Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang dilewati oleh garis khatulistiwa, sehingga matahari
menyinari Indonesia sepanjang tahun dengan suhu yang sangat stabil. Dalam setahun,
matahari melintasi garis ekuator sebanyak dua kali, sehingga secara otomatis Indonesia
akan mengalami iklim tropis yang bersifat panas dan juga lembab. Indonesia memiliki
dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.

Dengan memperhatikan kondisi geografis tersebut dimana Indonesia merupakan negara


tropis, maka energi alternatif matahari sangat cocok diterapkan di Indonesia. Konstruksi
bangunan juga harus memperhatikan unsur penggunaan bahan atau material dan bentuk
bangunan yang mampu mengurangi penggunaan lampu untuk pencahayaan, AC (Air
Conditioner) untuk pendingin serta sistem pembuangan yang baik.

Tingkat kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup dan perubahan iklim,


khususnya dalam bidang arsitektur interior dan lingkungan, dalam beberapa tahun
belakangan ini sangat meningkat. Gerakan hijau yang tengah berkembang pesat saat ini
tidak hanya bertujuan untuk melindungi sumber daya alam, tetapi juga untuk
diimplementasikan sebagai upaya efisiensi penggunaan energi serta meminimalisir
kerusakan lingkungan. Tentunya akan sangat bermanfaat apabila dilakukan secara
merata, bersama dan berkelanjutan.

Wacana green design menjadi sangat penting belakangan ini terlebih disaat kita semakin
menyadari dampak kerusakan lingkungan yang terjadi sebagai akibat perilaku manusia
terhadap alam yang kurang bijaksana. Hal yang paling dirasakan saat ini adalah efek dari
terjadinya pemanasan global (global warming). Suhu bumi yang semakin meningkat,
meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, menipisnya lapisan ozon, hujan

1
asam, naiknya permukaan air laut, menjadi hal-hal yang menandai efek global warming
tersebut.

Oleh karena itu, eksplorasi maupun eksploitasi komponen-komponen sumber daya alam
untuk pembangunan, pembuatan produk, dan lain-lain harus seimbang dengan hasil
ataupun produk bahan alam dan pembuangan limbah ke alam lingkungan. Prinsip
pemeliharaan keseimbangan lingkungan harus menjadi dasar dari setiap upaya perubahan
untuk mencapai kesejahteraan manusia dan keberlanjutan fungsi alam semesta.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang telah dirumuskan untuk penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut:
a. Apa yang dimaksud dengan Green Design?
b. Bagaimana konsep pengembangan produk untuk keberlanjutan masa depan
menggunakan konsep Green Design?
c. Bagaimana pemilihan material ramah lingkungan menggunakan konsep Green
Design?

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan yang telah dituliskan untuk penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Green Design,
b. Untuk mengetahui Bagaimana konsep pengembangan produk untuk keberlanjutan
masa depan menggunakan konsep Green Design, dan
c. Untuk mengetahui Bagaimana pemilihan material ramah lingkungan menggunakan
konsep Green Design.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Green Design

Green design merupakan gerakan pelestarian lingkungan hidup yang berusaha


diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Diprediksikan bahwa
dimasa yang akan datang, berbagai bentuk aktivitas manusia sehari-hari akan selalu
dikaitkan dengan pelaksanaan konsep green design. Termasuk di dalam ruang lingkupnya
adalah kegiatan penciptaan material bangunan. Dengan mengakomodasi konsep tersebut,
kegiatan yang dilaksanakan akan berada dalam jalur konservasi lingkungan hidup
(Hawari, 2016).

Green design sering diartikan sebagai desain yang berwawasan lingkungan, atau desain
yang ramah lingkungan. Dengan kata lain, green design adalah desain yang
mengintegrasikan seluruh proses dalam satu kesatuan dengan mempertimbangkan
akibatnya bagi lingkungan. Green design diterapkan bukan hanya pada saat menciptakan
sebuah desain, tetapi juga memperhitungkan product lifecycle secara keseluruhan, mulai
dari pengadaan, proses fabrikasi, penggunaan dan pembuangannya. Dengan kata lain ada
pertimbangan dan prediksi secara holistik atas pengaruh produk tersebut terhadap
lingkungan (Ariani, 2017).

