Anda di halaman 1dari 25

1.

Pengertian
Pneumothorax adalah suatu keadaan dimana terdapatnya udara pada rongga
potensial dimana pleura visceral dan pleura parietal (Punarwaba dan Suarjaya, 2013).

Pneumothorax adalah suatu keadaan terdapatnya udara atau gas di dalam pleura
yang menyebabkan kolapsnya paru (Amita, 2012)

2. Etiologi

Pneumothorax disebabkan karena robekan pleura atau terbukanya dinding dada.


Dapat berupa pneumothorax yang tertutup dan terbuka atau menegang, kurang lebih 75%
trauma tusuk pneumothorak disertai hemotorak.
Pneumothorax menyebabkan paru kollaps, baik sebagian maupun keseluruhan
yang menyebabkan tergesernya isi rongga dada ke sisi lain. Gejala sesak nafas progressif
sampai sianosis gejala syok. Pneumothorax paling sering terjadi spontan tanpa ada riwayat
trauma, dapat pula sebagai akibat trauma toraks dan karena berbagai prosedur diagnostik
maupun terapeutik.
Pneumothorax juga dapat terjadi setelah cedera pada dinding dada seperti tulang
rusuk patah, cedera penetrasi (tembakan senjata atau menusuk), invasi bedah dada, atau
mungkin sengaja diinduksi untuk runtuh paru-paru, atau akibat tindakan Cardio Pulmonary
Resuscitation (CPR) yang terlalu kuat, tindakan biopsi paru melalui dinding dada.
Pneumothorax juga dapat berkembang sebagai akibat dari penyakit paru yang
mendasari, termasuk fibrosis kistik, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), kanker paru-
paru ,asma ,dan infeksi paru-paru seperti empisema, tuberkulosis, pneumonia, sarkoidosis
dan batuk rejan.
Pneumothorax juga dapat terjadi akibat penggunaan ventilasi mekanis, pada orang
yang membutuhkan bantuan mekanik untuk bernapas. Tindakan dari ventilator yang
mendorong dan menarik udara masuk dan keluar dari paru-paru dapat membuat
ketidakseimbangan tekanan udara di dalam dada. Paru-paru akan runtuh juga lengkap
dengan jantung yang mungkin dapat diperas ke titik yang tidak dapat bekerja dengan baik.
Keadaan ini akan menimbulkan pneumothorax yang parah dan merupakan keadaan darurat
medis dan dapat berakibat fatal.
Untuk jenis tertentu seperti pneumothorax spontan, disebabkan oleh pecahnya kista atau
kantung kecil (lepuh) pada permukaan paru-paru. Adanya bula atau lepuh pada permukaan
paru-paru ini tidak di ketahui penyebabnya tetapi biasanya di hubungkan dengan orang
yang kurus dan tinggi. Pecahnya bula ini akan menyebabkan pneumothorax.
Selain penyebab diatas terdapat juga faktor predisposisi pada pneumothorax. Faktor-faktor
tersebut antara lain:
- Jenis kelamin
Secara umum, pria jauh lebih mungkin untuk memiliki pneumotoraks daripada wanita.
- Merokok
Risiko meningkat dengan lamanya waktu dan jumlah rokok yang dihisap, bahkan tanpa
emfisema.
- Umur
Jenis pneumothorax disebabkan oleh lecet udara pecah kista atau bula
(lepuh) kemungkinan besar terjadi pada orang antara 20 dan 40 tahun, terutama jika
orang tersebut adalah orang yang sangat tinggi dan kurus.
- Genetika
Beberapa jenis pneumothorax tampaknya dalam keluarga.
- Penyakit paru-paru
Memiliki penyakit paru yang mendasarinya - terutama emphysema, fibrosis paru,
sarkoidosis dan cystic fibrosis - membuat paru-paru lebih mungkin runtuh atau kolaps.
- Ventilasi mekanis
Orang-orang yang membutuhkan ventilasi mekanik untuk bernapas secara efektif
berada pada risiko tinggi pneumothorax
- Riwayat pneumothorax
Siapapun yang telah mengalami pneumothorax akan beresiko kembali mengalami
pneumothorax dalam waktu satu sampai dua tahun dari episode pertama. Ini dapat
terjadi di paru-paru yang sama atau paru-paru yang berlawanan.
- Keadaan dan Aktivitas tertentu
Walaupun timbulnya bula atau lepuh pada permukaan paru-paru tidak di ketahui
dengan jelas penyebabnya dan juga pecahnya bula tersebutpun tidak di ketahui
penyebab pastinya, namun di duga adanya perubahan tekanan udara akan memicu
pecahnya bula, beberapa aktivitas yang dianggap beresiko pecahnya bula adalah
melakukan Scuba diving (menyelam), Penerbangan, Mendaki gunung di dataran tinggi
akan memicu pecahnya bula atau lepuh.

