Anda di halaman 1dari 24

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................... 1
A. 1.1 Latar Belakang Masalah................................................................ 1

B. 1.2 Ruang Lingkup dan Rumusan Masalah .........................................2

C. 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian.......................................................3

D. 1.4 Manfaat Penelitan.........................................................................4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 5


A. Landasan Teori....................................................................................6
B. Kerangka Teori...................................................................................7
C. Kerangka Konsep Penelitian………………………………………..8
D.Hipotesis……………………………………………………………….9

BAB III. METODE PENELITIAN...........................................................10


A. 3.1 Jenis Penelitian…………………….............................................11

B. 3.3 Data Penelitian dan Sumber Data……………………………….12

C. 3.4 Teknik Pengumpulan Data…………………………………......13

BAB IV PENUTUPAN………………………………………………….14
KESIMPULAN
SARAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Negara Republik Indonesia yang telah diakui oleh
pemerintah sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia memiliki aturan-aturan dalam
penggunaan dan pengucapannya sesuai dengan Ejaan yang disempurnakan (EYD).

Sebagai bangsa Indonesia yang menghargai budayanya, maka kita memang sudah seharusnya
menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu dan menjadikan bahasa Indonesia
sebagai bahasa sehari-hari dalam kehidupan kita. Tentunya bahasa Indonesia yang digunakan
adalah bahasa Indonesia yang sesuai dengan EYD.Namun seiring dengan berkembangnya
zaman, banyak terjadi pergeseran pengucapan serta penulisan terhadap bahasa Indonesia yang
sesuai dengan EYD. Hal itu terutama terjadi dikalangan anak remaja yang saat ini semakin
kesulitan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar seperti misalnya adanya
penyingkatan kata, penambahan huruf terhadap kata yang sudah baku, pengurangan huruf,
serta penggunaan angka dalam penulisan kata.

Pergesaran penulisan dan pengucapan bahasa Indonesia ini disebabkan oleh munculnya
bahasa baru dikalangan remaja yang membuat mereka lebih percaya diri ketika mereka
menggunakan bahasa baru yang mereka sebut sebagai bahasa gaul.Bahasa gaul merupakan
salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai
muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasanya para
anak jalanan yang disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman. Sehubungan
dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh sebagian
masyarakat modern, perlu adanya tindakan dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi
bahasa Indonesia yang merupakan bahasa Nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar
dalam dunia pendidikan. Dalam konteks masa kini, bahasa gaul merupakan dialek bahasa
Indonesia non-formal yang terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu.

Remaja saat ini lebih cenderung menggunakan bahasa gaul yang tentunya mengikis kebakuan
yang dimiliki bahasa Indonesia. Dengan semakin berkembangnya bahasa gaul dikalangan
remaja, bisa jadi generasi selanjutnya tidak lagi bisa mengenal dan menggunakan bahasa
Indonesia yang baku sesuai dengan EYD.Bahasa gaul tersebut merupakan suatu pertanda
bahwa perkembangan bahasa Indonesia dikalangan remaja sangatlah buruk, karena bahasa
gaul juga tidak bisa dikatakan sebagai bahasa yang baku dan tidak sesuai dengan EYD.

Jika hal ini terus berlanjut maka akan berdampak buruk bagi generasi muda dimasa
mendatang. Generasi muda nanti akan menjadi generasi yang tidak bisa berbicara bahasa
Indonesia yang baik dan benar. Hal inilah yang melatarbelakangi saya untuk membuat karya
tulis ilmiah tentang pengaruh bahasa gaul terhadap perilaku remaja.

1.2 Ruang Lingkup dan Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah berdasarkan latar belakang masalah di atas adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja?

2. Bagaimana pengaruh penggunaan bahasa gaul terhadap perilaku remaja?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan berdasarkan rumusan masalah di atas adalah sebagai berikut :

1.Mendeskripsikan bagaimana penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja.

2.Mendeskripsikan bagaimana pengaruh penggunaan bahasa gaul terhadap perilaku remaja.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, pengalaman dan


wawasan, serta bahan dalam penerapan ilmu metode penelitian, khususnya mengenai
gambaran pengetahuan tentang pengaruh bahasa gaul terhadap perilaku remaja

b. Dapat dijadikan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya

2. Manfaat Praktis

a. Manfaat bagi penulis

b. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh penggunaan bahasa gaul terhadap remaja.

c. Manfaat bagi tenaga pendidik


1. d. Sebagai referensi untuk mengoptimalkan pembelajaran mata kuliah bahasa
Indonesia, khususnya dosen di Universitas negeri medan.

