Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proses pendidikan dilaksanakan melalui dua tahap, yaitu tahap akademik dan
tahap profesi. Proses pendidikan tahap profesi di Indonesia dikenal dengan pembelajaran
klinik dan lapangan, yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk menerapkan ilmu yang dipelajari dikelas (pada tahap akademik) ke praktik klinik.
Program profesi (pengalamanbelajar klinik – PBK dan pengalaman belajar lapangan- PBL)
merupakan proses transformasi mahasiswa menjadi bidan professional. Dengan kata lain,
peserta didik dengan perilaku awal sebagai mahasiswa kebidanan,setelah memperoleh PBK
dan PBL dia akan memiliki perilaku sebagai bidan professional. Dalam fase ini,peserta didik
mendapat kesempatan beradaptasi pada perannya sebagai bidan professional dalam
masyarakat kebidanan dan lingkungan pelayanan atau askeb.
Program Profesi Pengalaman belajar klinik (PBK) dan pengalaman belajar
lapangan (PBL) adalah suatu proses transformasi mahasiswa menjadi bidan professional yang
memberikan kesempatan mahasiswa untuk beradaptasi dengan perannya sebagai bidan
professional dalam melakasanakan praktik kebidanan professional di situasi nyata pada
pelayanan kesehatan klinik.
Pembelajaran praktisi klinik adalah suatu bentuk pengalaman belajar profesional
yang menekankan padapentingnya klien, mahasiswa dan konteks situasionalproses
pembelajaran terjadi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu konsep pembelajaran klinik?


2. Apa saja isu-isu yang terkait dalam praktik klinik?
3. Bagaimana komunikasi dalam bimbingan klinik dan prilaku asertif?
4. Apa saja tantangan dalam pembelajaran klinik?

1
1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum membuat makalah ini yaitu untuk memahami tentang konsep
pembelajaran klinik

1.3.2 Tujuan Khusus

Untuk memahami tentang konsep pembelajran klinik khususnya mengenai isu-isu


yang terkait, komunikasi dan prilaku asertif serta tantangan dalam pembelajaran klinik

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Pembelajaran Klinik


Pembelajaran praktisi klinik adalah suatu bentuk pengalaman belajar profesional
yang menekankan padapentingnya klien, mahasiswa dan konteks situasional proses
pembelajaran terjadi (Smyth,W.J.1986)
Merupakan salah satu metode mendidik peserta didik di klinik yang
memungkinkan pendidikan memilih dan menerapkan cara mendidik yang sesuai dengan
objektif (tujuan), dan karakteristik individual peserta didik berdasarkan kerengka konsep
pembelajaran. (Nursalam,2002)

2.2 Isu-Isu yang Terkait dalam Praktik Klinik


a. Belum jelasnya tujuan yang ingin dicapai
b. Lebih cenderung untuk fokus pada aspek pengetahuan berdasarkan fakta daripada
pengembangan sikap serta keterampilan dalam memecahkan masalah
c. Peserta didik lebih banyak melakukan observasi pasif dibandingkan partisipasi aktif
d. Kesempatan berdiskusi masih kurang
e. Supervisi yang belum adekuat dan kurangnya masukan dari pembimbing klinik
f. Kurangnya penghargaan terhadap privasi dan harga diri klien

2.3 Komunikasi Dalam Bimbingan Klinik dan Prilaku Asertif

Kata asertif berasal dari bahasa Inggris yaitu “to assert” yang berarti positif yaitu
menyatakan sesuatu dengan terus-terang atau tegas serta bersikap positif (Fensterheim dan
Baer dalam Syarani, 1995).

Menurut Mallot, dkk (Prabana, 1997) “to assert” artinya sebagai cara
menyatakan sesuatu dengan sopan mengenai hal-hal yang menyenangkan maupun yang
dirasa mengganggu atau kurang berkenan.

3
Menurut Lazarus (Fensterheim, 1980) perilaku asertif adalah suatu tingkah laku
yang penuh ketegasan yang timbul karena adanya kebebasan emosi dan keadaan efektif yang
mendukung, yang antara lain meliputi:

 Menyatakan hak-hak pribadi.


 Berbuat sesuatu untuk mendapatkan hak tersebut.
 Dan melakukan hal tersebut sebagai usaha untuk mencapai kebebasan emosi (Iriani,
2009).

