Anda di halaman 1dari 16

ARSITEKTUR INDIA

Arsitektur India memiliki keberagaman dalam sejarah,


budaya dan geografi. Hal ini menyebabkan sulitnya
mengidentifikasi karakterisktik bentuk arsitektur India yang
dapat mewakili keseluruhannya. Arsitektur India merupakan
hasil paduan berbagai tradisi baik internal maupun eksternal
yang datang dari Eropa, Asia Tengah dan Timur.

Sejarah arsitektur India dimulai dari masa peradaban


lembah Indus ( Indus Valley Civilization), masa Vedik1, hingga
masa Maurya-Gupta atau dikenal dengan era perkembangan
Budha melalui arsitektur biara (monastery) dan batu/dinding
pahat ( rock cut), kemudian diikuti dengan kemegahan
bangunan kuil pada masa pertengahan. Sementara, penguasa
Turki dan Afghanistan di Utara pada masa pertengahan telah membawa India kepada tradisi
arsitektur kubah ( dome dan vault).

Munculnya arsitektur Mughal pada abad ke-16 menggambarkan penggabungan


antara elemen arsitektur regional India dengan elemen arsitektur Persia dan Asia Barat.
Pengaruh Barat terutama Eropa tak terelakkan pada masa kolonisasi Eropa di India
termasuk gaya Manneris, Barok, Neo-klasik, dan Neogotik mulai dari abad ke-16 hingga
akhir abad ke-19, yang kemudian dikenal dengan gaya Indo Saracenic.

Arsitektur India telah membawa pengaruh yang besar terutama ke Asia Timur sejak
kelahiran dan penyebaran agama Budha. Sejumlah elemen arsitektur India seperti stupa,
sikhara, pagoda (meru), torana (gerbang) telah menjadi simbol terkenal arsitektur Hindu
dan Budha yang berkembang dan digunakan di Asia Timur dan Asia Tenggara seperti yang
terdapat pada bangunan candi Angkor Wat di Kamboja danPrambanan di Indonesia.

Peradaban Lembah Indus, terdiri dari permukiman perkotaan kuna termasuk kota
metropolitan; Mahenjo Daro dan Harappa dengan berbagai macam karakteristik rumah,
tempat pemandian yang dihubungkan dengan sistem drainase umum yang baik pada masa
itu. Struktur kota berbentuk grid diikuti jalur drainase di sepanjang jalan umum dikelilingi
oleh benteng. Tipe bangunan penting lainnya adalah lumbung, tempat berdagang,
pemandian umum yang diyakini sebagai tempat pemujaan untuk kesuburan. Keseragaman
tatanan kota, tipologi bangunan, dan ukurannya yang terbuat dari batu bata bakar
menunjukkan koordinasi yang baik antara sosial dan politik pada saat itu
Kerajaan yang berpengaruh dalam arsitektur Hindu di India Selatan yaitu:

1. Kerajaan Pallava, memerintah dari abad ke-6-9 Masehi. Kuil besar yang dibangun
pada masa pemerintahannya yaitu kuil Mahabalipuram, Ibukotanya Kanchipuram,
sekarang berada di wilayah Tamilnadu.

2. Kerajan Chola, kerajaan ini berkuasa pada tahun 900-1150 M diperintah oleh Raja
Chola I dan putranya Rajendra Cholaruled dan membangun kuil Brihadeshvara dan kuil
Siwa Thanjavur.

3. Kerajaan Chalukya Badami yang disebut Chalukya awal yang diperintah oleh,
Badami pada tahun 543 -753 M yang kemudian menghasilkan langgam Vesara disebut
juga Arsitektur Chalukya Badami. Contoh yang paling bagus dari seni kuil ini nampak
pada kuil Pattadakal, Aihole dan Badami di Karnataka utara.

4. Kerajaan Rashtrakuta yang memerintah wilayah Manyakheta, Gulbarga tahun 753-


973 M membangun beberapa kuil Dravida di Ellora (kuil Kailasanatha). Kuil lain yang
menarik yaitu kuil Jaina Narayana di Pattadakal dan kuil Navalinga, Kuknur di
Karnataka.

5. Chalukya Barat disebut juga Chalukya Akhir yang memerintah Decca dari tahun
973-1180 M menghasilkan kembali langgam chalukya dikenal dengan langgam Gadag,
yang artinya di dalam dan antara (in-between). Terdapat lebih dari 50 kuil yang masih
bediri di sekitar sungai Krishna, di tengah Kartanaka. Kuil Kasi Vishveshvara di
Lakkundi, Mallikarjuna di Kuruvatii, Kalleshwara di Bagali dan Mahadeva di Itagi
merupakan kuil-kuil yang indah dan menarik yang dibangun oleh arsitek-arsitek
semasa kerajaan Chalukya akhir.

