Anda di halaman 1dari 28

AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN

GERAKAN PEMBAHARUAN DALAM ISLAM

Disusun Oleh :

Kelompok 1 :

Nabila Rizky Amelia ( 122017016 )

Aisyah Amini Reformis Intelekta ( 122017032 )

Almi Afriyudha ( 122017065 )

Dosen Pembimbing : S.Q. Ferdinan, S.Ag, M.Si

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

PALEMBANG

2018
Kata Pengantar

Puji syukur tercurah kepada Allah SWT atas taufik, hidayah, berkat dan
rahmat-NYA. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada suri tauladan
kita Rasullulah SAW, keluarganya, sahabat nya serta para pengikut nya hingga
akhir zaman.
Al-Islam dan Kemuhammadiyahan ini adalah mata kuliah dengan bobot 2
SKS yang terdapat pada mata kuliah Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas
Muhammadiyah Palembang.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dan berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.
Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dosen pembimbing
2. Semua pihak

Palembang, 20 Maret 2019

Penulis

2
Daftar Isi

Kata Pengantar .................................................................................................... 2

Daftar Isi.............................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ...................................................................................... 4


B. Rumusan Masalah ................................................................................. 5
C. Tujuan ................................................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembaharuan ....................................................................... 6


B. Latar Belakang Pembaharuan Dalam Islam .......................................... 14
C. Pengaruh Gerakan Pembaharuan Dalam Islam ..................................... 19
D. Tokoh Gerakan Pembaharuan Dalam Islam ......................................... 20

BAB III Penutup

A. Kesimpulan ........................................................................................... 27

Daftar Pustaka .................................................................................................... 28

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gerakan pembaharuan Islam merupakan gerakan yang bertujuan untuk


memperbaharui pemikiran atau pemahaman umat Islam yang sudah menyimpang
dari ajaran Islam untukk kembali pada pemahaman agama yang sesuai dengan
pemahaman dan pengamalan Rasulullah saw. dan bersumber pada Al-Qur’an dan
As-Sunnah.

Asal usul dan perkembangan organisasi sosial keagamaan yang


mengadakan gerakan pembaharuan dalam Islam di Indoneisa baik yang bergerak
dalam bidang social, pendidikan dan politik, bahwa tiap-tiap organsiasi mempunyai
pengaruh dan sifat tersendiri. Pengaruh dan charisma pimpinannya serta tantangan
yang terdapat dari dalam maupun dari luar lingkungan masyarakat Islam sendiri
selalu menjadi faktor penentu maju mundurnya organisasi tersebut. Berdirinya
Sarikat Islam sebagai salah satu langkah awal adanya gerakan, terutama gerakan
politik disamping gerakan pembaharuan yang menjawab persoalam keagamaan
umat. Secara umum kehadiran organisai sosial keagamaan tersebut bergerak pada
tataran keagamaan, pendidikan dan persoalan kemasyarkatan lainnya seperti
Sarikat Islam, Muhammadiyah, dan Nahdhatul Ulama, serta yang lainnya

Pembaharuan dalam islam dikenal juga dengan modernisasi islam, yang


mempunyai tujuan untuk menyesuaikan ajaran yang terdapat dalam agama dengan
ilmu pengetahuan dan filsafat modern, tetapi perlu diingat bahwa dalam islam ada
ajaran yang tidak bersifat mutlak, yaitu penafsiran dari ajaran-ajaran yang bersifat
abadi dari masa ke masa. Dengan kata lain pembaharuan mengenai ajaran-ajaran
yang bersifat mutlak tak dapat diadakan karena sudah tak bisa lagi diganggu gugat
seperti pada hukum-hukum yang tercantum dalam al-Qur’an.

Pembaharuan dapat dilakukan dengan meninjau kembali beberapa aspek


yang memang memerlukan untuk diperbaharui seiring dengan perkembangan
zaman yang semakin modern yang mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
seperti sekarang ini

4
Terdapat beberapa tokoh pembaharu dunia Islam di belahan dunia ini. Oleh
karena itu, dalam makalah ini akan dipaparkan secara singkat tentang tokoh-tokoh
beserta gagasan atau pemikiran mereka.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian dari pembaharuan dalam islam ?
2. Apa latar belakang pembaharuan dalam islam ?
3. Apa pengaruh gerakan pembaharuan bagi dunia islam ?
4. Sebutkan tokoh-tokoh pembaharuan dalam islam ?
C. Tujuan
1. Apa pengertian dari pembaharuan dalam islam ?
2. Dapat mengetahui latar belakang pembaharuan dalam islam ?
3. Dapat mengetahui pengaruh gerakan pembaharuan bagi dunia islam ?
4. Dapat mengetahui tokoh-tokoh pembaharuan dalam islam ?

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembaharuan
Hakikat pembaharuan merujuk kepada makna kata tajdid, kemudian muncul
berbagai istilah yang dipandang memiliki relevansi makna dengan pembaruan,
yaitu modernisme, reformisme, puritanisme, revivalisme dan fundamentalisme. Di
samping kata tajdid, ada istilah lain dalam kosa kata Islam tentang kebangkitan atau
pembaruan, yaitu ishlah. Kata tajdid biasa diterjemahkan sebagai pembaharuan dan
kataishlahsebagai perubahan. Kedua kata tersebut secara bersama-sama
mencerminkan suatu tradisi yang berlanjut, yaitu suatu upaya menghidupkan
kembali keimanan Islam beserta praktik-praktiknya dalam komunitas kaum
muslimin.
Berkaitan hal tersebut, maka pembaruan dalam Islam bukan dalam hal yang
menyangkut dengan dasar atau fundamental ajaran Islam; artinya bahwa pembaruan
Islam bukanlah dimaksudkan untuk mengubah, memodifikasi, ataupun merevisi
nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam supaya sesuai dengan selera jaman, melainkan
lebih berkaitan dengan penafsiran atau interpretasi terhadap ajaran-ajaran dasar
agar sesuai dengan kebutuhan perkembangan, serta semangat jaman.

Gerakan pembaharuan islam adalah upaya untuk menyesuaikan paham


keagamaan islam dengan perkembangan dan yang ditimbulkan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi modern. Dengan demikian pembaharuan dalam islam
bukan berarti mengubah, mengurangi atau menambahi teks Al-Quran maupun
Hadist, melainkan hanya menyesuaikan paham atas keduannya. Sesuaidengan
perkembangan zaman, hal ini dilakukan karena betapapun hebatnya paham-paham
yang dihasilkan para ulama atau pakar di zaman dahulu itu tetap ada kekurangannya
dan selalu di pengaruhi oleh kecenderungan, pengetahuan, situasional, dan
sebagainya. Paham paham tersebut untuk di masa sekarang mungkin masi yang
relavan dan masi dapat digunakan, tetapi mungkin sudah banyak yang tidak sesuai
lagi.

