Anda di halaman 1dari 17

ISSUE DAN KECENDERUNGAN DALAM KEPERAWATAN

KOMUNITAS

MATA KULIAH KEPERAWATAN KOMUNITAS I

Dosen Pengampu:

Ns. Diah Ratnawati, SKep, M.Kep, Sp. Kep. Kom

Disusun Oleh:

Januarita Akhrina 1610711057


Amastia Ikayuwandari 1610711060
Assyfa Siti Rohmah 1610711061
Adinda Zein Nur 1610711062
Putri Zalfa 1610711064
Diah Ayu Kusumaningrum 1610711067
Gustina Rahmiandini Putri 1610711071
Erliana Mandasari 1610711074
Nessa Ismah Munyati 1610711083

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA

2018
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan
makalah ini tepat pada waktunya.Makalah yang berjudul Issue dan Kecenderungan dalam
Keperawatan Komunitas yang ditulis guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Keperawatan komunitas 1

Pada kesempatan yang baik ini, izinkanlah penulis menyampaikan rasa hormat dan
ucapan terima kasih kepada semua pihak yang dengan tulus ikhlas memberikan bantuan dan
dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya.

Depok, 5 November 2018

Kelompok 2
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Keperawatan merupakan profesi yang dinamis dan berkembang secara terus-menerus


dan terlibat dalam masyarakat yang yang berubah, sehingga pemenuhan dan metode
keperawatan kesehatan berubah, karena gaya hidup masyarakat berubah dan perawat
sendiri juga dapat menyesuaikan perubahan tersebut. Keperawatan menetapkan diri dari
ilmu social bidang lain karena focus asuhan keperawatan bidang lain meluas. Tren dalam
pendidikan keperawatan adalah berkembangnya jumlah peserta keperawatan yang
menerima pendidikan keperawatan, baik peserta didik dari D3 keperawatan, S1
keperawatan atau kesehatan masayrakat sampai ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu S2.
Tren paraktik keperawatanmeliputi berbagai praktik di berbagai tempat praktik dimana
perawat memiliki kemandirian yang lebih besar. Perawat secara terus menerus
meningkatkan otonomi dan penghargaan sebagai anggota tim asuhan keperawatan. Peran
perawat meningkat dengan meluasnya focus asuhan keperawatan. Tren dalam
keperawatan sebagai profesi meliputi perkembangan aspek-aspek dari keperawatan yang
mengkarakteristikan keperawatan sebagai profesi meliputi: pendidikan, teori, pelayanan,
otonomi, dan kode etik. Aktivitas dari organisasi keperawatan professional
menggambarkan trend dan praktik keperawatan. Keperawatan sebagai profesi dituntut
untuk mengembangkan keilmuannya sebagai wujud kepeduliannya dalam meningkatkan
kesejahteraan umat manusia baik dalam tingkatan preklinik maupun klinik. Untuk dapat
mengembangkan keilmuannya maka keperawatan dituntut untuk peka terhadap
perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya setiap saat.

I.2 Rumusan masalah

1. Bagaimana issue dan trend dalam pendidikan keperawatan komunitas?


2. Bagaimana issue dan trend dalam penelitian keperawatan komunitas?
3. Bagaimana issue dan trend dalam keprofesian terkait keperawatan komunitas?

I.3 Tujuan Penulisan

1. Mengetahui issue dan trend dalam pendidikan keperawatan komunitas


2. Mengetahui issue dan trend dalam penelitian keperawatan komunitas
3. Mengetahui issue dan trend dalam keprofesian keperawatan komunitas
BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Trend dan Issue dalam Pendidikan Keperawatan Komunitas