3. Klasifikasi
a. Pneumothorax spontan primer, yaitu pneumothorax yang terjadi secara tiba-tiba tanpa
diketahui sebabnya atau tanpa penyakit dasar yang jelas. Lebih sering pada laki-laki
muda sehat dibandingkan wanita. Timbul akibat rupture bulla kecil (12 cm) subpleural,
terutama di bagian puncak paru.
b. Pneumothorax spontan sekunder, yaitu pneumothorax yang terjadi dengan didasari
oleh riwayat penyakit paru yan telah dimiliki sebelumnya, tersering pada pasien
bronchitis dan emfisema yang mengalami rupture emfisema subpleura atau bulla.
Penyakit dasar lain seperti Tb, asma lanjut, pneumonia, abses paru atau Ca paru,
fibrosis kistik, penyakit paru obstruktif kronil (PPOK), asma dan infeksi paru-paru.
c. Pneumothorax Traumatik, yaitu pneumothorax yang terjadi akibat adanya suatu
trauma, baik trauma penetrasi maupunbukan, yang menyebabkan robeknya
pleura,dinding dada maupun paru. Pneumothorax tipe ini juga dapat diklasifikasikan
lagi ke dalam duan jenis yaitu :
- Pneumothorax traumatic iatrogenic aksidental adalah suatu pneumothorax yang
terjadi akibat tindakan medis karena kesalahan atau komplikasi dari tindakan
ersebut, misalnya pada parasintesis dada, biopsy pleura.
- Pneumothorax traumatic iatrogenic artifisial (deliberate)nadalah suatu
pneumothorax yang sengaja dilakukan dengan cara mengisikan udara ke dalam
rongga pleura. Biasanya tindakan ini dilakukan untuk tujuan pengobatan, misalnya
pada pengobatan tuberculosis sebelum era antibiotic, maupun untuk menilai
permukaan paru.
d. Pneumothorax Tertutup (Simple Pneumothorax) pada tipe ini, pleura dalam keadaan
tertutup (tidak ada jejas terbuka pada dinding dada), sehingga tidak ada hubungan dengan dunia
luar. Tekanan di dalam rongga pleura awalnya mungkin positif, namun lambat laun berubah
menjadi negative karena diserap oleh jaringan paru disekitarnya. Pada kondisi tersebutparu
belum mengalami re-ekspansi, sehingga masih ada rongga pleura, meskipun tekanan di
dalamnya sudah kembalinegatif. Pada waktu terjadi gerakan pernapasan, tekanan udara di
rongga pleura tetap negative.
e. Pneumothorax Terbuka (Open Pneumothorax), yaitu pneumothorax dimana terdapat hubungan
antara rongga pleura dengan bronkus yang merupakan bagian dari dunia luar (terdapat luka
terbuka pada dada). Dalam keadaan ini tekanan intrapleura sama dengan tekanan udara luar.
Pada pneumothorax terbuka tekanan intra pleura sekitar nol. Perubahan tekanan ini
sesuai dengan perubahan tekanan yang disebabkan oleh gerakan pernapasan. Pada saat
inspirasi tekanan menjadi positif dan pada waktu ekspirasi tekanan menjadi positif. Selain itu,
pada saat inspirasi mediastinum dalam keadaan normal, tetapi pada saat ekspirasi mediastinum
bergeser kea rah sisi dinding dada yang terbuka (sucking wound).
f. Pneumothorax ventil (Tension Pneumothorax) adalah pneumothorax dengan tekanan
intrapleura yang positif dan makin lamam makin bertambah besar karena ada fistel di pleura
viseralis yang bersifat ventil. Pada waktu inspirasi udara masuk melalui trakea, bronkus serta
percabangannya dan selanjutnya terus menuju pleura melalui fistel yang terbuka. Waktu
ekspirasi udara di dalam rongga pleura tidak dapat keluar akibatnya tekanan di dalam rongga
pleura makin lama makin tinggi dan melebihi tekanan atmosfer. Udara yang terkumpul dalam
rongga pleura ini dapat menekan paru sehingga sering menimbulkan gagal napas.

4. Patofisiologi
Paru-paru dibungkus oleh pleura parietalis dan pleura visceralis. Di antara plura parietalis
dan visceralis terdapat cavum pleura. Cavum pleura normal berisi sedikit cairan serous
jaringan. Tekanan intrapleura selalu berupa tekanan negatif. Tekanan negating pada
intrapleura membantu dalam proses respirasi. Proses respirasi terdiri dari dua tahap : fase
inspirasi dan fase ekspirasi. Pada fase inspirasi tekanan inrapleura : -9 s/d -12 cmH2O,
sedangkan pada fase ekspirasi tekanan intrapleura : -3 s/d -6 cmH2O.
- Pneumotorak Spontan Primer
Pneumotorak spontan primer terjadi karena robeknya suatu kantong udara dekat
pleura viseralis. Penelitian secara petologis membuktikan bahwa pasien
pneumotorak spontan yang parunya dipesersi tampak adanya satu atau dua ruang
berisi udara dalam bentuk blab dan bulla. (Prince. 2006). Bulla merupakan suatu
kantong yang dibatasi sebagian oleh pelura fibrotik yang menebal sebagian oleh
jaringan fibrosa paru sendiri dan sebagian lagi oleh jaraingan paru emfisematus.
Blab terbentuk dari suatu alveoli yang pecah melalui suatu jaringan intertisial
kedalam lapisan tipis pleura viseralis yang kemudian berkumpul dalam bentuk
kista. Mekanisme pembentukan bulla/blab belum jelas , banyak pendapat
mengatakan terjadainya kerusakan bagian apeks paru akibat tekanan pleura lebih
negatif. Pada pneumotorak spontan terjadi apabila dilihat secara patologis dan
radiologis terdapat bulla di apeks paru. Observasi klinik yangdilakukan pada pasien
pneumotorak spontan primer ternyata mendapatkan pneumotorak lebih banyak
dijumpai pada pasien pria berbadan kkurus dan tinggi. Kelainan intrinsik jaringan
konetif mempunyai kecenderungan terbentuknya blab atau bulla yang meningkat,
(Prince. 2006). Blab atau bulla yang pecah masih belum jelas hubungan dengan
aktivitas yang berlebihan,karena pada orang-orang yang tanpa aktivitas (istirahat)
juga dapat terjadi pneumotorak. Pecahnya alveoli juga dikatakan berhubungan
dengan obstruksi check-valve pada saluran napas dapat diakibatkan oleh beberapa
sebab antara lain : infeksi atau infeksi tidak nyata yang menimbulkan suatu
penumpukan mukus dalam bronkial, (Prince. 2006).
- Pneumotorak Spontan Sekunder