Pembaharuan secara bahasa berarti mengembalikan sesuatukepada


kondisinya yang seharusnya. Dalam bahasa Arab disebut tajdid, sesuatu bisa

6
dikatakan baru jika bagian-bagiannya masi erat menyatu dan masi jelas. Maka
upaya pembaharuan seharunya adalah upaya untuk mengembalikan keutuhan dan
kemurnian islam kembali.atau dengan ungkapan yang lebih jelas,

Thahiribn‘Asyur mengatakan, Pembaharuan agama itu mulai direalisasikan


dengan mereformasi kehidupan manusia di dunia. Baik dari sisi pemikiran
agamisnya dengan upaya mengembalikan pemahaman yang benar terhadap agama
sebagaimana mestinya, dari sisi pengamalan agamisnya dengan mereformasi
amalan-amalannya, dan juga dari sisi upaya menguatkan kekuasaan agama.
Pengertian ini menunjukkan bahwa sesuatu yang akan mengalami proses tajdid
adalah sesuatu yang memang telah memiliki wujud dan dasar yang riil dan jelas.
Sebab jika tidak, ke arah mana tajdid itu akan dilakukan? Sesuatu yang pada
dasarnya memang adalah ajaran yang batil –dan semakin lama semakin batil-, akan
ditajdid menjadi apa? Itulah sebabnya, hanya Syariat Islam satu-satunya syariat
samawiyah yang mungkin mengalami tajdid. Sebabnya dasar pijakannya masih
terjaga dengan sangat jelas hingga saat ini, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Adapun Syariat agama Yahudi atau Kristen –misalnya-, keduanya tidak mungkin
mengalami tajdid, sebab pijakan yang sesungguhnya sudah tidak ada. Yang ada
hanyalah “apa yang disangka” sebagai pijakan, padahal bukan. Tidak
mengherankan jika kemudian aliran Prostestan menerima “kemenangan” akal dan
sains atas agama, sebab gereja pada mulanya tidak menerimanya, sebab teks-teks
Injil tidak memungkinkan untuk itu. Dan yang seperti sama sekali tidak dapat
disebut sebagai tajdid.

Dalam Islam sendiri, seputar ide tajdid ini, Rasulullah saw. sendiri telah
menegaskan dalam haditsnya tentang kemungkinan itu.
Beliaumengatakan,yangartinya:“Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk ummat
ini pada setiap pengujung seratus tahun orang yang akan melakukan tajdid
(pembaharuan) terhadap agamanya.” (HR. Abu Dawud , no. 3740).

Tajdid yang dimaksud oleh Rasulullah saw di sini tentu bukanlah mengganti atau
mengubah agama, akan tetapi –seperti dijelaskan oleh Abbas Husni Muhammad
maksudnya adalah mengembalikannya seperti sediakala dan memurnikannya dari
berbagai kebatilan yang menempel padanya disebabkan hawa nafsu manusia

7
sepanjang zaman. Terma “mengembalikan agama seperti sediakala” tidaklah berarti
bahwa seorang pelaku tajdid (mujaddid) hidup menjauh dari zamannya sendiri,
tetapi maknanya adalah memberikan jawaban kepada era kontemporer sesuai
dengan Syariat Allah Ta’ala setelah ia dimurnikan dari kebatilan yang ditambahkan
oleh tangan jahat manusia ke dalamnya. Itulah sebabnya, di saat yang sama, upaya
tajdid secara otomatis digencarkan untuk menjawab hal-hal yang mustahdatsat
(persoalan-persoalan baru) yang kontemporer. Dan untuk itu, upaya tajdid sama
sekali tidak membenarkan segala upaya mengoreksi nash-nash syar’i yang shahih,
atau menafsirkan teks-teks syar’i dengan metode yang menyelisihi ijma’ ulama
Islam. Sama sekali bukan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tajdid dalam Islam mempunyai


2 bentuk:

Pertama, memurnikan agama -setelah perjalanannya berabad-abad lamanya- dari


hal-hal yang menyimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Konsekuensinya tentu
saja adalah kembali kepada bagaimana Rasulullah saw dan para sahabatnya
mengejawantahkan Islam dalam keseharian mereka.

Kedua, memberikan jawaban terhadap setiap persoalan baru yang muncul dan
berbeda dari satu zaman dengan zaman yang lain. Meski harus diingat, bahwa
“memberikan jawaban” sama sekali tidak identik dengan membolehkan atau
menghalalkannya. Intinya adalah bahwa Islam mempunyai jawaban terhadap hal
itu. Berdasarkan ini pula, maka kita dapat memahami bahwa bidang-bidang tajdid
itu mencakup seluruh bagian ajaran Islam. Tidak hanya fikih, namun juga aqidah,
akhlaq dan yang lainnya. Tajdid dapat saja dilakukan terhadap aqidah, jika aqidah
ummat telah mengalami pergeseran dari yang seharusnya.

Banyak sekali peristilahan yang digunakan para pe-nulis yang dalam bahasa
Indonesia berkonotasi pemba-haruan, umpamanya tajdid, ishlah, reformasi,
‘ashriyah, modernisasi, revivalisasi, resurgensi(resurgence), reassersi(reassertion),
renaisans, danfundamentalis. Peristilahan seperti ini timbul, bukan sekedar
perbedaan semantik belaka,akan tetapi dilihat dari isi pembaharuan itu sendiri.

8
1. Tajdid, Ishlah, dan Reformasi

Tajdid sering diartikan sebagai ishlah dan reformasi; karena itu, gerakannya
disebut gerakan tajdid, gerakan ishlah, dan gerakan reformasi. Tajdid menurut
bahasa al-i’adah wa al-ihya’ , mengembalikan dan menghidupkan. Tajdid al-din,
berarti mengembalikannya kepada apa yang pernah ada pada masa salaf, generasi
muslim awal. Tajdid al-Din menurut istilah ialah menghidupkan dan
membangkitkan ilmu dan amal yang telah diterangkan oleh al-Quran dan al-Sunnah
. Ulama salaf memberikan ta’rif tajdid sebagai berikut : Menerangkan/membersih-
kan Sunnah dari bid’ah memperbanyak ilmu dan memu-liakannya, membenci
bid’ah dan menghilangkannya” . Selanjutnya tajdid dikatakan sebagai penyebaran
ilmu, meletakkan pemecahan secara Islami terhadap setiap problem yang muncul
dalam kehidupan manusia, dan menentang segala yang bid’ah. Tajdid tersebut di
atas dapat pula diartikan sebagaimana dikatakan oleh ulama salaf menghidupkan
kembali ajaran salaf al-shaleh, meme-lihara nash-nash, dan meletakkan kaidah-
kaidah yang disusun untuknya serta meletakkan metode yang benar untuk
memahami nash tersebut dalam mengambil mak-na yang benar yang sudah
diberikan oleh ulama.

Dari definisi di atas nampak, bahwa tajdid tersebut mendorong umat Islam
agar kembali kepada al-Quran dan sunnah serta mengembangkan ijtihad. Inilah
makna tajdid yang dianut oleh kaum puritan yang selama ini suaranya masih
bergema. Tajdid seperti ini pula yang di-katakan sebagai ishlah atau reformasi
dalam Islam. Refor-masi itu sendiri, berdasarkan sejarahnya, muncul akibat
modernisasi muncul sebagai reaksi atas reformasi. Reformasi adalah vis a vis
modernisasi. Reformasi sebagai akibat adanya penyimpangan agama dan teologi
yang disebabkan oleh adanya sekularisme modern.

