Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

GIZI BURUK

DI SUSUN OLEH:

DEWI NIAGARA

AKADEMI PERAWAT KESDAM II/SRIWIJAYA

RPL NON ASN TAHUN 2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, atas karunia, taufik dan

hidayahNya kami dapat menyelesaikan makalah dengan tema “Gizi Buruk”.

Kami berupaya menyajikan materi yang dapat membantu pembaca supaya dapat

menambah pengetahuan tentang gizi buruk.

Kami mengetahui makalah kami ini jauh dari sempurna, karena di dunia

ini tidak ada yang sempurna, maka dari itu, kritik dan saran dari para dosen dan

teman-teman sangat kami harapkan, agar terciptanya makalah yang lebih baik.

Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang

terlibat dalam penyelesaian makalah ini. Harapan kami agar makalah ini dapat

membantu para mahasiswa untuk lebih mengetahui tentang gizi buruk dan dapat

bermanfaat bagi kita semua.

Palembang, Agustus 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................. i


KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang ................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................ 3
1.3 Tujuan ............................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Gizi kurang ..................................................................... 4
2.1.1 Definisi ................................................................ 4
2.1.2 Klasifikasi gizi kurang ........................................ 4
2.1.3 Tanda dan gejala gizi kurang .............................. 5
2.1.4 Penyebab Gizi Kurang di Indonesia .................... 7
2.1.5 Faktor Resiko Gizi Buruk dan Kurang ................ 8
2.1.6 Kelompok Masyarakat Yang Berpeluang Terkena Gizi
Kurang ................................................................. 14
2.1.7 Masalah Kekurangan Gizi ................................... 14
2.1.8 Dampak Kekurangan Gizi ................................... 14
2.1.9 Cara Mencegah Kurang Gizi ............................... 16
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..................................................................... 19
3.2 Saran ............................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anak usia dibawah lima tahun (Balita) merupakan kelompok yang
rentan terhadap kesehatan dan gizi. Masalah gizi terjadi pada setiap siklus
kehidupan, dimulai sejak dalam kandungan (janin), bayi, anak, dewasa,
dan usia lanjut. Periode dua tahun pertama kehidupan merupakan masa
kritis, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang
sangat pesat. Gangguan gizi yang terjadi pada periode ini bersifat
permanen, tidak dapat dipulihkan walaupun kebutuhan gizi pada masa
selanjutnya terpenuhi (Oktavianis, 2016).
Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO)
memperkirakan Sekitar 870 juta orang dari 7,1 miliar penduduk dunia
atau 1 dari delapan orang penduduk dunia menderita gizi buruk. Sebagian
besar (sebanyak 852 juta) di antaranya tinggal di negara-negara
berkembang. Anak-anak merupakan penderita gizi buruk terbesar di
seluruh dunia. Dilihat dari segi wilayah, lebih dari 70 persen kasus gizi
buruk pada anak didominasi Asia, sedangkan 26 persen di Afrika dan 4
persen di Amerika Latin serta Karibia. Setengah dari 10,9 juta kasus
kematian anak didominasi kasus gizi buruk. Sebab gizi buruk bisa berefek
ke penyakit lainnya juga, seperti campak dan malaria (Kompas, 2017).
Status gizi anak balita di Indonesia saat ini masih memprihatinkan.
Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa status gizi anak Indonesia
masih jauh dari harapan. Masalah gizi buruk dan gizi kurang nampaknya
belum bisa teratasi dengan baik dalam skala internasional maupun
nasional, tercatat 101 juta anak di dunia dibawah lima tahun menderita
kekurangan gizi, Balita yang termasuk gizi kurang mempunyai resiko
meninggal lebih tinggi dibandingkan balita yang gizinya baik (UNICEF
dalam Oktavianis, 2016).

