Anda di halaman 1dari 6

A.

Pengertian

Definisi DM Diabetes melitus adalah suatu keadaan didapatkan peningkatan kadar gula
darah yang kronik sebagai akibat dari gangguan pada metabolisme karbohidrat, lemak, dan
protein karena kekurangan hormone insulin. Masalah utama pada penderita DM ialah
terjadinya komplikasi, khususnya komplikasi DM kronik yang merupakan penyebab utama
kesakitan dan kematian penderita DM (Surkesda, 2008). DM adalah suatu sindrom kronik
gangguan metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak akibat ketidakcukupan sekresi insulin
atau resistensi insulin pada jaringan yang dituju (Dorland, 2005). DM adalah penyakit
metabolik (kebanyakan herediter) sebagai akibat dari kurangnya insulin efektif (DM Tipe 2)
atau insulin absolut (DM Tipe 1) di dalam tubuh.

Diabetes tipe 1 atau diabetes ketergantungan insulin adalah suatu penyakit jangka
panjang yang terjadi ketika pankreas tidak dapat memproduksi cukup insulin bagi tubuh.
Insulin sangat dibutuhkan tubuh untuk mengontrol glukosa (gula) dalam sel yang didapat dari
darah. Pada pengidap diabetes, glukosa yang terdapat dalam darah tidak dapat diserap oleh sel-
sel tubuh, sehingga menyebabkan berbagai gejala dan komplikasi.

Pada DM terdapat tanda-tanda hiperglikemi dan glukosuria, dapat disertai dengan atau
tidaknya gejala klinik akut seperti poliuri, polidipsi, penurunan berat badan, ataupun gejala
kronik seperti gangguan primer pada metabolisme karbohidrat dan sekunder pada metabolisme
lemak dan protein (Tjokroprawiro, 2007). 13 Penderita DM mengalami gangguan metabolisme
dari distribusi gula oleh tubuh sehingga tubuh tidak bisa memproduksi insulin secara efektif,
akibatnya terjadi kelebihan glukosa di dalam darah (80-110 mg/dl) yang akan menjadi racun
bagi tubuh. Sebagian glukosa yang tertahan dalam darah tersebut melimpah ke sistem urin
(Wijayakusuma, 2004).

B. Faktor Risiko Diabetes Tipe 1

Beberapa faktor risiko terjadinya diabetes tipe 1, antara lain:

 Faktor riwayat keluarga atau keturunan, yaitu saat seseorang akan lebih memiliki risiko
terkena diabetes tipe 1 jika ada anggota keluarga yang mengidap penyakit yang sama,
karena berhubungan dengan gen tertentu.

 Faktor geografi. Orang yang tinggal di daerah yang jauh dari garis khatulistiwa, seperti di
Finlandia dan Sardinia, paling banyak terkena diabetes tipe 1. Hal ini disebabkan karena
kurangnya vitamin D yang bisa didapatkan dari sinar matahari, sehingga akhirnya memicu
penyakit autoimun.

 Faktor usia. Penyakit ini paling banyak terdeteksi pada anak-anak usia 4-7 tahun,
kemudian pada anak-anak usia 10-14 tahun.

 Faktor pemicu lainnya, seperti mengonsumsi susu sapi pada usia terlalu dini, air yang
mengandung natrium nitrat, sereal dan gluten sebelum usia 4 bulan atau setelah 7 bulan,

C. Penyebab Diabetes Tipe 1

Penyebab diabetes tipe 1 adalah ketidakmampuan pankreas untuk memproduksi cukup


insulin, sehingga glukosa di dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel. Gangguan pada
pankreas ini diduga karena proses autoimun, yaitu ketika sistem kekebalan tubuh seseorang
menyerang sel-sel tubuh yang sehat. Pada diabetes tipe 1, sistem kekebalan tubuh tersebut
menyerang dan merusak sel beta pada pankreas, sehingga tidak dapat memproduksi cukup
insulin. Beberapa hal yang bisa menjadi penyebab kerusakan sel beta pankreas, antara lain
infeksi virus (enterovirus, virus Epstein-Barr, virus rubella, rotavirus, serta virus
gondongan), konsumsi obat-obatan tertentu (pyrinuron dan strepzotocin), serta pengaruh
gluten.

D. Patofisiologi
DMT 1 merupakan DM yang tergantung insulin. Pada DMT 1 kelainan terletak pada
sel beta yang bisa idiopatik atau imunologik. Pankreas tidak mampu mensintesis dan
mensekresi insulin dalam kuantitas dan atau kualitas yang cukup, bahkan kadang-kadang
tidak ada sekresi insulin sama sekali. Jadi pada kasus ini terdapat kekurangan insulin secara
absolut (Tjokroprawiro, 2007). Pada DMT 1 biasanya reseptor insulin di jaringan perifer
kuantitas dan kualitasnya cukup atau normal ( jumlah reseptor insulin DMT 1 antara 30.000-
35.000 ) jumlah reseptor insulin pada orang normal ± 35.000. sedang pada DM dengan
obesitas ± 20.000 reseptor insulin (Tjokroprawiro, 2007). DMT 1, biasanya terdiagnosa
sejak usia kanak-kanak. Pada DMT 1 tubuh penderita hanya sedikit menghasilkan insulin
atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan insulin, oleh karena itu untuk bertahan hidup
penderita harus mendapat suntikan insulin setiap harinya. DMT1 tanpa pengaturan harian,
pada kondisi darurat dapat terjadi (Riskesdas, 2007).

