akidah), ibadah dan amal
saleh, moral dan akhlak karimah, serta prinsip disiplin.
Prinsip iman yang utama adalah komitmen yang kuat kepada kebenaran
disertai tindakan nyata. Prinsip ibadah dan amal saleh ditunjukkan melalui ibadah
shalat dan zakat. Shalat bersifat vertikal dan memperkuat hubungan dengan Allah.
Zakat berdimensi sosial dan memperkuat hubungan sesama manusia.

Prinsip moral dan akhlakul karimah ditunjukkan dengan tepat janji,


memelihara kehormatan diri, dan menjaga amanah. Prinsip disiplin dalam bekerja
sehingga produktif dan kompetitif, mampu menghindarkan diri dari kesia-siaan.
Disiplin kerja dilakukan dengan memanfaatkan seluruh waktu untuk kebaikan dan
amal shaleh.

Hartono (2012, komunikasi pribadi), menambahkan bahwa ciri-ciri manusia


yang berakhlak mulia juga dapat dilihat pada sebagian Al-Qur’an surat al-Baqoroh
ayat 83, yang artinya sebagai berikut.
………., “janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah
kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin.
Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat, dan
tunaikan zakat”.

QS An-Nisa ayat 36, Allah SAW memerintahkan kepada manusia sebagai berikut.
18

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan


sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang
jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”

Masalah kerusakan lingkungan yang terjadi di bumi, Allah juga bersabda


dalam QS.al-A-Raf’ ayat 56 yang artinya: “janganlah kamu membuat kerusakan di
muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan
rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya
rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.
Berdasarkan uraian di atas, maka akhlak bukanlah sesuatu yang ada dan
melekat pada diri seseorang dengan sendirinya, melainkan ditanam dan dilekatkan
melalui suatu usaha atau proses (pembiasaan). Fungsi akhlakul karimah dalam
kehidupan adalah sebagai buah dari satu-satunya latar belakang diciptakannya
manusia, yaitu untuk beribadah (menyembah) kepada Allah SWT. Akhlakul karimah
merupakan cermin dari berbagai aktivitas ibadah kepada Allah. Tanpa buah
(akhlakul karimah) ini maka ibadah hanyalah sebagai upacara dan gerak-gerik yang
tidak memiliki nilai dan manfaat apa-apa.
Keutamaan akhlak yang baik berdasarkan Hadits, Khaled (2012) menjelaskan
secara singkat adalah: paling berat timbangan amalnya di hari kiamat, menjadi
mukmin yang sempurna, paling baik akhlaknya, paling dicintai dan yang paling
dekat dengan dengan Rasulullah saw di hari kiamat, paling banyak surga, dijamin
sebuah rumah di surga yang paling tinggi, dan akan disenangi banyak orang karena
wajah ceria dan akhlak mulia.
Kriteria penilaian akhlak mulia dalam penelitian ini lebih luas cakupannya
apabila dibandingkan dengan akhlak mulia yang tercantum dalam KTSP 2008.
Akhlak mulia dapat dinilai dari tujuh kriteria yakni: disiplin, bersih, tanggung jawab,
sopan-santun, hubungan sosial, jujur dan pelaksanaan ibadah. Meskipun kriteria
disiplin, tanggung-jawab, dan jujur tidak muncul pada tema PPB di PPMS Kendal,
tetapi dalam prakteknya kedisiplinan muncul pada budaya antri. Tanggung jawab
dipraktekkan dalam melaksanakan setiap aktivitas baik di sekolah maupun di asrama.
19

Jika tanggung jawab santri tidak dilaksanakan, maka santri siap menanggung
akibatnya, dengan rela hati mendapatkan hukumannya. Demikian pula sikap jujur,
sebagai sikap yang harus dimiliki oleh santri sesuai dengan akhlak Nabi Muhammad
SAW.
Pada program Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
(PPBKB) oleh Balitbang Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional (2010),
ada 18 nilai dengan indikator keberhasilannya di sekolah dan di kelas. Di antara 18
nilai tersebut, yang berhubungan dengan dimensi PPB terutama adalah sebagian cinta
tanah air, peduli lingkungan, dan peduli sosial. Sebagian besar indikator tersebut
sudah dipraktekkan oleh santri PPMS Kendal.
Konsep pendidikan lain yang jauh sebelumnya sudah ada, dicanangkan oleh
Ki Hajar Dewantoro pada azas ke 7 Taman Siswa yakni sistem among. Menurut
Wuryadi (2010), sistem among didasarkan atas konsep dasar psikologi yaitu anak
sebagai pusat (student’s centered) baik dalam pendidikan maupun pengajaran.
Pendidikan berfungsi untuk memerdekakan batin anak, dan pengajaran berfungsi
untuk memerdekaan pikirannya, yang dalam prakteknya adalah memerdekakan batin,
pikiran, dan tenaganya. Sistem among akan lebih relevan digunakan dalam
pembangunan karakter dan jatidiri anak (character building) yang belum selesai, dan
diselenggarakan dengan harmonisasi peran fungsional tripusat pendidikan:
komponen sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Sistem among akan lebih efektif jika menggunakan ragam perlakuan
kepemimpinan dalam proses pendidikan dan pengajaran yang dikenal dengan: ing
ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani pada tingkat
pendidikan yang sesuai. Ing ngarso sung tulodho, terutama sesuai bagi anak usia
dini. Ing madyo mangun karso terutama untuk anak yang sudah mulai dapat
dibangun karsanya, dan tut wuri handayani untuk anak yang sudah dapat diandalkan
kemandiriannya.
Apabila dikaitkan dengan berbagai konsep pendidikan di atas, konsep PPB
yang akhlakul karimah memiliki makna yang paling mendalam dan berlaku bagi
seluruh umat manusia. Oleh karena itu, untuk mencapainya diperlukan berbagai
upaya dan kerjasama dari berbagai pihak, orang tua, lembaga pendidikan,
masyarakat, ulama, dan pemerintah.
20

Hubungan antara konsep akhlakul karimah dengan praktek lima dimensi PPB
di PPMS Kendal dapat dilihat pada Gambar 2. Berdasarkan gambar tersebut dapat
dijelaskan bahwa dimensi spiritual yang dipraktekkan dalam aktivitas ibadah, dan
praktek dimensi edukasional sebagai suatu proses pembelajaran untuk memperoleh
ilmu, akan menghasilkan santri yang berakhlakul karimah.