1. Jenis Jenjang Pendidikan Keperawatan
a. Pendidikan Vokasi
Pendidikan vokasi adalah suatu program diploma yang menerapkan
pelayanan atau tindakan kesehatan. Berdasarkan pada UU NO 38 TAHUN
2014 tentang Keperawatan pada pasal 6(1) tingkat vokasi yang paling rendah
adalah diploma Tiga Keperawatan (D3)
b. Pendidikan Akademik
Pendidikan akademik adalah pendidikan sarjana dan pasca sarjana
yang menjerumus pada penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan
keperawatan secara mendalam. Pendidikan akademik terdiri atas program
sarjana keperawatan, program megister keperawatan, dan program doktor
keperawatan & dengan peminatan Keperawatan Komunitas sudah banyak
beredar pada Universitas Negeri
c. Pendidikan Profesi
Pendidikan profesi adalah jenjang pendidikan tinggi setelah program
sarjana dimana mahasiswa memiliki skill dalam pekerjaan dengan keahlian
khusus dalam bidang profesi dan spesialis tertentu. Dimana peserta didik
Jenjang pendidikan profesi Ners Komunitas dan spesialis Komunitas sudah
diterapkan
2. Kewenangan Pendidikan dan ruang lingkup
Ruang lingkup pada keperawatan komunitas sudah ditetapkan oleh PBP-PPNI
2007 bahwa kualifikasi Perawat Kesehatan Komunitas (berdasarkan jenjang
pendidikan perawat. PK I dalam ruang lingkup ini perawat mampu memberikan
pelayanan keperawatan pada klien dan keluarga klien dengan tingkat pendidikan
minimal adalah D3 Keperawatan dengan memmiliki kompetensi memberikan
keperawatan dasar berdasarkan ilmu dasar keperawatan komunitas.
PK II dalam ruang lingkup ini perawat mampu mem(erikan pelayanan
keperawatan pada klien, keluarga klien dan kelompok dengan masalah kesehatan
tertentu, dengan tingkat pendidikan minimal adalah S1 Keperawatan dan Ners
Komunitas, dimana untuk S1 harus memiliki kompetensi memberikan
keperawatan dasar dalam lingkup keperawatan komunitas yang masih dalam
pengawasan bimbingan dari perawat senior dengan bimbingan yang terbatas.
Sedangkan untuk Ners Komunitas harus memiliki kompetensi memberikan
keperawatan dasar dalam lingkup keperawatan komunitas dalam pengawasan
bimbingan dari perawat senior yang sepenuhnya sudah dilimpahkan atau
diberikan kepercayaan oleh perawat senior.
PK III dalam ruang lingkup ini perawat mampu mengelola dalam
penanggulangan masalah kesehatan masyarakat, dengan tingkat pendidikan
minimal adalah magister (S2) Keperawatan Komunitas dengan memiliki
kompetensi melakukan tindakan keperawatan khusus dengan keputusan mandiri
dan bertanggung jawab sepenuhnya atas tindakan keperawatan yang diberikan.
PK IV dalam ruang lingkup ini perawat mampu dalam mengembangkan
penanggulangan masalah keperawatan kesehatan masyarakat yang komplek,
dengan tingkat pendidikan minimal adalah spesialis Komunitas. Pada tingkat
pendidikan ini perawat harus memiliki kompetensi melakukan tindakan
keperawatan khusus atau sub-spesialis dengan keputusan mandiri, memberikan
keperawatan dasar pada klien dalam lingkup keperawatan komunitas dengan
menyeluruh, utuh dan melakukan rujukan keperawatan.
PK V dalam ruang lingkup ini perawat mampu melakukan konsultasi dan
pengembangan pelayanan, dengan tingkat pendidikan doktor dan paling rendah
adalah magister. Doktor dalam tingkatan ini memiliki kompetensi yang tinggi
yaitu melakukan tindakan dan asuhan secara keperawatan khusus dengan
keputusan mandiri dan sebagai konsultan dalam lingkup komunitas.
3. Isu pendidikan
Terdapat tiga hal penting dalam isu pendidikan ketika perawta merencanakan
untuk program pendidikan.
a. Diferent population of learners require different teaching sttrategies (populasi
siswa yang berbeda memerlukan strategi pengajaran yang berbeda)
Perawat merupakan unsur penting dalam pendidikan kesehatan di
komunitas. Meningkatnya populasi dari bebragai budaya dan etnik
mengharuskan pendidikan kesehatan masyarakat melintasi batas usia dan
