Anda di halaman 1dari 12

STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

ANATOMI AKAR

Disusun Oleh :

Kelompok 3 :

1. Dina Safitri F1D018003

2. Ade Rahayu Sri Lestari F1D018009

3. Naufal Hamid F1D018023

4. Ida Nuraeni F1D018025

5. Navhasa F1D018027

Dosen Pengampu : Evelyn Riandini, S.Si, M.Si.

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BENGKULU
2019
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Semua tumbuhan berpembuluh (vaskular) mempunyai akar, karena akar merupakan


bagian bawah dari sumbu tanaman yang biasanya berkembang dibawah permukaan tanah, tidak
berklorofil dan mempunyai bulu akar yang uniseluler. Meskipun ada juga akar yang berkembang
diluar tanah bergantung dari fungsi akar tersebut (Savitri, 2008).

Akar pertama pada tumbuhan berbiji berkembang dari meristem apeks diujung akar
embrio dalam biji yang berkecambah. Pada Gymnospermae dan dikotil, akar tersebut
berkembang dan membesar menjadi akar tunggang. Sedangkan pada monokotil, akar primer
tidak bertahan lama dalam kehidupan tanaman dan segera mengering. Kemudian dari dekat
pangkal akar primer tersebut akan tumbuh akar baru yang disebut sebagai akar tambahan atau
akar adventif. Keseluruhan akar adventif itu disebut juga akar serabut (Tjitrosoepomo, 1983).

1.2 Tujuan

1. Untuk mengetahui macam-macam jaringan penyusun akar primer dan sekunder.


2. Untuk mengetahui perbandingan antara jaringan penyusun akar dikotil dan monokotil
3. Untuk mengetahui tipe berkas pengangkut, tipe stele, periderm, dan struktur anomali
pertumbuhan sekunder akar.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Morfologi dan Struktur Akar


Menurut Weier, Stoeking dan Barbour (1974) Root berasal dari kata Rot bahasa
Anglosaxon (Inggris). Root is the descending axis of a plant, artinya akar adalah poros tanaman
yang arah geraknya ke bawah (Agustina. 2004).
Tiga fungsi utama akar bagi tanaman adalah alat pertautan tanaman ke tanah, alat
penyalur larutan nutrisi dari tempat sarapan ke organ lain tanaman. Fungsi tambahannya adalah
tempat aktivitas metabolik, misalnya: respirasi, tempat penyimpanan bahan cadangan makanan,
misalnya kabohidrat, tempat penghasil fitohormon, misalnya sitokinin(Agustina. 2004)
Secara umum, tanaman tingkat tinggi mempunyai empat bagian penting akar, yaitu
a) akar utama atau akar primer,
b) akar lateral atau akar sekunder atau akar cabang,
c) rambut atau bulu akar, dan
d) tudung akar (Hidayat, 1995).

2.2 Macam Akar

Keragaman bentuk dan struktur akar sering terkait dengan fungsinya. Menurut Tjitrosoepomo,
2005 dikenal juga beberapa jenis akar yang dibedakan secara morfologi sebagai berikut :

1. Akar gantung (radix aerous) :Akar ini keluar dan menggantung di atas tanah dan arah
tumbuhnya ke dalam tanah. Dapat ditemukan pada Beringin (Ficus benjamina).
2. Akar penghisap (haustorium): Terdapat pada tumbuhan yang bersifat parasit dan
berfungsi untuk menyerap zat makanan dari inangnya. Dapat ditemukan pada Endak
cacing (Cuscutha aus R. Br.)
3. Akar pelekat (radics adligans) : Akar yang keluar dari buku-buku batang tumbuhan
memanjat. Dapat ditemukan pada Lada (Piper nigrum L.)
4. Akar pembelit (cirhus radicalis) : Sama halnya akar pelekat akan tetapi dengan memeluk
penunjangnya. Dapat ditemukan pada Panili (Vanilla planifolia Andr)
5. Akar nafas (pneumatophora) : Merupakan cabang akar yang tumbuh tegak lurus muncul
ke permukaan tanah. Dapat ditemukan pada Kayu api (avicennia)
6. Akar tunjang : Akar yang tumbuh dari bagian bawah batang yang seakan menunjang
batang tersebut. Dapat ditemukan pada Pandan (Pandanus tectorious Sol.)
7. Akar lutut : Bagian akar yang tumbuh ke atas kemudian membengkok masuk ke dalam
tanah. Dapat ditemukan pada Tanjang (Bruguiera parvifolia w. et A.)
8. Akar banir : Berbentuk seperti papan untuk memperkokoh batang yang umumnya pada
pohon berukuran besar. Dapat ditemukan pada Kenari (Canarium commune L.).

