Anda di halaman 1dari 14

Walaupun mudah digunakan, uji Amsler Grid dan perimetri lainnya

tidak sensitive untuk mendeteksi skotoma monokular yang kecil dan tidak
akurat dalam menentukan perluasan skotoma. Scanning Laser
Ophthalmoscope (SLO) adalah instumen yang lebih disukai tetapi harganya
mahal. 18
Tangent screen dapat memberikan hasil yang tepat jika dilakukan oleh
perimetrist yang ahli dan sesuai dengan protokol pengujian. Perimetri makular
paling baik dilakukan dengan teknik hybrid dimana menggunakan intesitas
stimulus yang tunggak untuk seluruh lokasi uji, seperti perimetri kinetik, tatapi
target berada pada lokasi retina yang spesifik, seperti perimetri statik.18
Untuk pasien retinitis pigmentosa, lapangan pandang perifer sebaiknya
diperiksa pada layar singgung dan untuk pasien glaukoma dan defisit
neurologik pada perimetri Goldmann. 11,15

2.5.6. Alat Bantu Low Vision


Alat-alat bantu optik maupun non optik dapat membantu pasien
menggunakan sisa penglihatannya dan meningkatkan kualitas hidup pasien serta
mengurangi ketergantungan pasien kepada orang lain.2,6,11,16
- Jenis alat bantu optik untuk low vision :
o Kacamata
Visus kedua mata sama
Jarak fokus
Binokular dan monokular
o Kaca pembesar
Membaca spot
Tangkai pegang dan kaki penyangga
o Teleskop
Melihat jauh
Penampilan kurang baik
Lapangan pandang sempit
Gangguan tata nilai ruang

21
Perlu latihan khusus
Galilean dan kaplerian

Gambar 3. Autofokus teleskop

Gambar 4. Teleskop kaplerian

Gambar 5. Teleskop galilean

22
- Jenis alat bantu non optik untuk low vision :
o Alat bantu tulis

Gambar 6. Buku bergaris tebal dan alat bantu menulis garis tebal

o Lampu penerangan
Kontras ditingkatkan
Lampu pijar 60 Watt atau lampu neon 11 Watt

Gambar 7. Lampu pijar

o Video pembesar
Kamera dan monitor

23
Pembesaran 140 kali
Menggerakkan kamera atau objek
o Perangkat lunak komputer
Zoom Text dan Jaws
Tampilkan di monitor lebih besar (visual)
Suara (non visual)
Gabungan visual - non visual

2.5.6.1. Low Vision Aids


Low vision aids diperlukan bila kacamata, pembedahan dan obat-obatan
tidak dapat menolong dalam waktu yang lama. Al at yang sudah tersedia dari yang
sederhana sampai yang elektronik dengan berbagai pembesaran, kekuatan, dan
kegunaan yang berbeda. Alat-alat seperti ini biasanya dipakai untuk melihat dekat,
membaca surat, membaca koran, menonton televisi dan film, membaca menu
restoran dan membaca label produk makanan ataupun minuman dan lain-lain,
seperti : sistem pembesaran video, mesin baca elektronik, kacamata baca
mikroskopik, teleskopik baca, kacamata teleskopik, teleskop tangan, kacamata
autofokus, teknologi akses untuk internet dan komputer, lampu untuk penerangan
dan pembesaran, aplikasi suara untuk program komputer dan alat pembesaran/
magnifiers yang terdiri dari handheld magnifier dan stand magnifier. 11,13,16,19

- Handheld Magnifier (kaca pembesar yang dipegang)


o Kegunaan :
Membaca tanda, label, atau harga buku
Mengenali uang
Mengamati benda seperti tanaman atau serangga
Menulis
o Kelebihan :
Mudah dibawa
Tersedia kekuatan rendah sampai tinggi
Murah

24
Dapat dipakai pada posisi dan sudut apapun
Memungkinkan memantulkan sinar ke tulisan atau benda
o Kekurangan :
Sulit untuk menentukan jarak yang sesuai
Memerlukan tangan untuk memegangnya
Sulit dipegang dengan tetap
Sulit untuk menulis
Jarak baca dapat berubah-ubah