Green design atau disebut juga eco design merupakan sebuah gerakan berkelanjutan yang
mengarahkan terciptanya kegiatan perancangan dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan
pemakaian material yang ramah lingkungan serta pencapaian efektifitas dan efisiensi
dalam pemanfaatan energi dan sumber daya. Konsep green design menjadi pemikiran
yang sangat dominan dalam setiap bagian kehidupan manusia selama beberapa dekade
terakhir. Hal itu terjadi seiring timbulnya isu-isu krisis yang terkait dengan energi, bahan
baku alam, pencemaran lingkungan, produksi limbah, serta adanya isu global warming.
Dalam dunia teknologi dan industri, konsep green design menjadi acuan dasar kegiatan
produksinya. Penerapan konsep green design diharapkan akan mampu meminimalisir

3
kesenjangan antara eksplorasi alam dengan kegiatan restorasinya sehingga keseimbangan
lingkungan hidup akan terpelihara (Hawari, 2016).

2.2 Tujuan Green Design

Secara umum, green design mempunyai dua tujuan utama, antara lain adalah sebagai
berikut :
a. Pemanfaatan energi dengan efisien dan tidak menimbulkan dampak yang berbahaya
bagi lingkungan misalnya mengurangi penggunaan emisi yang menyebabkan
pemanasan global, dan
b. Menciptakan produk yang ramah lingkungan yaitu memperhatikan aspek penggunaan
bahan baku dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui.

2.3 Penggunaan Bahan Material yang Ramah Lingkungan dan


Penggunaan Label

Istilah ‘green’ umumnya menunjukkan dampak minimal yang ditimbulkan atau bahkan
manfaat yang diberikan bagi lingkungan atas penggunaan suatu produk atau pelaksanaan
suatu kegiatan atau proses. Istilah ini juga seringkali dikaitkan dengan asal suatu produk
yang diperoleh dari alam namun tetap memperhatikan kelestarian atau keberlanjutan bagi
generasi mendatang. Proses produksinya pun menjadi pertimbangan apakah
membutuhkan banyak energi dan menghasilkan limbah atau polusi bagi lingkungan. Oleh
karena itu green design atau eco design disebut juga dengan nama lain sustainable design
atau desain yang berkelanjutan (Nurhadi, 2011).

Menurut Lim (2013), dari beberapa sumber pustaka didapatkan beberapa kriteria material
yang dapat dikatakan sebagai material yang ramah lingkungan, antara lain adalah sebagai
berikut:
1. Material ramah lingkungan memiliki kriteria sebagai berikut:
a. Tidak beracun, sebelum maupun sesudah digunakan,
b. Dalam proses pembuatannya tidak memproduksi zat-zat berbahaya bagi
lingkungan,

4
c. Dapat menghubungkan kita dengan alam, dalam arti kita makin dekat dengan
alam karena kesan alami dari material tersebut (misalnya bata mengingatkan kita
pada tanah, kayu pada pepohonan),
d. Bisa didapatkan dengan mudah dan dekat (tidak memerlukan ongkos atau proses
memindahkan yang besar, karena menghemat energi BBM untuk memindahkan
material tersebut ke lokasi pembangunan), dan
e. Bahan material yang dapat terurai dengan mudah secara alami.

