Anda di halaman 1dari 24

BAB II

ANALISA SITUASI RUANGAN

A. Windshield Survey

Windshield survey merupakan pengamatan terhadap suatu wilayah untuk

mendapatkan gambaran umum situasi dan keadaan suatu wilayah, yang

didapatkan melalui wawancara dengan penduduk atau individu disuatu wilayah

dan observasi lingkungan. Dalam hal ini, penulis melakukan winshield survey

yang bertempat di Ruang Aster RSUP Dr. M.Djamil Padang.

RSUP DR. M. Djamil Padang didirikan pada tahun 1953. RSUP Dr. M.

Djamil Padang merupakan rumah sakit umum pusat milik pemerintah yang

melaksanakan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan salah satu rumah

sakit dengan akreditasi KARS International Bintang 6 dengan peralatan medis

terlengkap di Sumatera bagian tengah yang berlaku sampai Desember 2021.

Rumah sakit ini merupakan rumah sakit pemerintah yang merupakan rumah

sakit rujukan untuk wilayah Sumatera bagian Tengah. Selain sebagai rumah

sakit rujukan, rumah sakit ini juga berperan sebagai rumah sakit pendidikan.

RSUP Dr. M. Djamil Padang memiliki pelayanan IGD 24 jam, rawat jalan

(Poli pagi, poli sore dan poli eksekutif ), bedah central, instalasi anestesiologi

dan perawatan intensive (ICU/CVCU/PICU/NICU), perinatologi, hemodialisa,

instalasi rehabilitasi medis/fisioterapi, instalasi radiologi, laboratorium,

Medical Check Up, radiologi danrawat inap. Rawat inap itu sendiri terdiri dari

rawat inap kelas 3, kelas 2 dan kelas 1. Rawat inap kelas 1 itu sendiri berada di
ruangan masing-masing dan juga berada pada satu paviliun yang dikenal

dengan paviliun Ambun pagi.

Paviliun Ambun pagi melayani peserta BPJS kesehatan kelas 1 maupun

VIP. Ruangan Ambun Pagi memiliki 3 ruangan yang dikepalai oleh 1 Ka

Instalasi, 1 Ka SPF, 1 Pengelola Perawat (PP) dan masing-masing ruangan di

kepalai oleh kepala ruangan (KARU). Ruangan yang ada di Ambun Pagi

tersebut adalah Ruangan Aster, Bogenvile, Dahlia dan Anyelir. Masing-masing

ruangan memiliki petugas pelaksana masing- masing yang dibagi shift pagi,

sore, dan malam.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, di Ruangan Aster memiliki

kapasitas 25 tempat tidur dengan 18 kamar rawat inap. Di Ruangan Aster

terdapat fasilitas seperti counter perawat,ruangan admisi umum, ruangan

peracikan obat, depo farmasi, ruangan gizi, ruangan kain kotor. Jumlah tenaga

perawat 27 orang, dengan tingkat pendidikan S1 dan Ners 15 orang, dan D3

keperawatan 12 orang. Pembagian peran dan tugas di ruang aster dibagi atas 1

orang karu, 5 orang katim, dan 23 orang anggota tim dengan pembagian jadwal

dinas sebanyak 3 shift yaitu pagi, sore, dan malam. Model penyelenggaraan

asuhan keperawatan di Ruang Aster yaitu metode MPKP kombinasi dengan

metode fungsional. Pertanggung jawaban perawat pelaksana dibagi

berdasarkan tingkat ketergantungan pasien. Tugas dibagi dan di manajemen

oleh kepala ruangan dalam pembagiannya. Kepala ruangan hanya

memanajemen staf medis keperawatan. Staf non medis dimanejemenkan

kepala masing-masing.
Berdasarkan hasil winshield survey di Ruangan Aster Ambun Pagi RSUP

Dr. M. Djamil Padangpada tanggal 7-9 Oktober 2019, kelompok menemukan

ada beberapa masalah di Ruang Aster Ambun Pagi, yaitu :

