Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN

SOLIDA

KURVA LAJU PENGERINGAN

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 5

Khadijah 11194761920095
Kharlinia Eprianti 11194761920096
Misnah 11194761920101
Muhammad Ali Topan E.P 11194761920103
Nur Ayu Amelia 11194761920111
Siti Rudiah 11194761920125
Wina Destyana Dewi 11194761920130

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MULIA
BANJARMASIN
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengeringan merupakan proses yang tak terpisahkan dalam
pembuatan farmasi. Pengeringan merupakan proses untuk mengeliminasi
keadaan lembab yang dapat merusak kestabilan sediaan dimana transfer panas
dan massa terlibat pada proses ini. Tujuan pengeringan adalah untuk
mengurangi kadar air sampai batas perkembangan mikroorganismedan
kegiatan enzim yang dapat menyebabkan pembusukan terhambat atau
terhenti. Ada beberapa macam-macam teknik pengeringan, yaitu pengeringan
dengan udara dan panas, pengeringan bekuan, pengeringan melalui frekuensi
tinggi, pengeringan melalui semburan, pengeringan melalui lapisan
berpusing, dan pengeringan kandungan lembab. Sedangkan alat-alat yang
digunakan dalam pengeringan diantaranya dalah spray dryers, fluidized bed
dryers, vacuum dryers, flash dryers, rotary dryers, dan conducting
dryers.pemilihan alat pengering di dasrkan pada factor-faktor sepertikondisi
bahan, sifat bahan, jenis cairan yang terkandung dalam bahan dan kuantitas
bahan.

Agar hasil optimal dapat diperoleh, bahan yang dikeringkan harus


memilki permukaan yang luas, hal ini dimaksudkan agar panas dapat
mengenai permukaan secara merata sehingga proses pengeringan berjalan
sempurna. Pada umumnya pengeringan yang sempurna hampir tak mungkin
dicapai karena akan selalu tercapai keadaan seimbang antara zat yang
dikeringkan dengan kelembapan dalam udara. Akan tetapi dengan suplai
panas yang terkendali dan sirkulasi udara yang terkontrol, tingkat
pengeringan yang tinggi dapat dicapai.

Tablet (compressi) merupakan sediaan padat kompak dibuat secara


kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler. Kedua permukaan rata
atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan
tambahan. Dalam pembuatan tablet zat berkhasiat, zat lain. Kecuali zat
pelican dibuat granul (butiran kasar) karena serbuk halus tidak mengisi
cetakan tablet dengan baik. Maka dibuat granul agar mudah mengalir (free
flowing) mengisi cetakan serta menjaga agar tablet tidak retak (capping)