1
Tragedi gizi buruk dan campak di Kabupaten Asmat, Papua, telah
menelan puluhan korban jiwa. Kementerian Koordinator Pembangunan
Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menyatakan kejadian tersebut
akibat adanya perpaduan penyakit campak dengan gizi buruk. Menurut
laporan yang masuk ke Kemenko PMK, 59 korban meninggal akibat KLB
campak dan gizi buruk di Asmat, bahkan sempat tak menerima perawatan
yang memadai. Hal ini terjadi karena lokasi kabupaten itu cukup jauh dari
pusat kota. Sehingga, pendistribusian makanan menjadi sulit dan
terhambat selain faktor cuaca juga turut berpengaruh. Beberapa aliran
sungai mengalami pasang surut, yang berimbas pada tak selalu bisa
dilewati oleh kapal yang mendistribusikan bahan makanan (Antony,
2018).
Prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada Balita, terdapat 3,4%
Balita dengan gizi buruk dan 14,4% gizi kurang. Masalah gizi buruk-
kurang pada Balita di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat
yang masuk dalam kategori sedang. Prevalensi Balita pendek cenderung
tinggi, dimana terdapat 8,5% Balita sangat pendek dan 19,0% Balita
pendek. Masalah Balita pendek di Indonesia merupakan masalah
kesehatan masyarakat masuk dalam kategori masalah kronis. Prevalensi
Balita kurus cukup tinggi dimana terdapat 3,1% balita yang sangat kurus
dan 8,0% Balita yang kurus. Masalah Balita kurus di Indonesia merupakan
masalah kesehatan masyarakat yang masuk dalam kategori
akut (Kemenkes, 2017).
Berdasarkan data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun
2017, jumlah bayi usia 0-59 bulan yang mengalami gizi kurang sebanyak
14,9% dan gizi buruk sebanyak 3,9%, Provinsi dengan status gizi buruk
terbanyak adalah Provinsi Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur
yang masing-masing sebanyak 70% dan Provinsi dengan status gizi buruk
terendah adalah Provinsi Bengkulu sebanyak 0,6%. Sedangkan untuk
Provinsi Sumatera Selatan, jumlah bayi usia 0-59 bulan yang mengalami

2
gizi kurang sebanyak 12,4% dan gizi buruk sebanyak 1,7% (Kemenkes,
2017).

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan gizi kurang ?
2. Klasifikasi gizi kurang ?
3. Tanda dan gejala gizi kurang pada anak ?
4. Penyebab gizi kurang di Indonesia?
5. Apa saja faktor risiko gizi kurang pada anak ?
6. Bagaimana cara mencegah gizi kurang ?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Mengetahui pengertian gizi kurang
2. Mengetahui klasifikasi gizi kurang
3. Mengetahui tanda dan gejala gizi kurang pada anak
4. Mengetahui penyebab gizi kurang di Indonesia
5. Mengetahui faktor risiko gizi kurang pada anak
6. Mengetahui cara mencegah gizi kurang

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gizi Kurang


2.1.1 Definisi
Gizi kurang merupakan kondisi dimana seseorang tidak memiliki
nutrien yang dibutuhkan tubuh akibat kesalahan atau kekurangan asupan
makanan. Secara sederhana kondisi ini terjadia kibat kekurangan zat gizi
secara terus menerus dan menumpuk dalam derajat ketidakseimbangan
yang absolute dan bersif atimmaterial. Ketidakseimbangan tersebut
menyebabkan terjadinya defisiensi atau defisit energi dan protein dan
sering disebut dengan KKP (kekurangan Kalori Protein). (Wong dalam
Lastanto, 2015).
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan
dan penggunaan zat-zat gizi.Status gizi buruk adalah kondisi dimana
seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, tubuh kekurangan makanan
ketika kebutuhan normal terhadap satu atau beberapa nutrien tidak
terpenuhi, atau nutrien-nutrien tersebut hilang dengan jumlah yang lebih
besar dari pada yang didapat.Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein,
karbohidrat dan kalori(Almatsier dalam Hidayat, 2010).
Malnutrisi (gizi kurang, gizi buruk)adalah keadaan asupan gizi
yang adekuat atau berlebihan (Dwijayanthi,2011).

2.1.2 Klasifikasi Gizi Kurang


Menurut Kurniati (2016), klasifikasi gizi kurang dapat diberikan
menjadi 3 yaitu:
1. Kurang Energi Protein Ringan. Pada tahap ini, belum ada tanda-tanda
khusus yang dapat dilihat dengan jelas. Hanya saja, berat badan si anak
hanya mencapai 80 persen dari berat badan normal.
2. Kurang Energi Protein Sedang. Pada tahap ini, berat badan si anak
hanya mencapai 70 persen dari berat badan normal. Selain itu, ada