2. Meskipun terdapat beragam standard dan pemahaman, berikut adalah beberapa


prinsip dasar sustainable design yang umum diterima adalah meliputi aspek-aspek
sebagai berikut:
a. Low-Impact Material
Memanfaatkan bahan non-toxic dan diproduksi secara ramah lingkungan,
b. Efisiensi Energi
Menggunakan atau membuat produk yang hanya membutuhkan sedikit energi
c. Kualitas dan Daya Tahan Produk
Produk yang berfungsi dengan baik memiliki umur pakai yang relatif lama
sehingga dapat mengurangi perawatan atau penggantian
d. Reuse and Recycle
Rancangan produk harus mempertimbangkan pemanfaatan secara berkelanjutan
hingga setelah masa pakai berakhir (afterlife)
e. Renewability
Bahan berasal dari wilayah terdekat, diproduksi dari sumber daya terbarukan,
serta (bila memungkinkan) bisa diolah menjadi kompos.
f. Sehat
Produk tidak berbahaya bagi pengguna atau penghuni dan lingkungan sekitarnya,
bahkan bisa menunjang aspek kesehatan secara luas
(Joel, 2011)

Dari data yang telah disebutkan diatas, dapat didefinisikan mengenai material yang
bermuatan green design (green material) yaitu material yang memperhatikan faktor-
faktor kelestarian lingkungan hidup, seperti penggunaan energi, bahan pendukung, proses

5
pembuatannya, serta produk akhir yang dihasilkan. Green material juga lebih
mengedepankan keseimbangan antara keuntungan jangka pendek dengan resiko jangka
panjang. Ruang lingkup aplikasi green material juga meliputi biaya operasional yang
rendah serta kemudahan pemeliharaan. Konsep green material mengindikasikan desain
berkelanjutan (sustainable design) yang berusaha mencapai faktor keseimbangan resiko
dan keuntungan dimasa yang akan datang untuk durasi waktu yang panjang. Dari sudut
pandang kreativitas, variabel-variabel diatas menunjukkan bahwa konsep green material
dapat membuka peluang inovasi penciptaan material alternatif yang lebih luas (Hawari,
2016).

Green Label atau sering disebut dengan stiker hijau merupakan system pelabelan yang
diaplikasikan untuk makanan atau produk lainnya, green label merupakan sertifikat untuk
produk yang ramag lingkungan. Keberadaan label tersebut menunjukkan suatu ukuran
keberlanjutan atau dapat diartikan sebagai produk dengan label tersebut telah
memperhatikan aspek lingkungan dalam daur hidupnya. Dewasa ini, masyarakat semakin
cerdas dalam memilih produk ramah lingkungan.

Setiap negara memiliki peraturan masing-masing mengenai Green Label yang mungkin
berbeda satu sama lain. Tapi secara umum, kriteria produk ramah lingkungan adalah sama
yaitu melohat pada daur hidup (life cycle) yang seminimal mungkin dapat mengurangi
dampak negatif terhadap lingkungan. Proses untuk mendapatkan Green Label ini meliputi
standar penggunaan material, pengolahan bahan baku, proses produksi, hingga
mempertimbangkan dampak kesehatan terhadap pelanggan, misalnya menggunakan
energi terbarukan dan bahan baku alternatif sebagai bentuk kontribusi pelestarian sumber
daya alam.

2.4 Tanggung Jawab Desainer

Untuk dapat menerapkan green design atau desain yang berwawasan lingkungan ini,
peran seorang desainer menjadi sangat penting. Dalam hal ini para desainer kini
menghadapi tantangan, bukan hanya memaksimalkan potensi estetika dan kegunaan
objek, tapi juga meminimalisasi dampak buruk bagi lingkungan tanpa menghabiskan

6
lebih banyak sumber energi. Hal tersebut tentunya akan dapat terwujud dengan baik
apabila seorang desainer tidak bekerja sendiri, melainkan didukung oleh pihak-pihak
terkait seperti misalnya bagian engineering, bagian produksi, bagian packaging, bahkan
bagian marketing.

