Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kerangka kerja konseptual memberikan adaptasi sistematik dalam


standarakuntansi bagi lingkungan bisnis yang terus berubah. FASB menggunakan
kerangkakerja konseptual untuk membekali perkembangan standar akuntansi yang
baru secaraterorganisasi dan konsisten. Disamping itu, mempelajari kerangka
kerja konseptualFASB akan memudahkan seseorang untuk mengerti dan
mengantisipasi standar di masadepan.

Kerangka kerja konseptual menyebutkan tujuan dari pelaporan keuangan


dankarakteristik dari informasi akuntansi yang baik, mendefinisikan dengan tepat
istilah-istilah yang biasa digunakan seperti asset dan pendapatan serta
menyediakan petunjukuntuk pengakuan, pengukuran, dan pelaporan keuangan
yang tepat. Dengan adanya Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang baru,
memberikan petunjuk-petunjuk danaturan-aturan pelaporan keuangan yang
berbeda dari sebelumnya. Sehinggadiperlukan adanya publikasi kepada seluruh
pelaku akuntansi di Indonesia agarmenyesuaikan dengan peraturan baru yang
berlaku.

Tujuan pelaporan keuangan adalah menyediakan informasi yang bermanfaat


bagi pemakai keuangan. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, laporan keuangan
yang disusun harus dapat memenuhi karakteristik kualitatif laporan keuangan.
Relevan adalah salah satu karakteristik kualitatiflaporan keuangan. Relevan
artinya bahwa informasi tersebut dapat membantu para pengguna laporan
keuangan dalam membuat keputusan ekonomi. Pembuatan keputusan ekonomi
dilakukan dengan mengevaluasi peristiwa yang terjadi di masa lalu, saat sekarang
maupun masa yang akan datang (IAI, 2012). Salah satu indikator dari relevansi itu
adalah ketepatwaktuan (timeliness).

1
Regulasi yang dibuat seharusnya memacu perusahaan publik untuk
menyampaikan laporan keuangan tahunan tepat waktu. Pada kenyataannya
fenomena yang terjadi setiap tahun ketepatan waktu pelaporan keuangan masih
terjadi keterlabatan penyampaian, sementara regulasi yang berlaku pada periode
tersebut masih sama danbelum mengalami perubahan. Fenomena tersebut
menunjukkan bahwa regulasi tidak dapat menjadi satu-satunya faktor yang
mempengaruhi perusahaan publik menyampaikan laporan keuangan tepat waktu
di setiap periode. Oleh karena itu, perlu diperhatikan lebih jauh faktor-faktor lain
yang dapat mempengaruhi ketepatan waktu pelaporan keuangan, seperti ukuran
perusahaan, profitabilitas, solvabilitas, kepemilikan publik dan opini audit
perusahaan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam makalah ini


adalah apa saja faktor-faktor yang berpengaruh terhadap ketepatan waktu dalam
pelaporan keuangan?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari makalah ini adalah
untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap ketepatan
waktu dalam pelaporan keuangan.

2
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Laporan Keuangan

Menurut PSAK, tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi


berkaitan dengan posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yangbermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan
keputusan ekonomi. Laporan keuangan menunjukkan hasil pertanggungjawaban
manajemen atas penggunaan sumberdaya yang dipercayakan kepada mereka.
Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, laporankeuangan menyajikan informasi
mengenai entitas yang meliputi: aset, liabilitas, ekuitas,pendapatan dan beban
termasuk keuntungan dan kerugian (PSAK 1, 2009).

Ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan ini diatur dalam Undang-


Undang Pasar Modal No.8 tahun 1995 tentang Pasar Modal dan keputusan ketua
Bapepam-LK Nomor134/BL/2006 tanggal 7 Desember 2006 yang menyatakan
bahwa perusahaan wajib menyerahkan laporan keuangan tahunan yang telah di
audit selambat-lambatnya 90 hari setelah tahun neraca atau batas penyerahan
penyampaian laporan tanggal 31 Maret.

