Anda di halaman 1dari 33

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

PERDARAHAN KEHAMILAN MUDA (MOLA DAN ABORTUS)


Di Ruang Merak RSUD Dr.Soetomo Surabaya

Disusun oleh:
Luluk Putri Purnamasari
Rezi Liawati
Dewi Masyithoh
Lady Wizia

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIDAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016
UNIVERSITAS AIRLANGGA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIDAN
Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo 47 Surabaya 60131 Telp. 031-5020251, 5030252-3 psw 161 Fax : 031-5022472

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)


1. Materi Penyuluhan Perdarahan kehamian muda
2. Waktu Pertemuan (Hari/Tanggal) 4 februari 2016
3. Jam 08.30 s.d 09.30 (WIB)
5. Sasaran Keluarga pasiedan pasien di ruang merak
6. Penyaji Rezi liawati dan lady wizia
7. Kompetensi Umum Setelah mengetahui kegiatan penyuluhan
diharapkan pasien dan keluaga dapat
memahami tentang perdarahan kehamilan
muda (abortus dan mola)
8. Kompetensi Khusus Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan ibu
dapat menjelaskan kembali :
1. Pengertian abortus
2. Macam-macam abortus
3. Tanda dan gejala
4. Penatalaksanaan
5. Komplikasi
6. Pengetian Mola
7. Tanda dan gejala
8. Penataksanaan
9. Komplikasi
9. Pokok Bahasan Perdarahan kehamilan muda (abortus dan
mola)
10. Kegiatan Penyuluhan
No. Tahap Kegiatan Pemberi Kegiatan Peserta Media
Penyuluhan Penyuluhhan
1) Pendahuluan 1. Pembukaan Mendengarkan dan siap
5 menit dan salam menerima penyuluhan  flipchart

2. Bertanya tentang Aktif menyampaikan


pengetahuan peserta pengetahuan tentang
mengenai abortus abortus dan mola
dan mola
3. Menjelaskan tujuan Memperhatikan
penyuluhan pada
kesempatan ini
2) Penyajian 1. Menanyakan apakah  Memperhatikan  Ceramah
15 menit peserta pernah  Menjawab  Flipchart
menemui atau pertanyaan yang  Leaflet
mengalami masalah diberikan secara
mengenai perawatan aktif
Bayi
hiperbilirubinemia
2. Menjelaskan  Mendengarkan
pengertian dan  Mencatat informasi
penyebab penting
hiperbilirubinemia
3. Menjelaskan tanda Bertanya bila kurang
dan gejala mengerti mengenai
hiperbilirubinemia informasi yang
diberikan
4. Menjelaskan tentang Berdiskusi
abortus dan mola
5. Menjelaskan tentang
tanda dan gejala
abortus dan mola
6. Menjelaskan tentang
macam-macam
abortus dan mola
7. Menjelaskan tentang
penatalaksanaan
abortus dan mola
8. Menjelaskan tentang
komplikasi mola dan
abortus
3) Penutup 1. Mempersilahkan Peserta aktif mengajkan  Diskusi
10 menit peserta mengajukan pertanyaan
pertanyaan  Ceramah
2. Menyampaikan  Memperhatikan
kesimpulan materi  Mendengarkan
penyuluhan
3. Penutup dan salam
11. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
 Kesiapan materi
 Kesiapan SAP
 Kesiapan media
 Kesiapan daftar hadir peserta penyuluhan
 Peserta hadir di tempat penyuluhan
 Tempat Penyuluhan
 Pengorganisasian penyelenggaran penyuluhan dilakukan sebelumnya
2. Evaluasi Proses
 Fase dimulai sesuai dengan waktu yang direncanakan
 Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
 Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar
 Suasana penyuluhan
 Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan
 Kriteria Jumlah peserta yang hadir
3. Evaluasi Hasil
 Peserta mampu menjawab post-test (menyebutkan dan menjelaskan) tentang
pengertian hiperbilirubinemia , faktor penyebab, tanda dan gejala, dan perawatan
bayi hiperbilirubinemia
12 HASIL EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
 Penyaji menguasai materi yang disampaikan dan dapat menyampaikan dalam
bahasa yang mudah dimengerti
 Media kurang mendukung selama proses penyuluhan, keterbatasan dalam jarak
pandang dan posisi peserta kurang nyaman
 Peserta penyuluhan hadir 10 menit sebelum penyuluhan dimulai
2. Evaluasi Proses
Peserta :
 Peserta tenang dan memperhatikan selama penyampaian materi, tidak ada yang
meninggalkan tempat sebelum acara selesai
 Peserta dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh penyaji (terlampir)
 2 orang peserta aktif bertanya dan menjawab pertanyaan dari penyaji (terlampir)
Mahasiswa:
 Pembagian tugas sesuai dengan rencana penyuluhan
3. Evaluasi Hasil
 Penyuluhan dimulai pukul 08.30 – 09.15 WIB
 Peserta berjumlah orang (terlampir)

Lampiran materi

1.Mola Hidatidosa

1.Definisi

Mola Hidatidosa adalah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar dimana tidak
ditemukan janin dan hampir seluruh vili korialis mengalami perubahan berupa degenerasi
hidropik. Secara makroskopik mola hidatidosa mudah dikenal yaitu timbul gelembung –
gelembung putih tembus pandang, berisi cairan jernih, dengan ukuran bervariasi, dari beberapa
milimeter sampai 1-2 cm (Hadijanto, 2014).
Kehamilan mola secara histologis ditandai oleh abnormalitas vili korionik yang terdiri
dari proliferasi trofoblas dengan derajat bervariasi dan edema stroma vilus. (Cunningham,2013)

Mola hidatidosa adalah jonjot – jonjot korion yang tumbuh berganda berupa gelembung
– gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau
mata ikan. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. (Muchtar, 2012)

Menurut Manuaba, 2010 mola hidatidosa merupakan bagian dari penyakit trofoblas
yang penyebabnya belum diketahui dengan pasti. Terjadinya trofoblas menurut Acosta Sison
adalah :

 Penyakit ini terjadi karena kekurangan protein. Hal ini didasarkan pada
banyaknya kejadian penyakit trofoblasdi negara berkembang termasu Indonesia
 Kematian janin, reynold menyebutkan bahwa ada kemungkinan kematian janin
menyebabkan perubahan pada vili korialis yang mengalami hiperplasia dan
menghisap cairan sehinga terbentuk gelembung
 Terjadi pada usia <20 tahun dan > 35 tahun dan paritas yang tinggi.
Menurut Muchtar, 2012 penyebab mola hidatidosa tidak diketahui, faktor - faktor yang
dapat menyebabkan antara lain:

 Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi terlambat
dikeluarkan.
 Imunoselektif dari Tropoblast
 Keadaan sosioekonomi yang rendah
 Paritas tinggi
 Kekurangan protein
 Infeksi virus dan factor kromosom yang belum jelas.
Menurut Mansjoer (2001) etiologi mola hidatidosa : infeksi, defisiensi makanan, dan
genetik.

2. Faktor Predisposisi

1. Usia
Usia ibu di kedua ujung spektrum reproduksi adalah faktor risiko untuk kehamilan mola.
Secra spesifik remaja dan wanita berusia 36 hingga 40 tahun memiliki risiko 2 kali lipat dan
wanita yang berusai > 40 tahun berisiko 10 kali lipat.

2. Riwayat Kehamilan Mola


Terdapat peningkatan risiko substansial untuk penyakit trofoblastik recuren. Didalam
suatu ulasan terdapat 12 penelitian yang mencakup total 5000 kehamilan mola dengan mola
recuren adalah 1,3%. Risikonya 1,5% moal komplet dan 2,7% untuk mola parsial. Barcowitz
melaporkan bahwa 23% wanita yang pernah mengalami 2 kali kehamilan mola memilki
kehamilan mola ketiga.Mola hidatidosa berulang pada wanita dengan pasangan yang berbeda
menandakan bahwa pembebntukan mola disebabkan oleh defek oosit. ( Cunningham, 2013).