6. Raja Hoysala memerintah India Selatan pada tahun 1100-1343M dan


mengembangkan sebuah konsep arsitektur yang disebut Hoysala Arsitektur id negara
Karnataka. Karya arsitektur kuil yang terbaik yaitu kuil Chennakesava di Belur, kuil
Hoysaleswara di Halebidu, dan kuil Kesava di Somanathapura.

7. Kerajaan Vijayanagar yang memerintah seluruh wilayah India Selatan pada tahun
1343-1565 M membangun sejumlah kuil di ibukota Vijayangar dengan
menggabungkan beberapa langgam yang berkembang di India Selatan pada masa
sebelumnya. Beberapa elemen yang dihasilkan dari karya tersebut yaitu pilar Yali
(pillar yang bersimbol kuda), balustrade ( parapets) and pilar berhias (manatapa).
Beberapa raja yang memerintah Vijayanagar membangun kuil-kuil yang kemudian
dikenal sebagai gaya arsitektur Vijayanagar.
Arsitektur hindu di India dibagi atas tiga langgam :

1. Langgam Hindu Selatan, dipraktekkan oleh bangsa ras Tamil dan seluruh wilayah
yang terletak antara Cape Comorin dan Nerbuddha atau wilayah Vidya.
2. Langgam Utara atau Hindu Arya, ditemukan hanya di wilayah Himalaya yang
berbatasan dengan ras Arya yang berbahasa Sancrit atau dikenal dengan The Bengal
Presidency.
3. Langgam Kasmir atau Punjab, berbeda dari kedua diatas, akan tetapi lebih mirip
kepada langgam yang di selatan

Selama abad pertengahan, kuil Hindu


dibuat dari pahatan dinding tebing atau bukit.
Hingga saat ini konsep arsitektural Hindu
mempengaruhi bangunan-bangunan atau
arsitektur Budha. Konsep merancang kuil
dibuat oleh seorang Brahmin. Brahmin juga
menentukan pemilihan tapak dan menguji
keadaan tanah, dan tebalnya sesuatu dinding
atau tiang mengikut segi mithologykal dan astronomikal Hindu yang dikenal dengan formula
Vastupurushamandala (tatanan untuk bangunan sakral). Tantanan ini dituangkan dalam
tatanan ilmu arsitektur Hindu dinamakan vastushastra. Tatanan bentuk manusia dalam
posisi semedi di dalam grideon yang secara konsistens mengatur rancangan bentuk kuil di
wilayah India.

Kuil hindu memiliki empat ruang prinsip dalam perancangannya yang menjadi konsep
arsitektur Hindu yaitu Garbha griha, Mantapa, Gopura dan Choultri dengan penjelasan
sebagai berikut.

1. Garbha griha
Merupakan bagian utama dan
terpenting dari kuil dan merupakan
inti/induk bangunan yang disebut vimana (di
India Selatan) atau mulaprasada (di India
Utara). Denahnya berbentuk bujursangkar
atau persegi, untuk kuil yang kecil biasanya
perbandingan antara tinggi dan lebar
bangunan 1:1 atau berbentuk kubus, dan kuil
yang besar biasanya tingginya jauh lebih
besar daripada lebarnya. Terdapat bagian yang tegak lurus terbuat dari batu dan granit yang
didekorasi dengan pilaster dan ornamen. Vimana beratap tingkat seperti pyramid umumnya
terbuat dari bata yang diplester dengan semen kemudian diakhiri dengan ‘dome’ kecil
(umumnya di india selatan). Vimana yang terbesar di Tanjore yang terdiri dari 14 tingkat
dengan tinggi hampir 200 ft.
2. Pelataran depan atau Mandapa
Pelataran depan atau Mantapa, ruang bagian luar
yang sebagian dilingkupi dinding yang memiliki pintu.
Satu pintu sebagai penghubung ke vimana sedangkan
pintu lain sebagai akses jalan dan masuknya cahaya ke
ruang dalam. Ruang mandapa berbentuk bujursangkar
atau persegi, biasanya sama bentuknya dengan bangunan
kuil inti (vimana).
Beberapa kuil memilki ‘mandapa luar atau Maha
Mandapa’ dan ‘mandapa dalam atau Ardha Mandapas’.
Ada juga kuil yang memiliki gabungan dari kedua
mandapa, biasanya yang mandapa luar bersifat terbuka
dan mandapa dalam bersifat tertutup. Atapnya
berbentuk piramid, tapi jauh lebih rendah dari atap
vimana, sering juga berbentuk flat yang tidak
berornamen. Atap itopang oleh pilar, akan tetapi sebisa
mungkin dikurangi jumlah pilar dengan membuat kotak-
kotak pembalokan pada ceiling ( bracketing).

3. Gerbang Piramid ‘ Gopura’


Gerbang atau Gopura adalah jalan masuk kompleks
halaman kuil yang berbentuk persegi yang biasanya
mengitari vimana. Jumlah gerbang mengikuti jumlah
dinding pagar, kadang-kadang juga melebihi jumlah
dinding pagar. Bentuk gapura indentik dengan vimana,
meskipun demikian terdapat satu sisi yang lebih besar dan
lebih panjang.

