Anda di halaman 1dari 9

Kata pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin


masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

1
DAFTAR ISI
Kata Pengantar……………………………………………………………………............... 1
Daftar Isi………………………………………………………………………………........ 2

Bab I
Pendahuluan……………………………………………………………………................. 3
a. Rumusan Masalah………………………………………………………………. 3
b. Tujuan…………………………………………………………………………… 3
c. Manfaat…………………………………………………………………………. 3

Bab III
Pembahasan……………………………………………………………………..………… 4
1. Pengertian politik etis………………...………………………………...……...... 4
2. Latar belakang politik etis………………………..………...………………........ 4
3.tujuan politik etis………………………………… ………...……………….........
6
4. Pendukung politik etis……………………………………………………........... 6
5.penyimpangan politik etis………………. ………….………………………........ 7
6. Dampak politik etis……………..…………..……………………………............ 7
7. Kegagalan politik etis………………….…………………………………........... 8

Bab IV
Penutup…………………………………………………………………………………...... 9
Kesimpulan………………………………………………………………….......... 9
Daftar Pustaka………………………………………………………………........................10

2
Bab I
Pendahuluan

A. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari politik etis?
2. Apa latar belakang terjadinya politik etis?
3. Apa tujuan dari adanya politik etis?
4. Siapa saja pendukung politis etis?
5. Apa saja penyimpangan –penyimpangan dari politik etis?
6. Apa dampak adanya politik etis bagi bangsa Indonesia?
7. Apa yang menyebabkan politik etis mengalami kegagalan?

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari politik etis.
2. Untuk mengetahui latar belakang terjadinya politik etia.
3. Untuk mengetahui tujuan dari politik etis.
4. Untuk mengetahui pendukung politis etis.
5. Untuk mengetahui penyimpangan-penyimpangan dari politik etis.
6. Untuk mengetahui dampak dari politik etiss.
7. Untuk mengetahui penyebab kegagalan politi etis.

C. Manfaat
Manfaat pembuatan makalah ini yaitu untuk menamabah pengetahuan kita
tentang POLITIK ETIS.

Bab II

3
Pembahasan

A. Pengertian Politik Etis


Politik etis atau politik balas budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa
pemerintah kolonial memegang tanggung jawabmoral bagi kesejahteraan pribumi,
pemikiran ini merupakan kritik terhadap politk tanam paksa yang menyengsarakan
pribumi, atau dalam kata lain politik etis adalah sikap hutang budi dari pihak Belanda
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

B. Latar Belakang Terjadinya Politi Etis


Munculnya politik etis dilatarbelakangi oleh hal-hal berikut :
1. Pelaksanaan sistem tanam paksa yang menguntungkan Belanda, tetapi menimbulkan
penderitaan rakyat Indonesia telah menggungah hati nurani sebagian orang Belanda.
2. Eksploitasi terhadap tanah dan penduduk Indonesia dengan sistem ekonomi liberal
tidak mengubah nasib buruk rakyat pribumi. Sementara itu, kaum kapitalis dari
Belanda, Inggris, Amerika, Belgia, Cina, dan Jepang memperoleh keuntungan yang
sangat besar.
3. Upaya Belanda untuk memperkokoh pertahanan negeri jajahan dilakukan dengan cara
penekanan dan penindasan terhadap rakyat. Rakyat kehilangan hak miliknya yang
utama yaitu tanah. Bahkan, industry tanah pun terdesak. Karena penderitaan itu,
timbullah golongan yang sama sekali tidak mempunyai tanah. Mereka termasuk
dalam golongan buruh yang bekerja pada perkebunan, pabrik, dan tambang.
4. Adanya kritik dari kaum intelektual Belanda sendiri (Kaum Etis) terhadap praktik
liberal kolonial, seperti Van Kol, van Deventer, de Waal, Baron van Hoevell, dan Van
den Berg.
a. Van Kol : sebagai guru bicara golongan sosialis, melancarkan kritik terhadap keadaan
yang serba merosot di Indonesia karena terus-terusan diterapkan politik drainage
(penghisapan) kekayaan oleh pemerintah Belanda dan tidak dibelanjakan di
Indonesia.
b. Van Deventer : pada tahun 1899 dalam artikelnya pada majalah De Gids berjudul Een
Eereschuld (tentang kehormatan) menuliskan bahwa jutaan gulden yang diperoleh
dari Indonesia sebagai Hutang Kehormatan.