3. Faktor risiko lain


Pemakaian kontrasepsi oral dan durasinya serta riwayat abortus meningkatkan
kemungkinan kehamilan mola hingga dua kali lipat. Studi lain mengemukakan adanya peran
merokok berbagai defisiensi vitamin dan peningkatan usia ayah. (Cunningham,2013)

4. Faktor makanan

Asupan rendah karotene dan rendah lemak hewan dikaitkan dengan peningkatan resiko
kehamilan mola hidatidosa sempurna, termasuk juga kekurangan vitamin A

3. Patofisiologi

Tidak sempurnanya peredaran darah fetus, yang terjadi pada sel telur patologik yaitu :
hasil pembuahan dimana hasil embrionya mati padaa umur kehamilan 3-5 minggu dan karena
pembuluh darah vili tidak berfungsi, maka terjadi penimbunan cairan di jaringan mesenkim vili.
(Sarwono Prawiroharjo, 2008)

Dalam stadium pertumbuhan mola yang dini terdapat beberapa ciri khas yang
membedakan dengan kehamilan normal, namun pada stadium lanjut trimester pertama dan
trimester kedua sering terlihat perubahan sebagai berikut :

1. Perdarahan
Perdarahan uterus hampir bersifat universal dan dapat bervariasi dari bercak
sampai perdarahan berat. Perdarahan mungkin terjadi sesaat sebelum abortus
atau, yang lebih sering, terjadi secara intermiten selama beberapa minggu
sampai bahkan bulan. Efek dilusi akibat hypervolemia yang cukup berat
dibuktikan terjadi pada sebagian waanita yang molanya lebih besar. Kadang
kadang terjadi perdarahan berat yang tertutup di dalam uterus. Anemia
defisiensi besi sering dijumpai dan kadang kadang terdapat eritropoesis
magaloblastik, mungkin akibat kurangnya asupan gizi karena mual dan muntah
disertai meningkatnya kebutuhan folat trofoblas yang cepat berproliferasi.

2. Ukuran uterus
Uterus sering membesar lebih cepat dari biasanya. Ini adalah kelainan yang
tersering dijumpai, dan pada sekitar separuh kasus, ukuran uterus jelas
melebihi yang diharapkan. Berdasarkan usia gestasi uterus mungkin sulit
diidentifikasi secara pasti dengan palpasi, terutama pada wanita nullipara,
karena konsistensinya yang lunak di bawah dinding abdomen yang kencang.
Kadang kadang ovarium sangat membesar sehingga sulit dibedakan dari uterus
yang membesar.

3. Aktivitas janin
Walaupun uterus membesar sehingga mencapai jauh di atas simfisis, bunyi
jantung janin biasanya tidak terdeteksi. Walaupun jarang, mungkin terdapat
plasenta kembar dengan perkembangan kehamilan mola sempurna pada salah
satunya, sementara plasenta lain dan janinnya tampak normal. Demikian juga
walaupun sangat jarang, plasenta mungkin mengalami perubahan mola yang
luas tetapi tidak lengkap disertai oleh janin hidup.

4. Hipertensi akibat krhamilan


Yang sangat penting adalah kemungkinan terjadinya preeklamsia pada
kehamilan mola, yang menetap sampai trimester kedua. Karena hipertensi
akibat kehamilan jarang dijumpai sebelum usia gestasi 24 minggu, preeklamsia
yang terjadi sebelum waktu ini sedikitnya harus mengisyaratkan mola
hidatidosa atau adanya mola yang luas.

5. Hyperemesis
Pasien dapat mengalami mual dan muntah yang cukup berat. Yang menarik,
tidak satupun dari 24 mola sempurna yang dilaporkan mengalami preeklamsia,
hyperemesis atau hipertiroidisme klinis.

6. Tirotoksikosis
Kadar tiroksin plasma pada wanita dengan kehamilan mola sering meningkat,
tetapi jarang menyebabkan gejala klinis hipertiroidisme. Hipertiroidisme
sekitar 2 persen kasus. Peningkatan tiroksin plasma mungkin terutama
disebabkan oleh estrogen, seperti pada kehamilan normal, yang kadar tiroksinn
bebasnya tidak meningkat. Tiroksin bebas dalam serum meningkat akibat efek
gonadotropin korionik atau varian variannya yang mirip tirotropin.

7. Embolisasi
Saat evakuasi trofoblas dengan atau tanpa stroma villus, lolos dari uterus
melalui aliran vena dalam jumlah bervariasi. Volumenya dapat mencapai
sedemikian sehingga menimbulkan gejala dan tanda embolisme paru akut dan
bahkan fatal. Kematian semacam ini jarang dijumpai. Hanya sejumlah sel
raksasa berisi banyak dan sel mononukleus, mungkin trofoblas yang ditemukan
tidak ditemukan bukti adanya perubahan ; kardiorespirasi akut dan
menyimpulkan bahwa embolisasi trofoblas secara massif pada evakuasi mola
mungkin jarang terjadi.

Beberapa, namun bukan sebagian besar, dokter beranggapan bahwa


induksi obat sebelum evakuasi mola hidatidosa meningkatkan risiko embolisasi
trofoblas atau penyakit trofoblastik persisten. Schlaerth dkk (1988)
mengidentifikasi penyulit pernafasan pada 15 persen wanita dengan mola yang
ukurannya lebih besar daripada ukuran uterus yang usianya 20 minggu. Pada
banyak dari mereka, kehamilan diakhiri dengan histerektomi atau induksi
persalinan.

Walaupun trofoblas, dengan atau tanpa stroma vilus, dapat menjadi


embolus ke paru dalam volume yang terlalu sedikit untuk menimbulkan
sumbatan nyata pada vaskularisasi paru, selanjutnya embolus tersebut dapat
menginvasi parenkim paru dan membentuk metastasis yang sangat jelas pada
pemeriksaan radiografis. Lesi mungkin terjadi dari hanya trofoblas
(koriokarsinoma mestastatik) atau trofoblas dengan stroma vilus (mola
hidatidosa metastatic). Perjalanan selanjutnya lesi lesi ini tidak dapat
diperkirakan, sebagian menghilang sendiri baik segera setelah evakuasi uterus
atau bahkan beberapa minggu atau bulan kemudian, sementara yang lain
berproliferasi dan, menimbulkan kematian apabila tidak diterapi.

8. Ekspulsi spontan
Kadang kadang gelembung hidatidosa sudah keluar sebelum mola tersebut keluar
spontan atau dikosongkan dari dalam uterus lewat tindakan. Ekspulsi spontan paling besar
kemungkinanannya pada kehamilan sekitar 16 minggu. Dan jarang lebih dari 28 minggu.(Gary
Cuningham, 2005).

4. Klasifikasi
Mola dapat dibagi menjadi:
1. Mola Hidatidosa Komplit ( Klasik )
Pada mola jenis ini, tidak terdapat adanya tanda-tanda embrio, tali pusat, atau
membran. Kematian terjadi sebelum berkembangnya sirkulasi plasenta. Villi
korionik berubah menjadi vesikel hidropik yang jernih yang menggantung
bergerombol pada pedikulus kecil, dan memberi tampilan seperti seikat anggur.
Ukuran vesikel bervariasi, dari yang sulit dilihat sampai yang berdiameter beberapa
sentimeter. Hiperplasia menyerang lapisan sinsitiotrofoblas dan sitotrofoblas. Massa
mengisi rongga uterus dan dapat cukup besar untuk menyerupai kehamilan. Pada
kehamilan normal, trofoblas meluruhkan desidua untuk menambatkan hasil
konsepsi. Hal ini berarti bahwa mola yang sedang berkembang dapat berpenetrasi ke
tempat implantasi. Miometrium dapat terlibat, begitu pula dengan vena walaupun
jarang terjadi. Ruptur uterus dengan perdarahan massif merupakan salah satu akibat
yang dapat terjadi. Mola komplet biasanya memiliki 46 kromosom yang hanya
berasal dari pihak ayah (paternal). Sperma haploid memfertilasi telur yang kosong
yang tidak mengandung kromosom maternal. Kromosom paternal berduplikasi
sendiri. Korsiokarsioma dapat terjadi dari mola jenis ini.
Gambar 2.1 Mola Komplit

2. Mola Hidatidosa Inkomplit (Parsial )


Tanda-tanda adanya suatu embrio, kantong janin, atau kantong amnion dapat
ditemukan karena kematian terjadi sekitar minggu ke-8 atau ke-9. Hiperplasia trofoblas
hanya terjadi pada lapisan 12 sinsitotrofoblas tunggal dan tidak menyebar luas
dibandingkan dengan mola komplet. Analisis kromosom biasanya akan menunjukan
adanya triploid dengan 69 kromosom, yaitu tiga set kromosom: satu maternal dan dua
paternal. Secara histologi, membedakan antara mola parsial dan keguguran laten
merupakan hal yang sulit dilakukan. Hal ini memiliki signifikansi klinis karena
walaupun risiko ibu untuk menderita koriokarsinoma dari mola parsial hanya sedikit,
tetapi pemeriksaan tindak lanjut tetap menjadi hal yang sangat penting.