Disebutkann bahwa terjadinya pneumotorak ini adalah akibat pecahnya blab


viseralis atau bulla pneumotorak dan sering berhubungan dengan penyakit paru
yang medasarinya. Patogenesis penumotorak ini umumnya terjadi akibat
komplikasi asma, fibrosis kistik, TB paru, penyakit-penyakit paru infiltra lainnya
misalnya pneumotoral supuratif, penumonia carinci. Pneumotorak spontan
sekunder lebih serius keadaanya karena adanya penyakit yang mendasarinya
(Corwin, E. 2006).
5. Anatomi Fisiologi

Paru-paru

Paru adalah struktur elastic yang dibungkus dalam sangkar toraks, yang merupakan suatu
bilik udara kuat dengan dinding yang dapat menahan tekanan. Ventilasi membutuhkan
gerakan dinding sangkar toraks dan dasarnya, yaitu diafragma. Efek dari gerakan ini adalah
secara bergantian meningkatkan dan menurunkan kapasitas dada. Ketika kapasitas dalam
dada meningkat, udara masuk melalui trakea (inspirasi), karena penurunanan tekanan di
dalam, dan mengembangkan paru. Ketika dinding dada dan diafragma kembali ke
ukurannya semula (ekspirasi), paru-paru yang elastis tersebut mengempis dan mendorong
udara keluar melalui bronkus dan trakea. Fase inspirasi dari pernapasan normalnya
membutuhkan energi; fase ekspirasi normalnya pasif. Inspirasi menempati sepertiga dari
siklus pernapasan, ekspirasi menempati dua pertiganya, (syaifudin. 2011).

Pleura

Bagian terluar dari paru-paru dikelilingi oleh membrane halus, licin, yaitu pleura, yang
juga meluas untuk membungkus dinding interior toraks dan permukaan superior
diafragma. Pleura parietalis melapisi toraks, dan pleura viseralis melapisi paru-paru. Antar
kedua pleura ini terdapat ruang, yang disebut spasium pleura, yang mengandung sejumlah
kecil cairan yang melicinkan permukaan dan memungkinkan keduanya bergeser dengan
bebas selama ventilasi, (syaifudin. 2011).

Mediastinum

Mediatinum adalah dinding yang membagi rongga toraks menjadi dua bagian membagi
rongga toraks menjadi dua bagian. Mediastinum terbentuk dari dua lapisan pleura. Semua
struktuk toraks kecuali paru-paru terletak antara kedua lapisan pleura, (syaifudin. 2011).

Bronkus dan Bronkiolus

Terdapat beberapa divisi bronkus didalam setiap lobus paru. Pertama adalah bronkus
lobaris (tiga pada paru kanan dan dua pada paru kiri). Bronkus lobaris dibagi menjadi
bronkus segmental (10 pada paru kanan dan 8 pada paru kiri), yang merupakan struktur
yang dicari ketika memilih posisi drainage postural yang paling efektif untuk pasien
tertentu. Bronkus segmental kemudian dibagi lagi menjadi bronkus subsegmental. Bronkus
ini dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki arteri, limfatik, dan saraf, (Syaifudin. 2011).
Bronkus subsegmental kemudian membentuk percabangan menjadi bronkiolus, yang tidak
mempunyai kartilago dalam dindingnya. Patensi bronkiolus seluruhnya tergantung pada
recoil elastik otot polos sekelilinginya dan pada tekanan alveolar. Brokiolus mengandung
kelenjar submukosa, yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus
untuk lapisan bagian dalam jalan napas. Bronkus dan bronkiolus juga dilapisi oleh sel-sel
yang permukaannya dilapisi oleh “rambut” pendek yang disebut silia. Silia ini menciptakan
gerakan menyapu yang konstan yang berfungsi untuk mengeluarkan lendir dan benda asing
menjauhi paru menuju laring, (Syaifudin. 2011). Bronkiolus kemudian membentuk
percabangan menjadi bronkiolus terminalis, yang tidak mempunyai kelenjar lendir dan
silia. Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respiratori, yang dianggap
menjadi saluran transisional antara jalan udara konduksi dan jalan udara pertukaran gas.
Sampai pada titik ini, jalan udara konduksi mengandung sekitar 150 ml udara

dalam percabangan trakeobronkial yang tidak ikut serta dalam pertukaran gas. Ini dikenal
sebagai ruang rugi fisiologik. Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus
alveolar dan sakus alveolar kemudian alveoli. Pertukaran oksigen dan karbon dioksida
terjadi dalam alveoli, (Syaifudin. 2011).
Alveoli

Paru terbentuk oleh sekitar 300 juta alveoli, yang tersusun dalam kluster anatara 15 sampai
20 alveoli. Begitu banyaknya alveoli ini sehingga jika mereka bersatu untuk membentuk
satu lembar, akan menutupi area 70 meter persegi (seukuran lapangan tennis). Terdapat
tiga jenis sel-sel alveolar. Sel-sel alveolar tipe I adalah sel epitel yang membentuk dinding
alaveolar. Sel-sel alveolar tipe II, sel-sel yang aktif secara metabolic, mensekresi surfaktan,
suatu fosfolid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps.
Sel alveoli tipe III adalah makrofag yang merupakan sel-sel fagositis yang besar yang
memakan benda asing (mis., lender, bakteri) dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan
yang penting, (Syaifudin. 2011). Selama inspirasi, udara mengalir dari lingkungan sekitar
ke dalam trakea, bronkus, bronkiolus, dan alveoli. Selama ekspirasi, gas alveolar menjalani
rute yang sama dengan arah yang berlawanan. Faktor fisik yang mengatur aliran udara
masuk dan keluar paru-paru secara bersamaan disebut sebagai mekanisme ventilasi dan
mencakup varians tekanan udara, resistensi terhadap aliran udara, dan kompliens paru.
Udara mengalir dari region yang tekanannya tinggi ke region dengan tekanan lebih rendah.
Selama inspirasi, gerakan diafragma dan otot-otot pernapasan lain memperbesar rongga
toraks dan dengan demikian menurunkan tekanan dalam toraks sampai tingkat di bawah
atmosfir. Karenanya, udara tertarik melalui trakea dan bronkus ke dalam alveoli. Selama
ekspirasi normal, diafragma rileks, dan paru mengempis, mengakibatkan penurunan
ukuran rongga toraks. Tekanan alveolar kemudian melebihi tekanan atmosfir, dan udara
mengalir dari paru-paru ke dalam atmosfir, (Syaifudin. 2011)