Gambar 8. Handheld magnifier

- Stand Magnifier (kaca pembesar dengan kaki)


o Kegunaan :
Membaca surat kabar atau buku
Melihat diagram atau gambar
o Kelebihan:
Memiliki jarak yang tetap untuk setiap gerakan
M u d a h dipakai
Tersedia dari kekuatan rendah sampai tinggi
Memungkinkan sinar mengenai tulisan jika kaki-kaki kecil
dan sempit
Dapat memakai alat bantu lain

25
o Kekurangan:
Memerlukan tangan untuk memegangnya
Tidak terpakai untuk suatu aktifitas, seperti menulis
Tidak kelihatan normal
Harganya mahal
Perlu penyangga buku

Gambar. Stand magnifier

Kunci keberhasilan penatalaksanaan pasien low vision adalah instruksi


pasien yang benar. Peresapan lensa tanpa instruksi yang jelas hanya berhasil pada
50% kasus, sedangkan dengan instruksi angka keberhasilannya meningkat sampai
90%. 6,18

Pasien menggunakan alat di bawah pengawasan seorang instruktur terlatih


sampai tercapai kecakapan dan efikasi. Dilakukan pembahasan tentang mekanika
alat-alat bantu, semua pertanyaan pasien dijawab, tujuan pemakaian alat diperjelas
dan pasien diberi cukup waktu dalam keadaan tenang untuk mencoba ketrampilan
yang baru mereka peroleh. Hal ini mungkin berlangsung dalam satu sesi atau
lebih karena sebagian pasien memerlukan percobaan pemakaian alat bantu di
rumah atau pekerjaan sebelum mereka yakin. 15
Dokter harus terbiasa dengan alat-alat yang tersedia serta keunggulan dan
kekurangan masing-masing alat agar dapat memberi petunjuk yang sesuai bagi

26
instruktur bagaimana gejala penyakit dan ketajaman penglihatan mempengaruhi
indikasi pemakaian kacamata, lensa kontak, teleskop, lensa intraokular dan alat-
alat bantu low vision. 15

2.5.7. Terapi dan Rehabilitasi 2,13,17

Terapi low vision adalah suatu sistem yang menggunakan alat –alat optikal
dan non optikal, dengan intstruksi dan rehabilitasi, untuk membantu seseorang
menggunakan penglihatan yang tersisa untuk memperbaiki kualitas hidupnya.
Terapi low vision menganjurkan seseorang untuk membaca, menonton
televisi, menyetir dan mengenali wajah seseorang. Ini bukanlah tindakan
pembedahan, terapi low vision menggunakan kombinasi dari lensa-lensa, prisma,
dan teknik pencahayaan agar bagian-bagian dari retina masih dapat berfungsi. Hal
ini dapat membuat potensi penglihatan terbaik seseorang. Retina dan otak dilatih
ulang untuk melihat.
Pengembangan di bidang rehabilitasi low vision dapat menolong
seseorang mempergunakan penglihatan mereka yang masih tersisa.
Apabila penurunan visus tidak dapat terkoreksi oleh pengobatan dan
pembedahan, rehabilitasi penglihatan dapat membantu. Rehabilitasi penglihatan
dapat membekali penderita low vision yang telah ikut serta dengan keterampilan
dan strategi-strategi untuk menolong penderita low vision agar bebas dan aktif di
segala usia.
Adapun rehabilitasi penglihatan ini terdiri dari ophthalmologists,
optometrists, pekerja sosial, perawat, occupational therapists, vision rehabilitation
therapists, dan pekerja lainnya.

- Pelayanan low vision klinis


o Pelatihan penggunaan alat bantu
o Oftalmologis, optometris, ahli rehabilitasi
- Pelatihan rehabilitasi
o Pelatihan kegiatan sehari-hari
- Pelatihan orientasi dan mobilitas

27
o Pelatihan kemandirian
o Orientasi dan mobilisasi
- Konseling
o Individu atau kelompok
o Badan psikososial