4
tanda yang bisa dilihat dengan jelas adalah wajah menjadi pucat, dan
warna rambut berubah agak kemerahan.
3. Kurang Energi Protein Berat. Pada bagian ini terbagi lagi menjadi dua,
yaitu kurang sekali, biasa disebut Marasmus. Tanda pada marasmus ini
adalah berat badan si anak hanya mencapai 60 persen atau kurang dari
berat badan normal. Selain marasmus, ada lagi yang disebut sebagai
Kwashiorkor. Pada kwashiorkor, selain berat badan, ada beberapa
tanda lainnya yang bisa secara langsung terlihat. Antara lain adalah
kaki mengalami pembengkakan, rambut berwarna merah dan mudah
dicabut, kemudian karena kekurangan vitamin A, mata menjadi rabun,
kornea mengalami kekeringan, dan terkadang terjadi borok pada
kornea, sehingga mata bisa pecah. Selain tanda-tanda atau gejala-
gejala tersebut, ada juga tanda lainnya, seperti penyakit penyertanya.
Penyakit-penyakit penyerta tersebut misalnya adalah anemia atau
kurang darah, infeksi, diare yang sering terjadi, kulit mengerak dan
pecah sehingga keluar cairan, serta pecah-pecah di sudut mulut.
2.1.3 Tanda dan Gejala Gizi Kurang
Menurut Veratamala (2016), tanda dan gejala gizi kurang antara
lain:
1. Mengalami kegagalan dalam pertumbuhannya. Kegagalan
pertumbuhan ini dapat dilihat dari berat badan, tinggi badan, atau
keduanya yang tidak sesuai dengan umurnya. Sehingga, biasanya anak
kurang gizi mempunyai tubuh yang kurus, atau pendek, atau kurus-
pendek.
2. Anak sangat mudah untuk marah, terlihat lesu, dan dapat menangis
berlebihan. Anak juga mengalami kecemasan dan kurang perhatian
terhadap lingkungan sekitar.
3. Kulit dan rambut anak kering, bahkan rambut anak rontok.
4. Kehilangan kekuatan ototnya.
Menurut Veratamala (2016), Jika anak mengalami kekurangan
energi protein (KEP), maka tanda-tanda yang ditunjukkan anak bisa lebih

5
buruk lagi. Terdapat dua jenis kekurangan energi protein, yaitu marasmus
dan kwashiorkor.
1. Pada marasmus, anak akan menunjukkan tanda seperti penurunan berat
badan yang sangat jelas (berat badan anak sangat rendah kurang dari
60% dari berat badan anak seusianya), terjadi pengecilan otot pada
anak, kulit kering dan hanya terdapat sedikit atau bahkan tidak ada
lemak di bawah kulit, dan rambut anak tipis dan mudah rontok.
2. Sedangkan kwashiorkor dapat menunjukkan tanda-tanda, seperti
rambut berubah warna menjadi kemerahan atau pirang, kulit kering
dan kusam, tidak atau kurang nafsu makan, perut buncit, serta kaki
bengkak. Tanda-tanda ini muncul karena anak mengalami kekurangan
zat gizi penting.
Menurut Veratamala (2016), Jika anak Anda mengalami
kekurangan vitamin dan mineral, walaupun memiliki berat badan yang
normal, biasanya anak akan menunjukkan tanda-tanda, seperti:
1. Masalah pada kulit
2. Lidah bengkak
3. Penglihatan anak kurang pada malam hari atau pada kondisi cahaya
redup
4. Merasa kesulitan dalam bernapas dan lelah sepanjang waktu
5. Anak merasa nyeri pada tulang dan ototnya
Menurut Dinkes (2014), Beberpa tanda-tanda klinis gizi buruk
diatas menurut (Gibson, 2005), sebagai berikut:
1. Marasmus :
a. Badan nampak sangat kurus
b. Wajah seperti orang tua
c. Cengeng dan atau rewel
d. Kulit tampak keriput, jaringan lemak subkutis sedikit sampai tidak
ada (pada daerah pantat tampak seperti memakai celana longgar/
”baggy pants”)
e. Perut cekung

6
f. Iga gambang
g. Sering disertai penyakit infeksi (umumnya kronis) dan diare
2. Kwashiorkor :
a. Edema, umumnya seluruh tubuh, terutama pada punggung kaki
b. Wajah membulat (moon face) dan sembab
c. Pandangan mata sayu
d. Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah
dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok
e. Perubahan status mental, apatis, dan rewel
f. Pembesaran hati
g. Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi
berdiri atau duduk
h. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan
berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas (crazy
pavement dermatosis
i. Sering disertai penyakit infeksi (akut), anemia dan diare.
3. Marasmus Kwashiorkor: Merupakan gabungan dari beberapa gejala
klinis marasmus dan kwashiorkor.

2.1.4 Penyebab Gizi Kurang di Indonesia


Menurut Puteh (2015), menyatakan bahwa penyebab gizi kurang di
Indonesia antara lain:
1. Sarana kebersihan
Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan pada tahun 2008
bahwa secaraglobal, separuh dari semua kasus gizi pada anak balita
disebabkan oleh air yang tidak aman, sanitasi yang tidak memadai atau
kebersihan yang tidak layak. Kondisi seperti ini sering
menyebabkan diare berulang dan infeksi cacing usus yang sangat
membahayakan pencernaan tubuh.

