Anda di halaman 1dari 9

M4 ANATOMI DAN FISIOLOGI CAIRAN RONGGA KELENJAR SALIVA

Saliva adalah suatu cairan tidak bewarna yang memiliki konsistensi seperti lendir
dan merupakan hasil sekresi kelenjar yang membasahi gigi serta mukosa rongga mulut.
Saliva dihasilkan oleh tiga pasang kelenjar saliva mayor serta sejumlah kelenjar saliva
minor yang tersebar di seluruh rongga mulut, kecuali pada ginggiva dan palatum.
KELENJER SALIVA MAYOR
Merupakan kelenjer saliva terbanyak dan ditemui berpasang-pasangan yang terletak di
ekstraoral dan memiliki duktusyang sangat panjang. Kelenjer-kelenjer saliva mayor
terletak agak jauh dari rongga mulut dan sekretnya disalurkan melalui duktusnya kedalam
rongga mulut. Menurut struktur anatomi dan letaknya, kelenjer saliva mayor dapat dibagi
atas tiga tipe yaitu parotis,submandibularis dan sublingualis.
 Kelejer parotis
Kelenjar parotis adalah sepasang kelenjar ludah utama yang berada di
bagian belakang tulang mandibula pada manusia. Kelenjar ini adalah
kelenjar ludah terbesar dan mensekresi ludah untuk membantu proses
mengunyah, mencerna, dan menelan. Kelenjar parotis juga mensekresi
ptialin. Hasil sekresi dari kelenjar parotis akan masuk ke rongga mulut
melalui saluran parotid atau saluran Stensen. Kelenjar parotis berada di
bagian posterior ramus mandibular dan bagian anterior tulang temporal.
Kelenjar ini memproduksi 20% dari total air liur yang terdapat di rongga
mulut.
 Kelenjar parotis merupakan kelenjar ludah terbesar yang terletak
antara prossesus mastoideus dan ramus mandibula.
 Duktus kelenjar ini bermuara pada vestibulus oris pada lipatan antara
mukosa pipi dan gusi dihadapan molar 2 atas.
 Kelenjar parotis dibungkus oleh jaringan ikat padat
 Mengandung sejumlah besar enzim antara lain amilase lisozim,
fosfatase asam, aldolase, dan kolinesterase.
 Jaringan ikat masuk kedalam parenkim dan membagi organ menjadi
beberapa lobus dan lobulus
 Secara morfologis kelenjar parotis merupakan kelenjar tubuloasinus
(tubulo-alveolar) bercbang-cabang (compound tubulo alveolar gland)
 Asinus-asinus murni serus kebanyakan mempunyai bentuk agak
memanjang dan kadang-kadang memperlihatkan percabangan-
percabangan
 Antara sel-sel asinus membran basal terdapat sel-sel basket
 Saluran keluar utama ( duktus interlobaris) disebut duktus stenon
(stenson) terdiri dari epitel berlapis semu.
 Kearah dalam organ duktus ini bercabang-cabang menjadi duktus
interlobularis dengan sel-sel epitel berlapis silindris
 Duktus interlobularis tadi kemudian bercabang-cabang menjadi
duktus intralobularis. Kebanyakan duktus intralobularis merupakan
duktus Pfluger yang mempunyai epitel selapis silindris yang bersifat
acidophil dan menunjukkan garis-garis basal
 Duktus Boll pada umumnya panjang-panjang dan menunjukkan
percabangan
 Duktus Pfluger agak pendek
 Sel-selnya pipih dan memanjang
 Pada jaringan ikat interlobaris dan interlobularis terlihat banyak
lemak yang berhubungan dengan “kumpulan lemak bichat” (Fat
depat of bichat). Juga pada jaringan tersebut terlihat cabang-cabang
dari Nervus Facialis dan pembuluh darah
 Kelenjer submandibularis
Kelenjar submandibula adalah sepasang kelenjar ludah utama yang berada
di bagian bawah rahang bawah, di bagian superior dari otot digastrik.
Hasil sekresi yang diproduksi merupakan campuran dari cairan bening dan
mukus dan kemudian memasuki rongga mulut melalui saluran
submandibular atau saluran Wharton. Sekitar 65 sampai 70 persen saliva
di rongga mulut diproduksi di kelenjar submandibula meskipun ukurannya
lebih kecil dibandingkan kelenjar parotis.
 Kelenjar ini terletak disebelah dalam korpus mandibula dan
mempunyai duktus ekskretoris (Duktus Wharton) yang bermuara
pada dasar rongga mulut pada frenulum lidah , dibelakang gigi seri
bawah.
 Merupakan kelenjar yang memproduksi air liur terbanyak
 Seperti juga kelenjar parotis, kelenjar ini diliputi kapsel yang
terdiri dari jaringan ikat padat yang juga masuk ke dalam organ
dan membagi organ tersebut menjadi beberapa lobulus
 Secara morfologis kelenjar ini merupakan kelenjar tubuloalveolar /
tubuloacinus bercabang-cabang (compound tubulo alveolar gland)
 Percabangan duktusnya sama dengan glandula parotis demikian
pula sel-selnya
 Bentuk sinus kebanyakan memanjang
 Antara sel-sel asinus membran basal terdapat sel-sel basket
 Duktus Boll : pendek, sempit sehingga sukar dicari dalam preparat
bila dibandingkan glandula parotis. Selnya pipih dan memanjang
 Duktus Pfluger : lebih panjang daripada duktus pfluger kelenjar
parotis dan menunjukkan banyak percabangan sehingga dalam