1) Daftar Masalah

a. Belum Terlaksananya Penerapan Format Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan SDKI, SLKI dan SIKI

Dokumentasi keperawatan merupakan salah satu fungsi yang

paling penting dari perawat sejak zaman Florence Nightingle karena

berfungsi ganda dan beragam tujuan. Saat ini sistem pelayanan

kesehatan memerlukan dokumentasi yang menjamin kesinambungan

perawatan, melengkapi bukti hukum, proses keperawatan dan

mendukung kualitas perawatan pasien (Cheevakaesmook, 2006). Saat

ini masalah yang paling menantang dalam keperawatan adalah

bagaimana untuk mendokumentasikan perawatan pasien yang

berkualitas dengan berbagai kendala yang berkenaan dengan peraturan

hukum (Bjorvell, 2003).

Untuk melindungi tenaga perawat akan adanya tuntutan dari klien

perlu ditetapkan dengan jelas apa hak, kewajiban serta kewenangan

perawat agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan tugasnya serta

memberikan suatu kepastian hukum, perlindungan tenaga perawat. Hak

dan kewajiban perawat ditentukan dalam Kepmenkes 1239/2001 dan

Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Medik Nomor

Y.M.00.03.2.6.956 (Kepmenkes, 2001).


Berhubungan dengan pasal 63 ayat 4 UU no 36/2009 berbunyi

“Pelaksanaan pengobatan dan/atau perawatan berdasarkan ilmu

kedokteran atau ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga

kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu”. Yang

mana berdasarkan pasal ini keperawatan merupakan salah satu profesi

atau tenaga kesehatan yang bertugas untuk memberikan pelayanan

kepada pasien yang membutuhkan.

Berdasarkan undang-undang kesehatan yang diturunkan dalam

Kepmenkes 1239 dan Permenkes No. HK.02.02/Menkes/148/I/2010,

terdapat beberapa hal yang berhubungan dengan kegiatan keperawatan.

Adapun kegiatan yang secara langsung dapat berhubungan dengan

aspek legalisasi keperawatan: proses keperawatan, tindakan

keperawatan, inform consent, dan sebagainya (Kepmenkes, 2010).

Tambahin pembahasan mengenai sop askep yang ada yang

ditetapkan sop mjamil seperti apa, terus baru bikin berdasarkan

wawancara ke siapa gitu tntg kebijakan baru dgn menerapkan askep

berdasarkan sdki, dllnya. Buat kelebihan dari sdki, terus buat bahasa

bahwa karna sosialisasi blm menyeluruh, sehingga kelompok

membantu untuk memudahkan menerapkan pelaksanaan askep

berdasarkan sdki sesuai kebijakan baru yang akan dilaksanakan

nantinya.

Berdasarkan hasil wawancara kepada perawat diruangan bahwa

pemakaian SDKI sudah merupakan salah satu SOP rumah sakit untuk
diterapkan diruangan, dan beberapa perawat diruangan sudah pernah

mendapatkan pelatihan penerapan SDKI, SLKI, SIKI. namun

implementasi penerapan format SDKI, SLKI, SIKI belum terjalankan.

Diagnosis keperawatan telah diterapkan diberbagai rumah sakit

dan fasilitas kesehatan lainnya namun diperlukan terminology dan

indicator diagnosis keperawatan yang terstandarisasi agar penegakkan

diagnosis keperawatan menjadi seragam, akurat dan tidak ambigu untuk

menghindari ketidaktepatan pengambilan keputusan dan

ketidaksesuaian asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien (

Bunney, 2006; dalam SDKI 2016).

