Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kulit merupakan organ yang menutupi seluruh tubuh manusia dan


mempunyai fungsi untuk melindungi dari pengaruh luar. Kerusakan pada kulit
akan menggangu kesehatan manusia maupun penampilan, sehingga kulit perlu
dilindungi dan dijaga kesehatannya. Proses kerusakan kulit ditandai dengan
munculnya keriput, sisik, kering dan pecah – pecah, maka kulit membutuhkan
suatu produk untuk mempertahankan kelembaban kulit, atau menjaga kulit dari
kekeringan, melembutkan kulit dan kerusakan kulit. produk tersebut yaitu lotion.
Lotion adalah sediaan kosmetik emilien (pelembut) yang mengandung air
lebih banyak. Sediaan ini memiliki beberapa sifat, yaitu sebagai sumber lembab
bagi kulit,memberi lapisan minyak yang hampir sama dengan sebum, membuat
tangan dan badan menjadi lembut, tetapi tidak berasa berminyak dan mudah
dioleskan. Hand and body lotion (losio tangan dan badan) merupakan sebutan
umum bagi sediaan ini di pasaran (Sularto,et al,1995).
Lotion didefinisikan sebagai suatu sediaan dengan medium air yang
digunakan pada kulit tanpa digosokkan. Biasanya mengandung substansi tidak
larut yang tersuspensi, dapat pula berupa larutan dan emulsi di mana mediumnya
berupa air. Biasanya ditambah gliserin untuk mencegah efek pengeringan,
sebaliknya diberi alkohol untuk cepat kering pada waktu dipakai dan memberi
efek penyejuknya (Anief, 1984). Wilkinson 1982 menyebutkan, lotion adalah
produk kosmetik yang umumnya berupa emulsi, terdiri dari sedikitnya dua cairanan
yang tidak tercampur dan mempunyai viskositas rendah serta dapat mengalir
dibawah pengaruh gravitasi. Lotion ditujukan untuk pemakaian pada kulit yang
sehat.
Lotion adalah emulsi cair yang terdiri dari fase minyak dan fase air yang

1
distabilkan oleh emulgator, mengandung satu atau lebih bahan aktif di dalamnya.
Lotion dimaksudkan untuk pemakaian luar kulit sebagai pelindung. Konsistensi
yang berbentuk cair memungkinkan pemakaian yang cepat dan merata pada
permukaan kulit, sehingga mudah menyebar dan dapat segera kering setelah
pengolesan serta meninggalkan lapisan tipis pada permukaan kulit(Lachman etet
al., 1994). Kulit membutuhkan produk lotion, maka diperlukan formulasi lotion
yang baik bagi kulit, oleh karena itu perlu dilakukan praktikum ini.

1.2 Tujuan
A. Menentukan formulasi yang tepat untuk sediaan lotion Olive Oil
B. Menentukan pH, organoleptis, Viskositas dan homogenitas lotion Olive Oil

1.3 Prinsip Percobaan


A. Berdasarkan pada pembuatan Lotion Olive Oil dengan pelarut air, serta bahan
tambahan lain seperti pengawet, emolien, dan emulsifying agent
B. Berdasarkan pada evaluasi sirup yang meliputi pemeriksaan pH, organoleptis,
Viskositas dan homogenitas Lotion Olive Oil

