Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kolera unggas (fowl cholera) adalah penyakit bakterial menular pada
unggas, tersebar luas di dunia, penyebabnya Pasteurella multocida (P. multocida).
Penyakit ini menyerang ayam peliharaan dan unggas liar. Unggas menjadi lebih
peka terhadap penyakit ini, umumnya terjadi pada ayam yang sedang bertelur.
Rhoades et al. (1991) melaporkan kejadian pada ayam pembibit jantan umur 33
minggu. Parveen et al. (2004) melaporkan kejadian pada ayam pembibit pada umur
35 dengan gejala mortalitas yang meningkat, kebengkakan pial, dan kebengkakan
kaki. Woo dan Kim (2006) mengisolasi P. multocida dari ayam umur 25 minggu di
Korea. Di Iran Utara, kolera unggas dilaporkan sudah endemik pada peternakan
ayam pembibit (Kalaydari et al., 2004).
Pada ayam penyakit ini dapat dimanifestasikan dalam bentuk akut dan
kronis. Bentuk akut penyakit ini ditandai dengan kematian yang tinggi. P.
multocida bukanlah bakteri yang normal ditemukan di peternakan ayam tetapi
bakteri ini merupakan bakteri yang umum ditemukan pada rongga mulut pada
berbagai hewan seperti tikus, mencit, anjing dan kucing. Kucing dan tikus diduga
sebagai hewan utama yang membawa bakteri ini ke peternakan unggas. Ayam
menjadi lebih peka terhadap kolera unggas dengan bertambahnya umur dan
penyakit umumnya terjadi pala ayam yang sedang bertelur. Penyakit ini menyerang
ayam petelur dan pedaging. Umumnya unggas yang telah dewasa (dara, petelur)
lebih peka dibanding saat masa indukan. Penyakit Pasteurellosis biasanya
menyerang ayam pada usia 12 minggu (Priadi dan Natalia, 2009).
Mekanisme penyebaran kolera di antara unggas tidak diketahui. Pada
unggas domestik sarana penyebaran penyakit diyakini melalui makanan, penularan
oleh vektor arthropoda atau secara inhalasi. Inhalasi merupakan rute penularan
yang paling sering terjadi, tetapi bisa juga melalui predator yang memakan bangkai

1
hewan yang terjangkit kolera. Cara lain penularan melibatkan inhalasi atau
meminum air yang terkontaminasi bakteri kolera oleh burung dan itik. Air dari
daerah yang terkontaminasi dapat tetap infektif selama jangka waktu yang lama
bahkan setelah pemusnahan unggas yang mati. Ada Penelitian yang menyatakan
bahwa burung camar dan tikus yang sebelumnya terinfeksi dan bertahan hidup
dapat bertindak sebagai pembawa kronis organisme Pasteurella (carrier)
(Departement of Natural Resource, 2001).
Diagnosa penyakit ini dapat dilakukan dengan melihat tanda-tanda klinis
atau lesi patognomonis yang jelas. Selain itu untuk meneguhkan diagnosa dapat
dilakukan bedah bangkai atau nekropsi. Nekropsi dilakukan untuk melihat
perubahan patologi anatomi dan pemeriksaan histopatologi untuk mendapatkan
diagnosa definitive berdasarkan organ-organ predileksinya. Hal inilah yang
melatarbelakangi penulis untuk membuat paper ini agar bisa dibahas selanjutnya
khususnya nekropsi unggas (ayam) terinfeksi Fowl Cholera.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana etiologi dari penyakit Fowl Cholera?
2. Bagaimana patogenesa dari penyakit Fowl Cholera?
3. Bagaimana gejala klinis dari penyakit Fowl Cholera?
4. Bagaimana cara mendiagnosa dari penyakit Fowl Cholera?
5. Bagaimana pengendalian, pengobatan dan pencegahan dari penyakit Fowl
Cholera?
1.3 Tujuan
Adapun beberapa tujuan dari pembuat paper ini diantaranya yaitu sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui etiologi, patogenesa, gejala klinis serta cara mendiagnosa
penyakit Fowl Cholera.
2. Untuk mengetahui pelaksanaan nekropsi pada unggas yang terinfeksi Fowl
Cholera.