Pembayaran hutang tersebut dapat dilakukan dengan tiga cara yang dikenal dengan trilogi
van deventer yaitu :

4
1. Edukasi (Pendidikan)
Pendidikan diberikan di sekolah kelas satu kepada anak-anak pegawai negeri
dan orang-orang yang berkedudukan atau berharta. Pada 1903 terdapat 14 sekolah
kelas satu di ibukota karesidenan dan ada 29 di ibukota Afdeling. Mata pelajarannya,
yaitu membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, ilmu alam, sejarah, dan menggambar.
Pendidikan kelas dua dikhususkan untuk anak-anak pribumi golongan bawah. Pada
1903, di Jawa dan Madura sudah terdapat 245 sekolah kelas dua negeri dan 326
sekolah Fartikelir, di antaranya 63 dari Zending. Adapun jumlah muridnya pada 1892
ada 50.000, pada 1902 ada 1.623 anak pribumi yang belajar pada sekolah Eropa.
Untuk menjadi calon pamong praja ada tiga sekolah Osvia, masing-masing di
Bandung, Magelang, dan Probolinggo. Sedangkan, nama-nama sekolah untuk anak-
anak Eropa dan anak kaum pribumi adalah sebagai berikut.
 HIS (Hollandsch Indlandsche School) setingkat SD
 MULO (Meer Uitgebreid Lagare Onderwijs) setingkat SMP
 AMS (Algemeene Middlebare School) setingkat SMU
 Kweek School (Sekolah Guru) untuk kaum bumi putra
 Technical Hoges School (Sekolah Tinggi Teknik) di Bandung. Pada 1902,
didirikan sekolah pertanian di Bogor (sekarang IPB).
2. Irigasi (Pengairan)
Sarana vital bagi pertanian adalah pengairan dan oleh pihak pemerintah telah
dibangun sejak 1885. Bangunan-bangunan irigasi Berantas dan Demak seluas 96.000
bau, pada 1902 menjadi 173.000 bau. Dengan irigasi tanah pertanian akan menjadi
subur dan produksinya bertambah.
3. Transmigrasi (Perpindahan Penduduk)
Dengan transmigrasi tanah-tanah di luar Jawa yang belum diolah menjadi
lahan perkebunan, akan dapat diolah untuk menambah penghasilan. Selain itu juga
untuk mengurangi kepadatan penduduk Jawa. Pada 1865 jumlah penduduk Jawa dan
Madura 14 juta. Pada 1900 telah berubah menjadi dua kali lipat. Pada awal abad ke-
19 terjadi migrasi penduduk dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sehubungan dengan
adanya perluasan perkebunan tebu dan tembakau, migrasi penduduk dari Jawa ke
Sumatra Utara karena adanya permintaan besar akan tenaga kerja perkebunan di
Sumatra Utara, terutama ke Deli, sedangkan ke Lampung mempunyai tujuan untuk
menetap.
c. De Waal : memperhitungkan bahwa sejak VOC hingga zaman ekonomi liberal (1884)
rakyat Indonesia berhak mendapatkan 528 gulden dari Belanda. Bahkan apabila
dihitung dengan bunganya maka akan menjadi 1585 juta gulden.
d. Baron van hoevell : seorang pendeta prostestan yang secara berapi-api meminta
perbaikan nasib rakyat Indonesia dan disidang parlemen.
5
C. Tujuan Politik Etis
Tujuan politik etis adalah memajukan tiga bidang yakni edukasi dengan
menyelenggarakan pendidikan, Irigasi dengan membangun sarana dan jaringan pengairan,
dan juga Transmigrasi/ imigrasi dengan mengorganisasi perpindahan penduduk.
Politik etis yang dilaksanakan Belanda dengan melakukan perbaikan bidang irigasi,
pertanian, transmigrasi, dan pendidikan, sepintas kelihatan mulia. Namun di balik itu,
tujuan dari program-program ini dimaksudkan untuk kepentingan Belanda sendiri.

D. Pendukung Politik Etis


Pendukung Politik Etis usulan Van Deventer adalah sebagai berikut.
 P. Brooshoof, redaktur surat kabar De Lokomotif, yang pada tahun 1901 menulis buku
berjudul De Ethische Koers In de Koloniale Politiek (Tujuan Ethis dalam Politik
Kolonial).
 Holle, banyak membantu kaum tani.
 Van Vollen Hoven, banyak memperdalam hukum adat pada beberapa suku bangsa di
Indonesia.
 Abendanon, banyak memikirkan soal pendidikan penduduk pribumi.
 Leivegoed, seorang jurnalis yang banyak menulis tentang rakyat Indonesia.
 Van Kol, banyak menulis tentang keadaan pemerintahan Hindia Belanda.
 Douwes Dekker (Multatuli), dalam bukunya yang berjudul Max Havelaar berisi
kritikan terhadap pelaksanaan tanam paksa di Lebak, Banten.

E. Penyimpangan-Penyimpangan politi Etis


Pada dasarnya kebijakan-kebijakan yang diajukan oleh van Deventer tersebut baik. Akan
tetapi dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh para
pegawai Belanda. Berikut ini penyimpangan penyimpangan yang terjadi pada penerapan
politik Etis yaitu
1. Irigasi.
Irigasi atau pengairan hanya ditujukan kepada tanah-tanah yang subur untuk
perkebunan swasta Belanda. Sedangkan milik rakyat tidak dialiri air dari irigasi.
2. Edukasi.
Pemerintah Belanda membangun sekolah-sekolah. Pendidikan ditujukan untuk
mendapatkan tenaga administrasi yang cakap dan murah. Pendidikan yang dibuka
untuk seluruh rakyat, hanya diperuntukkan kepada anak-anak pegawai negeri dan
orang-orang yang mampu. Terjadi diskriminasi pendidikan yaitu pengajaran di

6
sekolah kelas I untuk anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang berharta, dan
di sekolah kelas II kepada anak-anak pribumi dan pada umumnya.
3. Migrasi.
Migrasi ke daerah luar Jawa hanya ditujukan ke daerah-daerah yang dikembangkan
perkebunan-perkebunan milik Belanda. Hal ini karena adanya permintaan yang besar
akan tenaga kerja di daerah-daerah perkebunan seperti perkebunan di Sumatera Utara,
khususnya di Deli, Suriname, dan lain-lain. Mereka dijadikan kuli kontrak. Migrasi ke
Lampung mempunyai tujuan menetap. Karena migrasi ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan akan tenaga kerja, maka tidak jarang banyak yang melarikan diri. Untuk
mencegah agar pekerja tidak melarikan diri, pemerintah Belanda mengeluarkan
Poenale Sanctie, yaitu peraturan yang menetapkan bahwa pekerja yang melarikan diri
akan dicari dan ditangkap polisi, kemudian dikembalikan kepada
mandor/pengawasnya.

F. Dampak Politik Etis Bagi Bangsa Indonesia


1. Pembangunan infrastruktur seperti pembangunan rel kereta api yang memperlancar
perpindahan barang dan manusia
2. Pembangunan infratruktur pertanian dalam hal ini bendungan yang nantinya
bermanfaat bagi pengairan.
3. Berdirinya sekolah-sekolah antara lain, Hollandsch Indlandsche School(HIS)
setingkat SD untuk kelas atas dan yang untuk kelas bawah dibentuk sekolah kelas
dua, Meer Uitgebreid Lagare Onderwijs (MULO) setingkat SMP, Algemeene
Middlebare School (AMS) setingkat SMU, Kweek School (Sekolah Guru) untuk
kaum bumi putra dan Technical Hoges School (Sekolah Tinggi Teknik), School Tot
Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA) sekolah kedokteran.
4. Adanya berbagai sekolah mengakibatkan munculnya kaum terpelajar atau
cendikiawan yang nantinya menjadi pelopor Pergerakan Nasional seperti contoh
Soetomo mahasiswa STOVIA mendirikan organisasi Budi Utomo.

G. Kegagalan Politik Etis

Reaksi terhadap pelaksanaan politik etis mulai muncul pada tahun 1914.Masyarakat
mulai bergolak dan banyak melancarkan kritik terhadap politik etis yang dianggap telah
gagal. Kegagalan tersebut Nampak dalam kenyataan-kenyataan sebagai berikut :

1. Sejak pelaksanaan sistem politik ekonomi liberal Belanda mendapatkan


keuntungan yang sangat besar sekali, sedangkan tingkat kesejahteraan rakyat
pribumi masih tetap rendah.

7
2. Hanya sebagian kecil kaum pribumi yang memperoleh keuntungan dan
kedudukan yang baik dalam masyarakat colonial yaitu golongan pegawai negeri.
3. Pegawai negeri dari golongan pribumi hanya digunakan sebagai alat saja sehingga
dominasi bagsa Belanda tetap saja sangat besar.

Bab IV
Penutup

Kesimpulan
Lahirnya Politik Etis di karenakan Belanda ingin membalas budi pada bangsa
Indonesia yang telah banyak memberikan hasil kekayaan alam dan tenaga masyarakat
pribumi untuk Belanda.Politik Etis di prakarsai oleh Van Deventer yang prihatin terhadap
nasib rakyat Indonesia yang kekayaan alamnya sudah banyak di ambil oleh Belanda.Isi
Politik Etis ada tiga yaitu, pendidikan, pengairan, perpindahan penduduk, yang di dasarkan
untuk menciptakan sumber daya manusia yang lebih baik di Indonesia.Politik Etis tidak
semata-mata untuk bangsa Indonesia, tetapi juga untuk Belanda.Karena dari politik etis
terciptanya golongan terpelajar yang dapat di pergunakan oleh Belanda untuk di jadikan
pegawai, dan hasil pertanian yang di lakukan oleh rakyat pribumi di ambil oleh Belanda.Jadi
politik etis hanya penghalus dari kata tanam paksa.

8
Daftar Pustaka

www.guruips.com
www.donisetyawan.com