DIMENSI DIMENSI
EDUKASI EKONOMI
ONAL KONSEP
AKHLAKUL DIMENSI
KARIMAH SOSIAL-
DIMENSI
DIMENSI BUDAYA
SPIRITU
LINGKUNG
AL
AN

Gambar 2. Hubungan Konsep Akhlakul Karimah dengan Praktek PPB

Santri yang berakhlakul karimah telah mampu untuk melaksanakah nilai-nilai


PPB dengan baik. Santri ini dihasilkan melalui proses pendidikan yang cukup
panjang (3-6 tahun), mulai awal saat seleksi masuk PPMS sampai ketika alumni
hidup di tengah masyarakat. Pembentukan karakter (character building),
dilaksanakan pada saat awal santri belajar di PPMS dengan fokus utama kegiatan
spiritual Islam, merupakan hal yang perlu dijadikan contoh oleh sekolah umum yang
selama ini lebih menekankan pada kegiatan yang “aneh-aneh” untuk menguji mental
siswa baru.
Kurikulum berbasis pesantren dengan pengembangannya, peran guru dan
ustad yang sudah teruji sejak melamar kerja, serta tersedianya sarana prasarana dan
pengelolaan lingkungan fisik dan biotik yang bagus di PPMS juga sangat mendukung
dalam membentuk santri sebagai alumni berakhlakul karimah.
Kualitas alumni yang akhlakul karimah juga didukung oleh kepemimpinan
Pendiri dan Pengelola, Bapak Slamet Soemadyo yang visioner. Meskipun secara
21

akademis pendidikan formalnya “rendah” dan tidak pernah belajar secara formal di
pondok pesantren, tetapi pengamatan secara dhohir melalui kunjungannya di
berbagai pesantren, dapat diterjemahkan dalam visi PPMS dan dilaksanakan dengan
sangat baik. Sikap yang tegas, disiplin, mandiri, kaya tetapi tidak sombong,
darmawan, menerima tamu dengan baik, punya wawasan dan pengalaman bisnis
yang hebat, merupakan tipe pemimpin ideal untuk menuju kehidupan yang
berkelanjutan.
Tipe kepemimpinan Bapak Slamet seperti diuraikan di atas, diyakini oleh
pakar lingkungan (Tandjung, 2012, komunikasi pribadi) sebagai sikap khalifatullah fi
al-Ardh. Hal ini juga dinyatakan oleh Baiquni (2008), bahwa kepemimpinan sebagai
kunci pembangunan berkelanjutan, adalah manusia yang teguh memeluk agamanya,
akan mendapat hidayah dan mampu mengemban amanat sebagai pemimpin di muka
bumi, khalifatullah fi al-Ardh. Setiap manusia adalah pemimpin yang akan dimintai
pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Dalam konteks lingkungan, menurut Abdullah (2010) istilah khalifatullah fi


al-Ardh dapat dimaknai bahwa manusia sebagai pemimpin, secara khusus diberi
amanah untuk menjadi khalifah dimuka bumi untuk melindungi lingkungan dengan
berbagai kebijakan, aturan hukum, dan sumber daya sosio-politik yang menjadi
tugasnya. Zuhairini (dalam Roqib, 2009) citra pribadi muslim yang demikian, disebut
juga sebagai manusia paripurna (insan kamil) atau pribadi yang utuh, sempurna,
seimbang, dan selaras. Manusia sempurna berarti manusia yang memahami tentang
Tuhan, diri, dan lingkungannya Jika kondisi ini terwujud, maka kehidupan di bumi
akan berkelanjutan.

D. Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian Konsep Pendidikan untuk
Pembangunan Berkelanjutan (Kasus di Pondok Modern Selamat Kendal) adalah
sebagai berikut.

1. Persepsi dan sikap santri terhadap konsep Pendidikan untuk Pembangunan


Berkelanjutan (PPB) yang termaktub dalam tiga dimensi serta isu strategisnya di
22

Indonesia cukup baik, dan sebagian besar telah dipraktekkan oleh komunitas
PPMS Kendal dalam kehidupan sehari-hari. Selain tiga dimensi PPB tersebut,
ditemukan pula dua dimensi khas pendidikan di pondok pesantren yakni dimensi
edukasional dan dimensi spiritual. Dimensi edukasional merupakan sarana
dalam membentuk jiwa yang memenuhi prinsip-prinsip PPB. Dimensi spiritual
diyakini paling besar pengaruhnya apabila dibandingkan dengan dimensi yang
lain dalam eksistensi dan keberlanjutannya.
2. Konsep yang dapat diformulasi melalui proses analisis induksi tema
berdasarkan unit informasi adalah: konsep PPB akhlakul karimah. Konsep PPB
yang akhlakul karimah adalah pendidikan yang mengarah pada pembentukan
nilai-nilai spiritual generasi muda agar mampu hidup mandiri, memiliki
kepedulian lingkungan dan sosial secara berkesinambungan, sehingga mampu
berkontribusi terhadap kehidupan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
3. Konsep PPB akhlakul karimah selaras dengan esensi pendidikan Indonesia dan
juga esensi pendidikan di pondok pesantren, serta melengkapi konsep PPB yang
telah ada sebelumnya, karena belum secara implisit menyebutkan pembentukan
nilai-nilai spiritual. Penekanan pada pembentukan nilai spiritual pada konsep ini,
disebabkan nilai spiritual akan menghasilkan generasi muda yang berakhlak
mulia.
4. Untuk mencapai generasi muda yang akhlakul karimah, diperlukan lima dimensi
PPB yakni dimensi edukasional, spiritual, lingkungan, ekonomi, dan sosial
budaya. Dimensi edukasional diawali dengan pembentukan karakter Islami,
diterapkan melalui kurikulum berbasis pesantren, model pendidikan dengan
pendekatan humanistis (insaniyah), kemudian diimplementasikan pada proses
pembelajaran. Aktivitas spiritual dilaksanakan sesuai perintah Al-Qur’an dan
Hadits. Lingkungan belajar nyaman, sarana prasarana yang memadai, dan tipe
pemimpin visioner akan mampu mengemban amanah sebagai khalifatullah fi al-
Ardh.