budaya.
Setiap tingkat usia memiliki kebutuhan pembelajaran dan respon yang
berbeda dalam strategi edukasi. Pada setiap usia, siswa dipertimbangkan
mengenai kemampuan kognitif, personality, dan pengetahuan umum.
Beberapa orang lebih baik belajar dengan instruksi, supervisi dan
paksaan/dorongan dibandingkan orang lain.
Strategi pembelajaran untuk anak-anak dan individu dengan
pengetahuan yang sedikit tentang kesehatan digolongkan pedagogy. Pada
model pembelajaran pedagogical, pengajar bertanggung jawab penuh untuk
membuat keputusan tentang apa yang akan dipelajari dan bagaimana serta
kapan itu bisa dipelajari. Pembelajaran ini diarahkan oleh guru.
Strategi pembelajaran untuk dewasa, dewasa tua, dan individu dengan
pengetahuan yang banyak mengenai kesehatan disebut andragogy. Pada model
andragogical, siswa/pelajar memerankan peran penting dalam memutuskan
apa yang mereka butuhkan dan mereka inginkan untuk dipelajari.
Ada beberapa hal yang dapat membantu dalam program pendidikan
atau pembelajaran, yaitu :
1) Semakin muda individu yang akan di didik, semakin konkret pilihan
contoh dan kata yang diperlukan
2) Menggunakan objek atau alat dapat meningkatkan perhatian.
3) Memasukan perliaku kesehatan berulang ke dalam bentuk permainan akan
membantu anak-anak mengingat dan memperoleh keterampilan.
b. Barriers to learning (hambatan dalam pembelajaran)
1) Hambatan pada pendidik
a) Ketakutan akan berbicara didepan orang banyak
b) Kurangnya kredibilitas terhadap topik tertentu
c) Keterbatasan pengalaman yang profesional yang berhubungan dengan
topik kesehatan
d) Tidak bisa menghadapi orang-orang sulit yang membutuhkan
informasi kesehatan.
e) Kurangnya pengentahuan bagaimana untuk mengapatkan partisipasi
f) Kurangnya pengalaman terhadap waktu presentasi
g) Merasa tidak yakin bagaimana untuk menyesuaikan instruksi.
h) Tidak nyaman ketika pelajar/siswa bertanya.
i) Keinginan untuk mendapat feedback dari pelajar/siswa
j) Khawatir apakah media, material dan fasilitas berfungsi baik atau
tidak.
k) Kesulitan dalam pembukaan dan penutupan
l) Terlalu bergantung pada catatan.
2) Hambatan pada siswa/pelajar
Hal yang sering dijumpai perawat adala pelajar/siswa tidak dapat
membaca / kesulitan dalam membaca (buta huruf). Individu dengan
keterbatasan membaca:
a) Memiliki kosa kata yang terbatad dan pengetahuan umum yang sedikit,
biasanya individu tidak bertanya untuk klarifikasi
b) Fokus pada detail dan berurusan dengan konsep konktre vs konsep
abstrak
c) Tidak bisa dalam penghitungan.
c. Using technology in the program (penggunaan teknologi dalam program)
Banyak sekali teknologi seperti games komputer dan program, video,
CDs, dan internet yang dapat meningkatkan pembelajaran. Teknologi tersebut
dapat membuat pembelajr mengontrol laju pengajaran, menawarkan waktu
dan lokasi pembelajaran, menyajikan bentuk pendidikan yang menarik, dan
memberikan feedback.
Sekarang ini, orang-orang banyak menggunakan internet untuk
mencari tau mengenai informasi kesehatan. Mengedukasi orang melalui
internet dapat dikatakan lebih efektif. Berikut beberapa kriteria untuk menilai
kualitas dari informasi kesehatan yang ada di internet.
1) Autorship : apakah autor dan kontributor terdaftar dengan surat dan
keanggotaan resmi?
2) Caveats: apakah situs mengklarifikasi fungsinya adala untuk menyediakan
informasi atau untuk memasarkan produk?
3) Content : apakah informasi akurat dan lengkap?
4) Credibility: apakah situs tersebut memasukan sumber sumber
5) Currency: apakah terdapat kapan konten di post dan di update?
6) Design : apakah situs aksesibel, mudah untuk diakses?
7) Interactivity: apakah situs memberikan feedback?
8) Links: apakah tautan telah dievaluasi berdasarkan usia, konten?
II.2 Issue dan Trend dalam Penelitian Keperawatan Komunitas