2
3. Untuk mengetahui patologi anatomi organ unggas yang terserang Fowl
Cholera.
4. Untuk mengetahui perubahan histopatologi jaringan unggas yang terserang
Fowl Cholera.
1.4 Manfaat
Manfaat yang dapat diberikan dari penulisan paper ini adalah sebagai
berikut:
1. Melalui paper ini diharapkan kalangan mahasiswa Universitas Udayana,
khususnya Kedokteran Hewan memiliki wawasan lebih mengenai teknik
nekropsi pada unggas, patologi anatomi serta perubahan histopatologi jaringan
unggas yang terinfeksi Fowl Cholera.
2. Hasil tugas ini dapat menjadi arsip yang dapat membantu untuk mengerjakan
tugas yang berhubungan dengan nekropsi unggas terifeksi Fowl Cholera.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Etiologi
Penyebab kolera unggas adalah P. multocida. Kuman Pasteurella
multocida penyebab kolera unggas (KU) berdasarkan komponen antigen
kapsulanya dapat dibedakan menjadi 5 sero-grup yaitu A, B, D, E dan F dan
terdapat 16 strain (sero-tipe) berdasarkan struktur Lipopolysaccharide (LPS) pada
dinding selnya. Penyebab utama kolera unggas biasanya berasal dari strain A:1,
A:3 atau A:4 Isolasi bakteri dari darah jantung atau semua organ tubuh, termasuk
paru-paru, hati, limpa, ginjal dan bahkan dari feses. Pada bentuk kolera unggas
yang menahun kuman penyebab dapat di isolasi dari organ-organ tubuh terserang
(Ressang, 1984).
Agen penyebab Fowl Cholera bersifat non-motil, merupakan bakteri Gram
negatif berbentuk batang kecil, tidak membentuk spora, menunjukkan struktur
bipolar serta kadang-kadang membentuk kapsul yang mengelilingi organisme
tersebut dan termasuk famili Pasteurellacae. Diketahui bahwa bakteri ini juga
sebagai agen penyebab hemorrhagic septicemia pada sapi dan kerbau dan atropi
rhinitis pada babi ( Davies et al 2003 ). Bakteri P. multocida pada unggas tidak
menunjukkan presipitasi silang (cross reaction precipitation) dengan P. multocida
pada sapi dan babi. Demikian pula dengan reaksi kekebalannya (cros imunity) tidak
ada reaksi silang satu dengan lainnya. Kemampuan P. multocida sangat tergantung
pada kapsul yang megelilingi organisme tersebut. Jika kapsul itu hilang maka
kemampuan virulensinya juga akan menurun. P. multocida bersifat fakultatif
anaerob pada suhu 35-37ºC (Pyone et al, 1999).
Distribusi fowl cholera hampir di seluruh belahan dunia. Kejadian kolera
unggas di Indonesia lebih bersifat sporadik. Penyakit ini lebih sering menyerang
ayam umur dewasa dibandingkan dengan ayam muda. Ledakan penyakit ini sangat
erat hubungannya dengan berbagai faktor pemicu stres seperti fluktuasi cuaca,