2. ‘Ashriyah dan Modernisasi

Istilah modernisasi atau ashriyah (Arab) diberikan oleh kaum Orientalis


terhadap gerakan Islam tersebut di atas tanpa membedakan isi gerakan itu sendiri.
Modernisasi, dalam masyarakat Barat, mengandung arti fikiran, aliran, gerakan dan
usaha-usaha untuk merubah faham-faham, adat istiadat, institusi-institusi lama, dan
sebagai-nya untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditim-bulkan oleh

9
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Tatkala umat Islam kontak
dengan Barat, maka modernisasi dari Barat membawa kepada ide-ide baru ke dunia
Islam, seperti rasionalisme, nasionalisme, demok-rasi, dan lain sebagainya.

Penyesuaian ajaran seperti di atas disebut modern karena dalam sejarahnya


agama Katholik dan Protestan dahulu diajak menyesuaikan diri dengan ilmu
pengeta-huan dan falsafat modern. Sayangnya, modernisaai di Barat ini akhirnya
membawa kepada sekularisasi. Jika seandainya demikian ternyata perkataan
modern tidak sedikit dampaknya dan bahayanya dalam pemahaman agama,
seandainya tidak ada filter-filter tertentu untuk menyaringnya sebagaimana terjadi
di dunia Barat tadi. Itulah sebabnya barangkali Harun Nasution tidak begitu sreg
menggunakan kata modern sebagai gantinya dipilih kata pembaharuan.

3. Revivalisasi, Resurgensi, Renaisans, Reasersi

Kesemua peristilahan di atas mengandung arti te-gak kembali atau bangkit


kembali. Peristilahan revivali-sasi, pada dasarnya, banyak sekali digunakan oleh
para penulis. Fazlurrahman, misalnya, menggunakan istilah ini, bahkan ia
membaginya kepada dua bagian yaitu revivalis pra-modernis dan revivalis neo
modernis. Penulis lain mengungkapkan kebangkitan kembali dengan kata
resurgence. Chandra Muzaffar yang menge-mukakan istilah ini dalam tulisannya
Resurgence A. Global Vew menyatakan bahwa adanya perbedaan antara istilah
revivalis dengan resurgence. Resurgence, adalah tindakan bangkit kembali yang di
dalamnya mengandung unsur:

1) kebangkitan yang datang dari dalam Islam sendiri dan Islam dianggap
penting karena dianggap mendapatkan kembali prestisenya;
2) ia kembali kepada masa jayanya yang lalu yang pernah terjadi sebelumnya;
3) bangkit kembali untuk menghadapi tantangan, bahkan ancaman dari mereka
yang berpengalaman lain. Revivalisme juga berati bangkit kembali, tetapi
kembali ke masa lampau, bahkan berkeinginan untuk meng-hidupkan
kembali yang sudah usang. Renaisans, jika ha-nya diartikan secara umum
nampaknya membangkitkan kembali ke masa-masa yang sudah ketinggalan
zaman, bahkan ada konotasi menghidupkan kembali masa jahi-liyah,
sebagaimana renaisans di Eropa yang berarti meng-hidupkan kembali

10
peradaban Yunani. Jika istilah ini terpaksa digunakan, maka Renaisans
Islam harus berarti tajdid .

Karena itu, barangkali mengapa banyak para penu-lis menggunakan


Renaisans dalam menerangkan tajdid atau Pembaharuan dalam Islam.
Fazlurrahman, misalnya dalam bukunya Islam : Challenges and Opportunities,
menulis tentang Renaisans Islam : Neo Modernis. Istilah ini-pun digunakan pula
oleh editor buku A History of Islamic Phllisophy, M.M. Sharif, tatkala
rnenerangkan tokoh-tokoh pembaharuan dunia Islam, seperti Muhammad ibn Abd
al-Wahab, Muhammad Abduh dan lainnya di ba-wah judul Modern Renaissans.
Sementara itu reassertion berarti tegak kembali tetapi tidak mengandung tan-tangan
terhadap masalah sosial yang ada.

Demikianlah istilah tajdid, pembaharuan, yaitu dike-mukakan oleh para


ahli, mereka bukan hanya sekedar berbeda pendapat dalam hal istilah yang
digunakan, akan tetapi dalam makna dan isi pembaharuan itu sen-diri. Itulah
sebabnya orang sering mengatakan bahwa istilah Pembahruan dalam Islam masih
merupakan kon-troversi yang mengandung kebenaran. Dan itu pula sebabnya
mengapa Harun Nasution tidak banyak meng-gunakan peristilahan yang banyak itu,
kecuali menggu-nakan istilah pembaharuan, modern dan tajdid sewaktu-waktu.
Karena, yang penting adalah isi dan tujuan dari pembaharuan itu sendiri kembali
kepada ajaran-ajaran dasar dan memelihara ijtihad.

Pengertian menurut istilah:

a) Harun Nasution cendrung menganalogikan istilah “pembaharuan” dengan


“modernisme”, karena istilah terakhir ini dalam masyarakat Barat mengandung
arti pikiran, aliran, gerakan, dan usaha mengubah paham-paham, adt-istiadat,
institusi lama, dan sebagainya unutk disesuaikan dengan suasana baru yang
ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Gagasan ini
muncul di Barat dengan tujuan menyesuaikan ajaran-ajaran yang terdapat dalam
agama Katolik dan Protestan dengan ilmu pengetahuna modern. Karena konotasi
dan perkembangan yang seperti itu, harun Nasution keberatan menggunakan
istilah modernisasi Islam dalam pengertian diatas.

11
b) Revivalisasi. Menurut paham ini, “pembaharuan adalah “membangkitkan”
kembali Islam yang “murni” sebagaimana pernah dipraktekkan Nabi
Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan kaum Salaf.

3. Kebangkitan Kembali ( Resugence ) Dalam kamus Oxford, resurgence


didefinisikan sebagai “kegiatan yang muncul kembali” (the act of rising again ).
Pengertian ini mengandung 3 hal :

a. Suatu pandangan dari dalam, suatu cara dalam mana kaum muslimim melihat
bertambahnya dampak agama diantara para penganutnya. Islam menjadi penting
kembali. Dalam artian, memperoleh kembali prestise dankehormatan dirinya.
b. “Kebangkitan kembali” menunjukkan bahwa keadaaan tersebut telah terjadi
sebelumnya. Jejak hidup nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam dan para
pengikutnya memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran orang-orang yang
menaruh perhatian pada jalan hidup Islam saat ini.
c. Kebangkitan kembali sebagai suatu konsep, mengandung paham tentang suatu
tantangan, bahkan suatu ancaman terhadap pengikut pandangan-pandangan lain.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern memasuki dunia Islam


terutama sesudah pembukaan abad ke-19 M, yang dalam sejarah Islam di pandang
sebagai permulaan periode modern. Kontak dengan dunia barat selanjutnya
membawa ide-ide baru ke dunia Islam seperti Rasionalisme, Nasionalisme,
Demokrasi, dan sebagainya. Semua ini menimbulkan persoalan-persoalan baru dan
pemimpin-pemimpin Islam pun mulai memikirkan cara mengatasi persoalan-
persoalan itu.