7
2. Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial
Hampir semua negara, anak-anak dari kelurga kurang mampu
memiliki tingkat gizi buruk tertinggi. Karena hal ini tentu saja akan
mempengaruhi ketersiediaan makanan bergizi untuk anak-anak.
3. Penyakit pencernaan dan infeksi lainnya
Penyakit saluran pencernaan menyebabkan kekurangan gizi karena
menurunnya penyerapan nutrisi, penurunan asupan makanan,
peningkatan kebutuhan metabolik, dan hilangnya nutrisi
langsung. Anak-anak dengan penyakit kronis seperti HIV memiliki
risiko lebih tinggi untuk mengalami kekurangan gizi, karena tubuh
mereka tidak dapat menyerap nutrisi juga.
4. Faktor ibu
Asupan gizi anak-anak usia di bawah 5 tahun sangat bergantung
pada tingkat gizi dari ibu mereka selama kehamilan dan
menyusui. Tingkat gizi ibu selama kehamilan dapat mempengaruhi
ukuran tubuh bayi yang baru lahir. Kekurangan iodium pada ibu
biasanya menyebabkan kerusakan otak pada anak, dan beberapa kasus
menyebabkan keterbelakangan fisik dan mental yang ekstrim. Hal ini
mempengaruhi kemampuan anak untuk mencapai potensi pertumbuhan
dan perkembangannya.
2.1.5 Faktor Resiko Gizi Buruk dan Kurang
Penyebab gizi Penyebab gizi buruk secara mendasar terdiridari dua
hal yakni sumber daya potensial dan sumber dayamanusia. Sumber daya
potensial seperti politik, ideology,suprastruktur, struktur ekonomi dan
sumber daya manusia seperti pengawasan, ekonomi,
pendidikan/pengetahuan dan penyakit (Priharsiwi dalam Lastanto, 2015).
Menurut Indrawan (2015), menjelaskan beberapa penyebab gizi
kurangdan buruk adalah sebagai berikut:
1. Asupan makanan
Kondisi gizi seseorang dipengaruhi oleh masuknya zatmakanan dan
kemampuan tubuh manusia untuk menggunakanzat makanan tersebut.

8
Sedangkan masuknya zat makanankedalam tubuh manusia ditentukan
oleh perilaku berupa sikapseseorang memilih makanan, daya seseorang
dalammemperoleh makanan dan persediaan makanan yang
ada.Kemampuan tubuh untuk menggunakan zat makananditentukan
oleh kesehatan tubuh orang atau manusia yangbersangkutan.
Gizi kurang secara langsung disebabkan oleh kurangya konsumsi
makanan dan adanya penyakit infeksi. Makin bertambah usia anak
maka makin bertambah pula kebutuhannya. Konsumsi makanan dalam
keluarga dipengaruhi jumlah dan jenis pangan yang dibeli, pemasakan,
distribusi dalam keluarga dan kebiasaan makan secara perorangan.
Konsumsi juga tergantung pada pendapatan, agama, adat istiadat, dan
pendidikan keluarga yang bersangkutan
2. Status sosial ekonomi
Salah satu faktor yang mempengaruhi rantai takterputus gizi buruk
adalah status ekonomi yang buruk, secaralangsung ataupun tidak
keadaan financial mempengaruhikemampuan seseorang untuk
memperoleh kelayakan pangandan fasilitas untuk menunjang
kesehatannya. Perbedaan pelayanan kesehatan dan fasilitas
kesehatanantara orang miskin dengan orang tidak miskin juga
sangatmempengaruhi kesehatan dan gizi anak.
3. Penyakit penyerta dan infeksi
Antara status gizi kurang atau status gizi buruk daninfeksi atau
penyakit penyerta terdapat interaksi bolak-balikyang dapat
menyebabakan gizi kurang dan gizi buruk melaluiberbagai mekanisme
fisiologis dan biologis. Yang terpentingialah efek langsung dari infeksi
sistemik pada katabolismejaringan. Walaupun hanya terjadi infeksi
ringan sudah dapatmempengruhi status gizi.
Timbulnya gizi kurang bukan saja karena makanan yang kurang tetapi
juga karena penyakit. Anak yang mendapat makanan yang cukup baik
tetapi sering diserang diare atau demam, akhirnya dapat menderita gizi
kurang. Sebaliknya anak yang makan tidak cukup baik maka daya