5. Gejala dan Tanda


Menurut Mochtar, 2012, terdapat beberapa tanda dan gejala pada mola dilihat dari
keluhan dan beberapa pemeriksaan khusus obstetri yang dilakukan pada penderita:

1. Anamnesa dan Keluhan


o Terdapat gejala-gejala hamil muda yang kadang-kadang lebih nyata dari
kehamilan biasa.
Pada permulaannya gejala mola hidatidosa tidak seberapa berbeda dengan
kehamilan biasa, mual, muntah, pusing, dan lain-lain hanya saja derajat
keluhannya sering lebih hebat. (Hadijanto, 2014)
o Kadang kala ada tanda toksemia gravidarum
o Terdapat pendarahan yang sedikit atau banyak, tidak teratur, warna tengguli tua
atau kecoklatan seperti bumbu rujak.
Perdarahan merupakan gejala utama mola. Biasanya keluhan perdarahan inilah
yang menyebabkan mereka datang kerumah sakit. Gejala perdarahan ini biasanya
terjadi antara bulan pertama sampai ketujuh dengan rata-rata 12-14 minggu. Sifat
perdarahan bisa intermitten, sedikit-sedikit atau sekaligus banyak sehingga
menyebabkan syok atau kematian. Karena perdarahan ini pada umumnya pasien
mola masuk dengan anemia.

o Pembesaran uterus tidak sesuai (lebih besar) dengan tua kehamilan seharusnya.
o Keluar jaringan mola seperti buah anggur atau mata ikan (tidak selalu ada), yang
merupakan diagnosa pasti.
2. Inspeksi
 Muka dan kadang-kadang badan kelihatan pucat kekuning-kuningan, yang
disebut muka mola (mola face).
 Kalau gelembung mola keluar dapat dilihat dengan jelas

3. Palpasi
 Uterus membesar tidak sesuai dengan masa kehamilan, teraba lembek.
Ada juga pada kasus yang ukuran uterusnya lebih kecil atau sama besar
walaupun jaringan mola belum dikeluarkan. Dalam hal ini perkembangan
jaringan trofoblas tidak begitu aktif sehingga perlu dipikirkan kemungkinan
adanya jenis dying mole. (Hadijanto,2014)
 Tidak teraba bagian-bagian janin dan balotemen, juga gerakan janin.
 Adanya fenomena harmonika: darah dan gelembung mola keluar, dan fundus
uteri turun; lalu naik lagi karena terkumpulnya darah baru.
4. Auskultasi
 Tidak terdengar bunyi denyut jantung janin.
 Terdengar bising dan bunyi khas.
5. Reaksi Kehamilan
Karena kadar HCG yang tinggi maka uji biologik dan uji imunologik (GalliMainini
dan planotest) akan positif setelah pengenceran (titrasi).
Galli mainini 1/300 (+) maka suspek Mola Hidatidosa
Galli Mainini 1/200 (+) maka kemungkinan mola hidatidosa atau hamil kembar
6. Pemeriksaan Dalam
Pastikan besarnya rahim, rahim terasa lembek, tidak ada bagian janin, terdapat
perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis, dan vagina, serta evaluasi keadaan
serviks.
7. Uji Sonde
Sonde dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum
uteri. Bila tidak ada tahanan, sonde diputar setelah ditarik sedikit, bila tetap tidak ada
tahanan kemungkinan mola ( cara Acosta Sison).
8. USG : pada mola akan terlihat bayangan badai salju dan tidak terlihat janin.

6. Diagnosis
Adanya mola hidatidosa harus dicurigai bila ada amenorrhea, perdarahan pervaginam,
uterus yang lebih besar dari usia kehamilan, dan tidak ditemukan tanda kehamilan pasti seperti
DJJ, ballotement Untuk memperkuat diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan HCG dalam darah
atau urine. Baik secara bioassay, immonuassay, radioimmunoassay. Peningkatan HCG terutama
dari hari ke 100, sangat sugestif. Bila belum jelas dapat dilakukan USG. Dimana kasus mola
menunjukkan gambaran yang khas yaitu berupa badai salju, atau gambaran seperti sarang lebah
(honey comb) (Hadijanto,2014)

Diagnosis yang paling tepat bila kita melihat keluarnya gelembung mola. Pada
kehamilan trimester 1 gambaran mola hidatidosa tidak spesifik sehingga seringkali sulit
dibedakan dengan kehamilan anembrionik, missed abortion, abortus inkomplit. Pada kehamilan
trimester II gambaran mola lebih spesifik, Kavum uteri berisi masa ekogenik bercampur bagian
anekoik vesikuler berdiameter antara 5-10 mm. Pada 20-50% kasus dijumpai adanya massa
kistik multilokuler di daerah adneksa. Massa tersebut berasal dari kista lutein.
7. Komplikasi
o Perdarahan hebat.
o Anemia.
o Syok hipovolemik.
o Infeksi sekunder.
o Perforasi uterus.
o Eklampsia
o Tirotoksikosis
o Keganasan (PTG)
8. Penatalaksanaan
Menurut Manuaba, 2010 terapi mola hidatidosa ada 4 tahapan yaitu
1. Perbaikan keadaan umum
Perbaikan keadaan umum pada pasien mola hidatidosa, yaitu :

 Koreksi dehidrasi. Untuk mengatasi syok perbaiki keadaan umum dengan


pemberian cairan
 Transfusi darah bila ada anemia
 Bila ada gejala pre eklampsia dan hiperemesis gravidarum diobati sesuai dengan
protokol penanganan di bagian obstetrik dan ginekologi
 Bila ada gejala-gejala tirotoksikosis, dikonsultasikan ke bagian penyakit dalam.
 Evaluasi awal untuk mencari metastasis. Radiografi thorax dilakukan untuk
mencari lesi paru.
 Memberikan obat-obatan Antibiotik, uterotonika.
2. Pengeluaran jaringan mola dengan cara vakum kuretase dan histerektomi
1) Kuretase pada pasien mola hidatidosa:
 Dilakukan setelah pemeriksaan persiapan selesai (pemeriksaan darah rutin, kadar
beta HCG dan foto toraks) kecuali bila jaringan mola sudah keluar spontan.
 Bila kanalis servikalis belum terbuka atau masih kecil maka dilakukan pemasangan
laminaria selama 12 jam.
 Sebelum melakukan kuretase, sediakan darah 500 cc dan pasang infuse dengan
tetesan oksitosin 10 IU dalam 500 cc dekstrose 5%. Jumlah tetesan 40-60 tetes per
menit, dengan tujuan untuk mencegah perdarahan dengan merangsang agar uterus
berkontraksi dengan baik (keras) ( Saifuddin, 2009).
 Kuretase dilakukan 2 kali dengan interval minimal 1 minggu.Kuret bisa dilakukan 1
kali jika diyakini sudah bersih (Hadijanto,2014).
 Kalau perdarahan banyak berikan tranfusi dan tampon vaginal (Muchtar,2012).
 Seluruh jaringan hasil kerokan dikirim ke laboratorium PA. Bahan jaringan dikirim
dengan 2 porsi : Porsi 1 jaringan yang dikeluarkan dengan cunam ovum, porsi 2
yang dikeluarkan dengan kuretase.
 7-10 hari sesudah keroka pertama, dilakukan kerokan kedua untuk membersihkan
sisa jaringan.
 Kalau mola terlalau besar dan ditakutkan terjadinya perforasi dilakukan
histerotomia.
2) Histerektomi.
Syarat melakukan histerektomi adalah :