Victor Papanek, seorang desainer produk, dalam bukunya Design for the Real World
(1970) menyatakan bahwa dalam zaman produksi massal sekarang ini, semua harus
terencana dan didesain, maka desain menjadi alat yang sangat ampuh yang digunakan
manusia untuk membentuk alat dan lingkungannya (dan selanjutnya pada masyarakat dan
dirinya sendiri). Hal ini menuntut suatu tanggung jawab sosial dan moral dari
desainernya. Dengan demikian, seorang desainer menjadi penentu atau pencipta dari
suatu produk dan mempunyai pengaruh langsung terhadap besarnya kerusakan yang
terjadi pada tiap tahapan proses. Berbagai desain mulai dikembangkan sebagai upaya
kreatif untuk meminimalisir dampak lingkungan dengan menggunakan produk atau
material yang ramah lingkungan dan perencanaan desain yang berkelanjutan, aman serta
terintegrasi. Mereka yang terlibat dalam proses daur hidup produk harus bekerjasama dan
saling toleran untuk mengaplikasikan green design dalam menciptakan produk baru yang
memiliki peluang di pasar dan bisa memprediksi dampak menyeluruh dari produk
tersebut terhadap lingkungannya.

7
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pengembangan Produk untuk Keberlanjutan Masa Depan

Pengembangan produk dan keberlanjutannya adalah kombinasi dan kondisi yang penting
mulai dari tahapan rancangan, pemilihan bahan baku, tipikal produk, sampah produk.
Banyaknya komponen yang dilibatkan mulai awal produk dikembangkan, proses
produksi, pemasaran, sampai pengolahan sampah sisa produksi. Karena banyaknya hal
yang dilibatkan dan setiap industri memilki karakteristik yang berbeda maka diperlukan
metodologi yang tepat untuk mengembangkan dan menerapkan produk yang lebih
berkelanjutan. Terdapat beberapa definisi yang terkait dengan Pengembangan Produk
Berkelanjutan (Sustainable Product Development). Definisi awal dikeluarkan oleh
Worlds Commission on Environment and Development’s yaitu pada dasarnya produk
berkelanjutan adalah segala jenis produk yang diproduksi saat ini namun
pemanfaatannya harus selalu berkaitan dengan kebutuhan dimasa depan. Berdasarkan
penelitian sebelumnya metode SPD terbukti memberikan kontribusi besar pada
keberlanjutan umur produk, dan memberikan kemungkinan untuk sebuah produk
memiliki umur yang lebih panjang dengan melakukan berbagai treatment seperti recycle
dan reuse. Dengan demikian dengan perancangan awal pada proses SPD mampu
menghemat kebutuhan bahan baku dan proses, sehingga secara keseluruhan dapat
menghemat biaya-biaya pada industri manufaktur.

3.2 Pengembangan Produk dan Sustainability

Apabila diterjemahkan sustainability ini mempunyai arti berkelanjutan. Namun banyak


para ahli menyatakan bahwa adanya persamaan persepsi antara pengertian Sustainability
dengan Sustainability development. Para ahli mendefiniskan Sustainability dengan
persepsi yang berbeda-beda. Pengertian Sustainability development menurut Bruntland
Report (1987) dalam : ‘’sustainable development is development that meets the needs of
the present without compromising the ability of future generations to meets their own

8
needs” atau bila diterjemahkan pembangunan adalah pembangunan yang dapat
memenuhi kebutuhan saat ini tanpa harus mengorbankan kemampuan generasi masa
depan dalam memenuhi kebutuhannya.

Szekely (2005) menyatakan bahwa sustainability adalah bagaimana membangun


masyarakat dimana ekonomi, sosial dan tujuan ekologi harus seimbang. Salah satu
pendekatan yang paling sering digunakan untuk mengukur corporate sustainability
adalah pendekatan triple bottom line. Pendekatan tersebut melibatkan tiga dimensi yakni:
1. Environmental (lingkungan)
Mengukur dampak pada sumber daya seperti udara, air, emisi limbah.
2. Sosial
Berhubungan dengan corporate governance, motivasi, insentif, keamanan dan
kesehatan, pengembangan sumber daya manusia, hak asasi manusia dan perilaku etis
3. Ekonomi
Mengacu pada pengukuran pemeliharaan atau peningkatan keberhasilan perusahaan
sebagai contoh, teknologi dan inovasi, kolaborasi, manajemen pengetahuan,
pembelian, proses dan pelaporan sustainability.

