Anda di halaman 1dari 19

Pengumpulan Arsip Perkuliahan ini

Didukung oleh:
MAKALAH
ZAT PEMBANTU TEKSTIL

PENGARUH PENCUCIAN DENGAN SABUN DAN DETERGENT DITAMBAH


PELEMAS TERHADAP DAYA SERAP KAIN POLIESTER/KAPAS

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas


mata kuliah Zat Pembantu Tekstil

Disusun oleh :

1. IWAN DENI SETIAWAN (01.P.2711)


2. KRISTIONO (01.P.2712)
3. MUCHSININ (01.P.2718)
4. NOVAN NURWANTO (01.P.2722)
5. TRI TEGUH W. (01.P.2745)

DOSEN : DR. Hj. Isminingsih, S.Teks.,MSc.


Haryanti Rahayu, S.Teks.,MT.

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL


BANDUNG
2003
PENDAHULUAN

Mengingat adanya bermacam-macam zat pembantu tekstil yang bersifat aktif permukaan
baik yang impor maupun yang dibuat sendiri, serta diantaranya banyak digunakan sebagai
pembasah dan obat detergent, maka perlu disusun suatu evaluasi mutu detergent.
Dalam suatu proses kimia tekstil, detergent terutama digunakan dalam pengujian dan
pemasakan bahan tekstil. Untuk mengetahui apakah suatu zat aktif permukaan memenuhi syatar
sebagai detergent, maka harus diuji dahulu beberapa faktor yang dapat langsung mempengaruhi
daya detergansi.
Sifat-sifat khusus zat aktif permukaan yang diperlukan dalam proses detergensi antara lain
ialah :
- Penurunan tegangan permukaan
- Daya pendispersi kotoran
- Daya pengemulsi kotoran
- Daya pembasah
- Daya pemisah kotoran dari substrat
- Daya tahan zat aktif permukaan terhadap alkali, asam, dan sadah

Zat aktif permukaan terdiri dari gugus hidrofob dan gugus hidrofil. Gugus hidrofil
menarik molekul air, sedangkan gugus hidrofob terarah pada kotoran yang bersifat lemak. Dengan
demikian maka zat aktif permukaan akan berfungsi sebagai koloid pelindung terhadap kotoran
yang terlepas dari serat.
Adanya zat aktif permukaan menyebabkan tegangan permukaan antar muka antara serat
dan cairan turun. Akibatnya sudut kontak antara kotoran dan serat mengecil, sehingga partikel
kotoran mudah dipisahkan dari serat dan kemudian terdispersi oleh zat aktif permukaan.
Mengingat sifat-sifat diatas, maka peristiwa detergensi tak dapat dipisahkan dari pada
proses-proses pembasahan, pendispersi dan pengemulsian kotoran-kotoran oleh misel-misel yang
terbentuk.
Kain campuran poliester/kapas sering digunakan sebagai bahan pakaian, biasanya
digunakan campuran yang optimal yaitu (65/35) 65% poliester dan 35% kapas. Akibat dari
pencampuran serat ini adalah sifat fisik yang berubah, dalam hal ini yang akan dibahas adalah
mengenai sifat pelemasan dan daya serap terhadap air (daya absorbsi). Kain menjadi lebih kaku
dan daya serapnya cukup. Namun orang tentu menginginkan sifat lemas saat dipakai yaitu dengan
menggunakan zat pelemas. Dampaknya seberapa besar terhadap daya serap kain terhadap air
(keringat).
KAIN CAMPURAN POLIESTER KAPAS

Serat Kapas
Kapas adalah salah satu contoh serat selulosa dimana serat selulosa banyak mengandung
gugus hidroksil. Gugus ini daapt mengadaakn ikaatn hydrogen dengan gugusan – gugusan
hidroksil, aminada azo dalam molekul zat warna. Struktur kimia serat kapas.

