Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK

BBLR PADA AN. NY. R


DIRUANG PERINATOLOGI RSUD KRMT WONGSONEGORO
SEMARANG

JENY AYU RATRI SEMARA AGNI


P1337420919089

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN DAN


PROFESI NERS
JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2019

1
ABSTRAK

Jeny Ayu Ratrri Semara Agni


Poltekkes Kemenkes Semarang

Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500

gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang

ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir, BBLR adalah bayi baru lahir yang

berat badan saat lahir kurang dari 2500 gram. Pada pasien An. Ny R ditemukan

masalah keperawatan diagnosa yang pertama Ketidakefektifan pola makan bayi

berhubungan dengan Prematuritas, juga ditemukan masalaah keperawatan yaitu

Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Ketidakseimbangan status nutrisi.

Pada Diagnosa tersebut sudah dilakukan masing masing masalah keperawatan 5

intervensi dengan rencana tindakan 3x24 jam. Setelah dievaluasi selama

3x24jam, ketidakefektifan pola makan bayi, hdan Kerusakan integritas kulit

belum teratasi dan perawat tetap melanjutkan intervensi yang telah diberikan

sampai kondisi pasien menunjukan kriteria hasil kondisi yang diinginkan.

Kata kunci : BBLR, Pola makan bayi tidak efektif ,Nutrisi kurang dari kebutuhan

tubuh.

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................... ...1

ABSTRAK .........................................................................................................2

DAFTAR ISI ......................................................................................................3

DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................3

BAB 1. PENDAHULUAN ................................................................................4

A. Latar Belakang ..............................................................................................4

B. Web of Causation .........................................................................................5

BAB II. LAPORAN KASUS KELOLAAN ......................................................6

A. PENGKAJIAN ..............................................................................................6

B. Diagnosa Keperawatan .................................................................................17

C. Intervensi Keperawatan ................................................................................18

D. Implementasi ................................................................................................21

E. Evaluasi ........................................................................................................25

BAB III. PEMBAHASAN ................................................................................27

A. Analisa Kasus ...............................................................................................27

B. Analisa Intervensi .........................................................................................27

BAB IV. PENUTUP .........................................................................................27

A. Kesimpulan ..................................................................................................28

B. Saran .............................................................................................................28

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................29

LAMPIRAN ........................................................................................................

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat badan lahir

kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia gestasi. Berat saat lahir adalah

berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir (Damanik, 2008).

Pengukuran BBLR juga terdapat pada Pedoman Pemantauan Wilayah

Setempat (PWS) gizi. Dalam pedoman tersebut bayi berat lahir rendah (BBLR)

adalah bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2500 gram diukur pada saat

lahir atau sampai hari ke tujuh setelah lahir (Putra, 2012). Bayi berat lahir

rendah (BBLR) merupakan istilah lain untuk bayi prematur hingga tahun 1961.

Istilah ini mulai diubah dikarenakan tidak seluruh bayi dengan berat badan

lahir rendah lahir secara prematur (Manuaba et al., 2007).

World Health Organization (WHO) mengubah istilah bayi prematur

(premature baby) menjadi berat bayi lahir rendah (low birth weight) dan

sekaligus mengubah kriteria BBLR yang sebelumnya ≤ 2500 gram menjadi <

2500 gram (Putra, 2012). Klasifikasi BBLR dapat dibagi berdasarkan

derajatnya dan masa gestasinya. Berdasarkan derajatnya, menurut Meadow &

Newell, 2005. BBLR diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, antara lain :

1. Berat bayi lahir rendah (BBLR) atau low birth weight (LBW) dengan

berat lahir 1500 – 2499 gram.

2. Berat bayi lahir sangat rendah (BBLSR) atau very low birth weight

(VLBW) dengan berat badan lahir 1000 – 1499 gram.

4
3. Berat bayi lahir ekstrem rendah (BBLER) atau extremely low birth

weight (ELBW) dengan berat badan lahir < 1000 gram

B. Web Of Causation (WOC)

Terlampir

Berdasarkan bagan WOC didapatkan diagnosa keperawatan yaitu

Ketidakefektifan pola makan bayi berhubungan dengan Prematuritas, dan

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

ketidak mampuan makan.

