Anda di halaman 1dari 19

Case Report Session

ADENOMYOSIS

PRESENTAN :

Khaira Ummah (1410070100134)

PRESEPTOR :

dr. Yufi Permana Marsal, M.Ked(OG), Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR

BAGIAN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BAITURRAHMAH

RSUD M. NATSIR SOLOK

2019
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT, atas berkat rahmat dan
karunia yang diberikan-Nya, sehingga penyusunan Case Report Session yang berjudul
“Adenomyosis” dapat diselesaikan. Penulisan kasus ini diharapkan berguna sebagai khasanah
ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang kesehatan yang memberikan gambaran tentang
berbagai penyakit dalam laporan kasus ini dan dapat bermanfaat bagi institusi pendidikan
sebagai sarana pendidikan untuk mempersiapkan peserta didik di lingkungan pendidikan
kesehatan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Yufi Permana Marsal, SpOG selaku
pembimbing sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan case ini tepat waktu demi
memenuhi tugas kepaniteraan klinik senior. Kami menyadari masih banyak kesalahan baik
dalam segi penyusunan, pengolahan, pemilihan kata, dan proses pengetikan karena masih
dalam tahap pembelajaran. Saran dan kritik yang membangun tentu sangat kami harapkan
untuk penyempurnaan dan perbaikan di masa yang akan datang. Akhir kata, semoga case ini
dapat berguna khususnya bagi kami sebagai penulis dan bagi pembaca pada umumnya dalam
memahami masalah yang berhubungan dengan adenomyosis.

Solok, 21 Oktober 2019

Penulis
DAFTAR ISI

COVER

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i

DAFTAR ISI............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang .................................................................................... 1

1.2. Tujuan ................................................................................................. 1

1.3. Manfaat ............................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 3

2.1 Definisi Adenomiosis ......................................................................... 3

2.2 Etiologi Adenomiosis ......................................................................... 3

2.3 Faktor Resiko Adenomiosis................................................................ 4

2.4 Manifestasi Klinis Adenomiosis ......................................................... 4

2.5 Komplikasi Adenomiosis ................................................................... 5

2.6 Tatalaksana Adenomiosis ................................................................... 5

BAB III LAPORAN KASUS ................................................................................ 9

BAB IV ANALISA KASUS................................................................................. 14

BAB V KESIMPULAN ....................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Saat ini gangguan haid merupakan keluhan tersering bagi wanita yang datang ke poliklinik
ginekologis dan menoragia merupakan salah satu diantaranya yang tersering. Hampir semua
wanita pernah mengalami gangguan haid selama hidupnya bahkan banyak diantaranya harus
mengalami gangguan ini setiap bulannya. Gangguan ini dapat terjadi dalam kurun waktu
antara menarche dan menopause. Gangguan haid atau perdarahan abnormal menjadi masalah
menarik sehubungan dengan makin meningkatnya usia harapan hidup perempuan.
Penelitian ginekologis terbaru melaporkan bahwa sekitar 30% wanita premenopause
mengeluhkan menstruasi yang berlebihan. World Health Organizations (WHO) baru-baru ini
melaporkan bahwa 18 juta wanita golongan usia 30-55 tahun merasa bahwa perdarahan
dalam menstruasinya berlebihan. Menorrhagia harus dapat dibedakan dari diagnosis
ginekologis lainnya, termasuk metroragia, menometroragia, polimenorea dan perdarahan
karena disfungsi uterus (dysfunctional uterine bleeding).Menoragia sendiri merupakan suatu
keadaan dimana siklus menstruasi dalam interval yang normal tapi memiliki durasi yang
memanjang dan perdarahan yang berlebihan.
Perdarahan yang berlebihan pada menstruasi merupakan keluhan yang subjektif, sehingga
menyulitkan penegakan diagnosis menoragia. Regimen terapi sebaiknya mengacu pada siklus
menstruasi yang dianggap tidak normal oleh pasien, yaitu lamanya menstruasi dan jumlah
perdarahan.Keberhasilan terapi pun lagi-lagi berdasarkan penilaian subjektif pasien sehingga
pengukuran keberhasilan pun menjadi lebih sulit.