3.3 Contoh Kasus Pengembangan Produk menggunakan Konsep Green


Design

PENERAPAN GREEN DESIGN PADA DESAIN RADIO KAYU (MAGNO


RADIO) KARYA SINGGIH KARTONO

Salah seorang seorang desainer lokal yang telah mendunia dengan karyanya yaitu radio
Magno adalah Singgih Kartono. Singgih menciptakan dan menjual produk-produk dari
kayu dengan bentuk yang sederhana dengan merk Magno Radio. Dengan radionya,
Singgih memberi kita alternatif tentang produk yang menimbulkan respons emosional..
Ciri khas produk radio Magno adalah materialnya yang menggunakan kayu sonokeling,
mahoni, sengon dan pinus. Singgih menggunakan material kayu karena kayu merupakan
material yang luar biasa, dimana kita bisa menemukan 3 hal utama, yaitu hidup,
keseimbangan, dan batas. Kayu merupakan material yang soulful, dan Singgih yakin tiap

9
orang memiliki perasaan seperti itu. Kayu juga mengajarkan kita tentang keseimbangan.
Kalau kita cermati, material kayu merupakan perpaduan harmonis antara 2 hal yang
kontradiktif (keras-halus, kuat-lemah dan sebagainya). Kayu juga mengajarkan tentang
batas, karena sekuat apapun kayu, dia akan hancur juga oleh alam. Dengan desainnya
yang kontemporer, radio Magno terdiri dari 3 jenis, yaitu:
1. Personal radio tipe WR01A-2B
Dengan bentuk kotak kecil dengan dua buah knob untuk tunner, pegangan, dan
antena. Untuk jenis ini, tidak terdapat display gelombang seperti yang ditemui pada
radio pada umumnya dengan tujuan melatih kepekaan penggunanya. Radio ini
memiliki dua kombinasi warna dari dua jenis kayu yang berbeda. Kayu sonokeling
yang berwarna gelap menjadi sisi depan personel radio ini, dan sisanya didominasi
oleh kayu mahoni yang berwarna terang.

Gambar 1 Radio Tipe WR01A-2B

2. Tipe WR03-CUBE/4B
Sesuai namanya cube maka radio ini berbentuk kubus tanpa sudut lancip.

10
Gambar 2 Radio Tipe WR03-CUBE/4B

3. Tipe WR03-RECT/4B
Bernama rect, berasal dari kata rectangular (persegi panjang) memiliki ukuran lebih
panjang. Berbeda dengan personal radio, tipe radio meja ini memiliki tiga knob,
antena, dan tentunya display gelombang.

Gambar 3 Radio Tipe WR03-RECT/4B

Singgih Kartono telah menerapkan prinsip-prinsip keberlangsungan (sustainability)


dalam bidang desain dengan memperhatikan faktor lingkungan, atau lebih dikenal
sebagai konsep eco-design atau green design. Dalam mengembangkan produk radio kayu
Magno, Singgih menekankan fungsi produk dengan memperhatikan unsur-unsur

11
reducing, reusing, dan recycling dengan selalu mempertimbangkan pelestarian
lingkungan. Apa yang dilakukannya telah memberikan kontribusi penting kepada
pemberdayaan kearifan lokal, pelestarian lingkungan dan kesejahteraan ekonomi rakyat
yang dapat diperinci sebagai berikut:
a. Reducing
Penggunaan kayu yang berlebihan memang berpotensi merusak alam. Untuk itu
Singih menerapkan 2 prinsip dasar dalam berproduksi dengan material kayu.
Prinsipnya less wood more works, yaitu menggunakan kayu seminimal mungkin
namun bisa memberikan lapangan kerja sebanyak mungkin. Sistem produksi craft dan
high design product memberikan peluang tersebut. Dalam 1 tahun perusahaannya
menebang 2 pohon untuk tiap perajin yang bekerja di sana.
b. Reusing
Memanfaatkan sisa limbah hasil produksi produknya menjadi bahan yang digunakan
dalam pembuatan produk lainnya. Sehingga pemakaian material kayu tersebut
dilakukan seefisien mungkin.
c. Recycling
Pemakaian material kayu tersebut secara langsung sudah memenuhi aspek ini karena
kayu adalah material alami yang mudah terurai dan tidak membahayakan lingkungan.