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lotion
Lotion adalah sediaan kosmetika golongan emolien (pelembut) yang
mengandung air lebih banyak. Sediaan ini memiliki beberapa sifat, yaitu sebagai
sumber lembab bagi kulit, memberi lapisan minyak yang hampir sama dengan sebum,
membuat tangan dan badanmenjadi lembut, tetapi tidak berasa berminyak dan mudah
dioleskan.
Lotion adalah sediaan kosmetika golongan emolien (pelembut) yang
mengandung air lebih banyak. Sediaan ini memiliki beberapa sifat, yaitu sebagai
sumber lembab bagi kulit,memberi lapisan minyak yang hampir sama dengan sebum,
membuat tangan dan badanmenjadi lembut, tetapi tidak berasa berminyak dan mudah
dioleskan.Hand and body lotion (losion tangan dan badan) merupakan sebutan umum
bagi sediaan ini di pasaran (Sularto,et al,1995).
Lotion dapat juga didefinisikan sebagai suatu sediaan dengan medium air
yangdigunakan pada kulit tanpa digosokkan.Biasanya mengandung substansi tidak
larut yangtersuspensi, dapat pula berupa larutan dan emulsi di mana mediumnya
berupa air.Biasanyaditambah gliserin untuk mencegah efek pengeringan, sebaliknya
diberi alkohol untuk cepatkering pada waktu dipakai dan memberi efek penyejuknya
(Anief, 1984).
Wilkinson 1982 menyebutkan, lotion adalah produk kosmetik yang umumnya
berupa emulsi, terdiri darisedikitnya dua cairan yang tidak tercampur dan mempunyai
viskositas rendah serta dapatmengalir dibawah pengaruh gravitasi.Lotion ditujukan
untuk pemakaian pada kulit yangsehat.Jadi, lotion adalah emulsi cair yang terdiri dari
fase minyak dan fase air yangdistabilkan oleh emulgator, mengandung satu atau lebih
bahan aktif di dalamnya.
Lotion dimaksudkan untuk pemakaian luar kulit sebagai
pelindung.Konsistensi yang berbentuk cair memungkinkan pemakaian yang cepat dan
merata pada permukaan kulit, sehingga mudah menyebar dan dapat segera kering

3
setelah pengolesan serta meninggalkan lapisan tipis pada permukaan kulit (Lachman
et al., 1994).
Lotion adalah Sediaan cair berupa suspensi atau dispersi yang digunakan
sebagai obat luar dapat berbentuk suspensi zat padat dalam serbuk halus dengan
bahan pensuspensi yang cocok , emulsi tipe o/w dengan surfaktan yang cocok.
Kegunaan pada umumnya membersihkanmake-up(rias wajah) dan lemak dari wajah
dan leher.
Ciri-ciri Lotion :
a. Lebih mudah digunakan (penyebaran losio lebih merata daripada krim)
b. Lebih ekonoms (Lotio menyebar dalam lapisan tipis)
Ada 2 jenis Lotio :
a. Larutan detergen dalam air
b. Emulsi tipe M/A
Kegunaan lotion dapat diaplikasikan ke kulit dengan kandungan obat/agen yang
berfungsi sebagai:
a. Antibiotik
b. Antiseptik
c. Anti jamur (anti fungi)
d. Kortikosteroid
e. Anti jerawat
Menenangkan, smoothing (pelembut), pelembab atau agen pelindung (seperti
Calamine) : Pijat, Memperbaiki kulit (estetika). Selain penggunaan untuk medis,
lotion banyak digunakan untuk perawatan kulit serta kosmetik. Menurut The British
Pharmaceutical Codex Lotio dapat digolongkan berdasarkan penggunaannya :
a. Lotion untuk irigasi aural
1. Dimaksudkan untuk menjadi syringe lembut ke telinga
2. Digunakan pada suhu tidak lebih dari 55o C
b. Diberikan untukmenghindari injeksi udara
Lotion untuk mencuci mulut
1. Digunakan dengan air hangat/panas

4
2. Dipertahankan selama beberapa menit di dalam mulut
c. Lotion untuk irigasi hidung
Diterapkan dengan douche kaca/jarum suntik dengan konstruksi yang cocok
d. Lotion untuk uretra dan vaginal
Disuntikkan dengan menggunakan jarum suntik