6. Manifestasi Klinik

Gejala klinis pneumotoraks spontan bergantung pada ada tidaknya tension pneumotoraks
serta berat ringan pneumotoraks. Pasien secara spontan mengeluh nyeri dan sesak napas
yang muncul secara tiba-tiba. Berdasarkan anamnesis, gejala-gejala yang sering muncul
adalah:

a. Sesak napas, yang didapatkan pada 80-100% pasien


b. Nyeri dada, yang didapatkan pada 75-90% pasien
c. Batuk-batuk, yang didapatkan pada 25-35% pasien ( Barmawi dan Budiono.
2006.)
Menurut Sudoyo (2006), Tanda dan gejala pneumothorak berupa :

 Sesak napas
 Dada terasa sempit
 Gelisah
 Keringat dingin
 Sianosis
 Tampak sisi yang terserang menonjol dan tertinggal dalam pernapasan
 Perkusi hipersonor
 Pergeseran mediastinum ke sisi sehati
 Pola napas melemah pada bagian yang terkena
 Suara amforik
 Saat diperkusi terdengar hiperosa
 Nyeri pleura
 Hipotensi
 Pemeriksaan radiologio
 AGD : ↓ CO2, ↓ PO2, ↑ PCO2, ↑ pH
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Foto Rongent
Gambaran radiologis yang tampak pada foto rontgen pneumothorax adalah :
- Bagian pneumothan torax akan tampak lusen, rata dan paru yang kolaps akan
tampak garis yang merupakan tepi paru. Kadang-kadang paru yang kolaps tidak
membentuk garis, akan tetapi berbentuk lobuler sesuai dengan lobus paru.
- Paru yang mengalami kolaps hanya tampak seperti masa radio opaque yang
berada di daerah hilus. Keadaan ini menunjukkan kolaps paru yang luas sekali.
Besar kolaps paru tidak selalu berkaitan dengan berat ringan sesak napas yang
dikeluhkan
- Jantung dan trakea mungkin terdorong ke sisi yang sehat, spatium intercostae
melebar, diafragma mendatar dan tertekan kebawah, apabila ada pendorongan
jantung atau trakea kea rah paru yang sehat, kemungkinan besar telah terjadi
pneumothorax ventil dengan tekanan intra pleura yang tinggi
- Pada pneumothorax perlu diperhatikan kemungkinan terjadi keadaan sebagai
berikut :
 Pneumodiastinum : terdapat ruang atau celah hitam pada tepi jantung
mulai dari basis sampai ke apeks. Hal ini terjadi apabila pecahnya fistel
mengarah mendekati hilus, sehingga udara yang dihasilkan akan terjebak
di mediastinum.
 Emfisema subkutan, dapat diketahui bila ada rongga hitam dibawah kulit.
Hal ini biasanya merupakan kelanjutan dari pneumodiastinum. Udara yang
tadinya terjebak di mediastinum lambat laun akan bergerak menuju
daerahyang lebih tinggi, yaitu daerah leher. Di sekitar leher terdapat
banyak jaringan ikat yang mudah ditenbus oleh udara, sehingga bila
jumlah udara yang terjebak cukup banyak maka dapat mendesak jaringan
ikat tersebut, bahkan sampai ke daerah dada depan belakang.
 Bila disertai adanya cairan di dalam rongga pleura, maka akan tampak
permukaan cairan sebagai garis datar di atas diafrgama foto Ro
pneumothorax (PA).
b. Analisis Gas Darah arteri dapat memberikan gambaran hipoksemia meskipun pada
kebanyakan pasien sering tidak diperlukan. Pada pasien dengan gagal napas yang
berat secara signifikan meningkatkan mortalitas sebesar 10%
c. CT-scan Thorax lebih spesifik untuk membedakan antara emfisema bullosa dengan
pneumothorax, batas antara udara dengan cairan intra dan ekstrapulmoner dan untuk
memebedakan antara pneumothorax spontan primer dan sekunder.