Hasil eksplorasi menunjukkan bahwa praktek PPB di PPMS masih belum


optimal. Oleh karena itu ada beberapa hal sebagai bentuk rekomendasi, khusus untuk
23

implementasi PPB di PPMS Kendal maupun rekomendasi untuk lembaga pendidikan


secara umum.

1. Rekomendasi untuk PPMS Kendal

a. Penataan lingkungan pondok berbasis pariwisata lebih dikembangkan ke


arah pelestarian sumber daya alam seperti air, tanah, dan udara melalui
peningkatan pelestarian sumber daya alam hayati. Pelestarian sumber daya
air perlu dilakukan melalui pembuatan sumur resapan, biopori, dan
pengolahan air limbah.
b. Pengelolaan sampah masih harus dibenahi dengan menyediakan tempat
sampah yang indah dan fungsional untuk pemilahan, membudayakan
reduce, reuse dan recycle bagi seluruh komunitas pondok pesantren.
c. Untuk mendukung pengembangan dimensi edukasional, wacana
pelaksanaan PPB sebagai mata pelajaran monolitik dalam bentuk muatan
lokal atau mata pelajaran khas pondok segera dapat direalisir dengan
memasukkannya dalam kurikulum berbasis pesantren.
d. Pengembangan nilai spiritual khususnya zakat, infak, dan sodaqoh tidak
hanya dilaksanakan oleh Yayasan, tetapi juga melibatkan santri termasuk
dalam pengelolaannya, sehingga menghasilkan kebiasaan dalam kehidupan
sehari-hari.

2. Rekomendasi untuk Lembaga Pendidikan


a. Konsep PPB akhlakul karimah dapat diimplementasikan di pondok pesantren
modern dan Lembaga Pendidikan Agama Islam dengan model sekolah
berasrama.
b. Diperlukan sosialisasi ke sekolah-sekolah di bawah Kementerian Pendidikan
Nasional dan Kementerian Pendidikan Agama serta penyusunan perangkat
pembelajaran yang sesuai dengan PPB akhlakul karimah.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M., 2010. Al-Qur’an dan Konservasi Lingkungan. Jakarta: Dian Rakyat.
24

Anonim, 2003. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003.


Penerbit: Kementerian Pendidikan Nasional.
Baiquni, M., 2008. Mengguga(t)h Pemikiran dan Praktek Pembangunan
Berkelanjutan. Makalah. Seminar Nasional Filsafat Sains Geografi 12 Juli
2008. Yogyakarta.
Balitbang. Puskur. Kementerian Pendidikan Nasional. 2010. Pengembangan
Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Bahan Presentasi.
Depag.ac.id.com 2007. Statistik Pondok Pesantren 2005-2006.
www.localhost.D:pesantrendanpendidikan.mht. Diakses 01-02-2010.

Depag, 2006. Al-Qur,an dan Terjemanya. Surabaya: Karya Agung.


Ghazali, M.B., 1995. Pengembangan Lingkungan Hidup Dalam Masyarakat. Kasus
Pondok Pesantren An-Nuqayah Dalam Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan
di Guluk-guluk Sumenep Madura. Disertasi. Yogyakarta: IAIN Kalijaga.
Hanns Siedel Foundation (HSF) dan UNY, 2006. Pendidikan untuk Pembangunan
Berkelanjutan. Jakarta.

Hastuti, B.S.,2009. Pendidikan untuk Pengembangan Berkelanjutan (Education for


Sustainable Development). Dalam Perspektif PNFI. Implementasi EfSD pada
Program PNFI. Andragogia.Jurnal PNFI.Vol 1. No 1 November 2009.
Ismail, A.U., 2011. Pengembangan Diri Menjadi Pribadi Mulia. Jakarta: PT Alex
Media Komputindo.
Khaled, A., 2012. Buku Pintar Akhlak. Jakarta: Penerbit Zaman.
Roqib, M., 2009. Ilmu Pendidikan Islam. Pengembangan Pendidikan Integratif di
Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat. Yogyakarta: LKiSYogyakarta.

Salim, A., 2001. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial (dari Denzin Guba dan
Penerapannya). Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Sudibyo, R.S. 2008. Konsep EfSD di Indonesia. Bahan Presentasi. Yogyakarta:


Universitas Gadjah Mada.
Wahid, S. 2011. Kita telah meninggalkan Allah. Republika 18 Januari 2011. Jakarta:
Mahaka Media.

Wuryadi, 2010. Implementasi Sistem Among dalam Praktek Pendidikan dan


Pengajaran. Bahan Presentasi. Yogyakarta.
Zamroni, I.M. 2011. Pendidikan Berparadigma Pembangunan Berkelanjutan. Di
upload Tuesday, 25 January 2011 10:12.
1

SUMMARY

EDUCATIONAL FOR SUSTAINABLE DEVELOPMENT CONCEPT


(A CASE OF PONDOK PESANTREN MODERN SELAMAT KENDAL)

A. Introduction

To improve the management of environment by way of education, the


Education for Sustainable Development (EfSD) was established in 1992 through
Agenda 21. Education has been selected to implement in the sustainable
development because it is one of most effective and strong instruments to conduct
communication, to provide information, for awareness raising, for learning and to
mobilize mass/community, as well as to drive the nation towards more sustainably
developed future.