H OH CH2OH
O
H H H H O

H H O OH H
O n-1
CH2OH H OH

Selulosa

Adapun sifat – sifat kimianya :


• Serat kapas akan terhidrolisa oleh asam kuat.
• Oksidator akan menurunkan kekuatan.
• Alkali pekat akan menggelembung serat.
• Larut dalam larutan kuproamonium hidroksida.
Serat kapas ini berwarna krem dengan MR 7 – 8,5 %

Serat Poliester

Susunan rantai molekul polyester terbentuk secara kondensasi menghasilkan polietena


tereftalat yang merupakan satu ester dari komponen dasar asam dan alkohol, yaitu asam tereftalat
dan etilena glikol. Ini merupakan pengembangan pembuatan poliester yang pada mulanya terbuat
dari dimetil teraftalat sebagai asamnya dan etilena glikol sebagai alkoholnya dan dikenal dengan
nama Terylene. Reaksi poliester adalah sebagai berikut :

n CH3OOC COOCH3 + n HO(CH2)2OH CH3O [ OC COO(CH2)2O ]n H + (2n –1 ) CH3OH

Dimetil asam tereftalat etilena glikol Terylene

Pada tahun terakhir dikembangkan teknik baru dengan memproduksi asam teraftalat,
sehingga cenderung lebih banyak dipergunakan dibanding metil teraftalat sebagai bahan baku
pembuat polyester, yang dikenal dengan nama Dacron. Adapun reaksinya pembuatannya adalah
sebagai berikut :

n HOOC COOH + n HO(CH2)2OH HO [ OC COO(CH2)2O ]n H + (2n –1 ) H2O

Asam tereftalat etilena glikol Dacron air

Penggunaan asam tereftalat sebagai bahan baku poliester menyebabkan beberapa


perbedaan sifat poliester, diantaranya titik leleh poliester yang dihasilkan lebih tinggi dan hampir
larut dalam glikol. Pembuatan poliester dari asam tereftalat lebih menguntungkan dibandingkan
poliester dari metil tereftalat.
Proses polimerisasi asam tereftalat dan etilena glikol dilakukan dalam kondisi suhu tinggi
dan ruang hampa.

Sifat-sifat polyester :

1. Kekuatan tarik dan mulur


Kekuatan tarik sekitar 4,5-7,5 gram/denier, sedangkan mulurnya berkisar antara 25%
sampai 75%.
2. Elastisitas
Poliester mempunyai elastisitas yang baik sehingga dalam keadaaan normal kain poliester
tahan terhadap kekusutan. Apabila benang poliester ditarik dan kemudian dilepaskan,
pemulihan terjadi dalam satu menit adalah sebagai berikut :
Penarikan 2%……pemulihan 97%
Penarikan 4%……pemulihan 90%
3. Moisture Regain
Pada kondisi standar yaitu RH 65 ± 2% dan suhu 20°C ± 1% moisture regain serat
poliester hanya 0,4% sedangkan pada RH 100% moisture regain mencapai 0,6-0,8%
4. Berat Jenis
Berat jenis poliester adalah 1,38 g/cm3
5. Titik leleh
Serat poliester meleleh pada suhu 250°C
6. Sifat Kimia
Serat poliester tahan terhadap oksidator, alkohol, keton, dan sabun, tapi larut dalam meta-
kresol panas, asam trifluoroasetat-orto-khlorofenol.
Serat Campuran Poliester/Kapas

Sifat Poliester Kapas Keterangan :


A = baik sekali
Mekanik A B–A B = cukup baik
Absorpsi Air C B- A C = kurang
Penyerapan terhadap zat warna C A
Estetika A B
Gosokan Kering B B
Gosokan Basah B C–B
Tahan Kusut A C
Crease Retension A C
Bulkiness B C–B
Listrik Statik C A
C A
Softening Point B A
Hole Burning C A

Tabel 1.
Sifat Tekstil Poliester dan Kapas.
Proses Pengerjaan Kain Campuran Poliester/Kapas. Sunaryo,S.Teks.

Tujuan Pencampuran

Berdasarkan table 1. menunjukkan perbedaan sifat polyester dan kapas dimana


kedua jenis serat tidak memiliki sifat yang sempurna untuk bahan tekstil sehingga untuk
memperbaiki sifat-sifat tersebut dilakukan pencampuran.

Sifat Campuran
Walaupun 100% Poliester mempunyai sifat-sifat yang baik, kainnya masih dapat
ditingkatkan sifat-sifatnya dengan mencampurkannya dengan selulosa. Adanya selulosa
akan dihasilkan kain dengan sifat yang lebih cocok dalam pemakaian dan mengurangi
elektro statiknya. Tetapi pencampuran dengan selulosa dapat mengurangi sifat-sifat baik
dari polyester itu sendiri sehingga perlu dipilih pencampuran yang optimum agar
diperoleh hasil yang memuaskan
1. Kekuatan Sobek
Pengukuran kekuatan sobek ditekankan pada perbandingan serat campurannya.
Jumlah polyester yang sedikit tidak menambah kekuatan sobekan dari kainnya,
bahkan menurunkannya. Untuk menambah kekuatan sobek, komposisi polyester
harus melebihi komposisi kain kapasnya, paling sedikit 60% polyester dalam
campurannya. Sebaliknya, jumlah yang kecil dari kapasnya memnyebabkan
penurunan kekuatan sobekan apabila dicampur dengan polyester. Jumlah kapas yang
dicampurkan bila mencapai 40% atau lebih sedikit, akan menambah kekuatan
sobekannya bila dibandingkan dengan kain kapas saja.
2. Ketahanan Gesek
Kain 100% polyester mempunyai ketahanan gesekan yang tinggi. Ketahanan
gesekan berbanding lurus dengan komposisi campurannya. Jumlah 30 – 40% kapas
didalam campuran menunjukkan penurunan ketahanan geseknya, tetapi masih lebih
baik dari pada kain kapas.
3. Tahan Kusut
Hubungan antara tahan kusut dengan komposisi campurannya sangat kompleks.
Hasil yang baik mungkin diperoleh dengan pencampuran 30% kapas di dalamnya.
4. Elektro Statik
Poliester memiliki sifat elektro static bila dipakai. Pengumpulan muatan listriknya
terasa pada badan. Pencampuran dengan kapas akan mereduksi muatan listrik tersebut.
Jumlah 30% kapas di dalam campuran sudah cukup mengurangi muatan listrik yang
ada, sehingga memenuhi syarat untuk bahan pakaian.
PEMBAHASAN

PENGARUH PENCUCIAN DENGAN SABUN DAN DETERGENT DITAMBAH


PELEMAS TERHADAP DAYA SERAP KAIN POLIESTER/KAPAS

ZAT AKTIF PERMUKAAN

Zat aktif permukaan adalah suatu zat yang apabila digunakan dalam konsentrasi kecil
akan merubah sifat-sifat dari sistem tertentu, misalnya menaikkan atau menurunkan tegangan
bidang batas (interfasial-tension) atau tegangan permukaan (surface-tension). Bidang zat aktif
permukaan cenderung untuk berpusat pada bidang batas.
Suatu molekulzat aktif permukaan yang aktif kapiler terdiri dari dua bagian yaitu :
a. Gugus hidrofil yang mempunyai sifat afinitas cukup terhadap medium dan cenderung
untuk menarik pelarut air.
b. Gugus hidrofob yang mempunyai sifat menolak pelarut air, karena afinitas gugus tersebut
terhadap pelarut lebih kecil dari afintias antar molekul pelarut iitu sendiri. Apabila gaya
tolak gugus hidrofob ini cukup kuat maka molekul zat aktif permukaan akan berpusat
pada bidang batas sehingga bagian yang bertolak tidak mengadakan kontak dengan
pelarut.

Klasifikasi zat aktif permukaan


a. Berdasarkan penggunaannya, maka zat aktif permukaan dapat digolongkan :
• Sebagai pembsah (wetting agent)
• Sebagai zat pencuci (detergent)
• Sebagai zat anti busa (anti foaming agent)
• Sebagai emulgator (emulsifier)
• Sebagai zat tahan air
b. Berdasarkan sifat fisiknya terbagi menjadi zat-zat :
• Yang larut di dalam air
• Yang tidak larut dalam air
c. Berdasarkan struktur kimianya :
• Dengan rantai C alifatik
• Dengan rantai C aromatik
• Dengan rantai C alifatik dan aromatik
d. Berdasarkan sifat elektrokimia (ionisasi molekul di dalam larutan) terbagi menjadi :
• Zat anion aktif dimana didalam larutan akan terjadi ionisasi dengan ion panjang
bermuatan negatif , artinya yang aktif kapiler adalah kationnya
• Zat kation aktif dimana didalam larutan akan terjadi ionisasi dengan ion panjang
bermuatan positif, artinya yang aktif kapiler adalah kationnya.
• Zat non ion aktif, dimana keaktifan dari kapiler dari golongan ini disebabkab
karena adanya beberapa macam gugus hidrofil.
• zat amfolitik panjang bermuatan positif atau negatif, bergantung pada suasana pH
larutan.

Sifat-sifat kimia dari zat aktif permukaan


a. Teori pembentukan misel zat aktif permukaan secara umum
Molekul zat aktif poermukaan terdiri dari gugus hidrofil dan gugus hidrofob, karena ada
sifat saling menarik dan menolak air, maka molekul zat aktif permukaan dikonsentrasikan
antara larutan dan suatu fase lain yang mempunyai afinitas yang cukup terhadap hidrokarbon.
Karena adanya daya kohesi yang besar sekali antara molekul-molekul air maka kalau
molekul amfipatis dimasukkan ke dalamnya, bagian yang hidrofob seolah-olah ditolak keluar
dari larutan. Sedangkan adanya gaya tarik-menarik antara bagian dari hidrofil dengan
molekul-molekul air, membuat zat aktif permukaan tadi larut.
Sebagai komponen antara kedua kecenderungan itu, maka bagian-bagian yang hidrofob
bersatu membentuk suatu kelompok atau agregat yang dapat tetap berada dalam larutan,
karena daya larut dari bagian-bagian hidrofil.

b. Teori pembentukan misel menurut Harley


Menurut Harley, elektrolit amfipatis sampai konsentrasi kritis merupakan elektrolit kuat
misalnya Natrium Palmitat, akan terurai secara sempurna dalam ion-ion tanpa beragregasi.
Pada konsentrasi kritis ion-ion tersebut mulai mengadakan agregasi. Mula-mula dengan
pembentukan misel-misel yang kecil sekali dan berkembang dengan cepat sehingga mencapai
suatu ukuran yang selanjutnya konstan kalau konsentrasi diperbesar. Misel-misel dianggap
bersifat cair dan berbentuk bola. Bagian dalamnya kira-kira serupa dengan parafin cair kalau
ion amfipatis mengandung rantai parafin dengan catatan bahwa ujung hidrofil ion itu terdapat
pada permukaan misel. Misel-misel seperti ini dinamakan spherical micelles.

c. Teori pembentukan misel menurut MC Bain


Menurut MC Bain ada dua macam bentuk misel sebelum mencapai konsentrasi kritis
terlebih dahulu dalam larutan encer spherical ionic miselles yang terbentuk oleh paling
banyak sepuluh ion dimana muatan listrik ion-ion yang membentuk misel itu, sedangkan
daya hantar listrik tinggi.

Pencucian (Detergency)
Suatu sifat yang sangat penting dari zat aktif permukaan adalah detergent. Detergent
menurut pengertian yang luas bererti pembersihan dan oleh karena itu detergent diartikan sebagai
suatu zat yang mempunyai daya pembersih. Tetapi detergent juga dapat didefinisikan sebagai
proses penghilangan kotoran-kotoran dari suatu permukaan padat, oleh kerja suatu larutan.
Pada detergent deperlukan sifat pembasah, pendisperesi, dan pengemulsi.
Larutan sabun adalah pencuci yang baik karena mempunyai daya pengemulsi dan daya
basah yang efektif. Larutan sabun dapat menembus kain karena diabsorpsi oleh kain tersebut dan
karena larutan mempunyai tegangan permukaan yang rendah.

Sapamine sebagai pelemas


Sapamine zat pelemas yang bersifat zat aktif kation.Didalam temperatur kamar, Sapamine
berwarna cream dan sangat masih dikerjakan terhadap zat-zat lain. Penggunaannya khusus untuk
benang seperti akrilik dan campuran poliamida.Larutan zat aktif kation seperti Sapamine mudah
larut dalam air hangat,dan dapat dipakai dalam suasana netral sampai asam dengan pH 5 – 6.
Zat aktif kation terjadi ionisasi dalam larutan dengan rantai panjang yang membawa muatan
positif, yang termasuk dalam golongan ini yaitu :
a. Senyawa Amino

= senyawa amino langsung dengan gugus hidrofob

=senyawa amino dengan jembatan amida.


b. Senyawa Amonium

= senyawa amonium langsung dengan hidrofob.

=senyawa amonium dengan jembatab amida.

c. Senyawa basa yang tak mengandung nitrogen

=senyawa sulfonium
= senyawa fosfonium

d. Senyawa basa yang mengandung nitrogen

= senyawa alkil isotio urea

= senyawa alkil iso urea

Korelasi antara struktur kimia surfaktan dan sifat fisika

Susunan unsur : gabungan gugus hidrofob (liofob) dan hidrofil (anionik, kationik, nonionik,
amfoter)
Korelasi antara struktur kimia surfaktan dan sifat fisika, dipengaruhi :
 Jenis gugus hidrofob / hidrofil
 Keseimbangan besaran sifat hidrofil
 (nilai HLB)
 Bentuk molekul
 Berat molekul

HLB = HIDROFIL - LIPOFIL-BALANS

BALANS --> kemudahan kelarutan surfaktan dalam air --> menunjukkan kekuatan relatif sifat
hifrofil dengan hidrofob
Sifat hidrofil rendah--> kelarutan << --> tidak larut
Sifat hidrofil tinggi--> kelarutan >> tinggi

HLB dinyatakan dengan rumus :

BM bagian hidrofil 100


HLB = ------------------------------- x ---------
BM surfaktan 5

HLB
(dinyatakan alam angka dengan skala 1 – 20)

Sifat keaktifan permukaan biasanya berhubungan dengan balans antara porsi hidrofob dan
hidrofil dalam molekul surfaktan. Misalnya, untuk surfaktan anion dengan alkil hidrofob C8-C12,
cenderung bersifat sebagai zat pembaah, sedangkan untuk C12-C18 lebih bersifat sebagai deterjen
dan pengemulsi. Alkilsulfo suksinat lebih cenderung bersifat sebagai pembasah dibanding
deterjen. Makin tinggi porsi hidrofob dalam surfaktan, kelarutannya dalam air makin menurun
dan kelarutannya dalam minyak meningkat.
Keseimbangan atau balans antara porsi hidrofob dan hidrofil, merupakan factor kritis
dalam penentuan sifat keaktifan surfaktan. Hal tersebut dinyatakan sebagai “hidro-phile –
lipophile – balance” atau HLB (istilah lipofil identik dengan hidrofob). HLB juga merupakan
skala penentu untuk pembentukan emulsi. Secara kwantitatif HLB dinyatakan dalam skala 0 – 20,
dari sangat hidrofob (HLB ≈ 0) menjadi sangat hidrofil (HLB ≈ 20). Porsi hidrofob dan hidrofil
yang seimbang menunjukkan skala HLB ≈ 10.
Sebagai contoh adalah zat aktif nonion etoksilat, nilai HLB rendah (4-6) menunjukkan
gugus hidrofob menentukan sifat utama surfaktan, dan lebih sesuai untuk sifat emulsi air dalam
minyak. HLB sedang (7-9) menunjukkan sifat pembasah yang baik, harga HLB makin tinggi (8-
18) bersifat sebagai emulsi minyak dalam air, dan HLB (13-15) untuk deterjen yang baik. Skala
10-18 menunjukkan sifat kelarutan yang tinggi.
Sebagai contoh adalah zat aktif nonion etoksilat, nilai HLB rendah (4-6) menunjukkan
gugus hidrofob menentukan sifat utama surfaktan, dan lebih sesuai untuk sifat emulsi air dalam
minyak. HLB sedang (7-9) menunjukkan sifat pembasah yang baik, harga HLB makin tinggi (8-
18) bersifat sebagai emulsi minyak dalam air, dan HLB (13-15) untuk deterjen yang baik. Skala
10-18 menunjukkan sifat kelarutan yang tinggi.
Untuk surfaktan nonionik dari sorbitol monolaurat dengan 20 unit etilenoksida, berat
molekul surfattan = 1216 dan
berat molekul gugus hidrofil = 993
HLB sorbitol monolaurat = (993/1216) x (11/5) =
HLB =16,33