8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pneumothorax tergantung dari jenis pneumothorax. Dasar pengobatan
pneumothorax tergantung pada berat dan lamanya keluhan atau gejala, adanya riwayat
pneumothorax sebelumnya, jenis pekerjaan penderita. Sasaran pengobatan adalah
secepatnya mengembangkan paru yang sakit sehingga keluhan- keluhan juga berkurang
dan mencegah pneumothorax kambuh kembali. Pneumothorax mula-mula diatasi dengan
pengamatan konservatif bila kolaps paru-paru 20% atau kurang. Udara sedikit demi sedikit
diabsorbsi melalui permukaan pleura yang bertindak sebagai membran basah, yang
memungkinkan difusi oksigen dan karbondioksida. Pemilihan penatalaksanaan tergantung
pada :
 Tipe pneumothorax yang diderita
 Luas pneumothorax
 Gejala klinis, terjadinya kebocoran udara yang menetap (persistent air leak)
 Faktor risiko lain: jenis kelamin, pekerjaan, kebiasaan merokok, dll
Penatalaksanaan (terapi) yang dapat dilakukan ialah
1. Tindakan medis
Tindakan yang dilakukan disini berupa tindakan observasi, yaitu dengan mengukur
tekanan intra pleura menghisap udara dan mengembangkan paru. Tindakan ini terutama
ditunjukan pada pneumothorax tertutup atau terbuka, sedangkan untuk pneumothorax
ventil tindakan utama yang harus dilakukan dekompresi tehadap tekanan intra pleura
yang tinggi yaitu dengan cara membuat hubungan udara ke luar.
Observasi ini merupakan prosedur non-invasif. Bila hubungan antara alveoli dan
rongga pleura dihilangkan, maka udara di dalam rongga pleura akan diabsorbsi secara
betahap. Kecepatan absorpsi antara berkisar 1,25 % dari volume hemitoraks setiap 24
jam. ACCP (American College of Chest Physicians) membagi klinis penderita atas
penderita dalam kondisi stabil, jika :
 Laju napas < 24 x/menit
 Denyut jantung 60-120 x/menit
 Tekanan darah normal
 Saturasi oksigen > 90 % (tanpa asupan oksigen)
Setelah observasi penderita dapat dipulangkan dan datang kembali ke rumah sakit
bila terdapat gejala klinik yang memberat. Observasi tidak dilakukan pada penderita
dengan pekerjaan atau kondisi yang mengandung resiko tinggi terjadinya rekurensi.
Tindakan fisioterapi dengan pemberian penyinaran gelombang pendek pada
pneumothorax spontan kurang dari 30 %, secara bemakna meningkatkan absorbsi udara
dibandingkan dengan hanya observasi saja.
2. Tindakan dekompresi
Tindakan dekompresi ini dilakukan dengan cara membuat hubungan rongga pleura
dengan dunia luar dengan cara :
a. Menusukan jarum melalui dinding dada terus masuk ke rongga pleura dengan
demikian tekanan udara yang positif di rongga pleura akan berubah menjadi
negatif kerena udara yang positif di rongga pleura akan berubah menjadi
negatif karena udara yang keluar melalui jarum tersebut.
b. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra venil. Cara yang dapat
dilakukan antara lain:
- Dapat memakai infus set
- Jarum abbocath
- Pipa WSD (Water Sealed Drainage)
Pipa khusus (thoraks kateter) steril, dimasukkan ke rongga pleura dengan
perantara thorak atau dengan bantuan klem penjepit (pean). Pemasukan pipa
plastik (thoraks kateter) dapat juga dilakukan melalui celah yang telah dibuat
dengan insisi kulit dari sela iga ke 4 pada baris aksila tengah atau pada garis
aksila belakang. Selain itu dapat pula melalui sela iga ke 2 dari garis
klavikula tengah. Selanjutnya ujung sela plastik di dada dan pipa kaca WSD
dihubungkan melalui pipa plastik lainnya, posisi ujung pipa kaca yang
berada dibotol sebaiknya berada 2 cm di bawah permukaan air supaya
gelembung udara dapat dengan mudah keluar melalui tekanan tersebut.
- Penghisapan terus – menerus ( continous suction )
Penghisapan dilakukan terus-menerus apabila tekanan intra pleura tetap
positif, penghisapan ini dilakukan dengan memberi tekanan negatif sebesar
10 – 20 cm H2O dengan tujuan agar paru cepat mengembang dan segera
terjadi perlekatan antara pleura viseralis dan pleura parentalis. Apabila paru
telah mengembang maksimal dan tekanan intrapleura sudah negatif lagi,
drain-drain dapat dicabut, sebelum dicabut drain ditutup dengan cara dijepit
atau ditekuk selama 24 jam. Apabila paru tetap mengembang penuh, maka
drain dicabut.

3. Tindakan bedah
a. Dengan pembukaan dinding thoraks melalui operasi, dan dicari lubang yang
menyebabkan pneumothorax dan dijahit.
b. Pada pembedahan, apabila dijumpai adanya penebalan pleura yang menyebabkan
paru tidak dapat mengembang, maka dilakukan pengelupasan atau dekortisasi.
c. Dilakukan reseksi bila ada bagian paru yang mengalami robekan atau ada fistel dari
paru yang rusak, sehingga paru tersebut tidak berfungsi dan tidak dapat
dipertahankan kembali.
d. Pilihan terakhir dilakukan pleurodesis dan perlekatan antara kedua pleura ditempat
fistel.Pleurodesis Dilakukan terutama untuk mencegah rekurensi terutama
penderita dengan risiko tinggi untuk terjadinya rekurensi.
Tindakan bedah yang dapat dilakukan untuk menangani pneumothorax ialah:
 Torakoskopi
Tindakan torakoskopi untuk masih menjadi perdebatan, karena pada dasarnya
sekitar 64 % dari tindakan torakoskopi tidak terjadi rekurensi pada pemasangan.
Tindakan yang dilakukan adalah reseksi bula dan pleurodesis. Torakoskopi harus
dilakukan bila paru tidak mengembang setelah 48-72 jam.
 Torakotomi
Merupakan tindakan akhir apabila tindakan yang lain gagal. Tindakan ini memiliki
angka rekurensi terendah yaitu kurang dari 1 % bila dilakukan pleurektomi dan 2-
5 % bila dilakukan pleurodesis dengan abrasi mekanik.
Asuhan Keperawatan Pneumothorax
1. Pengkajian
Secara umum pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data tentang:

a. Identitas pasien

Identitas yang kita kaji disini ialah identitas pasien dan identitas penanggung jawab.
Identitas pasien berisi tentang nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, pendidikan,
pekerjaan, status, suku bangsa, nomor rekam medis, tanggal masuk rumah sakit, tanggal
pengkajian, diagnosa medis. Umur pasien dapat menunjukkan tahap perkembangan pasien
baik secara fisik maupun psikologis. Jenis kelamin dan pekerjaan perlu dikaji untuk
mengetahui hubungan dan pengaruhnya terhadap terjadinya masalah atau penyakit, dan
tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap pengetahuan klien tentang masalah atau
penyakitnya. Selain identitas pasien hal yang perlu dikaji ialah identitas penanggung jawab
pasien. Identitas penanggung jawab setidaknya berisi tentang nama, umur, jenis kelamin,
alamat, pekerjaan, dan hubungan dengan pasien. Identitas penanggung jawab perlu untuk
dikaji untuk mendapatkan kemudahan baik terhadap perawat maupun pasien. Dengan
mengkaji identitas penanggung jawab maka perawat dapat dengan mudah memberitahukan
segala informasi yang berhubungan dengan pasien, sementara manfaat bagi pasien ialah
pasien dapat mengetahui dengan pasti siapa yang bertanggung jawab terhadap dirinya dan
dapat bertanya segala sesuatu yang berhubungan dengan perawatannya kepada si pasien.
b. Riwayat Kesehatan
- Keluhan utama
Keluhan utama yang biasa dirasakan pasien ialah nyeri pleuritik hebat, nyeri pada
dada kiri luar dan nyeri tersebut terasa seperti cekit-cekit pada lokasi tersebut dan
nyeri tersebut dirasakan bertambah bila pasien bergerak. Nyeri yang dirasakan
pasien disini bersifat kronis. Keluhan lain yang dirasakan pasien ialah dispnea
(apabila pneumothorax tersebut sudah luas). Waktu sesak dan nyeri yang dirasakan
ialah kadang-kadang atau sesaat. Pasien juga mengeluh batuk, keluhan batuk yang
dirasakan pasien disini ialah masih terjadinya batuk kering. Klien juga merasa
sesak. Keluhan yang berhubungan dengan gangguan aktivitas klien ialah klien
mengeluh terjadinya gangguan kebutuhan istirahat dan tidur dikarenakan penyakit
yang diderita.
- Riwayat penyakit sekarang
Adanya nyeri dada yang disertai sesak nafas mendadak dan makin lama makin
berat. Nyeri dada unilateral meningkat karena pernapasan timbul gejala batuk,
nyeri menjalar ke paru atau lengan pada bagia yang sakit, oksprea dengan
aktifitas ataupun istirahat sampai pada kesulitan bernafas, takikardi, gelisah. sesak
nafas yang dirasakan semakin lama semakin berat. Sesak nafas dirasakan tiba-tiba.
Adanya sesak di daerah dada sebelah kiri.
- Riwayat penyakit dahulu
Klien yang mempunyai riwayat TBC paru, Bronkitis kronis, emfisema, Asma
Bronkiale, kanker paru lebih beresiko terkena pneumothorax. Kaji pula apakah
klien memiliki penyakit lain yang berhubungan dengan saluran pernafasan dan
dapat mengakibatkan pneumothorax. Kaji pula apakah pasien memiliki riwayat
pengobatan ataupun pembedahan yang berhubungan dengan pneumothorax.
c. Riwayat Psikososial
- Konsep Diri
Hal yang perlu dikaji ialah identitas pasien yang terdiri dari status pasien dalam
keluarga, apakah ia puas dan dapat menerima status dan posisinya di dalam
keluarga dan apakah pasien puas terhadap jenis kelaminnya. Kaji apakah pasien
senang terhadap peran yang ia miliki di dalam keluarga dan masyarakat.
Kaji harapan pasien mengenai penyakit yang dideritanya, apakah dia berharap cepat
sembuh dan dapat kembali menjalani peran dan fungsi yang ia miliki atau
sebaliknya. Kaji sosial dan interaksi pasien, apakh pasien mendapatkan dukungan
dari keluarga dan lingkungan sosialnya.
- Spiritual
Kaji tentang pandangan pasien terhadap pemilik kehidupan ini dan kepada siapa ia
menggantungkan harapannya, serta kaji pula kegiatan keagamaan apa yang
bermakna, nerarti, dan diharapkan saat ini.
d. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan pasien disini meliputi inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Pemeriksaan
yang dilakukan berupa:
- Pada Inspeksi: akan terlihat terjadinya pencembungan pada sisi yang sakit (hiper
ekspansi dinding dada)pada waktu respirasi, bagian yang sakit gerakannya
tertinggal, trakea dan jantung terdorong ke sisi yang sehat , deviasi trakhea, ruang
interkostal melebar.
- Pada Palpasi: Pada sisi yang sakit ruang antar iga dapat normal atau melebar, iktus
jantung terdorong ke sisi toraks yang sehat, fremitus suara melemah atau
menghilang pada sisi yang sakit. Jika ada Tension pneumothorax maka akan teraba
adanya detensi dari vena jugularis di sekitar leher.
- Perkusi: Suara ketok pada sisi sakit, hipersonor sampai timpani dan tidak
menggetar, batas jantung terdorong ke arah toraks yang sehat apabila tekanan
intrapleura tinggi, pada tingkat yang berat terdapat gangguan respirasi/sianosis dan
gangguan vaskuler/syok.
- Auskultasi : Pada bagian yang sakit suara napas melemah sampai menghilang,
suara vokal melemah dan tidak menggetar serta bronkofoni negative
Selain pemeriksaan diatas kita juga melakukan pemeriksaan persistem yaitu
sebagai berikut:
a. Sistem Pernafasan
 Sesak napas
 Nyeri
 Batuk-batuk
 Terdapat retraksi klavikula/dada
 Pengambangan paru tidak simetris
 Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain
 Pada asukultasi suara nafas menurun, bising napas yang berkurang/menghilang
 Pekak dengan batas seperti garis miring/tidak jelas
 Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat
 Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat
b. Sistem Kardiovaskuler
 Nyeri dada meningkat karena pernapasan dan batuk
 Takikardi, lemah
 Pucat, Hb turun /normal.
 Hipotensi
c. Sistem Persarafan
 Tidak ada kelainan
d. Sistem Perkemihan
 Tidak ada kelainan
e. Sistem Pencernaan
 Tidak ada kelainan
f. Sistem Muskuloskeletal dan Integumen
 Kemampuan sendi terbatas
 Ada luka bekas tusukan benda tajam
 Terdapat kelemahan
 Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya kripitasi sub kutan
g. Sistem Endokrin
 Terjadi peningkatan metabolisme
 Kelemahan
e. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan terdiri dari:
- Foto Rontgen
Gambaran radiologis yang tampak pada fotoröntgen kasus pneumothorax antara lain:
 Bagian pneumothorax akan tampak lusen, rata dan paru yang kolaps akan tampak garis
yang merupakan tepi paru. Kadang-kadang paru yang kolaps tidak membentuk garis,
akan tetapi berbentuk lobuler sesuai dengan lobus paru.
 Paru yang mengalami kolaps hanya tampak seperti massaradio opaque yang berada di
daerah hilus. Keadaan ini menunjukkan kolaps paru yang luas sekali. Besar kolaps paru
tidak selalu berkaitan dengan berat ringan sesak napas yang dikeluhkan.
 Jantung dan trakea mungkin terdorong ke sisi yang sehat, spatium intercostae melebar,
diafragma mendatar dan tertekan ke bawah. Apabila ada pendorongan jantung atau trakea
ke arah paru yang sehat, kemungkinan besar telah terjadi pneumothorax ventil dengan
tekanan intra pleura yangtinggi.
- Analisa Gas Darah
Analisis gas darah arteri dapat memberikan gambaran hipoksemi meskipun pada
kebanyakan pasien sering tidak diperlukan. Pada pasien dengan gagal napas yang berat
secara signifikan meningkatkan mortalitas sebesar 10%.
- CT-Scan Toraks
CT-scan toraks lebih spesifik untuk membedakan antara emfisema bullosa dengan
pneumothorax, batas antara udara dengan cairan intra dan ekstrapulmoner dan untuk
membedakan antara pneumothorax spontan primer dan sekunder.
f. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang dapat muncul pada pasien dengan pneumothorax adalah:
1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak
maksimal karena trauma
2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan
penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan
3. Perubahan kenyamanan berhubungan dengan nyeri akut trauma jaringan dan reflek
spasme otot sekunder
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan, tidak mengenal
penyakit dengan sumber informasi
g. Intervensi
Intervensi keperawatan pada diagnosa keperawatan 1
“Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak
maksimal karena trauma”
Tujuan: Pola pernapasan efektif
Kriteria Hasil Intervensi Rasional