2.2 Stabilitas Sediaan Lotion


A. Stabilitas Kimia
Stabilitas kimia adalah kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas
yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan, sifat kimia dan
karakteristiknya sarna dengan yang dimilikinya pada saat dibuat. Stabilitas kimia
pada sediaan sirup dilakukan untuk mempertahankan keutuhan kimiawi dan
potensiasi yang tertera pada etiket dalam batas yang dinyatakan dalam spesifikasi. Uji
stabilitas kimia sediaan sirup :
1. Identifikasi
2. Penetapan Kadar
B. Stabilitas Fisika
Stabilitas fisika adalah tidak terjadinya perubahan sifat fisik dari suatu produk
selama waktu penyimpanan. Stabilitas fisika pada sediaan sirup dilakukan untuk
mempertahankan keutuhan fisik meliputi perubahan warna, perubahan rasa,
perubahan bau, perubahan tekstur atau penampilan. Uji stabilitas fisika sediaan sirup

1.pH
pH merupakan harga yang diberikan oleh alat potensiometrik (pH meter) yang
sesuai, yang telah dibakukan sebagaimana mestinya , yang mampu mengukur harga
pH sampai 0,02 unit pH menggunakan elektroda indikator yang peka terhadap
aktifitas ion hidrogen, elektroda kaca, dan elektroda pembanding yang sesuai.

5
2.Keseragaman sediaan
Keseragaman sediaan dapat ditetapkan dengan menggunakan dua metode,
yaitu keragaman bobot dan keseragaman kandungan. Persyaratan ini digunakan untuk
sediaan yang mengandung dua atau lebih zat aktif. Persyaratan keragaman bobot
diterapkan pada produk yang mengandung zat aktif 50 mg atau lebih yang merupakan
50% atau lebih , dari bobot satuan sediaan. Keseragaman dari zat aktif lain, jika
dalam jumlah kecil ditetapkan dengan persyaratan keseragaman kandungan (Dirjen
POM, 1995).
3.Uji Viskositas
Viskositas adalah suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir,
semakin tinggi viskositas, akan makin besar tahanannya. Nilai viskositas dipengaruhi
oleh zat pengental, surfaktan yang dipilih, proporsi fase terdispersi dan ukuran
partikel.
4.Pengamatan organoleptis
Pemerian dilakukan pada bentuk, warna,bau, dan suhu lebur.
A. Stabilitas Mikrobiologi
Stabilitas mikrobiologi suatu sediaan adalah keadaan di mana sediaan
bebas dari mikroorganisme atau tetap memenuhi syarat batas
mikroorganisme hingga batas waktu tertentu. Stabilitas mikrobiologi pada
sediaan sirup untuk menjaga atau mempertahankan jumlah dan menekan
pertumbuhan mikroorganisme yang terdapat dalam sediaan sirup hingga
jangka waktu tertentu yang diinginkan.
Sediaan Lotion mengandung air sehingga merupakan media yang sangat
baik bagi pertumbuhan mikroorganisme sehingga harus ditambahkan pengawet.
Pengawet yang dapat digunakan antara lain nipagin dan nipasol dengan
perbandingan 0,18 : 0,02 (nipagin bersifat fungistatik dan nipasol bersifat
bakteriostatik) kombinasi ini efektif untuk pencegahan terjadinya pertumbuhan
bakteri dan jamur

6
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Olive Oil


Minyak zaitun atau minyak Olive adalah sebuah minyak buah yang
didapat dari zaitun (Olea europaea), pohon tradisional dari basin Mediterania.
Minyak dapat digunakan untuk memasak, kosmetik, obat-obatan, dan sabun, dan juga
sebagai bahan bakar untuk lampu minyak. Minyak zaitun dianggap sebagai minyak
yang sehat karena mengandung lemak tak jenuh yang tinggi (utamanya asam oleik
dan polifenol)
Khusus untuk perawatan wajah, produk kecantikan yang mengandung
minyak zaitun dipercaya dapat membantu mempertahankan kelembaban dan
elastisitas kulit sekaligus memperlancar proses regenerasi kulit, sehingga kulit tidak
mudah kering dan berkerut. Untuk wajah, minyak zaitun dapat dicampur dengan
masker atau diulaskan langsung pada kulit.
Sementara itu, untuk tubuh minyak zaitun dapat digunakan sebagai carrier oil untuk
campuran minyak esensial sebagai minyak pijat. Minyak zaitun juga dapat digunakan
sebagai campuran body lotion atau sabun mandi untuk menjaga kelembapan dan
kelembutan.