Lingkup masalah penelitian keperawatan komunitas adalah pengkajian tentang


kondisi kesehatan dari suatu masyarakat, yang meliputi pemeliharaan kesehatan di
masyarakat, peran serta masyarakat dalam kesehatan, peningkatan kesehatan lingkungan,
pendekatan multisektoral, dan pengembangan penggunaan teknologi tepat guna untuk
masyarakat.
1. Pengkajian tentang pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai dengan kebutuhan
kesehatannya melalui upaya pokok puskesmas yang ada di indonesia.
2. Pengkajian tentang pelayanan kesehatan di dalam dan luar gedung puskesmas.
3. Identifikasi masalah kesehatan prioritas di wilayah kerja puskesmas.
4. Menyusun rencana strategi untuk menghentikan kendala terhadap pencapaian program
kesehatan di puskesmas.
5. Pendekatan peran serta masyarakat secara aktif.
Dibidang keperawatan keluarga, perawat peneliti telah membahas hasil kesehatan
dan peralihan keluarga yang terkait dengan kesehatan. Teori perkembangan, teori stres,
koping dan adaptasi, teori terapi keluarga, dan teori sistem telah banyak memandu
penilitian para perawat penilti keluarga. Penelitian dilakukan lintas disiplin, yang
menunjukkan bahwa “tidak ada satupun disiplin yang memiliki keluarga” menurut Gillis
dan Knafl dalam Friedman dkk (2013, hal.42). Kelangkaan penelitian keperawatan yang
nyata terletak dibidang studi interveni. Menurut Knafl dalam Friedman dkk (2013,
hal.42) kurangnya studi intervensi dalam keperawatan keluarga “mengejutkan.” Menurut
Janice Bell dalam editor journal of family nursing, dalam editorial “Wanted :Family
Nursing Intervention,” mengeluhkan mengenai kurangnya naskah penelitian intervensi
keperawatan yang ia terima untu dikaji. Dengan tidak memadainya jumlah studi
intervensi,kita mengalami kekurangan bukti ilmiah yang dibutuhkan untuk mendukung
evikasi strategi dan program keperawatan keluarga. Selain itu,dibutuhkan penelitian
keperawatan keluarga yang sebenarnya: sebagian besar penelitian keperawatan keluarga
sebenarnya merupakan penelitian yang terkait dengan keluarga (yang berfokus pada
anggota keluarga), bukan penelitian keluarga (yang berfokus pada seluruh keluarga
sebagai sebuah unit).
Issue dan Trend dalam penelitian keperawatan komunitas sudah banyak sekali
topik/judul yang digunakan oleh para peneliti keperawatan komunitas seperti Hubungan
Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Lansia Berkunjung Ke Kelompok Binaan
Khusus Lansia Di Puskesmas Global Limboto Kabupaten Gorontalo dan Perilaku Hidup
Bersih Dan Sehat (PHBS) Dengan Kejadian Diare Pada Anak Sekolah Dasar (SD).
Menurut Depkes 2014 angka kejadian diare sangat tinggi, banyak peneliti yang
melakukan penelitian terhadap PHBS pada anak usia sekolah karena anak usia sekolah
lebih aktif dan rasa keingintahuan yang tinggi terhadap benda asing sehingga rentan
sekali untuk terkena penyakit diare dan kurangnya suatu penerapan tersebut dari orang
tua dan pihak sekolah. Dengan dilakukannya tindakan PHBS, maka anak dan orang tua
mengetahui bahwa pentingnya melakukan cuci tangan dengan menggunakan sabun dan
air mengalir sebelum dan sesudah makan.
Trend dan issue saat ini juga adalah kurangnya dukungan keluarga terhadap lansia,
sehingga para lansia memiliki harga diri rendah seperti merasa sudah tidak berdaya
didalam keluarganya. Dukungan keluarga kepada lansia sangat di butuhkan agar lansia
merasa bahagia dan berguna, dengan cara memberikan motivasi kepada lansia dalam
mengikuti suatu kegiatan di lingkungan sekitar rumah.

Memanfaatkan Hasil Penelitian Dalam Pelayanan Kesehatan


Ilmu pengetahuan di bidang kesehatan pada beberapa dekade terakhir
telah mengalami kemajuan yang sangat pesat melampaui perkembangan sebelumnya.
Derivasi ilmu-ilmu kesehatan dan pengembangannya melalui riset merupakan dinamika
proses yang sangat penting dalam pertumbuhan masing-masing profesi kesehatan.
Tujuan dilakukannya riset kesehatan adalah untuk memperkuat dasar-dasar keilmuan
yang nantinya akan menjadi landasan dalam kegiatan praktik klinik, pendidikan, dan
manejemen pelayanan kesehatan. (Ross, Mackenzie, & Smith, 2003).