1. Memperlihatkan
1. Berikan posisi yang nyaman,
1. Meningkatkan inspirasi
frekuensi nafas yang biasanya dengan peninggian maksimal, meningkatkan ekpansi
efektif kepala tempat tidur. Balik ke paru dan ventilasi pada sisi yang
2. Mengalami perbaikan sisi yang sakit. Dorong klien tidak sakit.
pertukaran gas pada untuk duduk sebanyak
paru-paru mungkin.
3. Adaptif mengatasi
faktor-faktor penyebab
2. Observasi fungsi pernapasan,
2. Distress pernapasan dan
catat frekuensi pernapasan, perubahan pada tanda vital dapat
dispnea atau perubahan tanda- terjadi sebgai akibat stress
tanda vital fifiologi dan nyeri atau dapat
menunjukkan terjadinya syock
sehubungan dengan hipoksia

3. Jelaskan pada klien bahwa


3. Pengetahuan apa yang
tindakan tersebut dilakukan diharapkan dapat mengurangi
untuk menjamin keamanan ansietas dan mengembangkan
kepatuhan klien terhadap rencana
teraupetik
4. Jelaskan pada klien tentang
4. Pengetahuan apa yang
etiologi/faktor pencetus adanya diharapkan dapat
sesak atau kolaps paru-paru mengembangkan kepatuhan
klien terhadap rencana teraupetik

5. Pertahankan perilaku tenang,


5. Membantu klien mengalami
bantu pasien untuk kontrol diri efek fisiologi hipoksia, yang
dengan menggunakan dapat dimanifestasikan sebagai
pernapasan lebih lambat dan ketakutan/ansietas
dalam

6. Perhatikan alat bullow drainase


6. Untuk mengontrol keadaan
berfungsi baik, cek setiap 1 - 2 pasien
jam

7. Kolaborasi dengan tim


7. Kolaborasi dengan tim
kesehatan lainnya. Dengan kesehatan lain unutk engevaluasi
dokter, radiologi dan perbaikan kondisi klien atas
fisioterapi dalam pemberian pengembangan parunya
antibiotika, analgetika,
fisioterapi dada, konsul foto
toraks

Intervensi keperawatan pada diagnosa keperawatan 2


“Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan
batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan”
Tujuan: Jalan nafas lancar/normal
Kriteria Hasil Intervensi Rasional