Victor Papanek menyatakan dalam bukunya The Green Imperative, 1995, bahwa ekologi
dan keseimbangan lingkungan merupakan dasar bagi kehidupan manusia di atas
permukaan bumi ini. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan desain, dikenal istilah green
design yang berarti dalam mendesain, seorang desainer harus melakukan pendekatan
desain produk yang mempertimbangkan dampak produk tersebut terhadap lingkungan.
Bukan hanya pada saat menciptakan desain tersebut tetapi lifecycle secara keseluruhan.
Konsep tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pemilihan material atau bahan baku
Bahan baku utama yang digunakan untuk produk Radio Magno adalah kayu, yaitu
jenis sonokeling, mahoni, sengon dan pinus. Kayu dari jenis-jenis pohon tersebut
memerlukan waktu yang lama untuk bisa ditebang dan diambil kayunya sebagai
bahan baku produk, konstruksi dan sebagainya. Di satu sisi, penggunaan kayu

12
termasuk aman bagi manusia dan lingkungan. Akan tetapi di sisi lain penggunaan
kayu secara terus menerus dan berlebihan akan menyebabkan kerusakan lingkungan
2. Proses pembuatan atau manufakturing
Perusahaan Magno Radio memperkerjakan 33 karyawan, yang seluruhnya berasal
dari warga desa setempat. Dengan jumlah karyawan tersebut, perusahaan ini mampu
memproduksi 200 unit setiap bulan dengan proses yang lebih banyak menggunakan
tenaga manusia. Proses ini tentunya dapat meminimalkan penggunaan energi (listrik)
sehingga kadar polusinya pun tidak mencemari lingkungan. Limbah kayu yang tidak
terpakai dimanfaatkan untuk bahan baku membuat produk-produk lain seperti:
stationery, kaca pembesar, permainan gasing, dan lain-lain.
3. Pengemasan atau packaging produk
Pengemasan Kemasan produk ini terdiri dari, 2 buah panel kayu balsa didirikan pada
kedua sisinya, kemudian dibungkus dengan kertas kardus dan diikat dengan karet.
Kemasan tersebut berbentuk kotak (menyesuaikan dengan bentuk fisik radio,
didalamnya dilengkapi dengan petunjuk pemakaian dan penyimpanan. Penggunaan
kayu sebagai kemasan juga akan menjadi pertanyaan apakah penggunaan material
tersebut dapat dikompensasi dengan penanaman bibit kayu seperti yang telah disebut
diatas.
4. Produk jadi
Produk Radio Magno dibuat dengan desain yang sederhana dan mengarah ke bentuk
persegi. Singgih membuat produk radio Magno dengan semangat edukasi, yaitu
bagaimana user harus melatih feeling-nya. Misalkan menemukan stasiun radio tanpa
panduan skala gelombang, mengenali semua bagian dengan cara lebih intuitif
(menghapus hampir semua graphics), bagaimana mereka lebih berhati-hati (bisa
pecah karena jatuh), dan sebagainya. Dengan demikian diharapkan akan muncul relasi
emosional antara produk dan pemakainya. Singgih percaya bahwa produk itu bukan
objek, dia juga mahluk dan bereaksi atas aksi yang kita berikan. Manusia yang
terpelihara kepekaannya akan bisa merasakan fenomena yang sangat halus ini.
5. Pengangkutan atau pengiriman produk
Proses pengiriman barang tentunya memiliki kontribusi dalam menyumbang polusi
karena terjadinya pembakaran energi baik dengan menggunakan transportasi darat
(mobil), air (kapal) maupun udara (pesawat). Produk radio Magno memiliki segmen