Sedangkan praktik pelayanan kesehatan yang berdasarkan fakta empiris (evidence


based practice) bertujuan untuk memberikan cara menurut fakta terbaik dari riset
yang diaplikasikan secara hati-hati dan bijaksana dalam tindakan preventif,
pendeteksian, maupun pelayanan kesehatan.(Cullum, 2001) menerapkan hasil penelitian
dalam pelayanan kesehatan adalah upaya signifikan dalam memperbaiki pelayanan
kesehatan yang berorientasi pada efektifitas biaya dan manfaat (costbenefit
effectiveness). Meningkatkan kegiatan riset kesehatan dan menerapkan hasilnya dalam
praktik pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan mendesak untuk membangun
pelayanan kesehatan yang lebih efektif dan efisien.

Menurut sebuah studi meta-analysis terhadap berbagai laporan


penelitian keperawatan yang dilakukan oleh Heater, Beckker, dan Olson (1988),
menjumpai bahwa pasien yang mendapatkan intervensi keperawatan bersumber dari riset
memiliki luaran yang lebih baik bila dibandingkan dengan pasien yang hanya
mendapatkan intervensi standar.

Sudah saatnya kini, praktisi kesehatan di tingkat pelayanan primer maupun


dunia pendidikan kesehatan perlu segera mendorong pertumbuhan budaya ilmiah
di lingkungannya agar mereka dapat mempraktikan hasil berbagai penelitian.

Budaya ilmiah juga dapat dimanfaatkan sebagai strategi akuntabilitas publik,


justifikasi tindakan keperawatan, dan bahan pengambilan keputusan. Kesadaran terhadap
nilai riset yang potensial akan memberikan dampak yang menguntungkan bagi rganisasi,
misalnya kinerja keperawatan yang meningkat dan out come klien yang optimal. (Titler,
Kleiber & Steelman,1994)

II.3 Issue dan Trend dalam Keprofesian Keperawatan Komunitas

1. Perubahan Bidang Profesi Keperawatan


a. Perubahan ekonomi
Perubahan ekonomi membawa dampak terhadap pengurangan berbagai
anggaran untuk pelayanan kesehatan, sehingga berdampak terhadap orientasi
manajemen kesehatan atau keperawatan dari lembaga sosial ke orientasi bisnis.
b. Kependudukan
Sedangkan perubahan kependudukan dengan bertambahnya jumlah penduduk
di Indonesia dan bertambahnya umur harapan hidup, maka akan membawa dampak
terhadap lingkup dari praktik keperawatan. Pergeseran tersebut terjadi yang
dulunya lebih menekankan pada pemberian pelayanan kesehatan atau perawatan
pada “ hospital-based “ ke “ comunity based “
c. Ilmu pengetahuan dan Teknologi Kesehatan atau Keperawatan
Era kesejagatan identik dengan era komputerisasi, sehingga perawat di tuntut
untuk menguasai teknologi komputer di dalam melaksanakan MIS ( Manajemen
Information System ) baik di tatanan pelayanan maupun pendidikan keperawatan.
d. Gaji
Banyak perawat mengeluh tentang penerimaan gaji yang kecil dan berbeda
dibandingkan institusi lainnya, sedangkan pekerjaan yang mereka lakukan sama
beratnya. Sehingga mereka terkadang merasa iri dengan gaji perawat lain yang
memiliki gaji lebih besar. Dengan adanya aturan dari Menteri Kesehatan Republik
Indonesia, gaji perawat diberikan berdasarkan jenjang pendidikannya, pada setiap
provinsi dan institusi kesehatan/rumah sakit berbeda-beda. Semakin tinggi tingkat
jenjang pendidikan maka semakin besar gaji yang mereka peroleh. Tunjangan pada
PNS lebih besar daripada gaji pokok. Pemberian gaji juga berdasarkan pada
lamanya pengalaman pekerjaan seorang perawat.
e. Pelatihan/perkembangan pada keperawatan komunitas
Pelatian/perkembangan pada keperawatan komunitas dapat dikatakan masih
jarang dan masih minim, tetapi pelatihan sangat diperlukan untuk meningkatkan
pengetahuan masyarakat tentang masalah penyakit serta meningkatkan mutu
pelayanan puskesmas. Maka dalam komunitas diperlukan suatu pelatihan pada
puskesmas tentang peningkatan pelayanan kesehatan dan pemberian konseling
kepada kader dan masyarakat tentang masalah kesehatan yang sering terjadi pada
lingkup masyarakat. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat dan
puskesmas karena meningkatkan wawasan bagi masyarakat serta mampu
menurunkan morbiditas dan mortalitas pada desa yang memiliki angkat kejadian
tinggi. Sebaliknya untuk desa yang memiliki angka kejadian rendah dapat
mempertahankan agar tidak memiliki kurva morbiditas dan mortalitas yang
meningkat.
f. Tuntutan Profesi Keperawatan
Karakteristik profesi yaitu :
1) Memiliki dan memperkaya tubuh pengetahuan ( body of knowledge ) melalui
penelitian
2) Memiliki kemampuan memberikan pelayanan yang unik kepada orang lain
3) Pendidikan yang memenuhi standar
4) Terdapat pengendalian terhadap praktik
5) Bertanggungjawab dan bertanggung gugat ( accountable ) terhadap tindakan
keperawatan yang dilakukan
6) Merupakan karier seumur hidup
7) Mempunyai fungsi mandiri dan kolaborasi