B. Tujuan Praktikum
Tujuan percobaan ini untuk mengetahui proses perubahan kandungan
air dan granul akibat perlakuan panas selama proses pengeringan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tablet
Tablet adalah campuran zat aktif dan zat pengikat, biasanya dalam
bentuk bubuk, yang dibentuk menjadi padatan. Tablet dibagi menjadi beberapa
golongan, di antaranya berdasarkan: metode pembuatannya, distribusi obat
dalam tubuh, jenis bahan penyakit, dan tujuan penggunaan obat.
Kelebihan sediaan tablet dibandingkan sediaan lain yaitu ketepatan
ukuran dan variabilitas kandungan yang paling rendah, ringan dan kompak,
mudah dan murah untuk dikemas serta bisa dijadikan produk dengan profil
pelepasan khusus, biaya produksi tablet murah dan dapat diproduksi besr-
besaran serta memiliki sifat pencampuran kimia, mekanik dan stabilitas
mikrobiologi yang paling baik ( Banker dan Anderson, 1986).
Pada umumnya tablet kempa mengandung zat aktid dan pengisi,
bahan pengikat, disentegrant dan lubrikan. Dapat juga mengandung bahan
warna yang diizinkan, bahan pengaroma dan pemanis (Anonim, 1995). Bahan
pembantu tablet harus netral, tidak berbau, tidak berasa dan jika mungkin tidak
berwarna (Voigt, 1984).
Untuk membuat tablet diperlukan zat tambahan berupa
1. Zat pengisi (diluents), dimaksudkan untuk memperbesar volume tablet dan
memperbaiki daya kohesi sehingga dapat dikempa langsung atau untuk
memacu aliran (Banker dan Anderson, 1986). Bahan pengisi yang sering
digunakan antara lain laktosa, pati dan selulosa mikrokristal )Anonim,
1995).
2. Zat pengikat (binder), dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak.
Bahan pengikat memberikan daya adhesi pada masa serbuk sewaktu
granulasi dan pada tablet sewaktu dikempa serta menambah daya kohesi
yang telah ada pada bahan pengisi. Zat pengikat dapat ditambahkan dalam
bentuk kering, tetapi lebih efektif jika ditambah dalam larutan (Anonim,
1995). Bahan pengikat sebaiknya digunakan sedikit mungkin karena
apabila trlalu berlebihan akan menjadi tablet yang keras sehingga waktu
pengempakanya membutuhkan tenaga yang lebih. Bahan pengikat yang
biasa digunakan yaitu gula, jenis pati, gelatin turunan selulosa, gom arab
dan tragakan (Voigt, 1984).
3. Zat penghancur (disentegrant), dimaksudkan agar tablet mudah dapat
hancur didalam lambung atau usus. Bahan penghancur dapat berfungsi
menarik air kedalam tablet, mengembang dan menyebabkan tablet pecah
menjadi bagian-bagian (Banker dan Anderson, 1985). Kerja bahan
penghancur adalah melawan kerja bahan pengikat dan kekuatan fisik tablet
sebagai akibat tekanan mekanik pada proses pengempaan, makin kuat kerja
bahan pengikat maka diperlukan bahan penghancur yang lebih efektif.
Bahan penghancur yang umum digunakan yaitu amilum, alginate, dan
selulosa (Voigt, 1884).
4. Zat pelicin ( lubricant), dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan.
Dengan memperbaiki sifat alir massa atau granul yang akan dibuat tablet
dan mengurangi penyimpangan massa sehingga meningkatkan ketepatan
dosis dari tablet.bahan pelican berfungsi untuk memudahkan mendorong
tablet keatas keluar cetakan melalui pengurangan gesekan antara dinding
dalam lubang ruang cetak dengan permukaan sisi tablet (Voigt, 1084).
Pengeringan (drying) zat padat berarti pemisahan sejumlah kecil air
atau zat cair lain dari bahan padat, sehingga mengurangi kandungan sisa zat
cair di dalam zat padat itu sampai suatu nilai terendah yang dapat diterima.
Pengeringan biasanya merupakan alat terakhir dari sederetan operasi, dan hasil
pengeringan biasanya siap untuk dikemas.(McCabe, 2002). Ada pengering
yang beroperasi secara kontinyu (sinambung) dan batch.Untuk mengurangi
suhu pengeringan, beberapa pengering beroperasi dalam vakum.Beberapa
pengering dapat menangani segala jenis bahan, tetapi ada pula yang sangat
terbatas dalam hal umpan yang ditanganinya.
Pembagian pokok pengering (dryer) :
1 Pengering (dryer) dimana zat yang dikeringkan bersentuhan langsung
dengan gas panas (biasanya udara) disebut pengering adiabatik (adiabatic
dryer) atau pengering langsung (direct dryer).
2 Pengering (dryer) dimana kalor berpindah dari zat ke medium luar, misalnya
uap yang terkondensasi, biasanya melalui permukaan logam yang bersentuhan
disebut pengering non adiabatik (non adiabatic dryer) atau pengering tak
langsung (indirect dryer). (Mc. Cabe, 2002)
proses pegeringan berlangsung dalam lima tahap. Tahap pertama ditandai
dengan adanya kenaikan temperature granul karena ada panas yang tidak
masuk. Lalu air dalam granul meguap dan temperature granul turun kembali.
Tahap ini diakhiri dengan terjadinya keseimbangan antara laju penguapan dan
laju perpindahan panas. Sehingga temperature pada ranul menjadi konstan.