4
kelembaban, pindah kandang, potong paruh, perlakuan vaksinasi yang tidak benar,
transportasi, pergantian pakan yang mendadak serta penyakit immunosuppressive.
2.2 Patogenesa
Patogenesis penyakit kolera unggas secara molekuler belum diketahui
mekanismenya. Secara ringkas, pada saat kuman P. multocida berhasil masuk
kedalam flock maka infeksi akan segara terjadi dengan konsentrasi kuman di
saluran pernafasan atas, mulai dari rongga mulut (paruh), trakea dan sekitar mata.
Ayam yang terinfeksi secara kronis oleh infeksi sebelumnya mempunyai peran
penting sebagai sumber penularan dalam satu flock karena akan mengeluarkan
kotoran/feses yang mengandung kuman selama berada dalam kelompok kandang
tersebut. Ayam yang terinfeksi melalui paruh masuk ke trakea dan paru, maka
kuman P. multocida akan masuk ke dalam sirkulasi darah dan berbiak secara cepat
di dalam hati/limfa dan beredar di dalam darah (bakterimia). Kuman dalam darah
ini sangat menentukan jalannya penyakit, karena komponen kapsula dan komponen
LPS (Pcho residu) sebagai penentu virulensi terhadap respon imunitas diperantarai
komplemen dan fagositosis pada ayam yang bersangkutan (Ressang, 1984).
Lingkungan sekitar dapat tercemar kuman P. multocida dari peralatan dan
ayam-ayam yang mati pada infeksi sebelumnya. Dapat dikatakan selama ini,
penyebab utama infeksi pada satu kandang/flock berasal dari infeksi sebelumnya
(kronis). Hewan liar seperti burung sawah, tikus dan serangga (kutu) merupakan
hospes antara (intermediet) yang potensial menyebarkan penyakit. Selain itu
pekerja kandang juga sumber penyebaran, baik melalui ludah dan ingus yang
sembarangan di sekitar kandang. Peralatan dan pakan yang tercemar dapat menjadi
sumber penularan apabila tidak dilakukan desinfeksi dan cara penyimpanan yang
baik. Sejauh ini, kolera unggas diketahui tidak menular secara horizontal dari induk
ke anaknya.

5
Gambar 1. Siklus hidup Avian cholera

2.3 Gejala Klinis

Manifestasi dari gejala klinis bersifat akut, sub akut dan kronis. Setelah
terjadi invasi bibit penyakit ke dalam tubuh, maka ayam akan mengalami
bacterimia (bakteri sudah beredar ke seluruh pembuluh darah) tahap awal. Masa

6
inkubasi (waktu mulai masuknya bibit penyakit hingga menimbulkan gejala klinis)
berlangsung selama 4-9 hari dan umumnya menyerang ayam berumur 3 bulan ke
atas.
 Perakut
Pada bentuk perakut, ayam tiba-tiba mati tanpa ditandai adanya
gangguan/gejala klinik sebelumnya kejadian ini bersifat eksplosif
 Akut
Gejala akut kerap kali ditemukan pada beberapa jam sebelum terjadi
kematian. Gejala yang tampak adalah penurunan nafsu makan, bulu mengalami
kerontokan, diare yang awalnya encer kekuningan, lama-kelamaan akan berwarna
kehijauan disertai mucus (lendir), peningkatan frekuensi pernapasan, daerah muka,
jengger dan pial membesar. Kematian dapat berkisar antara 0-20%. Selain itu,
kejadian penyakit ini dapat menyebabkan penurunan produksi telur dan penurunan
berat badan. Kerugian yang lain adalah meningkatnya biaya pengobatan.
 Kronis
Pada bentuk kronis, dimana penyakit berlangsung lama (berminggu-
minggu hingga berbulan-bulan) dengan virulensi bakteri rendah. Gejala yang
nampak sehubungan dengan adanya infeksi lokal pada pial, sendi kaki, sayap dan
basal otak. Gejala yang terlihat biasanya terjadinya pembengkakkan pada pial,
infeksi pada kaki (Glisson et al, 2003).
2.4 Diagnosa
Diagnosa penyakit ini dapat dilakukan dengan melihat gejala atau tanda
klinis. Selain itu untuk meneguhkan diagnose yang kita curigai dapat dilakukan
nekropsi untuk pemeriksaan patologi berdasarkan patologi anatomi dan
histopatologi.
2.4.1 Tindakan Nekropsi pada Unggas yang diduga Fowl Cholera
Sebelum dilakukan tindakan nekropsi unggas yang diduga terkena Fowl
Cholera sebaiknya dianamnesa melalui keterangan pemiliknya. Kemudian
diobservasi keadaan luar unggas seperti keadaan bulu, pangkal bulu, kulit,
bulu sekitar kloaka, kepala, paruh,kaki, maupun abnormalitas lain yang

