Anda di halaman 1dari 6

Etika Profesi

Nama : zulfadli

Nim : D021171027

DEPARTEMEN MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2018
Proyek Pembangunan Hanggar Bandara Sultan Hasanuddin
Makassar Roboh
Tim audit di bawah koordinasi Direktorat Kebandarudaraan Ditjen Perhubungan
Kementerian Perhubungan diminta menyelesaikan audit investigasi kasus runtuhnya
bangunan hanggar balai kalibrasi fasilitas penerbangan di Bandara Sultan Hasanuddin,
Makassar.
"Kami tunggu laporan tim audit yang dipimpin Direktur Kebandarudaraan, Pak Bintang
Hidayat, yang diberi waktu satu bulan. Dari hasilnya nanti, kita baru bisa mengetahui
apa yang menjadi penyebab dan bagaimana kelanjutan dari proyek hanggar kalibrasi
itu," kata Staf Khusus Menteri Perhubungan Bidang Keterbukaan Informasi Publik, Hadi
M Zuraid, saat itu.
Dalam proyek pembangunan hanggar kalibrasi tersebut, konsultan perencana adalah
PT Genta Prima Pertiwi, kontraktor pelaksana PT Lince Romauli Raya bekerja sama
operasi dengan PT Nur Jaya Nusantara. Selaku pengawas ialah PT Arista Cipta.
Kontrak (amendemen) selesai pada 18 Februari 2015.
Ia mengatakan, pihak kementerian meminta kepada kontraktor untuk bertanggungjawab
penuh. "Penanganan korban diutamakan. Mereka harus mendapatkan haknya. Setelah
itu, kontraktor harus bertanggung jawab untuk melanjutkan atau membangun ulang
kembali proyek hanggar sesuai perjanjian kontrak yang telah disepakati," ucap Hadi.
Ia menjabarkan, proyek hanggar kalibrasi milik balai kalibrasi yang berada di Curug.
Namun, karena keterbatasan lokasi, pembangunan dilakukan di lingkungan Bandara
Sultan Hasanuddin, Makassar.
Diketahui, peristiwa runtuhnya hanggar yang dilengkapi apron dan jalur taksi itu
menewaskan lima orang dan 12 orang lainnya luka-luka. Korban seluruhnya merupakan
pekerja yang sedang membangun hanggar, melalui DIPA tahun anggaran 2014
sebesar Rp 46,2 miliar di bawah pengawasan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah V
Makassar.
Proyek ini mulai dikerjakan pada Agustus dan ditargetkan rampung Desember 2014.
"Ternyata, sampai 31 Desember hanya terealisasi 76,75 persen. Nah, sesuai ketentuan
ada klausul diberi waktu 50 hari untuk selesai 100 persen sampai 18 Februari 2015.
Sayangnya, hingga kejadian runtuh kemarin pun progres fisik baru terealisasi 78
persen. Mereka mengklaim, pekerjaan terlambat karena hujan," ujar Hadi.
Hadi menegaskan, akibat kejadian runtuh tersebut, kontraktor dinyatakan wan prestasi
dan harus membayar denda sesuai kontrak. "Sebenarnya saat kejadian, dilaporkan
pekerja sedang melakukan pembersihan lapangan dan pengecekan material on site,
pemeliharaan, serta demobilisasi. Namun, tiba-tiba saja hanggar itu ambruk dan banyak
yang tidak bisa menghindar," tutur Suprasetyo, Dirjen Perhubungan Udara Kementerian
Perhubungan.
Di sisi lain, kalangan insinyur mendesak pemerintah segera menuntaskan dan
melengkapi regulasi terkait pekerjaan konstruksi di Tanah Air, mulai dari perangkat
perencana, pelaksana, penyedia jasa, hingga pekerja dan pengguna. Hal ini penting
agar kejadian kegagalan konstruksi seperti robohnya hanggar pesawat di Bandara
Sultan Hasanuddin dan peristiwa lainnya tidak terulang.
"Semoga kejadian robohnya hanggar pesawat di Bandara Sultan Hasanuddin itu
menjadi alarm peringatan bagi pemerintah agar menuntaskan regulasi terkait pekerjaan
konstruksi, baik UU No 18/1999 tentang Jasa Konstruksi maupun UU No 11/2014
tentang Keinsyinyuran," kata Sekretaris Jenderal Persatuan Insinyur Indonesia (PII),
Danang Parikesit.
Ia menilai, peristiwa seperti itu dan kejadian lain seperti ambruknya Jembatan Kutai
Kartanegara beberapa tahun lalu, tidak hanya dapat dilihat dari aspek pidana, tetapi
juga secara regulasi berdasarkan kedua UU itu. Khususnya para penyedia jasa
konstruksi, pelaksananya, dan di dalamnya termasuk para insinyur dapat diminta
pertanggungjawaban.
"Setiap insinyur itu punya tanggung jawab profesi yang melekat sesuai bidang
keinsinyuran masing-masing. Dalam kasus hanggar Makassar ini, pemerintah bisa
membentuk panel ahli yang akan menganalisis secara komprehensif. Hasilnya bisa
digunakan sebagai rekomendasi bagi para pihak, mulai dari polisi hingga pemerintah,
termasuk DPR," ujarnya.
Penulis : Ellen Pri
Sumber : Sinar Harapan
Terbit : 12 Maret 2015 14.25 WIB
ANALISIS PELANGGARAN TERHADAP PRINSIP-PRINSIP DASAR DAN
TUNTUNAN SIKAP BIDANG KEINSINYURAN.
1. Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai dengan
tugas dan tanggung jawabnya.
2. Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian professional
keinsinyuran.
Pelanggaran pada point 1 disebabkan karena pihak kontraktor tidak menjalankan
tugas dan kewajibannya dalam hal ini yang dimaksud adalah kurangnya regulasi
terkait proyek pembangunan hanggar ini, kemudian para insinyur dimintai
pertanggungjawabannya. Pelanggaran pada point 2 dikarenakan pihak kontraktor
tidak mengedepankan martabat sesuai dengan keahlian professional.
Tuntunan Sikap :
1. Insinyur Indonesia senantiasa bekerja sesuai dengan kempetensinya.
2. Insinyur Indonesia hanya menyatakan pendapat yang dapat
dipertanggungjawabkan.
3. Insinyur Indonesia senantiasa menghindari terjadinya pertentangan kepentingan
dalam tanggung jawab tugasnya.
4. Insinyur Indonesia senantiasa membangun reputasi profesi berdasarkan
kemampuan masing-masing.
5. Insinyur Indonesia senantiasa memegang teguh kehormatan, integritas dan
martabat profesi.
6. Insinyur Indonesia senantiasa mengembangkan kemampuan profesionalnya

Pelanggaran terhadap UU No. 11 Tahun 2014


1. Pasal 25 a
Melaksanakan kegiatan keinsinyuran sesuai dengan keahlian dan kode etik
Insinyur.
2. Pasal 25 d

Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan perjanjian kerja dengan Pengguna


Keinsinyuran.
3. Pasal 51

Setiap Insinyur atau Insinyur Asing yang melaksanakan tugas profesi tidak
memenuhi standar Keinsinyuran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf c
sehingga mengakibatkan kecelakaan, cacat, hilangnya nyawa seseorang,
kegagalan pekerjaan Keinsinyuran, dan/atau hilangnya harta benda dipidana
dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).