B. Deskripsi Bahan Praktikum


Bahan-bahan yang digunakaan sat praktikum yaitu :

1. Sacchraum Lactis
Nama zat Lactosa, saccharum lactis
Pemerian Berupa serbuk atau masa hablur, keras, tidak berbau dan
rasa sedikit manis, higroskopik
Kegunaan Sebagai bahan pengisi dalam pembuatan tablet
Struktur
kimia

Rumus kimia C12H22O11


Kelarutan Mudah larut dalam air dan lebih mudah larut dalam air
mendidih, sangat sukar larut dalam etanol, tidak larut
dalam kloroform dan eter
2. Amprotab (Amilum pro tablet)
Nama zat Amylum, solany amilum
Pemerian Tidak berbau dan berasa, serbuk berwarna putih berupa
granul-granul kecil
Kegunaan Sebagai bahan pengisi dalam pembuatan tablet
Struktur
kimia

Rumus kimia C6H10O5


Kelarutan Praktis tidak larutdalam etanol dan air dingin, larut dalam
air panas
3. Musilago amili 10%
Nama zat PGA (pulvis Gummi Arabicum)
Pemerian Tidak berwarna atau kekuningan, kental dan lengket
Kegunaan Sebagai zat pengikat pada pembuatan tablet
Struktur
kimia
Rumus
molekul
Kelarutan Hampir larut sempurna dalam air
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan


1. Alat :
Piringan petri enam pasang
Lemari pengeringan
Ayakan
Neraca
2. Bahan :
Saccharum lactis
Amilum pro tablet
Musilago amili (10%)

B. Formulasi
C. Prosedur Kerja
Timbang piring petri kosong

Timbang 25 gram Sacharum lactis dan amilum pro tablet, masukan


kedalam mixer dan campur sampai homogen (5menit)

Buat musilago amili 10% sebanyak 25 ml, tambahkan campuran


Sacharum lactis dan amilum sedikit demi sedikit, campur homogeny
sampai terbentuk granul kemudian ayak dengan ayakan nomor 44

Timbang granul yang telah jadi, masukan ke masing-masing piringan


petri

Masukan ke enam piring petri dengan hati-hati kedalam lemari pengering


dan keringkan pada suhu 600 C, piringan petri dalam keaadaan terbuka

Setelah waktu tertentu yaitu 15, 30, 60, 90 dan 120 menit. keluarkan
piring petri dari lemari pengering dalam keadaan terbuka, dinginkan dan
timbang

Biarkan satu piring petri dalam lemari pengering, lanjutkan pengeringan


sampai 4 hari

Timbang berat granul setelah pengeringan selama 4 hari dan catat sebagai
berat granul kering
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan/perhitungan
Tabel.1 hasil pengamatan (tolong tambahi kata2nya lah ya kd igt aku apa
kalimatnya)

Waktu (t) Berat petri + granul basah Berat petri + granul kering

15 menit 55,67 g 54,61 g


30 menit 47,12 g 46,57 g
45 menit 61,38 g 60,84 g
60 menit 43,2 g 42,49 g
90 menit 46,7 g 45,26 g
4 hari 46 g 44,05 g
Perhitungan kandungan lembab granul, setelah waktu pengeringan 15
menit, 30 menit, 45 menit, 60 menit, 90 menit dan 4 hari.

1. Setelah pengeringan
(t = 15) Berat petri + granul = 54,61 g
Berat petri = 47,17 g
Berat granul = 7,44 g
(t = 30) Berat petri + granul = 46,57 g
Berat petri = 38,62 g
Berat granul = 7,95 g
(t = 45) Berat petri + granul = 60,84 g
Berat petri = 62,88 g
Berat granul = 7,96 g
(t = 60) Berat petri + granul = 42,49 g
Berat petri = 34,70 g
Berat granul = 7,79 g
(t = 90) Berat petri + granul = 45,26 g
Berat petri = 37,67 g
Berat granul = 7,59 g
2. Setelah pengeringan 4 hari
(t = 4 hari) Berat petri + granul = 44,05 g
Berat petri = 37,5 g
Berat granul = 6,55 g

B. Pembahasan
BAB V
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
JAWABAN PERTANYAAN
1. Apa pengaruh kandungan air berlebih dalam granul ?
2. Jelaskan lima tahapan kurva laju pengeringan !

Jawaban :

1.