Sebagaimana halnya di barat, di dunia Islam juga timbul pikiran dan


gerakan untuk menyesuaikan paham-paham keagamaan Islam dengan
perkembangan baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
modern itu. Dengan jalan demikian itu pemimpin-pemimpin Islam modern
berharap akan dapat melepaskan umat Islam nilai suasana kemunduran untuk
selanjutnya dibawa pada kemajuan.

Akan tetapi di sebagian umat Islam tradisional hingga sat ini tampak ada
perasaan masih belum mau menerima apa yang di maksud dengan pembaharuan

12
Islam. Hal ini, antara lain disebabkan karena salah persepsi dalam memahami arti
pembaharuan dalam Islam.mereka memandang bahwa pembaharuan Islam adalah
membuang ajaran Islam yang sama diganti dengan ajaran Islam baru, padahal
ajaran Islam yang lama itu berdasarkan hasil Ijtihad ulama besar yang dalam
ilmunya taat beribadah dan unggul kepribadiannya. Sedangkan ulama yang
sekarang di pandang kurang mendalami ilmu agamanya, kurang taat, dalam
beribadahnya, dan kurang baik budi pekertinya. Oleh Karena itu mereka masih
beranggapan bahwa pemikiran ulama di abad yang lampau sudah cukup baik dan
tidak perlu diganti dengan pemikiran ulama sekarang.

Selain itu ada pula yang memahami pembaharuan Islam dengan mengubah
Al-Quran dan Hadits, memahami Al-Quran dan Hadits menurut selera orang yang
memahaminya atau mencocokan-mencocokan makna Al-Quran dan Hadits dengan
makna yang dimaui oleh orang-orang yang menafsirkannya, sehingga Al-Quran
dan Hadits semacam setempel yang melegitimasi segala perbuatan yang dilakukan
manusia. Dengan kata lain, pembahasan Islam mereka persepsikan dengan upaya
mencocokkan kehendak Al-Quran dan Hadits dengan kehendak orang yang
menafsirkannya, bukan mengajak orang untuk hidup sesuai dengan Al-Quran dan
Hadits. Persepsi demikian hingga kini tampak di pegang terus oleh sebagian umat
Islam Tradisional tanpa mau melakukan dialog atau dikusi dengan para tokoh
Pembaharu Islam, sehingga munculah istilah kaum modernis dan kaum tradisional.

Modern berarti terbaru, mutakhir atau sikap dan cara berpikir serta bertindak
dengan tuntutan zaman. Sedangkan modernisasi adalah pergeseran sikap dan
mentalitas sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan hidup
masa kini.

Selain itu pembaharuan dalam Islam dapat pula berarti mengubah keadaan
umat agar mengikuti ajaran yang terdapat di dalam Al-Quran dan Sunnah. Hal ini
perlu dilakukan, karena terjadi kesenjangan antara yang dikehendaki Al-Quran
dengan kenyataan yamg terjadi di masyarakat. Al-Quran misalnya mendorong
umatnya agar menguasai pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan modern serta
teknologi secra seimbang; hidup bersatu, rukun, dan damai sebagai suatu keluarga
besar; bersikap dinamis, kreatif, inovatif, demokratis, terbuka, menghargai

13
pendapat orang lain, menghargai waktu, menyukai kebersihan, dan lain sebagainya.
Namun kenyatan umatnya menunjukan keadan yang berbeda. Sebagaian besar umat
Islam hanya mengetahui pengetahuan agama sedangkan ilmu pengetahuan modern
tidak dikuasai bahkan dimusuhi; hidup dalam keadan penuh pertentangan dan
peperangan, satu dan lainnya saling bermusuhan, statis, memandang cukup apa
yang ada, tidak ada kehandak untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja,
bersikap diktator, kurang menghargai waktu, kurang terbuka, dan lain sebagainya.
Sikap dan pandangan hidup umat demikian jelas tidak sejalan dengan ajaran Al-
Quran dan Sunnah, dan hal demikian harus diperbarui dengan jalan kembali kepada
dua sumber ajaran Islam yang utama itu. Dengan demikian, maka pembaruan Islam
mengandung maksud mengembalikan sikap dan pandangan hidup umat agar sejalan
dengan petunjuk Al-Quran dan Sunnah. Untuk mendukung pernyataan tersebut,
Harun Nasution dalam bukunya berjudul Pembaharuan dalam Islam telah banyak
mengemukakan ide-ide pembaharuan Islam dengan maksud seperti diungkapkan
diatas.

B. Latar Belakang Pembaharuan Dalam Islam

Mulai abad pertengahan merupakan abad gemilang bagi umat Islam. Abad
inilah daerah-daerah Islam meluas di barat melalui Afrika Utara sampai Spanyol,
di Timur Melalui Pesia sampai India. Daerah-daerah ini kepada kekuasaan kholifah
yang pada mulanya berkedudukan di Madinah, kemudian di Damaskus, dan
terakhir di Bagdad. Dabad ini lahir para pemikir dan ulama besar seperti; Maliki,
Syafi’I, Hanafi, dan Hambali. Dengan lahirnya pemikiran para ulama besar itu,
maka ilmu pengetahuan lahir dan berkembang dengan pesat sampai ke puncaknya,
baik dalam bidang agama, nono agama maupun dalam bidang kebudayaan lainnya.

Memasuki benua Eropa melalui Spanyol dan Sisilia, dan inilah yang
menjadi dasar dari ilmu pengetahuan yang menguasai alam pikiran orang barat
(Eropa) pada abad selanjutnya.

Di pandang dari segi sejarah kebudayaan, maka maka tugas memelihara dan
menyebarkan ilmu pengetahuan itu tidaklah kecil nilainya dibanding dengan
mencipta ilmu pengetahuan.

14
Di antara yang mendorong timbulnya pembaharuan dan kebangkitan Islam
adalah:

Pertama, paham tauhid yang dianut kaum muslimin telah bercampur dengan
kebiasaan-kebiasaan yang dipengaruhi oleh tarekat-tarekat, pemujaan terhadap
orang-orang yang suci dan hal lain yang membawa kepada kekufuran.

Kedua, sifat jumud membuat umat Islam berhenti berfikir dan berusaha, umat
Islam maju di zaman klasik karena mereka mementingkan ilmu pengetahuan, oleh
karena itu selama umat Islam masih bersifat jumud dan tidak mau berfikir untuk
berijtihad, tidak mungkin mengalami kemajuan, untuk itu perlu adanya
pembaharuan yang berusaha memberantas kejumudan.

Ketiga, umat Islam selalu berpecah belah, maka umat Islam tidaklah akan
mengalami kemajuan. Umat Islam maju karena adanya persatuan dan kesatuan,
karena adanya persaudaran yang diikat oleh tali ajaran Islam. Maka untuk
mempersatukan kembali umat Islam bangkitlah suatu gerakan pembaharuan.

Keempat, hasil dari kontak yang terjadi antara dunia Islam dengan Barat. Dengan
adanya kontak ini umat Islam sadar bahwa mereka mengalami kemunduran
dibandingkan dengan Barat, terutama sekali ketika terjadinya peperangan antara
kerajaan Usmani dengan negara-negara Eropa, yang biasanya tentara kerajaan
Usmani selalu memperoleh kemenangan dalam peperangan, akhirnya mengalami
kekalahan-kekalahan di tangan Barat, hal ini membuat pembesar-pembesar Usmani
untuk menyelidiki rahasia kekuatan militer Eropa yang aru muncul. Menurut
mereka rahasianya terletak pada kekuatan militer modern yang dimiliki Eropa,
sehingga pembaharuan dipusatkan di dalam lapangan militer, namun pembaharuan
di bidang lain disertakan pula.