EfSD is an education to support the practices of sustainable development,


means that education raises awareness and capability to all people (most
importantly the future generation) to contribute bettwe for sustainable
development in the current time and in the future (Sudibyo, 2008). The objective
of EfSD is moral education from early ages to higher education. EfSD emphasizes
the environmental activity that comprises global thought of “think globally act
locally”.
In implementing EfSD in formal school, there are many obstacles and
challenges to be resolved (HSF and UNY, 2008). One of the resolutions is the
issues of structuralization and EfSD placement in the educational curriculum.
Pondok pesantren have more flexible curriculum compared to public schools. For
that reason, EfSD may become a monolithic subject or may also be integrated into
several relevant subjects. The EfSD practice may also be observed directly in the
daily life because santri live in the boarding facilities. The existing theoretical
reviews shows that EfSD dimensions might be inappropriate for Indonesia with
the Islamic majority, and therefore other dimensions may be potentially found.
2

Zamroni (2011) asserts that in addition be implemented in the curriculum


of general subjects, EfSD may also be implemented in the religion subject. The
spirits of religion education which always teaches harmony and wisdoms in the
human life, may be used as fundamental base in designing educational
implementation with EfSD paradigm. Both spirits are complementary and
synergistic, and therefore can support an integrated and holistic curriculum
design. Religion education model with EfSD paradigm may also be considered as
one effort to synchronize, integrate, and equally value the three main aspects of
sustainable development, i.e. economical, social and culture, and environmental
conservation aspects. This implementation is truly relevant with the education in
the pondok pesantren.
Pondok Pesantren Modern Selamat (PPMS) Kendal Jawa Tengah is one
of the pondok pesantren that exhibits strong motivation among the management to
take care of the environment. This can be seen from the management of the
biological environment of the school which looks green by various plants. The
physical building of the boarding school is neatly arranged by taking into account
of the natural resources such as sunlight and wind direction to reduce the
utilization of electricity. Some facilities such as library, guest houses, discussion
rooms, health clinic, and others are open areas with strong Central Javanese ethnic
architecture called joglo. The dormitories are clean and not compartmentalized
into rooms, and they are kept tidy. The motivation of management in particular of
PPMS Kendal and in general of pondok pesantren in managing the environment
need to be studied further.
The study to explore the implementation of EfSD in pondok pesantren is
particularly of important to observe the perception, the attitude, and the practice as
the form of internalization of Islamic study in the daily life. Once it is known that
EfSD has been implemented in pondok pesantren, although not fully understood
whether it is in compliance with global EfSD, the next step is to find a EfSD
concept that is more appropriate for religious Indonesian society. And thereby the
hope to be achieved through the education implementation towards sustainable
development can be reached more easily.
3

Based on the description above, the questions to be answered in this study


are:
1. What are the perception, the attitude, and the educational practice for
sustainable development in Islamic boarding schoools (a case of Pondok
Pesantren Modern Selamat Kendal Central Java).

2. What is the suitable formulation of the educational for sustainable education


concept in the pondok pesantren from the context of religious Indonesia.

B. Bibliographical Review
1. Education in pondok pesantren
Law of National Education System Number 20 Year 2003 Chapter I
Article 1 stated that education is a voluntary and planned effort to create learning
atmosphere and learning process in order to activate students in developing their
self-potentials to gain religious spiritual strength, self-control, personality,
intelligence, morale, and skills required by itself and the society (Anonymous,
2003). This definition is also valid for the education in modern pondok pesantren
that manage public schools under National Education Office.
During the course of the development, pondok pesantren have undergone
development stages. Research by LP3S Jakarta (Supriyadie, 2008) has recorded
five physical patterns of pondok pesantren. In fact, Ghazali (2003) explains that
based on the education orientation and the learning orientation, there are three
types of pondok pesantren; they are: traditional boarding schools, comprehensive
boarding schools, and modern boarding schools. The education forms carried out
in pondok pesantren nowadays have been diverse. Department of Religious
Affairs (2007) has classified the forms of pondok pesantren into four categories.
One type that has been attracting the society is the pondok pesantren that is
administering the formal education by applying national curriculum, both schools
with religious background (MI, MTs, MA and Islamic Universities) and with
general background (SD, SMP, SMA and General Universities).
Nowadays, the number of this type of pondok pesantren has been
increasing very rapidly. From 2005-2006 statistics (Depag.ac.id.com, 01-02-
4

2010), there are 16,015 pondok pesantren in 33 provinces. Wahid (2011) in


Republika (18 December 2011) stated that in 2010 the number of the pondok
pesantren reached approximately 25,800, with around 3.56 million santri. The life
inside the pondok pesantren might represent the miniature of the Indonesian
society with Islam majority. The successfulness of the implementation of a
program in the pondok pesantren might be used as reference to implement in the
wider scope.

2. Education for Sustainable Development


The Education for Sustainable Development (EfSD) policy in Indonesia
was set out in 19 February 2004 by Ministry of Environment and Department of
National Education, Department of Religious Affairs, and Department of Internal
Affairs. The skills obtained from EfSD may be learned and implemented in
formal, informal and nonformal education.

According to Sudibyo (2008), EfSD is an education that has insights and


concept that are much broader than that of Environmental Education. The
dimensions of EfSD are also much broader because include economical,
environmental and socio-cultural aspects. In Indonesia, EfSD aimed at preparing
the future generation to contribute better for the implementation of sustainable
development. The objective of EfSD is moral education from early ages to higher
education.

Hastuti (2009) stated that as a new paradigm in education, probably most of


Indonesian people still do not know much about EfSD. The dissemination of
EfSD has been carried out only limited to the bureaucrates. The knowledge about
EfSD is too “virtual” and therefore efforts must be made to disseminate it in order
to drive people to care and behave such that they support the sustainable
development.

C. Research Method
This study is a naturalistic qualitative research, because during the process
the researcher must actively interact with the subjects without fabricating the
5

conditions in order to collect original and natural data. This study emphasizes the
interaction and the participative observation with the explored subjects, by means
of observations and interviews.
The approach of the study is inductive by generating theories and by
inferring based on the data (grounded theory). Salim (2001) stated that generating
theory using inductive approach can be illustrated as follows.

Data Description of concepts Theory describing data


based on data

The main qualitative research strategy selected for the study is explorative
research. An explorative research is carried out based on specific empirical data.
The study is carried out in Pondok Pesantren Modern Selamat.
Geographically, is located in Jalan Soekarno-Hatta, Jambearum Village, Sub-
District of Patebon, District of Kendal, Central Java. The scope of the research is
the environment, economy, and socio-culture aspects of the community of pondok
pesantren, the alumni, the surrounding societies, and the relevant governmental
bodies in District of Kendal.

The focus of the research is to explore the theories and practices of EfSD
in PPMS Kendal. The research paradigm that is suitable for pondok pesantren
conditions is determined by digging the bibliographical review of resources of
several information that are related to the sustainable development theory, the
dimension and the relevant environmental issues in Indonesia.