3.2 Formulasi
R/ Olive Oil 3%
Cetyl alkohol 5%
Asam Stearat 10%
TEA 3%
Methyl Paraben 0,3%
Aquadest ad 100 gram

7
3.3 Monografi Zat
3.3.1 Olive Oil ( FI ed III 1979 : 458 )
Nama resmi : Oleum Olive
Nama lain : minyak zaitun
Pemerian :cairan, kuning pucat, atau kuning kehijauan,
bau lemah, tidak tengik, rasaa khas. Pada suhu rendah sebagian atau seluruhnya
membeku
Kelarutan :sukar larut dalam etanol (95%)P, mudah
larut dalam kloroform P, dan dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terisi penuh
Kegunaan : sebagai pelembut

3.3.2 Cethyl Alkohol


Pemerian : Terbuat dari lilin, kepingan-kepingan putih,
granul-granul, memiliki bau yang lemah.
Kelarutan : Tidak larut dalam air, larut dalam eter dan
etanol, kelarutan bertambah dengan naiknya suhu.
OTT : Tidak tercampur dengan pengoksidasi kuat.
Cara Sterilisasi : Sterilisasi kering
Indikasi : Bahan pengawet
Dosis Lazim : emollient (2-5%), Pengemuls (2-5%), water
absorption (5%)
Cara Pemakaian : Topikal
Sediaan Lazim dan kadar : Dalam Wadah Tertutup Baik.

3.3.3 Asam Stearat

8
Nama Resmi : Acidum Stearicum
Nama lain : Asam Oktadekanoat
Rumus Molekul : C18H36O2
Pemerian : Zat padat keras mengkilat menuinjukkan susunan hablur; putih atau
kuning pucat; mirip lemak lilin.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 20 bagian etanol (95%)
P, dalam 2 bagian kloroform P, dan dalam 3 bagian eter.
Kegunaan : Bahan pembuatan lilin, sabun, plastik,kosmetika, dan untuk
melunakkan karet.
Penyimpanan `: Dalam wadah tertutup pada suhu kamar.

3.3.4 Trithanolamin (TEA)


Pemerian : Cairan kental, tidak berwarna hingga kuning
pucat, bau lemah mirip amoniak, higroskopik.
Kelarutan : Mudah larut dalam air dan dalam etanol 95%,
larut dalam kloroform.
PH : 10,5
OTT : Akan bereaksi dengan asam mineral dengan
membentuk garam kristal dan ester, juga akan bereaksi dengan tembaga untuk
membentuk garam kompleks.
Cara Sterilisasi :-
Indikasi : Emulgator
Dosis Lazim : 2-4%
Cara pemakaian :-
Sediaan lazim dan kadar :-

9
Wadah dan penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari
cahaya.

3.3.5 Nipagin (Metyl Paraben)


Pemerian : Hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur putih,
tidak berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa terbakar.
Kelarutan : Sukar larut dalam air, dalam benzene dan dalam
karbon tetraklorida, mudah larut dalam etanol dan dalam eter.
PH : 4-8
OTT : Tidak tercampur dalam surfaktan non ionik seperti
polisorbat 80, bentonit, Mg trisilikat, sorbitol, talkum, minyak essensial.
Cara Sterilisasi : Autoklaf
Indikasi : Pengawet, antimikroba
Dosis Lazim : 0,02-0,3%
Cara Pemakaian : Injeksi, topikal
Sediaan Lazim dan kadar : 0,02-0,3%
Wadah dan penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

3.3.6 Aquadest (Farmakope Indonesia ed 4, 1995. Hal 112.)


Bentuk : Cairan jernih
Warna : Tidak berwarna
Bau : Tidak Berbau
Rasa : Tidak Berasa
Kelarutan : Dapat melarutkan semua zat yang sifatnya polar
BM :18,02
Kegunaan :Sebagai larutan pembawa dalam Sediaan Lotion
Stabilitas :Dapat stabil dalam semua keadaan fisika(es,cair,dan
uap)
Wadah dan penyimpanan :Dalam wadah dosis tunggal dari kaca atau plastic,
hablur lebih besar dari dua liter wadah kaca sebaliknya dari kaca tioe 1.

