Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum Struktur Perkembangan Hewan II

REGENERASI EKOR BERUDU KATAK (Rana sp.)


1,3
Indah Hairu Santi, 1,3Aulia Adriansyah, 1,3Niken Khuzaima Falah, 1,3Fepta Aryanti

1
Laboratorium Struktur Perkembangan Hewan Jurusan Biologi FMIPA Universitas Bengkulu

3
Kelompok Pratikum Struktur Perkembanagan Hewan II

ABSTRAK
Praktikum regenerasi ekor berudu katak (Rana sp.) bertujuan untuk Untuk melihat proses
regenerasi ekor berudu yang telah disayat secara tegak lurus dan miring. Pada pratikum ini
terdapat 9 ekor berudu yang disiapkan yaitu 3 ekor sebagai variable kontrol, 3 ekor dilakukan
perlakuan dipotong tegak lurus dan 3 ekor dipotong miring dimasukkan ke wadah air kolam
masing-masing satu setiap perlakuan. Dilakukan pengamatan pengukuran masing-masing
setiap kecebong dalam wadah air. Pertumbuhan ekor berudu diamati selama 10 hari dari hari
pertama pemotongan. Pengukuran berudu dilakukan setiap hari untuk mengamati
perkembangan regenerasi ekor berudu yang sudah dipotong. Maka disimpulkan bahwa masih
ada hewan tertentu yang mampu membentuk organ baru meski telah melewati masa
organogenesis. Pengamatan dicatat pada tabel dan teramati pertambambahan panjang ekor
pada berudu.

Kata kunci : ekor, katak, berudu,organogenesis, regenerasi.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang juga memiliki kemampuan untuk