2. Tujuan
a. Tujuan Umum
Penulisan kasus ini bertujuan untuk melengkapi syarat Kepaniteraan Klinik Senior
(KKS) bagian obstetric dan ginekology di RSUD M.Natsir Solok.
b. Tujuan Khusus
Mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan ektopik mulai dari definisi
hingga penatalaksanaan.
3. Manfaat
a. Bagi Penulis
Sebagai acuan dalam mempelajari, memahami dan mengembangkan teori mengenai
adenomiosis.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat dijadikan sumber referensi atau bahan perbandingan bagi kegiatan yang ada
kaitannya dengan pelajaran kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan adenomiosis.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Adenomiosis adalah suatu keadaan dimana jaringan endometrium yang merupakan
lapisan bagian dalam rahim, ada dan tumbuh di dalam dinding (otot) rahim. Biasanya terjadi
di akhir2 masa usai subur dan pada wanita yang telah melahirkan.
Ademomyosis adalah keadaan di mana jaringan endometrium, yang biasanya ada pada
garis rahim, hadir dalam dan tumbuh ke dalam dinding otot rahim. Hal ini paling mungkin
terjadi di akhir tahun Anda melahirkan dan setelah Anda sudah memiliki anak.
Adenomiosis tidak sama seperti endometriosis - suatu kondisi di mana lapisan rahim
menjadi tertanam di luar rahim - meskipun perempuan dengan adenomiosis sering juga
memiliki endometriosis.

B. Etiologi
Ukuran rahim membesar 2 atau 3 kali lipat ukuran normal. Penyebab tidak diketahui
pasti, ada beberapa teori diduga sebagai penyebabnya:
1. Jaringan endometrium yang menyusup ke dinding rahim.
Ini terjadi contohnya saat dilakukan operasi cesar, sel endometrium menyusup
ke dinding rahim, lalu tumbuh dan berkembang disana. Beberapa ahli percaya bahwa
adenomiosis hasil dari invasi langsung dari sel-sel endometrium dari permukaan
rahim ke dalam otot yang membentuk dinding rahim. Insisi uterus dilakukan selama
operasi seperti operasi caesar (C-section) mempromosikan invasi langsung dari sel-sel
endometrium ke dalam dinding rahim.
2. Teori Pertumbuhan.
Diyakini sejak awal, jaringan endometrium ini memang sudah ada saat janin
mulai tumbuh. ahli lainnya berspekulasi adenomiosis yang berasal dalam otot rahim
dari jaringan endometrium disimpan di sana ketika rahim pertama kali terbentuk pada
janin perempuan.
3. Peradangan rahim akibat proses persalinan.
Teori ini menyatakan ada hubungan antara adenomiosis dan proses persalinan.
Proses deklamasi endometrium pada periode paska persalinan bisa menyebabkan
pecahnya/putusya ikatan sel pada endometrium.
Dari teori diatas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa faktor risiko terkena adenomiosis
adalah persalinan baik cesar maupun normal.
Walaupun tidak berbahaya, nyeri dan perdarahan berlebihan yang ditimbulkannya bisa
menggangu aktifitas sehari-hari. Bahkan jika nyeri berulang dapat menyebabkan gangguan
psikologi pada penderita seperti depresi, sensi, gelisah, marah dan rasa tidak berdaya. Dalam
hal-hal seperti ini perlu segera cari pertolongan dokter. Perdarahan yang banyak dalam waktu
yang lama akan menyebabkan anemia.

C. Faktor resiko
a. Usia produktif
b. Menarche dini (<10 th)
c. Riwayat keluarga
d. Siklus haid pendek
e. Menoragia
f. Multiparitas
g. Riwayat pembedahan uterus
h. Merokok

D. Manifestasi Klinis
Adenomyosis mungkin tidak menghasilkan segala gejala-gejala, meskipun beberapa
wanita-wanita mungkin mengalami:
a. Perdarahan yang berlebihan,
b. Periode-periode menstruasi yang menyakitkan, Diharapkan dengan menikah dan
kemudian melakukan hubungan intim dan mengalami orgasme akan mengurangi
ketegangan pada rahim sehingga dismenore akan berkurang. Kehamilan juga dapat
mengurangi dimenore, yang diduga terjadi karena hilangnya sebagian saraf pada
akhir kehamilan.
c. Perdarahan diantara periode-periode, dan
d. Hubungan seksual yang menyakitkan.
e. Perdarahan menstruasi berat atau lama
f. Parah kram atau tajam, nyeri panggul pisau seperti selama menstruasi (dismenore)
g. Kram menstruasi yang berlangsung sepanjang periode Anda dan memburuk seiring
bertambahnya usia
h. Nyeri selama hubungan seksual
i. Pendarahan antara periode
j. Gumpalan darah Passing selama periode anda

