Anda di halaman 1dari 17

UJIAN TENGAH SEMESTER

Mata Kuliah : Hukum Pemerintahan Daerah

Hari/Tanggal : Rabu, 03 November 2010

Dosen : Dr. Indra Perwira, S.H.,M.H.

Rahayu Prasetianingsih, S.H

Nama : Farina Andrea Yudistira

NPM : 110110080014

Kelas : A Hukum Pagi

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS PADJAJARAN

2010
SOAL:

1. Dalam ajaran rumah tangga / sistem otonomi klasik dikenal ajaran otonomi formal dan
ajaran otonomi riil, kedua ajaran ini berkembangan sistem otonomi lainnya, sebutkan
sistem – sistem tersebut dan jelaskan masing – masing ajaran. Pemerintahan daerah di
Indonesia berdasarkan UU No 32 Tahun 2004 menganut sistem otonomi yang mana?
Berikan penjelasan saudara dengan menyebutkan pasal – pasal yang mencirikan sistem
otonomi tersebut.

2. Salah satu teori dasar dari sistem pemerintahan daerah berdasarkan teori pembagian
kekuasaan secara vertikal. Jelaskan yang dimaksud teori pembagian kekuasaan secara
vertikal tersebut dengan mengutip pendapat ahli. Dihubungkan dengan bentuk negara
yang dianut terdapat perbedaan antara negara kesatuan dan negara federal, jelaskan oleh
saudara perbedaan mendasar dari kedua bentuk negara tersebut.

3. Adanya pemencaran kekuasaan secara vertikal tentunya bukan tanpa maksud dan
tujuan,jelaskan oleh saudara urgensi dari pemencaran kekuasaan secara vertikal tersebut.

4. Penyelenggaraan pemerintahan daerah didasarkan pada beberapa asas, sebutkan asas –


asas tersebut dan jelaskan masing – masing asas tersebut dalam pelaksanaannya.

5. UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah mendefinisikan otonomi daerah


sebagai hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan
peraturan perundang – undangan. Jelaskan dengan mengutip pendapat ahli, apa yang
dimaksud urusan pemerintahan dan ada berapa jenis urusan pemerintahan.
JAWABAN:

1. Pada negara demokratis, desentralisasi merupakan suatu konsep penting yang menjadi
suatu pilihan tepat dalam menjalankan pemerintahan dan sebagai suatu pilihan untuk
menjawab persoalan – persoalan yang sedang dialami maupun persoalan yang akan ada
di masa mendatang. Desentralisasi ini merupakan suatu proses pengotonomian1, yaitu
pemberian atau penyerahan otonomi dari pemerintah pusat ( central government) kepada
pemerintahan daerah. Pengertian otonomi daerah menurut Undang – Undang No 32
Tahun 2004 :2

Pasal 1 : Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Dengan adanya pemberian otonomi oleh pemerintahan pusat ini dapat diartikan bahwa
pemerintahan daerah adalah suatu pelimpahan dari pemerintahan pusat ke daerah.
Namun, pemerintah pusat tetap memberikan batasan – batasan pada pemerintah daerah
dalam menjalankan otonominya agar tidak berbenturan dengan aturan – aturan yang
diberlakukan oleh pemerintah pusat di daerah. Hubungan antara pemerintah pusat dan
daerah ini haruslah memperhatikan keseimbangan antara kewajiban yang diberikan
kepada daerah dan struktur pemerintahan daerah.3.

1
Prof.Dr.Juanda,S.H.,M.H, “Hukum Pemerintahan Daerah, Pasang Surut Hubungan Kewenangan antara
DPRD dan Kepala Daerah” hal 125
2
Undang – Undang No 32 Tahun 2004
3
Prof.Dr.C.S.T Kansil, S.H., & Christine S.T Kansil, S.H.,M.H, “Sistem Pemerintahan Indonesia” hal 153
Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah terdapat beberapa jenis sistem rumah
tangga daerah, diantaranya4:

1. Sistem Otonomi Materiil

2. Sistem Otonomi Formil

3. Sistem Otonomi Riil

4. Sistem Otonomi Organik

5. Sistem Otonomi nyata, bertanggung jawab dan dinamis

Berikut ini penjelasan mengenai sistem otonomi daerah diatas :