Menurut Sukaji (1983) perilaku asertif adalah perilku seesorang dalam hubungan
antar pribadi yang menyangkut ekpresi emosi yang tepat, jujur, relatif terus terang, dan tanpa
perasaan cemas terhadap orang lain. Perilaku asertif merupakan perilaku seseorang dalam
mempertahankan hak pribadi serta mampu mengekspresikan pikiran, perasaan, dan
keyakinan secara langsung dan jujur dengan cara yang tepat. Perilaku asertif sebagai perilaku
antar pribadi yang bersifat jujur dan terus terang dalam mengekspresikan pikiran dan
perasaan dengan mempertimbangkan pikiran dan kesejahteraan orang lain (Fitri, 2009).

Menurut Rathus (1986) orang yang asertif adalah orang yang mengekspresikan
perasaan dengan sungguh-sungguh, menyatakan tentang kebenaran. Mereka tidak menghina,
mengancam ataupun meremehkan orang lain. Orang asertif mampu menyatakan perasaan dan
pikirannya dengan tepat dan jujur tanpa memaksakannya kepada orang lain (Iriani, 2009).

Menurut Burley asertif adalah suatu bentuk tingkah laku yang menunjukkan
penghormatan terhadap diri dan orang lain. Tingkah laku asertif bersikap terbuka, jujur
terhadap diri dan orang lain (Hamzah & Ismail, 2008).

Menurut MacNeilage dan Adams, asertif adalah satu bentuk tingkah laku
interpersonal yang terdiri dari komunikasi secara langsung, terbuka dan jujur yang
menunjukkan pertimbangan dan penghormatan terhadap individu lain (Hamzah & Ismail,
2008).

Definisi lain dikemukakan oleh Galassi dan Galassi, yang menyatakan bahwa
sikap asertif adalah pengungkapan secara langsung kebutuhan, keinginan dan pendapat
seseorang tanpa menghukum, mengancam, atau mengarahkan orang lain. Asertif juga
meliputi mempertahankan hak mutlak orang lain (Fauziah, 2009).

4
Prilaku asertif adalah prilaku bersifat aktif, langsung, dan jujur. Prilaku ini
mampu mengkomunikasikan kesan respek kepada diri sendiri dan orang lain sehingga dapat
memandang keinginan, kebutuhan, dan hak kita sama dengan keinginan dan kebutuhan orang
lain atau bisa diartikan juga sebagai gaa wajar yang tidak lebih dari sikap langsung, jujur dan
penuh respek saat berinteraksi dengan orang lain.(Lloyd,dalam Novalia dan Dayakisni, 2013)

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa asertivitas adalah individu yang
dapat mengungkapkan dan mengekspresikan melalui verbal serta nonverbal akan kebutuhan-
kebutuhan dalam dirinya berupa pendapat, perasaan, keinginan, pikiran, harapan dan tujuan
baik positif maupun negatif secara tegas dan terbuka tanpa ditutup-tutupi tetapi tidak
menyinggung perasaan orang lain

Asertivitas merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang


diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai
hak-hak serta perasaan orang lain. Tujuan dari komunikasi asertif adalah untuk
menyenangkan orang lain dan menghindari konflik dengan segala akibatnya (walker, 1996).

Williams (2002) mengungkapkan 4 elemen asertivitas, yaitu: Perasaan,


Kebutuhan, Hak, Opini. Individu dapat berkontribusi menyatakan pendapat terhadap sesuatu.
Komunikasi sebagai sarana untuk mengadakan pertukaran ide, fikiran dan
perasaan atau keterangan dalam rangka menciptakan rasa saling mengerti dan saling percaya.
Menurut Calr Rogersm mengemukakan hubungan pembimbing klinik-peseta diik
adalah saling hubugan saling membantu dimana satu pihak selalu membantu pertumbuhan,
perkembangan, kemtangan, peningkatan fungsi, peningkatan koping dari pihak yang lainnya.
Pembimbing dan peserta didik sama-sama belajar.
Menurut Relly dan Obermann, 1999 dalam Ernawati (2008) tujuan bimbingan
klinik yaitu membantu peserta didik menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat praktek,
memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan
keterampilan yang dipelajari dikelas secara terintegrasi ke situasi nyata, dengan
mengembangan potensi peserta didik dalam menampilkan prilaku atau keterampilan yang
bermutu kesituasi nyata dalam praktek. Memberi kesempatan kepada peserta didik mencari
pengalaman kerja secara tim dalam membantu proses kesembuhan klien, memberi
pengalaman awal dan memperkenalkan kepada peserta didik tentang situasi kerja profesional,
dan membantu peserta didik dalam mencapai tujuan praktek klinik.