Setiap hewan mempunyai kemampuan menumbuhkan dan memperbaiki bagian
hidup yang bervariasi antara makhluk tubuh yang rusak, lepas, terpisah, hilang
yang satu dengan lainnya. Masing-masing ataupun mati dengan cara memperbaiki
dari mahkluk hidup tersebut akan tumbuh sel, jaringan atau bagian tubuh yang rusak
dan berkembang dari bentuk atau tadi sehingga menjadi individu baru yang
sususnan yang sederhana menjadi susunan lengkap atau kembali seperti semula.
yang lebih kompleks. Kemampuan tersebut disebut sebagai
Selain memiliki kemampuan untuk regenerasi. Pembentukan kembali proses-
tumbuh dan berkembang mahkluk hidup proses morfogenetik pada tahap lanjut dari
siklus ontogenetik adalah dengan cara pada hewan vertebrata (Majundar, 1985).
destruksi sebagian sistem yang telah Dalam hal ini tampak bahwa
berkembang sebagai hasil perkembangan kemampuan tumbuh dan diferensiasi tidak
sebelumnya. terbatas pada embrio saja, tetapi dapat
Organisme khususnya golongan sampai dewasa bahkan seumur hidup
hewan memiliki kemampuan untuk organisme tersebut. Pada regenerasi,
memiliki dan memperbaiki kerusakan- umumnya polaritas dipertahankan. Contoh
kerusakan bagian tubuh secara ekstensif hewan yang memiliki kemampuan untuk
baik akibat kecelakaan pada kondisi regenerasi yang tinggi dari avertebrata
alamiah maupun akibat disengaja dalam adalah Planaria sp. dan berudu.
suatu percobaan. Kerusakan yang Berudu atau kecebong adalah
diperbaiki itu mungkin berupa pemulihan tahap pra-dewasa (larva) dalam daur hidup
kerusakan akibat hilangnya bagian tubuh amfibi. Berudu eksklusif hidup di air dan
utama umpamanya anggota badan berespirasi menggunakan insang, seperti
mungkin hanya berupa penggantian ikan. Tahap akuatik (hidup di perairan)
kerusakan-kerusakan terjadi dalam proses inilah yang membuat amfibia memperoleh
fisiologi biasa. Dalam peristiwa tersebut namanya (amphibia = "hidup [pada
nampak adanya suatu kemampuan tempat] berbeda-beda") kecebong ini juga
organisme untuk memperbaharui kembali salah satu contoh dari sekian banyak
bagian tubuh yang terganggu/rusak dan makhluk hidup yang mempunyai
proses perbaikan tersebut dengan kemampuan dalam regenerasi organ. Ekor
regrenasi kembali (Aprizal luqman, 2009). yang diputuskan tersebut akan tergantikan
Setiap larva dan hewan dewasa kembali melalui proses regenerasi organ
mempunyai sesuatu kemampuan untuk yang memerlukan waktu tertentu dalam
menumbuhkan kembali bagian tubuh proses untuk pembentukannya. Peristiwa
mereka yang secara kebetulan hilang atau regenerenasi bagi organisme merupakan
rusak yang terpisah. Kemampuan hal yang sangat penting karena prosesyang
menumbuhkan kembali bagian tubuh yang esensial selama perjalanan hidup
hilang ini disebut regenerasi. organism, adanya bagian tubuh yang lepas
Kemampuan seiap hewan dalam akibat ketuan atau kecelakaan dengan
melakukan regenerasi berbeda-beda. proses regrenasi bagian tubuh yang lepas
Hewan avertebrata yang lebih tinggi dari akan diganti kembali dengan jaringan baru
kembali (Philip, 1987). Dalam pratikum Waktu pelaksanaan praktikum
ini akan dilakukan percobaan pada Pengamatan regenerasi ekor
kecebong berudu katak dilaksanakan pada hari
Selasa, tanggal 03 September 2019 pukul
Rumusan Masalah 14.00 – 16.00 WIB di Laboratorium
Struktur Perkembangan Hewan II Basic
Adapun rumusan masalah pada
Science, Jurusan Biologi, Fakultas
pratikum ini adalah bagaimana
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
perbandingan panjang ekor berudu katak
Universitas Bengkulu.
(Rana sp.) dengan perlakuan kontrol,
disayat tegak lurus dan miring? Prosedur Kerja
9 ekor berudu dimasukkan ke wadah
Tujuan Praktikum
bekas air mineral 250 ml yang berbeda-
Adapun tujuan dari pratikum ini
beda. Air kolam dan makanan (berupa
adalag untuk melihat perbedaan panjang
lumut) dimasukkan secukupnya ke wadah
ekor berudu katak (Rana sp.) dengan
bekas air mineral. Kemuadian diukur dari
perlakuan control, disayat tegak lurus dan
pangkal sampai ke ujung pada wadah
miring hingga mencapai keadaan semula.
bekas air mineral pertama ekor beudu
dipotong tegak lurus (1/2 panjang dari
MATERIAL DAN METODOLOGI
ekornya). Ekor berudu dipotong miring
Alat dan Bahan pada wadah air mineral kedua. Pada
wadah mineral ketiga ekor beudu tidak
Alat, yang digunakan dalam pratikum kali
dipotong, dijadikan control. Selama dua
ini adalah wadah bekas air mineral 250
minggu dilakukan pengamatan setiap satu
ml, pisau silet, millimeter blok, silet,
hari sekali sambil air kolam dalam wadah
kertas label, penggaris.
air diganti. Kecebong pada masing-masing
wadah diukur panjangnya menggunakan
Bahan, yang digunakan pada pratikum
milimeter blok atau penggaris. Segera
kali ini adalah berudu yang belum
dibuang berudu/keebong yang telah mati.
berekor.
Setelah beberapa hari regenerasi menjadi
sempurna segera dicatat.
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
TABEL DATA PERPANJANGAN EKOR BERUDU (Rana.sp)
Tabel 1. Pengamatan ekor berudu sebagai kontrol (Botol A)
Panjang Setelah Panjang Ekor Tanpa Pemotongan (cm)
Kode Awal Dipotong Keterangan
Berudu Ekor (cm) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
(cm)
A1 0,5 cm - 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1 1,1 1,1 1,2 1,3 Hidup

A2 1,5 cm - 1,5 1,6 1,7 1,7 1,8 1,8 1,9 2 2,1 2,1 Hidup

A3 0,8 cm - 0,5 1 1,1 1,8 1,2 1,2 1,3 1,4 1,5 1,5 Hidup

Nb : Pengamatan panjang awal ekor berudu dimulai pada tanggal 03/09/2019 sampai
tanggal 12/09/2019. Ket : Tinta Hitam = berudu yang hidup
TintaMerah = berudu yang mati (diganti pada hari itu juga).

Tabel 2.Pengamatan ekor berudu pada sayatan tegak lurus (Botol B)

Panjang Setelah PanjangEkorTanpaPemotongan (cm)


Kode Awal Dipotong Keterangan
Berudu Ekor (cm) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
(cm)
B1 1,6 cm O,5 cm 0,5 0,6 0,7 0,9 1,2 1,3 1,4 1,5 1,5 1,6 Hidup

B2 1,5 cm 0,5 cm 0,5 0,6 0,8 1 1,2 1,3 1,4 1,4 1,5 1,5 Hidup

B3 1,4 cm 0,5 cm 0,5 0,6 0,8 0,9 1 1 1 1,2 1,3 1,4 Hidup
Nb : Pengamatan panjang awal ekor berudu dimulai pada tanggal 03/09/2019 sampai
tanggal 12/09/2019. Ket : TintaHitam = berudu yang hidup
TintaMerah = berudu yang mati (digantipadahariitujuga).