13
pasar luar negeri yaitu Amerika, Jepang, dan Eropa. Oleh karena itu pengiriman
barang mau tidak mau harus dilakukan dengan menggunakan pesawat udara atau
kapal.
6. Pembuangan
Apabila sebuah produk sudah tidak digunakan kembali karena rusak atau memang
sudah usang, maka harus dipikirkan juga bagaimana penanganannya agar tidak
mengotori bumi. Produk magno radio ini sebagian besar menggunakan material alam
yaitu kayu, oleh karena itu kayu akan terurai (degradable) secara alami pada saat tidak
lagi digunakan. Dalam desain Magno Radio ini, Singgih Kartono justru ingin
membangun emosi pengguna agar memperlakukan radio tersebut dengan baik
sehingga dapat bertahan lama.

3.4 Hasil Pembahasan Diskusi Pleno

Diskusi pleno dilaksanakan di Laboratorium Rekayasa Mesin, Fakultas Teknik,


Universitas Mulawarman pada hari Kamis tanggal 26 September 2019. Pada saat diskusi
pleno ini, kami mempresentasikan hasil diskusi yang telah kami lakukan sebelumnya
mengenai konsep pengembangan produk untuk keberlangsungan masa depan,
pengembangan produk dan sustainability mengenai Green Design. Setelah kami
melaksanakan presentasi hasil diskusi kami, ada beberapa tanggapan yang disampaikan
oleh kelompok pembahas maupun bukan kelompok pembahas. Tanggapan yang
disampaikan berupa pertanyaan yang diajukan kepada kami. Kami telah merangkum
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada kami diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Ira Silfiani (1709035039)
Berikan contoh masing-masing satu contoh bahan material ramah lingkungan dari
beberapa kriteria bahan ramah lingkungan ramah lingkungan yang telah disampaikan
oleh sebelumnya!
Jawaban:
Kriteria bahan material ramah lingkungan yang pertama adalah tidak beracun,
sebelum maupun sesudah digunakan, untuk contoh bahan material tidak beracun
adalah segala bahan material non kimia seperti tanah, kayu, air, dan lain-lain. Kriteria
yang kedua yaitu dalam proses pembuatannya tidak memproduksi zat-zat berbahaya

14
bagi lingkungan, contoh untuk bahan material ini adalah sama seperti pada kriteria
pertama yaitu bahan material non kimia. Kriteria ketiga yaitu dapat menghubungkan
kita dengan alam, dalam arti kita makin dekat dengan alam karena kesan alami dari
material tersebut contohnya adalah bata mengingatkan kita pada tanah, kayu pada
pepohonan. Kriteria yang keempat yaitu bisa didapatkan dengan mudah dan dekat
contohnya yaitu bahan-bahan material tidak memerlukan ongkos atau proses
memindahkan yang besar, karena menghemat energi BBM untuk memindahkan
material tersebut ke lokasi pembangunan. Kriteria yang kelima yaitu bahan material
yang dapat terurai dengan mudah secara alami contohnya yaitu kayu, kayu merupakan
bahan material yang degradable dimana pada saat tidak digunakan, ia akan terurai
secara alami.
2. Fadila Meriska Putri (1709035038)
Apa saja hambatan yang didapatkan untuk pengembangan produk green material?
Jawaban:
Untuk menjawab pertanyaan ini, kami mengambil contoh kasus yang kami angkat
yaitu Penerapan Green Design pada Desain Radio Kayu (Magno Radio) Karya
Singgih Kartono. Dalam contoh kasus tersebut bahan utama untuk pembuatan produk
radio adalah kayu. kayu merupakan bahan material yang ramah lingkungan. Namun,
kayu baru bisa ditebang ketika telah mencapai umur yang cukup, umur yang cukup
untuk kayu yang akan ditebang bisa mencapai puluhan tahun, ini merupakan salah
satu penghambat untuk pengembangan produk green design, kemudian saat ini juga
banyak terjadi kebakaran lahan, dimana kebakaran lahan ini akan mempengaruhi
kualitas kayu yang akan digunakan untuk pembuatan produk tersebut, ini juga
merupakan hal yang bisa menghambat pengembangan produk dengan konsep green
design.
3. Karina Suci Utami (1709035014)
Untuk mengembangkan produk radio kayu, hal apa yang dilakukan oleh Singgih
Kartono untuk menerapkan konsep Green Design pada produknya?
Jawaban:
Dalam mengembangkan produk radio kayu Magno, Singgih menekankan fungsi
produk dengan memperhatikan unsur-unsur reducing, reusing, dan recycling dengan