Pembaharuan dalam Islam berbeda dengan renaisans Barat. Kalau renaisans


Barat muncul dengan menyingkirkan agama, maka pembaharuan dalam Islam
adalah sebaliknya, yaitu untuk memperkuat prinsip dan ajaran-ajaran Islam kepada
pemeluknya. Memperbaharui dan menghidupkan kembali prinsip-prinsip Islam
yang dilalaikan umatnya. Oleh karena itu pembaharuan dalam Islam bukan hanya
mengajak maju kedepan untuk melawan segala kebodohan dan kemelaratan tetapi

15
juga untuk kemajuan ajaran-ajaran agama Islam itu.Adapun yang melatarbelakangi
pemikiran politik Islam adalah: Pertama, kemunduran dan kerapuhan dunia Islam
yang disebabkan oleh faktor internal dan yang berakibat munculnya gerakan-
gerakan pembaharuan dan pemurnian. Kedua, rongrongan Barat terhadap keutuhan
kekuasaan politik dan wilayah dunia Islam yang berakhir dengan dominasi atau
penjajahan oleh negara-negara Barat tersebut. Ketiga, keunggulan Barat dalam
bidang ilmu, teknologi, dan organisasi.

Ketiga hal tersebut ini juga memberi pengaruh pada pemikiran politik Islam
yakni banyak di antara para pemikir politik Islam tidak mengetengahkan konsepsi
tentang system politik Islam, tetapi lebih kepada konsepsi perjuangan politik umat
Islam terhadap kezaliman penguasa, lebih-lebih terhadap imperialis dan kolonialis
Barat. Perhatian mereka lebih banyak dipusatkan pada perjuangan pembebasan
dunia Islam dari cengkraman atau dominasi Barat. Kalau gerakan pembaharuan
umat Islam di Turki pada akhirnya menimbulkan Negara Turki yang bersifat
sekuler, gerakan pembaharuan umat Islam di India melahirkan Negara Pakistan
yang mempunyai agama sebagai dasar. Gerakan yang diusung oleh tiga tokoh
pembaharu, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid
Ridha, dikenal dengan gerakan Salafiyah yaitu suatu aliran keagamaan yang
berpendirian bahwa untuk dapat memulihkan kejayaannya, umat Islam harus
kembali kepada ajaran Islam yang masih murni seperti yang dahulu diamalkan oleh
generasi pertama Islam.

Pemerintahan yang ideal menurut Muhammad Abduh kurang lebih seperti


yang diangankan oleh ahli-ahli hukum pada abad pertengahan, penguasa yang adil,
yang memerintah sesuai dengan hukum dan bermusyawarah dengan para
pemimpin rakyat. Kemunculan ide pembaruan dilatarbelakangi oleh suatu proses
yang panjang. Sejak awal abad ke-2 H (8M). Islam dalam perkembangan
dakwahnya yang makin meluas mengharuskan Islam berinteraksi dengan
peradaban dan agama lain. Sehingga timbul pergolakan pemikiran antara Islam
dengan pemikiran asing. Hal ini mendorong para pemikir Islam untuk membahas
aqidah Islam dari berbagai segi. Termasuk mengemukakan argumentasi untuk
mempertahankan aqidah Islam ketika menghadapi aqidah lain (terutama Nashrani
dengan menggunakan cara berfikir filsafat Yunani). Akhirnya untuk menghadapi

16
orang-orang Nashrani, umat Islam pun mempelajari filsafat untuk membantah
tuduhan-tuduhan terhadap aqidah Islam, yang pada perkembangannya disebut
dengan ilmu kalam. Ilmu kalam ini dikembangkan oleh generasi setelah shahabat
(khalaf) yang berbeda dengan generasi shahabat (salaf). Kalangan khalaf telah
membahas lebih jauh tentang dzat Allah dengan menggunakan metode pembahasan
filosof Yunani. Metode ini menjadikan akal sebagai dasar pemikiran untuk
membahas segala hal tentangiman.

Para pemikir Islam berusaha mempertemukan Islam dengan pemikiran


filsafat ini. Cara berfikir ini memunculkan interpretasi dan penafsiran yang
menjauhkan sebagian arti dan hakekat Islam yang sebenarnya. Hal ini ditambahkan
dengan masuknya orang-orang munafik ke tubuh umat Islam. Mereka merekayasa
pemikiran dan pemahaman yang bukan berasal dari Islam dan justru menimbulkan
saling pertentangan. Terlebih lagi kelalaian kaum muslimin terhadap penguasaan
bahasa Arab dan pengembangan Islam yang terjadi sejak abad ke-7 H,
mengakibatkan Islam semakin mengalami kemerosotan.

Terkikisnya pemahaman Islam yang hakiki terus berlanjut sampai awal abad
ke-13 H. Saat itu umat Islam mulai mengupayakan pembaruan untuk memahami
syariat Islam yang akan diterapkan dalam masyarakat. Islam ditafsirkan tidak
semata-mata selaras dengan isi kandungan nash-nash. Disaat kaum muslimin
mengalami kemerosotan berfikir, cara pandang mereka mulai teracuni oleh cara
pandang asing. Tsaqofah Islam kian melemah. Upaya-upaya pembaruan semakin
merebak. Para pembaru memandang perlunya mengatasi masalah dengan
melakukan interpretasi hukum-hukum Islam agar sesuai dengan kondisi yang ada.
Mereka mengeluarkan kaidah-kaidah umum dan hukum-hukum terperinci sesuai
dengan pandangan tersebut. Bahkan mereka membuat kaedah umum yang tidak
berdasarkan perspektif wahyu (Al-Quran dan Hadits).

Sampai dengan perempat ketiga abad ini, gerakan Islam lebih merupakan
pembaharuan dalam pengertian revitalitas atau semacam romantisme. Hampir
seluruh gerakan Islam dimotori oleh semangat menghidupkan kembali tradisi Islam
Klasik sebagai reaksi atas kebangkrutan kekuasaan politik Islam di satu sisi
sementara didomonasi politik dan intelektual Barat modern merupakan fenomena

17
mondial. Gerakan Islam baik di Timur Tengah maupun beberapa kawasan Asia
seperti India bertumpu pada emansipasi politik dan intelektual dalam romantisme
dan revitalisasi di atas

Walaupun kecendrungan di atas telah berhasil membebaskan beberapa


kawasan Islam dari kolonialisme dan membangkitkan kembali kepercayaan diri
dunia Islam, namun pembaharuan Islam bersifat eksternal. Di sisi lain, Negara-
negara baru Islam pun berhadapan dengan realitas baru tumbuhnya Negara bangsa
yang merupakan wacana baru pemikiran Islam. Tanpa suatu tradisi intelektual yang
mampu berdialog dengan peradaban modern, Negara-negara baru Islam mulai
berhadapan dengan bagaimana membangun tata kehidupan sebagai realisasi
semangat dan pesan universal Islam. Pengembangan kehidupan sosial muslimpun
berhadapan dengan realitas obyektif yang kurang lebih serupa. Bagaimana
membangun peradaban Islam dalam masyarakat modern, sesungguhnya merupakan
agenda gerakan Islam masa depan.