10
Inkompatibilitas :Dalam formulasi farmasi dapet bereaksi dengan obat
dan bahan tambahan lainnya yang muda terhidrolosis pada temperature tinggi

3.4 BAHAN DAN ALAT PERCOBAAN


4.1. Bahan :
1. Olive oil
2. Cetyl Alkohol
3. Asam stearat
4. Trietanolamin (TEA)
5. Metyl Paraben
6. Aqua Destilata

4.2. Alat:
1. Mortir dan Stamfer
2. Beaker gelas
3. Erlenmayer
4. Neraca timbangan
5. Spatel
6. Cawan penguap
7. Gelas ukur

3.5 INSTRUKSI KERJA


3.5.1 Penimbangan

Tujuan : Memperoleh bahan baku sesuai jenis dan jumlah yang diinginkan.

Bahan : olive oil, cethyl alkohol, asam stearat, TEA, methyl paraben, aqua

Alat : timbangan, gelas ukur, wadah bahan, label nama bahan

Prosedur :

11
1. Beri label wadah yang akan dipakai.

2. Timbang masing-masing bahan, masukkan ke dalam wadah yang sesuai.

Bahan Perbotol Penimbangan Hasil


(100ml) (200ml) penimbangan

Olive oil 3 gram 6 gram 6 gram

Cethyl 5 gram 10 gram 10 gram


akohol

Asam stearat 10 gram 20 gram 20 gram

TEA 3 gram 6 gram 6 gram

Methyl 0,1 gram 0,2 gram 0,2 gram


paraben

Aqua dest. Ad 100ml Ad 200ml Ad 200ml

3. Proses penimbangan dilakukan oleh pengawas.

4. Laporkan hasil penimbangan terhadap pengawas

3.5.2 Pencampuran Bahan


Tujuan : Memperoleh sediaan yang homogen.
Bahan : olive oil, cethyl alkohol, asam stearat, TEA, methyl paraben, aqua
Alat : Gelas ukur, lumpang dan alu, label nama bahan, wadah bahan.
Prosedur :

A. Pencampuran fase minyak

1. Disiapkan bahan yang akan dicampurkan :

Olive oil.... gram


Cethyl alkohol.... gram

12
Asam stearat.... gram
Methyl paraben.... gram
2. Lakukan pelarutan dan pencampuran dalam fase minyak
3. Beri label hasil pencampuran fase minyak.

B. Pencampuran fase air

1. Siapkan bahan yang akan dicampurkan

TEA.... gram

Aqua.... gram

2. Dilakukan pelarutan dan pencampuran dalam fase air

3. Diberi label hasil pencampuran fase air.

3.5.3 Pelelehan/Peleburan Bahan

Tujuan : Melelehkan fase minyak agar tercampur

Bahan : Hasil pencampuran fase minyak

Alat : lumpang dan alu, cawan penguap, tangas uap, batang pengaduk.

Prosedur :

1. Siapkan bahan hasil pencampuran fase minyak

2. Masukkan kedalam cawan penguap.

3. Panaskan diatas tangas air sampai meleleh.

4. Masukkan ke dalam lumpang panas, gerus ad tercampur merata.

3.5.4 Pemanasan

Tujuan : Menurunkan tegangan antar muka antara fase minyak dan fase air.

Bahan : Aqua destilata

13
Alat : pembakar bunsen, gelas piala, termometer

Prosedur :

1. Siapkan bahan dan alat.

2. Panaskan air dalam gelas piala diatas bunsen dengan api kecil, setelah mendidih
masukan kedalam lumpang dan alu.

3. Biarkan beberapa saat, kemudian buang air.

3.5.5 Pencampuran Fase Minyak Dan Fase Air

Tujuan : Memperoleh lotion yang baik dan homogen

Bahan : Hasil pelelehan fase minyak dan hasil pencampuran fase air

Alat : lumpang dan alu, wadah bahan, label.