E. Gejala Diabetes Tipe 1

Beberapa gejala dari diabetes tipe 1, antara lain:

1. Sering buang air kecil, terutama pada malam hari (polyuria).

2. Sering haus (polydipsia).

3. Sering merasa lapar (polyphagia).

4. Berat badan turun.

5. Pandangan kabur.

6. Kelelahan.

7. Mudah diserang penyakit infeksi.

8. Luka yang lama sembuh.

9. Merasa kaku atau kesemutan pada kaki.

F. Pencegahan diabetes tipe 1

1. Memeriksa kadar gula darah anak beberapa kali dalam seminggu


Memeriksa kadar gula darah dapat melakukannya sebelum atau setelah anak
melakukan aktivitas, seperti makan atau olahraga, untuk mengetahui bagaimana
pengaruh aktivitas atau makanan tertentu pada kadar gula darah anak.
2. Biasakan anak makan dengan gizi seimbang
Berikanlah makanan yang sehat dan bergizi pada anak terutama perhatikan
berapa banyak dan apa saja jenis makanan sumber karbohidrat yang harus dikonsumsi
anak.
Perhatikan juga waktu makan anak. Anak harus makan secara rutin agar kadar gula
darahnya selalu terjaga.
3. Biasakan anak melakukan olahraga secara teratur
Tak hanya mengatur pola makan dengan baik, olahraga secara rutin juga dapat
membantu anak menjaga kadar gula darahnya.
4. Periksakan kondisi kesehatan anak ke dokter dengan rutin
Kadar gula darah anak selalu terkontrol dan anak terhindar dari komplikasi
diabetes, seperti penyakit jantung, stroke, masalah penglihatan, masalah ginjal, dan
sebagainya.
G. Pengobatan diabetes tipe 1

1. Pemberian insulin
Insulin diberikan beberapa kali dalam sehari. Pemberian dilakukan melalui
suntikan, karena insulin akan dicerna lambung dan tidak dapat masuk ke aliran darah
bila diberikan dalam bentuk pil. Dokter akan mengajarkan pasien cara menyuntikkan
insulin, agar selanjutnya dapat dilakukan secara mandiri di rumah. Pasien juga akan
diberi tahu cara menyimpan insulin dan cara membuang jarum dengan benar. Jenis
insulin yang diberikan adalah kombinasi antara insulin kerja cepat dan insulin kerja
panjang, dengan dosis suntikan 2 kali sehari atau dapat ditingkatkan menjadi 3-4
suntikan sehari.
Selain melalui suntikan, insulin juga dapat diberikan menggunakan pompa
insulin. Pompa insulin berukuran sebesar ponsel, dan dilengkapi tabung yang
tersambung ke kateter. Kateter dapat dimasukkan ke perut, lengan, pinggul, paha atau
bokong pasien. Sedangkan pompanya dapat disematkan di ikat pinggang atau
dimasukkan ke saku celana. Pompa insulin diprogram untuk memasukkan insulin ke
dalam tubuh secara terus-menerus, sedikit demi sedikit. Hal tersebut untuk menjaga
kadar gula darah selalu normal. Pada jam makan, pasien bisa menambah kadar insulin,
tergantung kepada kadar karbohidrat yang dikonsumsi.
Pengobatan dengan insulin harus disertai dengan pemeriksaan kadar gula darah
secara rutin, guna memastikan selalu dalam batas normal. Hal tersebut dikarenakan
kadar gula darah dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti olahraga, obat-obatan,
dan kondisi kesehatan secara umum. Pada wanita, kadar gula darah juga dipengaruhi
oleh perubahan hormon dalam masa menstruasi. Frekuensi pemeriksaan tergantung
kepada jenis pengobatan insulin yang dijalani. Pasien yang menjalani pengobatan
dengan pompa insulin disarankan menjalani pemeriksaan kadar gula darah minimal 4
kali sehari. Pemeriksaan dapat dilakukan secara mandiri menggunakan alat cek gula
darah atau glukometer.
Di samping pemeriksaan secara mandiri, pasien akan disarankan untuk
menjalani tes HbA1c tiap 2-6 bulan sekali. Tes HbA1c akan menunjukkan rata-rata
kadar gula darah pasien dalam 2-3 bulan terakhir, dan mengevaluasi apakah pengobatan
pada pasien berjalan baik. Pada penderita diabetes, target kadar HbA1c kurang dari 7
persen. Makin tinggi kadar HbA1c, maka makin tinggi pula risiko penderita terserang
komplikasi diabetes.