Walaupun telah terdapat beberapa standar-standar diagnosis

keperawatan yang telah diakui secara internasional, namun karena

standar-standar ini tidak dikembangkan dengan memperhatikan

disparitas budaya dan kekhasan pelayanan keperawatan di Indonesia,

maka standar-standar ini dinilai kurang sesuai untuk diterapkan di

Indonesia. Seperti yang diungkapkan oleh Potter & Perry 2013 bahwa

budaya klien akan mempengaruhi tipe masalah kesehatan yang dihadapi

dan menurut Wieck (1996) bahwa perbedaan budaya akan

mempengaruhi perawat dalam memilih indicator diagnostic

(tanda/gejala atau faktor risiko) dalam menegakkan diagnosis. Namun

demikian, standar-standar yang telah ada tersebut dapat menjadi

rujukan dan masukan dalam peyusunan Standar Diagnosis Keperawatan

di Indonesia.
Dalam rangka menindaklanjuti saran dari lokmin kelompok

sebelumnya tentang sosialisasi penerapan SDKI, SLKI, dan SIKI pada

seluruh perawat yang ada di embun pagi. Dari hasil pengamatan 7-9

Oktober 2019 di Ruang Aster ditemukan data dibawah ini :

1) Penegakan diagnosa masih mengacu pada NANDA, NOC, dan NIC,

tidak sesuai dengan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia yang

telah ada. Dari hasil observasi mahasiswa, dari 28 diagnosa

keperawatan yang ada di Ruangan Aster, semua penegakan

diagnosa keperawatan belum mengacu kepada SDKI (100 %).

2) Pendokumentasian asuhan keperawatan belum sesuai dengan

Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia yang telah ada. Dari hasil

observasi, dari 28 diagnosa keperawatan di Ruangan Aster belum

mendokumentasikan sesuai dengan SDKI (100%).

3) Keseluruhan asuhan keperawatan di ruangan Aster belum memakai

format perumusan SDKI, SIKI, SLKI.

b. Belum Optimalnya Edukasi Hak Dan Kewajiban Pasien Dan

Keluarga

Rumah sakit membangun kepercayaan dan komunikasi terbuka

dengan pasien. Hasil pelayanan pada pasien akan meningkat bila pasien

dan keluarga mengetahui hak dan kewajiban sebagai pasien dan

keluarga pasien.Keluarga pasien merupakan bagian dari tim pengobatan

dan perawatan. Para anggota keluarga menunggui secara bergantian,

bahkan sering menjaga menjaga bersama-sama.


Berdasarkan hasil wawancara kepada staf

Terus minta ke karu atau kspf tentang kebenaran seharusnya hak

dan kewajiban pasien hanya di admisi atau di ranap harus dijelaskan

kembali? Tanya tntg di dalam penilaian mutu pelayanan ada gak tntg

edukasi hak kewajiban pasien di ranap? Kalo ada dan tidak

dilaksanakan bisa diangkatkan masalahnya. Tapi kalo hanya cukup di

admisi selesai, maka tidak bisa diangkatkan.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada petugas

admissiondi paviliun embun pagi mengungkapkan bahwa hak dan

kewajiban pasien hanya dijelaskan di saat pasien registrasi di admission

2.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada perawat di

aster mengenai penjelasan hak dan kewajiban pasien saat pertama sekali

masuk keruangan ada dilakukan, media yang digunakan yaitu berupa

booklet,edukasi dilakukan secara langsung melalui lisan dari perawat

ruangan ke pasien dan keluarga.

Berdasarkan standar prosedur RSUP DR. M DJamil Padang mengenai hak

pasien an keluarga, dalam pelaksanaan penyampaian hak dan kewajiban keluarga,

rumah sakit menyiapkan keterangan tertulis tentang hak dan kewajiban pasien yang

diberikan pada saat diterima sebagai pasien rawat inap. Jika komunikasi tertulis

dengan pasien tidak efektif atau tidak tepat maka pasien dan keluarga diberi tahu

tentang hak dan serta kewajibannya dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh

mereka. Adanya kerjasama yang diatur rumah sakit untuk komunikasi dengan pasien

yang membutuhkan penerjemah.