Low vision specialist/ low vision care adalah optometri atau dokter
spesialis mata yang telah berpengalaman untuk melakukan pemeriksaan, terapi
dan memanajemeni pasien dengan kegagalan visus yang tidak selalu memberikan
terapi dengan obat-obatan, pembedahan dan kaca mata/ lensa kontak. Mereka ini
mempunyai lisensi untuk memeriksa, mendiagnosa, dan merehabilitasi beragam
penyakit yang berhubungan dengan mata. 7,18
Tujuan utama dari rehabilitasi ini adalah untuk meminimalisasi handicap
yang disebabkan oleh suatu kelainan. Visual impairment ini diminimalisasi
dengan pengobatan medis yang teratur dan pembedahan pada mata, sedang visual
disability direduksi dengan pemakaian alat bantu dan terapi latihan dan visual
induced handicap direduksi dengan intervensi oleh petugas rehabilitasi
profesional. 6,7,15
Sejumlah rehabilitasi profesional mengadakan layanan untuk pasien low
vision termasuk terapi okupasi (occupational therapists/ OTs), spesialis orientasi
dan mobilisasi (O & M), guru rehabilitasi dan asisten untuk low vision. Dokter
spesialis mata selayaknya mengetahui keberadaan layanan lokal ini untuk
memberikan rujukan. 2,7,11,12,20
Terapi okupasi membantu orang yang mempunyai hambatan (handicaps).
Terapi ini membantu pasien agar dapat hidup mandiri dan mengisi kehidupan
dengan aktivitas, dengan memberikan keahlian. Spesialis orientasi dan mobilisasi
membantu pasien dengan kesulitan berjalan/ beraktifitas membantu dihubungkan
dengan kehilangan penglihatan, lewat pendidikan dan pelatihan keahlian, aktivitas
mandiri dilatih dan dijaga. Guru rehabilitasi membantu pasien dengan mengasah
keahlian yang dihubungkan dengan aktifitas sehari-hari. Asisten pada pasien low
vision adalah orang yang khusus untuk melatih pasien low vision (Ophthalmic

28
Medical Personal/ OMP), maka OMP tidak berperan sendiri, pada tempat
pelayanan primer OMP ini sebagai asisten dokter spesialis mata di klinik maupun
di kantor. 12,21
Pasien dapat dilatih agar dapat mengembangkan kemampuan untuk
mengefektifkan penglihatannya dengan memakai alat bantu sebelumnya.
Kemampuan ini meliputi scanning, tracing, spotting, dan trakking. 11,12,18

- Scanning adalah kumpulan informasi visual dengan pergerakan mata atau


kepala. Terapis mengajak pasien untuk memandang dengan sistematis
dibanding secara acak.12

- Tracing adalah kemampuan untuk menentukan letak garis lingkungan


sekitar, melalui scanning dan kemudian mengikuti garis visual. Mengenali
pinggir jalan sampai lampu lalu-lintas dan membiarkan pasien untuk
menyebrang dengan aman, merupakan salah satu contoh tracing. 12,15,20
- Spotting kemampuan untuk mempertahankan fiksasi pada sebuah target
sampai dapat dikenali. Seseorang melihat orang (scan) dengan tinggi 10-20
kaki dan yang dilihat (spot) hanya sebagian, merupakan salah satu contoh
spotting. Guna mempertagankan fiksasi maka pasien dapat menggunakan
alat bantu seperti teleskop untuk membaca tanda.15,19
- Tracking adalah kemampuan mengikuti pergerakan obyek lewat mata dan
atau pergerakan kepala, sebagai contoh adalah membiarkan pasien mengikuti
pergerakan bus sampai busnya berhenti. 6,15

Memahami kemampuan ini dan mengerti perluasan dari skotoma atau


kehilangan lapangan pandang, pasien low vision menggunakan kemampuan
mereka untuk mengenali obyek atau orang. Alat bantu penglihatan akan
memberikan keberhasilan dari kemampuan dasar ini. 12
Lingkungan rumah biasanya familier dan relatif statis. Orang dengan low
vision cenderung mudah untuk mengitari rumah mereka, pengaturan cahaya dan
kontras, penambahan alat bantu dengan perabaan dapat meningkatkan keamanan
dan fungsinya. Meningkatkan penerangan pada tangga dan bagian tempat kerja

29
(seperti dapur atau tempat laundry) menurunkan resiko trauma dari jatuh dan
kecelakaan. Kontras yang maksimal dapat membantu aktivitas sehari-hari menjadi
lebih mudah. Alat bantu perabaan, seperti tombol kompor atau tombol telepon,
akan membantu aktivitas rutin sehari-hari..6,7
Lingkungan luar rumah cenderung kurang dikenali oleh pasien dan lebih
mudah berubah. Ini merupakan penyulit, bahkan mustahil, untuk memodifikasi
lingkungan. Aktivitas luar rumah menjadi perubahan yang bermakna untuk pasien
ini, maka dari itu kebanyakan pasien cenderung menarik diri dari lingkungan
luar dan dengan resiko sosialisasinya terganggu. 12,18

