Anda di halaman 1dari 3

Apa saja komitmen muslim terhadap agamanya?

A. MENJADI BAGIAN DARI ISLAM

Seseorang menjadi bagian dari Islam artinya menjadikan apa saja yang muncul dari dirinya, baik
perasaan, pikiran, ucapan, gerakan, perbuatan, atau kinerja, sebagai pelaksanaan ajaran Islam. Dia
menjadikan dirinya ‘etalase Islam’ yang memamerkan segala keindahan dan kebaikan Islam. Siapapun
yang melihatnya dapat merasakan dan melihatnya.

Allah akan melihat dan menilai apa yang menjadi pilihan manusia seperti perasaan, pikiran, ucapan dan
perbuatan, dan bukan menilai apa yang menjadi kewenangan-Nya, seperti warna kulit, paras wajah,
tinggi badan, bentuk tubuh. Rasulullah saw menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak akan memandang
(menilai) tubuh-tubuh kalian tidak pula bentuk-bentuk kalian melainkan akan memandang (menilai) hati-
hati kalian dan amal-amal kalian” (HR. Muslim).

Lebih dari itu, menjadi etalase Islam juga merupakan bagian dari dakwah dan menampilkan keindahan
Islam agar manusia tertarik dengan Islam. Rasulullah saw adalah penampil Islam terbaik, “Adakah akhlak
Rasulullah saw itu Al-Qur’an.” Karenanya banyak orang yang bertarik dengan perilaku Rasulullah saw
bahkan sebelum beliau berbicara. Khalifah Ali bin Abi Thalib telah mengislamkan Yahudi bukan dengan
kata-kata apalagi pedangnya, melainkan dengan menampilkan keadilan yang diajarkan Islam dalam
sebuah persidangan.

Sebaliknya jika seorang muslim menampilkan perilaku-perilaku yang tidak mewakili Islam maka secara
sadar atau tidak dia telah berkontribusi (sedikit atau banyak) dalam menghalangi manusia dari jalam
Allah. Ini merupakan salah satu problem besar umat Islam hari ini. Sejak jauh hari, seorang ulama
mengutarakan, “Al-Islamu mahjubun bil muslimin” (Islam terhalang oleh kaum muslim sendiri).

B. MENJADI BAGIAN DARI UMAT ISLAM

Setelah memastikan diri sebagai bagian dari Islam, komitmen seseorang kepada Islam juga dibuktikan
dengan memosisikan dirinya sebagai bagian dari umat Islam. Harun Yahya, Ilmuwan muslim keenam
dewasa ini, mengatakan, “Islam berada di titik perkembangan pesat di Eropa. Perkembangan ini telah
menarik perhatian yang lebih besar di tahun-tahun belakangan, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak
tesis, laporang, dan tulisan seputar ‘Kedudukan Kaum Muslimin di Eropa’ dan Dialog antara Masyarakat
Eropa dan Umat Muslim’. Beriringan degan berbagai laporang akademis ini, media massa sering
menyiarkan berita tentang Islam dan Muslim”.

Jadi, disatu sisi kita berbahagia dan bersyukur, tetapi di sisi lain kita boleh bertanya, sudahkan setiap
muslim memosisikan dirinya sebagai bagian dari umat Islam yang besar itu? Apakah setiap muslim sudah
memerankan dirinya sebagai anggota tubuh pada diri seseorang atau bagaikan komponen dalam satu
bangunan, sebagaimana yang disebut Rasulullah saw dalam sabdanya? “Perumpamaan orang-orang
beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berempati adalah bagaikan satu
tubuh. Jika satu anggota tubuh itu merasakan sakit maka seluruh tubuh turut terjaga dan merasa
demam” (HR. Muslim).

Lalu apa konsekuensi dari afiliasi kepada umat Islam itu? Konsekuensinya antara lain:

Menempatkan diri sejajar dengan muslim yang lainnya, di bagian bumi mana pun mereka tinggal, tidak
ada perasaan lebih mulia atau lebih tinggi hanya karena perbedaan kebangsaan, ras, warna kulit, status
sosial, harta atau parameter-parameter duniawi lainnya.

Menghormati dan menjaga kehormatan, harta, fisik da jiwa muslim lainnya. Artinya, kita tidak boleh
menodai, melukai, merusak, atau merampas kehormatan, harta, fisik, jiwa sesama muslim.

Menjauhkan sesama muslim dari segala marabahaya. Orang yang merasakan dirinya sebagai bagian dari
umat Islam akan merasa sakit dan menderita bila ada saudaranya yang mengalami kenestapaan, baik
fisik maupun psikis. Oleh karena itu ia akan senantiasa berusaha menjauhkan segala sesuatu yang
menyakitkan dari tubuh umat Islam. Sebaliknya, orang munafik (orang yang Islamnya hanya berpura-
pura) justru merasa senang manakala umat Islam mendapat gangguan dan petaka, dan merasa sedih jika
umat Islam memperoleh kebahagiaan. Seperti contoh saat ini ketika bangsa Palestina tengah berjuang
untuk diakui kedaulatan dan eksistensinya sebagai negara yang berdaulat dan menjadi anggota PBB
maka umat muslim wajib mendukung dan turut memperjuangkannya.

Menghadirkan solusi untuk berbagai persoalan yang dihadapi kaum muslimin khususnya dan umat
manusia pada umumnya. Kehadiran seorang muslim hendaknya menjadi bermakna dan bukan menjadi
beban bagi orang lain.

C. MENJADI BAGIAN DARI PERJUANGAN DAN DAKWAH ISLAM

Islam dan perjuangan Islam hari ini tidak membutuhkan tambahan para pengamat, namun
membutuhkan para dai yang berjuang langsung dalam dakwah. Umumnya pengamat hanya melihat
Islam dari “kejauhan” atau dari luar. Karenanya, tidak sedikit pengamat yang mudah menyederhanakan
persoalan atau menggeneralisir penilaian. Sehingga ada yang merasa bahwa saat ini kondiri umat baik-
baik saja dan tidak perlu ada upaya memperbaikinya.
Orang yang terjun langsung dalam liku-liku perjuangan dakwah akan melihat persoalan secara objektif
dan merespons segala capaian, sekecil apa pun, dengan penuh rasa syukur. Bertambahnya orang yang
dapat membaca Al-Qur’an saja, dalam kacamata seorang pejuang, adalah bentuk keberhasilan yang
disyukurinya. Terlebih lagi keberhasilan memberi pengaruh dalam hal-hal yang terkait dengan
kepentingan publik.

Esensi perjuangan Islam adalah i’laa-u kalimatillahi, menegakkan kalimat Allah. Maknanya adalah segala
upaya yang ditujukan untuk menjadikan ajaran Islam sebagai rujukan dalam setiap sendi kehidupan. Dan
dakwah adalah upaya mengajak orang ke arah itu.

D. MENGAJAK ORANG LAIN KEPADA KEBAIKAN AKAN MENDORONG PEMBERSIHAN JIWA

Saat kita mengajak orang lain kepada kebaikan, kita akan selalu berusaha untuk menjadi seperti yang kita
serukan. Sungguh, itu karunia yang luar biasa. Saat berdakwah kita meyakini firman Allah saw, “Hai
orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan.
Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar” (QS. Al-Anfal:29). Inilah sebuah dorongan dalam diri kita.