3. Manfaat bagi pembaca

Untuk merangsang para pembaca agar menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori

2.2.1 Asal-usul Bahas

Teoretikus kontemporer mengatakan bahwa bahasa adalah ekstensi perilaku sosial .Lebih dari
itu, bahasa ucap bergantung pada perkembangan kemampuan untuk menempatkan lidah
secara tepat di berbagi lokasi Hingga kini belum ada suatu teori pun yang diterima luas
mengenai bagaimana bahasa itu muncul di dalam sistem milik manusia yang
memungkinkannya membuat berbagai suara kontras yang diperlukan untuk menghasilkan
ucapan.Kemampuan ini mungkin berhubungan dengan kemampuan manusia lebih awal untuk
mengartikulasikan isyarat-isyarat jari-jemari dan tangan yang memudahkan komunikasi
noverbal. Konon, hewan primata (kera, monyet, gorila dan sejenisnya) berevolusi sejak kira-
kira 70 juta tahun lalu, dimulai dengan hewan mirip tikus kecil yang hidup sejaman dengan
dinosaurus.

Dulu, nenek moyang kita yang juga disebut Cro Magnon ini tinggal di gua-gua. Mereka
mempunyai sosok seperti kita, hanya saja lebih berotot dan lebih tegap, mungkin karena
hidup mereka peuh semangat dan makan makanan yang lebih sehat. Mereka adalah pemburu
dan pengumpul makanan yang berhasil. Ketika mereka belum mapu berbahasa verbal,
mereka berkomunikasi dengan gambar-gambar yang mereka buat pada tulang, cadas dan
dinding gua yang banyak ditemukan di Spanyol dan Perancis Selatan. Mereka
menggambarkan bison, rusa kutub dan mamalia lainnya yang mereka buru. Inilah sarana
pertama yang dikenal manusia untuk merekan informasi.

Dalam tahap perkembangan berikutnya, antara 40.000 dan 35.000 tahun lalu Cro Magnon
mulai menggunakan bahasa lisan.Ini mungkin karena mereka punya struktur tengkorak, lidah
dan kotak suara yang mirip dengan yang kita miliki sekarang. Kelebihan homo sapiens dari
makhluk sebelumnya adalah kemampuan mereka untuk mengembangkan salah satu jenis
tanda yang disebut dengan simbol atau lambang. Sedangkan makhluk hidup sebelumnya
lebih mengandalkan ikon, sinyal atau indeks dalam komunikasi mereka.Kemampuan
berbahasa inilah yang membuat mereka terus bertahan hingga kini, tidak seperti makhluk
mirip manusia sebelumnya yang musnah. Karena Cro Magnon dapat berpikir lewat bahasa,
mereka mampu membuat rencana, konsep, berburu dengan cara yang keras dan cuaca yang
buruk. Mereka juga dapat mengawetkan makanan.

Sekitar 10.000 tahun Sebelum Makanan mereka menemukan cara-cara bertani demi
kelangsunagn hidup mereka. Pendek kata, homo sapiens semakin makmur dari abad ke abad,
karena mereka memiliki banyak pengetahuan untuk bertahan hidup dan mengembangan
budaya mereka, yang kemudian mereka wariskan kepada generasi berikutnya. Mereka tidak
hanya menggarap tanah dan beternak tetapi juga mengembangkan teknologi termasuk
penggunaan logam, anyaman.Roda, kereta dan barang tembikar.Mereka juga punya waktu
untuk bersenang-senang, membuat inovasi dan berkontemplasi.Namun mereka belum dapat
menulis.Sementara itu, bahasa pun semakin beraneka ragam.Cara bicara baru berkembang
ketika orang-orang menyebar ke kawasan-kawasan baru tempat mereka menemukan dan
mengatasi problem-problem baru.Bahasa-bahasa lama pun terus berevolusi dari generasi ke
generasi.

Sekitar 5000 tahun lalu manusia melakukan transisi komunikasi dengan memasuki era
tulisan, sementara bahasa lisan pun terus berkembang. Transisi paling dini dilakukan bangsa
Sumeria dan bagsa Mesir kuno, lalu juga bangsa Maya dan bangsa Cina yang
mengembangkan sistem tulisan mereka secara independen. Tahun 2000 Sebelum Masehi,
papirus digunakan secara luas di Mesir untuk menyampaikan pesan tertulis dan merekam
informasi. Penyebaran sistem tulisan itu akhirnya sampai juga ke Yunani.Bangsa Yunanilah
yabg kemudian menyempurnakan dan menyederhanakan sistem tulisan ini. Menjelang kira-
kira 500 Sebelum Masehi, mereka telah menggunakan alfabet ini secara luas. Akhirnya
alfabet Yunani itu diteruskan ke Roma tempat sistem tulisan itu disempurnakan lagi.Sistem
tulisan dan bahasa lisan itu terus berkembang hingga kini.Kita pun memasuki era pada abad
ke 15, yang beberapa abad kemudian disusul oleh era radio, era televisi dan kini era
komputer.Kesemuanya merekam hasil peradaban manusia untuk disempurnakan lagi oleh
generasi-generasi mendatang lewat kemampuan mereka dalam berbahasa.
2.2.2 Pengertian Bahasa

Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang
terlintas di dalam hati. Namun, lebih jauh bahasa bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau
alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau
perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang,
berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.

Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola
secara tetap dan dapat dikaidahkan.Sistem bahasa berupa lambang-lambang bunyi, setiap
lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Karena setiap
lambang bunyi itu memiliki atau menyatakan suatu konsep atau makna, maka dapat
disimpulkan bahwa setiap suatu ujaran bahasa memiliki makna. Contoh lambang bahasa yang
berbunyi “nasi” melambangkan konsep atau makna ‘sesuatu yang biasa dimakan orang
sebagai makanan pokok’.Telah disebutkan bahwa bahasa adalah sebuah sistem berupa bunyi,
bersifat abritrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi. Dari pengertian tersebut, dapat
disimpulkan bahwa di antara karakteristik bahasa adalah abritrer, produktif, dinamis,
beragam, dan manusiawi.

a) Bahasa Bersifat Abritrer

Bahasa bersifat abritrer artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan tidak
bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut
mengonsepi makna tertentu.Secara kongkret, alasan “kuda” melambangkan ‘sejenis binatang
berkaki empat yang bisa dikendarai’ adalah tidak bisa dijelaskan.

Meskipun bersifat abritrer, tetapi juga konvensional. Artinya setiap penutur suatu bahasa akan
mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dia akan mematuhi,
misalnya, lambang ‘buku’ hanya digunakan untuk menyatakan ‘tumpukan kertas bercetak
yang dijilid’, dan tidak untuk melambangkan konsep yang lain, sebab jika dilakukannya
berarti dia telah melanggar konvensi itu.
b) Bahasa Bersifat Produktif

Bahasa bersifat produktif artinya, dengan sejumlah besar unsur yang terbatas, namun dapat
dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas.Misalnya, menurut Kamus Umum
Bahasa Indonesia susunan WJS. Purwadarminta bahasa Indonesia hanya mempunyai kurang
lebih 23.000 kosa kata, tetapi dengan 23.000 buah kata tersebut dapat dibuat jutaan kalimat
yang tidak terbatas.

c) Bahasa Bersifat Dinamis

Bersifat dinamis berarti bahwa bahasa itu tidak lepas dari berbagai kemungkinan perubahan
sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran apa saja: fonologis,
morfologis, sintaksis, semantic dan leksikon. Pada setiap waktu mungkin saja terdapat
kosakata baru yang muncul, tetapi juga ada kosakata lama yang tenggelam, tidak digunakan
lagi.

d) Bahasa Bersifat Beragam

Meskipun bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu
digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan
yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologis, morfologis,
sintaksis maupun pada tataran leksikon. Bahasa Jawa yang digunakan di Surabaya berbeda
dengan yang digunakan di Yogyakarta.Begitu juga bahasa Arab yang digunakan di Mesir
berbeda dengan yang digunakan di Arab Saudi.

e) Bahasa Bersifat Manusiawi

Bahasa sebagai alat komunikasi verbal, hanya dimiliki manusia. Hewan tidak mempunyai
bahasa.Yang dimiliki hewan sebagai alat komunikasi, yang berupa bunyi atau gerak isyarat,
tidak bersifat produktif dan dinamis. Manusia dalam menguasai bahasa bukanlah secara
instingtif atau naluriah, tetapi dengan cara belajar. Hewan tidak mampu untuk mempelajari
bahasa manusia, oleh karena itu dikatakan bahwa bahasa itu bersifat manusiawi.
2.2.3 Asal-usul Bahasa Gaul

Sejumlah kata atau istilah mempunya arti khusus, unik, menyimpang atau bahkan
bertentangan dengan arti yang lazim ketika digunakan oleh orang-orang dari subkultur
tertentu, bahasa Subkultur ini disebut bahasa khusus (special language), bahasa gaul atau
argot.

Bahasa gaul sebenarnya sudah ada sejak 1970-an. Awalnya istila-istilah dalam bahasa gaul itu
untuk merahasiakn obrolan dalam komunitas tertentu. Tapi karena sering digunakan di luar
komunitasnya, lama-lam istilah-istilah tersebut jadi bahasa sehari-hari.

Bahasa prokem Indonesia atau bahasa gaul atau bahasa prokem yang khas Indonesia dan
jarang dijumpai di negara-negara lain kecuali di komunitas-komunitas Indonesia. Bahasa
prokem yang berkembang di Indonesia lebih dominan dipengaruhi oleh bahasa Betawi yang
mengalami penyimpangan/pengubahsuaian pemakaian kata oleh kaum remaja Indonesia yang
menetap di Jakarta.