1. Sistem Otonomi Materiil

Pada sistem otonomi ini pemerintah pusat memberikan suatu batasan yang positif
kepada daerah, yang berarti bahwa kewenangan daerah dijelaskan secara limitatif
dan ada penjelasan secara rinci tentang apa – apa saja yang termasuk kedalam
kewenangan dan urusannya. Inti pokok dari sistem otonomi materiil adalah
meletakkan titik berat persoalannya pada macam atau jenis urusan yang akan
lebih mampu diselenggarakan oleh pemerintah pusat atau daerah.5Maksudnya
untuk mengetahui apa saja yang termasuk kedalam urusan rumah tangga daerah
atau bukan kita harus melihat dari materi atau substansi dari urusan yang
dimaksud. Apabila pemerintah pusat tersebut dirasa masih mampu mengurus
urusan yang bersangkutan maka kewenangannya tetap berada pada pemerintahan
pusat dan pemerintah daerah tidak berhak mencampuri urusan tersebut namun
sebaliknya apabila pemerintah pusat dirasa tidak mampu mengurus urusan
tersebut dengan baik maka kewenangan atas urusan diberikan kepada pemerintah
daerah. Sistem otonomi materiil ini biasanya diterapkan pada suatu sistem
pemerintahan daerah yang masih bersifat sederhana sedangkan untuk sistem
pemerintah yang sudah bersifat kompleks dan modern penilaian terhadap mana
urusan pemerintah pusat dan mana yang termasuk urusan pemerintah daerah akan
berjalan lebih sulit karena penilaiannya sendiri sudah bersifat subjektif dan
semata – mata bergantung pada pertimbangan kekuasaan.
4
Prof.Dr.Juanda,S.H.,M.H, Opcit hal
5
Prof.Dr.Jimly Asshidiqie,S.H, “Pokok - pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi,” hal 424
2. Sistem Otonomi Formil

Sistem otonomi ini merupakan suatu bentuk penyempurnaan dari sistem otonomi
yang telah ada sebelumnya yaitu sistem otonomi materiil. Pada sistem otonomi
formil ini telah dilakukan pembagian secara tegas antara urusan mana yang
termasuk kedalam urusan pemerintah pusat dan urusan mana yang menjadi
urusan pemerintah daerah. Pembatasan antara kewenangan pusat dan
kewenangan daerah adalah dengan menetapkan bahwa suatu daerah otonom tidak
boleh mengatur sesuatu yang telah diatur dalam perundang – undangan lebih
tinggi daripadanya. Suatu daerah otonom bebas untuk mengatur urusan rumah
tangganya selama ia tidak mengatur urusan yang termasuk ke dalam urusan
pemerintah pusat. Pemerintah daerah dalam sistem ini mendapatkan suatu
kewenangan ‘sisa’ dari urusan – urusan yang sebelumnya telah ditetapkan oleh
pemerintah pusat.

3. Sistem Otonomi Riil

sistem otonomi ini adalah hasil penggabungan dari sistem otonomi formal dengan
sistem otonomi materiil. Pada sistem otonomi ini pemerintah daerah diberikan
suatu wewenang yang disebut suatu wewenang pangkal dan wewenang itu bisa
bertambah namun penambahan wewenang ini dilakukan secara bertahap dan
tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang – undangan yang lebih
tinggi daripadanya. Pada prinsipnya otonomi riil ini menentukan pengalihan atau
penyerahan wewenang urusan tersebut didasarkan pada kebutuhan dan keadaan
serta kemampuan daerah yang menyelenggarakannya.6

4. Sistem Otonomi Organik

Sistem otonomi ini menentukan bahwa urusan – urusan yang mengatur


kepentingan daerah diibaratkan sebagai organ tubuh bagi manusia yang
memegang peranan penting dalam ada tidaknya hidup manusia, jadi dengan kata
lain tanpa adanya kewenangan untuk mengurus urusan – urusan yang dianggap
vital maka daerah tersebut akan mengalami ketidakberdayaan dan bisa berakibat
pada matinya daerah tersebut.

5. Sistem Otonomi nyata, bertanggung jawab, dan dinamis


6
Prof.Dr.Juanda,S.H.,M.H. Opcit hal 131
• Nyata, pemberian urusan pemerintahan pada pemerintah daerah harus
disesuaikan dengan faktor – faktor tertentu yang terdapat pada daerah yang
bersangkutan.

