Anda di halaman 1dari 7

TUGAS TEORI DAN PRAKTIK AKUNTANSI KEUANGAN

“BAB VII KEWAJIBAN”


Oleh :
HARRY JOSUA TAMPUBOLON (417072)
NURALITA ARYANI RACHMAN (417080)
REVMIANSON NAIBAHO (417083)

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
SLEMAN, D.I. YOGYAKARTA
2017
7. Apakah transaksi atau kejadian berikut dapat dipandang sebagai transaksi atau kejadian
masa lalu yang menimbulkan kewajiban? Bila menimbulkan kewajiban, akun apa yang harus
di kredit?

a. PT Abeko dituntut secara resmi oleh seorang peneliti atas pelanggaran hak kekayaan
intelektual.
b. Suatu perusahaan menempatkan order pembelian bahan baku kepada pemasok.
c. PT ABC menandatangani kontrak kerja dengan beberapa pegawai baru untuk masa
percobaan dua tahun. Bila tidak lulus masa percobaan, pegawai tersebut akan
diberhentikan.
d. PT merapi menerima pembayaran penuh di muka dari seorang pelanggan untuk
produk yang dipesannya hari ini. Produk baru akan jadi dan dikirim dua bulan
mendatang.
e. Suatu perusahaan menerbitkan utang obligasi 10 tahun dengan bunga 10% pada 1
agustus 2000. Bunga dibayar tiap 1 agustus. Sekarang ini adalah tanggal 31 desember
2004. Tahun buku perusahaan adalah tahun kalender.

Jawaban:
a. Kasus PT Abeko yang menghadapi tuntutan termasuk hal yang dapat menimbulkan
kewajiban tetapi tidak perlu diakui sebagai kewajiban dalam neraca. Kasus ini termasuk
dalam kewajiban bergantung atau bersyarat yaitu, keharusan yang pemenuhannya (jumlah
rupiahnya atau jadi-tidaknya dipenuhi) tidak pasti karena bergantung pada kejadian masa
datang atau terpenuhinya syarat-syarat tertentu di masa datang. PT Abeko belum memiliki
kepastian dalam menghadapi tuntutannya karena ada dua kemungkinan dalam persidangan
nantinya yaitu, PT Abeko bisa dinyatakan bersalah tetapi juga bisa dinyatakan tidak
bersalah. Jika dinyatakan bersalah maka masalah selanjutnya adalah berapa denda atau
sanksi (jumlah rupiah) yang ditetapkan oleh putusan hakim. Jadi, selama menghadapi
tuntutan PT Abeko memiliki kewajiban kontijensi tetapi tidak perlu dimasukkan dalam
neraca karena munculannya belum pasti dan jumlah rupiah belum bisa diukur. Setelah
keluar putusan hakim dan jumlah rupiah dapat diukur maka selanjutnya dapat dimasukkan
kedalam laporan keuangan. Menurut pendapat yang lain mungkin gugatan perdata (dalam
kasus ini tuntutan atas hak cipta) dapat langsung diakui dalam laporan keuangan sebagai
rugi potensial yang memicu pencatatan kewajiban atas dasar konservatisme. Tetapi secara
konseptual kewajiban akan timbul jika munculan atas suatu peristiwa sudah cukup pasti
dan menurut penulis munculan dari kasus ini belum cukup pasti. Oleh karena itu intinya,
tidak semua kewajiban yang timbul akibat keharusan sekarang dapat diakui sebagai
kewajiban.

b. Pada situasi seperti ini, order pembelian bahan baku kepada pemasok tidak termasuk
kejadian yang menimbulkan kewajiban. Hal semacam ini dapat dikaitkan dengan konsep
hak-kewajiban tak bersyarat (unconditional right of offset) yaitu konsep yang menyatakan
bahwa walaupun kontrak telah ditanda tangani (dalam kasus ini order pembelian atau
purchase order), salah satu pihak tidak mempunyai kewajiban apapun sebelum pihak lain
memenuhi apa yang menjadi hak pihak lain. Bila perusahaan sebagai pembeli
menandatangani order pembelian, pada saat itu pembeli tidak mempunyai kewajiban
apapun sampai barang yang dipesan datang dan dikuasai pembeli walaupun jenis, kuantitas,
harga, waktu pengiriman barang sudah jelas. Dalam hal ini, transaksi atau kejadian masa
lalu bukanlah penandatanganan order tetapi datangnya dan penerimaan barang.

