Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BY.

I DENGAN BBLR
DI RUANG PERINATOLOGI
RSUD K.R.M.T WONGSONEGORO

NAMA : HARLIS RESPATI


NIM : P1337420919086

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2019
ASUHAN KEPERAWATAN PADA BY. I DENGAN BBLR
DI RUANG PERINATOLOGI
RSUD K.R.M.T WONGSONEGORO

Harlis Respati
Poltekkes Kemenkes Semarang

Abstrak

BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) diartikan sebagai bayi yang lahir dengan berat
badan kurang dari 2500 gram. BBLR merupakan prediktor tertinggi angka
kematian bayi, terutama dalam satu bulan pertama kehidupan. Usia kehamilan
merupakan salah satu faktor terjadinya bayi lahir dengan berat bayi lahir rendah,
wanita dengan persalinan preterm umur kehamilan 34-36 minggu memiliki risiko
bayi BBLR namun dengan persalinan cukup bulan juga memiliki risiko bayi
BBLR. Bayi Ny. I dengan BBLR aterm dan gangguan nafas berat terpasang nasal
canule 0,5 lpm, BB 2340 gram. Diagnose keperawatan ketidakefektifan pola nafas
dan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Tindakan yang
dilakukan yaitu manajemen jalan nafas, monitor pernafasan dan manajemen
nutrisi.

Kata kunci : BBLR, Pola nafas, aterm


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................................. i
ABSTRAK ............................................................................................................................ ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................................... iii
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1
A. Latar Belakang .......................................................................................................... 1
B. Web of Caution ......................................................................................................... 2
BAB II LAPORAN KASUS KELOLAAN .......................................................................... 3
A. Pengkajian ................................................................................................................. 3
B. Diagnose Keperawatan.............................................................................................. 8
C. Intervensi Keperawatan ............................................................................................. 9
D. Implementasi ............................................................................................................. 11
E. Evaluasi ..................................................................................................................... 12
BAB III PEMBAHASAN ..................................................................................................... 14
A. Analisa Kasus ............................................................................................................ 14
B. Analisa Intervensi Keperawatan ............................................................................... 14
BAB IV PENUTUP .............................................................................................................. 16
A. Kesimpulan ............................................................................................................... 16
B. Saran ......................................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR LAMPIRAN