Akar dari bahasa gaul adalah bahasa prokem. Kata prokem sendiri merupakan “bahasa gaul
preman”. Bahasa ini awalnya digunakan oleh kalangan preman untuk berkomunikasi satu
sama lain secara rahasia. Agar kalimat mereka tidak diketahui oleh kebanyakan orang,
mereka merancang kata-kata baru dengan cara antara lain mengganti kata ke lawan kata,
mencari kata sepadan, menentukan angka-angka, penggantian fonem, distrubusi fonem,
penambahan awalan, sisipan, atau akhiran.

Karena begitu seringnya mereka menggunakan bahasa sandi mererka itu di berbagai tempat,
lama-lama orang awam pun mengerti yang mereka maksud. Artinya mereka yang bukan
preman pun ikut-ikutan menggunakan bini dalam obrolan sehari-hari sehingga bahasa
prokem tidal lagi menjadi bahasa rahasia. Kalau enggak percaya coba deh Tanya bokap atau
nyokap kita, tahu engga mereka dengan istilah moakal,mokat, atau bokin. Kalau mereka
engga mengerti artinya berarti di masa mudanya dulu mereka bukan anak gaul.

Dengan motif yang lebih kurang sama dengan dengan preman, kaum waria juga menciptakan
sendiri bahasa rahasia mereka. Sampai sekarang kita masih sering mendengar istilah
“bencong” untuk menyebut seorang banci? Nah, kata bencong itu sudah ada sejak awal 1970-
an juga, ya hampir beramaan deh dngan bahasa prokem. Pada perkembangannya, konon para
waria atau banci inilah yang paling rajin berkreasi menciptakan istilah-istilah baru yang
kemudian memperkaya bahasa gaul.
Kosakata bahasa gaul yang berkembang belakangan ini sering enggak beraturan alias engga
ada rumusnya. Sehingga kita perlu menghafal setiap kali muncul istilah baru. Misalnya untuk
sebuah lawakan yang engga lucu, kita bias menyebutnya garing atau jayus. Ada juga yang
menyebut jasjus.Untuk sesuatu yang engga oke, biasa kita sebut cupu. Jayus dan cupu bias
dibilang kosa kata baru.

2.2.4 Pengertian Bahasa Gaul

Menurut Wikipedia bebas-hasil dari penelusuran situs google mengatakan bahwa bahasa gaul
atau bahasa prokem adalah ragam bahasa Indonesia non standar yang lazim digunakan di
Jakarta pada tahun 1970-an yang kemudian digantikan oleh ragam yang disebut sebagai
bahasa gaul. Bahasa prokem ditandai oleh kata-kata Indonesia atau kata dialek Betawi yang
dipotong dua fonemnya yang paling akhir kemudian disisipi bentuk -ok- di depan fonem
terakhir yang tersisa. Misalnya, kata bapak dipotong menjadi bap, kemudian disisipi -ok-
menjadi bokap.Diperkirakan ragam ini berasal dari bahasa khusus yang digunakan oleh para
narapidana. Seperti bahasa gaul, sintaksis dan morfologi ragam ini memanfaatkan sintaksis
dan morfologi bahasa Indonesia dan dialek Betawi.

Bahasa gaul atau argot atau bahasa prokem adalah penggunaan kata-kata dalam bahasa yang
tidak resmi dan ekspresi yang bukan merupakan standar penuturan dialek atau bahasa. Kata
dalam bahasa gaul biasanya kaya dalam domain tertentu, seperti kekerasan, kejahatan dan
narkoba dan seks.

Bahasa prokem ini mengalami pergerseran fungsi dari bahasa rahasia menjadi bahasa gaul.
Dalam konteks kekinian, bahasa gaul merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang
terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu (contohnya, kalangan homo
seksual atau waria). Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah
Debby Sahertian mengumpulkan kosa-kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan
menerbitkan kamus yang bernama “Kamus Bahasa Gaul” pada tahun 1999.Meskipun bahasa
gaul sebenarnya merujuk kepada bahasa khas yang digunakan setiap komunitas atau
subkultur apa saja, bahas gaul lebih sering merujuk pada bahasa rahasia yang digunakan
dalam kelompok yang menyimpang, seperti kelompok preman, kelompok penjual narkotika,
kaum homoseksual/lesbian, pelacur, dsb.
Saat ini bahasa gaul telah banyak terasimilasi dan menjadi umum digunakan sebagai
percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkngan social bahkan dalam media-media
popular seperti TV, radio, dunia perfilman nasional, dan sering pula digunakan dalam bentuk
publikasi-publikasi yang ditunjukan untuk kalangan remaja oleh majalah-majalah remaja
popular.Bahasa gaul umumnya digunakan di lingkungan perkotaan. Terdapat cukup banyak
variasi dan perbedaan dari bahasa gaul bergantung pada kota tempat seseorang tinggal,
utamanya dipengaruhi oleh bahasa daerah yang berbeda dari etnis-etnis yang menjadi
penduduk mayoritas dalam kota tersebut. Sebagai contoh, di Bandung, Jawa Barat.
Perbendaharaan kata dalam bahasa gaulnya banyak mengandung kosakata-kosakata yang
berasal dari bahasa sunda.