5
2.4 Tantangan dalam Pembelajaran Klinik
Tantangan dari pengajaran klinik adalah sebagai berikut.

1. Dibatasi oleh waktu.


2. Berorientasi pada tuntutan klinik (jumlah klien dan mahasiswa)
3. Meningkatnya jumlah mahasiswa
4. Jumlah klien yangb sedikit (hari rawat inapnya pendek, ada klien yang menolak inform
consent)
5. Lingkungan klinik terkadang kurang kondusif bagi pembelajaran (sarana dan prasarana)
6. Reward yang diterima oleh pembimbing klinik kurang memenuhi standar

6
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pembelajaran praktisi klinik adalah suatu bentuk pengalaman belajar profesional
yang menekankan padapentingnya klien, mahasiswa dan konteks situasional proses
pembelajaran terjadi. (Smyth,W.J.1986)

Isu-isu terkait dalam praktik klinik:

a. Belum jelasnya tujuan yang ingin dicapai


b. Lebih cenderung untuk fokus pada aspek pengetahuan berdasarkan fakta daripada
pengembangan sikap serta keterampilan dalam memecahkan masalah
c. Peserta didik lebih banyak melakukan observasi pasif dibandingkan partisipasi aktif
d. Kesempatan berdiskusi masih kurang
e. Supervisi yang belum adekuat dan kurangnya masukan dari pembimbing klinik
f. Kurangnya penghargaan terhadap privasi dan harga diri klien

Prilaku asertif adalah prilaku bersifat aktif, langsung, dan jujur. Prilaku ini mampu
mengkomunikasikan kesan respek kepada diri sendiri dan orang lain sehingga dapat
memandang keinginan, kebutuhan, dan hak kita sama dengan keinginan dan kebutuhan orang
lain atau bisa diartikan juga sebagai gaa wajar yang tidak lebih dari sikap langsung, jujur dan
penuh respek saat berinteraksi dengan orang lain.(Lloyd,dalam Novalia dan Dayakisni, 2013)

Asertivitas adalah individu yang dapat mengungkapkan dan mengekspresikan


melalui verbal serta nonverbal akan kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya berupa pendapat,
perasaan, keinginan, pikiran, harapan dan tujuan baik positif maupun negatif secara tegas dan
terbuka tanpa ditutup-tutupi tetapi tidak menyinggung perasaan orang lain.

Komunikasi sebagai sarana untuk mengadakan pertukaran ide, fikiran dan perasaan
atau keterangan dalam rangka menciptakan rasa saling mengerti dan saling percaya

Menurut Relly dan Obermann, 1999 dalam Ernawati (2008) tujuan bimbingan
klinik yaitu membantu peserta didik menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat praktek

7
Tantangan dari pengajaran klinik adalah sebagai berikut.

1. Dibatasi oleh waktu.


2. Berorientasi pada tuntutan klinik (jumlah klien dan mahasiswa)
3. Meningkatnya jumlah mahasiswa
4. Jumlah klien yangb sedikit (hari rawat inapnya pendek, ada klien yang menolak inform
consent)
5. Lingkungan klinik terkadang kurang kondusif bagi pembelajaran (sarana dan prasarana)
6. Reward yang diterima oleh pembimbing klinik kurang memenuhi standar

3.2 Saran

Dengan ditulisnya makalah ini diharapkan agar penulis serta pembaca dapat
memahami dan mengerti mengenai konsep pembelajaran klinik khususnya mengenai isu-isu
terkait dalam praktik klinik, komunikasi dalam bimbingan klinik dan prilaku asertif serta
tantangan dalam pembelajaran klinik.

8
DAFTAR PUSTAKA

Hamzah, R. & Ismail F. (2008). Asertif Program Mengajar. Malaysia : UTM Press.

Nursalam, 2012. Pendidikan dalam Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika