Anda di halaman 1dari 2

*BUDAYA MINANGKABAU SEBAGAI BENTENG*

Emeraldy Chatra Dt R Malano

Mengapa LGBT meruyak di Ranah Minangkabau? Mengapa sampai 63.000 orang


Sumbar yang notabene sebagian besar adalah orang Minangkabau menjadi
konsumen narkoba?

Mengapa feminisme dan kesetaraan gender diterima kaum perempuan


Minangkabau? Mengapa orang Minangkabau tidak protes ketika demokrasi
Pancasila bergeser menjadi demokrasi liberal?

Mengapa pula sekarang banyak perempuan Minangkabau membenci poligami,


sementara di sisi lain banyak yang berzina dan menjadi pelacur?

Semua pertanyaan panjang itu kalau disingkat cukup jadi satu pertanyaan:
_mengapa orang Minangkabau menerima begitu saja ide-ide yang datang dari
luar padahal ide-ide itu sangat merusak?_

Sebenarnya itulah pertanyaan dasar yang ingin saya kemukakan dalam diskusi
perdana Komunitas Kato Babega, Jumat 28 September 2018 lalu. Tapi setelah
saya evaluasi ternyata tidak semuanya tersampaikan dengan utuh.

Hasrat saya mendorong orang Minangkabau untuk membangun kembali


kebudayaannya sama sekali tidak mengandung romantisme masa lalu. Masa lalu
biarlah jadi milik orang yang hidup di masa lalu pula. Masa sekarang adalah
tanggung jawab kita, dan budaya Minangkabau hari ini tidak musti sama persis
dengan budaya Minangkabau pada masa lalu.

_Sakali aia gadang, sekali tapian baraliah_

Budaya Minangkabau itu niscaya akan berubah karena setiap generasi memiliki
cara pandangnya sendiri terhadap hidup dan kehidupan. Mereka punya
perspektif yang berbeda dalam menatap lingkungan.

Masalahnya, kemana perubahan itu berjalan? Perubahan total atau perubahan


bagian tertentu saja? Perubahan prinsip atau hanya perubahan interpretasi?

Perubahan total sama saja maknanya dengan penghancuran atau pemusnahan.


Perubahan sebagian, yang hanya menyisakan elemen dasar kebudayaan disebut
revitalisasi, rekonstruksi, evolusi, dsb.

Dalam konteks budaya Minangkabau, apakah penghancuran atau revitalisasi


yang terjadi? Tengok elemen paling dasar budaya Minangkabau: 1) kolektivitas,
2) kepemimpinan penghulu, 3) harta bersama dan 4) pewarisan kekayaan
kolektif menurut garis ibu (matrilineal).

Saya melihat semuanya sedang menuju kemusnahan.

Jadi _sakali aia gadang_ bukan hanya menyebabkan _tapian baraliah_ saja, tapi
sungainya sekalian berubah jalur.

Apa artinya kehancuran sebuah budaya? Budaya dibangun bukan sekedar untuk
menunjukkan identitas. Bukan sebagai penanda layaknya KTP. Tapi sebagai jalan
bagi sebuah komunitas untuk melindungi kepentingan-kepentingannya.

Oleh sebab itu entitas kebudayaan selalu membangun struktur sosial dan
menentukan cara dalam mewariskan nilai dasar kebudayaannya. Komunitas akan
tetap kuat sepanjang elemen dasar budaya mereka tidak hancur.

Budaya dibangun dengan ide-ide. Dari pemikiran. Dengan kekuatan elemen


kognisi yang menimbang keadaan sampai ke masa depan. Pendeknya, budaya
dibangun dengan pemikiran dengan kesadaran penuh.

Kehancuran budaya pun dimulai dari ide-ide. Tapi penghancuran budaya secara
internal terjadi karena dominasi pemikiran permukaan, pemikiran tanpa
kesadaran yang mendalam. Pemikiran yang tidak menimbang buruk baik secara
sempurna. Pemikiran yang bertumpu pada afeksi. Pada kenikmatan-kenikmatan
sesaat.

Orang luar dari komunitas kebudayaan pun – khususnya komunitas tertentu di


tingkat global -- menghancurkan budaya lain dengan ide-ide. Tentu ide yang
merusak, yang membuat konflik di lingkungan internal target. Ide yang merusak
itu biasanya yang mengakomodasi selera rendah. Manusia seringkali kalah
menghadapi godaan selera rendah.