9
tahan tubuhnya (imunitas) dapat melemah, sehingga mudah diserang
penyakit infeksi, kurang nafsu makan dan akhirnya mudah terkena gizi
kurang
4. Pengetahuan ibu
Tingkat pengetahuan yang rendah dapat menyebabkankesalahan dalam
pemahaman, kebenaran yang tidak lengkapdan tidak terstruktur
dimana manifestasinya berupa kesalahanmanusia atau individu dalam
melakukan praktek kehidupannyakarena dilandasi pengetahuan yang
salah. Pengetahuan yangsalah, dalam hal ini mengenai kesehatan
tentunya juga akanmempengaruhi perilaku dan kualitas kesehatan
orang tersebut.
5. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi yangketika dilahirkan
mempunyai berat badan kurang dari 2500gram. Berat lahir yang
rendah disebabkan oleh kelahiranpremature atau retardasi
pertumbuhan intrauteri. Bayiprematur mempunyai organ dan alat
tubuh yang belumberfungsi normal untuk bertahan hidup di luar rahim
sehinggasemakin muda umur kehamilan, fungsi organ menjadisemakin
kurang berfungsi dan prognosanya juga semakinkurang baik.
Kelompok BBLR sering mendapatkan komplikasiakibat kurang
matangnya organ karena kelahiran prematur.
6. Kelengkapan Imunisasi
Imunisasi adalah pemberian vaksin (bibit penyakitmenular yang telah
dilemahkan atau dimatikan) kepada bayiatau anak-anak, vaksin ini
pada awalnya berasal dari penyakitmenular yang menyebabkan
kecacatan atau kematian yangtelah dimatikan.Dengan pemberian
vaksin, tubuh bayi atauanak akan membentuk antibody, sehingga
tubuh bayi atauanak telah siap (telah kebal) bila terinfeksi oleh
penyakitmenular tersebut. Dengan kata lain terhindarnya bayi atau
anakdari berbagai penyakit dapat memperbaiki status gizi
anaktersebut.

10
7. Air Susu Ibu (ASI)
Wanita menyusui mempunyai air susu yang bersifatspesifik, sesuai
dengan kebutuhan laju pertumbuhan dankebiasaan menyusui bayinya
yang tidak bisa didapatkan darisusu atau sumber lainya. Pemberian
ASI ekslusifmerupakan salah satu cara efektif yang dapat dilakukan
untukmencegah terjadinya kekurangan gizi dan kematian pada
bayi,pemberian ASI ekslusif dapat memberikan manfaat bagi
ibumaupun bayinya, dengan pemberian ASI ekslusif dapatmemberikan
kekebalan bagi bayi dan secara emotionalkedekatan ibu dan anaknya
akan semakin terjalin dengan baik.
ASI merupakan hal yang sangat penting dalampemenuhan nutrisi anak.
Tidak ada sumber nutrisi lain yang lebih baik dari ASI
8. Lingkungan
Lingkungan ternyata cukup berpengaruh terhadap pola hidangan
keluarga. Misalnya pada musim-musim paceklik tidak jarang suatu
rumah tangga hanya mampu menghidangkan makan satu kali dalam
sehari, dengan menu gizi yang sangat rendah. Demikian pula halnya
dengan geografiternyata sangat menentukan pola hidangan makanan
keluarga. Di daerah yang sangat terpencil misalnya, pola hidangan
makan sangat kekurangan sayuran dan hanya sering nasi dengan ikan
asin dan sambal karena tidak tersedianya bahan pangan yang bergizi di
daerah tersebut. Seringkali penilaian masyarakat terhadap makanan
berbeda antara yang satu dengan yang lain. Tidak jarang suatu
makanan tidak pernah tersedia dalam pola hidangan makan suatu
rumah tangga, karena dianggap mempunyai nilai ekonomis yang
cukup tinggi. Daging dan telur misalnya, hanya dimakan pada hari-hari
tertentu oleh sebagian besar penduduk pedesa.
9. Kebudayaan
Kebudayaan juga merupakan salah satu faktor yang menjadipenyebab
terjadinya angka gizi buruk. Gizi buruk dan gizi kurang merupakan
permasalahan yangmultikompleks dan memiliki kesinambungan antar

11
faktorpenyebab. Menunjukan bahwa faktor kemiskinan, pendidikan
danpengetahuan orang tua, makanan pendamping, kebudayaan,infeksi
dan penyakit penyerta seperti HIV aids, kondisipsikologi anak,
keamanan negara, terbatasnya fasilitaskesehatan, BBLR dan nutrisi
pada masa kehamilanberpengaruh dan memiliki hubungan yang
bermakna dengangizi buruk dan gizi kurang.
Menurut Hidayat (2010) gizi kurang dipengaruhi banyak faktor
yang saling terkait. Secara langsung dan tidak langsung gizi buruk
dipengaruhi:
1. Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang
Makanan bergizi seimbang adalah makanan yang terdiri dari beraneka
ragam makanan dalam jumlah dan proporsi yang sesuai, sehingga
memenuhi kebutuhan gizi seseorang guna pemeliharaan, perbaikan sel-
sel tubuh, pertumbuhan dan perkembangan.
2. Infeksi pada balita