5
BAB II
LAPORAN KASUS KELOLAAN

A. PENGKAJIAN
Tanggal Pengkajian : 18 - 10 - 2019
Tanggal Masuk : 17 – 10 - 2019
1. Data Demografi
Klien
Nama : An. Ny. R
Tanggal Lahir/Umur : 17/ 10/2019/ 3 Hari
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan :-
Agama : Islam
Suku : Jawa
Diagnosa Medis : BBLR
Orang Tua/Penanggung Jawab
Nama : Ny. R
Umur : 25 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Hub. dengan klien : Ibu

2. Riwayat Klien
a. Riwayat Keperawatan Sekarang
Bayi Ny. R lahir pada tanggal 17 Oktober 2019 pukul 12.47 di ruang
IBS RSUD KRMT Wongsonegoro lahir dengan SC. Berat lahir yaitu
2310 gram, APGAR skor 6-8-9. Lalu di rawat di ruang
Perinatologidengan diagnose medis BBLR preterm.

6
b. Riwayat Kehamilan (ANC, masalah kesehatan selama kehamilan, dll)
Orang tua klien mengatakan tidak ada gangguan ataupun keluhan
lainnya selama kehamilan. Usia kehamilan 36 minggu. Ibu klien rutin
memeriksakan kandungannya ke dokter saat hamil. Riwayat kehamila
G1P1A0.
c. Riwayat Alergi :
Klien tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat, makanan dan
minuman.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
a. Riwayat Penyakit Keluarga:
Orang tua pasien mengatakan tidak ada dikeluarganya yang
menderita sakit yang sama dengan anaknya.
b. Genogram

Keterangan :
: Laki-laki : Tinggal serumah

: Perempuan : Pasien

3. Pengkajian Fisik Khusus


a. Keadaan umum : baik
Kesadaran : Composmentis
Apgar Score : 6.8.9
b. Pemeriksaan Tanda – Tanda Vital :
Pernapasan : 40 x/menit
Suhu : 36, 6 oC

7
Nadi : 111 x/menit
SP02 : 99%
c. Nutrisi dan Cairan :
Lingkar lengan atas : 10 cm
Panjang badan : 47 cm
Lingkar kepala : 30 cm
Berat badan : 2310 kg
Jenis makanan : ASI / Susu formula
Kesulitan saat makan : Daya mengisap kurang
Kebiasaan khusus : -
Jenis makanan : ASI/PASI
Jumlah : 8 x 20 cc
Cairan
Balance cairan :+124
IWL : 22,5
Output urine : 36
Rute cairan masuk : enteral parenteral
Jenis cairan masuk : Susu formula + Infus D10%

e. Pola eliminasi
BAB/BAK : ganti popok 1 kali
Jumlah : 36 cc
Gangguan BAB/BAK : tidak ada
f. Istirahat Tidur :
- Lama waktu tidur (24 jam) : 18 jam
- Kualitas tidur : baik (rewel)
- Kebiasaan sebelum tidur : Tidak memiliki kebiasaan sebelum tidur.

8
g. Nyeri (Pengkajian Nyeri (FLACC Behavioral Scale)

KATEGORI TGL SKOR

WAJAH Tidak ada ekspresi yang khusus 0


(seperti senyum)

Kadang meringis/mengerutkan dahi, 1 √


menarik diri

Sering/terus menerus mengerutkan 2


dahi, rahang mengatup, dagu bergetar
EKSTREMITAS Posisi normal/rileks 0 √

Tidak tenang, gelisah, tegang 1

Menendang atau menarik kaki 2


GERAKAN Berbaring, tenang, posisi normal, 0 √
bergerak mudah

Mengeliat-geliat, bolak balik 1


berpindah, tegang

Posisi tubuh meringkuk 2


kaku/spasme atau menyentak
MENANGIS Tidak menangis 0

Merintih, merengek, kadang 1 √


mengeluh

Menangis tersedu-sedu, terisak- 2


isak menjerit
KEMAMPUAN Tenang dan rileks 0
DITENANGKAN
Dapat ditenangkan dengan 1 √
sentuhan, pelukan atau dapat
dialihkan
2
Sulit / tidak dapat ditenangkan
dengan pelukan, sentuhan atau
distraksi
TOTAK SKOR 3