2. Dampak Perubahan dalam Bidang Profesi Keperawatan Komunitas


Dampak perubahan dalam praktik keperawatan yaitu :
a. Pengurangan anggaran
Perawat indonesia saat ini dihadapkan pada suatu dilema, disatu sisi dia harus
terus mengupayakan peningkatan kualitas layanan kesehatan, dilain pihak
pemerintah memotong alokasi anggaran untuk pelayanan keperawatan. Keadaan ini
dipicu dengan menjadikan rumah sakit swadan dimana juga berdampak terhadap
kinerja perawat. Dalam melaksanakan tugasnya perawat sering jarang mengadakan
hubungan interpersonal yang baik karena mereka harus melayani pasien lainnya
dan dikejar oleh waktu.
b. Otonomi dan akuntabilitas
Dengan melibatkan perawat dalam pengambilan suatu keputusan di
pemerintah, merupakan hal yang sangat positif dalam meningkatkan otonomi dan
akuntabilitas perawat indonesia. Peran serta tersebut perlu di tingkatkan terus dan
di pertahankan. Kemandirian perawat dalam melaksanakan perannya sebagai suatu
tantangan. Semakin meningkatnya otonomi perawat semakin tingginya tuntutan
kemampuan yang harus di persiapkan.
c. Teknologi
Penguasaan dan keterlibatan dalam perkembangan IPTEK dalam praktek
keperawatan bagi perawat Indonesia merupakan suatu keharusan.
d. Tempat praktik
Tempat praktik keperawatan di masa depan meliputi pada tatanan klinis
(RS), komunitas, dan praktik mandiri di rumah/berkelompok (sesuai SK MENKES
R.I.647/2000 tentang registrasi dan praktik keperawatan).
e. Perbedaan batas kewenanan praktik
Belum jelasnya batas kewenangan praktik keperawatan pada setiap jenjang
pendidikan, sebagai suatu tantangan bagi profesi keperawatan.