7
tampak mulai dari kepala sampai ujung jari kaki. Setelah melakukan
pengamatan secara menyeluruh, cobalah menekan bagian sekitar lubang
hidung dan amati apakah ada cairan yang keluar dari lubang hidung tersebut.
Dalam melakukan nekropsi fowl cholera sebaiknya yang digunakan adalah
ayam yang telah mati namun belum terlalu lama sehingga reaksi pembusukan
tidak mempengaruhi hasil diagnose. Jika ayam yang akan kita amati masih
dalam keadaan hidup maka harus dieutanasi terlebih dahulu.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk nekropsi pada bangkai ayam
tersebut adalah sebagai berikut:
 Dicelupkan bangkai ayam tersebut kedalam ember yang berisi air kecuali
leher dan kepala, tujuannya untuk memudahkan pada saat akan melakukan
nekropsi dan agar bulunya tidak berterbangan.
 Potong paruh bagian atas untuk melihat sinus dan rongga hidung.
 Letakkan bangkai dengan posisi dorsal recumbensi dilakukan penyayatan
pada kedua selangkangan paha ayam.
 Buka dan kuakkan kulit dari perut sampai bagian dada dan amati perubahan
jaringan subkutan.
 Buka rongga abdomen, diperhatikan saccus abdominalis dan rongga abdomen
apakah terjadi ascites atau tidak.
 Dipotong sendi diantara coste da sternum (cartilage intercostalis) untuk
membuka rongga dada. Perhatikan kantong udara, rongga dada dan letak dari
setiap organ apakah masih dalam keadaan normal atau tidak.
 Keluarkan usus, ventrikulus, proventrikulus, hati, limpa, dan kantung empedu.
Lakukan pemeriksaan pada setiap organ yang di angkat.
 Buka oesophagus dan trakea dengan melakukan pemotongan dari rongga
mulut dan amati perubahannya.
 Keluarkan paru-paru dan jantung serta lakukan pemeriksaan.
 Ginjal diamati di dalam rongga abdomen
 Periksa Nervus Ischiadicus yang terdapat kedua dipaha.

8
 Buka bagian kepala untuk melihat adanya perubahan di otak.
 Tulis semua perubahan yang terjadi pada organ dan tentukan diagnosa.
2.4.2 Pemeriksaan Patologi Anatomi
Pemeriksaan perubahan patologi anatomi fowl cholera pada unggas bervariasi
tergantung species unggas yang terserang, strain agen penyakit, dan
predileksi. Perubahan anatomi pada organ-organ penderita yang terserang
kolera unggas ini yang paling mencolok adalah pada jantung, baik pada
epikardium, miokardium, maupun pada endokardium tejadi perdarahan yang
berbentuk ptechiae echimosa. Perdarahan seperti itu juga terdapat pada usus
dan ginjal. Pada paru-paru, di samping terjadi perdarahan juga terjadi
peradangan (pneumonia). Pada hati ditemukan bintik-bintik putih, di bawah
kulit dijumpai adanya penimbunan cairan atau yang sering disebut dengan
odema (Solfaine, 2010). Berikut adalah gambaran lesi patologi anatomi Fowl
Cholera pada unggas.

Gambar 2. Dalam bentuk kronis kolera unggas, unggas yang bertahan infeksi
akut atau unggas terkena strain virulensi rendah Pasteurella multocida, sering
terjadi pembengkakan pial, sinus, bantalan kaki, bursa sternum, dan sendi.
Ayam ini memiliki abses besar di pial yang tepat sebagai akibat dari infeksi
lokal.

9
Gambar 3. Dalam bentuk kronis kolera unggas, unggas dapat menunjukkan tortikolis

Gambar 4. Eksudat purulen dapat ditemukan dalam pembengkakan wajah terkait


dengan kolera unggas kronis. Di sini, pial itu ditusuk dan sampel swab diambil untuk
kultur bakteri, sehingga isolasi Pasteurella multocida.

10
Gambar 5. Pada kalkun lesi khas berupa eksudat caseus berwarna kuning pada sinus

Gambar 6. Fowl Cholera kronis menyebabkan pada kaki dengan eksudat caseus
berwarna kuning jika di insisi

11
Gambar 7. Kolera unggas sering menyebabkan infeksi lokal sendi hock. Di sini,
eksudat caseous dapat dilihat atas wilayah hock.