B. Ketepatan Waktu

Salah satu cara untuk mengukur transparansi dan kualitas pelaporan


keuangan adalah ketepatan waktu. Keterlambatan penyampaian laporan keuangan
bisa berakibat buruk bagi perusahaan baik secara langsung maupun tidak
langsung. Secara tidak langsung, para investor mungkin menanggapi
keterlambatan tersebut sebagai sinyal yang buruk bagi perusahaan. Goodnews
merupakan berita baik bagi investor sebagai signal yang baik dalam menentukan
investasi. Sedangkan bad news merupakan berita buruk bagi investor sebagai
signal yang kurang baik dalam menentukan keputusan investasi (Wulantoro,
2011).

3
Ketepatan waktu informasi akuntansi menurut SFAC No. 2 mengenai
karakteristik kualitatif informasi akuntansi, yang juga terdapat dalam Hendriksen
dan Breda (1992:136) harus tersedia bagi pengambil keputusan sebelum
kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi keputusan. Ketepatan waktu tidak
menjamin relevansi tetapi relevansi tidaklah mungkin tanpa ketepatan waktu.
Informasi yang tepat waktu dipengaruhi kemampuan manajer dalam merespon
setiap kejadian atau permasalahan. Apabila informasi tidak disampaikan dengan
tepat waktu akan menyebabkan informasi tersebut kehilangan nilai di dalam
mempengaruhi kualitas keputusan. Chamber dan Penman (1984, 2)
mendefinisikan ketepatan waktu dalam dua cara: (1) ketepatan waktu
didefinisikan sebagai keterlambatan waktu pelaporan dari tanggal laporan
keuangan sampai tanggal melaporkan; dan (2) ketepatan waktu ditentukan dengan
ketepatan waktu pelaporan relatif atas tanggal pelaporan yang diharapkan.

C. Ukuran Perusahaan

Mautz (1954) dalam Givoly dan Palmon (1982) berpendapat bahwa


perusahaan besar cenderung lebih banyak disorot oleh investor dan lebih banyak
mendapat tekanan untuk memberikan informasi secara tepat waktu. Menurut Dyer
dan McHugh (1975), perusahaan besar lebih konsisten untuk tepat waktu
dibandingkan dengan perusahaan kecil dalam menginformasikan laporan
keuangannya. Hal ini dikarenakan perusahaan besar cenderung banyak disorot
oleh masyarakat (public eye). Dalam beberapa penelitian, variabel ukuran
perusahaan diukur menggunakan total asset atau total penjualan seperti yang
digunakan oleh Dyer dan McHugh (1975), Schwartz dan Soo (1996), dan Na’im
(1998) dalam penelitiannya. Alternatif lain yang digunakan untuk mengukur
variabel ukuran perusahaan adalah dengan menggunakan natural log of market
value atau natural log of capitalization seperti yang digunakan dalam penelitian
Bandi dan Harnanto (2002).

Ukuran perusahaan dapat menunjukan seberapa besar informasi yang


terdapat didalamnya, sekaligus mencerminkan kesadaran dari pihak manajemen
mengenai pentingnya informasi, baik bagi pihak eksternal maupun internal
perusahaan. Perusahaan yang besar cenderung untuk menyajikan laporan

4
keuangan yang lebih tepat waktu dari pada perusahaan kecil (Saleh, 2004). Hal ini
disebabkan perusahaan yang besar memiliki sumber daya yang memadai dalam
pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan.

D. Profitabilitas

Profitabilitas sering digunakan sebagai pengukur kinerja manajemen


perusahaan dan efisiensi penggunaan modal kerja. Profitabilitas merupakan rasio
yang mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam
penjualan asset, maupun laba bagi modal itu sendiri (Putra dkk, 2013).
Profitabilitas yang tinggi merupakan good news bagi para investor, sehingga
perusahaan dengan profitabilitas tinggi memiliki kecenderungan untuk segera
melaporkan laporan keuangan tepat waktu.