2.2.5 Ciri-ciri Bahasa Gaul

Berikut ini beberapa ciri dari bahasa gaul :

1) Kosakata khas: berkata → bilang, berbicara → ngomong, cantik →kece, dia → doi,
doski, kaya →tajir, reseh →berabe, ayah → bokap, ibu → nyokap, cinta →cintrong, aku
→gua, gue, gwa, kamu → lu, lo, elu, dll.

2) Penghilangan huruf (fonem) awal: sudah → udah, saja → aja, sama → ama, memang
→ emang, dll.

3) Penghilangan huruf “h”: habis → abis, hitung → itung, hujan → ujan, hilang → ilang,
hati → ati, hangat → anget, tahu → tau, lihat → liat, pahit → pait, tahun → taon, bohong →
boong, dll.

4) Penggantian huruf "a" dengan "e": benar → bener, cepat → cepet, teman→ temen,
cakap → cakep, sebal → sebel, senang → seneng, putar → puter, seram →serem.

5) Penggantian diftong "au", "ai" dengan "o" dan "e": kalau → kalo, sampai → sampe,
satai → sate, gulai → gule, capai → cape, kerbau → kebo, pakai → pake, mau (bukan
diftong) → mo, dll.

6) Pemendekan kata atau kontraksi dari kata/frasa yang panjang: terima kasih →
makasi/trims, bagaimana → gimana, begini → gini, begitu → gitu, ini → nih, itu → tuh.
2.2.6 Contoh Bahasa Gaul

Kebanyakan partikel mampu memberikan informasi tambahan kepada orang lain yang tidak
dapat dilakukan oleh bahasa Indonesia baku seperti tingkat keakraban antara pembicara dan
pendengar, suasana hati/ekspresi pembicara, dan suasana pada kalimat tersebut diucapkan.

a) Deh/ dah (Bagaimana kalau ...)

Coba dulu deh.(tidak menggunakan intonasi pertanyaan) - Bagaimana kalau dicoba dulu?

b) Dong (Tentu saja ...)

Sudah pasti dong. – Sudah pasti / Tentu saja.

c) Eh (Pengganti subjek, sebutan untuk orang kedua…)

Eh, namamu siapa? - Bung, namamu siapa?

Eh, ke sini sebentar. - Pak/Bu, ke sini sebentar.

Ke sini sebentar, eh. - Ke sini sebentar, Bung.

d) Kan (Kependekan dari 'bukan', dipakai untuk meminta pendapat/penyetujuan orang lain

Bagus kan? - Bagus bukan?

Kan kamu yang bilang? -Bukankah kamu yang bilang demikian?

Dia kan sebenarnya baik. -Dia sebenarnya orang baik,bukan?

e) Kok (Kata tanya pengganti 'Kenapa (kamu)'…)

Kok kamu terlambat? – Kenapa kamu terlambat?

f) Lho/Loh (Kata seru yang menyatakan keterkejutan. Bisa digabung dengan kata tanya.

Lho, kok kamu terlambat? -Kenapa kamu terlambat? (dengan ekspresi heran)

Loh, apa-apaan ini! – Apa yang terjadi di sini? (pertanyaan retorik dengan ekspresi
terkejut/marah).

g) Nih (Kependekan dari 'ini'…)

Nih balon yang kamu minta. -Ini (sambil menyerahkan barang). Balon yang kamu minta.
Nih, saya sudah selesaikan tugasmu. - Ini tugasmu sudah saya selesaikan.

h) Sih (Karena ...)

Dia serakah sih. - Karena dia serakah. (dengan ekspresi mencemooh)

Kamu sih datangnya terlambat .- Karena kamu datangterlambat. (dengan ekspresi menyesal)

i) Tuh/ tu (Kependekan dari 'itu', menunjuk kepada suatu objek…)

Lihat tuh hasil dari perbuatanmu. - Lihat itu, itulah hasil dari perbuatanmu.

Tuh orang yang tadi menolongku. - Itu lihatlah, itu orang yang menolongku.

j) Yah(Selalu menyatakan kekecewaan dan selalu digunakan di awal kalimat atau berdiri
sendiri….)

Yah, Indonesia kalah lagi -Indonesia kalah lagi (dengan ekspresi kecewa)

Bahasa gaul dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis lagi, ada yang disebut bahasa gaul
kaum selebritis, kaum gay dan lesbian atau kaum waria. Bahasa ini digunakan untuk
memproteksi kelompok mereka dari komunitas lain. Sehingga komunikasi yang mereka
lakukan, hanya kelompok mereka saja yang mengerti.