Pada sisi yang panjang terdapat bukaan yang


biasanya 1/4-1/7 dari lebarnya. Gerbang piramid yang
paling besar dimiliki oleh kuil di Combaconum, ibukota
Kerajaan Chola setelah penolakan Tanjore. Terdiri dari 12
tingkat termasuk basemen yang terbuat dari granit dan
datar, sementara keseluruhan piramid terbuat dari batu
bata diplester dengan sculpture dan ornamen.

4. Hall berpilar atau ‘ Choultri’,


Choultri merupakan bangunan extra di sekitar kompleks kuil.
Biasanya digunakan untuk berbagai kegiatan upacara: tarian, nyanyian
dan upacara perkawinan. Pada awalnya sebagai beranda (porches),
kemudian berkembang menjadi ruang untuk berbagai kegiatan
terutama untuk upacara yang berhubungan dengan perkawinan. Hall
berpilar yang besar yaitu ada di Tinnevelly yang terdiri dari 100 kolom
pada sisi yang panjang dan 10 pada sisi yang lebarnya.
5. Stupa
Stupa adalah monumen untuk memperingati Budha
dan para pengikutnya. Berbentuk setengah bulatan yang
secara filosofis melambangkan “kubah syurga” (Dome of
Heaven) atau melambangkan struktur kosmik yang menetap
terbuat dari batu atau tanah atau material lainnya dengan
struktur dan konsep arsitektural sebagai berikut:
Bangunan stupa terdiri dari beberapa bagian atau elemen
yang membentuk satu konsep arsitektur sebagai berikut:
a. Harmika yaitu pagar empat segi stupa memberi peringatan
“syurga 33 tahun lambang dari peti suci Budha dan
menjadi sentral dari meditasi
b. Yashti berbentuk tiga Lapis payung yang melambangkan
paksi dunia.
c. Stambha, tiang yang bertuliskan ukiran ayat-ayat suci dari kitab Pali berfungsi sebagai alat
sebaran agama Budha
d. Vedik, pagar yang mengelilingi stupa pada mulanya dibuat dari bahan kayu, pada zaman
syuga digantikan dengan bahan batu.
e. Torana, gerbang (jalan/pintu masuk) ke dalam stupa yang berasal dari bahasa Sansekerta.

6. Chaitya Griha
Chaitya griha adalah tempat meditasi para sami Budha
dalam mempelajari ajaran Budha, kata ini berasal dari bahasa
Sansekerta yang artinya tempat suci. Chaitya terdiri dari
barisan tiang yang beratap, di ujungnya yang membentuk
membentuk garis keliling melingkari stupa yang ada
didalamnya. Pada beberapa site dari tipikal chaitya ada yang
berbentuk sekuen dari bentuk persegi diakhiri dengan ruang
suci tempat stupa.
Contoh Chaitya yang paling
bagus terdapat Ajanta and Ellora.
Berbagai macam bentuk dan
konsep chaitya dapat dilihat pada
gambar berikut ini.

7. Vihara (Monasteries)
Monasteries (Vihara) merupakan asrama atau tempat
tinggal para sami Buddha selama mereka bermeditasi. Vihara
terdiri dari ruang-ruang sel kecil yang terisolasi dan ruang
bersama berupa hall yang dikelilingi oleh tiang-tiang ( portico)
yang merefleksikan ruang komunal dari asrama, sehingga
vihara dikenal sebagai hall dengan serambi. Orientasi dari
vihara bervariasi tidak ada arah tertentu sebagai patokan.
Berbagai macam tipikal dari vihara terdapat pada gambar
berikut ini.
MASJID JAMA

Masjid Jama (bahasa Hindi: जामा मस्जिद, bahasa Urdu: ‫ مسجد جامع‬jamia masjid)
atau Masjid-i Jahān-Numā (Persia:‫نما جھان مسجد‬, Masjid Cermin Dunia) adalah masjid utama
yang berada di kawasan Delhi Tua di India. Masjid ini didirikan oleh Kaisar Mogul, Syah
Jehan, yang juga membangun Taj Mahal. Masjid ini selesai pada tahun 1656 M dan
merupakan yang terbesar dan terkenal di India. Masjid Jama sendiri terletak di sisi jalan raya
yang sangat ramai di Delhi Tua, yaitu Jalan Chadni Chowk.
Nama yang lain untuk masjid ini adalah Masjid Jami, dikarenakan masjid ini selalu
dipenuhi oleh jamaah pada hari Jumat untuk menunaikan ibadah salat Jumat. Masjid ini
dapat menampung sekitar 25.000 jamaah. Masjid Jama sendiri juga menyimpan relik,
termasuk manuskrip Al-Qur'an yang tertulis di kulit rusa.