a) Umur ibu 35 tahun atau lebih. Karena mola pada kelompok usia ini berisiko
terjadinya keganasan.
b) Sudah memiliki anak hidup 3 orang atau lebih.(Hadijanto,2014).
c) Uterus yang sangat besar yaitu TFU setinggi pusata tau lebih (Muchtar.2012)
3. Periksa Ulang (follow-up)
Tujuan utama tindakan ini adalah deteksi dini stiap perubahan yang mengisyaratkan
keganasan.Metode umum tindak lanjut adalah:

1. Cegah kehamilan selama sekurang-kurangnya 1 tahun.


(Harjanto,2014) dan (Cuningham 2006). Menurut Muchtar (2012) follow up
dilakukan 2-3 tahun. Penggunaan kondom, diafragma atau pantang berkala bisa
dijadikan metode KB (Harjanto,2014). Kontrasepsi estrogen-progestin sering
digunakan untuk mencegah kehamilan berikutnya dan untuk menekan luteinizing
hormone hipofisis yang bereaksi silang dengan beberapa tes untuk HCG. Yuen dan
Burch melaporkan tidak terjadi peningkatan persistensi gonadotropin korionik
ataupun frekwensi penyulit invasif pada wanita yang menggunakan kontrasepsi
oral setelah evakuasi mola. Pendapat lain mengatakan bahwa estrogen dapat
memicu terjadinya aktivasi sel – sel trofoblas.(Cunnigham,2006). Menurut
Mansjoer (2001) metode kontrasepsi dapat diberikan preparat progesteron selama
2 tahun
2. Ukur kadar HCG setiap 2 minggu. Ada beberapa pendapat pemeriksaan kadar
HCG dilakukan ( Muchtar,2012)
1. Setiap minggu pada triwulan pertama
2. Setiap 2 minggu pada triwulan kedua
3. Setiap bulan pada 6 bulan berikutnya.
4. Setiap 2 bulan pada tahun berikutnya.dan selanjutnya setiap 3 bulan.(
Muchtar,2012).
Tes HCG harus mencapai nilai normal 8 minggu setelah evakuasi. Jika kadar
menetap dan masih tinggi setelah 8 minggu pasca evakuasi menunjukkan masih terdapat
trofoblas aktif.Kadar HCG 100.000IU/L praevakuasi dianggap sebagai risiko tinggi
untuk perubahan kearah keganasan, pertimbangkan pemberian mothotrexate (MTX)3-5
mg/KgBB atau 25 mg IM dosis tungal. (Saifuddin,2009).

Setiap periksa ulang penting diperhatikan:

 Gejala klinis : perdarahan , keadaan umum


 Pemeriksaan dalam untuk menetukan keadaan serviks, ukuran uterus dan ukuran
kista lutein bertambah besar atau tidak.
 Reaksi biologis atau imonulogis air seni.
 1x seminggu sampai hasil negatif.
 1 x 2 minggu selama triwulan selanjutnya.
 1 x sebulan dalam 6 bulan selanjutnya
 1 x 3 bulan selama tahun berikutnya.
Kalau reaksi titer tetap (+), maka harus dicurigai adanya keganasan. Keganasan
masih dapat timbul setelah 3 tahun pasca terkenanya mola hidatidosa.( Muchtar,2012).

Menurut Manuaba (2010), pengawasan post mola:

 Melakukan pemeriksaan dalam dengan pedomanTrias Acosta Siso: HBSL


yaitu: History (Post mola), Post Abortus (Post Partum), Bleeding (terjadi
perdarahan berkelanjutan), softeness (Perlunakan Rahim), Enlargement
(Pembesaran rahim).
 Pemeriksaan hormon HCG
 Pemeriksaan foto Thorax untuk melihat metastase ke paru
 Mencari metastase ke organ lain.
Pada kasus yang tidak ganas kadar HCG cepat turun menjadi negatif. Hasil ini harus
dipastikan dengan pemeriksaan Radioimmunoassay yang sangat peka dengan kadar
hormon yang rendah. Pemeriksaan kadar HCG diselenggarakan tiap minggu sampai
kadar menjadi negatif selama 3 minggu, dan selanjutnya tiap bulan selama 6 bulan.
Apabila kadar HCG tidak turun selama 3 minggu berturut-turut atau bahkan naik maka
dapat diberi kemoterapi, kecuali jika penderita tidak menghendaki uterus dipertahankan
amka dapat dilakukan histerektomi. Kemoterpi dapat diberikan dengan pemberian
Methotrexate atau Dactinomycin atau kombinasi keduanya. (Winkjosastro,2008).
Mengenai kesembuhan penderita mola belum ada kesepakatan, beberapa pendapat
mengatakan jika kadar HCG 2 kali berturut-turut normal atau bila sudah melahirkan
anak yang normal.

ABORTUS

1. Definisi
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di
luar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang
dari 500 gram (Prawirohardjo, 2014), (Cunningham, 2006).

Abortus terjadi bila hasil konsepsi dikeluarkan sebelum mampu hidup diluar kandungan
dengan berat badan kurang dari 1000 gram atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu
(Manuaba, 2010).

2. Klasifikasi
1) Berdasarkan kejadiannya abortus dapat dibagi menjadi :
(1) Keguguran spontan (abortus spontan) terjadi tanpa ada unsur tindakan dari luar dan
dengan kekuatan sendiri (Manuaba, 2010). Sumber lain mengatakan bahwa abortus
spontan merupakan abortus yang terjadi tanpa intervensi medis maupun mekanis
(Sastrawinata, 2005).
(2) Keguguran buatan (abortus buatan) yaitu abortus yang sengaja dilakukan sehingga
kehamilan dapat diakhiri. Abortus buatan dibagi menjadi :
a) Abortus Provokatus Medisinalis
Merupakan abortus yang dilakukan atas dasar indikasi vital ibu hamil. Jika
diteruskan kehamilannya akan lebih membahayakan jiwa sehingga terpaksa
dilakukan abortus buatan. Upaya menghilangkan hasil konsepsi dapat dilakukan
berdasarkan :
1. Indikasi medis dengan tujuan untuk menyelamatkan nyawa ibu seperti
pada ibu dengan penyakit jantung, penyakit hati yang berat, gangguan
jiwa ibu, dijumpai kelainan bawaan berat, gangguan pertumbuhan dan
perkembangan dalam rahim.
2. Indikasi sosial. Dilakukan atas dasar indikasi sosial, tidak ingin punya
anak, kehamilan yang tidak diinginkan, jarak kehamilan yang terlalu
dekat.
b) Abortus Provokatus Kriminalis
Abortus yang dilakukan pada kehamilan yang tidak diinginkan, diantaranya akibat
perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Sebagian besar dilakukan oleh tenaga
yang tidak terlatih dan bersifat ilegal sehingga menimbulkan komplikasi seperti
perdarahan, infeksi dan trauma genital (Manuaba, 2007).
2) Berdasarkan gambaran klinisnya, abortus spontan dapat dibagi:
1. Abortus imminens yaitu abortus yang mengancam.
2. Abortus insipiens yaitu abortus yang sedang berlangsung.
3. Abortus inkompletus (tidak lengkap) sebagian hasil konsepsi masih tersisa dalam rahim
yang dapat menimbulkan penyulit.
4. Abortus kompletus (lengkap), semua hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya.
5. Abortus habitualis yaitu abortus yang terjadi 3 kali berturut – turut.
6. Abortus infeksiosus.
7. Missed abortion ( Manuaba, 2007 ).
3. Etiologi dan Faktor Risiko
Penyebab abortus (early pregnancy loss) bervariasi dan sering di perdebatkan.
Umumnya lebih dari satu penyebab. Penyebab terbanyak diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Faktor Janin

1. Perkembangan Zigot Abnormal


Temuan morfologis tersering pada abortus dini adalah kelainan perkembangan zigot,
mudigah, janin, atau plasenta. Dalam suatu analisis terhadap 1000 abortus spontan, Hertig dan
Sheldon menjumpai ovum patologis (blighted ovum) yang pada separuh mudigah mengalami
degenerasi atau tidak ada sama sekali (Cunningham, 2006).