9
h. Risiko Jatuh
SKALA RISIKO JATUH HUMPTY DUMPTY
Parameter Kriteria Nilai Skor
Usia < 3 tahun 4
3-7 tahun 3
7-13 tahun 2
≥ 13 tahun 1 4
Laki-laki 2 2
Jenis kelamin
Perempuan 1
Diagnosis neurologi 4
Diagnosis Perubahan oksigenasi (diagnosis 3 3
respiratorik, dehidrasi, anemia,
anoreksia, sinkop, pusing, dll
Gangguan perilaku/psikiatri 2
Diagnosis lainnya 1
Gangguan kognitif Tidak menyadari keterbatasan lainnya 3 3
Lupa akan adanya keterbatasan 2
Orientasi baik terhadap diri sendiri 1
Faktor lingkungan Riwayat jatuh/bayi diletakan di tempat 4
tidur dewasa
Pasien menggunakan alat bantu/bayi 3
diletakan dalam tempat tidur
bayi/perabot rumah
Pasien diletakan pada tempat tidur 2 2
Area diluar rumah sakit 1
Pembedahan/sedasi/anestesi Dalam 24 jam 3
Dalam 48 jam 2
>48 jam atau tidak menjalani 1 1
pembedahan/sedasi/anestesi
Pengguanaan medika mentosa Penggunaan multiple: sedative, obat 3
hipnosis, barbiturate, fenotiazi,
antidepresan, pencahar, diuretik,
narkose
Penggunaan salah satu obat diatas 2 2
Penggunaan medikasi lainnya/tidak ada 1
medikasi
Jumlah skor 14

By. Ny R Skor ≥12 : Resiko tinggi

10
4. Pemeriksaan fisik
a. Kepala : Mesochepal, tidak ada lesi dan benjolan , rambut
berwarna hitam.
b. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tak ada
peningkatan vena jugularis.
c. Mata : Simetris, Sklera tidak ikterik, conjuctiva anemis.
d. Hidung : Simetris, tidak ada polip.
e. Mulut : Mukosa bibir kering, tidak ada stomatitis, tidak
ada labio palato skiziz, gusi tidak berdarah, reflek hisap kurang
adekuat.
f. Telinga : Simetris, ada serumen, tak ada benjolan.
g. Integritas kulit : Kulit kering, tidak lembab
h. Dada
a. Jantung
I : tidak tampak ictus kordis
P : ictus cordis teraba di IC IV – V mid clavicula
P : pekak
A : bunyi jantung dop lop
b. Paru-paru
I : tidak ada retraksi dinding dada, pergerakan dada simetris
P : vocal vremitus seimbang kanan dan kiri
P : sonor
A : vesikuler
i. Abdomen
I : tidak ada lesi, tidak ada asites, terpasang infus umbilikal
D10 5cc
A : bising usus 8x/menit
P : tidak ada perbesaran hepar dan limpa
P : tympani
j. Genetalia : Pasien tidak terpasang kateter saat dirawat di rumah
sakit.

11
k. Ekstremitas
Ekstrimitas atas : Akral teraba hangat, tidak terdapat sianosis, tidak
ada edema, capiraly refil 2 detik,
Ekstrimitas bawah : Simetris, tidak terdapat sianosis, tidak ada edema,
capiraly refill 2 detik, tidak terpasang dc.

5. Psikososial Anak dan Keluarga


a. Respon hospitalisasi
Ibu klien tampak gelisah karena merasa khawatir anaknya sakit juga
bayi diletakan diinkubator.
b. Kecemasan
Keluarga klien cemas dengan kondisi bayinya saat ini.
c. Koping klien/keluarga dalam menghadapi masalah
Ibu dan Ayah klien sangat berharap anaknya segera sembuh. Keluarga
terbuka dengan perawat sehingga mudah untuk membantu dalam
mengintervensi pasien.
d. Pengetahuan orang tua tentang penyakit anak
Orang tua paham dengan apa yang dijelaskan dokter dan perawat
mengenai kondisi anaknya. Orang tua juga aktif bertanya tentang
tindakan dan terapi yang diberikan.
e. Keterlibatan orang tua dalam perawatan anak
Orang tua mendukung dengan kooperatif dalam intervensi
keperawatan yang diberikan pada anaknya.
f. Konsep diri
Pasien merupakan seorang anak laki-laki berumur 3 hari.
g. Spiritual
Pasien lahir dari keluarga dengan kepercayaan yaitu agama islam.
Keluarga pasien dapat menjalankan kewajiban pada agamanya yaitu
sholat wajib 5 waktu.