1. L o w Vision pada A n a k Remaja


Pasien low vision pada orang dewasa disebabkan oleh penyakit pada
mata, mereka memerlukan bantuan pada melihat/membaca yang merupakan
hal yang penting untuk kehidupan sosial mereka. Anak dengan low vision
memerlukan bantuan untuk dilatih walaupun visusnya jelek atau tidak ada
visus. Kebanyakan anak-anak ini juga mengalami gangguan fisik dan mental
yang juga menentukan keberhasilan pembauran dengan lingkungan
sekitarnya/ masyarakat. Keberhasilan pembauran ini dalam
perkembangannya memerlukan intervensi berbeda sesuai dengan umur,
penting untuk diperhatikan kebutuhan tiap kelompok anak. 7,11

2. Balita/ K a n a k - K a n a k
Dokter spesialis mata memegang peranan penting pada pemeriksaan
dan penatalaksanaan pada anak yang dicurigai menderita low vision.
Diagnostik yang tepat dan prognostik yang realistik akan menolong untuk
menentukan panduan untuk merencanakan rehabilitasi. Anak yang buta atau
akan menjadi buta sebaiknya dilatih untuk menggunakan huruf Braille dan
dibantu oleh sebuah tim yang terdiri dari ahli pediatrik terapis dan
rehabilitasi (orientasi dan mobilitas), intervensi ini bersifat individual, tiap
anak mempunyai perbedaan dalam kapabilitas dan perubahannya. 12,20

30
3. A n a k Praseko lah
Anak yang tumbuh memiliki keinginan dan kebutuhan yang
berkembang. Anak memerlukan pelatihan orientasi dan mobilitas sedini
mungkin. Pengenalan alat pembesar yang dapat dipegang dengan tangan
(handheld magnifier) pada masa ini biasanya dengan baik dapat diterima.
CCTV yang membantu penglihatan orang dewasa, juga pada anak sekaligus
merupakan wadah untuk mendidik anak. Teleskop untuk melihat jarak yang
jauh dapat diterima oleh anak sehingga anak dapat mengeksplorasi dunia di
sekitarnya. 6,15

Gambar. Zoom text and jaws pada perangkat lunak komputer

Anak – anak cenderung dapat menerima status penglihatannya dan tidak


mengalami hambatan mengenai motivasi. Remaja perlu perjuangan, tetapi lebih
baik jika mereka dikumpulkan dalam satu kelompok dengan remaja lain dengan
yang juga mengalami low vision.12,15,19

4. D e w a s a
Orang dewasa dengan kehilangan penglihatan akan mengalami juga
gangguan psikologis sebagai respon keadaan mereka. Sejalan dengan waktu
intervensi dan pendekatan, kebanyakan pasien akan termotivasi untuk
memaksimalkan penglihatannya. Kuncinya adalah berempati terhadap
ketidakmampuan penglihatannya dan kemampuan penglihatannya yang ada saat
ini. 7,18,21