Berdasarkan hasil wawancara dengan keluarga pasien sebanyak 5

orang keluarga pasien, kelompok mendapatkan data bahwa:

a. 3 dari 5 keluarga pasien tidak mengetahui hak dan kewajibannya.

b. 2 dari 5 keluarga pasien mendapatkan informasi dengan membaca

sendiri

c. 3 dari 5 keluarga pasien mengatakan belum optimalnya

penyampaian mengenai hak dan kewajiban


c. Belum Optimalnya Peran Manajer Perawat Di Ruang Rawat

Mengenai Pengelolaan Logistic Di Ruang Rawat

Tanya tntg IKT logistik ada atau tidak di feedback, di pantau,

dilengkapi di ruangan?

Tambahin materi tntg manajerial keperawatan di ruangan.

Tambahin fungsi dan peran siapa yg menjalankan.

Untuk menjamin peralatan medis dapat digunakan dan layak

dipakai, maka rumah sakit dapat melakukan inventarisasi peralatan

medis, melakukan pemeriksaan peralatan medis secara terartur,

melakukan uji fungsi perawatan medis sesuai dengan penggunaan dan

ketentuan pabrik, serta melakukan pemeliharaan preventif alat.


Dari hasil observasi di Ruang Aster ditemukan bahwa belum

adanya bahwa pelaporan pemakaian alat poct accu check yang

terdokumentasi terakhir pada tanggal 5 oktober, dan hal ini ditemukan

pada tanggal 10 oktober 2019, artinya belum efektifnya pemantauan

POCT ACCU CHECk yang berada diruangan dan tidak tercantumnya

tanda tangan oleh kepala ruangan.

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan

berbagai sasaran berikut menyatakan bahwa :

1. Logistic umum

“Pengamprahan logistik atau bahan dari logistik ruangan

dilakukan satu bulan sekali. Pengamprahan ini untuk alat

dan bahan yang dibutuhkan ruangan selama satu bulan,

tetapi jika terdapat alat atau bahan yang habis atau rusak,

logistik ruangan dapat melaporkan menggunakan bon

logistik yang akan diberikan pada bulan berikut.

Pengawasan barang yang sudah dikirimkan oleh gudang


umum ke logistik ruangan tidak ada di lakukan, karena ini

bukan bagian dari logistik umum”.

2. Logistik pavilium Ambun Pagi

3. “untuk mengisi barang ke ruangan dilakukan 2 kali dalam

sehari yaitu dipagi hari dan sore hari. Untuk lembar

pengisian jumlah barang yang di berikan oleh logistik ada

pada buku alat yang ada pada staf logistic, tanpa adanya

timbang terima kepada perawat ruangan, kepala tim serta

kepala ruangan.

4. Kepala ruangan

Kepala ruangan telah mendelegasikan penugasan logistik

baik pemeliharaan maupun pengawasan kepada staf yang

berada di logistik. Jadi yang bertanggung jawab terhadap

bagian logistik tersebut adalah staff yang telah ditunjuknya.

5. Perawat pelaksana 1

“diruangan te;ah ada jadwal penanggung jawab alat oleh

perawat, bila menemukan kekurangan alat

Berdasarkan data diatas ditemukan masalah diruangan paviliun

embun pagi adalah belum optimalnya peran manager perawat di ruang

rawat mengenai pegelolaan logistic diruang rawat. Menurut Nursalam

(2014) kepala ruangan adalah seorang perawat profesional yang diberi

wewenang dan tanggung jawab dan mengelola kegiatan pelayanan

perawatan di satu ruang rawat. Tugas pokok kepala ruangan


mengawasi dan mengendalikan kegiatan pelayanan keperawatan di

ruang rawat yang berada di wilayah tanggung jawabnya. Kebenaran,

ketepatan kebutuhan dan penggunaan alat adalah tanggung jawab dari

kepala ruangan. Salah satu bentuk uraian tugas kepala ruangan dalam

pengorganisasian adalah mengatur dan mengendalikan logistik

ruangan. Sementara itu, perawat sebagai pelaksana pelayanan

kesehatan di intasi kesehatan, tentunya memiliki tugas-tugas spesifik

yang dibebankan kepada mereka. Dalam memberikan asuhan

keperawatan yang optimal, tentunya tidak terlepas dari ketersediaan

peralatan medis yang dibutuhkan, bentuk peran dari perawat pelaksana

adalah menyiapkan, memelihara, menyiapkan alat agar siap pakai.