3. Issue Terbaru dalam Keperawatan Keluarga


Menurut Friedman dkk ( 2013, hal 41-42 ), berdasarkan kajian terhadap literatur
dan diskusi profesional dengan kolega di bidang keperawatan keluarga, isue penting
dalam keperawatan komunitas saat ini yang berhubungan dengan profesi keperawatan :
a. Kesenjangan bermakna antara teori dan penelitian serta praktik klinis
Kesenjangan antara pengetahuan yang ada dan penerapan pengetahuan ini
jelas merupakan masalah di semua bidang dan spesialisasi di keperawatan,
meskipun kesenjangan ini lebih tinggi di keperawatan keluarga. Keperawatan yang
berpusat pada keluarga juga masih dinyatakan ideal dibanding praktik yang umum
dilakukan. Wrighy dan Leahey mengatakan bahwa faktor terpenting yang
menciptakan kesenjangan ini adalah “ cara perawat menjabarkan konsep masalah
sehat dan sakit. Hal ini merupakan kemampuan ‘berpikir saling memengaruhi’ :
dari tingkat individu menjadi tingkat keluarga ( saling memengaruhi ) “. Penulis
lain yaitu Bowden dkk menyoroti bahwa kecenderungan teknologi dan ekonomi
seperti pengurangan layanan dan staf, keragaman dalam populasi klien yang lebih
besar. Sedangka menurut Hanson, kurangnya alat pengkajian keluarga yang
komprehensif dan strategi intervensi yang baik, perawat terikat dengan model
kedokteran ( berorientasi pada individu dan penyakit ), dan sistem pemetaan yang
kita lakukan serta sistem diagnostik keperawatan menyebabkan penerapan
perawatan yang berfokus pada keluarga sulit diwujudkan.
b. Kebutuhan untuk melakukan perawatan keluarga menjadi lebih mudah untuk di
integrasikan dalam praktik
Dalam beberapa tahun ini, terjadi restrukturisasi pelayanan kesehatan besar-
besaran, yang mencakup perkembangan pesat sistem pengelolaan perawatan
berupa sistem pemberian layanan kesehatan yang kompleks, multi unit, multi level
sedang dibentuk. Sebagian dari restruturisasi ini juga termasuk kecenderungan
pasien dipulangkan dalam “ keadaan kurang sehat dan lebih cepat “ dan
pengurangn jumlah rumah sakit, pelayanan dan staf, serta pertumbuhan pelayanan
berbasis komunitas. Perubahan ini menyebabkan peningkatan tekanan kerja dan
kelebihan beban kerja dalam profesi keperawatan. Waktu kerja perawat dengan
klien individu dan klien keluarga menjadi berkurang. Oleh karena itu,
mengembangkan cara yang bijak dan efektif untuk mengintegrasikan keluarga ke
dalam asuhan keperwatan merupakan kewajiban perawat keluarga. Menurut
Wright dan Leahey, mengatasi kebutuhan ini dalam menyusun wawancara
keluarga selama 15 menit atau kurang. Pencetusan gagasan dan strategi
penghematan waktu yang realistik guna mempraktikan keperwatan keluarga adalah
issue utama praktik dewasa ini.