• Bertanggung Jawab, pemberian otonomi kepada pemerintah daerah harus


diselaraskan dengan tujuan awal yaitu melancarkan pembangunan yang
tersebar di seluruh wilayah negara. Pemberian otonomi juga harus menjamin
bahwa perkembangan dan pembangunan antar daerah berjalan serasi sehingga
pertumbuhan antara masing – masing daerah dapat berjalan secara seimbang.

• Dinamis, dikehendakinya suatu pelaksanaan otonomi yang dapat menjadi


sarana untuk mendorong segala kegiatan pemerintahan dalam rangka
meningkatkan pelayanan bagi masyarakat.

Berdasarkan pada Undang – Undang No 32 Tahun 2004, sistem pemerintahan di


Indonesia menganut Sistem Otonomi Formal, hal ini dapat dilihat pada pasal – pasal
berikut ini :

Pasal 1 :

1. Pemerintah pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik


Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.

2. Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh


pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan
prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945

Pasal 2

(1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan
daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai
pemerintahan daerah.
(2) Pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.

(3) Pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjalankan otonomi
seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah, dengan
tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan daya saing
daerah.

(4) Pemerintahan daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan memiliki


hubungan dengan Pemerintah dan dengan pemerintahan daerah lainnya.

(8) Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang


bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang.

(9) Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat


beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan
masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. Dalam sistem pemerintahan daerah ada beberapa teori yang mendasari tentang
pembagian kekuasaan diantaranya adalah teori pembagian kekuasaan secara horisontal
dan teori pembagian kekuasaan secara vertikal. Menurut pendapat Jimly Asshidiqie
pembagian kekuasaan yang bersifat vertikal dalam arti perwujudan kekuasaan itu
dibagikan secara vertikal kebawah kepada lembaga – lembaga tinggi negara di bawah
lembaga pemegang kedaulatan rakyat.7 Sedangkan menurut Miriam Budiardjo,
pembagian kekuasaan secara vertikal berarti adanya pembagian kekuasaan antara
beberapa tingkatan pemerintahan8.

• Negara Kesatuan , suatu negara kesatuan ialah suatu bentuk negara dimana
pemegang kekuasaan tertinggi ada pada tangan pemerintah pusat, disini
pemerintah pusat memiliki kekuasaan penuh dalam pemerintahan. Menurut
C.F. Strong , negara kesatuan adalah bentuk negara dimana wewenang
legislatif tertinggi dipusatkan dalam satu badan legislatif nasional atau pusat.9

7
Prof.Dr.Juanda,S.H.,M.H. Opcit .. hal 37
8
Ibid hal 39
9
http://almuzaky.blogspot.com/2010/03/local-government-di-negara-kesatuan-dan.html
Dalam negara kesatuan, pembagian kekuasaan secara vertikal melahirkan garis
hubungan antara pusat dan daerah dalam sistem :

1. Desentralisasi

2. Dekonsentrasi

3. Medebewind

Penerapan dari asas desentralisasi dan dekonsentrasi dalam negara kesatuan


merupakan suatu penerapan dari prinsip distribution of powers dalam
hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dengan adanya
pembagian kekuasaan dari pusat ke daerah maka pemerintah pusat
menyerahkan beberapa urusan pemerintahan kepada pemerintah daerah

• Negara Federal, suatu bentuk negara yang terdiri dari beberapa negara bagian
yang masing – masing negara bagian tersebut berhak untuk membuat undang –
undang dan sistem pemerintahannya sendiri selama tidak bertentangan dengan
aturan – aturan dari negara federalnya itu sendiri. Ada suatu bentuk
penyerahan urusan dari negara – negara bagian kepada negara pusat atau
negara federal. Penerapan prinsip distribution of powers atau pembagian
kekuasaan antara pemerintah federal dengan pemerintah negara bagian adalah
sebuah kelanjutan dan akibat dari penyerahan kekuasaan dan kedaulatan oleh
negara-negara bagian kepada pemerintah federalnya sebagai suatu upaya untuk
mewujudkan suatu negara yang berserikat.