PEMBANGUNAN

Pembangunan Masjid Jami Delhi dimulai


pada hari Jum’at tanggal 19 Oktober 1650
bertepatan dengan tanggal 10 Syawal 1060H.
Biaya yang dikeluarkan oleh pihak Kekaisaran
Mogul dalam pembangunan Masjid Jama adalah
10 lakh Rupee (senilai dengan 1 juta Rupee).
Syah Jehan juga membangun masjid-masjid
utama di Delhi, Agra, Ajmar dan Lahore. Denah di
Masjid Jama Delhi bahkan sama dengan denah
Masjid Jama di Fatehpur Sikri, dekat Agra. Tapi
Masjid Jama masih lebih besar dan megah dikarenakan Syah Jehan telah memilih tempat
pembangunan masjid di daerah tinggi. Desain dan arsitektur Masjid Badshahi di Lahore yang
dibangun oleh putra Syah Jehan, Aurangzeb pada tahun 1673 hampir menyamai desain
Masjid Jama.
Pembangunan masjid ini mendapat perhatian khusus dari Sultan dengan mengutus
Perdana menterinya Saadullah Khan untuk mengawasi langsung proses pembangunan
masjid ini. Ada dua hal yang benar benar menjadi perhatian Sultan adalah pembuatan
kaligrafi Al-Qur’an yang menghias masjid ini dan pembuatan mimbar di mihrab, mimbar
masjid Jami harus lebih tinggi dari Singgasana Sultan yang terletak di Red Fort.
ARSITEKTUR
Daerah teras masjid dapat dicapai dari timur, utara dan selatan melewati tangga dari
masing-masing pintu yang dibuat dari batu bata. Pintu utara dari Masjid Jama memiliki 39
anak tangga, sedangkan pintu selatan memiliki 33 anak tangga dan pintu timur memiliki 35
anak tangga dan merupakan pintu khusus keluarga kerajaan. Tangga-tangga ini biasa dipakai
oleh pedagang kaki lima dan penghibur jalanan. Pada petang hari, pintu timur masjid
digunakan sebagai bazar ternak ayam dan burung. Sebelum Perang Kemerdekaan India pada
tahun 1857, sebuah madrasah yang ada di pintu selatan masjid diruntuhkan.
Masjid sendiri menghadap ke barat. Di ketiga
sisi masjid terdapat tiga gerbang, dimana setiap
gerbang memiliki sebuah menara. Panjang masjid
adalah 80 meter dan lebarnya adalah 27 meter. Pada
atapnya terdapat tiga buah kubah yang dihiasi oleh
pualam hitam dan putih dengan bagian atasnya yang
berhiaskan emas. Tiga kubah ini benar benar dibangun
dalam bentuk kubah bawang utuh. Dasar kubahnya
berupa bentuk silindris menyerupai drum. Kubah seperti ini yang kemudian menginspirasi
arsitektur masjid masjid di penjuru dunia yang dibangun sesudahnya.
Masjid Jama juga memiliki dua menara yang
ketinggiannya adalah 41 meter dan terdiri dari 130
anak tangga yang dihiasi oleh pualam hitam dan batu
bata. Sedangkan di bagian belakang masjid masih
terdapat lagi 4 menara kecil sama seperti di bagian
depan. Delapan menara kecil dan dua menara tinggi
masjid ini semuanya dibangun dalam arsitektural khas
Mughal. Ke tiga gerbang utama masjid ini membawa
pengunjung ke pelataran tengah masjid (inner
courtyard). Sebuah halaman terbuka berukuran 1200 meter persegi mampu menampung
sekitar 100 ribu jemaah. Di pelataran ini juga terdapat kolam penampungan air yang
merupakan kolam untuk berwudhu. Di sebelah depan (sebelah barat) kolam ini dibangun
sebuah tempat yang sedikit ditinggikan dari permukaan lantai sekitarnya yang disebut Dikka,
tempat ini disediakan bagi seorang muatllawi (imam kedua) yang mengulang bacaan yang di
baca oleh imam.
Masjid Jami Delhi dibangun diatas pondasi yang ditinggikan dari tanah disekitanya
kira kira mencapai 1.5 meter. Dari teras masjid menuju ke bagian dalam masjid dilengkapi
dengan 3 anak tangga baik dari sisi timur utara dan selatan. Lantai masjid ini yang dilapis
dengan batu pualam dengan ornamen bergaris menyerupai sajadah masing masing
berukuran 95 x 45 cm, memudahkan jamaah meluruskan shaf sholat. Setidaknya ada 899
ornamen yang sama di lantai dalam masjid. Bila dilihat dari belakang masjid ini terlihat
berdiri kokoh diatas tumpukan batu pondasinya. Landasan tempat masjid ini berdiri
sejatinya juga adalah sebuah bukit berbatu. Lokasi nya yang memang berada di atas bukit
ditambah bangunannya yang cukup tinggi menjadikan masjid ini dapat terlihat dari berbagai
sudut kota Delhi tua.
1. PONDASI
Masjid Jami Delhi dibangun diatas pondasi yang
ditinggikan dari tanah disekitanya kira kira mencapai
1.5 meter. Dari teras masjid menuju ke bagian dalam
masjid dilengkapi dengan 3 anak tangga baik dari sisi
timur utara dan selatan. Bila dilihat dari belakang
masjid ini terlihat berdiri kokoh diatas tumpukan batu
pondasinya.