1) Bahasa kaum selebritis

Perhatikan kata-kata yang sering digunakan oleh kalangan selebritis dalam bahasa gaul yaitu:

Baronang = baru

Cinewinek = cewek

Pinergini = pergi

Ninon tinon = nonton


2) Bahasa gay dan bahasa waria

Di negara kita bahasa gaul kaum selebritis ternyata mirip dengan bahasa gaul kaum gay
(homoseksual) dan juga bahasa gaul kaum waria atau banci. Sekelompok mahasiswa saya
dari Fikom Unpad, berdasarkan penelitian mereka atas kaum gay di Bandung menemukan
sejumlah kata yang mereka gunakan, misalnya adalah:

Cinakinep = Cakep

Duta = Uang

Kemek = Makan

Linak = Laki-laki

Maharani = Mahal

Jinelinek = Jelek

3) Bahasa kaum waria

Bahasa adalah sebagian dari bahasa gaul yang dianut sebuah komunitas banci (waria), seperti
yang diperoleh sekelompok mahasiswa berdasarkan wawancara dengan seorang waria.

Akika/ike = aku

Bis kota = besar

Cakra = ganteng

Cucux = cakep/keren

Diana = dia

Inang = Iya
2.2.7 Pengertian Remaja

Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow
maturity. Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11
hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja
awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun).
Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu
telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.

Remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Remaja juga terjadi proses
perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan
psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita
mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.

Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak
masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai. Bagian dari masa
kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus
bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ
tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu
berpikir secara abstrak.

2.2.8 Perilaku Remaja

Merujuk pada tulisan Abin Samsuddin (2003), di bawah ini disajikan berbagai karakteristik
perilaku dan pribadi masa remaja, yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja
awal (11-13 s.d. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s.d. 18-20 tahun) meliputi aspek :
fisik, psikomotor, bahasa, kognitif, sosial, moralitas, keagamaan, konatif, emosi afektif dan
kepribadian.

Remaja Awal

(11-13 Th s.d.14-15 Th)

Remaja Akhir

(14-16 Th.s.d.18-20 Th)


Fisik

Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat.

Laju perkembangan secara umum kembali menurun, sangat lambat.

Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering- kali kurang seimbang.

Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati kekuatan orang dewasa.

Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region, otot mengembang pada bagian
–bagian tertentu), disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada
wanita dan day dreaming pada laki-laki.

Siap berfungsinya organ – organ reproduktif seperti pada orang dewasa.

Psikomotor

Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan.

Gerak gerik mulai mantap.

Aktif dalam berbagai jenis cabang permainan.

Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampilan yang

menunjang kepada persiapan kerja.

Bahasa

Berkembangnya penggunaan bahasa sandi dan mulai tertarik mempelajari bahasa asing.

Lebih memantapkan diri pada bahasa asing tertentu yang dipilihnya.

Menggemari literatur yang bernafaskan dan mengandung segi erotik, fantastik dan estetik.

Menggemari literatur yang bernafaskan dan mengandung nilai-nilai filosofis, ethis,

religius.
Perilaku Kognitif

Proses berfikir sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi,


diferensiasi, komparasi, kausalitas) yang bersifat abstrak, meskipun relative terbatas.Sudah
mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal disertai kemampuan membuat
generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan komprehensif.Kecakapan dasar intelektual
menjalani laju perkembangan yang terpesat.

Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang suatu saat(usia
50-60) menjadi deklinasi.Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai menujukkan kecenderungan-
kecenderungan yang lebih jelas.Kecenderungan bakat tertentu mencapai titik puncak dan
kemantapannya

Perilaku Sosial

Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul


dengan banyak teman tetapi bersifat temporer.Bergaul dengan jumlah teman yang lebih
terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat).Adanya kebergantungan yang kuat kepada
kelompok sebaya disertai semangat konformitasyang tinggi.

Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel, kecuali dengan teman dekat
pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat.

Moralitas

Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan
kebutuhan dan bantuan dari orang tua.Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai
atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat berbuat keliru atau
kesalahan.Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah
atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para
pendukungnya.

Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem
nilai yang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya.Mengidentifikasi dengan tokoh
moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya.Mulai dapat memelihara jarak dan
batas-batas kebebasan nya mana yang harus dirundingkan dengan orang tuanya
Perilaku Keagamaan

Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara
kritis dan skeptis.Eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan
dihayati menurut sistem kepercayaan atau agama yang dianutnya.Penghayatan kehidupan
keagamaan sehari-hari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa
dari luar dirinya.Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mulai dilakukan atas dasar
kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlasMasih mencari dan
mencoba menemukan pegangan hidupMulai menemukan pegangan hidupKonatif,
Emosi,Afektif dan Kepribadian

Lima kebutuhan dasar (fisiologis, rasa aman, kasih sayang, harga diri dan aktualisasi
diri)mulai menunjukkan arah kecenderungannyaSudah menunjukkan arah kecenderungan
tertentu yang akan mewarnai pola dasar kepribadiannya.Reaksi-reaksi dan ekspresi
emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernyataan marah, gembira atau
kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepatReaksi-reaksi
dan ekspresi emosionalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai
dirinya.Kecenderungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak teoritis, ekonomis,
estetis, sosial, politis, dan religius), meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba.

Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas seperti yang akan
ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendidikanlanjutannya; yang
juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya.Merupakan masa kritis dalam rangka
menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psiko sosialnya, yang
akan membentuk kepribadiannnya.Kalau kondisi psikososialnya menunjang secara positif
maka mulai tampak dan ditemukanidentitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan
mewarnai hidupnya sampai masa dewasa.
2.2.9 Dampak Positif dan Negatif dari Penggunaan Bahasa Gaul

a) Dampak Positif

Dampak positif dengan digunakannya bahasa gaul adalah remaja menjadi lebih kreatif.
Terlepas dari menganggu atau tidaknya bahasa gaul ini, tidak ada salahnya kita menikmati
tiap perubahan atau inovasi bahasa yang muncul. Asalkan dipakai pada situasi yang tepat,
media yang tepat dan komunikan yang tepat juga.

b) Dampak Negatif

1) Segi ekonomi

Bahasa gaul ditawarkan dan dikonsumsi oleh masyarakat modern yang mempunyai ciri agar
gaya hidup meningkat, akan tetapi bagi kelompok sosial yang mudah dibentuk oleh pasar
akan terjadi kontraksi antara nilai tradisional dan masyarakat modern. Sehingga menggiring
kaum muda untuk tidak hemat pada pola hidup yang sederhana. Apabila sikap ini bila
dipupuk akan menimbulkan masalah sosial besar. Bagi yang mengkonsumsi bahasa gaul
maka mempengaruhi pola hidup yang serba gemerlap. Bila remaja yang tingkat sosialnya
rendah bisa jadi timbul rasa prustasi, secara psikologis menimbulkan akibat yang buruk
karena bahasa gaul sering digunakan para remaja modern yang tingkat sosialnya tinggi.

Dengan adanya bahasa gaul akan mempengaruhi perilaku remaja, untuk itu remaja dididik
untuk mengkonsumsi barang-barang tertentu sebagai indikator bahwa mereka adalah bagian
dari remaja gaul tadi, remaja berkeinginan untuk memiliki barang-barang yang baru
sedangkan yang alama dianggap sudah ketinggala jaman dan remaja merasa rendah apabila
bertemu atau berkomunikasi dengan teman-temannya karena bahasa atau barang-barangnya
tidak gaul.
2) Segi norma susila

Salah satu gejala negatif bahasa gaul mempunyai dampak pada prilaku yang tidak baik bila
digunakan pada orang yang lebih tua (orang tua). Untuk itu bahasa gaul kurang baik karena
keluar dari tatanan norma sopan santun.

3) Segi norma agama

Karena ingin disebut tren sehingga sering kali membuat orang lepas dari etika moral bahkan
lepas dari nilai agama, sehingga bila sering menggunakan bahasa gaul maka akan
terpengaruh dengan berpakaian gaul (ketat, transparan atau buka-bukaan) padahal
memperlihatkan aurot dalam agama kita dianggap primitif, bahkan berpengaruh pada pacaran
yang sama-sama gaul (kelompok konsumsi bahasa gaul). Bahkan akan lebih gawat apabila
mengarah pada hubungan sek diluar nikah karena sudah saling menyenangi/kecocokan dalam
pembicaraan yang menggunakan bahasa gaul.

Dengan adanya majalah-majalah, telebisi, serta musik yang merupakan media informasi yang
sehari-hari dapat diperoleh oleh para remaja akan cepat tersebarnya bahasa gaul, apalagi
dalam media ini ditampilkan tokoh-tokoh yang terkenal yang menjadi idola para remaja
tersebut.

4) Segi budaya

Bahasa gaul memang menambah kasanah budaya bangsa kita, akan tetapi apabila bahasa
tersebut kurang terkontrol maka akan mengakibatkan penambahan budaya yang norak,
kebarat-baratan, imitasi yang menimbulkan modernisasi yang tidak benar.