Semakin tinggi profitabilitas suatu perusahaan maka diduga perusahaan


akan semakin cepat menyerahkan laporan keuangannya. Ketepatan waktu dan
keterlambatan pengumuman laba berisi berita baik mungkin akan cenderung
dilaporkan secara tepat, sedangkan pengumuman rugi berisi berita buruk maka
pihak manajemen akan terlambat untuk menyampaikan laporan keuangan.

E. Rasio Gearing

Rasio gearing merupakan salah satu rasio finacial leverage. Rasio gearing
digunakan untuk mengukur tingkat leverage yaitu perbandingan utang jangka
panjang terhadap total asset yang dimiliki perusahaan (Owusudan Ansah, 2000).
Sedangkan menurut Tauringana dan Clark (2000), rasio gearing adalah
perbandingan utang jangka panjang terhadap modal sendiri (equity). Tingginya
rasio gearing atau rasio financial leverage mencerminkan tingginya risiko
keuangan perusahaan. Risiko atau kesulitan keuangan perusahaan merupakan
berita buruk yang akan mempengaruhi kondisi perusahaan dimata publik.

F. Pos-pos Luar Biasa (Extraordinary Items)

Pada umumnya terdapat empat macam informasi kualitatif yang perlu


diungkapkan terhadap pos dan jumlah yang tercantum dalam laporan keuangan
yaitu: extraordinary items, penghentian segmen bisnis, perubahan akuntansi,

5
penyesuaian dengan periode sebelumnya (Chariri dan Ghozali, 2007, 366-369).
Ketidakpastian dalam akuntansi timbul dari dua sumber yaitu akuntansi umumnya
berhubungan dengan satuan usaha yang diharapkan mempunyai kelangsungsan
hidup dimasa datang dan pengukuran akuntansi seringkali diasumsikan
merupakan pernyataan moneter mengenai kekayaan yang mensyaratkan taksiran
jumlah masa datang yang tidak pasti (Hendriksen dan Breda, 1992, 147).

G. Umur Perusahaan (Company Age)

Owusu dan Ansah (2000) dalam penelitiannya menyatakan bahwa


pengurangan waktu pelaporan akan terjadi ketika jumlah laporan tahunan yang
dihasilkan ditingkatkan. Selanjutnya mereka menyatakan ketika sebuah
perusahaan berkembang dan para akuntannya (pekerja) belajar lebih banyak
masalah teething, menyebabkan penundaan yang luar biasa dapat
diminimalisasikan. Akibatnya, perusahaan mapan yang memiliki umur lebih
cenderung untuk menjadi lebih terampil atau berpengalaman dalam pengumpulan,
pemprosesan dan output informasi ketika diperlukan karena pengalaman belajar.

H. Kepemilikan Manajerial

Menurut Jensen dan Meckling (1976), kepemilikan saham oleh manajer


akan mendorong mereka meningkatkan usaha-usaha untuk menghasilkan profit
yang maksimal. Usaha ini dapat dilakukan dengan memperbaiki dan
meningkatkan kinerja serta memperbaiki sistem pengendalian intern yang ada
untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Perusahaan dengan kinerja baik tidak
memiliki alasan untuk menyembunyikan atau menunda penyampaian berita baik
tersebut karena dalam praktiknya perusahaan-perusahaan yang memiliki kinerja
baik mengungkapkan laporan keuangannya lebih segera untuk meningkatkan
kesan yang positif bagi perusahaanya.

I. Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham yang dimiliki oleh


pihak institusi. Seperti yang dikemukakan oleh Ang(1997), kepemilikan saham
oleh pihak luaratau pihak institusi mempunyai kekuatan untuk menuntut dan

6
mewajibkan pihak manajemen agar menyampaikan informasi keuangan dengan
segera karena laporan keuangan yang diserahkan terlambat akan berpengaruh
terhadap keputusan ekonomi yang akan diambil oleh para pemakai informasi
tersebut.