E. Komplikasi
Adenomiosis dengan perdarahan yang banyak dan berkepanjangan saat menstruasi dapat
menimbulkan anemia. Selain anemia, adenomiosis juga dapat mengganggu kulitas kehidupan
penderitanya, karena rasa tidak nyaman saat beraktivitas akibat nyeri haid dan perdarahan
menstruasi yang banyak. Berulang sakit dapat menyebabkan depresi, mudah tersinggung,
kemarahan kecemasan, dan perasaan tak berdaya. Itulah mengapa penting untuk mencari
evaluasi medis jika Anda curiga Anda mungkin memiliki adenomiosis.

F. Penatalaksanaan
1. Farmakologi
 Anti-inflamasi obat. Jika anda menjelang menopause, dokter Anda mungkin
telah Anda mencoba obat anti-inflamasi, seperti ibuprofen (Advil, Motrin,
lainnya), untuk mengontrol rasa sakit. Dengan memulai obat anti-radang dua
sampai tiga hari sebelum haid dimulai dan terus membawanya selama
periode Anda, Anda dapat mengurangi aliran darah menstruasi selain
menghilangkan rasa sakit.
 Obat hormon. Mengontrol siklus menstruasi Anda melalui kombinasi
kontrasepsi estrogen-progestin oral atau melalui hormon yang mengandung
tambalan atau cincin vagina dapat mengurangi perdarahan berat dan rasa
sakit yang terkait dengan adenomiosis. Kontrasepsi progestin-only, seperti
alat kontrasepsi yang mengandung progestin atau pil kelahiran terus
menerus-menggunakan kontrol, sering menyebabkan amenore - tidak adanya
periode menstruasi Anda - yang mungkin memberikan bantuan.
 Tramadol supp
- Kandungan : Tramadol 100 mg/ supositoria
- Indikasi : Nyeri kronik sedang sampai berat
- Kontra Indikasi :Pasien dlm terapi MAOI. Hipersensitif thd opioid
lain. Pasien dengan ketergantungan obat.
- Efek Samping : Mual, muntah, dispepsia, konstipasi, lelah, sedasi,
pusing, pruritus, berkeringat, wajah memerah, mulut kering, sakit
kepala
- Perhatian : Penderita trauma kepala, peningkatan TIK, gangguan
fungsi ginjal & hati yang berat. Hipersekresi bronkus. Penderita
ketergantungan obat. Tidak dapat menekan gejala "putus obat" akibat
pemberian morfin. Hamil & laktasi. jangan mengemudi/menjalankan
mesin
- Dosis : Sehari 1-8 kapsul; 1-4 supositoria; 1-8 ampul 50 mg/ml; 1-8
ampul 100 mg/2 ml I.V.; I. M.; S.K.; tablet retard: Dewasa diatas
umur 14 th: 1-2 tablet sebagai dosis tunggal, diutamakan pagi dan
malam hari; nyeri yang berat: 2 tablet dapat digunakan sebagai dosis
awal; dosis harian sampai 400 mg; anak-anak: Tidak
direkomendasikan untuk anak dibawah 14 th
- Interaksi : Obat yg bekerja pada SSP, peningkatan efek sedasi. Jangan
digunakan bersama MAOI
- Kemasan : Suppositoria 100 mg x 10

2. Non Farmakologi
 Histerektomi.
Jika rasa sakit parah dan menopause adalah tahun lagi, dokter mungkin menyarankan
operasi untuk mengangkat rahim (histerektomi). Menghapus ovarium Anda tidak perlu untuk
mengendalikan adenomiosis.

Histerektomi adalah operasi pengangkatan kandungan (rahim dan uterus) pada seorang
wanita, sehingga setelah menjalani operasi ini dia tidak bisa lagi hamil dan mempunyai anak.
Histerektomi biasanya disarankan oleh dokter untuk dilakukan karena berbagai alasan.
Alasan utama dilakukannya histerektomi adalah kanker mulut rahim atau kanker rahim.

Adapun penyebab lainnya adalah sebagai berikut.