Berdasarkan Standar Prosedur Rumah Sakit RSUP Dr. M.

Djamil Padang, uraian tugas dari manjerial perawat adalah

menjalankan fungsi pergerakan dan pelaksanaan meliputi mengatur

dan mengkoordinir seuruh kegiatan pelayanan diruang rawat, melalui

kerjasama degan petugas lain yang bertugas diruang rawatnya,

menyusun rencana kebutuhan fasilitas keperawatan diruang rawat,

mengatur dan mengkoordinir pemeliharaan fasilitas keperawatan agar

selalu dalam keadaan siap pakai, serta mengawasi, mengendalikan dan

menilai pendayagunaan tenaga keperawatan, peralatan dan obat-

obatan, sehingga dengan terjalannya peran tersebut dapat

meningkatkan pelayan mutu Rumah sakit yang sesuai dengan standar

akreditasi suatu rumah sakit.


2. Validasi data
Kuesioner Observasi Wawancara
N
Masalah Pasien/ Staff
o Karu Katim PA Karu Katim PA Karu Katim PA
klrg lain
1 Belum terlaksananya - √ √ - √ √ √ √ √ √ -
penerapan diagnosa
keperawatan
berdasarkan SDKI,
SLKI dan SIKI

2 Belum optimalnya - - √ - √ √ - - √ √
edukasi hak dan
kewajiban pasien dan
keluarga
3 Belum optimalnya - √ √ - √ √ √ √ - - √
peran manajer perawat
di ruang rawat
mengenai pengelolaan
logistic di ruang rawat

3. Hasil Validasi Data


a. Data Demografi Perawat
Data Tingkat Usia Perawat DiRuangan Aster RSI Ibnu Sina Padang

7%

21-30 tahun
29%
31-40 tahun
> 40 tahun
64%
Dari 11 Responden, sebanyak 64 % (9 perawat) berumur 21-30

tahun, 29% (4 perawat) berumur 31-40 tahun, dan sebanyak 7% (1

perawat) berumur>40 tahun.

Data Jenis Kelamin Perawat Diruangan Marwa RSI Ibnu Sina


Padang

14%
Laki-Laki
Perempuan

86%

Dari 14 Responden, sebanyak 14% (2 perawat) berjenis kelamin

laki-laki, 86% (12 perawat) berjenis kelamin perempuan.

Data Tingkat Pendidikan TerakhirPerawat Diruangan Marwa RSI


Ibnu Sina Padang

7%

29% SPK

D3

S1 Ners
64%

Dari 14 Responden, sebanyak 7% (1 perawat) SPK, 64% (9

perawat) D/III, dan 29% (4 perawat) S1 Ners.


Data Status Kepegawaian Diruangan Marwa RSI Ibnu Sina Padang

7%

Tetap

Kontrak

93%

Dari 14 Responden, sebanyak 93% (13 perawat) pegawai tetap, dan

7% (1 perawat) pegawai kontrak.

Data Lama Bekerja Perawat di RSI Ibnu Sina

43% 0-5 tahun

57% > 6 tahun

Dari 14 Responden, sebanyak 43% (6 perawat) lama bekerja di RSI

Ibnu Sina Padang selama 0-5 tahun, dan57% (8 perawat) selama 6-10

tahun.
Data Tingkat Lama Bekerja Perawat di Ruang MarwaRSI Ibnu
Sina Padang

0%

0-5 tahun

> 6 tahun

100%

Dari 14 Responden, sebanyak 100% (14 perawat) bekerja di ruang

marwa selama 0-5 tahun, dan tidak ada perawat yang bekerja di ruang

marwa selama 6-10 tahun.