Secara ontogeni (asal terbentuknya), akar dibedakan menjadi dua jenis yaitu :

1. Akar primer, berkembang dari radikula (akar utama yang tumbuh dari biji)
2. Akar adventif, berkembang dari bagian lain dari tumbuhan (misalnya pada batang, daun,
tunas)(Kartasapoetra, 1991).

2.3 Susunan Jaringan Primer dalam Akar

Terdapat beberapa jaringan penyusun akar yang susunan internalnya cukup beragam
namun lebih sederhana dan dari segi filogeni lebih primitif dibandingkan dengan batang. Tidak
adanya daun pada akar mengakibatkan keseragaman struktur disepanjang akar (Hidayat, 1995).

Susunan jaringan primer dalam akar pada jarak tertentu dari inisial apikal akar akan dapat
dibedakan dalam berbagai zona yaitu tudung akar, epidermis, korteks akar dan silinder pembuluh
atau silinder tengah(Fahn, 1982).
2.3.1 Tudung Akar

Tudung akar terletak pada ujung akar, berfungsi melindungi promeristem akar serta
membantu penembusan tanah oleh akar. Tudung akar terdiri atas sel-sel parenkimatis dengan
berbagai tingkatan diferensiasi. Selnya terkadang tersusun atas deretan radial yang berasal dari
permulaan tudung akar. Pada beberapa tumbuhan, sel sentral di tudung akar membentuk struktur
yang lebih jelas dan tetap yang disebut kolumela (Hidayat, 2005).

Tudung akar akan berkembang secara terus menerus. Bila sel paling luar mati, maka
pemula akan membentuk sel-sel baru yang menggantikan fungsi sel yang mati (Hidayat, 2005).

2.3.2 Epidermis

Pada kebanyakan akar, epidermis berdinding tipis. Rambut-rambut akar berkembang dari
yang khusus, dan sel tersebut mempunyai ukuran yang berbeda dengan sel epidermis, dinamakan
trikhoblas. Trikhoblas sendiri berasal dari pembelah protoderm. Epidermis akar yang berfungsi
untuk penyerapan.serta bulu-bulu akar yang memiliki kutikula tipis (Sumardi, 1993).

Ciri khas dari epidermis akar ialah pembentukan rambut akar yang merupakan organ
yang sangat sesuai untuk pengambilan air dan garam yang efisien. Daerah rambut akar biasanya
terbatas beberapa sentimeter dari ujung akar. Rambut akar tidak ada di dekat meristem apikal
dan biasanya mati/mengering pada bagian akar yang lebih dewasa (Fahn, 1995).

2.3.3 Korteks Akar

Korteks akar umumnya terdiri atas sel-sel prenkimatis selama perkembangannya, ukuran
sel-sel korteks yang mengalami differensiasi bertambah, sebelum terjadi vakuolisasi dalam sel
tersebut (Sumardi, 1993).
Korteks akar lebih lebar daripada korteks batang, karena itulah korteks akar berperan
lebih banyak dalam penyimpanan. Lapisan paling dalam dari korteks merupakan endodermis
(Kartasapoetra,1991).

2.3.4. Eksodermis

Pada sebagian besar tumbuhan, dinding sel pada lapisan sel terluar korteks akan
membentuk gabus, sehingga terbentuk jaringan pelindung baru yaitu eksodermis yang akan
menggantikan epidermis. Struktur dan sifat sitokimiawi sel eksodermis mirip sel endodermis.
Dinding primer dilapisi suberin dan lapisan itu dilapisi lagi oleh selulosa. Lignin juga ditemukan
disana (Hidayat, 2005).

Sel-sel eksodermis juga mengandung protoplas. Tebalnya eksodermis ini berbeda-beda


pada lapisan sel tunggal sampai yang berlapis-lapis. Eksodermis biasanya disertai pula oleh
jaringan sklerenkim seperti pada akar Ananas, Graminae dan Cyperaceae (Sumardi, 1993).

2.3.5 Endodermis

Endodermis tersusun oleh satu lapis sel yang berbeda secara fisiologi, struktur, dan fungsi
dengan lapisan sel di sekitarnya. Berdasarkan perkembangan dicincin selnva, endodermis dapat
dibedakan menjadi:

1. Endodermis primer yang mengalami penebalan berupa titik-tirik caspary dari suberin dan
kutin.
2. Endodermis sekunder, apabila penebalan berupa pita caspary dari zat lignin.
3. Endodermis tersier apabila penebalan membentuk huruf U yang mengandung lapisan
suberin dan selulose pada dinding radial dan tangensial bagian dalam. Di antara sel-sel
endodermis terdapat beberapa sel yang tidak mengalami penebalan dinding, yaitu sel-sel
yang terletak berhadapan dengan protoxilem. Sel-sel ini disebut sel peresap (Nugroho,
2006).

Pita caspary adalah pita-pita suberin yang mengelilingi dinding radial dan melintang pada
daerah penyerapan pada akar di dinding sel endodermis. Pita caspary berfungsi untuk
mengendalikan pergerakan larutan (air dan mineral) dari daerah korteks yang akan menuju
silinder pusat (Savitri, 2008).

Kehadiran pita caspary membagi akar menjadi dua bagian yang terpisah. Pembagian ini
penting dalam gerak selektif garam mineral dan air. Setiap ion dalam larutan air tanah mampu
menembus epidermis dan korteks akar. Bahkan jika seluruh sel korteks memiliki plasmalema
yang tidak permeable terhadapnya, ion tersebut dapat menembus korteks melalui air dalam
dinding dan ruang antarsel. Namun, pita caspary merupakan penghalangnya. Agar dapat masuk
stele dan memasuki arus transpirasi xylem, ion harus melewati plasmalema sel endodermis.
Disinilah terjadi seleksi anatara ion yang dapat masuk dan ion yang harus tetap di luar (Hidayat,
1995).

2.4 Sistem jaringan pengangkut

Bagian terluar dan berbatasan langsung dengan endodermis, selapis sel atau mungkin
beberapa lapis sel berupa lapisan sel parenkim yang berasal dari inisial yang sama dari xilem dan
floem, lapisan ini disebut periskel atau perikambium. Periskel kadang-kadang berdinding tebal.
Perisikel ini mampu menghasilkan primodia akar lateral (akar cabang), sebagian felogen, dan
sebagian dari kambium pembuluh. Selain periskel adalagi jaringan yang bersifat parenkimatis
terletak di pusat silinder akar, yaitu parenkim empulur, jika bagian tengah ini tidak ditempat
jaringan pembuluh (Savitri, 2008).

Dibagian dalam periskel langsung berbatasan dengan protofloem dan protoxilem.


Biasanya xilem clan floem akar tersusun secara radiasi. Bila berkas pembuluh tidak banyak,
maka sering xilem bersatu di bagian tengah akar sehingga akar tidak berempulur. Berdasarkan
jumlah protoxilem atau jumlah lengan (jari-jari) xilem, akar dikenal dengan xilem diarkh, triakh,
tetrakh, pentrakh, poliarkh (masing-masing artinya 2,3,4,5, banyak kelompok protoxilem atau
berkas xilem). selain itu xilem primer dengan arah pendewasaan dari luar ke dalam eksarkh.
Arah pendewasaan sel dalam floem juga dari luar ke dalam (Savitri, 2008).
2.5 Karakteristik akar

Secara umum, karakteristik akar adalah 1) mempunvai tendensi untuk tumbuh ke bawah
atau ke samping daripada untuk tumbuh ke atas, 2 ) tidak dijumpai adanya klorofil, 3) tidak
dijumpai adanya daun dan tunas, 4) pada akar primer, floem, dan xilem tersusun dalam radius
yang berbeda, 5) ujung akar mmnpunyai zone pertumbuhan yang pendek dan 6) dijumpai adanya
rambut akar di daerah dekat ujung akar.

Akar mempunyai anatomi yang lebih sederhana daripada anatomi batang dan mempunvai
keragaman vang rendah dibandingkan batang. Hal ini sebagai akibat dari adanva lingkungan
yang relatif seragam di dalam tanah. Berikut ini karakter anatomi dari akar tumbuhan
Dicotyledoneae dan Monocotyledonae.

2.6 Akar kontraktil

Pada sejumlah tumbuhan, penggantian batang lama oleh batang baru berlangsung pada
posisi tertentu dalam tanah atau permukaannya. Posisi tersebut sering diperoleh dengan
penarikan oleh akar khusus yang disebut akar pengerut atau akar kontraktil. Akar seperti ini
banyak ditemukan pada tumbuhan dikotil basah contohnya Daucus, Taraxacum, Trifolium dan
Oxsalis. Pada tumbuhan monokotil akar kontraktil dapat berupa umbi lapis atau sisik dan berupa
umbi batang contohnya Allium dan Gladiolus (Hidayat, 1995).

2.7 Mikoriza

Lapisan epidermis dan korteks pada akar banyak tumbuhan sering berasosiasi dengan
cendawan tanah. Asosiasi yang luas antara hifa cendawan dengan akar muda tumbuhan tingkat
tinggi ini dikenal dengan mikoriza (yunani mykes berarti jamur, rhiza akar). Biasanya hal ini
merupakan simbiosis, baik tumbuhan maupun cendawan bisa mendapatkan keuntungan dari
simbiosis ini (Fahn, 1991).