1.1 WoC (Web of Caution)


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) diartikan sebagai bayi yang
lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. BBLR merupakan
prediktor tertinggi angka kematian bayi, terutama dalam satu bulan
pertama kehidupan (Kemenkes RI,2015). Bayi BBLR mempunyai risiko
kematian 20 kali lipat lebih besar di bandingkan dengan bayi yang lahir
dengan berat badan normal. Berat badan lahir merupakan salah satu
indikator dalam tumbuh kembanganak hingga masa dewasanya dan
menggambarkan status gizi yang diperoleh janin selama dalam kandungan
(Sholiha, 2015).
Berdasarkan penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu
dalam kandungan dan luar kandungan. Kematian bayi dalam kandungan
adalah kematian bayi yang dibawa oleh bayi sejak lahir seperti asfiksia.
Sedangkan kematian bayi luar kandungan atau kematian post neonatal
disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh dari luar
(Vivian, 2014).Salah satu penyebab kematian bayi luar kandungan adalah
hiperbilirubin, dimana hiperbilirubin merupakan salah satu fenomena
klinis yang paling sering ditemukan pada bayi baru lahir dalam minggu
pertama dalam kehidupannya.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Tutiek Herlina, dkk di
RSUD Dr. Harjono Ponorogo pada tahun 2012 tentang Hubungan Antara
Berat Bayi Lahir dengan kadar Bilirubin Bayi Baru Lahir, menyatakan
bahwa dari 88 berat bayi lahir tidak normal, 72 bayi (81, 8%) mempunyai
kadar bilirubin tidak normal dan 16 bayi (18, 2%) mempunyai kadar
bilirubin normal, sedangkan dari 47 berat bayi normal, 40 bayi (85, 1%)
mempunyai kadar bilirubin normal, dan 7 bayi (14, 9%) mempunyai kadar
bilirubin tidak normal sehingga dapat disimpulkan bahwa berat bayi lahir
berhubungan dengan kadar bilirubin (Mutianingsih, 2014). Menurut
Zabeen B (2010) menyatakan bahwa BBLR dan prematuritas merupakan
faktor risiko tersering terjadinya ikterus neonatorum di wilayah Asia
tenggara.
Berdasarkan Sukadi (2008), menjelaskan bahwa Ikterus
neonatorum adalah keadaan klinis pada bayi yang di tandai oleh
pewarnaan ikterus pada kulit dan sklera akibat akumulasi bilirubin tak
terkonjugasi yang berlebih. Ikterus secara klinis akan mulai tampak pada
bayi baru lahir bila kadar bilirubin darah 5-7 mg/dL. Seringkali
prematuritas berhubungan dengan hiperbilirubinemia tak terkonjugasi
pada neonatus. Aktifitas Uridine Difosfat Glukoronil Transferase Hepatik
jelas menurun pada bayi kurang bulan, sehingga kadar bilirubin yang
terkonjugasi menurun.
Namun pada bayi cukup bulan dan bayi kurang bulan terjadi
peningkatan hemolisis karena umur sel darah merah yang pendek pada
neonatus (Martiza, 2010) dan pada bayi BBLR, pembentukan hepar belum
sempurna (imaturitas hepar) sehingga menyebabkan konjugasi bilirubin
indirek menjadi bilirubin direk di hepar tidak sempurna (Sukadi, 2008).
Usia kehamilan merupakan salah satu faktor terjadinya bayi lahir dengan
berat bayi lahir rendah, wanita dengan persalinan preterm umur kehamilan
34-36 minggu memiliki risiko bayi BBLR namun dengan persalinan cukup
bulan juga memiliki risiko bayi BBLR (Leonardo, 2011). Masalah nutrisi
merupakan salah satu dari beberapa masalah serius pada bayi berat lahir
rendah (BBLR). Hal ini sangat erat berkaitan dengan berbagai kondisi
ataupun komplikasi pada berbagai sistem atau organ tubuh seperti saluran
nafas, susunan saraf pusat, saluran cerna, hati, ginjal, dan lainnya.
Berdasarkan hal tersebut maka penulis membuat laporan asuhan
keperawatan pada bayi BBLR di RSUD K.R.M.T Wongsonegoro ruang
Perinatologi. Intervensi yang dilakukan berdasarkan pengelompokan
masalah dan dilakukan evaluasi terhadap implementasi yang telah
dilakukan.
B. Web of Caution
(terlampir)
BAB II

LAPORAN KASUS KELOLAAN

A. Pengkajian
Tanggal Pengkajian : Jumat, 18 Oktober 2019
Pukul : 18.30
Ruang/RS : Perinatologi/ RSWN

1. Data Demografi
Data pasien
a. Nama : Bayi Ny. I
b. Tanggal lahir : 15 Oktober 2019
c. Jenis kelamin : Laki-laki
d. Suku : Jawa
e. Tanggal masuk RS : 26 Agustus 2019
f. Diagnosa medis : BBLR, hiperbilirubin
Data penanggung jawab
a. Nama : Ny. I
b. Umur : 30 tahun
c. Hub. dengan pasien : Ibu
d. Pekerjaan : IRT
e. Agama : Islam
f. Alamat : Ds Ngasem 3/8 Toroh Grobogan

2. Riwayat Keperawatan Sekarang


Bayi Ny. I lahir pada tanggal 15 Oktober 2019 pukul 02.40 di RSUD
Kota Semarang bangsal Srikandi lahir dengan persalinan spontan
diinduksi. Berat lahir yaitu 2340 gram, APGAR skor 3-4-7 menangis
kurang, klien mengalami asfiksia berat sudah diberikan injeksi vitamin
A dan salep mata RR : 55x/menit SPO2 : 85% HR : 145x/menit lalu
klien di transfer internal ke NICU. Saat ini klien sedang dilakukan
fototerapi di ruang Perinatologi sesuai program yang sudah ditetapkan,
BB klien 2340 gram, kulit kering, ada yang mengelupas, bintik merah
dan kulit kemerahan dan tampak kuning.
3. Riwayat Kehamilan (ANC,masalah kesehatan selama kehamilan, dll)
Orang tua klien mengatakan tidak ada gangguan ataupun keluhan
lainnya selama kehamilan. Usia kehamilan 38 minggu.Ibu klien rutin
memeriksakan kandungannya ke bidan saat hamil.
4. Riwayat Keperawatan Dahulu
a. Riwayat Ibu : riwayat kehamilan G2P1A0. Usia kehamilan 38
minggu. Sebelum dirujuk ke RSUD Kota Semarang sebelumnya
klien memeriksakan kehamilannya ke klinik karena klien merasa
rembes dan ternyata ketuban klien sudah pecah berwarna hijau
lumpur kemudian klien disuruh rujuk ke RSUD Kota Semarang.
Riwayat proses persalinan dengan persalinan spontan diinduksi
dengan presentasi kepala.
b. Riwayat bayi : tempat lahir di RSUD Kota Semarang bangsal
Srikandi, lahir tanggal 15 Oktober 2019. Jenis kelamin laki-laki
berat lahir 2340 gram, panjang badan 48 cm, lingkar kepala 30 cm,
lingkar dada 30 cm, lingkar lengan 10 cm. APGAR skor 3-4-7.
5. Riwayat Keluarga
Keluarga klien tidak ada yang memiliki penyakit menular maupun
penyakit keturunan seperti hipertensi, DM. Namun dari mbah buyut
klien dari ayah klien memiliki asam urat.
Genogram

Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
X
: Meninggal
: Pasien

6. Riwayat Penyakit Sekarang


a. Pola Nutrisi
Nutrisi
BB : 2340 gr
PB : 48 cm
LK : 30 cm
LD : 30 cm
Jenis makanan : ASI/PASI
Jumlah : 8 x 15-18 cc
Rute cairan masuk : enteral parenteral, OGT
Jenis cairan masuk : ASI + Infus D10%
b. Pola Istirahat tidur
Lama waktu tidur : 12 jam
Kualitas tidur : tidur jarang terbangun
c. Pola eliminasi
BAB/BAK : ganti popok 3 kali
Jumlah : 36 cc
Gangguan BAB/BAK : tidak ada
7. Pemeriksaan fisik
1. Penampilan umum
a. Keadaan umum : sadar, menangis, gerak aktif
b. Tanda-tanda vital :
N : 1240x/menit
S : 36,1 C
RR : 40 x/menit
SpO2 : 99 %
BB : 2340 gram
2. Kepala
a. Kepala : mesosepal, tidak ada caput succedaneum, tidak ada
hematom
b. Mata : simetris, reflek glabella positif, ada ikterik, tidak
konjungtivitis
c. Hidung : simetris, bersih, terpasang nasal kanul 0,5 lpm,
nafas cuping hidung
d. Mulut : mulut bersih, bibir lembab, terpasang OGT
e. Telinga : simetris, bersih, tidak ada benjolan
3. Dada
a. Jantung
I : tidak tampak ictus kordis
P : ictus cordis teraba di IC IV – V mid clavicula
P : pekak
A : bunyi jantung S1-S2 reguler
b. Paru-paru
I : retraksi dinding dada, pergerakan dada simetris
P : vocal vremitus seimbang kanan dan kiri
P : sonor
A : vesikuler
4. Abdomen
I : tidak ada lesi, tidak bengkak
A : bising usus 10x/menit
P : tidak ada perbesaran hepar dan limpa
P : tympani
5. Genitalia : jenis kelamin laki-laki, tidak ada kelainan pada alat vital
6. Ekstremitas
a. Ekstremitas atas : tidak ada lesi dan edema, kulit tampak
kemerahan, kulit kering, terpasang infus di tangan kanan dan
dopamin 3 mcg jalan 1,6 ml/jam dan aminophilin 1 gr jalan 1,6
ml/jam melalui syringe pump, tangan bergerak aktif
b. Ekstremitas bawah : kulit kering, tidak ada lesi dan edema,
tampak kemerahan, kaki bergerak aktif

8. Pemeriksaan penunjang
 Pemeriksaan laboratorium
Tanggal pemeriksaan : 18 Oktober 2019
NILAI
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN
RUJUKAN
Hematologi
Hemoglobin H 19 g/dL 10 – 17
Lekosit 19.5 /uL 5.0 – 21
Trombosit 156 /dL 150 – 400
Hematokrit H 53.10 % 40 – 52

Kimia Klinik
Bilirubin direk H 0.90 mg/dl 0.0 - 0.35
Bilirubin Total
Bilirubin total H 16.08 mg/dL 0.00 – 1.00
Bilirubin indirek H 15.18 mg/dL 0.0 – 0.65

Tanggal pemeriksaan : 20 Oktober 2019


NILAI
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN
RUJUKAN
Hematologi
Hemoglobin H 18,1 g/dL 10 – 17
Lekosit 14,9 /uL 5.0 – 21
Trombosit 194 /dL 150 – 400
Hematokrit H 51.50 % 41 – 52