preparat lebih mudah dicari
 Kelenjer sublingualis
Kelenjar sublingual adalah sepasang kelenjar ludah utama yang berada di
bagian inferior lidah dan bagian anferior dari kelenjar submandibula. Hasil
sekresinya kebanyakan berisi mukus, namun dimasukkan ke dalam
kategori kelenjar campuran. Sekitar 5% dari air liur yang terdapat di dalam
rongga mulut berasal dari kelenjar ini.
 Merupakan kelenjar terkecil dari kelenjar-kelenjar ludah besar
 Terletak pada dasar rongga mulut, dibawah mukosa dan
mempunyai saluran keluar (duktus ekskretorius) yang
disebut Duktus Rivinus
 Bermuara pada dasar rongga mulut dibelakang muara duktus
Wharton pada frenulum lidah
 Glandula sublingualis tidak memiliki kapsel yang jelas tetapi
memiliki septa-septa jaringan ikat yang jelas/tebal
 Secara morfologis kelenjar ini merupakan kelenjar tubuloalvioler
bercabang-cabang (compound tubuloalveolar gland)
 Merupakan kelenjar tercampur dimana bagian besar asinusnya
adalah mukus murni
 Duktus ekskretoris sama dengan glandula parotis
 Duktus Pfluger sangat pendek
 Duktus Boll sangat pendek dan bentuknya sudah tidak khas
sehingga dalam preparat sukar ditemukan
 Pada jaringan ikat interlobularis tidak terdapat lemak sebagai
glandula parotis
KELENJER SALIVA MINOR
Kebanyakan kelenjar ludah merupakan kelenjar kecil-kecil yang terletak di dalam
mukosa atau submukosa (hanya menyumbangkan 5% dari pengeluaran ludah
dalam 24 jam) yang diberi nama lokasinya atau nama pakar yang menemukannya.
Semua kelenjar ludah mengeluarkan sekretnya kedalam rongga mulut. Kelenjer
ini terdiri dari beberapa unit sekresi kecil dan melewati duktus pendek yang
berhubungan langsung dengan rongga mulut. Selain kelenjer saliva minor tidak
memiliki kapsul yang jelas seperti layaknya kelenjer saliva mayor,kelenjer saliva
minor secara keseluruhan menghasilkan sekret yang mukous kecuali kelenjer
lingual tipe Van Ebner. Saliva yang dihasilkan mempunyai pH antara 6,0-7,4
sangat membantu didalam pencernaan ptyalin.
 Kelenjer glossopalatinal
Lokasi dari kelenjer ini berada dalam isthimus dari lipatan glossopalatinal
dan dapat meluas ke bagian posterior dan kelenjer sublingualis ke kelenjer
yang ada di palatum molle.
 Kelenjer labial
Kelenjer ini terletak di submukosa bibir. Banyak ditemui pada midline dan
memiliki banyak duktus.
 Kelenjer bukal
Kelenjer ini terdapat pada mukosa pipi,kelenjer ini serupa dengan kelenjer
labial
 Kelenjer palatinal
Kelenjer ini ditemui di segitiga posterior palatal dan di palatum mole.
Kelenjer ini dapat dilihat secara visual dan dilindungi oleh jaringan fibrous
yang padat.
 Kelenjer lingual
Kelenjer ini dikelompokkan dalam beberapa tipe yaitu :
 Kelenjer anterior lingual
Lokasi kelenjer ini tepat diujung lidah
 Kelenjer lingual Van Ebner
Kelenjer ini dapat ditemui di papila sirkumvalata
 Kelenjer posterior lingual
Dapat ditemukan pada sepertiga posterior lidah yang berdekatan
dengan tonsil.
Struktur-struktur kelenjar saliva
Tiap-tiap kelenjar sebagai suatu organ terdiri dari:
 Parenkim
Bagian kelenjar yang terdiri dari asinus-asinus dan duktus-duktus
bercabang. Asinus merupakan bagian-bagian sekretoris yang
mengeluarkan sekret. Sekret ini akan dialirkan melalui suatu duktus untuk
menyalurkan sekret kemana mestinya.
 Stroma / jaringan ikat interstisial
Merupakan jaringan antara asinus dan duktus tersebut. Jaringan ikat ini
membungkus organ (kapsel) dan masuk kedalam organ dan membagi
organ tersebut menjadi lobus dan lobulus. Pada jaringan ikat tersebut
ditemukan duktus kelenjar, pembuluh darah,s erat saraf dan lemak.
Bagian dari kelenjar saliva yang menghasilkan sekret disebut asini. Berikut
adalah sel-sel yang menyusun asini kelenjar saliva.
 Asini serous
Asini serous tersusun dari sel-sel berbentuk piramid yang mengelilingi
lumen kecil dan berinti bulat. Di basal sel terdapat sitoplasma basofilik
dan di apeksterdapat butir-butir pro-enzim eosinofilik, yang akan
disekresikan ke lumen asini menjadi enzim. Hasil sekresi aini serous berisi
enzim ptialin dan bersifat jernih dan encer seperti air.
 Asini mukous
Asini mukous tersusun dari sel-sel berbentuk kuboid sampai kolumner
yang mengelilingi lumen kecil dan memiliki inti pipih atau oval yang
terletak di basal. Sitoplasma asini mukous yang berada di basal sel
bersifat basofilik sedangkan daerah inti dan apeks berisi musin yang
bewarna pucat. Hasil sekresi asini mukous berupa musin yang sangat
kental.
 Asini campuran
Asini campuran mempunyai struktur asini serous serta mukous. Bagian
serous yang menempel pada bagian mukous tampak sebagai bangunan
berbentuk bulan sabit.