Data Perawat yang Mengikuti Pelatihan NANDA NOC NIC

7%

Ada

Tidak ada

93%

Dari 14 Responden, sebanyak 93% (1 perawat) ada mengikuti

pelatihan NANDA NOC NIC, dan 7% (1 perawat) belum pernag

mengikuti pelatihan NANDA NOC NIC.


d. Pengkajian Assesment Awal Resiko Jatuh Dengan Standar
Prosedur Operasional

Data Total Assessment Awal Resiko Jatuh

20%
Sesuai
Tidak Sesuai

80%

Dari 20 responden pasien, sebanyak 80% (16 pasien) memiliki

assessment awal yang tidak sesuai SOP, dan 20% (4 pasien) yang

memiliki assessment awal yang sesuai SOP.

Data Tindakan Pengetahuan Umum Resiko Jatuh

Sesuai
50% 50%
Tidak Sesuai

Dari 20 responden pasien, sebanyak 50% (10 pasien) memiliki

tindakan pengetahuan umum resiko jatuh yang tidak sesuai SOP, dan

50% (10 pasien) yang memiliki tindakan pengetahuan umum resiko jatuh

yang sesuai SOP.


Data Pengetahuan Perawat tentang Asuhan Keperawatan

20%
Sesuai
Tidak Sesuai

80%

Dari 20 responden pasien, sebanyak 80% (16 pasien) memiliki

intervensi resiko jatuh yang tidak sesuai SOP, dan 20% (4 pasien) yang

intervensi resiko jatuh yang sesuai SOP.

e. Pengetahuan Perawat Tentang Dokumentasi Asuhan


Keperawatan

Data Pengetahuan Perawat tentang Asuhan Keperawatan

9%

18% Tinggi
Sedang
73% Rendah

Dari 11 Responden, sebanyak 73% (8 perawat) memiliki

pengetahuan yang tinggi, 18% (2 perawat) memiliki pengetahuan yang

sedang, dan 9% (1 perawat) yang memiliki pengetahuan yang rendah.


Data Ketepatan Pendokumentasian Evaluasi Keperawatan

30%
Tepat
Kurang Tepat
70%

Dari 120 asuhan keperawatan yang terdokumentasi dari 12 orang

pasien, sebanyak 80% (84 SOAP) ditemukan kurang tepat dalam

pendokumentasian pada asuhan keperawatan, dan 20% (36 SOAP)

ditemukan tepat dalam pendokumentasian pada asuhan keperawatan.

Data Pengetahuan Perawat tentang Konsep Dokumentasi

18%
27% Tinggi
Sedang
Rendah
55%

Dari 11 Responden, sebanyak 27% (3 perawat) memiliki

pengetahuan yang tinggi, 55% (6 perawat) memiliki pengetahuan yang

sedang, dan 18% (2 perawat) yang memiliki pengetahuan yang rendah.

Data Pengetahuan Perawat tentang Diagnosa Keperawatan


18%

0% Tinggi

Sedang

82% Rendah

Dari 11 Responden, sebanyak 82% (9 perawat) memiliki

pengetahuan yang tinggi, 18% (2 perawat) memiliki pengetahuan yang

rendah, dan tidak ada perawat yang memiliki pengetahuan yang sedang.

Data Pengetahuan Perawat tentang Rencana Keperawatan

18%

Tinggi
46%
Sedang

36% Rendah

Dari 11 Responden, sebanyak 46% (5 perawat) memiliki

pengetahuan yang tinggi, 36% (4 perawat) memiliki pengetahuan yang

sedang, dan 18% (2 perawat) yang memiliki pengetahuan yang rendah.

Data Pengetahuan Perawat tentang Impelentasi Keperawatan

0%
0%
Tinggi

Sedang

100% Rendah
Dari 11 Responden, sebanyak 100% (11 perawat) memiliki

pengetahuan yang tinggi.