1. Adanya fibroid yang merupakan tumor jinak pada rahim. Histerektomi perlu
dilakukan karena tumor ini dapat menyebabkan perdarahan berkepanjangan, nyeri
panggul, anemia, dan tekanan pada kandung kemih.
2. Endometriosis, suatu kelainan yang disebabkan dinding rahim bagian dalam yang
seharusnya tumbuh di rahim saja, juga ikut tumbuh di indung telur, tuba fallopii, atau
bagian tubuh lainnya. Hal ini bisa membahayakan bagi ibu. Oleh karena itu, biasanya
dianjurkan untuk melakukan histerektomi oleh dokter.

Ada beberapa jenis histerektomi yang perlu kita ketahui. Berikut ini adalah penjelasannya.
1. Histerektomi parsial (subtotal). Pada histerektomi jenis ini, rahim diangkat, tetapi
mulut rahim (serviks) tetap dibiarkan. Oleh karena itu, penderita masih dapat terkena
kanker mulut rahim sehingga masih perlu pemeriksaan pap smear (pemeriksaan leher
rahim) secara rutin.
2. Histerektomi total. Pada histerektomi ini, rahim dan mulut rahim diangkat secara
keseluruhannya.
3. Histerektomi dan salfingo-ooforektomi bilateral. Histerektomi ini mengangkat uterus,
mulut rahim, kedua tuba fallopii, dan kedua ovarium. Pengangkatan ovarium
menyebabkan keadaan penderita seperti menopause meskipun usianya masih muda.
4. Histerektomi radikal. Histerektomi ini mengangkat bagian atas vagina, jaringan, dan
kelenjar limfe disekitar kandungan. Operasi ini biasanya dilakukan pada beberapa
jenis kanker tertentu untuk bisa menyelamatkan nyawa penderita.

Histerektomi dapat dilakukan melalui irisan pada bagian perut atau melalui vagina.
Pilihan ini bergantung pada jenis histerektomi yang akan dilakukan, jenis penyakit yang
mendasari, dan berbagai pertimbangan lainnya.

Pemulihan dari operasi histerektomi biasanya berlangsung dua hingga enam minggu.
Selama masa pemulihan, pasien dianjurkan untuk tidak banyak bergerak yang dapat
memperlambat penyembuhan bekas luka operasi. Dari segi makanan, disarankan untuk
menghindari makanan yang menimbulkan gas seperti kacang buncis, kacang panjang,
brokoli, kubis dan makanan yang terlalu pedas. Seperti setelah operasi lainnya, makan
makanan yang kaya protein dan meminum cukup air akan membantu proses pemulihan.
BAB III
LAPORAN KASUS

 Identitas Pasien
Nama :Ny. H
Umur : 33 tahun
Alamat : Kampung jawa solok
Pekerjaan : IRT
Tanggal Masuk : 2 oktober 2019

 Keluhan Utama
Seorang pasien datang ke poliklinik RSUD M.Natsir Solok pada tanggal 2 oktober
2019 dengan diagnosa Mioma uteri.

 Riwayat Penyakit Sekarang


− Seorang pasien datang ke poliklinik RSUD M.Natsir Solok pada tanggal 2
oktober 2019 dengan diagnosa Mioma uteri . Pasien datang ke Rumah Sakit
karena keluar darah dari kemaluan ± 1 minggu sebelum masuk rumah sakit.
Pasien mengganti duk sebanyak 2x dalam sehari.
− Darah yang keluar berwarna merah kehitaman dan terkadang bergumpal
− Nyeri perut di sekitar ari-ari sejak ± 5 tahun yang lalu dan nyerinya di rasakan
hilang timbul.
− Pasien merasa sering ingin BAK, seperti ada yang menekan dibagian ari-ari ±
sejak 5 tahun yang lalu
− Riwayat Menstruasi : Menarche usia 14 tahun, siklus haid teratur. Nyeri hebat
ketika haid (-).

 Riwayat Penyakit Dahulu


− Riwayat KB: tidak ada
− Riwayat kanker : tidak ada
− Riwayat hipertensi : tidak ada
− Riwayat penyakit paru : tidak ada
− Riwayat penyakit jantung : tidak ada
− Riwayat DM : tidak ada
− Riwayat kehamilan/abortus/persalinan : 3/0/3
 Riwayat Penyakit Keluarga
- Riwayat kanker di sangkal
- Riwayat Hipertensi di sangkal
- Riwayat Diabetes meilitus di sangkal

 Riwayat Kebiasaan : merokok (-), minum kopi (-), minum alkohol (-)

 Pemeriksaan Fisik
− Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
− Kesadaran : Composmentis Cooperative

 Vital Sign
− Tekanan Darah : 110/ 70 mmHg
− Frekuensi Nadi : 82x/menit
− Frekuensi Nafas : 20x/menit
− Suhu Tubuh (Aksila) : 36,5oC

 Status Generalisata
− Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera iktarik (-/-)
− Leher : Pembesaran KGB (-)
− Thoraks
 Paru
Inspeksi: Pengembangan paru kiri dan kanan sama dalam keadaan
statis dan dinamis.
Palpasi : Taktil Fremitus kiri dan kanan sama
Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : Suara napas vesikular, wheezing(-/-), rhonki (-/-)

 Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat di linea midclavicularis
sinistra RIC V
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba di RIC V di linea
midclavicularis sinistra
Perkusi : dalam batas normal
Auskultasi : Irama reguler , dalam batas normal

 Status Ginekologi
Abdomen :
- Inspeksi : Abdomen tampak mengalami pembesaran bagian suprapubic, tidak
ada tanda – tanda peradangan, bekas operasi (-)
- Palpasi : Teraba masa ukuran 9x5 cm, berbatas tegas, padat, terfiksir,
permukaan berbenjol-benjol, nyeri tekan (+).

Genitalia :
- Inspeksi : U/V: tenang , PPV (+)

Ekstremitas
Atas : Kulit hangat (+), oedema (-), CRT <2'
Bawah : Akral hangat, oedem (-), CRT <2'

 Pemeriksaan Penunjang :
Hemoglobin : 11,6 gr/dl
Hematokrit : 36,1 %
Leukosit : 15,800 mm3
Trombosit : 538.000 mm3

 Diagnosa: Adenomiosis

 Sikap
Kontrol KU, Informed consent, konsul anaestesi

 Rencana
Histerektomi
 Tindakan operasi
Laporan (3 oktober 2019)
− Pasien tidur terlentang dalam spinal anaestesi.
− Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik.
− Dipasang duk steril untuk memperkecil lapangan operasi.
− Dilakukan insisi pada dinding abdomen pada linea mediana.
− Ligamentum rotundum kiri dan kanan diklem ±2cm dari uterus dan dipotong
dengan gunting lalu diikat dan ditahan dengan klem.
− Lembaran belakang ligamentum latum kiri di klem lalu di potong dan diikat.
− Plica vesicourina dibuka melintang dengan gunting.
− Arteri uterina kiri dan kanan di klem kemudian dipotong.
− Ligamentum kordinale kiri dan kanan diklem kemudian dipotong.
− Ligamentum suspensorium kiri dan kanan diklem, dipotong dan diikat.
− Dilakukan pemotongan supraspinal yang telah diklem dengan empat klem lalu
diikat.
− Abdomen dijahit lapis demi lapis.
− Kulit dijahit secara subkutikular.

Penemuan Intra Operasi :


 Uterus ukuran 10 cm berbenjol-benjol
 Terdapat perlekatan
 Berat massa 9x5 kg
 Perdarahan ±300 cc

Instruksi Pos Operasi :


 IVFD RL 20 tpm
 Inj. Ceftriaxone 3x1
 Inj. Transamin 3x1
 Inj. Vitamin K 3x1
 Inj. Vitamin C 3x1
 Pronalges supp
 Observasi tanda vital dan keluhan pasie
Follow Up

Kamis/3 oktober 2019/Jam 07.00 WIB


S Keluar darah kehitaman dari kemaluan (-)
Nyeribekas operasi (+)

O TD : 110/70 mmHg Nd : 80 x/i Nf 20x/i

A Post Histerektomi e.c. Mioma uteri

P Inj. Ceftriaxone 2x1 gr


Pronalges supp

Jum’at/4 oktober 2019/Jam 07.00 WIB


S Keluar darah kehitaman dari kemaluan (-)
Nyeribekas operasi (+)

O TD : 110/70 mmHg Nd : 84 x/i Nf 20x/i

A Post Histerektomi e.c. Mioma uteri

P Inj. Ceftriaxone 2x1gr


Pronalges sup

Sabtu/5 oktober 2019 /Jam 07.00 WIB

S Keluar darah kehitaman dari kemaluan (-)