Pada kelenjar saliva juga ditemukan struktur lain yaitu mioepitel.


Mioepitel terdapat di antara membran basalis dan sel asinus. Sel ini berbentuk
gepeng, berinti gepeng, memiliki sitoplasma panjang yang mencapai sel-sel
sekretoris, dan memiliki miofibril yang kontraktil di dalam sitoplama sehingga
membantu memeras sel sekretoris mengeluarkan hasil sekresi.
Hasil sekresi kelenjar saliva akan dialirkan ke duktus interkalatus yang
tersusun dari sel-sel berbentuk kuboid dan mengelilingi lumen yang sangat
kecil. Beberapa duktus interkalatus akan bergabung dan melanjut sebagai duktus
striatus atau duktus intralobularis yang tersusun dari sel-sel kuboid tinggi dan
mempunyai garis-garis di basal dan tegak lurus dengan membrana basalis yang
berfungsi sebagai transport ion. Duktus striatus dari masing–masing lobulus
akan bermuara pada saluran yang lebih besar yang disebut duktus ekskretorius
atau duktus interlobularis.
Fungsi-fungsi saliva.
 Menjaga kelembaban dan membasahi rongga mulut.
 Melumasi dan melunakkan makanan sehingga memudahkan proses
menelan dan mengecap rasa makanan.
 Membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan, sisa sel dan bakteri,
sehingga dapat mengurangi akumulasi plak gigi dan mencegah infeksi.
 Menghambat proses dekalsifikasi dengan adanya pengaruh buffer yang
dapat menekan naik turunnya derajat keasaman (pH).