2. LANTAI
Lantai masjid ini yang dilapis dengan batu pualam dengan ornamen bergaris
menyerupai sajadah masing masing berukuran 95 x 45 cm, memudahkan jamaah
meluruskan shaf sholat. Setidaknya ada 899 ornamen yang sama di lantai dalam masjid. Bila
dilihat dari belakang masjid ini terlihat berdiri kokoh diatas tumpukan batu pondasinya.
Landasan tempat masjid ini berdiri sejatinya juga adalah sebuah bukit berbatu. Lokasi nya
yang memang berada di atas bukit ditambah bangunannya yang cukup tinggi menjadikan
masjid ini dapat terlihat dari berbagai sudut kota Delhi tua.

3. BANGUNAN UTAMA
Bangunan utama masjid ini di lengkapi
dengan tiga kubah besar berlapis batu pualam
putih. Tiga kubah ini benar benar dibangun dalam
bentuk kubah bawang utuh. Dasar kubahnya
berupa bentuk silindris menyerupai drum. Kubah
seperti ini yang kemudian menginspirasi arsitektur
masjid masjid di penjuru dunia yang dibangun
sesudahnya. Masjid Badshahi yang fenomenal di
Lahore itu pun di bangun dengan ispirasi dari
Masjid ini.

Bangunan utama masjid Jami Delhi ada di sisi barat komplek


bangunan ini. Terdapat delapan pintu masuk berlengkung dan dinding sisi
dalam masjid ditutup dengan pualam putih hingga setinggi pinggang orang
dewasa. Melewati pintu masuk ini terdapat ruang sholat utama berbentuk
persegi panjang berukuran 61m x 27.5m dengan sebelas lengkungan.

4. GERBANG
Masjid Jami Delhi dilengkapi dengan 3 gerbang
besar di masing masing sisi timur, utara dan selatan,
dulunya gerbang timur masjid ini merupakan gerbang
paling utama karena menjadi gerbang masuk dan
keluarnya keluarga kerajaan Mughal. Kini gerbang timur
hanya dibuka di hari Jum’at.
Ke tiga gerbang utama masjid ini membawa
pengunjung ke pelataran tengah masjid (inner
courtyard). Sebuah halaman terbuka berukuran 1200 meter persegi mampu menampung
sekitar 100 ribu jemaah. Di pelataran ini juga terdapat kolam penampungan air yang
merupakan kolam untuk berwudhu. Di sebelah depan (sebelah barat) kolam ini dibangun
sebuah tempat yang sedikit ditinggikan dari permukaan lantai sekitarnya yang disebut Dikka,
tempat ini disediakan bagi seorang muatllawi (imam kedua) yang mengulang bacaan yang di
baca oleh imam, mengingat masjid ini begitu besar hingga tidak semua bacaan imam
terdengar oleh jemaah yang berada di belakang.

5. DEKKA
Dekka tempat khusus untuk Muatlawi (imam kedua) yang
mengulangi bacaan - imam agar terdengar oleh jemaah yang berada di shaf
belakang

6. MIHRAB DAN MIMBAR

Mihrab dan mimbar masjid Jami’ Delhi, lihat lantainya yang tidak
ditutup sajadah yang dibentuk berornamen seperti sajadah, sejatinya lantai
ini terbuat dari pualam yang digosok hingga sangat halus dan mengkilap.

7. BAGIAN DALAM MASJID


Di bagian yang lebih dalam terdapat ruang shalat
utama seluas 60 x 27,5 meter persegi. Di sekelilingnya,
terdapat 11 pintu masuk yang juga berbentuk melengkung.
Di sini, terdapat satu pintu gerbang utama yang dihiasi
ornamen-ornamen penuh warna di seluruh bagiannya.
Menara langsing mengapit di kedua sisi pintu gerbang itu.

8. LANTAI
Yang tak kalah mengagumkan adalah lantai masjid.
Seluruh lantai tersebut terbuat dari marmer hitam dan putih,
yang dihiasi warna-warna mencolok layaknya hamparan
sajadah. Marmer hitam membelah barisan marmer-marmer
putih untuk menandai batas shaf (barisan) shalat.
ARSITEKTUR ASIA TENGGARA

Asia Tenggara adalah suatu kawasan yang terletak di sebelah tenggara Benua Asia. Luas
wilayah daratan dari Asia Tenggara sekitar 4.817.000 km2, sedangkan perairan laut Asia
Tenggara sekitar 5.060.100 km2. Kawasan Asia Tenggara terdiri atas beberapa negara, yaitu
Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam, Myanmar, Laos,
Kampuchea, dan Vietnam. Kadang kala, negara Timor Leste (dahulu salah satu provinsi di
Indonesia) dianggap masuk kawasan Asia Tenggara. Negara terbesar di kawasan Asia
Tenggara adalah Indonesia (luas daratan > 1,8 juta km2), sedangkan negara terkecil adalah
Singapura (luas wilayah < 700 km2). Negara yang berada di daratan Asia, yaitu Thailand,
Myanmar, Kampuchea, Laos, dan Vietnam. Negara yang berada di kepulauan atau pulau,
yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Brunei Darussalam. Kawasan Asia
Tenggara terbentuk oleh dataran tinggi dan dataran rendah.

Berdasarkan garis lintang dan bujur, Asia Tenggara berada pada posisi 28°LU–11°LS dan
93°BT–141°BT. Kawasan Asia Tenggara dilewati oleh garis khatulistiwa (ekuator) dan garis
balik utara. Posisi geografis Asia Tenggara tersebut memengaruhi iklim dan kegiatan
ekonomi penduduk. Negara yang terletak paling utara di Asia Tenggara adalah Myanmar,
sedangkan yang terletak paling selatan adalah Indonesia. Negara paling barat di Asia
Tenggara adalah juga Myanmar dan paling timur adalah juga Indonesia.

Letak geografis adalah letak suatu kawasan jika dilihat di permukaan bumi sebenarnya atau
ditinjau dari kawasan sekitarnya. Berdasarkan letak geografis, Asia Tenggara berada di
antara Benua Australia dan daratan utama Benua Asia serta terletak diantara Samudra
Hindia dan Samudra Pasifik. Adapun batas-batas kawasan Asia Tenggara sebagai berikut.

1) Utara : Negara Cina.


2) Selatan : Negara Timor Leste, Benua Australia, dan Samudra Hindia.
3) Barat : Negara India, Bangladesh, dan Samudra Hindia.
4) Timur : Negara Papua Nugini dan Samudra Pasifik.
Kawasan Asia Tenggara sangat strategis karena letaknya berada di antara dua samudra.
Kawasan ini menghubungkan negara-negara barat dan timur sehingga kawasan ini sangat
menguntungkan bagi peningkatan kegiatan perdagangan dan pariwisata di kawasan Asia
Tenggara.

LANGGAM ARSITEKTUR

1. Arsitektur Vernakular
Arsitektur vernakular adalah suatu karya arsitektur
yang tumbuh dari arsitektur rakyat dengan segala macam
tradisi dan mengoptimalkan atau memanfaatkan potensi-
potensi lokal. Misalnya material,teknologi, pengetahuan,
dsb. Dikarenakan arsitektur vernakular sangat
mengoptimalkan potensi atau budaya lokal, maka suatu
bangunan yang berkonsep vernakular sangat
mempertimbangkan kelestarian lingkungan sehingga juga
bersifat sustainable architecture. Arsitektur vernakular
ditemukan secara trial and error oleh rakyat itu sendiri.
Jenis arsitektur vernakular yang ada dapat dipisahkan
sebagai vernakular-tradisional dan vernakular-modern.
Terjadinya bentuk-bentuk atau model vernakular
disebabkan oleh enam faktor yang dikenal sebagai modifying
factor diantaranya adalah :

• Faktor Bahan
• Metode Konstruksi
• Faktor Teknologi
• Faktor Iklim.
• Pemilihan Lahan
• Faktor sosial-budaya

2. Arsitektur Tropis

Arsitektur Tropis adalah ilmu Rancang bangun lingkungan binaan pada kawasan yang berada
pada garis equator yang beriklim Tropis. Dalam Arsitektur Tropis yang memiliki tingkat
kelembaban dan Panas Matahari yang tinggi membuat Faktor Pemilihan Bahan Bangunan
dan Teknologi dan Konstruksi Menjadi Faktor Utama yang perlu diperhatikan.

3. Arsitektur Islam

Arsitektur Islam adalah sebuah karya seni bangunan yang terpancar dari aspek fisik
dan metafisik bangunan melalui konsep pemikiran islam yang bersumber dari Al-Qur’an,
Sunnah Nabi, Keluarga Nabi, Sahabat, para Ulama maupun cendikiawan muslim. Aspek Fisik
adalah sesuatu yang nampak secara jelas oleh panca indera. Dalam hal ini sebuah bangunan
dengan fasade yang memiliki bentuk dan langgam budaya islam dan dapat dilihat secara
jelas melalui beberapa budaya, seperti budaya arab, cordoba,
persia sampai peninggalan wali songo.
Bentuk fisik yang biasa diterapkan dalam sebuah
bangunan sepetri penggunaan kubah, ornamen kaligrafi, dan
sebagainya. Aspek Metafisik adalah sesuatu yang tidak tampak
panca indera tapi dapat dirasakan hasilnya. Hal ini lebih kepada
efek atau dampak dari hasil desain arsitektur islam tersebut,
seperti bagaimana membuat penghuni/ pengguna bangunan
lebih nyaman dan aman ketika berada di dalam bangunan
sehingga menjadikan penghuni merasa bersyukur. Contoh lain
hasil desain ruang2 dalam sebuah rumah, bisa menjadikan
komunikasi orangtua dan anak lebih dekat, sehingga membuat
mereka rajin beribadah.