Penyakit infeksi mengganggu metabolisme, mengganggu


keseimbangan hormon dan mengganggu fungsi imunitas.Penyakit
infeksi yang sering terjadi pada anak-anak adalah diaredan ISPA
3. Ketahanan pangan di keluarga
Upaya mencapai status gizi masyarakat yang baik atau optimal dimulai
dengan penyediaan pangan yang cukup. Frekuensi makan
mempengaruhi jumlah asupan makanan bagi individu dimana hal
tersebut akan berpengaruh terhadap tingkat kecukupan gizi. Tingkat
kecukupan protein contoh yang termasuk dalam kategori defisit tingkat
berat disebabkan pangan sumber protein yang dikonsumsi contoh
rendah walaupun mutu proteinnya baik.
4. Pola pengasuhan anak
Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan sabar dan penuh kasih,
apalagi ibunya berpendidikan, mengerti masalah ASI, manfaat

12
posyandu dan kebersihan, meskipun miskin akan dapat mengasuh dan
memberi makan anak dengan baik sehingga anaknya tetap sehat
5. Pelayanan kesehatan
Perawatan kesehatan yang teratur, tidak saja kalau anak sakit, tetapi
pemeriksaan kesehatan dan menimbang anak secara rutin setiap bulan,
akan menunjang pada tumbuh kembang anak. Oleh karena itu,
pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan dianjurkan dilaksanakan
secara komprehensif, yang mencakup aspek-aspek promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif
6. Kesehatan Lingkungan
Lingkungan memiliki peran yang cukup dominan dalam penyediaan
lingkungan yang mendukung kesehatan anak dan tumbuh
kembangnya. Faktor kemiskinan dan pendidikan orang tua yang
rendah serta kurangnya pengetahuan mengenai gizi dan kesehatan,
merupakan penyebab utama tingginya angka gizi buruk.
Kondisi lingkungan rumah berpengaruh terhadap tingkat kesehatan
masyarakat. Makin buruk kondisi lingkungan rumah maka status
kesehatan penghuninya makin menurun. Perilaku yang sehat tidak
cukup bila tidak didukung oleh lingkungan yang sehat karena selain
diperlukan perilaku hidup yang sehat diperlukan kondisi lingkungan
yang baik.
7. Kemiskinan
Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang
anak, karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak
baikyang primer maupun sekunder.
8. Pendidikan

Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam
tumbuh kembang anak. Karena dengan pendidikan yang baik, maka
orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang

13
cara pengasuhan anak yang baik, bagaimana menjaga kesehatan
anaknya, pendidikan dan sebagainya.
9. Pengetahuan
Pengetahuan gizidiperlukan ibu atau pengasuh anak balita, karena
kebutuhan dan kecukupan gizi anak tergantung dari konsumsi
makanan yang diberikan. Kurangnya pengetahuan membuat bayi dan
balitatidak mendapat makanan yang bergizi, bayi sendiri
membutuhkan makanan terbaikyaitu ASI selama 6 bulan, sesudah 6
bulan bayi memerlukan makanan pendamping Asi (MP-ASI)yang
tepat.
2.1.6 Kelompok Masyarakat Yang Berpeluang Terkena Gizi Kurang
Menurut FKMUI (2007) kelompok masyarakat yang berpelung
terkena gizi kurang adalah sebagai berikut:
1. Kelompok masyarakat miskin
2. Kelompok usia lanjut yang dirawat di Rumah Sakit
3. Kelompok peminum alkohol dan ketergantungan obat
4. Kelompok masyarakat yang tidak menpunyai tempat tinggal
2.1.7 Masalah Kekurangan Gizi
Menurut FKMUI (2007), masalah kekurangan gizi antara lain:
1. Penyakit kurang gizi primer
Contoh: pada kekurangan zat gizi esensial, spesifik, seperti kekurangan
vitamin C, maka penderita mengalami gejala scurvy, beri-beri karena
kekurangan vitamin B1.
2. Penyakit kurang gizi sekunder
Contoh : penyakit yang disebabkan oleh adanya gangguan absorpsi zat
gizi atau gangguan metabolisme zat gizi.
2.1.8 Dampak Kekurangan Gizi
Menurut Lastanto (2015), dampak kekurangan gizi sangatlah
kompleks. Pada anak,hal ini dapat menyebabkan gangguan pada
perkembangan mental,sosial, kognitif,pertumbuhan dan keluarga.