Tabel 3. Pengamatanekorberudupadasayatan miring (Botol C)


Panjang Setelah PanjangEkorTanpaPemotongan (cm)
Kode AwalEk Dipotong Keterangan
Berudu or (cm) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
(cm)
C1 1,3 cm 0,5 cm 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1 1,1 1,1 1,2 1,3 Hidup

C2 1,5 cm 0,6 cm 0,6 0,7 0,7 0,8 1 1,1 1,2 1,3 1,4 1,5 Hidup

C3 1,3 cm 0,6 cm 0,5 0,6 0,6 0,7 0,7 0,8 1 1,1 1,2 1,3 Hidup

Nb : Pengamatan panjang awal ekor berudu dimulai pada tanggal 03/09/2019 sampai
tanggal 12/09/2019. Ket : Tinta Hitam = berudu yang hidup
Tinta Merah = berudu yang mati (diganti pada hari itu juga).
Gambar Pengamatan 1 Ekor Berudu Pada Benjana A, B, C

H1. H2. H3. H4. H5.


Lurus Lurus. Lurus Lurus Lurus

Gambar Pengamatan Ekor Berudu Pada Bejana A,B, dan C


H1. Lurus H2. Lurus H3. Lurus H4. Lurus H5. Lurus H6. Lurus H7. Lurus
H1. Miring H2. Miring H3. Miring H4. Miring H5. Miring H6. Miring H7. Miring

H1. Kontrol H2. Kontrol H3. Kontrol H4. Kontrol H5. Kontrol H6. Kontrol H7. Kontrol