1. Klien menunjukkan
1. Jelaskan klien tentang
1. Pengetahuan yang diharapkan
batuk yang efektif kegunaan batuk yang efektif akan membantu
2. Tidak ada lagi dan mengapa terdapat mengembangkan kepatuhan
penumpukan sekret di penumpukan sekret di saluran klien terhadap rencana
saluran pernafasan pernapasan teraupetik.
3. Klien nyaman

2. Ajarkan klien tentang metode


2. Batuk yang tidak terkontrol
yang tepat pengontrolan batuk adalah melelahkan dan tidak
efektif, menyebabkan frustasi

3. Nafas dalam dan perlahan saat


3. Memungkinkan ekspansi paru
duduk setegak mungkin lebih luas

4. Lakukan pernapasan diafragma


4. Pernapasan diafragma
menurunkan frekuensi nafas dan
meningkatkan ventilasi alveolar

5. Tahan nafas selama 3 - 5 detik


5. Meningkatkan volume udara
kemudian secara perlahan- dalam paru mempermudah
lahan, keluarkan sebanyak pengeluaran sekresi sekret.
mungkin melalui mulut.
6. Lakukan nafas ke dua, tahan
6. Pengkajian ini membantu
dan batukkan dari dada dengan mengevaluasi keefektifan upaya
melakukan 2 batuk pendek dan batuk klien.
kuat.

7. Auskultasi paru sebelum dan


7. Sekresi kental sulit untuk
sesudah klien batuk. diencerkan dan dapat
menyebabkan sumbatan mukus,
yang mengarah pada atelektasis

8. Ajarkan klien tindakan untuk


8. Untuk menghindari pengentalan
menurunkan viskositas sekresi : dari sekret atau mosa pada
mempertahankan hidrasi yang saluran nafas bagian atas.
adekuat; meningkatkan
masukan cairan 1000 sampai
1500 cc/hari bila tidak
kontraindikasi.

9. Dorong atau berikan perawatan


9. Hiegene mulut yang baik
mulut yang baik setelah batuk. meningkatkan rasa kesejahteraan
dan mencegah bau mulut

10. Kolaborasi dengan tim


10. Expextorant untuk memudahkan
kesehatan lain. Dengan dokter, mengeluarkan lendir dan
radiologi dan fisioterapi dalam menevaluasi perbaikan kondisi
pemberian expectoran, klien atas pengembangan
pemberian antibiotika, parunya.
fisioterapi dada, konsul foto
toraks

Intervensi keperawatan pada diagnosa keperawatan 3


“Perubahan kenyamanan berhubungan dengan nyeri akut trauma jaringan dan reflek spasme otot
sekunder”
Tujuan: Nyeri berkurang/hilang
Kriteria Hasil Intervensi Rasional

1. Nyeri berkurang/
1. Jelaskan dan bantu klien
1. Pendekatan dengan
dapat diadaptasi dengan tindakan pereda nyeri menggunakan relaksasi dan
Pasien tidak gelisah nonfarmakologi dan non nonfarmakologi lainnya telah
2. Dapat invasif. menunjukkan keefektifan dalam
mengindentifikasi mengurangi nyeri.
aktivitas yang
meningkatkan/menuru
nkan nyeri 2. Ajarkan Relaksasi: Tehnik-
2. Akan melancarkan peredaran
3. Pasien tidak gelisah tehnik untuk menurunkan darah, sehingga kebutuhan O2
ketegangan otot rangka, yang oleh jaringan akan terpenuhi,
dapat menurunkan intensitas sehingga akan mengurangi
nyeri dan juga tingkatkan nyerinya.
relaksasi masase.

3. Ajarkan metode distraksi


3. Mengalihkan perhatian nyerinya
selama nyeri akut ke hal-hal yang menyenangkan

4. Berikan kesempatan waktu


istirahat bila terasa nyeri dan
berikan posisi yang nyaman;
4. Istirahat akan merelaksasi semua
misal waktu tidur, belakangnya jaringan sehingga akan
dipasang bantal kecil meningkatkan kenyamanan

5. Tingkatkan pengetahuan
5. Pengetahuan yang akan
tentang: sebab-sebab nyeri, dan dirasakan membantu mengurangi
menghubungkan berapa lama nyerinya. Dan dapat membantu
nyeri akan berlangsung mengembangkan kepatuhan
klien terhadap rencana
teraupetik.

6. Kolaborasi denmgan dokter,


6. Analgetik memblok lintasan
pemberian analgetik nyeri, sehingga nyeri akan
berkurang.

7. Observasi tingkat nyeri, dan


7. Pengkajian yang optimal akan
respon motorik klien, 30 menit memberikan perawat data yang
setelah pemberian obat obyektif untuk mencegah
analgetik untuk mengkaji kemungkinan komplikasi dan
efektivitasnya. melakukan intervensi yang
tepat..

Intervensi keperawatan pada diagnosa keperawatan 4


“Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan, tidak mengenal penyakit dengan
sumber informasi”
Tujuan: Setelah tindakan keperawatan dilakukan diharapkan pengetahuan pasien bertambah
Kriteria Hasil Intervensi Rasional

1. Klien bisa 1. Kontrak waktu dengan pasien 1. Menetapkan waktu untuk


menjelaskan pendidikan kesehatan
pengertian penyakit
2. Klien bisa
menjelaskan penyebab
penyakit 2. Berikan pendidikan kesehatan 2. Meningkatkan pengetahuan
3. Klien bisa pasien
menjelaskan tanda dan
gejala penyakit
4. Klien bisa 3. Evaluasi pengetahuan pasien 3. Mengetahui keberhasilan
menjelaskan pendidikan kesehatan
perawatan penyakit
5. Klien bisa
menjelaskan 4. Anjurkan kepada klien untuk
4. Mengingatkan kembali pada
pencegahan penyakit melakukan apa yang telah pasien
disampaikan dalam pendidikan
kesehatan