Data Pengetahuan Perawat tentang Evaluasi Keperawatan

9% 0%

Tinggi

Sedang

Rendah
91%

Dari 11 Responden, sebanyak 91% (10 perawat) memiliki

pengetahuan yang tinggi, 9% (1 perawat) memiliki pengetahuan yang

rendah, dan tidak ada perawat yang memiliki pengetahuan yang sedang.

f. Penerapan Pemilahan Sampah Medis Yang Sesuai Standar


Prosedur Operasional

Data Hasil Pengamatan Observasi Pemilahan Sampah Medis

67% 67%
70%
60% 53% 53% 53% 53%
50%
40% Kamis

30% Jum'at

20% Sabtu

10%
0%
07.00-11.00 11.00-14.00

Dari data pengamatan observasi selama 3 hari dari 28-30 Maret

2019, dilakukan 6 kali observasi pada jam 07.00-11.00 WIB dan 11.00-
14.00 WIB ditemukan terjadi peningkatan ketepatan dalam penerapan

SOP dalam pemilahan sampah medis.

Data Ketepatan Pemilahan Sampah Medis

33%
Kurang Tepat

67% Sudah tepat

Dari 6 kali hasil observasi pada pemilahan sampah, sebanyak 67%

(4 kali hasil observasi) kurang tepat dalam melakukan pemilahan

sampah, dan 33% (2 kali hasil observasi) sudah tepat dalam melakukan

pemilahan sampah.

B. Rumusan Masalah
No Data Masalah
1 Ketidaksesuaian Pengkajian Assesment Belum optimalnya
Awal Resiko Jatuh dengan Standar
pengkajian assesment awal
Prosedur Operasional
resiko jatuh dengan standar
- Sebagian besar perawat tidak sesuai
dalam melakukan pengkajian prosedur operasional
assessment awal resiko jatuh pada
pasien sebanyak 80%.
- Sama rata antara kesesuaian tindakan
resiko jatuh yang di lakukan perawat
sebanyak 50%.
- Sebagian besar perawat tidak sesuai
dalam melakukan intervensi resiko jatuh
pada pasien sebanyak 80%.
2 Ketepatan Pendokumentasian : Evaluasi Belum optimalnya
Keperawatan ketepatan
- Sebagian besar perawat memiliki pendokumentasian :
pengetahuan yang tinggi tentang konsep evaluasi keperawatan
asuhan keperawatan yaitu sebesar 73%.
- Sebagian besar SOAP keperawatan
kurang tepat terdokumentasi oleh
perawat yaitu sebanyak 80%.
- Lebih dari separuh perawat memiliki
pengetahuan tentang konsep
dokumentasi keperawatan dengan
tingkat pengetahuan sedang yaitu
sebanyak 55%.
- Sebaguan besar perawat memiliki
tingkat pengetahuan yang tinggi tentang
diagnosa keperawatan yaitu sebanyak
82%.
- Sama rata antara tingkat pengetahuan
tinggi dan sedang tentang pengetahuan
rencana keperawatan yaitu sebanyak
36% dan 46%.
- Seluruh perawat memiliki tingkat
pengetahuan yang tinggi tentang
pengetahuan implementasi keperawatan
yaitu sebanyak 100%.
- Sebagian besar perawat memiliki
tingkat pengetahuan yang tinggi tentang
pengetahuan evaluasi keperawatan yaitu
sebanyak 91%
3 Penerapan Pemilihan Sampah yang Sesuai Belum optimalnya
Standar Prosedur Operasional
penerapan pemilahan
- Ditemukan terjadi peningkatan
sampah medis yang sesuai
ketepatan dalam penerapan SOP dalam
standar prosedur
pemilahan sampah medis pada jam
operasional
11.00-14.00 WIB dengan peningkatan

fluktuasi diagram batang sebanyak

67%.

- Lebih dari separuh perawat memiliki


ketepatan dari pemilahan sampah medis
dari hasil observasi yaitu sebanyak
67%.