14
1. Perkembangan mental dan Kognitif
Anak dapat mengalami gangguan pada perkembanganmental sejak
dalam kandungan ataupun setelah kelahiranakibat kekurangan nutrisi
yang dibutuhkan otak untuk dapatbekerja dengan baik. Kekurangan
gizi yang parah dapatmenghambat perkembangan anak pada fase oral
hingga faselaten. Untuk gangguan kognitif anak dapat
mengalamipenurunan IQ.
2. Perkembangan sosial
Kekurangan gizi dapat membatasi aktivitas anak untukdapat bermain
dengan teman sebaya, sehingga secara langsungataupun tidak akan
mempengaruhi interaksi sosial anaktersebut.
3. Gangguan pertumbuhan
Yaitu berupa keidakmatangan fungsi organ dimanamanifestasinya
dapat berupa kekebalan tubuh yang rendahyang menyebabkan
kerentanan terhadap penyakit penyakitseperti infeksi saluran
pernafasan, diare, demam dan lain-lain,dengan bentuk terparah
menyebabkan marasmus, kwashiokor,marasmik-kwashiokor dan
kematian.
4. Keluarga
Pada keluarga, bentuk terparah akibat kekurangan gizidapat
mengambat produktivitas keluarga dalam mencukupikebutuhan
keluarga, bentuk perhatian akan terfokus padaperawatan anak sakit
akibat kekurangan gizi dan hal itu dapatmengganggu keseimbangan
pemenuhan kebutuhan keluarga.
Gizi kurang menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi,
menyebabkan banyak penyakit kronis, dan menyebabkan orang tidak
mungkin melakukan kerja keras. Seseorang kekurangan zat gizi akan
mudah terserang penyakit,dan pertumbuhan akan terganggu.Bila ibu
mengalami kekurangan gizi selama hamil akan menimbulkan masalah,
baik pada ibu maupun janin. Gizi kurang pada ibu hamil dapat
menyebabkan resiko dan komplikasi pada ibu antara lain: anemia,

15
pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal, dan terkena
penyakit infeksi (Fatimah, 2016).
Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalinan dapat
mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunya
(premature), pendarahan setelah persalinan, serta persalinan dengan
operasi cenderung meningkat. Kekurangan gizi pada ibu hamil juga dapat
mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan
keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan,
anemia pada bayi, asfiksia intra partum (mati dalam kandungan), lahir
dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Ibu hamil yang
juga menderitaKurang Energi Protein akan berpengaruh pada gangguan
fisik, mental dan kecerdasan anak, dan juga meningkatkan resiko bayi
yang dilahirkan kurang zat besi. Bayi yang kurang zat besi dapat
berdampak pada gangguan pertumbuhan sel-sel otak, yang dikemudian
hari dapat mengurangi IQ anak. Secara umum gizi kurang pada bayi, balita
dan ibu hamil dapat menciptakan generasi yang secara fisik dan mental
lemah.(Fatimah, 2016).
Secara umum dampak gizi kurang antara lain, pertumbuhan anak
menjadi terganggu, produksi tenaga (energi) kurang sehingga
mempengaruhi aktivitas, pertahanan tubuh menurun dan terganggunya
fungsi otak sehingga, dapat menciptakan generasi dan SDM yang kurang
berkualitas.
2.1.9 Cara Mencegah Kurang Gizi
Menurut Veratamala (2016), cara mencegah kekurangan gizi pada
anak intinya adalah anda sebagai orangtua harus berusaha memenuhi
kebutuhan gizi anak. Ingat, anak sedang dalam masa pertumbuhan, jadi
kebutuhan gizinya cukup tinggi. Berikan selalu anak makanan dengan gizi
seimbang yang terdiri dari empat kelompok makanan utama, yaitu:
1. Buah-buahan dan sayuran, setidaknya berikan anak 5 porsi per hari
2. Makanan sumber karbohidrat, yaitu nasi, kentang, roti, pasta, dan
sereal