12
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium
Tanggal : 17 Oktober 2019
NILAI
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN
RUJUKAN
Hematologi
Hemoglobin 17.8 g/dL 14-24
Lekosit 17.0 10^3/uL 30-60
Trombosit 326 10^3/dL 9.4-34
Hematokrit 51.70 % 40-56

Elektrolit
Natrium 138.0 135.0-147.0
Kalium 4.30 3.50-5.0
Calsium 1.28 1.00-7.5

7. Terapi

Infus D10 5 cc
Injeksi :
 Ampicilin 2x120 mg/12jam
 Gentamicin 1x12mg/ 24ja
 Aminosteril 2gr/jam
 Ca Gloco 1,2cc/12jam
 Dopamin 3 meq
Per oral :
 ASI/ Susu formula 6x5cc

13
B. Analisa Data

No Tgl/Jam Data Fokus Masalah Keperawatan


1. 18/10/2019 DO : Ketidakefektifan pola makan bayi
- BB = 2310 gr berhubungan dengan Prematuritas
- Daya hisap tidak
adekuat
2. 18/10/2019 DO : Kerusakan integritas kulit
- Akral hangat berhubungan dengan
- Kulit kering Ketidakseimbangan status nutrisi

14
C. Intervensi Keperawatan
Tgl/ No Dx. Kep Tujuan Intervensi TTD
Jam
10/10/ 1 Ketidakefektifan pola NOC: (Pemberian Melalui Cangkir : NIC : (Pengisapan Non Nutrisi 6900)
2019 makan bayi Bayi (1018) ) 1. Pilih dot/cangkir yang lembut yang memenuhi
berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan standar untuk mencegah sumbatan jalan napas
Prematuritas keperawatan selama 3 x 24 jam 2. Gunakan dot yang sudah dibersihkan atau
Ketidakefektifan pola makan bayi disterilkan setiap hari.
pada klien berkurang atau hilang 3. Taruh dot yang dapat ditoleransi bayi pada
dengan lidah bagian depan
Kriteria Hasil : 4. Posisikan ibu jari dan telunjuk dibawah
- Memberikan bayi kesempatan mandibula bayi untuk membantu reflex
untuk menjilat atau menghisap menghisap.
ASI maupun susu formula 5. Usap pipi bayi dengan lembut untuk
- Terdengar menelan menstimulasi reflek menghisap
- Mendapatkan nutrisi perhari 6. Informasikan orang tua pentingnya memenuhi
- Peningkatan beratbadan sesuai kebutuhan menghisap bayi
usia
2 Kerusakan integritas NOC : (Status Nutrisi 1004) NIC : (Terapi Nutrisi 1120)
kulit berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Monitor intake makanan/cairan sesuai
dengan selama 3 x 24 jam masalah Kerusakan kebutuhan.
Ketidakseimbangan integritas kulit teratasi dengan 2. Monitor intruksi diet yang sesuai untuk
status nutrisi Kriteria Hasil : memenuhi kebutuhan pasien
1. Asupan gizi 3. Berikan nutrisi yang dibutuhkan sesuai batas
2. Asupan makanan diet yang dianjurkan
3. Asupan cairan 4. Hentikan pemberian makanan melalui selang
4. Rasio berat badan makanan begitu pasien mampu mentoleransi
asupan melalui oral.

15
D. Implementasi

Tgl/Jam Kode Dx. Kep Tindakan Keperawatan Respon TTD

1 1. Menyiapkan cangkir yang sudah DO : Klien tampak tenang


disterilkan.

2. Memberikan susu dengan cara menaruh DO : Klien tampak tenang


cangkir yang dapat ditoleransi bayi pada
lidah bagian depan

3. Memposisikan ibu jari dan telunjuk DO: Klien hanya dapat menelan
dibawah mandibula bayi untuk
membantu reflex menghisap.
DO : Klien masih belum bisa menghisap
4. Mengusap pipi bayi dengan lembut
untuk menstimulasi reflek menghisap
DO : Keluarga klien belum datang untuk
5. Menginformasikan orang tua pentingnya menemui bayinya.
memenuhi kebutuhan menghisap bayi
2 1. Memonitor intake makanan/cairan DO : Klien hanya diberi susu formula
sesuai kebutuhan.

DO : Klien diberi susu formula sesuai diet


2. Memonitor intruksi diet sesuai yang dianjurkan
kebutuhan pasien
DO: Klien mendapatkan diet susu formula
3. Memberikan nutrisi yang dibutuhkan sebanyak 15-20cc/3jam
sesuai batas diet yang dianjurkan
DO : OGT klien sudah dilepas

16
4. Hentikan pemberian makanan melalui
selang makanan begitu pasien mampu
mentoleransi asupan melalui oral.
1 1. Menyiapkan cangkir yang sudah DO : Klien tampak tenang
disterilkan.