2.3 Kerangka Berpikir

a. Asal-usul Bahasa

b. Pengertian Bahasa

c. Bahasa Gaul

d. Remaja

e. Dampak Positif dan Negatif


BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian tentang Pengaruh Bahasa Gaul terhadap Perilaku Remaja ini berkaitan dengan
suatu gejala kebahasaan yang sifatnya alamiah. Artinya data yang dikumpulkan berasal dari
lingkungan nyata dan situasi apa adanya, yaitu dialog antartokoh dalam kehidupan sehari-
hari. Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Hal ini
disebabkan oleh karena data yang terkumpul dan dianalisis dipaparkan secara deskriptif .

Hal ini sejalan dengan pendapat Arikunto (1990: 194) yang menyatakan bahwa penelitian
deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji suatu hipotesis tertentu, tetapi hanya
menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel, gejala atau keadaan. Dalam penelitian
ini, data yang terkumpul berupa kata-kata dan dalam bukan dalam bentuk angka. Maka dari
itu, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.

3.2 Subjek Penelitian

Berkaitan dengan hal di atas, yang dikaji dalam penelitian ini adalah Pengaruh Bahasa Gaul
terhadap Perilaku Remaja dialog antartokoh dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut
meliputi pola bentuk morfologis dan pola makna bahasa gaul tersebut. Sedangkan subjek dari
penelitian ini adalah anak-anak remaja di kota Jember ketika berdialog.

3.3 Data Penelitian dan Sumber Data

Data dari penelitian ini berupa kata yang digunakan dalam berkomunikasi antar satu tokoh
dengan tokoh yang lainnya. Sumber data dari penelitian ini adalah percakapan antartokoh
sebagai interaksi komunikasi.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknik observasi sebagai
teknik utama. Observasi dilakukan dengan cara mendengar-mencatat, yaitu peneliti mencatat
data bahasa dan konteksnya yang meliputi (1) topiknya, (2) suasananya, (3) tempat
pembicaraan, serta (4) lawan bicaranya.
Melalui teknik observasi, dengan cara pengamatan partisipan oleh peneliti sendiri, maka akan
diperoleh data yang wajar dan alami. Berikut adalah hal-hal yang diperlukan dalam observasi
(1) gambaran keadaan tempat dan ruang berlangsungnya pembicaraan, (2) pelaku-pelaku
yang terlibat, (3) aktivitas atau kegiatan saat berlangsungnya percakapan, dan (4) topik dari
isi pembicaraan.

3.5 Teknik Analisis Data

Teknik deskriptif yang dipakai dalam penelitian ini menghasilkan dua macam analisis data,
yaitu sebagai berikut:

1) Menganalisis pemakaian bahasa gaul dalam pada kalangan remaja. Pemakaian bahasa
gaul tersebut meliputi :

· Bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari

2) Pengklasifikasian karakteristik perilaku remaja, yang meliputi :

· Fisik

· Psikomotor

· Bahasa

· Perilaku Kognitif

· Perilaku Sosial

· Moralitas

· Perilaku Keagamaan

· Konatif, Emosi, Afektif dan Kepribadian


KESIMPULAN
Indonesia di bidang Bahasa Indonesia.Pengunaan Bahasa gaul yang secukupnya dan
digunakan tepat Bahasa gaul sebagai Bahasa anak muda merupakan keanekarangaman
budaya negara kita sesuai dengan porsisnya.Bahasa gaul sangat berperan dalam pembentukan
Bahasa yang digunakan kalangan remaja karena penggunaannya yang bersifat santai dan
fleksibel.Tapi alangkah baiknya jika kita dapat menggunakan Bahasa Indonesia yang baik
dan benar,Sehingga eksistensi dari Bahasa Indonesia tetap terjaga.
Bahasa Indonesia adalah Bahasa persatuan yang dulu dikukuh oleh kalangan muda dalam
sumpah pemuda Pada 28 oktober 1928 jadi sebagai masyarakat Indonesia yang peduli dan
menghormati sumpah pemuda kita harus menjaga Bahasa kita yaitu Bahasa
Indonesia.Apabila kita sudah menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar maka
secara tidak langsung orang yang berada disekitar kita akan teratur.

Saran

1.perbanyak sosialisasi kepada siswa-siswi sekolah tentang penggunaan Bahasa Indonesia


yang baik dan benar
2.Didiklah anak sejak dini untuk menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Ponco. 2013. Modul Ilmu Komunikasi. Jakarta: FEUNJ.

http://adiprakosa.blogspot.com/2008/10/komunikasi-verbal-dan-non-verbal.html,diakses pada
tanggal 11 April 2015.

http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_prokem_Indonesia, diakses pada tanggal 11 April 2015.

http://klitihengineering.blogspot.com/2012/06/dampak-bahasa-gaul.html,diakses pada tanggal


11 April 2015.

http://ekorizalsaputra.wordpress.com/2012/11/24/makalah-penggunaan-bahasa-gaul-di-
kalangan-remaja/, diakses pada tanggal 11 April 2015.

http://www.tumbuh-kembang-anak.blogspot.com/, diakses pada tanggal 11 April 2015.