31
B A B III
KESIMPULAN

Low vision merupakan suatu keadaan dimana setelah dilakukan tindakan


optimal (pengobatan, operasi dan koreksi kacamata) penglihatan masih buram
(kurang dari 0,3) atau lapangan pandang kurang dari 10 derajat dari titik fiksasi
tetapi sisa penglihatan masih dapat digunakan untuk melihat. Adapaun aspek-
aspek yang terdapat dalam low vision menurut American Academy of
Ophthalmology terbagi atas 4 yaitu : disorder, impairment, disability, dan
handicap.
The International Classification of Diseases mengklasifikasikan low
vision menjadi 5 kategori yaitu : Moderate visual impairment , Severe visual
impairment , Profound visual impairment, Near-total vision loss , dan Total
blindness .
Masalah-masalah low vision dapat diklasifikasikan dalam empat golongan
yaitu : penglihatan sentral dan perifer yang kabur atau berkabut, yang khas akibat
kekeruhan media (kornea, lensa, corpus vitreous), gangguan resolusi fokus tanpa
skotoma sentralis dengan ketajaman perifer normal, khas pada oedem makula,
skotoma sentralis, khas untuk gangguan makula degeneratif atau inflamasi dan
kelainan-kelainan nervus optikus, skotoma perifer, khas untuk glaukoma tahap
lanjut, retinitis pigmentosa dan gangguan retina perifer lainnya.
Penderita low vision memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut : menulis
dan membaca dalam jarak dekat, hanya dapat membaca huruf berukuran besar,
memicingkan mata atau mengerutkan dahi ketika melihat di bawah cahaya yang
terang, terlihat tidak menatap lurus ke depan ketika memandang sesuatu, kondisi
mata tampak lain, misalnya terlihat berkabut atau berwarna putih padabagian luar.
Berdasarkan ciri-ciri umum dari penderita low vision tersebut dapat
dilakukan anamnesa, pemeriksaan fungsi penglihatan seperti pemeriksaan tajam
penglihatan, pemeriksaan penglihatan dekat dan kemampuan membaca,
pengukuran sensitifitas kontras, dan pemeriksaan lapangan pandang. Selain itu,
penderita low vision dapat ditolong dengan menggunakan alat bantu

32
mempermudah mereka mengikuti kegiatannya sehari-hari. Alat –alat yang
dibutuhkan terbagi menjadi 2 kategori yaitu optik dan non-optik, contoh alat bantu
optik antara lain : kacamata, teleskop, kaca pembesar. Sedangkan contoh alat non-
optik anatara lain yaitu : lampu penerangan, video pembesar, dan perangkat lunak
komputer.
Pengembangan di bidang rehabilitasi low vision dapat menolong
seseorang mempergunakan penglihatan mereka yang masih tersisa. Apabila
penurunan visus tidak dapat terkoreksi oleh pengobatan dan pembedahan,
rehabilitasi penglihatan dapat membantu. Rehabilitasi penglihatan dapat
membekali penderita low vision yang telah ikut serta dengan keterampilan dan
strategi-strategi untuk menolong penderita low vision agar bebas dan aktif di
segala usia. Adapun rehabilitasi penglihatan ini terdiri dari ophthalmologists,
optometrists, pekerja sosial, perawat, occupational therapists, vision rehabilitation
therapists, dan pekerja lainnya.

33
D AF TA R P US T AK A

1. American Academy of Ophthalmology. Clinical Optics, Chapter 9, 2011-


2012, p. 283-285
2. Low Vision. University of Michigan Kellogg Eye Center. Available at :
http://www.kellogg.umich.edu/patientcare/conditions/lowvision.html
3. Final Report : Anec Report “New Standard For The Visual Accessibility
of Signs and Signage For People With Low Vision”. Universitair
Ziekenhuis Gent. 2010
4. Resnikoff S, Pascolini D, Pararajasegaram R. et all. Policy and Practice :
Global Data On Visual Impairment In The Year 2002. Bulletin Of The
World Helath Organization. 2004
5. Resnikoff S. The Role Of Optometry in Vision 2020. Available at :
http://www.cehjournal.org/0953-6833/15/jceh_15_43_033.html
6. James B, Chew C and Bron A, Lecture Notes on Ophtalmology. N e w
York : Blackwell Publishing, 2003; 20-26
7. Ilyas S, Mailangkay H, Taim H, Saman R dan Simarmata M. Ilmu
Penyakit Mata Untuk Dokter Umu m dan Mahasiswa Kedokteran, Edisi
Ke-2. Jakarta. 2003
8. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata, Edisi Ke-3. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta. 2009
9. Riordan P, Whitcher JP. Vaughan & Asbury : Oftalmologi Umum, Edisi
Ke-17. EGC. 2010
10. Ilyas S. Glosari Sinopsis : Kelainan Refraksi dan Kacamata, Edisi Ke-2.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2006
11. Faye EE. Low Vision : Duane’s Clinical Ophthalmology, Volume 1,
Chapter 46. 2004, p.1-46
12. How To Cope With Low Vision. Available at :
http://www.allaboutvision.com/lowvision.html
13. Friedman A. Low Vision : Causes Effects and Treatments. United Health
Care. Available at : htt://www.nei.nih.gov/strategicplanning/np_low.asp

34