Kimia Klinik
Bilirubin direk H 0.69 mg/dl 0.0 - 0.35

Bilirubin Total
Bilirubin total H 7.97 mg/dL 0.00 – 1.00
Bilirubin indirek H 7.28 mg/dL 0.0 – 0.65

 Pemeriksaan Baby Gram


Tanggal pemeriksaan : 15 Oktober 2019
Tampak terpasang umbilical catheter dengan ujung distal pada
paravertebra kanan setinggi V Th 11
COR : CTR 53% bentuk dan letak normal
Pulmo : Corakan vaskuler meningkat
Diafragma dan sinus costophrenicus kanan kiri normal
Udara usus normal tak tampak dilatasi dan distensi usus
Tak tampak free air
Kesan :
Letak umbilical catheter baik
COR : konfigurasi normal
Pulmo : gambaran neonatus pneumonia
Abdomen : tak tampak kelainan

 Pemeriksaan Darah Tepi


ERITROSIT : Anisositosis ringan (makrostik, normositik)
Poikilositosis ringan (ovalosit, pear shape cell, sel
target, sferosit, polikromasi (+), ditemukan eritrosit
muda/eritrosit berinti
LEUKOSIT : estimasi jumlah tampak normal
Ditemukan peningkatan jumlah segmen
netrofil(netrofilia (+), terdapat peningkatan sel-sel
immature granulositik (shift to the left), terdapat
gambaran granulasi toksik pada segmen netrofil
TROMBOSIT : estimasi jumlah tampak normal, bentuk besar (+)
dan giant
trombosit (-) didominasi trombosit dengan ukuran
normal
KESAN
1. Banyak ditemukan eritrosit muda/ eritrosit berinti
DD/ perdarahan
Infeksi/sepsis
2. Netrofilia dan Shift to the Left dan gambaran granulasi toksik
pada segmen netrofil
DD/ infeksi bakteri
SIRS/ sepsis (?)
3. Peningkatan aktifitas trombosit ( trombosit bentuk besar (+))
DD perdarahan
Infeksi
SARAN
1. Pemeriksaan fungsi hati
2. Monitoring hematologi rutin
3. Pemeriksaan faktor koagulasi
7. Terapi
Infus pump : D 10% 5 tpm
Syringe pump : Dopamin : 3 mcg→ 0,4
Aminophilin : 1 gr → 1,6
Oksigen : nasal canul 1 lpm
Injeksi :
- Ca glukonas 1,22 cc/12 jam
- Gentamicin 12 mg/24 jam
- Ampicilin 120 mg/12 jam
B. Diagnosa Keperawatan
Masalah
No Tgl/Jam Data Fokus
Keperawatan
1. 18/09/2019 DS : Ketidakefektifan pola
15.00 - nafas berhubungan
DO : dengan maturitas
- Retraksi dinding dada sistem pernafasan
- Pernafasan cuping
hidung
- O2 nassal kanul 0,5 lpm
- TTV :
N : 120 x/menit
S : 36,1 C
RR : 40 x/menit
SpO2 : 99 %
BB : 2340 gram
2. 18/09/2019 DS : Ketidakseimbangan
15.00 - nutrisi kurang dari
DO : kebutuhan tubuh
- BBL : 2340 gr berhubungan dengan
- BB saat ini : 2340 gr ketidakmampuan
- kulit kering, ada yang mencerna nutrisi
mengelupas, bintik karena imaturitas
merah dan kulit
kemerahan, tampak
kuning
- Bilirubin direk H 0.90
- Bilirubin indirek H 15,18
C. Intervensi Keperawatan