Prosedur :

1. Siapkan lumpang dan alu panas.

2. Siapkan hasil pelelehan fase minyak (dalam keadaan panas)

3. Siapkan hasil pencampuran fase air (dalam keadaan panas)

4. Masukkan hasil pelelehan fase minyak kedalam lumpang panas, tambahkan hasil
pencempuran fase air sedikit demi sedikit gerus kuat ad terbentuk lotion yang
homogen.

5. Lotion siap untuk pengisian dan pengujian.

3.5.6 Pengisian Dan Pengemasan

Tujuan : pengisian dan pengemasan pada sediaan lotion olive oil

Bahan : sediaan lotion olive oil yang telah dibuat

Alat : botol 100ml, gelas ukur.

Prosedur :

1. Siapkan botol 100ml yang telah dibesihkan dan dikeringkan.

2. Ukur lotion olive oil sebanyak 100ml.

14
3. Masukkan kedalam botol, kemudian tutup botol dan diberi label

4. Lakukan hal yang sama untuk botol selanjutnya

3.5.7 Evaluasi Sediaan Lotion Olive Oil (End Process Control)


Tujuan : Mengetahui kualitas sediaan lotion olive oil yang telah dibuat.
Bahan : Sediaan lotion olive oil yang telah dibuat.
Alat : PH meter/ kertas PH universal
Prosedur :

A. Uji organoleptik

1. keluarkan isi sediaan lotion olive oil.

2. amati bentuk, bau, warna dan rasa.

Cara Syarat Hasil

Bentuk Kental homogen Ketal homogen

Bau Bau khas zaitun Bau Khas Zaitun

Warna Putih Putih

B. Pengukuran PH sediaan

1. Keluarkan isi sediaan lotion olive oil.

2. Ambil secukupnya, ukur PH larutan dengan PH meter/ kertas PH universal.

pH sediaan lotion olive oil =

C. Uji Viskositas
1. Keluarkan isi sediaan suspensi koramfenikol dari botol
2. Masukkan ke dalam gelas piala
3. Pasang spindel pada viskometer Brookfield
4. Turunkan spindel ke dalam cairan yang akan diukur sampai batas spindel, atur
RPM
5. Pasang stop kontak dan nyalakan

15
6. Biarkan spindel berputar, lihat jarum merah pada skala dan baca angka yang
ditunjukkan pada jarum
7. Untuk menghitung viskositas, maka angka pembacaan dikalikan satuan faktor
yang terdapat pada tabel (ada pada alat viskometer)
8. Dengan merubah RPM maka didapat viskositas pada berbagai RPM

Viskositas lotion olive oil =

D. Uji Volume Sedimentasi


1. Keluarkan isi sediaan lotion olive oil dari botol
2. Masukkan ke dalam gelas ukur
3. volume yang diisikan merupakan volume awal (Vo) ...............ml
4. Setelah beberapa waktu/hari, diamati volume akhir dengan terjadinya
sedimentasi. Volume terakhir tsb diukur (Vu)..............ml
5. Hitung volume sedimentasi (F)
F= Vu/Vo
6. buat kurva/grafik antara F (sumbu Y) terhadap waktu (sumbu X)

E. Uji Tipe Emulsi

1. Siapkan sediaan lotion olive oil

2. Ambil sedikit lotion olive oil ............... ml

3. Tambahkan metilen blue, aduk ad homogen, amati yang terjadi

4. Bila tampak warna biru menyebar pada campuran, berarti emulsi tipe m/a, jika warna
biru hanya tampak bintik-bintik, berarti emulsi tipe a/m

5. Ambil lagi sedikit lotion olive oil................ml

6. Tambahkan sudan III, aduk ad homogen, amati yang terjadi


7. Bila tampak warna merah menyebar pada campuran, berarti emulsi tipe a/m,
jika warna merah hanya tampak bintik-bintik, berarti emulsi tipe m/a