The data source in this study are the community of pondok pesantren, the
the surrounding societies, and the stakeholders. The qualitative research data may
be obtained in the form of narrative and descriptive data, as well as personal
documents, field records, pondok pesantren documents, photographs, video tapes,
and CCTV recordings. The data collection technique used in the study is
interview, participative observation, and document analysis.

The qualitative data analysis is inductive, starting from data transcription


of results of interview, observation, and documentation activities. The steps in
6

qualitative research data analysis is more open against the changes, amendments,
and improvements based on new data obtained. The components of data analysis
of interests include the data classification, the weighing, the reflection and the
triangulation.

To obtain legitimate and valid data, a triangulation process is done by


combining several methods or data resources during the data collection process.
The aim of the triangulation is to cross and check the data obtained from the field.
The triangulation model used in the study is triangulation of informants,
documents and methods.

Based on the data obtained, the next step is the extraction to arrange the
information units into information cards which will then be categorized based on
themes, and finally theme groups are obtained. The theme groups are then used to
create concepts.

D. Results and Discussion


1. Perception, attitudes and practices of EFSD

Exploration result of the perception, the attitude and the practice/behavior


of the santri and the other communities in the the PPMS Kendal, are grouped
based on the relevant dimension with EfSD, i.e. environmental, economical and
socio-culture dimensions. Further, two other dimensions were found, i.e.
spiritual/religious and educational dimensions.
The educational dimension is the medium to form the student’s spirit that
fulfills the EfSD principles. This dimension directly influenced the santri’s
perception on the other three EfSD dimensions. Whereas spiritual dimension
becomes the base for the unique EfSD concept that is found in PPMS Kendal.
Perception means someone’s direct response towards anything caught by
senses. This perception is very subjective for each person. Therefore, in this
research, the perception, attitude and practice of EfSD by the santri in general will
be presented in a tabular format. Whereas the perception of the santri and the
other boarding school communities in particular is presented narratively in the
discussion.
7

Based on the questionnaire, the santri’s perception on the EFSD


dimensions in general is presented on Table 1.

Table 1. Perception, atitude and practice of EFSD by the santri of PPMS Kendal

No. EfSD Issue Student’s Attitude and Practice


Perception (Behavior) of EfSD
1. Educational We attend PPMS to To understand and to perform
Dimension become pious learning activities and
person, independent, religious services seriously and
discipline, receive responsibly.
the knowledge for
both the real world
and afterlife.

2. Environment Students are aware To pay attention to and to be


dimension of the importance of involved in: Reforestation
reforestation in order Planting in the dormitory and
to keep the in the school
environment clean, To save energy and water
cool, and To keep cleanliness of the
comfortable, in order environment
to think clearly, and To dump garbage in the
to anticipate global correct place
warming.
3. Socio-cultural Students should help To care of friends and to
Dimension each other, to cooperate in cleaning the room
cooperate, to respect, and the classroom
and to tolerate the To tolerate the difference
difference among friends
To help friends in trouble
4. Economic As a santri in the To eat any food provided in
dimension pondok pesantren, the dormitory
we have to live To not ask for more pocket
simple and cost- money
effectively The pocket money is handed
over to the class guardian for
safety, when needed just ask
for it
5. Spiritual We attend PPMS to To became and to perform
dimension become pious sholat together, to read of Al-
person,, to get Qur’an, to Fasf-month, and
science and religion. sermon.

Source: summarized from the questionnaire completed by the santri and the
alumni, and from the observation
8

The perception of EfSD theory, has influenced directly to the attitude and
the practice/behavior of the santri in their daily life. This monitoring conducted by
teachers, ustadz, and the management was done continuously, and therefore it is
hoped that this would become a habit that will be brought by the santri whenever
they left the boarding school after completing the study. The wrong attitude and
behavior or the or misconduct of the santri had been corrected directly and
sanctioned educationally to avoid the repeat of the mistakes. The attitude and
behavior of all PPMS communities to EfSD issues is presented briefly in Table 2.
Based on the table, it can be seen that the student’s perception on EFSD
has casted the daily attitude and behavior. From education point of view, the
successfulness of educational process may be evaluated from three domains, i.e.
cognitive (the mastery of learning materials), affective (attitude formation) and
psychomotor (skills and practice/behavior). Both affective and psychomotor may
be performed and evaluated well through education in the school because students
stay and live in the dormitory. Through conditioning and habituation for 3-6 years
in the boarding school, students are hoped to develop a continued good attitude
and behavior after they live outside the pondok pesantren.

2. The Establishment of Educational Concept for Sustainable Development in


PPMS Kendal

To conduct inductive analysis and to establish concepts, an exploration


summary of the matrix of relationships between themes is presented in Table 3.
This establishment is made through inter-theme dialogue, and then relationships
are sought in order to find the concepts of EfSD in PPMS Kendal.

The inductive analysis of Good Morale (Akhlakul Karimah) concept is


seen on Figure 1. It was found one typical PPMS Kendal concept, i.e. good
morale concept. To produce good morale santri, the education was implemented
using Islamic-based curriculum, which can be seen from the learning process, and
then practised by the pondok pesantren community in the form of environmental
awareness, economical independency, social care, and spiritual activities
according to Islamic orders.
AKHLAKUL KARIMAH
CONCEPT
Educational Pesantren Model: CONCEPT
- Humanism, classical, group,
individual.
- TL method: talkative,
THEME discussion, practice, task, Environment Self Economical Social Spiritual/
GROUP halaqah, sorogan, imla’ care Responsibility religious
activity

Cultural
THEME Curriculum of Practice of Community Abiotic Biotic Consu Transparence Value Morl and Differently Norm of Morality of Manager Student
environm
EfSD EfSD Participation environment environment merism system ethics queue society Spiritual Spiritual
ent
e