c. Situasi seperti ini termasuk kejadian yang menimbulkan kewajiban dan akun yang harus
dikreditkan adalah utang gaji. Alasannya karena dengan adanya kontrak kerja dengan
pegawai baru maka perusahaan memiliki hak untuk menerima kontribusi dari para pegawai
baru. Akibatnya, setelah perusahaan mendapatkan haknya maka timbul kewajiban yaitu
membayar gaji dari para pegawai baru. Hal ini juga dapat dikategorikan sebagai kewajiban
yang timbul akibat keharusan kontraktual yaitu, keharusan yang timbul akibat perjanjian
atau peraturan hukum yang didalamnya kewajiban bagi suatu kesatuan usaha dinyatakan
secara eksplisit atau implisit dan mengikat. Jadi, kontrak pegawai baru adalah perjanjian
yang bersifat mengikat. Jika di dalam kontrak tersebut menyatakan bahwa “kontrak kerja
dengan beberapa pegawai baru untuk masa percobaan dua tahun. Bila tidak lulus masa
percobaan, pegawai tersebut akan diberhentikan.” Berarti kewajiban perusahaan untuk
membayarkan gaji kepada para pegawai baru selama masa percobaan tersebut hanya
berlaku sampai sampai dua tahun jika tidak lulus masa percobaan dan kemudian kewajiban
tersebut dihapuskan. Tetapi jika para pegawai baru lulus masa percobaan maka perusahaan
tetap memiliki kewajiban untuk membayar gaji atas kontribusi pegawai yang telah diterima
oleh perusahaan.

d. Kasus PT Merapi merupakan kejadian yang menimbulkan kewajiban dan akun yang harus
di kreditkan adalah pendapatan takterhak atau unearned revenue. Kewajiban yang timbul
dalam kasus ini terjadi karena keharusan kontraktual yaitu, yaitu, keharusan yang timbul
akibat perjanjian atau peraturan hukum yang didalamnya kewajiban bagi suatu kesatuan
usaha dinyatakan secara eksplisit atau implisit dan mengikat. Munculan (outcome) dari
kasus ini bersifat cukup pasti (probable) karena kesepakatan telah dicapai sehingga sudah
cukup jelas jumlah dan waktu pengorbanannya. Kesepakatan telah tercapai dapat
dibuktikan dengan informasi yang menyatakan bahwa PT Merapi telah menerima order
barang dan juga membayarkan uang muka secara penuh, sementara perusahaan akan
mengirimkan produk dua bulan mendatang.

e. Kasus (e) dapat dikategorikan sebagai kejadian yang dapat menimbulkan kewajiban dan
akun yang harus dikreditkan adalah utang bunga dan utang obligasi. Kewajiban utang
bunga dan utang obligasi timbul karena keharusan kontraktual yaitu, keharusan yang timbul
akibat perjanjian atau peraturan hukum yang didalamnya kewajiban bagi suatu kesatuan
usaha dinyatakan secara eksplisit atau implisit dan mengikat. Kewajiban ini muncul karena
aspek hukum sebagai lingkungan eksternal tidak dapat dihindari (unavoidable) dan yang
dapat memaksakan secara hukum untuk memenuhinya (legally enforceable). Penghindaran
kewajiban (utang bunga dan utang obligasi) dari keharusan kontraktual menimbulkan
sanksi atau hukuman (penalty). Dan pihak yang harus dilunasi pada umumnya sudah jelas
(identifiable) dan bukti tentang adanya keharusan ini biasanya didukung oleh dokumen
tertulis sehingga keterverifikasiannya tinggi. Kewajiban obligasi juga mempunyai
munculan yang cukup pasti karena pengorbanan sumber ekonomik masa datangnya cukup
pasti dalam hal keterukuran dalam jumlah rupiah dan jadi-tidaknya.

11. Untuk entitas non-profit, apakah aset bersih (net asset) merupakan suatu kewajiban?
Jawaban:
Menurut kelompok kami untuk entitas baik itu non-profit maupun profit, aset bersih merupakan
suatu kewajiban. Hal ini dikarenakan kewajiban sebenarnya merupakan bayangan cermin dari
defenisi aset. Transaksi, kejadian, dapat mempengaruhi aset atau kewajiban secara bersamaan
karena konsep kesatuan usaha yang mendasari sistem berpasangan. Konsep hak-kewajiban tak
bersyarat sebenarnya juga mengatakan bahwa dalam hal tertentu adanya aset harus diimbangin
dengan timbulnya kewajiban atau sebaliknya timbulnya kewajiban harus diimbangi akses atau
kendali terhadap suatu aset. Walaupun demikian, perubahan aset tidak selalu disertai dengan
perubahan kewajiban. Dalam hal aset, transaksi atau kejadian masa lalu menimbulkan
penguasaan sekarang terhadap manfaat ekonomik masa dating yang cukup pasti. Dalam hal
kewajiban, transaksi atau kejadian masa lalu menimbulkan keharusan sekarang untuk
pengorbanan manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti.