2. Abortus Aneuploidi

Kelainan kromosom sering dijumpai pada janin yang mengalami abortus spontan dan
menyebabkan sebagian besar abortus pada awal kehamilan. 50 – 60% abortus spontan disertai
dengan kelainan kromosom pada konseptus. Jacobs dan Hassold melaporkan bahwa 25% dari
kelainan kromosom disebabkan oleh gangguan gametogenesis ibu dan 5% karena gangguan
gametogenesis ayah. (Cunningham, 2006).

3. Abortus Euploid

Kaiji melaporkan bahwa 75% dari abortus aneuploidi terjadi sebelum minggu ke 8
sedangkan abortus euploid memuncak pada usia gestasi sekitar 13 minggu. Insiden euploidi
meningkat secara drastis setelah usia 35 tahun. Penyebab abortus euploid umumnya tidak
diketahui tetapi mungkin disebabkan oleh kelainan genetik, berbagai faktor ibu dan ayah
(Cunningham, 2006).

2) Faktor Ibu

1. Usia Ibu

Wanita dengan risiko abortus meningkat sesuai usia. Risiko abortus pada wanita usia
20-24 tahun adalah 8,9%, wanita berusia 45 tahun atau lebih risikonya meningkat 74,7% (Nybo
Anderson, 2000). Hal ini berkaitan dengan semakin meningkatnya usia wanita tersebut maka
semakin tinggi kelainan pada kromosom ovum. Dikatakan juga risiko abortus meningkat seiring
dengan meningkatnya usia ibu dan ayah serta paritas (Warburton dan Fraser, 1964; Wilson dkk,
1986 dalam Handono, 2009). Frekwensi abortus yang secara klinis meningkat dari 12% pada
wanita berusia kurang dari 20 tahun menjadi 26% pada mereka yang usianya lebih dari 40
tahun. Untuk usia ayah yang sama, peningkatannya adalah dari 12% sampai 20%.
Peningkatan kejadian abortus seiring dengan pertambahan usia ibu, terutama usia ibu
diatas 35 tahun berkaitan dengan semakin meningkatnya sindrom trisomi.

Faktor risiko juga meningkat pada usia < 20 tahun. Menurut Hebert Hutabarat
kehamilan akan menjadi berisiko jika ibu hamil dan melahirkan pada usia < 20 tahun. Hal ini
dikaitkan karena belum matangnya organ reproduksi, sehingga belum siap menerima hasil
konsepsi. Selain itu disebutkan juga bahwa ibu usia < 20 tahun, secara psikologis belum matang
dan mudah mengalami stres, sehingga berakibat terjadinya abortus (Manuaba, 2009).

Menurut Rochjati (2011) hamil pada usia muda merupakan salah satu faktor risiko
terhadap kehamilan, karena rahim dan panggul ibu seringkali belum tumbuh mencapai ukuran
dewasa. Akibatnya diragukan keselamatan dan kesehatan janin dalam kandungan. Selain itu
mental ibu belum cukup dewasa sehingga diragukan keterampilan perawatan diri dan bayinya.

2. Paritas
Paritas atau para adalah jumlah kehamilan yang berakhir dengan kelahiran bayi atau
bayi telah mampu mencapai titik mampu bertahan hidup. Suatu peningkatan paritas dicapai
hanya jika kehamilan menghasilkan janin yang mampu bertahan hidup. Paritas dapat dibagi:
1. Nullipara adalah seorang wanita yang belum pernah melahirkan bayi viable.
2. Primipara adalah wanita yang pernah hamil sekali dengan janin mencapai titik
mampu bertahan hidup.
3. Multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami dua kehamilan atau lebih
dengan janin mencapai titik mampu untuk hidup.
4. Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan > 4 orang anak (Varney,
2007)

Risiko abortus spontan meningkat seiring dengan peningkatan paritas serta usia ibu dan
ayah. (Warburton dan Fraser,1964; Wilson dkk, 1986 dalam Handono, 2009). Hebert Hutabarat
(2009) membagi beberapa faktor kehamilan dengan risiko tinggi termasuk salah satunya adalah
paritas. Paritas yang berisiko adalah primigravida yaitu wanita yang pertama kali hamil (1<P),
dan grandemultipara yaitu wanita yang telah melahirkan 4 kali atau lebih (P>3). Menurut
Sarwono (2005) paritas 2-3 merupakan paritas yang paling aman ditinjau dari sudut kematian
maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal lebih
tinggi.
3. Jarak Kehamilan

Jarak kehamilan merupakan salah satu faktor risiko dalam kehamilan. Menurut WHO
risiko abortus akan meningkat pada jarak kehamilan < 2 tahun dan semakin meningkat pada
jarak < 6 bulan. Jarak kehamilan disini merupakan jarak antara persalinan yang lalu dengan
kehamilan berikutnya (birth to pregnancy interval) minimal 2 tahun. Peningkatan risiko
abortus juga terjadi pada jarak kehamilan > 5 tahun. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya
risiko kesakitan dan kematian pada ibu. Pada kehamilan dengan jarak > 5 tahun akan berisiko
terhadap kehamilan ibu, yaitu meningkatnya risiko abortus, pre eklampsia, ketuban pecah dini,
infeksi intrapartum serta meningkatnya kematian ibu (WHO, 2006)

Menurut Rochjati (2011) ibu hamil dengan jarak kehamilan dengan anak terkecil
kurang dari 2 tahun, memberikan pengaruh terhadap kehamilannya. Kesehatan fisik dan rahim
ibu masih butuh waktu untuk pemulihan dan istirahat, serta ada kemungkinan ibu masih
menyusui.

4. Riwayat Abortus

Sekitar 12-15% kehamilan yang diketahui secara klinis berakhir dengan abortus. Bila
abortus terjadi tiga kali atau lebih (tidak harus berurutan) maka kondisi ini disebut sebagai
abortus berulang. Kemungkinan terjadinya abortus berulang pada pasangan fertil adalah 1-2%
(Djuwantono, 2011)

Risiko abortus meningkat sejalan dengan riwayat abortus sebelumnya. Wanita


mempunyai riwayat abortus satu, dua atau tiga kali pada kehamilan sebelumnya mempunyai
risiko abortus pada kehamilan berikutnya sebesar 24%, 26% atau 32%. Secara keseluruhan
risiko abortus berulang tidak lebih dari 40-50% sekalipun dengan riwayat enam kali abortus
(Djuwantono, 2011). Menurut Jones (2002) seorang wanita yang sudah mengalami abortus satu
kali, berisiko mengalami abortus lagi di kehamilan berikutnya 20%, setelah 2 kali abortus
adalah 25% dan setelah 3 kali adalah 30 %. Seorang wanita yang telah 3 kali atau lebih
mengalami abortus disebut ibu dengan abortus rekurren, dan ia juga memiliki kesempatan
mengalami abortus lagi sebesar 30%, jika ia terhindar dari hasil akhir ini, ia akan mempunyai
risiko lebih tinggi dari pada orang yang tidak mengalami abortus untuk mendapatkan bayi
preterm, namun paling tidak mempunyai 75% kemungkinan melahirkan bayi sehat aterm.
5. Infeksi
Teori peran infeksi mikroba terhadap kejadian abortus mulai diduga sejak 1917, ketika
DeForest dan kawan – kawan melakukan pengamatan kejadian abortus berulang pada
perempuan yang terpapar brucellosis. Beberapa jenis organisme yang berdampak pada kejadian
abortus adalah :
1) Bakteria
- Listeria mono sitogenes
- Klamidia trakomatis
- Ureplasma urealitikum
- Mikroplasma Hominis
- Bakterial Vaginosis

2) Virus
- Sitomegalovirus
- Herpes Simples Virus ( HPV )
- Human Immunodeficiency Virus (HIV )
- Parvovirus
3) Parasit
- Toksoplasmosis gondii
- Plasmodium Falsiparum
4) Spirokaeta
- Treponema Pallidum

6. Faktor imunologis

Banyak perhatian ditujukan pada sistem imun sebagai faktor penting pada kematian
janin berulang. Dua model patofisiologis utama yang berkembang adalah teori autoimun
(imunitas terhadap tubuh sendiri) dan teori aloimun (imunitas terhadap orang lain).