2. Memberikan susu dengan cara menaruh DO : Klien tampak tenang


cangkir yang dapat ditoleransi bayi pada
lidah bagian depan

3. Memposisikan ibu jari dan telunjuk DO: Klien hanya dapat menelan
dibawah mandibula bayi untuk membantu
reflex menghisap.
DO : Klien mulai dapat bisa menghisap
4. Mengusap pipi bayi dengan lembut untuk pelan-pelan
menstimulasi reflek menghisap
DS : Ibu klien mengatakan bersedia untuk
5. Menginformasikan orang tua pentingnya diberikan informasi tentang bagaimana
memenuhi kebutuhan menghisap bayi menyusui yang benar.

DO : Ibu klien tampak paham

2 1. Memonitor intake makanan/cairan DO : Klien hanya diberi susu formula


sesuai kebutuhan.

2. Memonitor intruksi diet sesuai DO : Klien diberi susu formula sesuai diet
kebutuhan pasien yang dianjurkan

3. Memberikan nutrisi yang dibutuhkan DO: Klien mendapatkan diet susu formula

17
sesuai batas diet yang dianjurkan sebanyak 15-20cc/3jam

1 1. Menyiapkan cangkir yang sudah DO : Klien tampak tenang


disterilkan.

2. Memberikan susu dengan cara menaruh DO : Klien tampak tenang


cangkir yang dapat ditoleransi bayi pada
lidah bagian depan

3. Memposisikan ibu jari dan telunjuk DO: Klien hanya dapat menelan
dibawah mandibula bayi untuk
membantu reflex menghisap.
DO : Klien mulai dapat bisa menghisap
4. Mengusap pipi bayi dengan lembut dengan baik
untuk menstimulasi reflek menghisap

2 1. Memonitor intake makanan/cairan DO : Klien hanya diberi susu formula


sesuai kebutuhan.

2. Memonitor intruksi diet sesuai DO : Klien diberi susu formula sesuai diet
kebutuhan pasien. yang dianjurkan

DO: Klien mendapatkan diet susu formula


3. Memberikan nutrisi yang dibutuhkan sebanyak 15-20cc/3jam
sesuai batas diet yang dianjurkan

18
E. Evaluasi
Tgl/Jam Kode Dx Evaluasi (SOAP) TTD
Kep
01 S:
O : Klien belum dapat menghisap (daya mengisap tidak adekuat), BB = 2310 gr
A : masalah belum teratasi (Ketidakefektifan pola makan bayi)
P : lanjutkan intervensi
1. Menyiapkan cangkir yang sudah disterilkan.
2. Memberikan susu dengan cara menaruh cangkir yang dapat ditoleransi
bayi pada lidah bagian depan
3. Memposisikan ibu jari dan telunjuk dibawah mandibula bayi untuk
membantu reflex menghisap.
4. Mengusap pipi bayi dengan lembut untuk menstimulasi reflek
menghisap
5. Menginformasikan orang tua pentingnya memenuhi kebutuhan
menghisap bayi

02 S:
O : Kulit kering, akral hangat, Klien mendapatkan diet susu formula sebanyak
15-20cc/3jam
A : masalah teratasi sebagian (Kerusakan integritas kulit)
P : lanjutkan intervensi
1. Memonitor intake makanan/cairan sesuai kebutuhan.

19
2. Memonitor intruksi diet sesuai kebutuhan pasien
3. Memberikan nutrisi yang dibutuhkan sesuai batas diet yang dianjurkan
4. Hentikan pemberian makanan melalui selang makanan begitu pasien
mampu mentoleransi asupan melalui oral.
01 S:
O : Klien mulai dapat bisa menghisap pelan-pelan, BB ; 2310gr
A : masalah belum teratasi (Ketidakefektifan pola makan bayi)
P : lanjutkan intervensi
1. Menyiapkan cangkir yang sudah disterilkan.
2. Memberikan susu dengan cara menaruh cangkir yang dapat ditoleransi
bayi pada lidah bagian depan
3. Memposisikan ibu jari dan telunjuk dibawah mandibula bayi untuk
membantu reflex menghisap.
4. Mengusap pipi bayi dengan lembut untuk menstimulasi reflek
menghisap
02 S:
O : Kulit kering, Klien mendapatkan diet susu formula sebanyak 15-20cc/3jam
A : masalah teratasi sebagian (Kerusakan integritas kulit)
P : lanjutkan intervensi
1. Memonitor intake makanan/cairan sesuai kebutuhan.
2. Memonitor intruksi diet sesuai kebutuhan pasien
3. Memberikan nutrisi yang dibutuhkan sesuai batas diet yang dianjurkan