3. Pemencaran kekuasaan secara vertikal berarti adanya suatu pemberian kekuasaan dari
pusat ke daerah yang melahirkan adanya pemerintah pusat dan daerah otonom yang
memikul hak desentralisasi.10 Pemencaran kekuasaan secara vertikal ini perlu diterapkan
dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara karena beberapa faktor diantaranya
adalah :

• Membantu pemerintah pusat untuk mengawasi jalannya pemerintahan di


daerah, Adanya suatu pemerintahan di daerah ini membantu pemerintah pusat
untuk menjalankan suatu pemerintahan di daerah karena pemerintah pusat

10
Prof.Dr.Juanda,S.H.,M.H. Opcit .. hal 43
memberikan suatu kuasa bagi pemerintah daerah untuk menjalankan
pemerintahan di daerah tersebut sesuai dengan aturan – aturan dan tidak
bertentangan dengan aturan – aturan yang ada di pemerintahan pusat itu
sendiri.

• Menghindari terjadinya suatu kesenjangan pembangunan, Pada suatu


pemerintahan pasti ada suatu perencanaan pembangunan yang dibuat oleh para
pejabat pemerintahan yang ditujukan untuk mencapai suatu kesejahteraan bagi
rakyat di wilayahnya tersebut, pembangunan itu tentunya disesuaikan dengan
apa yang dilihat oleh pemerintah pusat bahwa hal itu memang diperlukan.
Apabila tidak ada pemencaran kekuasaan kepada pemerintah daerah maka
dikhawatirkan pembangunan hanya akan berjalan pada wilayah dimana
pemerintahan pusat berada dan pembangunan di daerah –daerah akan
terabaikan sehingga fasilitas – fasilitas yang ada di daerah tidak menunjang
untuk terjaminnya kesejahteraan masyarakat di daerah dan apabila pemerintah
di pusat memutuskan untuk menyamaratakan pembangunan di semua wilayah
dikhawatirkan pembangunan yang ada di pusat sebenarnya tidak dibutuhkan
oleh daerah sehingga nantinya pembangunan di daerah tersebut tidak sesuai
dengan keinginan masyarakatnya dan hanya menjadi pemborosan keuangan
negara yang percuma.

• Mempermudah dalam proses penampungan aspirasi masyarakat di daerah

• Mencegah terjadinya suatu disintegrasi dan menjaga kesatuan wilayah Negara

• Mengikutsertakan warga dalam proses kebijakan, baik untuk kepentingan daerah


sendiri maupun untuk mendukung politik dan kebijakan nasional melalui
pembangunan proses demokrasi di lapisan bawah.

• Meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan akuntabilitas publik terutama dalam


penyediaan pelayanan publik.

• Memperhatikan kekhususan, keistimewaan suatu daerah, seperti geografis, kondisi


penduduk, perekonomian, kebudayaan, atau latar belakang sejarahnya.

• Mengatasi kelemahan pemerintah pusat dalam mengawasi program-programnya.


• Meningkatkan persaingan positif antar daerah dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat sehingga mendorong pemerintah daerah untuk melakukan inovasi dalam
rangka meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat

Dari faktor – faktor yang disebutkan di atas dapat kita lihat bahwa pemencaran
kekuasaan secara vertikal ini memiliki manfaat yang penting bagi penyelenggaraan
pemerintahan di suatu negara. Tanpa adanya pemencaran kekuasaan secara vertikal ini
bisa dibayangkan betapa banyaknya tugas yang harus ditanggung oleh pemerintah pusat
karena mereka harus terjun langsung dalam menjalankan pemerintahan di daerah dan
bukan tidak mungkin akan terjadi suatu ketidakseimbangan dengan pemerintahan pusat
dan pemerintahan di daerah karena itu dibutuhkan suatu pemencaran kekuasaan dari
pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang dimaksudkan agar jalannya
pemerintahan di daerah itu sendiri dapat terkendali dan berjalan sesuai dengan apa yang
diinginkan oleh pemerintahan pusat. Namun, kekuasaan yang ada di tangan pemerintah
daerah itu sendiri tidak boleh melebihi dari kekuasaan yang ada di tangan pemerintah
pusat.

4. Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah terdapat beberapa asas yang mendasari


pelaksanaan pemerintahan daerah, diantaranya adalah:

1. Sentralisasi adalah suatu pemerintahan dimana seluruh decition


(keputusan/kebijakan) dikeluarkan oleh pusat, daerah tinggal menunggu instruksi dari
pusat untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan yang telah digariskan menurut
Undang – Undang .11

Bentuk pelaksanaan : Pembuatan kebijakan fiskal dan moneter serta adanya


penyelenggaraan politik luat negeri. Kedua hal ini tidak bisa diserahkan kepada
pemerintahan daerah karena kebijakan ini mengatur hal yang vital kepada kehidupan
bernegara sehingga penyelenggaraannya tetap berada di tangan pemerintah pusat.

2. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada


daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem
Negara Kesatuan Republik Indonesia12. Menurut Hoogewarf, desentralisai
merupakan pengakuan atau penyerahan wewenang oleh badan – badan publik yang
lebih tinggi kepada badan – badan publik yang lebih rendah kedudukannya untuk
11
http://zalfaasatira.blogspot.com/2007/12/otonomisentralisasi-desentralisasi.html
12
Undang – Undang No 32 Tahun 2004
secara mandiri dan berdasarkan kepentingan sendiri mengambil keputusan di bidang
pengaturan (regelendaad) dan di bidang pemerintahan (bestuurdaad).13

Bentuk pelaksanaan dari asas ini dapat dilihat dari adanya kekuasaan pemerintah
daerah untuk mengadakan pemilihan kepada daerah dan adanya kewenangan dari
DPRD untuk membentuk suatu kebijakan yang bersangkutan bagi kepentingan
daerahnya.

3. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada


Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah
tertentu14. Dekonsentrasi juga dapat diartikan sebagai suatu pelimpahan wewenang
dalam bidang pembuatan keputusan , keuangan dan dalam fungsi manajemen dari
pemerintahan pusat kepada pemerintahan daerah yang termasuk kedalam yurisdiksi
pemerintah pusat. Dekonsentrasi ini akan berakibat pada timbulnya local state
government/field administration atau apa yang disebut dengan suatu wilayah
administrasi.

4. Tugas Pembantuan adalah pemberian kemungkinan kepada pemerintah pusat/


pemerintah daerah yang tingkatannya lebih atas untuk dimintai bantuan kepada
pemerintah daerah/pemerintah daerah yang tingkatannya lebih rendah di dalam
menyelenggarakan tugas-tugas atau kepentingan-kepentingan yang termasuk urusan
rumah tangga daerah yang dimintai bantuan tersebut.15 Sedangkan disebutkan dalam
dalam UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah16 mengenai Tugas
Pembantuan yaitu :

Pasal 1 Butir 9 : “Penugasan dari Pemerintah kepada daerah* dan/atau desa, dari
pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa, serta dari pemerintah
kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu”

5. Pengertian urusan pemerintahan menurut PP No 38 Tahun 2007:

13
Prof.Dr.Jimly Asshidiqie,S.H. “Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara Jilid II”, hal 26 – 27
14
Ibid.

15
Muhammad Fauzan, “Hukum Pemerintahan Daerah Kajian tentang Hubungan Keuangan antara Pusat dan
Daerah”
16
Undang – Undang No 32 Tahun 2004
Pasal 1 ayat (5) : Urusan pemerintahan adalah fungsi-fungsi pemerintahan yang
menjadi hak dan kewajiban setiap tingkatan dan/atau susunan pemerintahan untuk
mengatur dan mengurus fungsi-fungsi tersebut yang menjadi kewenangannya dalam
rangka melindungi, melayani, memberdayakan, dan menyejahterakan masyarakat.17
Pasal 2 ayat (2) : Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi politik luar negeri, pertahanan,
keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, serta agama.18
Berdasarkan PP No 38 Tahun 2007, bidang – bidang yang termasuk kedalam urusan
pemerintahan terdiri dari :19
Pasal 2 ayat (4) : Urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terdiri atas
31 (tiga puluh satu) bidang urusan pemerintahan meliputi:
a. pendidikan;
b. kesehatan;
c. pekerjaan umum
d. perumahan;
e. penataan ruang;
f. perencanaan pembangunan;
g. perhubungan;
h. lingkungan hidup;
i. pertanahan;
j. kependudukan dan catatan sipil;
k. pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak;
l. keluarga berencana dan keluarga sejahtera;
m. sosial;
n. ketenagakerjaan dan ketransmigrasian;
o. koperasi dan usaha kecil dan menengah;
p. penanaman modal;
q. kebudayaan dan pariwisata;
r. kepemudaan dan olah raga;
s. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri;