Terdapat hubungan yang nyata antara abortus berulang dan penyakit autoimun. Misalnya
pada Sistemic Lupus Erythematosus (SLE) dan Antiphospolipid Antibodies (aPA). aPA
merupakan antibodi spesifik yang didapati pada perempuan dengan SLE. Kejadian abortus
spontan pada wanita dengan SLE 10% dibanding dengan populasi umum.

 Faktor Aloimun

Kematian janin berulang pada sejumlah wanita didiagnosa sebagai akibat faktor
aloimun. Para wanita mendapat beragam terapi yang ditujukan untuk merangsang toleransi
imun ibu terhadap janin. Diagnosis faktor aloimun berpusat pada beberapa pemeriksaan:

o Perbandingan HLA (Human Leucocyte Antigen) ibu dan ayah


o Pemeriksaan serum ibu untuk mendeteksi keberadaan antibodi sitotoksik terhadap
leukosit ayah.
o Pemeriksaan serum ibu untuk mendeteksi faktor – faktor penyekat (blocking factor)
pada reaksi pencampuran limfosit ibu –ayah.

Pada dasarnya, pasangan yang dipastikan memiliki homologi tipe HLA yang signifikan,
atau yang wanitanya diketahui memiliki antibodi antipaternal minimal, dianggap mengalami
suatu gangguan aloimun. Validitas model ini masih diragukan. Sebagai contoh pasangan yang
memilki HLA yang sama jelas mungkin mengalami kehamilan normal (Ober dkk, 1983). Yang
utama, penelitian-penelitian lain tidak menemukan adanya perbedaan dalam frekwensi
kesamaan HLA pada pasangan dengan kematian janin berulang dengan mereka yang
reproduksinya sukses (Cunningham, 2006).

7. Faktor Hormonal

Ovulasi, implantasi serta kehamilan dini bergantung pada koordinasi yang baik pada
sistem pengaturan hormon maternal. Oleh karena itu perlu perhatian langsung terhadap sistem
hormon secara keseluruhan, fase luteal, dan gambaran hormon setelah konsepsi terutama kadar
progesteron.

o Kadar Progesteron Rendah

Progesteron punya peran penting dalam mempengaruhi reseptivitas endometrium


terhadap implantasi embrio. Pada tahun 1929, Allen dan Corner mempublikasikan tentang
proses fisiologi korpus luteum, sejak itu diduga bahwa kadar progesteron yang rendah
berhubungan dengan risiko abortus.
o Defek Fase Luteal

Jones ( 1943 ) yang pertama kali mengutarakan konsep insufisiensi progesteron saat fase
luteal, dan kejadian ini dilaporkan pada 23-60% perempuan dengan abortus berulang. Pada
penelitian terhadap perempuan yang mengalami abortus lebih dari atau sama dengan 3,
didapatkan 17 % kejadian defek fase luteal. Dan 50% perempuan dengan histologi defek fase
luteal punya gambaran progesteron yang normal.

8. Penyakit Ibu

Penyakit ibu dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan
melalui plasenta. Penyakit menahun ibu seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit hati dan
diabetes mellitus (Manuaba, 2010).

Perempuan dengan diabetes mellitus bila dikelola dengan baik risiko abortusnya tidak
lebih jelek jika dibandingkan dengan perempuan tanpa diabetes. Akan tetapi perempuan
diabetes dengan kadar HbA1c tinggi pada trimester pertama, risiko abortus dan malformasi
janin meningkat signifikan. Diabetes jenis insulin dependen dengan kontrol glukosa tidak
adekuat punya peluang 2-3 kali lipat mengalami abortus. (Prawirohardjo, 2014)

Menurut Regan dan Rai, (2000) dalam Fraser (2009) menyatakan bahwa
penatalaksanaan dan kontrol terhadap penyakit seperti diabetes, penyakit ginjal, dan disfungsi
tiroid dapat mengurangi risiko keguguran pada ibu yang menderita penyakit tersebut. Jika
penyakit ini tidak dikontrol dengan baik risiko abortus akan tetap tinggi (Fraser, 2009).

9. Faktor Anatomik

Defek anatomik uterus diketahui sebagai penyebab komplikasi obstetrik, seperti abortus
berulang, prematuritas, serta malpresentasi janin. Insiden kelainan bentuk uterus berkisar 1/200
sampai 1/600 perempuan. Pada perempuan dengan riwayat abortus, ditemukan anomali uterus
pada 27% pasien.

Penyebab terbanyak abortus karena kelainan anatomik uterus adalah septum uterus (40-
80%), kemudian uterus bikornis, atau uterus didelfis atau unikornis (10-30%). Mioma uteri
bisa menyebabkan baik infertilitas maupun abortus berulang. Risiko kejadiannya antara 10-30%
pada perempuan usia reproduksi. Sebagian besar mioma tidak memberikan gejala, hanya yang
berukuran besar atau yang memasuki kavum uteri (submukosum) yang akan menimbulkan
gangguan.

Sindroma Asherman bisa menyebabkan gangguan tempat implantasi serta pasokan darah
pada permukaan endometrium. Risiko abortus antara 25-80%, bergantung pada berat ringan
gangguan. Untuk mendiagnosis kelainan ini bisa digunakan histerosalpingografi (HSG) dan
USG.

10. Faktor Lingkungan

Diperkirakan 1-10% malformasi janin akibat dari paparan obat, bahan kimia, atau
radiasi, dan umumnya berakhir dengan abortus, misalnya paparan terhadap buangan gas
anestesi dan tembakau. Rokok diketahui mengandung ratusan unsur toksik antara lain nikotin
yang telah diketahui mempunyai efek vasoaktif sehingga menghambat sirkulasi uteroplasenta.
Karbonmonoksida juga menurunkan pasokan oksigen ibu dan janin serta memacu neurotoksin.
Dengan adanya gangguan pada sistem sirkulasi fetoplasenta dapat terjadi gangguan
pertumbuhan janin yang berakibat terjadinya abortus.

3) Faktor Ayah
Tidak banyak yang diketahui tentang faktor ayah dalam terjadinya abortus spontan.
Translokasi kromosom pada sperma dapat menyebabkan abortus. Kulcsar dkk (1991)
menemukan adenovirus atau virus herpes simpleks pada hampir 40% sampel semen yang
diperoleh dari pria steril. Virus terdeteksi dalam bentuk laten pada 60% sel dan virus yang sama
dijumpai pada abortus (Cunningham, 2006).

5. Gambaran Klinis Dan Penanganan Abortus Spontan


Aspek klinis abortus spontan dibagi menjadi :

1. Abortus Imminens
Abortus Imminens adalah abortus tingkat permulaan dan merupakan ancaman terjadinya
abortus yang ditandai dengan perdarahan pervaginam, ostium uteri tertutup, dan hasil konsepsi
masih baik dalam kandungan.
Diagnosa abortus imminens biasanya diawali dengan keluhan perdarahan pervaginam
pada kehamilan kurang dari 20 minggu. Penderita mengeluh mulas atau tidak ada keluhan sama
sekali kecuali perdarahan pervaginam. Ostium uteri masih tertutup, besarnya uterus masih
sesuai dengan usia kehamilan dan tes kehamilan masih positif.