4. Arsitektur Hindu – Budha

Yaitu karakter Arsitektur yang merepresentasikan dewa dewa pada ajaran Hindu –
Budha kedalam Morfologi Bangunannya. Sehingga bangunan yang dibuat menjadi Sakral,
dan memiliki Unsur Agama Yang kuat.

5. Arsitektur Kolonial

Seperti yang kita tahu bahwa hampir seluruh negara di


kawasan Asia Tenggara pernah dijajah oleh bangsa – bangsa Di
Eropa. Sehingga Keberadaan mereka telah memberikan suatu
langgam baru pada Arsitektur di Asia Tenggara.

Arsitektur Kolonial merupakan arsitektur yang dipakai


bangsa penjajah pada suatu negara di asia tenggara yang bersifat
militeris seperti gedung pemerintahan, post, Benteng, Rumah
Sakit, dan tempat tempat penting lainnya.
Gaya arsitekturnya pada umumnya merupakan hasil adopsi dari gaya arsitektur yang
sedang berkembang di Eropa pada zaman tersebut. Dari awal masuknya penjajah ke Asia
Tenggara umumnya menggunakan gaya Rennaisance pada Arsitektur Kolonial.

Dari Langgam dasar tersebut dikembangkan oleh masyarakat pribumi setempat


dengan memadukan Unsur kebudayaan dan kepercayaan yang ada disana sehingga
melahirkan suatu Gaya Arsitektur Daerah yang sangat beragam di kawasan Asia Tenggara.

Karakteristik ARSITEKTUR

 Memiliki Nilai Spiritualis yang tinggi. Karena Umumnya masyarakat di Asia Tenggara
memiliki kepercayaan terhadap agama masing – masing yang sangat Kental.

 Merupakan sebuah produk dari hasil Trial And Error dari yang berkembang di
peradaban setempat.

 Tanggap terhadap kondisi iklim.

 Berelevasi tinggi. Iklim tropis yang lembab menyebabkan bangunan tidak hanya
harus memikirkan dampak kenaikan muka air yang terjadi juga dampak serangan
binatang binatang buas dan serangga.

 Menggunakan bahan material yang mudah ditemukan dialam seperti kayuk, serat
ijuk, jerami, Batu batuan alam, dll

Ciri arsitektur

 Memiliki Kemiringan atap Antara 30o – 45o


 Memiliki jarak Tritisan 70 – 100 cm
 Berelevasi Tinggi. Bisa berupa Panggung atau Elevasi Ketinggian lantai
 Memiliki Ornamen atau ukiran yang berasal dari budaya setempat.
 Pola Organisasi massa terbagi atas 2 macam yaitu Linear dan Konsentris
 Memiliki Aturan Kosmologis yang Kental pada Struktur Kondisi hingga Struktur
Ruangnya
 Menggunakan Material Lokal
SINGAPURA
Budaya
Singapura merupakan salah satu dari sebelas negara yang berada dalam kawasan
AsiaTenggara. Singapura sendiri dikenal sebagai Negara Baru di asia Tenggara, dan
merupakansalah satu Negara maju di kawasan asia. Meskipun demikian, Singapura juga
memilikisejarah, dan budaya yang menjadi ciri khas negaranya. Peninggalan Arsitektur dan
Budayatradisional Singapura sampai sekarang masih dilestarikan dan menjadi destinasi
wisata.
Dengan tiga kelompok etnis, Singapura memiliki kekayaan budaya yang
mengagumkan untuk dikunjungi. Sebagian penduduknya merupakan populasi etnis
!hina,disusul oleh etnis Melayu, dan sisanya merupakan Etnis India. Adat lama dari masing-
masing budaya perlahan berkurang karena setiap generasi lebih banyak menjadi orang
Singapura, tetapi ciri $ ciri budaya tertentu masih tetap bertahan ditengah pesatnya perkem
bangan arsitektur dan budaya modern di Singapura.
Sebagai bukti bahwa Negara Singapura memiliki budaya dan keari%an lokal ditengah
pesatnya kemajuan teknologi, adalah beberapa peninggalan arsitektur tradisional Singapura
yang menjadi destinasi wisata diantaranya :

ISTANA KAMPONG GLAM

Sejarah
Asli Istana Kampong Glam dibangun oleh Sultan Hussein
Shah dari Johor tahun 1819 di atas lahan sekitar 23 hektar (57
hektar) di Kampong Glam yang telah diberikan kepadanya
oleh British East India Company. Hal ini diyakini telah struktur
kayu di daerah di sebelah timur Beach Road. Ketika selesai,
mereka telah menduduki suatu daerah dua kali ukuran
senyawa ini, yang berkurang pada tahun 1824 untuk
pembangunan North Bridge Road. Sultan tinggal di sana sampai
sesaat sebelum kematiannya di Malaka pada tahun 1835.
Dalam bahasa Melayu, kata "Kampung" berarti "desa atau
penyelesaian" dan "Glam" adalah nama pohon tertentu, yang
tumbuh di melimpah di daerah tersebut di Singapura awal. Pada
awalnya, Kampong Glam adalah sebuah desa nelayan yang
terletak di muara Sungai Rochor. Hal ini menjadi lebih padat dan
tumbuh menjadi terkenal setelah Sultan Singapura, Hussein Muhammad Shah dan
Temenggong menandatangani perjanjian dengan East India Company di tahun 1819.