17
PP No 38 Tahun 2007
18
Ibid
19
Ibid
t. otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat
daerah, kepegawaian, dan persandian;
u. pemberdayaan masyarakat dan desa;
v. statistik;
w. kearsipan;
x. perpustakaan;
y. komunikasi dan informatika;
z. pertanian dan ketahanan pangan;
aa. kehutanan;
bb. energi dan sumber daya mineral;
cc. kelautan dan perikanan
dd. perdagangan; dan
ee. perindustrian.
Urusan – urusan pemerintahan yang diserahkan kepada pemerintah daerah ini tentunya
disertai juga dengan adanya sumber – sumber dana, pengalihan sarana dan prasarana,
serta kepegawaian sesuai dengan urusan yang didesentralisasikan20 kepada pemerintah
daerah tersebut.

Menurut pasal 11 ayat (2) UU No 32 Tahun 2004, urusan pemerintahan dibagi menjadi
dua, yaitu urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan wajib adalah urusan yang sangat
mendasar yang berkaitan dengan hak dan pelayanan dasar warga negara antara lain:

a. perlindungan hak konstitusional;

b. perlindungan kepentingan nasional, kesejahteraan masyarakat, ketentraman


dan ketertiban umum dalam kerangka menjaga keutuhan NKRI; dan

c. pemenuhan komitmen nasional yang berhubungan dengan perjanjian dan


konvensi internasional.

Berdasarkan pada UU No 32 Tahun 2004, urusan wajib pemerintah ini terdiri dari:

Pasal 13

(1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi merupakan
urusan dalam skala provinsi yang meliputi:

20
Prof.Dr.Jimly Asshidiqie,S.H, “Pokok - pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, hal 433
a. perencanaan dan pengendalian pembangunan;

b. perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;

c. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat;

d. penyediaan sarana dan prasarana umum;

e. penanganan bidang kesehatan;

f. penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial;

g. penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota;

h. pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota;

i. fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil, dan menengah termasuk lintas


kabupaten/kota;

j. pengendalian lingkungan hidup;

k. pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota;

l. pelayanan kependudukan, dan catatan sipil;

m. pelayanan administrasi umum pemerintahan;

n. pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota;

o. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh

kabupaten/kota; dan

p. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.

Pasal 14

(1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota
merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi:

a. perencanaan dan pengendalian pembangunan;

b. perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;


c. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat;

d. penyediaan sarana dan prasarana umum;

e. penanganan bidang kesehatan;

f. penyelenggaraan pendidikan;

g. penanggulangan masalah sosial;

h. pelayanan bidang ketenagakerjaan;

i. fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah;

j. pengendalian lingkungan hidup;

k. pelayanan pertanahan;

l. pelayanan kependudukan, dan catatan sipil;

m. pelayanan administrasi umum pemerintahan;

n. pelayanan administrasi penanaman modal;

o. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; dan

p. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.

Sedangkan urusan pilihan adalah urusan yang secara nyata ada di Daerah dan berpotensi
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan dan
potensi unggulan daerah.21

21
Prof.Dr.Jimly Asshidiqie,S.H, Ibid hal 434
DAFTAR PUSTAKA

• Undang – Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

• PP No 38 Tahun 2007

• Kansil, C.S.T & Kansil, Christine S.T . 2008. Sistem Pemerintahan Daerah. Jakarta :
PT Bumi Aksara

• Asshidiqie, Jimly .2007. Pokok - pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca
Reformasi. Jakarta :Bhuana Ilmu Populer

• Juanda. 2008. Hukum Pemerintahan Daerah Pasang Surut Hubungan Kewenangan


Antara DPRD dan Kepala Daerah. Bandung: Penerbit PT Alumni
• Bagir Manan. 1994. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945.
Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

• Muhammad Fauzan. 2006. Hukum Pemerintahan Daerah Kajian tentang Hubungan


Keuangan antara Pusat dan Daerah. Yogyakarta : UII Press.

• Asshidiqie, Jimly. 2006. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara Jilid II. Jakarta :
Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081006041010AADgpzv

http://almuzaky.blogspot.com/2010/03/local-government-di-negara-kesatuan-dan.html

http://zaymuttaqin.wordpress.com/2009/02/05/teori-otonomi/

www.dadangsolihin.com

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20101107000841AAsEj6g

http://assyariabdullah.wordpress.com/2009/04/23/mengenal-sentralisasi-desentralisasi-
dan-konsekwensinya/