Gambar 8. Pembengkakan bursae sternum adalah kondisi fowl cholera yang kronis

12
Gambar 9. Pada kasus akut patologi vaskuler umum ditemukan,. Terlihat pada
gambar, pendarahan mukosa (hemoragi) pada permurkaan serosa usus

Gambar 10. Hemoragi pada mukosa usus

13
Gambar 11. Kongesti lumen usus pada kasus fowl cholera akut

Gambar 12. Gambar ini menunjukkan paru-paru kalkun terinfeksi Pasteurella


multocida. Paru-paru kiri memiliki akumulasi eksudat fibrinous di permukaan pleura
nya. Pada kalkun, pneumonia juga merupakan temuan umum yang terkait dengan
kolera unggas.

14
Gambar 13. hemoragi subepicardial dan petechiae terlihat pada jantung dan coroner
lemak

Gambar 14. Perikarditis fibrinous dan perihepatitis pada bentuk fowl cholera akut

15
Gambar 15. Pembengkakan pada liver unggas yang terserang foel cholera

Gambar 16. Pembengkakan hati dan koagulatif nekrosis

16
Gambar 17. Dalam kolera unggas, lesi ovarium dapat mencakup hiperemia dan
folikel matang lembek. Ovarium ayam ini dengan kolera unggas akut menunjukkan
hiperemia parah membran folikel.

Gambar 18. Kolera unggas akut menunjukkan nekrotik, cacat, dan folikel ovarium
berubah warna.

17
Gambar 19. Adanya eksudat caseous kuning di air sac a dari tulang tengkorak, yang
ditunjukkan di ujung pointer, khas infeksi Pasteurella multocida kronis.

Gambar 20. Kolera unggas kronis. Foto ini menunjukkan derajat yang berbeda
akumulasi eksudat caseous di tulang tengkorak, seperti yang terlihat pada bagian
sagital.

18
2.4.3 Histopatologi
Organ-organ yang mengalami perubahan secara patologi anatomi
difiksasikan ke dalam larutan Formalin 10% (1:10) selama 24 jam. Kemudian
lakukan pembuatan preparat sebagai berikut:
 Pemotongan organ menjadi lebih kecil untuk mempermudah pembuatan
preparat (3-5 mm), fiksasi potongan organ kedalam larutan Formalin 10%
selama 24 jam.
 Dehidrasi dengan larutan Aseton I selama 1,5 jam dan dilanjutkan dengan
Aseton II selama 1,5 jam.
 Clearing dengan Kloroform I selama 1,5 jam dan dilanjutkan dengan
Kloroform II selama 1,5 jam.
 Infiltrasi dengan Kloroform-Paraffin selama 1,5 jam dan dilanjutkan dengan
Paraffin selama 1,5 jam.
 Blok preparat dengan Paraffin blok sampai membeku/mengeras.
 Pemotongan dilakukan dengan Mikrotom dengan ketebalan potongan 5
mikro meter.
 Hasil potongan diletakkan di atas air hangat pada waterbath kemudian
ditempelkan pada gelas objek yang sudah dilumuri dengan Albumin yang
telah dicampur dengan Gliserin sebagai perekat dan dikeringkan.

Pewarnaan.
 Xylol I 2 menit
 Xylol II 2 menit
 Alkohol Absolute I 2 menit
 Alkohol Absolute II 2 menit
 Alkohol 96% I 2 menit
 Alkohol 96% II 2 menit
 Alkohol 90% I 2 menit
 Alkohol 90% II 2 menit

19
 Air 1-2 menit
 Hematoxylin 5-15 menit
 Air mengalir sampai warna bening
 Acid Alkohol 3x celup
 Aquadestilata 4x celup
 Eosin 15 detik – 2 menit
 Air 3x celup
 Alkohol 96% I 1 menit
 Alkohol 96% II 1 menit
 Alkohol Absolute I 1 menit
 Alkohol Absolute II 1 menit
 Xylol I 2 menit
 Xylol II 2 menit
 Balsam Canada secukupnya
Secara histopatologis, pada organ hati dan paru- paru ditemukan infiltrasi sel
radang terutama netrofil, makrofag, sel hepatosit nekrosa, eksudat fibrin, dan
trombus dalam pembuluh darah. Jika serangan sangat ganas, di bagian hati
akan ditemukan goresan yang berhamburan. Selanjutnya akan membentuk
luka kecil berlubang atau corn meal liver. Fili-fili usus menebal hingga usus
mirip handuk (Setiyawan, 2010 ).