J. Kualitas Auditor

Johnson da Lys (1990) dalam Naim (1999) menemukan bahwa auditor yang
besar memiliki dorongan untuk mengembangkan dan memasarkan keahliannya
mengenai kepatuhan terhadap standar akuntansi keuangan dari pada auditor kecil.
Lebih jauh auditor besar cenderung untuk memberi informasi kepada klien
tentang peraturan yang baru dan meminta kliennya untuk mematuhinya.

K. Pergantian Auditor

Pergantian akuntan publik dilakukan karena telah berakhirnya kontrak kerja


yang disepakati antara kantor akuntan publik dengan pemberi tugas dan telah
memutuskan untuk memperpanjang dengan penugasan baru. Penugasan terjadi
karena beberapa alasan: (1) Perusahaan klien merupakan merger antar beberapa
perusahaan yang semula memiliki auditor masing masing yang berbeda, (2)
kebutuhan akan adanya jasa profesional yang lebih luas, (3) tidak puas terhadap
akuntan publik yang lama, (4) keinginan untuk mengurangi pendapatan audit, dan
(5) merger antara beberapa kantor akuntan publik (Boynton, 2001). Perusahaan
yang mengalami pergantian auditor pada periode tersebut akan mengalami proses
penyesuaian terhadap auditor baru, yang mana hal ini akan memakan waktu jika
dibandingkan dengan pada waktu perusahaan belum berganti auditor.

7
BAB III

PEMBAHASAN

A. Jurnal Pertama

1. Judul Jurnal

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Pelaporan


Keuangan (Studi Empiris Perusahaan Food and Beverages Periode 2010-
2012).

2. Jurnal

Fokus Ekonomi

3. Volume

Vol. 10 No. 1 Juni 2015

4. Penulis

Sarwono Budiyanto dan Elma Muncar Aditya

5. Tujuan Penelitian

Untuk menguji pengaruh rasio debt to equity, profitabilitas, struktur


kepemilikan, ukuran perusahaan, kualitas audit, dan pergantian auditor
terhadap ketepatan waktu penyampaian pelaporan keuangan.

6. Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan data keuangan perusahaan food and


beverages yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2012 sebanyak
46 data sebagai sampel. Data dianalisis menggunakan analisis regresi
logistic.

8
7. Hasil jurnal

Pada penelitian ini menguji pengaruh rasio debt to equity,


profitabilitas, struktur kepemilikan, ukuran perusahaan, kualitas audit, dan
pergantian auditor. Data berasal dari data keuangan perusahaan food and
beverages yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2012 dengan
menggunakan analisis regresi logistic.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergantian auditor berpengaruh


signifikan terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan.
Sementara variabel debt to equity, profitabilitas, struktur kepemilikan,
ukuran perusahaan, dan kualitas audit tidak berpengaruh terhadap ketepatan
waktu penyampaian laporan keuangan.

8. Keterbatasan jurnal

Pada jurnal diatas, penulis melihat beberapa keterbatasan dalam jurnal


diantaranya:

 Menggunakan sampel hanya sebanyak 46 perusahaan.


 Periode pengamatan hanya tiga tahun sehingga penelitian tidak dapat
menentukan kecenderungan ketepatan waktu perusahaan dalam
menyerahkan laporan keuangannya dalam jangka panjang.

B. Jurnal Kedua

1. Judul Jurnal

Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Ketepatan Waktu


Pelaporan Keuangan Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Di Bursa
Efek Jakarta.

2. Jurnal

Manajemen dan akuntansi

9
3. Volume

Vol. 12 No. 1, April 2011

4. Penulis

Abdul Kadir

5. Tujuan Penelitian

Untuk memberikan informasi yang dapat membantu para pengguna


laporan keuangan dalam membuat keputusan ekonomi. Pembuatan
keputusan ekonomi dilakukan dengan mengevaluasi peristiwa yang terjadi
di masa lalu, saat sekarang maupun masa yang akan datang.

6. Metode Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur


yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) tahun 2005 dan 2006. Prosedur
pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive
sampling yang berdasarkan pada pertimbang an (judgement) bahwa sampel
yang digunakan lebih representatif dan dapat digeneralisir Pertimbangan
yang digunakan dalam pemilihan sampel penelitian ini adalah pertama,
perusahaan yang menyampaikan atau mempublikasikan laporan keuangan di
Indonesian Capital Market Directory.