2. Sistem pankreas buatan


Sistem pankreas buatan adalah serangkaian alat yang dirancang untuk meniru
kemampuan organ tersebut dalam mengatur kadar gula darah. Perangkat ini terdiri dari
pompa insulin, continuous glucose monitoring (CGM), dan alat yang menghubungkan
keduanya, yang digunakan sebagai kontrol dan pengatur dosis. Fungsi sistem pankreas
buatan adalah untuk mengukur kadar glukosa secara rutin dan menyesuaikan kadar
insulin yang disuntikkan, layaknya pankreas asli.
3. Obat-obatan
Beberapa jenis obat pada penderita diabetes, seperti:

a. Aspirin.
Obat ini untuk menjaga kesehatan jantung pasien.
b. Obat tekanan darah tinggi.
Obat penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor),
dan angiotensin II receptor blockers (ARB) dapat diberikan guna menjaga
kesehatan ginjal pasien. Jenis obat di atas diberikan pada pasien dengan tekanan
darah di atas 140/90 mm Hg.
c. Obat penurun kolesterol.
Obat ini diberikan agar kadar kolesterol selalu terjaga, karena pasien dengan
kondisi ini akan sangat berisiko terserang penyakit jantung.

4. Diet sehat
Untuk membantu proses penyembuhan, pasien dapat mengonsumsi makanan
tinggi serat dan rendah lemak, seperti gandum, sayur dan buah-buahan. Pasien juga
akan disarankan mengurangi asupan karbohidrat dan produk makanan hewani. Pola diet
ini juga disarankan bagi orang yang tidak mengalami diabetes.
Penting bagi pasien untuk mengetahui jumlah asupan karbohidrat pada
makanan yang dikonsumsi, agar kadar insulin yang disuntikkan berada dalam jumlah
yang tepat. Bila perlu, minta bantuan pada dokter gizi untuk membuat rencana pola dan
jenis makan yang sesuai dengan kebutuhan.

5. Olahraga
Pasien perlu melakukan olahraga, misalnya dengan berjalan kaki atau berenang.
Lakukan sedikitnya 150 menit dalam 1 minggu, dan jangan melewatkan lebih dari 2
hari tanpa olahraga. Pada anak-anak, olahraga dapat dilakukan satu jam tiap hari. Bila
melakukan olahraga secara rutin, disarankan untuk memeriksa gula darah lebih sering.
Hal ini agar asupan nutrisi dan dosis insulin yang diberikan, sesuai dengan yang
dibutuhkan tubuh.
H. Pola asuhan gizi pada penyakit diabetes militus tipe 1

1. Makan makanan yang kaya akan Serat

Kandungan serat dalam makanan ternyata bisa membantu tubuh mengontrol gula
darah. Pasalnya, saat masuk ke dalam tubuh makanan yang mengandung serat hanya
melewati saluran pencernaan, tidak dicerna tubuh seperti makanan lainnya. Hal itu
yang membuat makanan berserat cenderung tidak menyebabkan gula darah naik.
Meski demikian, makanan yang mengandung serat sudah lama dikenal dengan
berbagai manfaat sehat untuk tubuh.

2. Mengandung Vitamin dan Mineral

Pada dasarnya, vitamin dan mineral merupakan jenis asupan yang dibutuhkan
tubuh. Namun ternyata, kandungan ini juga berkhasiat untuk menjaga kadar gula
dalam tubuh. Keberadaan vitamin dan mineral dalam tubuh ternyata bisa menjaga
keseimbangan metabolisme tubuh, termasuk menjaga kestabilan gula darah. Asupan
ini juga penting untuk menjaga kadar gula darah tidak terlalu tinggi, maupun terlalu
rendah.

3. Buah-buahan

Banyak pengidap diabetes tipe 1 yang menghindari buah-buahan, karena


khawatir terhadap kandungan gula dalam buah. Namun ternyata, hal itu tidak
sepenuhnya benar. Meski mengandung gula, namun buah-buahan bersifat alam,
sehingga kandungan gula dalam buah sebenarnya cukup aman dan dibutuhkan
tubuh. Hanya saja perlu diingat, pastikan untuk tidak berlebihan dalam
mengonsumsi buah agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan.

4. Hindari Makanan Olahan

Mengonsumsi makanan olahan, seperti makanan siap saji dan makanan beku
merupakan hal yang sebaiknya dihindari pengidap diabetes tipe 1. Pasalnya, jenis
makanan ini biasanya sudah diolah dan dikemas sedemikian rupa, sehingga memiliki
kandungan sodium, gula, dan lemak yang lebih tinggi. Selain itu, makanan olahan
pun umumnya tidak memiliki kandungan serat, vitamin, dan mineral sebanyak yang
dibutuhkan tubuh.
DAFTAR PUSTAKA

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Type 1 diabetes - Symptoms and causes.
Medical News Today. Diakses pada 2019. Type 1 diabetes: Overview, symptoms, and
treatment.
Health Service Executive. Conditions and Treatments. Diabetes, Type 1.