Gambar 21. Acute Fowl Cholera. Coagulative Areactive Necrosis (N) In The
Liver Of A Hen. Multiple Nuclear Debris Among The Necrotic Tissue. H/E,
Bar = 35 Μm.

20
2.5 Pengendalian, Pengobatan, dan Pencegahan
Untuk mengontrol secara efektif kolera unggas pada ayam komersial agar
mengurangi kerugian ekonomis, harus dilakukan pencatatan/recording yang baik,
meliputi kasus infeksi kolera sebelumnya, monitoring hewan-hewan sekitar
kandang, seperti burung migran, itik/entok dan hewan mamalia lain (anjing/babi).
Sumber kuman dan rute penularan harus segera diketahui sehingga dapat dilakukan
pemberantasan secara tuntas dan menyeluruh di daraeah peternakan.
Pada penggunaan antibiotika yang tidak diatur secara benar, dapat
membunuh hampir semua strain kuman yang menginfeksi tetapi tidak dapat
membunuh kuman yang berada di lingkungan peternakan sekitarnya. Setelah
pemberian (pengobatan) antibiotika tertentu (misalnya gol. Pinisilin/Enrofloksasin)
pada kasus kolera unggas, akan memberikan efek penyembuhan yang kurang
memuaskan pada kelompok ternak sehingga perlu dilakukan identifikasi kuman
penyebab sesungguhnya. Jadi uji sensitifitas kuman terhadap antibiotika sangat
penting dilakukan untuk hasil pengobatan penyakit ini.
Pencegahan terbaik terhadap penyakit kolera unggas adalah aplikasi sistem
biosekuriti. Seluruh komponen dan langkah-langkah sistem biosekuriti diperlukan
untuk mencegah masuknya penyakit kedalam kandang baik yang berasal dari
peralatan kandang, petugas kandang dan pakan. Perlu di anjurkan bagi orang-orang
yang berkepentingan saja dapat masuk kedalam wilayah peternakan, dengan
pemakaian baju dan perlengkapan sepatu serta tutup kepala khusus daerah kandang.
Selain itu aplikasi desinfeksi bagi petugas dan peralatan kandang sangat berperan
dalam mencegah penularan.
Ayam tertular merupakan sumber penyebaran panyakit sehingga harus
dicegah masuknya ayam dari luar peternakan. Pada pengunaan pejantan muda
(spike) harus berasal dari kandang yang sehat dan mempunyai catatan bebas dari
infeksi kolera unggas. Sehingga idealnya dalam satu kawasan peternakan,
menggunakan kelompok ayam satu umur (one age of birds) tetapi apabila terdapat
beberapa jenis ayam (multiage) maka harus diterapkan biosekuriti yang ketat dan
disiplin.

21
Apabila memungkinkan vaksin dapat digunakan untuk pencegahan infeksi
penyakit kolera unggas. Beberapa jenis vaksin dapat digunakan baik berupa vaksin
aktif (kuman dilemahkan) dan vaksin inaktif (kuman dimatikan). Keduanya
mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam hal cara pemakaian, daya proteksi
dan titer antibodi yang dihasilkan. Hal tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi
peternakan yang bersangkutan.

22
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Fowl cholera atau kolera unggas adalah penyakit bakterial yang disebabkan
oleh Pasteurella multocida menyerang sistem pernapasan dan sistem pencernaan.
Diagnosis penyakit dapat dilakukan dengan Diagnosa penyakit ini dapat dilakukan
dengan melihat gejala atau tanda klinis. Selain itu untuk meneguhkan diagnose
yang kita curigai dapat dilakukan nekropsi untuk pemeriksaan patologi berdasarkan
patologi anatomi dan histopatologi. Lesi patologi anatomi yang terlihat berupa
hiperemi, hemoragi pada organ hati, paru, trakhea, usus, ovarium, proventrikulus,
serta adanya eksudat caeosa pada air sac dan secara histapotologis terlihat infiltrasi
sel radang seperti neutrofil serta ditemukan bakteri Pasturella multocida.