16
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Aspek Farmakologi
Pada praktikum kali ini zat aktif yang digunakan adalah minyak zaitun atau
olive oil dimana Kandungan kimia dalam minyak zaitun sangat banyak dan
bermanfaat bagi tubuh. Diantaranya adalah Trigliserida yang terdiri dari asam oleat
atau omega-9, asam palmitat, serta gliserida asam linoleat dan fitosterol. Minyak
zaitun memiliki kandungan lemak yang terdiri darizat asam lemak jenuh sebesar
14%, asam lemak tak jenuh berantai tunggal sebanyak 8%, ini berarti kandungannya
lebih banyak dari minyak kelapa yang hanya sebesar 6% tetapi untuk praktikum kali
ini fungsi yang digunakan bukan untuk menurunkan trigliserida yaitu untuk
melembabkan atau mengembalikan kelembaban dari kulit.
Kandungan lainnya adalah vitamin A, C, dan E yang merupakan antioksidan
untuk menghambat proses penuaan kulit sehingga tidak cepat keriput. Untuk kulit
kering dan kusam, minyak zaitun bisa membantu dan mengatasinya, karena minyak
ini merupakan pelembab alami yang sangat baik.Minyak zaitun dapat memelihara
elastisitas kulit dan cenderung menjaga kulit kita agar tetap lembut, bercahaya dan
halus.
Banyaknya kandungan vitamin E yang terdapat pada minyak zaitun yang bisa
digunakan untuk memperbaiki sel-sel kulit kita secara alami. Selain itu,flavonoids
dan polifenol yang ada pada minyak zaitun juga bisa membantu menghilangkan
kotoran serta mengangkat sel kulit mati. Dengan demikian, kulit pun akan menjadi
lebih bercahaya dan lebih sehat. Olive oil sebagai zat aktif dalam sediaan ini dibuat

17
dalam bentuk lotion dengan tujuan menghaluskan, mengembalikan kelembaban, dan
melembutkan kulit yang terjadi lebih cepat dan lebih mudah karena dalam bentuk
larutan yang dapat langsung diserap oleh kulit manusia.

4.2 Alasan Pemilihan Bahan Tambahan dan Dosis


Untuk membuat lotion pada praktikum ini bahan-bahannya terdiri dari
Menurut Keithler (1956), pada umumnya skin lotion disusun oleh komponen-
komponen emulsifier (pengemulsi), humektan, emolien, bahan aktif, dan air. (Olive
oil, ethyl alkohol, asam stearat, trietanolamin (TEA), metyl paraben, aqua destilata)
Sedangkan menurut Barnett(1972), bahan penyusun skin lotion terdiri dari astringent,
antiseptik, alkohol, humektan, minyak, lemak, pengemulsi, surfaktan, dan emolien.
Bahan-bahan yang digunakan mempunyai fungsi yang berbeda-beda,
dimana Minyak zaitun merupakan minyak tumbuhan yang bersifat emolient. Minyak
zaitun adalah antioksidant yang baik dan merupakan bahan moisturising yang baik
dalam kosmetik. Dalam uji joba pada hewan, penggunaan minyak zaitun secara
topikal dapat melindungi kerusaka kulit akibat paparan sinar UVB. Asam stearat
berfungsi menghasilkan kilauan yang khas pada produk skin lotion(Wilkinson et al.,
1962).
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan lotion olive oil dimana
fungsi dari olive oil sangat beragam diantaranya bisa sebagai penjaga kelembaban
pada kulit dimana olive oil mengandung vitamin E yang tinggi sehingga bisa menjaga
kelembaban dan elastisitas kulit.

18
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil pembuatan formula lotion olive oil didapatkan lotion yang stabil,
dimana lotion mempunyai viskositas yang baik sehingga berbentuk kental, dan
sediaan homogen (fase air dan minyak bercampur dengan baik), serta memiliki wangi
khas zaitun (Olive oil).