Dari penjelasan di atas pemakalah dapat menyimpulkan bahwa:


Pembaharuan Islam adalah upaya untuk menyesuiakan paham keagamaan Islam
dengan perkembangan dan yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan
terknologi odern. Dengan demikian pembaharuan dalam Islam ukan berarti
mengubah, mengurangi atau menambahi teks Al-Quran maupun Hadits, melainkan
hanya menyesuaikan paham atas keduanya. Adapun yang mendorong timbulnya
pembaharuan dan kebangkitan Islam adalah: Pertama, paham tauhid yang dianut
kaum muslimin telah bercampur dengan kebiasaan-kebiasaan yang dipengaruhi
oleh tarekat-tarekat, pemujaan terhadap orang-orang yang suci dan hal lain yang
membawa kepada kekufuran. Kedua, sifat jumud membuat umat Islam berhenti
berfikir dan berusaha, umat Islam maju di zaman klasik karena mereka
mementingkan ilmu pengetahuan, oleh karena itu selama umat Islam masih bersifat
jumud dan tidak mau berfikir untuk berijtihad, tidak mungkin mengalami
kemajuan, untuk itu perlu adanya pembaharuan yang berusaha memberantas
kejumudan. Ketiga, umat Islam selalu berpecah belah, maka umat Islam tidaklah
akan mengalami kemajuan. Keempat, hasil dari kontak yang terjadi antara dunia
Islam dengan Barat.

18
C. Pengaruh Gerakan Pembaharuan Bagi Dunia Islam

Pembaruan di negara-negara timur tengah tidak hanya tersebar di


lingkungan mereka sendiri, namun juga meluas hingga ke Indonesia. Pengaruh-
pengaruh dari pembaruan tersebut antara lain sebagai berikut.

1. Gema pembaruan yang dilakukan oleh Jamaludin Al Afgani an syekh


Muhammadn Abdul Wahhab sampai juga ke Indonesia, terutama terhadap
tokoh-tokoh seperti Haji Muhammad Miskin (Kabupaten Agam, Sumatera
Barat), Haji Abdur Rahman (Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat),
dan Haji Salman Faris (Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat). Mereka
dikenal dengan nama Haji Miskin, Haji Pioabang dan Haji sumaniik.
Sepulang dari tanah suci, mereka terilhami oleh paham syekh Muhammad
Abdul Wahhab. Mereka pulang dari tanah suci pada tahun 1803 M dan
sebagai pengaruh pemikiran para pembaru timur tengah tersebut adalah
timbulnya gerakan paderi. Gerakan tersebut ingin membersihkan ajaran
Islam yang telah bercampur-baur dengan perbuatan-perbuatan yang bukan
Islam. Hal ini menimbulkan pertentangan antara golongan adat dan
golongan Paderi.
2. Pada tahun 1903 M murid-murid dari Syekh Ahmad Khatib Al
Minangkabawy, seorang ulama besar bangsa Indonesia di makkah yang
mendapat kedudukan mulia di kalangan masyarakat dan pemerintahan
Arab, kembali dari tanah suci. Murid-murid dari syekh ahmad inilah yang
menjadi pelopor gerakan pembaruan di minangkabau dan akhirnya
berkembang ke seluruh Indonesia. Mereka antara lain sebagai berikut :
Syekh Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka), Syekh Daud
Rasyidi, Syekh Jamil Jambik dan Kyai Haji Ahmad Dahlan (pendiri
Muhammadiyah)
3. Munculnya berbagai organisasi dan kelembagaan Islam modern di
Indonesia pada awal abad ke-20, baik yang bersifat keagamaan, politik
maupun ekonomi. Organisasi tersebut ialah sebagai berikut.

19
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa gerakan pembaruan yang
menyebabkan lahirnya organisasi keagamaan pada mulanya bersifat keagamaan,
tetapi seiring dengan kondisi masyarakat pada saat itu kemudian menjelma menjadi
kegiatan politik yang menuntut kemerdekaan Indonesia dan hal tersebut dirasakan
mendapat pengaruh yang signifikan dari pemikir-pemikir para pembaru Islam, baik
di tingkat nasional maupun internasional

D. Tokoh Gerakan Pembahahuran Islam


1. Muhmmad Ibn Abd Al-Wahhab

Muhammad Ibn Abd Al-Wahhab, seorang teolog hambali dan pendiri


gerakan wahabiyyah, dilahirkan di Uyaina, Nejd pada tahun 1115 H/703 M. Nama
lengkapnya Abu Abdullah Muhammad Ibn Abd al-Wahhab Ibn Sulaiman Ibn
Muhammad Ibn Ahmad Ibn Rasyid at-Tamimi. Kakeknya bernama Sulaiman Ibn
Muhammad seorang mufti di Nejd. Ayahnya adalah Abd al-Wahhhab seorang qodi
di Uyaina selma pemerintahan Abdullah Ibn Muhammad Ibn Mu’ammar.

Karir pendidikannya di awali dari bimbingan ayahnya dalam bidang fiqih


hambali, Al-Quran (Tafsir), Hadist, dan Tauhid. Pendidikan yang diterima oleh
ayahnya telah menjadi dasar yang kuat bagi Ibn Abd al-Wahhab untuk melakukan
gerakan pemurnian ajaran islam sampai ke saudi arabia. Kitab-kitabnya antara lain
kitab al-Tauhid, tentang ajaran pemberantasan bid’ah dan khurafat yang terdapat
dikalangan masyarakat dan ajaran untuk kembali kepada tauhid yang murni. Tafsir
Surat al-Fatihah , Mukhtasar Sahih Bukhari, mukhtasar as-Sirah an nabawiyyah,
Nasihah al-Mudlimin bi al-Hadist Khatam an-Nabiyin, Usul al-Iman, kitab al-
Kabair, Kasyf as-Syibuhat , salasa al-Usul , Adab al-Masi Ila as-Salah, Al-Hadist
al-Fitah, Mukhtasar Zad al-Ma’ad, dan al-Masail al- Lati Khalafa Fiha Rasulullah
Ahl al-Jahiliah.

Gerakan wahabiyah lahir di dar’iah pada tahun 1744 M bertujuan


memperbaiki kepincangan-kepincangan, menghapuskan semua kegiatan tahayul
dan kembali kepada islam sejati[3]. Orientasi gerakan memurnukan ajaran tauhid
mengalami perkembangan dengan menambahkan adanya misi politik untuk

20
membangun negara saudi.perubahan orientasi ini terlihat jelas ketika Ibn Abd al-
Wahhab berkoalisi dengan keluarga al-Su’ud.

Pemikiran-pemikiran Muhammad Ibn Abd al-Wahhab yang mempunyai


pengaruh pada perkembangan pemikiran pembaharuan di abad ke-19, yaitu :

 Hanya Al-Quran dan hadislah yang merupakan sumber asli dari ajaran-
ajaran islam. Jadi semua pendapat ulama tidak merupakan sumber ajaran
islam.
 Taklid kepada ulama tidak dibenarkan.
 Pintu ijtihad terbuka dan tidak tertutup.