Untuk menentukan prognosis abortus imminens dapat dilakukan dengan melihat kadar
hormon HCG pada urin dengan cara melakukan tes urin kehamilan menggunakan urin tanpa
pengenceran dan pengenceran 1/10. Bila hasil tes urin masih positif keduanya, maka
progosisnya adalah baik, bila pengenceran 1/10 hasilnya negatif maka prognosisnya dubia.

Pengelolaan penderita ini sangat bergantung pada informed consent yang diberikan. Bila
ibu ini masih menghendaki kehamilan tersebut, maka pengelolaan harus maksimal untuk
mempertahankan kehamilan ini. Pemeriksaan USG diperlukan untuk mengetahui pertumbuhan
janin yang ada dan mengetahui keadaan plasenta apakah sudah terjadi pelepasan atau belum.
Diperhatikan ukuran biometri janin / kantong gestasi apakah sesuai dengan umur kehamilan
berdasarkan HPHT. Denyut jantung janin dan gerakan janin diperhatikan di samping ada
tidaknya hematoma retroplasenta atau pembukaan kanalis servikalis. Pemeriksaan USG dapat
dilakukan baik secara transabdominal maupun transvaginal. Pada USG transabdominal jangan
lupa pasien harus tahan kencing terlebih dahulu untuk mendapatkan acoustic window yang baik
agar rincian hasil USG dapat jelas.

Penderita diminta untuk melakukan tirah baring sampai perdarahan berhenti. Bisa diberi
spasmolitik agar uterus tidak berkontraksi atau di beri tambahan hormon progestoren atau
derivatnya, untuk mencegah terjadinya abortus. Obat – obatan ini walaupun secara statistik
kegunaannya tidak bermakna, tetapi efek psikologis kepada penderita sangat menguntungkan.
Penderita boleh di pulangkan setelah tidak terjadi perdarahan dengan pesan khusus tidak boleh
berhubungan seksual dulu sampai lebih kurang 2 minggu ( Prawirohardjo, 2014).

2. Abortus Insipiens
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan servik telah mendatar dan
ostium telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri dan dalam proses
pengeluaran.

Penderita akan merasa mulas karena kontraksi yang sering dan kuat, perdarahannya
bertambah sesuai dengan pembukaan servik uteri dan umur kehamilan. Besar uterus masih
sesuai dengan umur kehamilan dengan tes urine kehamilan masih positif. Pada pemeriksaan
USG akan didapati pembesaran uterus yang masih sesuai dengan umur kehamilan, gerak janin
dan detak jantung janin masih jelas walau mungkin sudah mulai tidak normal, biasanya terlihat
penipisan servik uterus atau pembukaannya. Perhatikan pula ada tidaknya pelepasan plasenta
dari dinding uterus.

Pengelolaan penderita ini harus memperhatikan keadaan umum dan perubahan keadaan
hemodinamik yang terjadi dan segera lakukan tindakan evakuasi/ pengeluaran hasil konsepsi
disusul dengan kuretase bila perdarahan banyak. Pada umur kehamilan diatas 12 minggu, uterus
biasanya sudah melebihi telur angsa, tindakan evakuasi dan kuretase harus hati-hati, kalau perlu
dilakukan evakuasi dengan cara digital yang kemudia disusul dengan tindakan kuretase sambil
diberikan uterotonika. Hal ini diperlukan untuk mencegah terjadinya perforasi pada dinding
uterus. Pasca tindakan perlu perbaikan keadaan umum, pemberian uterotonika, dan antibiotika
profilaksis. (Prawirohardjo, 2014)

3. Abortus Inkomplit

Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang tertinggal.
Batasan ini juga masih terbatas pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin
kurang dari 500 gram. Sebagian jaringan hasil konsepsi masih tertinggal di dalam uterus dimana
pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis masih terbuka dan teraba jaringan dalam kavum
uteri atau menonjol pada ostium uteri eksternum. Perdarahan biasanya masih terjadi,
jumlahnyapun masih banyak atau sedikit, tergantung pada jaringan yang tersisa, yang
menyebabkan sebagian placental site masih terbuka sehingga perdarahan masih berjalan terus.
Pasien bisa anemia atau syok hemoragik sebelum sisa jaringan konsepsi dikeluarkan.
Pengelolaan pasien harus diawali dengan perhatian terhadap keadaan umum dan mengatasi
gangguan hemodinamik yang terjadi untuk kemudian disiapkan tindakan kuretase.

Pemeriksaan USG hanya dilakukan bila kita ragu dengan diagnosis secara klinis. Besar
uterus sudah lebih kecil dari usia kehamilan dan kantong gestasi sudah sulit dikenali, di kavum
uteri tampak masa hiperekoik yang bentuknya tidak beraturan. Bila terjadi perdarahan yang
hebat, dianjurkan segera melakukan pengeluaran sisa hasil konsepsi secara manual agar jaringan
yang menghambat terjadinya kontraksi uterus segera dikeluarkan, kontraksi uterus dapat
berlangsung baik dan perdarahan bisa berhenti. Selanjutnya dilakukan tindakan kuretase yang
harus dilakukan secara hati – hati sesuai dengan keadaan umum ibu dan besarnya uterus.
Tindakan yang dianjurkan adalah dengan karet vakum menggunakan kanula dari plastik. Pasca
tindakan perlu diberikan uterotonika parenteral ataupun peroral dan antibotika (Prawirohardjo,
2014).

4. Abortus Komplit

Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gr. Semua hasil konsepsi telah dikeluarkan, ostium
uteri telah menutup, uterus telah mengecil sehingga perdarahan sedikit. Besar uterus tidak
sesuai dengan umur kehamilan. Pemeriksaan USG tidak perlu dilakukan bila pemeriksaan
secara klinis sudah memadai. Pada pemeriksaan tes urine biasanya masih positif sampai 7-10
hari setelah abortus.

Pengelolaan penderita tidak memerlukan tindakan khusus ataupun pengobatan. Biasanya


hanya diberi roboransia atau hematenik bila keadaan pasien memerlukan. Uterotonika tidak
perlu diberikan. (Prawirohardjo, 2014)

5. Missed Abortion

Merupakan abortus yang ditandai dengan embrio dan fetus telah meninggal dalam
kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam
kandungan. Missed abortion adalah terhentinya proses kehamilan muda yang sedang
berlangsung, tetapi hasil konsepsi masih tetap tertahan di dalam uterus selama lebih dari 6
minggu (Manuaba, 2007).

Retensi produk konsepsi yang terjadi berminggu - minggu, penderita biasanya tidak
merasakan keluhan apapun kecuali merasakan pertumbuhan kehamilannya tidak seperti yang
diharapkan. Bila kehamilan diatas 14 minggu sampai 20 minggu penderita justru merasakan
rahimnya semakin mengecil dengan tanda - tanda kehamilan sekunder pada payudara mulai
menghilang. Kadangkala missed abortion juga diawali dengan abortus imminens yang
kemudian merasa sembuh, tetapi pertumbuhan janin terhenti. Pada pemeriksaan tes urine
kehamilan biasanya negatif setelah terhentinya pertumbuhan kehamilan. Pada pemeriksaan
USG akan didapatkan uterus yang mengecil, kantong gestasi yang mengecil dan bentuknya
tidak beraturan disertai gambaran fetus yang tidak ada tanda - tanda kehidupan. Bila missed
abortion berlangsung lebih dari 4 minggu harus diperhatikan terjadinya gangguan pembekuan
darah oleh karena hipofibrigenemia sehingga perlu diperiksa koagulasi sebelum tindakan
evakuasi dan kuretase.