3.2 Saran

Nekropsi pada penyakit Fowl cholera agar dilakukan secara tepat dan benar
agar didapatkan diagnosis yang tepat terhadap diagnosis. Selain itu juga perlu
pengetahuan yang lebih mengenai lesi-lesi khas dari penyakit Fowl cholera.

23
DAFTAR PUSTAKA

Anonimus, 2009. Kolera. http://info.medion.co.id. Medion Edisi Juni.

Cornell University College of Veterinary Medicine. 2012. Atlas of Avian Disease pada
http://partnersah.vet.cornell.edu/avian-atlas/#/disease/Fowl_Cholera diakses
pada tanggal 10 Maret 2015

Davis, R. L. (2004). Gentic diversity amoung Pasteurella multocida strains of avian,


bovine, ovine and porcine origin from England and Wales by comparative
sequence analysis of the 16s rRNA General Microbiology 150: 4199-4210.

Departement Of Natural Resource. 2001. Fowl Cholera. http://www.michigan.gov


/dnr/.

Kalaydari, G., M.H. Bozorgmehrifard, and A.M. Tabatabaei. 2004. Isolation and
identification of Pasteurella multocida in breeder stocks. J. Faculty Vet. Med.
Univ. Teheran. 59:63-65.

Glisson, J. R., Hofacre, C.L., and Christensen, J. P. (2003). Fowl cholera. In: Saif, Y.
M., Barnes, H. J., Glisson, J. R., Fadly, A. M., McDougald, L. R., Hablolvarid,
et al / Swayne, D. E (Eds.), Diseases of poultry ( 11th edn). Pp: 658-676. Iowa
state press, USA.

Pab-Garnon, L.F. and M. A. Soltys. 1971. Multiplication of Pasteurella multocida in


the spleem, liver and blood of turkeys inodbted intravenously. Can. J. Comp.
Med. 35:147-149.

Parveen, Z., A.A. Nasir, K. Tasneem, and A. Shah. 2004. Fowl cholera in a breeder
flock. Pakistan Vet. J. 24:1-5. Poernomo, S. dan A. Sarosa. 1996. Isolasi
Pasteurella multocida dari ayam pedaging. JITV. 2(2):132-136.

24
Priadi.A dan L. Natalia. 2009. Karakteristik Isolat Pasteurella multocida yang Diisolasi
dari Kasus Kolera Unggas di Peternakan Pembibitan Ayam. Balai Besar
Penelitian Veteriner. Bogor.

Pyone, P. A., Morishita, T. Y., and Angrick, E. J. (1999). Virulence of raptor-origin


pasteurella multocida in domestic chickens. Avian Diseases 43: 279-285.

Ressang. A. A, 1986. Penyakit Viral Pada Hewan. Universitas Indonesia, Jakarta.

Rhoades, K.R. and R.B. Rimier. 1991. Diseases of Poultry. Iowa State University
Press, Ames.

Rimler, R. B., Rhoades, K. R. (1989). Fowl cholera. In: C. adlam and J. M. Rutter(
Eds), pasteurella and pasteurellosis. Pp: 95-113. Academic press, London,
united kingdom.

Setyawan,I. 2010. Bahan Kuliah Medion. http://ivan-


setyawan.blogspot.com/2010_09_14_archive.html diakes pada tanggal 10
Maret 2015

Solfaine, R. 2010. Kolera Unggas Pada Ayam Pembibitan. Patologi Anatomi FKH.
http://fkhuwks.wordpress.com/karya-tulis- dosen/ diakes pada tanggal 10
Maret 2015

Snipes, K.P., G.Y. Gbazilbanian, and D.C. Hirsh. 1987. Fate Pasteurella multocido in
the blood vaskular system of turkeys after doing intravenous inoculation:
Comparison of an virulent strain with its avirulent. Avian Dis. 31:254-259.

Woo, J.K. and J.K Kim. 2006. Fowl cholera outbreak in domestic poultry and
epidemiological properties of Pasteurella multocida isolate. J. Microbiol.
44:344-353.

25

Anda mungkin juga menyukai