M4 MEKANISME SEKRESI SALIVA


Saliva disekresi sekitar 1 sampai 1,5 liter setiap hari tergantung pada
tingkat perangsangan. Kecepatan aliran saliva bervariasi dari 0,1-4,0 ml/menit.
Pada kecepatan 0,5 ml/menit sekitar 95% saliva disekresi oleh kelenjar parotis
dan kelenjar submandibularis; sisanya disekresi oleh kelenjar sublingual dan
kelenjar saliva minor.
Sekresi saliva yang bersifat spontan dan kontinyu disebabkan oleh
stimulasi konstan saraf parasimpatis dan berfungsi menjaga agar mulut serta
tenggorokan tetap basah setiap waktu. Selain stimulasi sekresi yang bersifat
konstan, sekresi saliva dapat ditingkatkan melalui dua jenis refleks saliva yang
berbeda, yaitu:
 Refleks saliva sederhana, atau tidak terkondisi
Refleks saliva sederhana terjadi saat baroreseptor di dalam rongga mulut
merespons adanya makanan. Saat diaktifkan, reseptor-reseptor tersebut
memulai impuls di serabut saraf afferen yang membawa informasi ke
pusat saliva di medula spinalis. Pusat saliva kemudian mengirim impuls
melalui saraf otonom ekstrinsik ke kelenjar saliva untuk meningkatkan
sekresi saliva. Gerakan gigi juga mendorong sekresi saliva walaupun
tidak terdapat makanan karena adanya manipulasi terhadap baroreseptor
yang terdapat di mulut.
 Refleks saliva didapat, atau terkondisi.
Pada refleks saliva didapat, sekresi saliva dihasilkan tanpa rangsangan
oral. Hanya dengan berpikir, melihat, membaui, atau mendengar suatu
makanan yang lezat dapat memicu pengeluaran saliva melalui refleks ini.

Pusat saliva di medula mengontrol derajat pengeluaran saliva melalui saraf


saraf otonom. Baik stimulasi simpatis maupun parasimpatis berfungsi
meningkatkan sekresi saliva, tetapi jumlah, karakteristik, dan mekanisme yang
berperan berbeda. Stimulasi parasimpatis berperan dominan dalam sekresi saliva,
menyebabkan pengeluaran saliva encer dalam jumlah besar dan kaya enzim,
sedangkan stimulasi simpatis menghasilkan volume saliva yang jauh lebih sedikit
dengan konsistensi kental dan kaya mukous.
Menurut Amerongen (1991), proses sekresi saliva dibedakan dalam dua fase,
yaitu:
 Sintesis dan sekresi cairan acinar oleh sel-sel sekretori. Rangsangan dapat
berupa adrenergik (α dan β) maupun kolinergik. Rangsangan β dapat
berupa adrenergik melalui neurotransmiter noradrenalin dibentuk (cAMP)
yang mengaktifkan protein kinase dan fosforilase yang mengakibatkan
kontraksi filamen sehingga granula sekresi diangkut ke membran plasma
luminal yang akan melebar dengan membran granula setelah itu saliva
primer diteruskan ke lumen melalui muara pembuangan.
 Perubahan yang terjadi pada muara pembuangan, yaitu pada duktus striata.
Saliva primer diangkut melalui saluran pembuangan kelenjar parotis dan
submandibularis, air dan elektrolit (ion-ion seperti Na+, K+, Ca2+, Mg2+,
Cl–, HCO3–) disekresi dan diresorbsi oleh sel-sel. Seluruh proses sekresi
dikontrol oleh sistem saraf otonom.