20. Suatu perusahaan menerima kontrak untuk membuatkan suatu barang dengan nilai kontrak
Rp100.000.000. Pada saat penandatanganan kontrak, perusahaan menerima pembayaran penuh
kontrak tersebut (Rp100.000.000). Perusahaan dapat mengestimasi dengan cukup teliti bahwa
kos produksi barang tersebut adalah Rp70.000.000. Berapakah besarnya kewajiban yang harus
dicatat pada saat penandatanganan kontrak?
Jawaban:
Ada terdapat dua kemungkinan besarnya kewajiban yang harus dicatat oleh perusahaan pada
saat terjadinya penandatanganan kontrak berdasarkan kasus diatas:
- Kas Rp100.000.000
Kewajiban menyerahkan barang Rp100.000.000
- Kas Rp100.000.000
Kewajiban menyerahkan barang Rp 80.000.000
Laba tangguhan Rp 20.000.000
Sebagai bagian dari operasi perusahaan secara keseluruhan, penerimaan uang muka lebih tepat
bila diperlakukan seluruhnya sebagai kewajiban. Hal ini dikarenakan keharusan menyerahkan
barang dan jasa merupakan bagian dari operasi perusahaan secara keseluruhan sehingga barang
dan jasa dinyatakan dalam harga jual dari kaca mata kedua pihak yang bertransaksi. Dengan
demikian, pembayaran di muka merupakan pendapatan tangguhan yang menunggu penyerahan
barang bukan jumlah untuk menutup kos barang. Dengan demikian, apabila yang ditanyakan
besarnya kewajiban yang dicatat pada saat penandatanganan kontrak, maka besarnya adalah
sejumlah keharusan yang harus diserahkan baik itu dalam bentuk barang maupun jasa.

22. Suatu perusahaan meminjam uang Rp100.000.000 dari suatu bank pada 20 Desember 2004
dan bersepakat akan melunasinya dengan menyerahkan 1000 lot saham perusahaan pada 20
januari 2005. Harga pasar saham saat itu diperkirakan Rp101.000 per lot. Bank menyepakati
hal tersebut. Apakah pada 31 desember 2004 terdapat kewajiban?
Jawaban:
Menurut penulis sudah terdapat kewajiban pada tanggal 31 Desember 2004 sebesar
Rp101.000.000 yang nilainya setara dengan 1000 lot pada saat itu. Kewajiban ini muncul
karena kedua pihak sudah bersepakat dan memiliki perikatan. Munculan dari kontrak ini cukup
pasti karena salah satu pihak yakni bank telah memberikan uangnya (kas) kepada perusahaan.
Artinya, perusahaan telah menerima haknya yaitu aliran masuk kas akibat peminjaman dana.
Karena perusahaan telah menerima haknya maka perusahaan harus melakukan kewajibannya
sesuai dengan kontrak yaitu memberikan 1000 lot saham sebagai pengganti dari kas yang
dipinjam. Jadi, setelah kontrak tersebut dinyatakan cukup pasti dan dapat diukur dalam unit
moneter maka kewajiban akan timbul (diakui) pada laporan keuangan sejak tanggal
kesepakatan kontrak dilakukan (dalam kasus ini tanggal 20 Desember 2004) dan akan
dihapuskan sampai kewajiban itu telah di bayarkan atau dilunasi (dalam kasus ini tanggal 20
Januari 2005).

33. Apakah yang dimaksud dengan obligasi terkonversi dan masalah akuntansi apa yang
dihadapi akuntansi pada saat pengakuan, pengkonversian, dan pelunasan?
Jawaban:
Obligasi terkonversi adalah merupakan salah satu instrument fnansial dimana instrument
finansial pada dasarnya merupakan alat pembayaran atau penjaminan sehingga dapat
digunakan oleh pemegangnya untuk melunasi utang. Obligasi terkonversi pada umumnya
diterbitkan untuk menarik para investor karena dapat menggeser risiko atau mengubah status
sekuritas menjadi lebih menguntungkan. Hendriksen dan van Breda (1991, hlm 688)
menunjukkan bahwa obligasi terkonversi mempunyai karakteristik sebagai berikut:
- Tingkat bunga nominal jauh dibawah tingkat bunga pasar untuk obligasi biasa yang setara.
- Harga konversi yang ditetapkan lebih tinggi dari harga pasar saham biasa.
- Harga konversi tidak pernah menurun selama masa hak konversi kecuali karena
penyesuaian yang diperlukan akibat pengambilan hak yang melekat pada saham biasa
seperti dalam hal terjadi pemecahan saham atau dividen saham.
Masalah yang dihadapi akuntansi pada saat:
- Pengakuan.
Masalahnya adalah apakah harga penerbitan (kos) obligasi harus dipecah menjadi porsi
yang merepresentasi utang obligasi (masuk kewajiban) dan porsi yang merepresentasi hak
konversi (masuk ekuitas sebagai modal setoran/paid in capital) atau harga penerbitan tidak
dipecah dan utang terkonversi dianggap utang semata-mata.
- Pengkonversian.
Masalahnya adalah bila obligasi dikonversi segera, perusahaan akan kehilangan
kesempatan untuk memanfaatkan penghematan pajak (tax shield).
- Pelunasan.
Masalahnya adalah pelunasan bukan merupakan hal yang diharapkan oleh penerbit (dalam
likuidasi, utang lebih diprioritaskan). Penerbit lebih mengharapkan konversi dimasa datang
pada saat harga saham menaik dan melebihi harga konversi.

Sumber:
Suwardjono, 2005, Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan Edisi Ketiga,
Yogyakarta, BPFE Yogyakarta.