Implikasi yan ditimbulkan gerakan wahhabiyah terhadap pembaharuan


islam cukup besar. Ada dua pengaruh gerakan wahhabiyah terhadap dunia islam,
yang pertama ajaran-ajaran kaum wahhabiyah terutama paham tauhid, kembali
mempengaruhi pemikiran dan usaha-usaha pembaharuan pada periode modern dari
sejarah islam. Pemikiran dan usaha-usaha pembaharuan terutama terjadi di Mesir,
India, Afrika, dan Indonesia. Kedua, sikap teokratik-revolusioner yang ditunjukan
oleh gerakan wahhabiyah banyak mempengaruhi gerakan militansi yang ada pada
abad ke-19.

2. Jamaluddin al-Afghani

Jamaluddin al-Sayid Muhammad Jamaluddin bin Shafdar al-Afghani, lahir


pada tahun 1254 H/1838 M di sebuah desa as-Adabad dekat India kota Konar
sebelah timur kota Kabul Afganistan. Gelar al-Sayid di sandangkan karena
keluarganya keturunan Nabi Muhammad saw melalui jalur pakar hadis yang
populer yaitu Ali at-Turmuzi keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Pendidikan a-Afghani bermula di Kabul (tradisonal) lalu ke India dan Hijaz.


Kemudian ia berpetualang ke India tahun 1869 M hingga ke India tahun 1869 M
hingga ke Eropa, Perancis, Mesir, Persia, Rusia, dan Turki Ustmani hingga sampai
ajal menjemputnya tanggal 9 Maret 1897 M di Istanbul dalam usia 59 tahun.

Pemikiran politik Al-Afghani ada dua unsur utama: kesatuan dunia Islam
dan populisme. Doktrin kesatuan politik dunia Islam, yang dikenal sebagai Pan

21
Islamisme didesakkan oleh Al-Afghani sebagai satu-satunya benteng pertahanan
terhadap pendudukan dan dominasi asing atas negeri-negeri muslim. Dorongan
populis timbul baik dari pertimbangan keadilan intriksinya dan dari kenyataan
bahwa suatu pemerintahan konstitusional oleh rakyat sajalah yang akan kuat
berdiri, stabil dan merupakan jaminan yang sebenarnya menghadapi kekuatan dan
intrik-intrik asing.

Pengaruh Al-Afghani memberikan sumbangan langsung kepada


pemberontakan Arabi Pasya di Mesir dan gerakan konstitusional di Persia, tetapi
kekuatan daya tariknya umunya juga dirasakan di Turki dan India. Akan tetapi
dalam semangatnya membangkitkan kemauan umat mengahadapi Barat, al-
Afghani tidak hanya membangkitkan semangat Islam universal saja tapi juga
semangat lokal atau nasionalisme dari berbagai negeri. Karena itu, pengaruh
aktualnya mengarah baik kepada Pra Islamisme maupun Nasionalisme yang
kadang-kadang saling bentrok. Walaupun idealisme Pan Islam tidak begitu berhasil
dalam batasan-batasan yang kongkrit, namun ia terus menerus mengilhami berbagai
kelompok aktifis diberbagai negeri dan terus menerus hidup, kalaupun tak memiliki
bentuk yang jelas, terlhat dalam aspirasi-aspirasi rakyat.

3. Muhammad Abduh

Nama lengkapnya adalah Muhammad Ibnu Abduh Ibnu Hasan Khairullah.


Ia lahir tahun 1849 didesa Mahallah Nasr, Syubrakhit al-Buhairah, kurang lebih 15
km dari kota Damanhur Mesir. Ayahnya bernama Abduh Hasan Khairullah,
mempunyai silsilah keturunan dengan bangsa Turki. Ibunya mempunyai silsilah
keturunan bangsa orang besar Islam., Umar bin Khattab, khalifah yang kedua.

Pendidikannya mula-mula oleh orang tuanya mengaji sampai hafal Al-


Qur’an dalam usian 12 tahun. Selanjutnya keperguruan “Masjidil Ahmadi” di Desa
Thantha dan akhirnya ke perguruan tinggi Islam “Al-Azhar” Kairo tamat tahun
1877 serta membaktikan diri mengajar diperguruan tinggi tersebut. Beliau
kemudian mengajar di Dar al-Ulum dan dirumahnya sendiri.

22
Pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh meliputi:

 Pendidikan, Abduh menentang dualisme pendidikan yang memisahkan


antara pendidikan agama dari pendidikan umum.
 Politik, Abduh menganggap perlu adanya pembatasan kekuasaan suatu
pemerintahan dan perlunya kontrol sosial dari rakyat terhadap penguasa.
 Taklid dan ijtihad, Abduh mengecam taqlid dan menyerukan ijtihad karena
keterbelakangan dan kemunduran Islam disebabkan oleh pandangan dan
sikap jumud di kalangan umat islam.

Muhammad Abduh berhasil memasukkan ilmu pengetahuan umum ke


dalam kurikulum Al-Azhar, seperti ilmu ukur, ilmu bumi, matematika, dan aljabar.
Pengaruh yang ditinggalkan Abduh pada generasi berikutnya menggerakkan Al-
Azhar untuk menata kembali metode pengajarannya. Pemikiran-pemikirannya
berpengaruh bukan hanya terasa di Mesir, namun bergema ke bagian dunia Islam
pada umumnya terutama di dunia Arab termasuk Indonesia melalui karangan-
karangan beliau sendiri dan tulisan murid-muridnya. Pemikiran Abduh
mempengaruhi gerakan pembaharuan di Indonesia yang dicetuskan oleh
Muhammadiyah dan al-Irsyad.

4. Muhammad Rasyid Riba

Nama lenkapnya adalah Muhammda Rasyid bin Ali Rida bin Muhammad
Syamsuddin bin Muhammad Baharuddin bin Mula Ali Kalifa. Ia lahir di al-
Qalamun, sebuah desa dekat Tripoli ditepi pantai Mediteranian sebelah utara
Lebanon (Syria), pada tanggal 27 Jumadil Ula 1282 H/ 23 September 1865 M dan
meninggal pada 23 Jumadil Ula 1354 H/22 Agustus 1935 M. Secara geneologis, ia
masih memiliki pertalian darah dengan al-Husein bin Ali bin Thalib, cucu Nabi
Muhammad dari garis Fatimah.