Nyeribekas operasi (-)

O TD : 130/80 Nd : 87 x/i Nf 20x/i

A Post Histerektomi e.c. Mioma uteri

P Inj. Ceftriaxone 2x1 gr


Asam mefenamat 3x1 tab
BAB IV
DISKUSI DAN ANALISA KASUS

Telah di presentasikan suatu kasus, seorang pasien perempuan berusia 33 tahun datang ke
poli klinik RSUD M.Natsir Solok pada tanggal 2 oktober 2019 dengan diagnosa mioma
uteri. Selanjutnya dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan juga pemeriksaan penunjang
berupa pemeriksaan laboratorium dan USG.
Pasien datang dengan keluhan utama keluar darah dari kemaluan ± 1 minggu sebelum masuk
rumah sakit. Pasien mengganti duk sebanyak 2x dalam sehari. Darah yang keluar berwarna
merah kehitaman dan terkadang bergumpal.Nyeri perut di sekitar ari-ari sejak ± 5 tahun yang
lalu dan nyerinya di rasakan hilang timbul.Pasien merasa sering ingin BAK, seperti ada yang
menekan dibagian ari-ari ± sejak 5 tahun yang lalu.Ketika di lakukan pemeriksaan vital sign
di dapatkan hasil normal..
Untuk pemeriksaan penunjang pada kasus ini sudah tepat. Dimana dilakukan pemeriksaan
laboratorium untuk melihat apakah pasien menderita anemia karena sering kehilangan darah
dan pemeriksaan USG untuk melihat lokasi massa pada abdomen. Pada pemeriksaan
laboratorium di dapatkan bahwa Hb pasien 11,6 g/dl dan pada pemeriksaan USG di dapatkan
massa bulat di uterus pasien.
Tindakan selanjutnya yang di ambil untuk pasien ini adalah dengan melakukan operasi
histerektomi. Tindakan tersebut sudah tepat mengingat akan adanya bahaya jika tumor
tersebut tidak segera di angkat dari tubuh penderita karena dapat menyebabkan masalah yang
lebih lanjut.
BAB V
KESIMPULAN

 Adenomiosis adalah suatu keadaan dimana jaringan endometrium yang merupakan


lapisan bagian dalam rahim, ada dan tumbuh di dalam dinding (otot) rahim. Biasanya
terjadi di akhir2 masa usai subur dan pada wanita yang telah melahirkan.
 Beberapa pemyebab dari adenomiosis ini adalah jaringan endometrium yang
menyusup ke dinding rahim dan peradangan rahim akibat proses persalinan.
 Faktor resiko dari adenomiosis adalah usia produktiif, menarche dini, gangguan
menstruasi, multiparitas, riwayat pembedahan uterus.
 Manifestasi klinis adenomiosis adalah perdarahan yang berlebihan dan abnormal,
menstruasi terganggu, sakit saat hubungan seksual, kram dan nyeri panggul.
 Adenomiosis dapat ditatalaksana dengan terapi farmakologi seperti diberikan obat
anti inflamasi dan tramadol suppositoria, serta terapi non farmakologi seperti
histerektomi.
DAFTAR PUSTAKA

1. Adiyono W, Hardian. 2003. Endometriosis. Badan Penerbit Universitas Diponegoro,


Semarang.
2. Albers J.R, Hull S.K, Wesley R.M. 2004. Abnormal Uterine Bleeding. Am Fam
Physician J, 69(8): 1915325.
3. Manuaba IBG, Manuaba IAC, Manuaba IBGF. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta:
EGC; 2003.
4. Anwar A, Baziad A, Prabowo P. Ilmu Kandungan. 3rd ed. Jakarta: PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo; 2011.
5. Thomas EJ. The Etiology and Pathogenesis of Fibroids. In: Shaw RW, ed. Advances
inReproductive Endocrinology. New Jersey: The Phartenon Publishing Group; 1992.
6. Baziad A. Endokrinologi Ginekologi. 3rd ed. Jakarta: Media Aesculapius FKUI;
2008.
7. Schindler AE. Gonadotropin-releasing hormone agonists for prevention of
postoperative adhesions: an overview. Gynecol Endocrinol, 2004; 19(1): 51-55.
Available at: http://informahealthcare.com/doi/abs/10.1080/09513590410001725495.
Accessed July 17, 2014.