R (CH2CH2O)20, (OH)4, C00


HYDROFOB HIDROFIL
BM = 1216 BM = 993 HLB = 16,33 Ditergen dengan daya kelarutan tinggi.
HLB nonil fenol dengan 9 mol etilenoksia,
BM nonil fenol = 2220, BM Hidrofil = 9 x 44
BM surfaktan = 220 + (9x44)
HLB = (396/616x20) = 12,86 = zat penetrasi

PENGGOLONGAN HLB

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

anti busa Zat penetrasi

Pengemulsi (W/O) Daya kelarutan tinggi

Deterjen

Zat Pengemulsi (O/W)

PRINSIP PELEMASAN
Prinsip pelemasan adalah memberikan lapisan lemak atau minyak yang hidrofob
membentuk suatu film tipis pada bahan yang mengakibatkan pengecilan gesekan antara elemen
bahan yang berdampingan, sehingga struktur secara utuh lebih lemas dan lembut. Lapisan lemak
yang terbentuk dihasilkan oleh adsorpsi zat pelemas pada permukaan serat.
Mekanisme adsorpsi zat pelemas akan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
struktur molekul zat pelemas dan gugus penyusunnya, serta sifat alamiah dan struktur gugus pada
permukaan padatan, lingkungan fasa air.
Zat pelemas yang merupakan zat aktif permukaan mempunyai struktur amphifilik yang
mempunyai 2 jenis gugus yang mempunyai sifat yang berlawanan yaitu gugus polar yang suka air
(hidrofil) dan gugus non polar yang tidak suka air (hidrofob). Dalam air zat pelemas akan larut
karena gugus polar membentuk ikatan hidrogen dengan air dan apabila suatau serat kapas
dimasukkan dalam larutan maka gugus hidrofil dari serat akan tertarik untuk bergabung dengan
hidrofil pda permukaan serat adanya gaya tarik atom atau molekul dari serat kapas yang bersifat
anion dengan zat pelemas yang bersifat kation menyebabkan zat pelemas berpindah dari larutan
dan kemudian teradsorbsi pada permukaan serat molekul pelemas teradsorbsi pada serat dengan
kedudukan gugus hidrofil melekat pada serat dan gugus hidrofob tertinggal pada permukaan serat
Gugus hidrofob yang terdiri dari rantai hidro karbon ini membentuk lapisan film yang
menutupi permukan serat menyebabkan gesekan antara serat berkurang sehingga bahan menjadi
lemas.
Kedudukan pelemas tersebut dapat berubah sebaliknya tergantung pada sifat, muatan
pelemas dan seratnya. Efek pelemasan makin bila kedudukan molekul pelemas makin rapat.
Gugus polar (hidrofil)

Gugus non polar (hidrofob)

Pelemas

Serat hidrofil

Pelemas

Serat Hidrofob
RESEP PENCUCIAN UNTUK PENGUJIAN DAYA ABSORBSI, KETEBALAN DAN
KEKAKUAN POLIESTER KAPAS

Resep 1 5g/l detergent


Resep 2 5g/l sabun
Resep 3 5g/l detergent
2 % sapamine
Resep 4 5g/l sabun
2 % sapamine
Waktu 45 menit
Suhu 40 0C
Vlot 1 : 20

Cara Pengujian :
 dibuat larutan sabun sesuai dengan resep yang telah ditentukan
 jika menggunakan kombinasi sabun + sapamine, akhir pencucian tanpa dibilas air hangat
maupun air dingin
 dikerjakan pada bak aluminium dengan menggunakan pembakar bunsen
 contoh bahan kemudian direndam dalam larutan tersebut pada temperatur tersebut selama
2 jam
 sekali-kali contoh bahan diangkat-angkat
 kemudian dibilas dengan air dingin 3x
 dicuci air panas pada temperatur 90 0C selama 30 menit dan akhirnya dengan air dingin
hingga bersih peras dan angin-anginkan supaya agak kering
 jika menggunakan kombinasi antara sabun dan sapamine akhir pencucian tanpa dibilas air
panas maupun dingin.