Kedua, yang mengeluarkan atau menerbitkan laporan keuangan


tahunan periode Desember 2005 dan Desember 2006. Ketiga, perusahaan
yang memiliki rasio profitabilitas positif.

7. Hasil Jurnal

Hasil dari jurnal ini, Ketepatan waktu adalah variabel dependen yang
merupakan ketepatan waktu perusahaan dalam menyerahkan laporan
keuangan tahunan ke Bapepam yakni sebelum atau paling lambat dalam
waktu 90 hari setelah tanggal penutupan tahun buku. Pengukuran variabel

10
ketepatan waktu menggunakan variabel dummy, deskritptif variabel
ketepatan waktu dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 1 menunjukkan bahwa sampel penelitian adalah 144 perusahaan


selama dua tahun berturut-turut yaitu 2005 dan 2006. Tabel tersebut
menunjukkan bahwa perusahaan yang tepat waktu menyampaikan laporan
keuangan adalah sebanyak 66 perusahaan atau sebesar 45,8% perusahaan
yang menyampaikan laporan keuangan secara tepat waktu. Perusahaan yang
menyampaikan laporan keuangan tidak tepat waktu sebanyak 78 perusahaan
atau sebesar 54,2% perusahaan yang menyampaikan laporan keuangan tidak
tepat waktu.

8. Keterbatasan Penelitian

Pada jurnal ini, penulis melihat beberapa keterbaasan dalam penelitian


diantaranya sebagai berikut:

 Menggunakan sampel hanya sebanyak 78 perusahaan dan hanya


diambil dari perusahaan manufaktur.
 Periode pengamatan hanya dua tahun sehingga penelitian tidak dapat
menentukan kecenderungan ketepatan waktu perusahaan dalam
menyerahkan laporan keuangnnya dalam jangka panjang.
 Ada lima hipotesis dalam penelitian ini yang tidak dapat diterima
yang mungkin disebabkan karena jumlah sampel dalam periode
pengamatan yang relatif sedikit sehingga penelitian mendatang dapat
menambah sampel penelitian dan waktu pengamatan.

11
BAB IV

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :

 Dilihat dari pengambilan sampel, penulis lebih memilih ke jurnal kedua dimana
pada jurnal kedua pengambilan sampel lebih banyak yaitu 78 sampel
 Pada kedua jurnal tersebut memiliki perbedaan, dimana pada jurnal pertama hasil
penelitian menunjukan bahwa ukuran perusahaan, profitabilitas, rasio gearing,
pos-pos luar biasa, umur perusahaan secara statistik tidak berpengaruh signifikan
terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan. sedangkan kepemilikan
manajerial dan kepemilikan institusional secara statistic berpengaruh signifikan
terhadap ketepatan waktu penyerahan laporan keuangan. kemudian pada jurnal
kedua hasil penelitian menunjukan bahwa pergantian auditor mempunyai
pengaruh signifikan terhadap ketepatan waktu laporan keuangan. Sehingga
investor dapat lebih teliti melihat pergantian auditor salah satunya dalam
mengambil keputusan dalam investasi.

12
DAFTAR PUSTAKA

Sarwono Budiyanto, Elma Muncar Aditya. 2015. Faktor-faktor yang Memengaruhi


Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan (Studi Empiris Perusahaan Food and
Beverages Periode 2010-2012. Fokus Ekonomi Vol. 1 No. 1.
Abdul Kadir. 2011. Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Ketepatan Waktu
Pelaporan Keuangan Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek
Jakarta. Jurnal Manajemen dan Akuntansi Vol. 12 No. 1.
Wulantoro, Alief Fadil. 2011.”Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi Ketepatan
Waktu Publikasi laporan Keuangan perusahaan Manufaktur Go Publik di Bursa
Efek Jakarta. Skripsi Akuntansi Universitas Diponegoro”, Semarang.

13