Pengelolaan missed abortion perlu diutarakan kepada pasien dan keluarganya secara
baik karena risiko tindakan operasi dan kuretase ini dapat menimbulkan komplikasi perdarahan
atau tidak bersihnya evakuasi/ kuretase dalam sekali tindakan. Pada kehamilan kurang dari 12
minggu tindakan evakuasi dapat dilakukan secara langsung dengan dilatasi dan kuretase bila
servik uterus memungkinkan. Bila umur kehamilan diatas 12 minggu atau kurang dari 20
minggu dengan keadaan servik uteri yang masih kaku dianjurkan untuk melakukan induksi
terlebih dahulu untuk mengeluarkan janin atau mematangkan kanalis servikalis. Beberapa cara
dapat dilakukan dengan pemberian infus intravena cairan oksitosin dimulai dari dosis 10 unit
dalam 500 dekstrose 5% 20 tetes per menit dan dapat diulangi sampai total tetesan 50 unit
dengan tetesan dipertahankan untuk mencegah terjadinya retensi cairan tubuh. Jika tidak
berhasil, penderita diistirahatkan satu hari dan kemudian induksi diulangi biasanya maksimal 3
kali. Setelah janin atau jaringan konsepsi berhasil keluar dengan induksi ini dilanjutkan dengan
tindakan kuretase.

Penggunaan misoprostol belakangan ini diberikan secara sublingual sebanyak 400 mg


yang dapat diulangi 2 kali dengan jarak 6 jam. Dengan obat ini akan terjadi pengeluaran hasil
konsepsi atau pembukaan ostium serviks sehingga tindakan evakuasi dan kuretase dapat
dikerjakan untuk mengosongkan kavum uteri. Kemungkinan penyulit pada tindakan missed
abortion ini lebih besar mengingat jaringan plasenta yang menempel pada dinding uterus
biasanya lebih kuat. Apabila didapatkan hipofibrinogenemia perlu disiapkan tranfusi darah
segar atau fibrinogen. Pasca tindakan bila perlu berikan infus intravena cairan oksitosin dan
pemberian antibiotika (Prawirohardjo, 2014).

6. Abortus Habitualis

Adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut (Prawirohardjo,
2014). Penderita abortus habitualis pada umumnya tidak sulit untuk menjadi hamil kembali,
tetapi kehamilannya berakhir dengan keguguran/abortus secara berturut-turut. Bishop
melaporkan kejadian abortus habitualis sekitar 0,41% dari seluruh kehamilan.

Penyebab abortus habitualis yaitu :


 Penyebab umum abortus
 Penyebab khusus yaitu serviks inkompeten. Serviks inkompeten adalah keadaan
dimana serviks uterus tidak dapat menerima beban untuk tetap bertahan menutup
setelah kehamilan melewati trimester pertama, dimana ostium serviks akan
membuka (inkompeten) tanpa disertai rasa mules/ kontraksi rahim dan akhirnya
terjadi pengeluaran janin. Kelainan ini sering disebabkan oleh trauma serviks pada
kehamilan sebelumnya, misalnya pada tindakan usaha pembukaan serviks secara
paksa, robekan serviks yang luas sehingga diameter kanalis servikalis sudah
melebar. Diagnosis serviks inkompetens tidak sulit dengan anamnesa yang cermat.
Dengan pemeriksaan dalam/ inspekulo kita bisa menilai diameter kanalis servikalis
dan didapati selaput ketuban yang mulai menonjol pada saat mulai memasuki
trimester kedua. Diameter melebihi 8 mm. Pengelolaan dianjurkan melakukan
pemeriksaan sedini mungkin dan bila dicurigai adanya inkompetensia serviks harus
dilakukan tindakan untuk memfiksasi serviks agar dapat menerima beban dengan
berkembangnya umur kehamilan. Operasi dilakukan pada umur kehamilan 12-14.
Sumber lain mengatakan pada umur kehamilan 18-20 minggu, dengan metode
Mc.Donald atau Shirodkar dengan melingkari kanalis servikalis dengan benang
sutra/ mersilene yang tebal dan simpul baru dibuka setelah umur kehamilan aterm
dan bayi siap dilahirkan. (Prawirihardjo, 2014).
7. Abortus Infeksiosus , Abortus Septik

Abortus infeksiosus yaitu abortus yang disertai infeksi pada alat genitalia. Abortus
septik adalah abortus yang disertai penyebaran infeksi pada peredaran darah atau peritonitis jika
mengenai organ peritonium (Prawirohardjo, 2014). Kejadian ini merupakan salah satu
komplikasi tindakan abortus yang paling sering terjadi apalagi jika kurang memperhatikan
asepsis dan antisepsis.

Dalam 80% kasus, infeksinya ringan dan terlokalisir di desidua. Organisme yang terlibat
biasanya endogen dan paling sering adalah streptokokus anaerob, stafilococus atau e coli.
Dalam 15% kasus, infeksinya berat mengenai miometrium dan mungkin menyebar ke tuba
Fallopii. Jika infeksinya menyebar dari serviks, dapat mengenai jaringan parametrium atau
selular pelvik. 5% terjadi peritonitis generalisata atau kolaps vaskular, yang disebabkan oleh
pelepasan endotoksin oleh e coli atau CI welchii dan dikenal sebagai syock endotoksin
(Jones, 2002).
Diagnosis dapat ditegakkan dengan anamnesis yang cermat tentang upaya tindakan
abortus yang tidak menggunakan peralatan yang asepsis dengan didapat gejala dan tanda panas
tinggi, tampak sakit dan lelah, takikardia, perdarahan pervaginam yang berbau, uterus yang
membesar dan lembut serta nyeri tekan. Hasil laboratorium menunjukkan leukositosis. Bila
sampai terjadi syok penderita akan tampak lelah, panas tinggi, menggigil dan tekanan darah
turun (Prawirohardjo, 2014).

Pengelolaan pasien ini harus mempertimbangkan keseimbangan cairan tubuh dan


perlunya pemberian antibiotika yang adekuat sesuai dengan hasil kultur dan sensitivitas kuman
yang diambil dari darah dan cairan fluksus/fluor yang keluar pervaginam. Untuk tahap pertama
dapat diberikan penicillin 4 x 1,2 juta unit atau Ampicillin 4 x 1 gram ditambah Gentamicin
2x80 mg dan metronidazol 2x1 gram. Selanjutnya antibiotik disesuaikan dengan hasil kultur.
Tindakan kuretase dilaksanakan bila keadaan tubuh sudah membaik , minimal 6 jam setelah
antibiotik adekuat diberikan, jangan lupa pada saat tindakan uterus dilindungi dengan
uterotonika. Antibiotik dilanjutkan sampai 2 hari bebas demam, bila dalam 2 hari tidak
memberikan respon harus diganti dengan antibiotik lain yang lebih sesuai. Untuk mencegah
tetanus perlu ditambah dengan ATS, dan irigasi vagina/ uterus dengan larutan peroksida
(Prawirohardjo, 2014).

2.1.7 Komplikasi Abortus

1. Perdarahan
2. Perforasi sering terjadi sewaktu dilatasi dan kuretase yang dilakukan oleh tenaga
yang tidak ahli.
3. Infeksi dan tetanus
4. Payah Ginjal Akut
5. Syok, pada abortus dapat terjadi syok haemoragik atau syok septik (Mochtar, 2012).
LEMBAR PENGESAHAN

Satuan acara penyuluhan dengan judul “ Perdarahan Kehamilan Muda (Abortus dan Mola)“ di
Ruang NICU IRD RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Telah disahkan oleh pembimbing klinik dan
pembimbing akademik pada

Hari :
Tanggal :

Mengetahui,
Pembimbing Pendidikan Pembimbing Klinik
Program Studi Pendidikan Bidan Ruang NICU IRD
Universitas Airlangga RSUD Dr. Soetomo

Dwi Izzati Budiono, S.Keb,Bd, M.Sc Pamiani, S.Kep.,Ns.


NIK. NIP.19650918 199003 2 002