Contoh uji
Contoh uji kain poliester kapas ukuran 20x20 cm. Untuk pengujian ini dibutuhkan 4 contoh kain
Poliester Kapas (65/35).
Cara pengujian :
 contoh uji dipasang pada bingkai penyulam, letakkan mendatar sejauh 1cm dari buret
 kemudian dijatuhkan butiran-butiran air berturut-turut
 meresapnya air tersebut kedalam kita catat dengan stopwatch
 pengujian dilakukan dalam sepuluh tempat dan penilaian diambil rata-ratanya

HASIL RATA-RATA DAYA ABSORBSI KAIN POLIESTER KAPAS SETELAH


MENGALAMI PENCUCIAN

Soklin Omo Soklin + Molto Omo + Molto


DISKUSI

Deterjen berfungsi untuk menghilangkan kotoran /lemak yang menempel pada bahan
tekstil terutama dari bahan poliester/kapas. Partikel minyak/kotoran yang menempel pada
permukaan tersebut akan hilang sehingga interface antara kain dan air tidak terhalang. Sehingga
akan menambah kemampuan serapan terhadap air (keringat) atau dengan kata lain daya serap kain
akan bertambah.
Namun untuk diperoleh sifat lemas maka perlu ditambahkan pengerjaan dengan zat aktif
pelemas (softener). Softener yang dibahas ini terutama untuk jenis kationiok. Cara kerja pelemas
kationik ini adalah membentuk lapisan film pada permukaan bahan dengan cara mengelilingi serat
sehingga mengurangi gaya gesekan antar serat/benang. Akibatnya kain/benang akan terasa lembut
dan pegangannya menjadi lemas/langsai. Namun karena terjadi pelapisan pada permukaan bahan
yang diberi zat pelemas, maka sifat hidrofil dari serat akan terkurangi sebab permukaan telah
terblokir oleh molekul/partikel dari zat pelemas. Selain itu lapisan film juga akan menghalangi air
sebelum ke bahan. Mekanismenya sebagai berikut, zat pelemas memiliki 2 gugus aktif yaitu lebih
tertarik pada serat (hidrofil) sedang bagian ekor/ hidrofob akan mengarah keluar. Karena zat
pelemas yang digunakan cukup untuk menutupi permukaan serat dan membentuk lapisan. Maka
bagian yang hidrofob yang mengarah keluar tadi akan menghalangi air yang akan mendekati serat
karena tolak menolak dari sifat polar. Akhirnya daya serap kain secara teknis akan berkurang.
gugus non polar (rantai alkil) dan gugus polar (quartenary ammonium). Bagian yang polar akan

KESIMPULAN
1. Pencucian dengan sabun/deterjen akan menambah daya serap kain poliester/kapas.
2. Penambahan zat pelemas pada kain poliester/kapas setelah pencucian akan meyebabkan daya
serapnya menurun.

DAFTAR PUSATAKA
1. Zat kimia Pembantu (auxiliaries), DR. Isminingsih Gitopadmojo, Sekolah Tinggi Teknologi
Tekstil, Bandung, Semester V, 2001
2. Skripsi, Panji Ahmad Tamzil, 681081, Institut Teknologi Tekstil, Bandung, 1975
3. Technology of Textile Finishing
HLB

HLB = Hidrofil – Lipofil – Balans


HLB dinyatakan dalam angka dengan skala 1 – 20
HLB dinyatakan dalam rumus :
BM bagian hidrofil 100
HLB = x
BM surfaktan 5

Contoh : surfaktan non ionik dari sorbitol monolaurat dengan 20 unit etilenoksida, berat molekul
surfaktan = 1216 dan berat molekul gugus hidrofil = 993, maka :

993 100
HLB sorbitol monolaurat = x = 16 ,33
1216 5

PENGGOLONGAN HLB

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

anti busa Zat penetrasi

Pengemulsi (W/O) Daya kelarutan tinggi

Deterjen

Zat Pengemulsi (O/W)

Orientasi gugus hidrofil dan hidrofob pada :

water oil

oil water

O/W W/O