20
01 S:
O : Klien mulai dapat bisa menghisap pelan-pelan, BB ; 2310gr
A : masalah belum teratasi (Ketidakefektifan pola makan bayi)
P : lanjutkan intervensi
1. Menyiapkan cangkir yang sudah disterilkan.
2. Memberikan susu dengan cara menaruh cangkir yang dapat ditoleransi
bayi pada lidah bagian depan
3. Memposisikan ibu jari dan telunjuk dibawah mandibula bayi untuk
membantu reflex menghisap.
4. Mengusap pipi bayi dengan lembut untuk menstimulasi reflek
menghisap
02 S:
O : Kulit masih kering, Klien mendapatkan diet susu formula sebanyak 15-
20cc/3jam
A : masalah teratasi sebagian (Kerusakan integritas kulit)
P : lanjutkan intervensi
1. Memonitor intake makanan/cairan sesuai kebutuhan.
2. Memonitor intruksi diet sesuai kebutuhan pasien
3. Memberikan nutrisi yang dibutuhkan sesuai batas diet yang dianjurkan

21
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Analisa Kasus
Bayi Ny. S lahir pada tanggal 17 Oktober 2019 pukul 12.47. di ruang IBS
RSWN lahir dengan SC. Berat lahir yaitu 2310 gram, panjang badan 47
cm, lingkar kepala 30 cm, lingkar dada 37 cm APGAR skor 6-8-9. Lalu di
rawat di ruang Perinatologi karena BBLR preterm. Riwayat kehamilan ibu
G1P1A0, Pasien merupakan anak kehamilan pertama dengan usia
kehamilan 36 minggu. Bayi lahir BBLR preterm (berat bayi lahir rendah
dan kehamilan kurang minggu(<37 minggu)). Sehingga terjadi imaturitas
organ-organ tubuhnya yang menyebabkan pola sucking yang tidak
adekuat..
Dalam kasus ini diambil diagnose keperawatan Ketidakefektifan pola
makan bayi berhubungan dengan Prematuritas dan Kerusakan integritas
kulit berhubungan dengan Ketidakseimbangan status nutrisi.
B. Analisa Intervensi Keperawatan
Berdasarkan buku NIC intervensi untuk diagnose Ketidakefektifan pola
makan bayi adalah Mengusap pipi bayi dengan lembut untuk menstimulasi
reflek menghisap, dan intervensi untuk diagnosa Kerusakan integritas kulit
adalah Memberikan nutrisi yang dibutuhkan sesuai batas diet yang
dianjurkan.
Tindakan yang telah dilakukan pengusapan pipi bayi dengan lembut untuk
menstimulasi reflek menghisap. Menurut beberapa jurnal terapi stimulasi
oral dapat meningkatkan reflek hisap pada bayi dengan berat lahir rendah
(BBLR).

22
DAFTAR PUSTAKA

Black Hawk (2005) Medical Surgical Nursing : Clinical Management for Positive
Outcome, 8 ed, St. Missouri: elsevier Sounders

Sholiha, H. & Sumarmi, S. 2015. Analisis Risiko Kejadian Berat Bayi Lahir
Rendah (BBLR) pada Primigravida. Media Gizi Indonesia Vol. 10 No 1

Kozier dkk. 2010. Buku Ajar Fundamental Keperawatan; Konsep, Proses, dan
Praktik, Ed. 7. Vol 2. Alih bahasa Pamilih Eko Karyuni. Jakarta : EGC

Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosis Keperawatan: Difinisi Dan Klasifikasi


2012-2014/Editor,T. Heather Herdman; Alih Bahasa, Made Suwarwati Dan Nike
Budhi Subekti. Jakarta: EGC.

Huda, Nuratif dan Hardhi Kusuma. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa NANDA NIC-NOC. Jakarta: Media Action.

Ribek, Nyoman dkk. 2011. Aplikasi Perawatan Bayi Resiko Tinggi Berdasarkan
Kurikulum Berbasis Kompetensi Program Keperawatan: Digunakan Sebagai
Bahan Pembelajaran Praktek Klinik dan Alat Uji Kompetensi. Denpasar:
Poltekkes Denpasar Jurusan Keperawatan.

Wong, D.L,dkk. 2008. Pedoman Klinik Keperawatan Pediatrik. Jakarta. Buku


Kedokteran.

23