Menurut Hidayat (1995), menyatakan bahwa “contoh simbiosis dari jamur dan akar
adalah penyerapan air dan zat hara oleh akar akan meningkat dan jamur akan memperoleh
senyawa organik. Korteks yang ditembus oleh jamur tersebut tidak menunjukkan gejala sakit dan
akan hidup terus.”

Berdasarkan hubungan jamur dengan inangnya, mikoriza dapat dibedakan menjadi dua
yaitu ektomikoriza dan andomikoriza. Pada ektoriza, jamur menyelubungi seluruh ujung akar
dengan penutup yang disebut tudung hifa, hifa memasuki akar di ruang antar sel korteks dan
berbentuk jala (jala harting) contonya pada Pinus, Quercus, Castanea, Eucalyptus. Pada
endomikoriza, jamur membentuk penutup yang kurang jelas penampakannya dan menembus
bagian dalam sel akar serta menghasilkan vesikula dan arbuskula yang khas. Contohnya pada
Orhidaceae, Ericaceae, Ornithogalum umbellatum. Endomikoriza mirip akar biasa yang tidak
terinfeksi, namun warnanya lebih gelap (Hidayat, 1995).

2.8 Perkembangan akar

Peristiwa utama pada awal pembentukan akar adalah penyusunan meristem apexnya. Saat
biji berkecambah, promeristem diujung akar embrio membentuk akar primer. Sementara akar
primer tumbuh, meristem apex memperoleh bentuk tertentu. Ada dua macam jenis susunan sel
pada meristem apex akar jenis pertama yaitu silinder pembuluh, korteks, dan tudung akar,
masing-masing dapat diketahui asalnya pada lapisan terpisah pada meristem apeks, ketiganya ini
memiliki sel pemula sendiri-sendiri. Dalam hal ini epidermis berdiferensiasi dari lapisan korteks
paling luar atau dari lapisan tudung akar paling dalam. Pada jenis kedua, semua lapisan sel
dihasilkan oleh sekelompok sel di titik tumbuh akar. Jadi sel disemua daerah akar memiliki
pemula bersama (Hidayat, 1995)

2.9 Pertumbuhan Sekunder Akar

Akar tumbuhan monokotil, akar dikotil dibentuk herba atau akar cabang dikotil pohon,
dan kriptogam biasanya tidak mengalami pertumbuhan sekunder. Sedang akar kebanyakan
tumbuhan dikotil dan akar Gymnospermae mengalami pertumbuhan sekunder. Kambium
pembuluh membelah ke arah dalam menghasilkan xilem dan ke arah luar menghasilkan floem
sekunder. Sehingga jaringan pada – akar bertambah (kambium gabus) dibentuk dan
menghasilkan perider. Felogen ke arah luar membentuk felem (gabus) dan ke arah dalam
membentuk feloderm. Periderm merupakan jaringan sekunder yang dihasilkan oleh kambium
gabus sebagai pengganti epidermis, biasanya akar yang membentuk periderm akan melengkapi
akarnya dengan lentisel (Fahn, 1991).
BAB III

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan diatas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Akar merupakan bagian bawah dari sumbu utama tanaman dan biasanya berkembang di
bawah permukaan tanah, fungsi akar adalah untuk menambatkan tubuh tumbuhan pada
tanah, dapat berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan dan menyerap air dam
garam-garam mineral terlarut.
2. Sistem pertumbuhan pada akar dibagi menjadi dua, yaitu sistem pertumbuhan akar primer
dan sistem pertumbuhan akar sekunder.
3. Susunan jaringan primer dalam akar dapat dibedakan dalam berbagai zona yaitu tudung
akar, epidermis, korteks akar dan silinder pembuluh atau silinder tengah
4. Dalam akar yang mempunyai penebalan sekunder, kambiumnya berasal dari benang-
benang meristem dalam jaringan prokambium atau jaringan parenkimatis yang terletak di
antara kelompok-kelompok floem primer dan pusat stele.
DAFTAR PUSTAKA

Agustina. 2004. Dasar Nutrisi Tanaman. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan edisi ke tiga. Yogyakarta : UGM Press.

Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : Penerbit ITB.

Kartasapoetra, Ir. A.G. 1991. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan (tentang

Sel dan Jaringan). Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Nugroho, Hartanto L. Dkk. 2006. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan.

Depok : Penebar Swadaya.

Salisbury, Frank B. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Bandung : Penerbit ITB.

Savitri, Evika Sandi. Sp. Mp. Struktur Perkembangan Tumbuhan (Anatomi

Tumbuhan. Malang : UIN Press.

Sumardi, Issrep. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Yogyakarta :

UGM Press.

Tjitrosomo, Siti Sutarmi. Prof. Dr. Ir. H. 1983. Botani Umum 1. Bandung :

Angkasa.