Pada abad ke sembilan belas, Kampong Glam tetap


merupakan daerah etnis dengan pengaruh Melayu-Arab yang
kuat. Ini adalah tempat di mana satu akan merendahkan Arab-
Muslim untuk bahan makanan tradisional mereka dan barang
dagangan. Tahun 1822 "Rencana Kota", Sir Stamford Raffles
dialokasikan Kampong Glam ke, Melayu Bugis dan Arab. Seperti
perdagangan berkembang, Farquhar disukai kuartal bisnis yang
akan berpusat di sini, di Kampong Glam. Perkelahian jalanan kasar keadilan, perampokan,
dan penusukan yang umum.
Tengku Ali dibangun Istana Kampong Glam tahun 1840 di
Sultan Gate. Tengku Ali hanya diakui sebagai Sultan dari
Singapura oleh Inggris, pada tahun 1855. Pada 1911, penduduk
Singapura berjumlah lebih dari 185.000 dengan hampir tiga
perempat dari Cina, laki-laki perempuan kalah jumlah 8:01.
Kampong Glam, selama periode yang ditelan sebagai kota dengan
perdagangan bersemangat, namun sikap durhaka dan semangat
menghasilkan uang di mana kekayaan lebih dikagumi atas beasiswa. Hal ini telah menjadi,
seperti Raffles telah diprediksi, "yang emporium dan kebanggaan dari Timur".
Apa yang kita lihat sekarang di Kampong Glam adalah berbagai warisan yang kaya
diturunkan dari generasi ke generasi. Beberapa tradisi bertahan panjang dalam bentuk
monumen, perdagangan, budaya dan praktek. Konservasi tempat ibadah, sekolah tua,
rumah tua, beberapa di antaranya masih dalam bentuk aslinya sementara yang lain telah
diperbaharui. Ini tetap kaya memberikan petunjuk dari gaya arsitektur dan kehidupan hari-
hari awal. Warisan yang kaya beragam tersebut hanya dapat muncul melalui rasa toleransi,
berbagi dan ikatan, semua dikemas dalam semangat Kampong Glam.

Pembangunan Kembali

Struktur beton yang ada saat ini ditugaskan oleh


putra tertua Sultan Hussein, Sultan Iskandar Ali Shah dari
Johor Riau-Lingga Kekaisaran pada tahun 1835. Dibangun
di lokasi bangunan aslinya antara 1836 dan 1843. Istana
dua lantai baru diyakini telah dirancang oleh arsitek
kolonial George Drumgoole Colemanl beberapa fitur
arsitektur yang mirip dengan bangunan lain yang didesain
Coleman seperti Old Parliament House dan Gereja
Armenia. Desain adalah kombinasi dari gaya Palladian,
yang kemudian populer di Inggris, dengan motif Melayu tradisional. Senyawa ekstensif
Istana itu tertutup oleh dinding keliling, dan kecil gaya kampung-rumah dibangun di
sekitarnya untuk, hamba keluarga Sultan dan pengrajin.

Setelah selesainya Istana di tahun 1843, Tengku Alam,


putra Sultan Ali tertua, tinggal di dalamnya sampai kematiannya
pada tahun 1891. Sewa bagian tanah di mana istana berdiri telah
diberikan oleh Sultan Ali, dan Tengku Alam terus mengumpulkan
uang sewa dan mendukung anggota keluarga ayahnya sesuai
dengan adat Melayu.
The Grounds Istana Kampong Glam

Istana Kampong Glam - Panoramic shot dari istana mantan


sultan dari Sultan Gate.
Istana Kampong Glam terletak di kompleks yang indah. Di depan
bangunan utama adalah taman penuh cinta terawat. Lebih jauh,
orang dapat menemukan daerah pohon-ditutupi dengan paviliun
chengal-kayu. Jika Anda akan tur berjalan Kampong Glam,
tempat ini indah yang besar untuk melarikan diri dari panas hari
itu. Beli kelapa dingin dari restoran di dekatnya dan menghirup dalam salah satu pavilions.
Di sudut yang tenang Istana Kampong
Glam, Anda akan menemukan perahu Bugis
ini tak terpakai. Banyak dari kapal yang
disebut di pelabuhan terdekat lebih dari 100
tahun yang lalu. Sebuah kereta baik diawetkan
menangkap mata dekat gedung utama. Tembikar
& Lokakarya Batik-lukisan.