M4 KOMPOSISI SALIVA
Saliva merupakan cairan mulut yang kompleks terdiri dari campuran sekresi kelenjar
saliva mayor dan minor yang ada dalam rongga mulut. Saliva terdiri dari beberapa
komponen anorganik dan organic.
Komponen anorganik :
 Natrium dan Kalium
 Mempunyai konsentrasi tertinggi di dalam saliva
 Natrium jauh lebih rendah didalam cairan mulut daripada didalam
serum,sedangkan kalium sebaliknya.
 Konsentrasi natrium dalam saliva tergantung kecepatan aliran
saliva
 Ion natrium dan kalium berfungsi sebagai osmoregulator dan
berperan dalam transport membrane
 Klorida
Ion klorida mrupakan salah satu kandungan anorganik saliva yang
memiliki fungsi untuk mengaktivasi enimatik amilase. Penting untuk
aktivitas enzim amylase, karena perannya sebagai kofaktor amylase
 Kalsium dan Fosfat
 Sebagian kalsium berikatan dengan protein, sebagian lagi
membentuk kompleks dengan karbonat dan fosfat
 Konsentrasi kalsium saliva adalah 2-11mg/dl
 Fosfat banyak terdapat sebagai fosfat organic
 Jumlah fosfat dalam saliva sebanyak 6-71 mg/dl
 Kalsiium dan fosfat dalam saliva penting untuk remineralisasi
email dan mempertahankan struktur gigi.
 Fungsi dari kalsium dan fosfat pada saliva adalaah untuk
melakukan remineralisasi email,sehingga ketika terjadi
demineralisasi email dari perlekatan bakteri tersebut dapat
digagalkan. Hal ii dapat dikatakan bahwa kalsium dan fosfat
memiliki salah satu fungsi saliva sebagai self cleansing.
 Buffer
 Merupakan ion buffer terpenting dalam saliva
 Daya kerja buffer saliva dapat menetralkan asam sehingga dapat
mencegah kerusakan gigi akibat rangsangan kimiawi
 Konsentrasi bikarbonat dalam saliva meningkat bersama aliran
saliva
 Kecepatan sekresi saliva yang meningkat  konsentrasi bikarbonat
dalam saliva lebih tinggi daripada didalam serum
 Magnesium
Berfungsi penting sebagai pengendali metabolisme sel dan berperan
sebagai activator enzim untuk pembentukan energy dan sintesis protein
jaringan
Komponen Organik :
Komponen organik penyusun saliva ini secara umum terdiri dari
protein,lipid,glukosa,asam lemak,asam amino,amoniak,dan vitamin.
Komponen organik utamanya ialah proteinyang memiliki kuantitaf
pentingnya yaitu enzim amilase. Protein yang terkandung tersebut
merupakan protein yang kaya prolin,musin,dan imunoglobulin. Protein
juga mampu untuk meningkatkan ketebalan acquired pellicle,sehingga
mampu utuk menghambat pengeluaran ion fosfatdan kalsium dari enamel.
Macam-macam komponen organik pda saliva trkait fungsi,antara lin :
 Amilase
 Amilase atau ptyalin adalah enzim pencernaan yang mengubah
tepung dan glikogen menjadi kesatuan karbohidrat yang lebih kecil
 Amilase juga memudahkan pencernaan polisakarida
 Lisozim
Mempunyai fungsi antibakteri karena mampu melisiskan dinding sel
bakteri tertentu
 Laktoferin
Merupakan protein pengikat Fe3+ yang menghabiskan suplai Fe3+ pada
saliva yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri.
 Laktoperosidase
Enzim ini mengkatalisis oksidasi tyocyanate menjadi hipotyocyanate yang
mampu menghambat pertukaran zat bakteri dan juga pertumbuhannya
 Imunoglobulin
Immunoglobulin terlibat pada sistem penolakan fisik dan agen antibakteri.
Immunoglobulin terdiri dari sebagian besar IgA sekretorik dan sebagian
kecil IgM dan IgG. Aktivitas antibakteri SigA yang terdapat dalam
mukosa mulut bersifat mukus dan bersifat melekat dengan kuat,sehingga
antigen dalam bentuk bakteri dan virus akan melekat erat dalam mukosa
mulut yang kemudian dilumpuhkan oleh SigA.
 Musin
Kandungan musin didalam rongga mulut memiliki peranan dan fungsi
penting dalam mencegah terjadinya kekeringan didalam rongga
mulut,membentuk makanan menjadi lobus,dan sebagai agen antibakteri
dan serta antivirus. Terlibatnya mucin sebagai agen antibakteri dan
antivirus tersebut disebabkan oleh kandungan IgA didalam saliva.