1. Integration of 1. Daily 1. Management: 1. The physical 1. Biodiver 1. Cleane 1.Medioc 1. Donation 1. Solidari 1. Morality 1. area of 1. to eat 1. parent 1. Naza 1. sholat
Environment behavior owner building sity liness re from ty norm origin 2. toilet 2. alumni r togethe
al Study in 2. Planting 2. Comparative 2. To save 2. Green culture 2. to parents 2. Coopera 2. Religion 2. back 3. wudhl 3. society r
certain task study water source school 2. Healty economi tiv norm ground u 4. Instance 2. Wa- 2. sholat
I subjects 3. Healthy 3. To take care 3. Environment 3. Benefits culture ze 2. Canteen 3. Solidari 3. Law family kaf sunnah
N 2. Local and of cleaning al friendly 3.unifor ty norm 3. Econom 3. readin
income
Curriculum clean service energy m society ic 3. ZIS g Al-
F 3. Socialization Friday 4. Student must 4. Environment conditio
3. BOS dan Qur’an
O via sermon program take care of al cleanliness n
R 4. RSBI: good 4. Akhlak environment 5. Environment
M akidah and karimah 5. Teachers and al health
environment students
A care manage
T 5. The rules to environment
I control the around
environment school
O
6. Good morale
N

U
N
I
T

RESULT OF INTERVIEW / OBSERVATION


15

C. Research Findings

The research has found EfSD concept that is favoring religious society in
the PPMS Kendal Central Java, i.e. good morale (akhlakul karimah) concept
(Ismail 2010). Islamic lessons are based on belief, regulation, and good morale.
The lessons are reflected completely in the behavior of the Prophet Muhammad
saw., who was the central figure as the model for Islamic community in social,
intellectual, and spiritual life.

The concept of PPB akhlakul karimah harmony with the essence of


education in Indonesia and also the essence of education in pondok pesantren, as
well as complement the concept of ESD that existed before, because it has not
been implicitly mentions the establishment of spiritual values. Emphasis on the
formation of spiritual values in this concept, because spiritual values will produce
good morale.
To reach santri who akhlakul karimah, which required a five-dimensional
EfSD i.e. educational, spiritual, environmental, economic, social and cultural
dimension. Dimensions implemented through curriculum-based educational
pondok pesantren, the educational model with a humanistic approach (insaniyah),
which is then implemented in the learning process, and practiced by the pondok
pesantren community in the form of environmental care, self economical, social
responsibility and spiritual activities according to Islamic syariah.
Akhlakul karimah comes from akhlak (morale) and karimah (good).
Terminologically, the morale is the behavior pattern based on and as
manifestation of Faith, Islam and Good Deed. According to Imam Ghazali (in
akhlakul karimah.htm, downloaded on 7 May 2012), akhlak (morale) is a state in
everyone’s soul that can show happy actions without exploring and thinking
anymore. Whereas karimah is good, praised, and competently. Any action that is
shown or performed well and praised according to regulation or law and
intellectual, the action is considered as good morale or akhlakul karimah.

The concept akhlakul karimah expected for students and alumni PPMS
particular and Muslims in general, should refer to Islamic morality derived from
the Qur'an and Hadith. Here are a few excerpts Hadith related to Islamic morality.
16

a. Aisyah RA once said: "Rasulullah SAW is not a cruel and vicious like
saying, he is not a man who likes screaming in the market and do not
return badness for badness. On the contrary, he likes to forgive and to be
willing ". (HR.Ahmad).
b. Al-Hussein the Muhammad's grandson said: "He was always smiling,
glorious morale, humbleness, he is not a violent man, not like yelling, not
carpenters reproach, not mocking the food he did not like.
c. Whoever to relieved misery for a mukmin in the world then Allah will to
relieved misery on the Day of Resurrection, and whoever facilitates
effortless someone then God will make it easier for him in this world and
the hereafter.
d. Those who cover the blame of a Muslim then Allah will cover her blame
in this world and in the hereafter. God always help the servant who likes to
help his friend.
e. Anyone studying the science of Allah will facilitate for him the way to
heaven.
f. A people who had gathered in a house from the houses of Allah, the
Qur'an lesson and study together, God will bring down the peace and
shelter them with charity. (HR.Muslim).
g. Whoever there is excess space in the vehicle (camelback) must be given to
people who do not have a vehicle (and encouraged), and whoever has
excess stock (travel) then let it gives to people who do not have a stock.
(HR Muslim).
h. Muhammad SAW said, "The most perfect mukmin are the best morale.
i. Aisyah RA asked about the morality of the Muhammad, so he replied,
"Rasulullah morale is Al-Quran ". (Narrated by Muslim).

The human characteristics with good morale can be verified from Al-
Qur’an surah al-Mukminun (18: 1-5 and 8-9). Allah says,

“(1) Certainly will the believers have succeeded;(2) They who are during
their prayer humbly submissive; (3) And they who turn away from ill
speech;(4) And they who are observant of zakah; (5) And they who guard
their private parts;……… (8) And they who are to their trusts and their
promises attentive; (9) And they who carefully maintain their prayers”.
17

Ismail (in Republika, August 31, 2012) at least four principles of values
contained in the surah al-Mukminun: the principle of faith (religious), worship
and good deeds, morals and akhlakul karimah, as well as the principle of
discipline.

The main principle of faith is a strong commitment to the truth with real
action. The principle of religious and good deeds are shown through shalat and
zakat. Prayers are vertical and strengthen relationships with God. Zakat and
strengthen the social dimension of human relationships.

Moral principles and akhlakul karimah shown with proper appointments,


maintain self-respect, and maintain trust. Principles of discipline in work so
productive and competitive, able to avoid waste. Discipline of work is done by
utilizing the entire time for the good and righteous deeds.

Hartono (2012, personal communication), adding that the human


characteristics akhlakul karimah can also be seen in some of Al-Qur'an al-
Baqoroh 83, which means the following …."Ye worship none but Allah, and do
good to parents, relatives, orphans, and the poor. And tells good to man, pray
deliver it, and exert zakat.

Surat an-Nisa: 36, Allah SWT commanded Muhammad to mankind as


follows…"Worship Allah and do not associate him with nothing. And do good to
his parent (mother-father), best friends relatives, orphans, the poor, neighbors
close and far neighbors, peers, and the hamba sahaya, ibn sabil. Surely Allah loves
not the arrogant and self boasting”.