Pendidikannya dimulai pada Kuttab di Qalamun, lalu kesekolah nasional


Ustmani, sekolah Islam Tripoli (al-Madrasah al-Wathaniyah al-Islamiyah) tahun
1882, dan sekolah agama Tripoli. Pemikiran pembaharuan Muhammad Rasyid Rida
secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :

23
1) Keagamaan, menurut Rasyid Ridha bahwa kemunduran yang diderita umat
Islam karena mereka tidak mengamalkan ajaran Islam yang sebenarnya,
mereka telah menyeleweng dari ajaran tersebut. Untuk itu, umat Islam harus
dikembalikan kepada ajaran Islam yang semestinya, bebas dari segala bid’ah,
sederhana dalam ibadah dan muamalah. Ia juga menganjurkan pembaharuan
dalam bidang hukum yakni penyatuan madzhab.
2) Pendidikan, Rasyid Ridha mengajukan pengajaran ilmu-ilmu pengetahuan
umum dengan ilmu-ilmu agama Islam disekolah. Maka kurikulum yang ada
perlu dimasukkan teologi, pendidikan moral, sosiologi, ilmu bumi, sejarah,
ekonomi, ilmu hitung, ilmu kesehatan, bahasa asing, dan ilmu kesejahteraan
keluarga, disamping itu juga adalah ilmu-ilmu agama seperti tafsir, fikih,
hadist, dan sebagainya yang biasa diajarkan disekolah-sekolah tradisional.
3) Politik, menurut Rasyid Ridha bahwa paham nasionalisme bertentangan
dengan ajaran persaudaraan seluruh umat (Ukhuwah Uslamiyyah).
Persaudaraan dalam islam tidak mengenal dengan adanya perbedaan bahasa,
tanah air, dan bangsa.

Muhammad Rasyid Ridha banyak dipengaruhi oleh ide-ide Jamaluddin al-


Afghani dan Muhammad Abduh melalui majalah al-Urwah al-Wutsqa. Majalah
tersebut mengadakann pembaharuan dibidang agama, sosial, dan ekonomi,
memberantas tahayyul dan bid’ah, menghilangkan faham fatalisme dan faham-
faham yang dibawa tarekat-tarekat tasawuf, meningkatkan mutu pendidikan, dan
membela umat islam dari permainan politik negara barat. Majalah tersebut
mendapat sambutan hangat bukan hanya di Mesir, atau negara-negara Arab
sekitarnya saja, namun sampai ke Eropa, bahkan ke Indonesia. Majalah itu berakhir
karena kendala yang diciptakan para kolonial Eropa.

5. Muhammad Iqbal

Muhammad Iqbal lahir di Sialkot pada tahun 1876. Ia berasal dari keluarga
kasta Brahmana Khasmir. Ayahnya bernama Nur Muhammad yang terkenal saleh
adalah guru pertamanya, lalu dimasukkan ke maktab untuk mempelajari Al-Qur’an.
Kemudian Scottish Mission School mempelajari pelajaran agama, bahasa Arab dan
Persia. Setelah tamat sekolah Sialkot, ia belajar ke Lahore belajar di Government

24
College sampai mendapat gelar M.A. tahun 1905 dan ke Inggris belajar filsafat pada
Universitas Cambridge. Dua tahun kemudian, ia pindah ke Munich Jerman sampai
memperoleh gelar Ph. D dalam bidang tasawuf dengan desertasinya berjudul The
Development of Methaphysics in Persia (Perkembangan Metafisika di Persia).

Muhamad Iqbal pada tahun 1908 kembali ke Lahore bekerja sebagai


pengacara dan dosen filsafat. Bukunya The Reconstruction of Religious Thought
In Islam sebagai hasil ceramah-ceramah yang diberikannya beberapa universitas di
India merupakan karyanya terbesar dalam bidang filsafat. Tahun 1930, ia dipilih
menjadi presiden Liga Muslim. Tahun 1931 dn 1932, ia ikut dalam konferensi Meja
Bundar di London membahas konferensi baru bagi India. Pada Oktober 1933, ia di
undang ke Afghanistan membicarakan pembentukan Universitas Kabul. Kemudian
beliau jatuh sakit dan meninggal pada tanggal 20 April 1935.

Pemikiran pembaharuan Muhammad Iqbal secara garis besar terdiri dari 3


bidang, yaitu:

a) Keagamaan, Muhammad Iqbal memandang bahwa kemunduran umat Islam


disebabkan oleh kebekuan umat Islam dalam pemikiran dan ditutupnya pintu
ijtihad. Islam menurutnya mengajarkan dinamisme, al-Qur’an senantiasa
mengajurkan pemakaian akal terhadap ayat atau tanda yang terdapat dalam
alam seperti matahari, bulan, pertukaran siang menjadi malam dan sebagainya.
Oleh karenanya, ijtihad dianggap sebagai prisip yang dipakai dalam soal gerak
dan perubahan dalam hidup sosial manusai sebagai ijtihad mempunyai
kedudukan penting dalam pembaharuan dalam Islam.
b) Pendidikan, Muhamad Iqbal tidak menjadikan barat sebagai model
pembaharuannya karena menolak kapitalisme dan imperialisme yang
dipengaruhi oleh materialisme dan telah mulai meninggalkan agama. Yang
harus diambil umat Islam dari Barat hanyalah ilmu pengetahuannya.
c) Politik, Muhammad Iqbal memandang bahwa India pada hakekatnya tersusun
dari dua bangsa, Islam dan Hindu. Umat Islam India harus menuju pada
pembentukan negara tersendiri, terpisah dari negara hindu di India sehingga
beliau dipandang sebagai bapak Pakistan

25
Pemikiran-pemikiran Muhammad Iqbal mempengaruhi dunai Islam pada
umumnya, terutama dalam pembaharuan di India. Ia menimbulkan paham
dinamisme di kalangan umat Islam India dan menunjukan jalan yang harus mereka
tempuh untuk masa depan agar umat Islam minoritas di anaak benua itu dapat
bertahan hidup dari tekanan luar dengan terwujudnya republik Pakistan.

26
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Telah kita telaah bersama pembahasan yang diatas yang dimana merupakan
bagaimana para tokoh-tokoh dalam menggerakan islam melalui pembaharuannya
yang sekarang masih melekat dikalangan kita yang membuat kita sebagai umat
Nabi Muhammad SAW dizaman modern seperti sekarang yang membuat kita tidak
tergilas oleh roda perputaran zaman yang semakin hari semakin mebuat kita merasa
kebingungan dalam menentukan suatu hukum kehidupan.

Melalui pemikiran-pemikiran beliau kita dapat mengetahui bagaimana


pendidikan umum sangat perlu untuk kelancaran kehidupan bermasyarakat.
Pemikiran-pemikran para tokoh patut kita contoh dan diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari kita seperti yang dikemukakan oleh Jamaluddin al-Afghani dalam
berpandangan politik yang mempunyai dua unsur utama yaitu kesatuan dunia islam
dan populisme. Jika umat islam ingin kembali berjaya dalam hal ilmu bidang ke-
ilmuan seperti pada masa Dinasti Abbasiyah maka kita sebagai umat islam harus
bersatu padu dalam mebangun lingkungan menuju lebih baik.

27
DAFTAR PUSTAKA

Asmuni,Yusran.1998.Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan


dalam Dunia Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Mulkhan, Abdul Munir. 1995. Teologi dan Demokrasi Modernitas Kebudayaan.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nasution, Harun. 1996. Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan


Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang.

http///www.google.com Afifi Fauzi Abbas

http///www.google.com. Muhammad Ikhsan, Tajdid dalam Syariat Islam Antara


Upaya Pemurnian dan Usaha Menjawab Tantangan Zaman. (Ditulis oleh
Administrator, 2006)

http///ww.google.com. Gunawan’s Site, Gerakan Pembaharuan Islam

https://nanpunya.wordpress.com/2009/04/14/pengaruh-perkembangan-dunia-
islam-terhadap-umat-islam-di-indonesia/

28