Gambar Pengamatan Ekor Berudu


Pada Bejana A,B, dan C
H8. Lurus H9. Lurus H10. Lurus

H8. Miring H9. Miring H10. Miring


H8.Kontrol H9. Kontrol H10.Kontrol
B. Pembahasan Proses perbaikan pada regenerasi
ekor kecebong adalah penyembuhan luka
Dari hasil percobaan kali ini dilihat
dengan cara penumbuhan kulit di atas luka
pada kecebong dengan memotong ekornya,
tersebut. Kemudian tunas-tunas sel yang
dengan perlakuan dipotong miring dan
belum berdiferensiasi terlihat.Tunas ini
tegak lurus. Setelah diamati selama 10
menyerupai tunas anggota tubuh pada
hari, ternyata bagian ekor yang telah
embrio yang sedang berkembang. Ketika
dipotong mengalami pertumbuhan. Ekor
waktu berlalu sel-sel dari anggota tubuh
yang putus tersebut tumbuh tetapi tidak
yang sedang regenerasi diatur dan
dapat tumbuh sama seperti semula
berdiferensiasi sekali lagi menjadi otot,
terkadang ada yang tidak tumbuh atau
tulang dan jaringan lajunya yang
sama seperti ukuran pertama. Menurut
menjadikan ekor fungsional.dengan catatan
Yatim (1994) bahwa seperrti katak dewasa,
khusus karena baik secara struktur maupun
kecebong memiliki kemampuan untuk
cara regenerasinya berbeda (Balinsky,
benar-benar tumbuh kembali secara
1983).
lengkap jika terluka dengan mengantikan
Regenerasi ditir dan berdiferensiasi
suatu jaringan yang disebut dengan
sekali lagi menjadi otot, tulang, dn jaringan
blastema.
lajunya yang menjadikan ekor fungsional.
Pada pengamatan kecebong sebagai
Proses regenerasi ini secara mendasar tidak
kontrol mengalami regenerasi di hari
ada perusakan jaringan otot, akibatnya
pertama dan kedua, kecebong A1, A2, A3
tidak ada pelepasan sel-sel otot. Sumber
seperti di tunjukkan tabel yang mengalami
utama sel-sel untuk beregenerasi adalah
penambahan panjang yang membuktikan
berasal dari ependima dan dari berbagai
regenerasi ekor walau tidak dipotong.
macam jaringan ikat yang menyusun
Pada pengamatan dihari pertama
septum otot, dermis, jaringan lemak,
berudu/kecebong mengalami regenerasi
periosteum dan mungkin juga osteosit
yang dimana diperlakukan pemotongan
vertebrae.Sumber sel untuk regenerasi
tegak lurus dan mendapatkan hasil 0,5 cm
pada reptile berasal dari beberapa sumber
, 0,5 dan 0,5 cm bertambah panjang pada
yaitu ependima dan berbagai jaringan ikat
hari kedua menjadi 0,6 cm, 0,6 cm, dan
(Manylov, 1994). Berdasarkan hasil
0,6cm dengan selisih 0,1 pada tiap masing-
praktikum yang dilakukan pada kecebong
masing kecebong. Demikian pula dengan
dengan memotong miring bagian ekornya
kecebong lainnya .
dengan menggunakan silet, setelah diamati satu anggota badan terpotong hanya bagian
selama kurang lebih 10 hari, ternyata tersebut yang disuplai darah dan dapat
bagian ekor yang telah dipotong bergenerasi. Hal inilah yang memberi
mengalami pertumbuhan atau regenerasi. pertimbangan bahwa bagian yang dipotong
Pada tabel ke dua pada selalu bagian distal (Kalthoff, 1996).
pengamatan pertama panjang ekor Regenerasi dipengaruhi oleh
kecebong C1, C2, C3 mendapatkan hail beberapa factor yang menyebakkannya
0,5 cm, 0,6 cm, 0,5 cm dan hari kedua 0,6 diantaranya adalah temperatur, proses
cm, 0,7 cm, 0,6 cm yang memiliki selisih biologi dan faktor bahan
0,1 cm, 0,1 cm dan 0,1 cm dari makanan.kenaikan dari tempetatur, pada
pengamatan hasil tersebut terbuktikan hal-hal tertentu dapat mempercepat
bertambah ukuran ekor kecebong yang regenerasi. Regenerasi menjadi cepat pada
mengelami regenerasi dari perpotongan suhu 29,7 derajat Celcius. Faktor bahan
ekor. Ekor yang putus tersebut tumbuh makanan tidak begitu mempengaruhi
tetapi tidak sama seperti semula pada awal proses regenerasi (Morgan, 1989).
percobaaan. Dapat dilihat dalam hasil
Praktikum regenerasi yang pengamatan terlihat bahwa regenerasi
menggunakan berudu (Rana sp.) sebagai kecebong terjadi dengan sangat
bahan praktikum yang menghasilkan data baik.Penyebabnya mungkin tempat mereka
pertumbuhan individu kecebong yang hidup tidak sebebas di air sungai sehingga
berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena kecebong menjadi stres yang dapat
daya regenerasi yang dimiliki oleh setiap mempengaruhi kerja proses biologis di
individu berbeda-beda. Ekor berudu ( Rana dalam tubuhnya, yang mengakibatkan
sp.) yang dipotong sel epidermisnya pertumbuhan ekornya lambat. Hasil
menyebar menutupi permukaan luka dan regenerasi dari organ tertentu dalam hal ini
membentuk tudung epidermis apikal. ekor kecebong tidak harus kembali seperti
Semua jaringan mengalami diferensiasi semula. Hal itu membuktikan bahwa sel
dan generasi membentuk sel kerucut yang dedifferensiasi bersifat pluripotent..
disebut blastema regenerasi di bawah
KESIMPULAN
tudung. Berakhirnya periode proliferasi,
Dari hasil pengamatan tersebut
sel blastema mengadakan rediferensiasi
dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan
dan memperbaiki ekornya. Ketika salah
dan daya regenerasi dari setiap individu
berbeda. Pada berudu/kecebong, ekor yang
dipotong baik secara potongan tegak lurus
atau sayatan miring dapat kembali seperti
semula, hal itu disebabkan karena ekor
berudu/kecebong mengalami regenerasi.
Regenerasi adalah hewan yang memiliki
kemampuan untuk memperbaiki bagian
tubuhnya yang rusak dan kembali seperti
semula.

DAFTAR PUSTAKA
Aprizal, L. 2009. Mekanisme Regenerasi
Anggota Tubuh Hewan. Biospecies
2 (2): 43 – 47.

Balinsky, B. I., 1981. An Introduction to


Embriology. Philadelpia : W. B.
Saunders Company.

Kalthoff, K., 1996. Analysis of Biological


Development. New York :
McGraw-Hall Inc.

Majumdar, N. N. 1985. Text Book of


Vertebrae Embriology. New Delhi :
Mc Graw-Hill Publishing Company
Limited.

Phillip, G. 1978. Biology of developmental


system. New York : Rinehart and
Winston.

Suigianto. 1996. Perkembangan Hewan.


Yogyakarta : Gadjah Mada.

Anda mungkin juga menyukai