M4 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SEKRESI SALIVA


 Derajat hidrasi
Derajat hidrasi atau cairan tubuh merupakan faktor yang paling penting
karena apabila cairan tubuh berkurang 8% maka kecepatan aliran saliva
berkurang hingga mencapai nol. Sebaliknya hiperhidrasi akan
meningkatkan kecepatan aliran saliva. Pada keadaan dehidrasi, saliva
menurun hingga mencapai nol.
 Posisi tubuh
Posisi tubuh dalam keadaan berdiri merupakan posisi dengan kecepatan
aliran saliva tertinggi bila dibandingkan dengan posisi duduk dan
berbaring. Pada posisi berdiri, laju aliran saliva mencapai 100%, pada
posisi duduk 69% dan pada posisi berbaring 25%.
 Paparan cahaya
Paparan cahaya mempengaruhi laju aliran saliva. Dalam keadaan gelap,
laju aliran saliva mengalami penurunan sebanyak 30-40%.
 Irama siang dan malam
Laju aliran saliva memperlihatkan irama yang dapat mencapai puncaknya
pada siang hari dan menurun saat malam hari.
 Obat
Penggunaan atropin dan obat kolinergik seperti antidepresan trisiklik,
antipsikotik, benzodiazepin, atropin, β-blocker dan antihistamin dapat
menurunkan laju aliran saliva
 Usia
Laju aliran saliva pada usia lebih tua mengalami penurunan, sedangkan
pada anak dan dewasa laju aliran saliva meningkat.
 Efek psikis
Efek psikis seperti berbicara tentang makanan dan melihat makanan dapat
meningkatkan laju aliran saliva. Sebaliknya, berfikir makanan yang tidak
disukai dapat menurunkan sekresi saliva.
 Jenis Kelamin
Laju aliran saliva pada pria lebih tinggi daripada wanita meskipun
keduanya mengalami penurunan setelah radioterapi. Perbedaan ini
disebabkan oleh karena ukuran kelenjar saliva pria lebih besar daripada
kelenjar saliva wanita.

M4 MIKROFLORA NORMAL DAN PERANAN DALAM SALIVA


Rongga mulut merupakan pintu gerbang masuknya berbagai macam
mikroorganisme ke dalam tubuh. Mikroorganisme tersebut masuk bersama
makanan atau minuman. Namun tidak semua mikroorganisme tersebut bersifat
patogen (berbahaya). Di dalam rongga mulut, mikroorganisme yang masuk akan
dinetralkan oleh zat anti bakteri yang dihasilkan oleh kelenjar ludah dan bakteri
flora normal.
Flora normal merupakan sekumpulan mikroorganisme yang hidup pada
kulit dan selaput lendir/mukosa manusia sehat maupun sakit. Pertumbuhan flora
normal pada bagian tubuh tertentu dipengaruhi oleh suhu, kelembapan, nutrisi,
dan adanya zat penghambat. Keadaan flora normal pada bagian tubuh tertentu
mempunyai peranan penting dalam pertahanan tubuh karena menghasilkan suatu
zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang lain.
Flora normal dalam rongga mulut terdiri dari Streptococcus
mutans/Streptococcus viridans, Staphylococcus sp dan Lactobacillus sp.
Meskipun sebagai flora normal dalam keadaan tertentu bakteri-bakteri tersebut
bisa berubah menjadi patogen karena adanya faktor predisposisi yaitu kebersihan
rongga mulut. Sisa-sisa makanan dalam rongga mulut akan diuraikan oleh bakteri
menghasilkan asam, asam yang terbentuk menempel pada email menyebabkan
demineralisasi akibatnya terjadi karies gigi. Bakteri flora normal mulut bisa
masuk aliran darah melalui gigi yang berlubang atau karies gigi dan gusi yang
berdarah sehingga terjadi bakterimia