5.2 Saran
Diharapkan kepada pihak kampus agar melengkapi fasilitas laboratorium sesuai
standar, seperti misalnya melengkapi ruangan dengan pendingin udara, alat dan bahan
yang lengkap, tidak rusak, dan tidak sedikit, agar kegiatan perkuliahan/ praktikum
dapat lebih nyaman dan lancar.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995, “Farmakope Indonesia”,Edisi


IV,Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995, “Farmakope Indonesia”, Edisi
III,Jakarta:Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
3. Kibbe,AH. Handbooj of pharmaceutical Exipients.Third Edition.
4. Washington D.C:American Pharmaceutical Association
5. Mutschler E.,1991”Dinamika Obat” Edisi 5,Penerbit ITB,Bandung
6. Sulistia G., Ganiswarna-Penyunting.,1995.,”Farmakologi dan Terapi” Edisi 4
Bagian Farmakologi, Universitas Indonesia,Jakarta.
7. The United States Pharmacopeia. The Nasional Formulari 23.Volume I, United
tates Pharmacopeia Convention Inc.:Wahington,D.C

20
LAMPIRAN
1.PERHITUNGAN PREFORMULASI

A. Perhitungan bahan per unit


1,5
a. Olive oil : 𝑋 100𝑔 = 1,5 𝑔
100
2
b.PGA : 𝑋 100 𝑔 = 2 𝑔
100

c. Air PGA : 2 X 1,5= 3 mL


0,9
d.Lanolin : 100 𝑋100𝑔 = 0,99 𝑔
0,75
e. Vaselin album : 𝑋100 𝑔 = 0,75 𝑔
100
1,2
f. Asam stearat : 100 𝑋100 𝑔 = 1,2 𝑔
0,015
g.Propyl paraben : X 100 g =0,015 g
100

h.Aquadest ad 100 g
B. Perhitungan untuk 1 batch
1,5
a. Olive oil : 𝑋 400𝑔 = 6 𝑔
100
2
b. PGA : 100 𝑋 400𝑔 = 8 𝑔

c. Air PGA : 8 X 1,5= 12 mL


0,9
d. Lanolin : 100 𝑋400𝑔 = 3,6 𝑔

21
0,75
e. Vaselin album : 𝑋400 𝑔 = 3 𝑔
100
1,2
f. Asam stearat : 100 𝑋400 𝑔 = 4,8 𝑔
0,015
g. Propyl paraben : X 400 g =0,06 g
100

Aquadest ad 400 g

2. PERHITUNGAN EVALUASI (VISKOSITAS)

A. Jam ke 0
0.089 𝑐𝑝 (1.25𝑔/𝑚𝑙)𝑥( 10.57 𝑠)
=
ƞ 𝑙𝑜𝑡𝑖𝑜𝑛 (1.26 𝑔/𝑚𝑙)𝑥(14.32𝑠)
= 0.365 𝑝𝑜𝑖𝑠𝑒
B. Jam ke 24
0.089 𝑐𝑝 (1.13𝑔/𝑚𝑙)𝑥( 23.65 𝑠)
=
ƞ 𝑙𝑜𝑡𝑖𝑜𝑛 (1.26 𝑔/𝑚𝑙)𝑥(31.98𝑠)
= 0.629 𝑝𝑜𝑖𝑠𝑒
C. Jam ke 48
0.089 𝑐𝑝 (1.25𝑔/𝑚𝑙)𝑥( 21.57 𝑠)
=
ƞ 𝑙𝑜𝑡𝑖𝑜𝑛 (1.28𝑔/𝑚𝑙)𝑥(30.98𝑠)
= 0.663 poise
D. Jam ke 72
0.089 𝑐𝑝 (1.26𝑔/𝑚𝑙)𝑥( 25.67 𝑠)
=
ƞ 𝑙𝑜𝑡𝑖𝑜𝑛 (1.29 𝑔/𝑚𝑙)𝑥(31.89𝑠)
= 0.698 poise

22