Tgl/ No Dx. Kep Tujuan Intervensi TTD


Jam
18/09/ 1 Ketidakefektifan NOC: NIC
2019 pola nafas - Status pernafasan : kepatenan Manajemen jalan nafas
15.00 berhubungan dengan jalan nafas 1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan
maturitas sistem - Pengelolaan bayi premature ventilasi
pernafasan Setelah dilakukan tindakan 2. Identifikasi pasien perlunya
keperawatan selama 3 x 24 jam pola pemasangan alat jalan nafas buatan
nafas efektif dengan kriteria hasil : 3. Keluarkan sekret dengan suction
- Nadi dalam batas normal (120- 4. Auskultasi suara nafas, catat adanya
160) suara tambahan
- Frekuensi pernafasan normal 5. Atur intake untuk cairan
(30-60) mengoptimalkan keseimbangan.
- Saturasi oksigen >85% 6. Monitor respirasi dan status O2
- Tidak ada suara nafas tambahan Monitor pernafasan
- Tidak ada pernafasan cuping 1. Monitor kecepatan, kedalaman, irama
hidung dan kesulitan bernafas
- Tidak menggunakan otot bantu 2. Monitor suara nafas tambahan
pernafasan 3. Monitor pola nafas
4. Monitor saturasi oksigen
5. Auskultasi suara nafas
18/09/ 2 Ketidakseimbangan NOC NIC
2019 nutrisi kurang dari - Status nutrisi Manajemen nutrisi
15.00 kebutuhan tubuh - Status nutrisi bayi 1. Tentukan status gizi dan kemampuan
berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan untuk memenuhi kebutuhan gizi
ketidakmampuan keperawatan selama 3 x 24 jam 2. Tentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
mencerna nutrisi nutrisi seimbang dengan kriteria dibutuhkan
karena imaturitas hasil : 3. Monitor kalori dan asupan makan
- Intake nutrisi adekuat 4. Monitor kecenderungan terjadinya
- Glukosa darah normal penurunan berat badan
- Tidak ada penurunan berat badan 5. Monitor keseimbangan cairan
D. Implementasi

Kode Respon
Tgl/
Dx. Tindakan Keperawatan TTD
Jam
Kep
18/10/2 1 dan 2 1. Mengkaji KU dan TTV klien S:
019 2. Mengganti pampers klien karena O :
klien BAB dan BAK - KU baik
3. Melakukan fototerapi sesuai program - Pasien sadar,
2x 24 jam menangis dan
4. Memberikan injeksi IV lewat infus gerak aktif
Ca glukonas 1,22 cc/12 jam TTV
Gentamicin 12 mg/24 jam - N : 134
Ampicilin 120 mg/12 jam x/menit
5. Kolaborasi pemberian diit - S : 36,2°C
Memberikan susu asi - RR : 38
x/menit
- SpO2 : 97 %
19/10/2 1 dan 2 1. Mengkaji KU dan TTV klien S:
019 2. Mengganti pampers klien karena klien O :
BAB dan BAK - KU baik,
3. Melakukan fototerapi sesuai program menangis dan
2x 24 jam gerak aktif
4. Memberikan injeksi IV lewat infus TTV
Ca glukonas 1,22 cc/12 jam N : 120 x/menit
Gentamicin 12 mg/24 jam S : 36,5°C
Ampicilin 120 mg/12 jam RR : 40 x/menit
6. Kolaborasi pemberian diit SpO2 : 99%
Memberikan susu asi
10/10/2 1 dan 2 1. Mengkaji KU dan TTV klien S:
019 2. Mengganti pampers klien karena klien O :
BAB dan BAK - KU baik,
3. Memberikan injeksi IV lewat infus menangis dan
Ca glukonas 1,22 cc/12 jam gerak aktif, reflek
Gentamicin 12 mg/24 jam hisap kuat, tidak
Ampicilin 120 mg/12 jam muntah
4. Kolaborasi pemberian diit -TTV
Memberikan susu asi N : 125 x/menit
S : 36,6°C
RR : 38 x/menit
SpO2 : 100%
Bilirubin direk
0,69
Bilirubin indirek
7,28

E. Evaluasi

Tgl/Jam Kode Evaluasi (SOAP) TTD


Dx
Kep
18/09/2019 1, 2 S:
O:
- KU baik
- Pasien sadar, menangis dan
gerak aktif
TTV
- N : 134 x/menit
- S : 36,2°C
- RR : 38 x/menit
SpO2 : 97 %
A : masalah belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
19/09/2019 1, 2 S:
O:
- KU baik, menangis dan gerak
aktif
TTV
N : 120 x/menit
S : 36,5°C
RR : 40 x/menit
SpO2 : 99%
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi
20/09/2019 1, 2 S:
O:
- KU baik, menangis dan gerak
aktif, reflek hisap kuat, tidak
muntah
-TTV
N : 125 x/menit
S : 36,6°C
RR : 38 x/menit
SpO2 : 100%
Bilirubin direk 0,69
Bilirubin indirek 7,28
A : masalah teratasi
P : hentikan intervensi