15
selalu mempertimbangkan pelestarian lingkungan. Untuk penjelasan lebih lanjutnya
adalah sebagai berikut:
a. Reducing
Penggunaan kayu yang berlebihan memang berpotensi merusak alam. Untuk itu
Singih menerapkan 2 prinsip dasar dalam berproduksi dengan material kayu.
Prinsipnya less wood more works, yaitu menggunakan kayu seminimal mungkin
namun bisa memberikan lapangan kerja sebanyak mungkin. Sistem produksi craft
dan high design product memberikan peluang tersebut. Dalam 1 tahun
perusahaannya menebang 2 pohon untuk tiap perajin yang bekerja di sana.
b. Reusing
Memanfaatkan sisa limbah hasil produksi produknya menjadi bahan yang
digunakan dalam pembuatan produk lainnya. Sehingga pemakaian material kayu
tersebut dilakukan seefisien mungkin.
c. Recycling
Pemakaian material kayu tersebut secara langsung sudah memenuhi aspek ini
karena kayu adalah material alami yang mudah terurai dan tidak membahayakan
lingkungan.

16
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan penulisan makalah tentang konsep pengembangan produk untuk


keberlangsungan masa depan, pengembangan produk, dan sustainability mengenai Green
Design terdapat beberapa kesimpulan yang didapatkan, diantaranya adalah sebagai
berikut:
a. Green design sering diartikan sebagai desain yang berwawasan lingkungan, atau
desain yang ramah lingkungan. Dengan kata lain, green design adalah desain yang
mengintegrasikan seluruh proses dalam satu kesatuan dengan mempertimbangkan
akibatnya bagi lingkungan. Green design diterapkan bukan hanya pada saat
menciptakan sebuah desain, tetapi juga memperhitungkan product lifecycle secara
keseluruhan, mulai dari pengadaan, proses fabrikasi, penggunaan dan
pembuangannya.
b. Pengembangan produk dan keberlanjutannya adalah kombinasi dan kondisi yang
penting mulai dari tahapan rancangan, pemilihan bahan baku, tipikal produk, sampah
produk. Banyaknya komponen yang dilibatkan mulai awal produk dikembangkan,
proses produksi, pemasaran, sampai pengolahan sampah sisa produksi. Karena
banyaknya hal yang dilibatkan dan setiap industri memilki karakteristik yang berbeda
maka diperlukan metodologi yang tepat untuk mengembangkan dan menerapkan
produk yang lebih berkelanjutan.
c. Kriteria material yang dapat dikatakan sebagai material yang ramah lingkungan,
antara lain adalah tidak beracun, sebelum maupun sesudah digunakan, dalam proses
pembuatannya tidak memproduksi zat-zat berbahaya bagi lingkungan, dapat
menghubungkan kita dengan alam, dalam arti kita makin dekat dengan alam karena
kesan alami dari material tersebut (misalnya bata mengingatkan kita pada tanah, kayu
pada pepohonan, bisa didapatkan dengan mudah dan dekat (tidak memerlukan ongkos
atau proses memindahkan yang besar, karena menghemat energi BBM untuk

17
memindahkan material tersebut ke lokasi pembangunan), dan bahan material yang
dapat terurai dengan mudah secara alami.

4.2 Saran

Dengan dipelajarinya materi mengenai green design ini pada mata kuliah Manajemen
Lingkungan, diharapkan bagi mahasiswa mampu mengimplementasikan materi green
design ini dalam kehidupan sehari-hari, baik jika ingin membuat sebuah produk ataupun
menjalan sebuah proyek.

18