c. Peralihan kekuasaan dan kendali dari penyedia pelayanan kesehatan kepada


keluarga
Berdasarkan perbincangan dengan perawat dan tulisan yang disusun oleh
perawat keluarga, terdapat kesepakatan umum bahwa peralihan kekuasaan dan
kendelai dari penyedia pelayanan kesehatan ke pasien atau keluarga perlu
dilakukan. Kami percaya hal ini masih menjadi sebuah isu penting pada pelayanan
kesehatan saat ini. Menurut Wright dan Leahey dalam Robinson, mengingatkan
kita bahwa terdapat kebutuhan akan kesetaraan yang lebih besar dalam hubungan
antara perawat dan keluarga, hubungan kolaboratif yang lebih baik, dan
pemahaman yang lebih baik akan keahlian keluarga. Perkembangan penggunaan
internet dan email telah memberikan banyak keluarga informasi yang dibutuhkan
untuk belajar mengenai masalah kesehatan dan pilihan terapi mereka. gerakan
konsumen telah memengaruhi pasien dan keluarga untuk melihat dari mereka
sebagai konsumen, yang membeli dan mendapatkan layanan kesehatan seperti
layanan lain yang mereka beli. Dilihat dari kecenderungan ini, anggota keluarga
sebaiknya diberikan kebebasan untuk memutuskan apa yang baik bagi mereka dan
apa yang mereka lakukan demi kepentingan mereka senidiri.
d. Bagaimana bekerja lebih efektif dengan keluarga yang kebudayaannya beragam
Kemungkinan, isue ini lebih banyak mendapatkan perhatian dikalangan
penyedia layanan kesehatan, termasuk perawat, dibandingkan isue lainnya pada
saat ini. Kita tinggal di masyarakat yang beragam, yang memiliki banyak cara
untuk menerima dan merakan dunia, khususnya keadaan sehat dan sakit. Dalam
pengertian yang lebih luas, budaya ( termasuk etnisitas, latar belakang agama, kels
sosial, afiliasi regional dan politis, orientasi seksual, jenis kelamin perbedaan
generasi ) membentuk persepsi kita, nilai, kepercayaan, dan praktik. Faktor
lainnya, seperti pengalaman sehat dan sakit, membentuk cara kita memandang
sesuatu. Meskipun terdapat semua upaya tersebut guna dapat bekerja lebih efektif
dengan keluarga yang beragam, memberikan perawatan yang kompeten secara
budaya tetap menjadi tantangan yang terus dihadapi.
e. Globalisasi keperawatan keluarga menyuguhkan kesempatan baru yang menarik
bagi perawat keluarga
Dengan makin kecilnya dunia akibat proses yang dikenal sebagai
globalisasi, perawat keluarga disuguhkan dengan kesempatan baru dan menarik
untuk belajar mengenai intervensi serta program yang telah diterapkan oleh negara
lain guna memberikan perawatan yang lebih baik bagi keluarga. Globalisasi adalah
proses bersatunya individu dan keluarga karena ikatan ekonomi, politis, dan
profesional. Globalisasi mempunyai dampak negatif yang bermakna bagi kesehatan
yaitu ancaman epidemi diseluruh dunia seperti HIV/AIDS menjadi jauh lebih
besar. Akan tetapi sisi positifnya, pembelajaran yang diperoleh perawat amerika
dari perawat diseluruh dunia melalui konferensi internasional, perjalanan, dan
membaca literatur kesehatan internsional memberikan pemahaman yang
bermanfaat. Sebagai contoh, di jepang, pertumbuhan keperawatan keluarga sangat
mengesankan. Disana, perawat telah mengembangkan kurikulum keperawatan
keluarga disekolah keperawatan dan telah menghasilkan teori keperawatan yang
berfokus pada keluarga dan sesuai dengan nilai dan konteks jepang. Menurut
Sugishita, keperawatan keluarga mengalami pertumbuhan yang pesat di jepang,
yang ditandai dengan publikasi dan upaya penelitian yang dilakukan di jepang.
Negara lain, seperti denmark, swedia, israel, korea, chili, meksiko, skotlandia, dan
inggris juga mengalami kemajuan bermakna di bidang kesehatan keluarga dan
keperawatan keluarga. Kita harus banyak berbagai dan belajar dari perawat
dibeberapa negara ini.
f. Kebutuhan akan lebih terlibatnya perawat keluarga dalam membentuk kebijakan
yang memengaruhi keluarga
Hanson, dalam bahasanya mengenai reformasi pelayanan kesehatan,
mendesak perawat kelaurga lebih terlibat di tiap level sistem politis guna
menyokong isue keluarga. Praktisnya, semua legislasi domestik yang dikeluarkan
ditingkat lokal, negara bagian atau nasional mempunyai dampak pada keluarga.
Sebagai advokat kelaurga, kita perlu baik secara sendiri-sendiri maupun bersama
menganalisis isue dan kebijakan yang tengah diusulkan dan membantu
merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan dan regulasi yang positif.
Mendukung calon dewan yang mendukung calon keluarga dan menjadi relawan
untuk melayani komisi kesehatan dan komisi yang terkait dengan kesehatan dan
dewan organsasi adalah jalan penting lain untuk “membuat suatu perbedaan” kita
perlu mendukung keluarga agar mempunyai hak mendapatkan informasi,
memahami hak dan pilihan mereka, serta lebih cakap dalam membela kepentingan
mereka sendiri.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan, dan


kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud kesehatan masyarakat baik dalam
bidang promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif agar setiap warga masyarakat dapat
mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya baik fisik, mental dan sosial serta
harapan berumur panjang. Untuk mencapai tujuan tersebut Winslow menetapkan suatu syarat
yang sangat penting, yaitu harus ada pengertian, bantuan dan partisipasi masyarakat secara
teratur dan terus menerus.
Daftar Pustaka

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan.

Stanhope,Marcia dan Jeanette Lancaster. 2012. Public Health Nursing: Population-Centered


Health Care in The Community. US of America : ELSEVIER

Friedman, M. 2013. Buku Ajar Keperawatan Keluarga. Jakarta:EGC

Anda mungkin juga menyukai