16
3. Makanan sumber protein, yaitu daging, telur, ayam, ikan, kacang-
kacangan dan produknya
4. Susu dan produk susu, seperti keju dan yogurt
Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan anak Anda serta
memantau pertumbuhan dan perkembangannya. Bawa anak ke Posyandu,
Puskesmas, atau klinik setiap bulan untuk melakukan penimbangan.
Berikan imunisasi lengkap pada anak untuk meningkatkan kekebalan
tubuh anak sehingga anak terhindar dari penyakit infeksi. Berikan juga
kapsul vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus sampai anak berusia 5
tahu
Menurut Fatimah (2016), beberapa cara untuk mencegah
terjadinya gizi kurang antara lain, sebagai berikut :
1. Membiasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan
memperhatikan pola makan yang teratur dengan gizi seimbang.
2. Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin
tidak mengalami hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi
dengan berat normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, sistem
reproduksi normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi
pada masa pra hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih
besar dan lebih sehat daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang
sebaliknya.
3. Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan.
Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai
pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur.
4. Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti
program posyandu untuk mengetahui apakah pertumbuhan anak sesuai
dengan standar pada KMS. Sehingga, jika tidak sesuai atau ditemukan
adanya gejala gizi kurang maka hal tersebut dapat segera diatasi.
5. Meningkatkan pengetahuan masyarakat terutama orang tua tentang
gizi melalui penyuluhan kepada masyarakat luas terutama di daerah
pedesaan dan di daerah terpencil. Sebab, menurut Samuel,dibutuhkan

17
peningkatan pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya pemberian
makanan bergizi yang seimbang sejak bayi dan komposisi makanan
seperti apa yang dibutuhkan oleh anak mereka. Memberikan makanan
yang tepat dan seimbang kepada anak yang terdiri dari karbohidrat,
protein, lemak, mineral dan vitamin. Lemak minimal diberikan 10 %
dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein diberikan 12 % dari
total kalori. Sisanya adalah karbohidrat. “Kuantitas makanan yang
dikonsumsi harus disesuaikan dengan kebutuhan anak, karena masing-
masing anak memiliki kebutuhan gizi yang berbeda tergantung usia,
gender dan aktivitas.”
6. Diperlukan peranan baik dari keluarga, praktisi kesehatan, maupun
pemerintah. Pemerintah harus meningkatkan kualitas posyandu dan
pelayanan kesehatan lainnya, jangan hanya sekedar untuk penimbangan
dan vaksinasi, tapi harus diperbaiki dalam hal penyuluhan gizi dan
kualitas pemberian makanan tambahan, sertameningkatkan
kesejahteraan rakyat agar akses pangan tidak terganggu.
7. Menggerakan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat
dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
yang berkualitas dan meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan
informasi kesehatan

18
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Status gizi anak balita di Indonesia saat ini masih memprihatinkan.
Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa status gizi anak Indonesia masih
jauh dari harapan. Masalah gizi buruk dan gizi kurang nampaknya belum bisa
teratasi dengan baik dalam skala internasional maupun nasional, tercatat 101
juta anak di dunia dibawah lima tahun menderita kekurangan gizi, Balita yang
termasuk gizi kurang mempunyai resiko meninggal lebih tinggi dibandingkan
balita yang gizinya baik.
Gizi kurang merupakan kondisi dimana seseorang tidak memiliki nutrien
yang dibutuhkan tubuh akibat kesalahan atau kekurangan asupan makanan.
Secara sederhana kondisi ini terjadia kibat kekurangan zat gizi secara terus
menerus dan menumpuk dalam derajat ketidakseimbangan yang absolute dan
bersif atimmaterial. Ketidakseimbangan tersebut menyebabkan terjadinya
defisiensi atau defisit energi dan protein dan sering disebut dengan KKP
(kekurangan Kalori Protein).

3.2 Saran
Diharapkan pihak Puskesmas dapat lebih efektif melakukan penyuluhan
dan pemberian pendidikan kesehatan di Posyandu-posyandu kepada ibu hamil
dan kepada ibu yang mempunyai anak balita tentang pentingnya pemberian
asupan gizi pada ibu hamil dan pada anak balita, melakukan imunisasi dasar
lengkap, dan pentingnya pemberian ASI secara eksklusif terutama selama 6
bulan pertama dalam kehidupan bayi setelah lahir agar tumbuh kembang anak
menjadi optimaldan dapat meminimalkan jumlah balita yang mengalami gizi
kurang.

19
DAFTAR PUSTAKA

Antony. 2018. Analisis Kemenko PMK soal Tragedi Gizi Buruk di Asmat.
http://www.detiknews.com, diakses 25 Januari 2018

Andri. 2016. Bahaya pemberian susu kental manis. http://www.kompas.com,


diakses 2 Juli 2018

Fikawati. 2017. Gizi Ibu dan Bayi. Jakarta: PT Raja Grafindo

Maryam, Siti. 2016. Gizi dalam kesehatan reproduksi. Jakarta : Salemba Medika

Proverawati, Atikah. 2009. Buku ajar gizi untuk kebidanan. Yogyakarta :


Nuhamedika.

20