Environmental degradation that occurs in the earth, Allah also said in


QS.al-A-Raf 56 which means: "Do not make damaged on the earth after (Allah) to
repair it, and pray to Allah with fear (not to be received) and expectations (be
granted). Indeed, God's charity is very close to the people who do good "..

Based on the above, the character is not something that exists and is
attached to a person by itself, but is grown and attached by a effort or process
(habituation). Akhlakul karimah function in life is as a result of the sole creation
18

of the human background, which is to worship (worship) to Allah SWT. Akhlakul


karimah is a reflection of the various activities of worship to God. Without
akhlakul karimah is then simply a ceremonial worship and gestures that have no
value and benefits nothing.

The excellence of good morale based on Hadith is described briefly by


Khaled (2012) as follows: The heaviest balance of good deed in the afterlife
would be to become a perfect Islamic caliph, to have the best morale, to be loved
and to be placed closest to Rasulullah in the afterlife, to be ranked on the highest
place in the heaven, and to be loved by others because of having cheerful face and
good deed.

The criteria of good morale in this research are much wider than the scope
found in KTSP 2008. The good morale may be evaluated from seven criteria as
follow: discipline, clean, responsible, prudish, social relationship, honest, and
devotion. Although discipline, responsible and honest are not shown in EfSD
theme in PPMS Kendal, in practice discipline can be seen from obeying the line or
queue. The responsibility is practiced in every activity both in the school and in
the dormitory. If the student’s responsibility is not performed, he or she shall be
ready to burden the consequences, and should be willing to receive the
punishment. The same case is true for honesty, as the attitude should be possessed
by the santri according to the good morale of the Muhammad SAW.

Cultural and Nation Character Education Development Program


(EFSDKB) from Curriculum Development Research and Development Board,
Ministry of National Education (2010) contains 18 values along with the
performance indicators in the schools and in the classrooms. Among the 18
values, some are related to EFSD dimensions, namely love the homeland,
environmental care, and social care.
Performance indicators of school environmental care that have not been
performed in PPMS Kendal are creating biopores, separating the garbage, and
composting. These three indicators may emerge when there is a policy and the
policy is responded by the Foundation by providing the facilities. However, all
other indicators have been practiced by santri of PPMS Kendal.
19

The other educational concept that have prevailed long before had been
casted by Ki Hajar Dewantoro, i.e. the 7th foundation of Taman Siswa called
among (nurture) system. According to Wuryadi (2010), nurture system (among) is
based on the psychological basic concept that the children are the center (student’s
centered), both in the education and in the teaching. Education functions to
liberate child’s spiritual, and the teaching functions to liberate the child’s mind, in
which practically these would liberate the spiritual, mind, and energy. The nurture
system (among) will be relevant in the unfinished building of the characters and
the personality (character building) of the child, and shall be carried out with
harmonization of the functional roles of three key components of education: the
school, the family and the society components. The nurture system will be
effective when using various leadership treatments in the educational and teaching
processes, known as: the motto of “setting model as you guide, nurturing
alongside, empowering while following” (ing ngarso sung tulodho, ing madyo
mangun karso, and tut wuri handayani) in the relevant educational level. Setting
model as you guide (ing ngarso sung tulodho), is relevant for early childhood.
Nurturing alongside (ing madyo mangun karso) is especially important for youth
teenagers, and empowering while following (tut wuri handayani) is relevant for
adolescents.
Relating the above educational concepts, EfSD concept of good morale
(akhlakul karimah) shall have the deepest meaning and relevant for humankind.
Therefore, to attain the objectives, efforts should be made by many parties: the
parents, the educational institution, the society, the religious leaders, and the
government,
The relationship between the good morale concept and the practice of the
five EFSD dimensions in PPMS Kendal can be seen on Figure 2. Based on Figure
2, it can be explained that the spiritual dimension practice in the religious service
activities, and educational dimension practice in the learning process to gain
knowledge, would produce santri with good morale. This conforms Muhajir in
Roqib (2009) that the objectives of Islamic education are actually emphasizing on
the good morale development.
20

EDUCA-
ECONOMICAL
TIONAL
DIMENSION
DIMENSION
GOOD
MORALE SOCIO-
CONCEPT CULTURAL
DIMENSION
SPIRITUAL ENVIRON-
DIMENSION MENTAL
DIMENSION

Figure 2. Relationship between Good Morale Concept and EfSD Practices

Akhlakul karimah santri who have been able to implementation PPB


values well. Santri was produced through a long process of education (3-6 years),
starting early admission at PPMS up when the alumni living in the community.
Character building held at the beginning of santri studying in PPMS with a
primary focus of Islamic spiritual activity, is a necessary precedent by public
schools that have more emphasis on activities to a new student mental test.

Curriculum-based pesantren with its development, the role of teacher and


ustad who has been tested since applying for work, and the availability of
infrastructure and management of the physical and biotic environment in PPMS is
also very good support in shaping santri as alumni akhlakul karimah.

Alumni quality akhlakul karimah also supported by the leadership of


Founder and Manager, Mr. Slamet Soemadyo a visionary. Although his formal
education academically "low" and never formally studied in pondok pesantren,
but the visual observation through his visit in various pondok pesantren, can be
translated in PPMS vision and executed it very well. A firm, disciplined,
independent, rich but not overbearing, charitable, receiving guests well, has the
insight and experience of a great business, is a leader type is ideal for sustainable
living.
21

Type the leadership of Mr. Slamet as described above, is believed by


experts in the environment (Tandjung, 2012, personal communication) as a
gesture khalifatullah fi al-Ardh. It is also stated by Baiquni (2008), that leadership
as a key to sustainable development, is a man who firmly embrace religion, will
receive the guidance and able to carry out the mandate as the leader in the face of
the earth, khalifatullah fi al-Ardh. Every human being is a leader who will be held
accountable for his leadership.

In the context of the environment, according to Abdullah (2010) term


khalifatullah fi al-Ardh be understood that man as a leader, especially given the
mandate to be a caliph in the earth to protect the environment with a variety of
policies, laws, and resources into socio-political duties . Zuhairini (in Roqib,
2009) image of such individual Muslim, also known as perfect human (insan
kamil) or rounded individual, perfect, balanced, and aligned. Perfect man means
human understanding of God, self, and the environment if the condition is
realized, life on earth would be sustained.

D. Conclusion and Recommendation


The conclusion that can be drawn from the research concept of Education
for Sustainable Development (Case in Pondok Modern Congratulations Kendal) is
as follows.

1. Perceptions and attitudes of students towards the Education for Sustainable


Development (EfSD) concept is contained in three dimensions and
strategic issues in Indonesia is quite good, and most have been practiced
by the community in Kendal PPMS everyday life. In addition to the three-
dimensional PPB, were found two dimensions in pondok pesantren:
educational dimensions and spiritual dimension. Educational dimension
was instrumental in forming the soul that meets the principles of EfSD.
Spiritual dimension is believed to have the most impact when compared
with other dimensions of existence and sustainability.

2. The concept can be formulated through a process of analysis of the


induction of theme based units of information are: the PPB akhlakul
karimah concept. The concept of PPB that khlakul karimah EfSD is
education that leads to the formation of the spiritual values of the younger
generation to be able to live independently, have the care of the
22

environment and social responsibility, so as to contribute to sustainable


living for future generations.

3. The concept of akhlakul karimah EfSD harmony with the essence of


education in Indonesia and also the essence of education at the pondok
pesantren, as well as complete ppb concepts that have been there before, as
they are not implicitly mentions the formation of spiritual values. The
emphasis on the formation of spiritual value to the concept, because the
spiritual values that will produce young generations akhlakul karimah.

4. To reach young generations who akhlakul karimah, needed five EfSD


dimensions: educational, spiritual, environmental, economic, social and
cultural rights. Educational dimension begins with the establishment of an
Islamic character, implemented through curriculum-based pesantren, the
educational model with a humanistic approach (insaniyah), then
implemented in the learning process. Spiritual activities carried out in
accordance of the Qur'an and Hadith. Comfortable learning environment,
adequate infrastructure, and the type of visionary leaders will be able to
fulfill their duty as khalifatullah fi al-Ardh.

Exploration results show that the practice of PPB in PPMS is still not optimal.
Therefore there are some things as a form of recommendations specifically for
EfSD implementation in PPMS Kendal and recommendations for educational
institutions in general.

Exploration results show that the practice of PPB in PPMS is still not
optimal. Therefore there are some things as a form of recommendations
specifically for EfSD implementation in PPMS Kendal and recommendations for
educational institutions in general.

1. Recommendations for PPMS Kendal

a. Structuring the more developed tourism-based cottage towards conservation


of natural resources such as water, soil, and air through increased
conservation of natural resources. Preservation of water resources need to be
done through infiltration wells, biopori, and wastewater treatment.

b. Waste management still need to be repaired to provide a beautiful and


functional bins for sorting, cultivate reduce, reuse and recycle for the whole
pondok pesantren community.

c. To support the development of educational dimension, the implementation


of EfSD as monolithic subject in the form of local content pondok pesantren
soon be realized by putting in a pondok pesantren-based curriculum.
23

d. The development of spiritual values especially zakat, infak, and sodaqoh not
only conducted by the Foundation, but also involves the students included in
the management, resulting in the habit of daily life.

2. Recommendations for Educational Institutions

a. The concept of akhlakul karimah EfSD can be implemented in a modern


pondok pesantren and Education Institute of Islamic boarding school model.

b. Required dissemination to schools under the Ministry of National Education


and the Ministry of Religious Education and the preparation of the learning
set in accordance with the akhlakul karimah EfSD.

REFERENCES

Abdullah, M., 2010. Al-Qur’an dan Konservasi Lingkungan. Jakarta: Dian


Rakyat.

Anonymous, 2003. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun


2003. Penerbit: Kementerian Pendidikan Nasional.
Baiquni, M., 2008. Mengguga(t)h Pemikiran dan Praktek Pembangunan
Berkelanjutan. Makalah. Seminar Nasional Filsafat Sains Geografi 12 Juli
2008. Yogyakarta.
Balitbang. Puskur. Kementerian Pendidikan Nasional. 2010. Pengembangan
Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Bahan Presentasi.
Depag.ac.id.com 2007. Statistik Pondok Pesantren 2005-2006.
www.localhost.D:pondok pondok pondok pesantrendanpendidikan.mht.
Diakses 01-02-2010.
Depag, 2006. Al-Qur,an dan Terjemahannya. Surabaya: Karya Agung.
Ghazali, M.B., 1995. Pengembangan Lingkungan Hidup Dalam Masyarakat.
Kasus Pondok Pesantren An-Nuqayah Dalam Menumbuhkan Kesadaran
Lingkungan di Guluk-guluk Sumenep Madura. Disertasi. Yogyakarta: IAIN
Kalijaga.
Hanns Siedel Foundation (HSF) dan UNY, 2006. Education for Sustainable
Development). Jakarta.
Hastuti, B.S.,2009. Pendidikan untuk Pengembangan Berkelanjutan (Education
for Sustainable Development). Dalam Perspektif PNFI. Implementasi EfSD
pada Program PNFI. Andragogia.Jurnal PNFI.Vol 1. No 1 November 2009.
Ismail, A.U., 2011. Pengembangan Diri Menjadi Pribadi Mulia. Jakarta: PT Alex
Media Komputindo.
24

Khaled, A., 2012. Buku Pintar Akhlak. Jakarta: Penerbit Zaman.


Roqib, M., 2009. Ilmu Pendidikan Islam. Pengembangan Pendidikan Integratif di
Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat. Yogyakarta: LKiSYogyakarta.

Salim, A., 2001. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial (dari Denzin Guba dan
Penerapannya). Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Sudibyo, R.S. 2008. Konsep EfSD di Indonesia. Bahan Presentasi. Yogyakarta:


Universitas Gadjah Mada.
Wahid, S. 2011. Kita telah meninggalkan Allah. Republika 18 Januari 2011.
Jakarta: Mahaka Media.

Wuryadi, 2010. Implementasi Sistem Among dalam Praktek Pendidikan dan


Pengajaran. Bahan Presentasi. Yogyakarta.
Zamroni, I.M. 2011. Pendidikan Berparadigma Pembangunan Berkelanjutan. Di
upload Tuesday, 25 January 2011 10:12.